PART 2
Temuan transfer itu mengubah rasa kecewa Maya menjadi kecurigaan besar.
Reno ternyata tidak sekadar ingin pamer atau bertindak dramatis di depan umum.
Seseorang telah merencanakan langkah ini jauh sebelum malam resepsi.
Hendra segera mengirimkan surat teguran resmi kepada Reno.
Malam itu juga, Reno datang ke rumah Maya dan menunggu di luar pagar.
Wajahnya tampak kusut dan matanya merah.
“Maya, tolong dengarkan aku dulu,” panggil Reno saat Maya membuka pintu depan.
“Aku bisa batalkan semua pengumuman kemarin. Ibu akan kembalikan uangnya ke rekeningku.”
Maya berdiri di balik pagar tanpa ada niat membukanya.
“Aku tidak peduli kamu mau membatalkannya atau tidak. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu harus mempermalukanku di depan 180 orang.”
Reno terdiam dan menundukkan kepala.
Ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas.

Keesokan harinya, Bu Murni membuat unggahan di media sosial Facebook.
Ia menulis cerita panjang bahwa Maya adalah wanita mata matre yang memeras keluarganya.
Bu Murni menuduh Maya membatalkan pernikahan hanya karena tidak diberi harta.
Unggahan itu dibagikan ratusan kali oleh warganet dan kerabat mereka.
Maya tidak membalas dengan amarah atau makian.
Maya mengunggah bukti dokumen bank, tangkapan layar percakapan pembayaran uang muka rumah, dan rekaman video utuh dari acara resepsi.
Semua bukti diunggah tanpa kata-kata kasar.
Publik media sosial langsung berbalik membela Maya.
Dalam waktu 48 jam, Reno mentransfer kembali uang Rp900.000.000 milik orang tua Maya.
Reno juga menulis permohonan maaf terbuka di akun pribadinya.
Maya mengira urusan mereka sudah selesai sepenuhnya.
Namun 3 hari kemudian, sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim tiba di meja kantor Maya.
Di dalamnya terdapat sebuah kilas kilat USB dan selembar catatan kecil dari Reno.
Tulisan tangan Reno terlihat terburu-buru: “Dengarkan ini. Aku juga dimanfaatkan.”
Maya mencolokkan USB tersebut ke laptopnya dan memasang pemutar suara.
Suara Bu Murni terdengar sangat jelas dalam rekaman audio tersebut.
Ia sedang berbicara dengan seorang wanita muda bernama Dina.
“Reno akan umumkan pengalihan harta itu di depan semua orang,” kata Bu Murni dalam rekaman.
“Maya pasti gengsi, marah besar, dan membatalkan pernikahan itu sendiri.”
Suara Dina terdengar ragu-ragu.
“Bagaimana kalau Maya tidak marah dan tetap mau menikah?”
Bu Murni tertawa kecil.
“Aku tahu sifat Maya. Dia wanita mandiri yang tidak suka diatur. Dan aku lebih tahu cara mengendalikan anakku sendiri.”
Maya mendengarkan setiap detik rekaman itu tanpa berkedip.
Lalu kalimat terakhir dari Bu Murni terdengar.
“Soal kehamilanmu, kita bisa pura-pura dulu di awal. Begitu Reno percaya dan kalian menikah, dia tidak akan bisa berkutik lagi.”
Maya mematikan rekaman itu.
Rasa marah yang sempat muncul kini berganti menjadi kepastian.
Rencana di balik acara resepsi itu disusun sangat rapi untuk menyingkirkannya.
Bu Murni sengaja memanfaatkan ego Reno agar Maya terlihat buruk dan menolak pernikahan tersebut.
Dengan begitu, posisi calon istri bisa digantikan oleh Dina, wanita yang sudah disiapkan Bu Murni.
Maya langsung menghubungi Hendra dan mengirimkan berkas rekaman suara itu.
“Simpan bukti ini baik-baik,” kata Hendra melalui sambungan telepon.
