Tukang Bangunan Miskin Diam-Diam Memberi Makan Anak Tetangganya Setiap Siang, Dua Puluh Tahun Kemudian Pria Itu Kembali Mencarinya//

Tukang Bangunan Miskin Diam-Diam Memberi Makan Anak Tetangganya Setiap Siang, Dua Puluh Tahun Kemudian Pria Itu Kembali Mencarinya

Bagian 1

Setiap siang, Pak Darma sengaja membeli dua bungkus nasi meski upahnya sebagai tukang bangunan sering hanya cukup untuk dirinya sendiri. Satu bungkus ia makan, satu lagi ia berikan diam-diam kepada Raka, anak sepuluh tahun dari rumah seberang yang kerap tidak diberi makan oleh ayah tirinya.

Pak Darma tinggal di sebuah kampung pekerja di pinggiran Semarang, di gang sempit yang dipenuhi rumah petak berdinding kusam dan atap seng yang sudah berubah warna karena panas dan hujan.

Sebagian besar orang di sana bekerja dengan tangan.

Ada yang mengangkut barang dari pasar, menjahit pakaian borongan, membuka tambal ban, berjualan sayur, atau menjadi kuli bangunan seperti Pak Darma.

Usianya saat itu sudah lewat empat puluh. Tubuhnya kurus, kulitnya gelap terbakar matahari, dan telapak tangannya keras karena bertahun-tahun mengangkat bata, mencampur semen, serta memanggul pasir.

Ia tidak punya istri atau anak.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, hampir tidak ada keluarga dekat yang masih berhubungan dengannya. Ia menyewa sebuah rumah petak di ujung gang, hanya cukup untuk sebuah ranjang kayu, meja pendek, lemari pakaian kecil, dan kompor satu tungku.

Hidupnya sederhana dan nyaris selalu sama.

Bangun sebelum matahari terbit.

Pergi ke proyek.

Pulang menjelang petang dengan pakaian penuh debu.

Makan seadanya.

Tidur.

Sampai ia mulai memperhatikan seorang anak yang tinggal beberapa rumah darinya.

Namanya Raka.

Raka tinggal bersama ibunya dan seorang ayah tiri yang sudah beberapa tahun menikahi ibunya. Anak itu jarang bermain bersama anak-anak lain. Bajunya sering kebesaran, celananya mulai tipis di bagian lutut, dan sandalnya pernah diikat dengan kawat kecil karena talinya putus.

Namun bukan pakaiannya yang pertama kali membuat Pak Darma merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Melainkan cara Raka memandang orang dewasa.

Anak itu selalu melihat wajah orang lebih dulu sebelum menjawab. Setiap mendengar suara keras, bahunya refleks menegang. Bahkan ketika seseorang hanya memanggil namanya, ia sering menoleh cepat seolah takut telah melakukan kesalahan.

Dari rumah tempat Raka tinggal, suara pertengkaran bukan sesuatu yang asing.

Kadang sebelum berangkat kerja, Pak Darma mendengar suara laki-laki membentak dari dalam.

“Dibilang jangan minta terus!”

Lalu suara benda diletakkan terlalu keras.

Kadang suara ibu Raka terdengar mencoba menenangkan.

Setelah itu sunyi.

Pak Darma bukan orang yang suka mencampuri rumah tangga tetangga. Di kampung mereka, semua orang punya masalah masing-masing.

Namun ia mulai melihat satu kebiasaan Raka.

Menjelang siang, anak itu sering berada di luar rumah.

Ia berjalan pelan melewati warung makan di ujung gang, berhenti sebentar, lalu meneruskan langkah.

Suatu hari, Pak Darma sedang makan setelah menyelesaikan pekerjaan setengah hari di sebuah rumah yang sedang direnovasi. Ia duduk di bawah pohon dekat warung, membuka bungkus nasi berisi sayur bening, telur, dan sedikit ayam kecap.

Raka lewat.

Anak itu berhenti di depan warung.

Ia tidak masuk.

Dari tempat duduknya, Pak Darma melihat Raka memperhatikan etalase makanan cukup lama. Ketika pemilik warung menoleh, Raka buru-buru mengalihkan pandangan, memasukkan kedua tangan ke saku celananya, lalu berjalan pergi.

Keesokan harinya hal yang sama terjadi.

Hari berikutnya juga.

Pada hari keempat, Pak Darma sengaja menunggu.

Ia akhirnya paham mengapa Raka selalu berada di luar saat jam makan siang.

Anak itu lapar.

Bukan lapar karena terlambat makan.

Bukan lapar karena sedang memilih jajanan.

Ia benar-benar tidak punya makanan.

Besoknya, Pak Darma datang membawa dua bungkus nasi.

Satu ia letakkan di sampingnya.

Ketika Raka muncul, ia memanggil.

“Rak.”

Anak itu berhenti.

Pak Darma mengangkat salah satu bungkus.

“Sini sebentar.”

Raka mendekat dengan langkah ragu.

Pak Darma menyodorkan nasi itu.

“Tadi aku salah pesan. Mestinya satu, malah dibuatkan dua. Bantu habiskan.”

Raka tidak langsung mengambilnya.

Matanya berpindah dari bungkus nasi ke wajah Pak Darma.

“Aku enggak punya uang, Pak.”

“Siapa yang minta uang?”

Raka diam.

“Ambil saja. Masih hangat.”

Anak itu tetap tidak bergerak beberapa detik.

Pak Darma baru menyadari bahwa bagi sebagian anak, menerima pemberian bukan perkara sederhana. Raka seperti sedang mencari sesuatu di balik kebaikan itu, syarat yang belum disebutkan, pekerjaan yang harus dilakukan, atau kemarahan yang mungkin datang setelahnya.

Pak Darma tidak mendesaknya.

Ia hanya menaruh bungkus nasi di meja kecil di sampingnya.

“Kalau enggak mau, ya nanti mubazir.”

Barulah Raka mengambilnya dengan dua tangan.

“Terima kasih, Pak.”

Ia duduk agak jauh pada awalnya.

Lalu membuka bungkus nasi pelan-pelan.

Pak Darma pura-pura tidak memperhatikan.

Tetapi dari sudut matanya, ia melihat anak itu makan terlalu cepat selama beberapa suap pertama, kemudian sengaja memperlambat, mungkin karena malu terlihat kelaparan.

Sejak hari itu, dua bungkus nasi menjadi kebiasaan.

Pak Darma selalu punya alasan yang sama.

Salah pesan.

Warung memberi