“Jangan unggah ke media sosial dulu. Ini kartu as kita jika mereka kembali menyerang nama baik Anda.”
Sore harinya, Reno menelepon Maya menggunakan nomor baru.
Suaranya terdengar gemetar dan hancur.
Reno mengaku menemukan rekaman itu dari cadangan data ponsel ibunya yang tersimpan di komputernya.
Reno bersumpah tidak tahu-menahu soal rencana pura-pura hamil atau keterlibatan Dina.
Namun Reno mengakui ibunya memang sudah berbulan-bulan menghasutnya.
Bu Murni selalu menyebut Maya hanya memanfaatkan kekayaan Reno.
Reno mengaku sengaja melakukan pengumuman itu untuk “menguji” kesetiaan Maya.
“Jadi kamu memang berniat mengujiku?” tanya Maya dengan suara datar.
“Aku cuma bingung, Maya…”
“Kamu pria berumur 32 tahun, Reno. Kamu memilih menguji calon istrimu di depan 180 orang hanya karena cemas pada ucapan ibumu.”
Reno bungkam.
“Ibu selalu mengatur hidupku sejak kecil,” bisik Reno pelan.
“Itu alasan kenapa kamu butuh bantuan, tapi bukan alasan bagiku untuk bertahan,” balas Maya tegas.
Maya menutup telepon dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Seminggu kemudian, Dina menghubungi Maya dan meminta bertemu.
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi di daerah Jakarta Selatan pada sore hari.
Dina datang memakai pakaian sederhana dan tampak gelisah.
Tanpa berbelit-belit, Dina mengakui bahwa kabar kehamilannya adalah bohong.
Bu Murni menjanjikan uang Rp250.000.000 dan modal usaha salon jika Dina mau mendekati Reno setelah pernikahan dibatalkan.
“Awalnya saya pikir Bu Murni hanya ingin menjodohkan kami secara baik-baik,” kata Dina dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi setelah itu, dia mulai mengatur cara saya berpakaian, cara saya bicara, sampai menyuruh saya pura-pura mual di depan Reno.”
“Saya takut,” tambah Dina.
Maya menatap wanita di depannya dengan tenang.
“Lalu kenapa kamu mau cerita padaku?”
Dina mengeluarkan sebuah amplop berisi uang tunai dan meletakkannya di meja.
“Ini uang muka dari Bu Murni. Saya tidak mau uang ini. Saya mau mundur dan pindah ke Bandung.”
Maya tidak menyentuh amplop tersebut.
“Kembalikan uang itu pada orang yang memberinya. Dan ingat satu hal, kalau kamu membiarkan orang lain mengatur hidupmu, kamu tidak akan pernah punya masa depan.”
Dina menunduk malu dan mengangguk.
Sebelum pergi, Dina memberikan satu peringatan terakhir.
Bu Murni sangat marah karena rencana perjodohan itu gagal dan nama baik keluarganya tercemar.
Bu Murni sedang merencanakan sesuatu untuk mempermalukan Maya di tempat kerjanya.
Dua hari kemudian, dugaan itu terbukti.
Siska menelepon Maya dari lantai bawah gedung kantor.
“Maya, mantan ibu mertuamu ada di depan lobikil kantor!”
Bu Murni membawa sekitar 10 orang kerabatnya.
Mereka membawa spanduk kecil, pengeras suara portable, dan merekam situasi menggunakan ponsel.
Bu Murni berteriak-teriak menyebut Maya sebagai wanita jahat yang merusak karier anaknya dan membawa lari uang keluarga.
Ia sengaja datang ke lokasi kantor karena tahu tempat itu banyak rekan kerja Maya.
Beberapa karyawan mulai berkumpul di dekat pintu kaca lobikil.
Maya tidak bersembunyi di ruangannya.
Ia menelepon Hendra terlebih dahulu, lalu berjalan turun menuju pintu utama.
Saat Maya keluar, Bu Murni langsung menunjuk wajahnya.
“Ini dia wanita yang membuat anakku hancur! Kamu menguras uangnya dan membatalkan pernikahan demi harta!”
Maya berdiri tegak tanpa rasa takut.
“Uang Rp900.000.000 itu adalah hak orang tua saya. Semua bukti transfer dan kontrak rumah sudah terbukti secara hukum.”
“Reno sendiri yang mengembalikannya karena dia tahu itu bukan miliknya.”
Bu Murni terus berteriak.
“Kamu memaksa anakku! Kamu memeras kami!”
Kerumunan orang yang menyaksikan mulai berbisik-bisik.
Maya mengeluarkan ponselnya dan mengubungkannya ke pengeras suara kecil milik tim keamanan kantor yang berdiri di sampingnya.
“Karena Anda suka bicara di depan umum, mari kita dengarkan suara Anda sendiri.”
Maya memutar potongan rekaman percakapan Bu Murni dan Dina.
Suara Bu Murni yang merencanakan pembatalan nikah dan skenario kehamilan palsu bergema di area lobikil gedung.
Wajah Bu Murni mendadak pucat pasi.
Suara teriakan yang tadinya keras langsung terhenti.
“Itu… itu rekaman palsu! Itu rekaman rekayasa!” jerit Bu Murni dengan suara panik.
“Suara Anda sangat khas, Bu Murni. Sangat mudah diverifikasi di kepolisian,” sahut Maya tenang.
Tiba-tiba, Dina muncul dari balik kerumunan orang yang menonton.
Dina sengaja datang setelah mendapat kabar tentang aksi Bu Murni.
“Itu bukan rekayasa,” kata Dina keras di hadapan semua orang.
“Saya wanita yang diajak bicara dalam rekaman itu. Saya dibayar untuk pura-pura hamil demi menyingkirkan Maya.”
Kerumunan warga dan karyawan langsung bersorak menyoraki Bu Murni.
Orang-orang yang tadinya merekam Maya kini mengarahkan kamera ponsel mereka ke wajah Bu Murni.
Bu Murni mencoba membela diri, namun tidak ada lagi kerabatnya yang mau ikut berteriak.
Satu per satu kerabatnya mulai mundur dan menjauh karena malu.
Beberapa menit kemudian, petugas kepolisian dari Polsek terdekat tiba di lokasi setelah dipanggil oleh pihak keamanan gedung.
Petugas memeriksa identitas Bu Murni dan meminta semua pihak pembawa spanduk untuk membubarkan diri.
Hendra, pengacara Maya, tiba di lokasi dan menyerahkan dokumen laporan atas dugaan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.
Polisi membawa Bu Murni ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Malam harinya, Reno mengirimkan pesan singkat terakhir kepada Maya:
“Dina sudah menceritakan semuanya padaku. Aku baru sadar selama ini aku hidup dalam kendali ibu. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaiki hidupku.”
Maya membaca pesan itu dengan tenang.
Ia mengetik balasan singkat:
“Itu tugasmu untuk menyelesaikannya sendiri. Jangan cari aku lagi.”
Setelah mengirim pesan itu, Maya memblokir nomor Reno secara permanen.
Bulan-bulan berikutnya berjalan dengan sangat tenang bagi Maya.
Ia fokus pada pekerjaan dan berhasil mendapatkan promosi jabatan sebagai kepala divisi pemasaran di perusahaan nasional.
Maya menyewa sebuah apartemen yang nyaman dan cerah di daerah Jakarta Selatan.
Ia mendonasikan gaun pengantin yang tidak jadi dipakai ke sebuah yayasan sosial.
Satu-satunya hal yang ia simpan dari hari itu adalah sebuah foto kecil saat ia memegang mikrofon di atas panggung resepsi.
Maya menyimpan foto itu bukan untuk mengingat Reno.
Ia menyimpannya untuk mengingat momen di mana ia berani mengambil kendali atas hidupnya sendiri.
6 bulan kemudian, Maya tidak sengaja bertemu dengan Reno di sebuah pusat perbelanjaan.
Penampilan Reno jauh berubah.
Badannya lebih kurus dan ia tidak lagi memakai pakaian bermerek seperti dulu.
Reno bercerita bahwa ia telah keluar dari bisnis lamanya dan kini bekerja sebagai staf biasa di perusahaan konsultan.
Reno tinggal sendiri di sebuah kontrakan kecil dan membatasi hubungannya dengan ibunya.
“Aku tidak datang untuk memintamu kembali,” kata Reno dengan suara pelan.
“Aku cuma mau minta maaf. Selama ini aku pikir menuruti semua kata Ibu adalah bentuk rasa sayang. Ternyata aku salah.”
Maya tersenyum tipis dan mengangguk.
“Bagus kalau kamu sudah sadar. Semoga kamu bisa membangun hidupmu sendiri.”
“Kamu bahagia sekarang, Maya?” tanya Reno.
Maya menatap suasana sekitar yang ramai dan terang.
“Sangat bahagia.”
Reno tersenyum pahit, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan pergi.
Pertemuan singkat itu benar-benar menutup lembaran lama yang sempat tersisa.
Tidak lama setelah itu, Siska menikah dengan seorang arsitek bernama Dimas.
Di acara resepsi Siska, Maya bertemu kembali dengan sosok yang tidak asing.
“Maya Arisandi?” sapa seorang pria berkemeja rapi.
Pria itu adalah Reza Pratama, teman satu kampus Maya saat kuliah dulu.
Mereka sudah hampir 9 tahun tidak pernah bertemu.
Reza kini bekerja sebagai manajer proyek teknik dan baru kembali ke Jakarta setelah bertugas di luar kota.
Malam itu, mereka mengobrol selama 20 menit di area taman gedung.
Sebelum pulang, Reza meminta nomor ponsel Maya.
Dua hari kemudian, Reza mengajak Maya makan siang bersama.
Maya menerima ajakan itu dengan satu syarat sederhana.
“Kita jalani santai saja, tanpa buru-buru.”
Reza tertawa pelan melalui telepon.
“Itu cara terbaik yang saya tahu.”
Hubungan mereka berjalan dengan sangat wajar dan tenang.
Tidak ada janji-janji manis yang berlebihan.
Mereka menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan di taman kota, berdiskusi tentang buku, atau mengunjungi orang tua Maya.
Reza selalu menghargai waktu dan keputusan pribadi Maya.
Ia tidak pernah menuntut penjelasan berlebihan jika Maya sibuk dengan pekerjaannya.
Suatu malam saat hujan deras, Maya keluar dari kantornya cukup larut.
Ia terkejut melihat Reza sudah berdiri di depan pintu lobikil sambil membawa payung ekstra.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Maya heran.
“Saya tadi lewat daerah sini dan lihat lampu ruang kerja kamu masih menyala. Saya pikir kamu tidak bawa payung.”
Maya tertawa kecil.
“Tindakanmu ini agak terlalu perhatian.”
“Saya bisa balik lagi ke mobil kalau kamu keberatan,” gurau Reza sambil tersenyum.
“Jangan coba-coba,” balas Maya cepat.
Malam itu, Maya menceritakan seluruh kisah masa lalunya tentang Reno, Bu Murni, dan pembatalan pernikahan itu.
Reza mendengarkan setiap detail cerita tanpa memotong atau menghakimi.
Setelah Maya selesai bercerita, Reza menatapnya dengan lembut.
“Menyayangi orang tua itu kewajiban. Tapi menyerahkan seluruh kendali hidup kita kepada orang lain adalah kesalahan.”
Kata-kata sederhana itu terasa sangat menenangkan bagi Maya.
1 tahun kemudian, Reza melamar Maya di dapur apartemen Maya.
Saat itu mereka sedang memasak makan malam bersama dan berdebat kecil soal bumbu masakan.
Tidak ada restoran mewah, tidak ada musik romantis, dan tidak ada kamera yang merekam.
Reza mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin sederhana.
“Saya ingin membangun masa depan bersama kamu,” kata Reza tulus. “Tapi hanya jika keputusan dalam hidup kita tetap menjadi milik kita berdua.”
Maya tersenyum lebar dan mengangguk.
“Ya, saya mau.”
Pernikahan mereka digelar secara sederhana di sebuah gedung serbaguna di Bandung.
Hanya ada 70 tamu undangan yang terdiri dari keluarga dekat dan sahabat terdekat.
Tidak ada pengumuman kejutan atau aksi dramatis.
Orang tua Maya duduk di barisan depan dengan wajah bahagia.
Saat acara makan malam, Reza mengambil mikrofon untuk memberikan sambutan.
Maya sempat merasakan sedikit ketegangan membayangi ingatannya.
Namun Reza menatap mata Maya dengan hangat.
“Saya cuma mau menyampaikan satu hal,” ucap Reza di hadapan para tamu.
“Terima kasih sudah memilih saya, Maya. Saya berjanji akan terus berjalan di sampingmu, tanpa pernah memintamu menghilang di balik keluargaku atau keputusanku sendiri.”
Para tamu memberikan tepuk tangan yang meriah.
Maya mengangkat gelasnya dan tersenyum.
“Itu janji yang layak untuk dirayakan.”
Di akhir acara, seorang petugas katering menghampiri Maya sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Mba Maya, ada titipan dari seorang pria di depan tadi.”
Di dalam kotak itu terdapat sepasang anting mutiara dan selembar kertas kecil.
“Saya minta maaf. Semoga kamu selalu bahagia. Reno.”
Maya menutup kembali kotak itu tanpa keraguan.
Reza mendekati Maya dan melihat kotak di tangannya.
“Mau disimpan?” tanya Reza pelan.
Maya menggelengkan kepala.
“Tolong kembalikan besok. Aku tidak butuh peninggalan dari masa lalu untuk mengingat apa yang sudah aku pelajari.”
Tiga bulan kemudian, Reza mendapat tawaran promosi untuk memimpin proyek besar di Surabaya selama 3 tahun.
Sebelum memberikan jawaban kepada perusahaannya, Reza membawa berkas penawaran itu ke rumah dan meletakkannya di meja makan.
“Kita putuskan bersama-sama,” kata Reza.
Maya menatap dokumen itu, lalu menatap suaminya.
Sikap saling menghargai itu jauh lebih berharga dari apa pun.
Mereka menyetujui tawaran itu bersama-sama.
Mereka menyewa sebuah rumah yang nyaman di Surabaya dan memulai lembaran baru.
Kehidupan mereka terasa tenang dan penuh kepastian.
Ada sarapan pagi yang terburu-buru, obrolan santai di sore hari, dan diskusi kecil tentang rencana masa depan.
Suatu sore saat mereka berjalan di sepanjang taman kota, ponsel Maya berdering tanda pesan masuk.
Itu adalah notifikasi dari bank yang memberitahukan bahwa sisa pembagian administrasi lama telah selesai dikirimkan.
Diikuti sebuah pesan dari nomor tidak dikenal:
“Semua tanggungan sudah selesai. Baik-baik di sana.”
Maya langsung menghapus pesan tersebut tanpa niat membalas.
Reza menoleh ke arahnya.
“Pesan penting?”
Maya menggenggam jemari Reza dengan erat.
“Bukan. Cuma masa lalu yang sudah selesai.”
Mereka kembali melangkah menikmati pemandangan sore.
Beberapa tahun lalu, Maya pernah berpikir bahwa membatalkan pernikahan di depan 180 orang adalah titik hancur dalam hidupnya.
Namun kini ia mengerti.
Hari itu bukanlah akhir dari segalanya.
Hari itu adalah saat di mana ia berhenti menjadi penonton dalam hidup orang lain, dan mulai memegang kendali atas jalan hidupnya sendiri.
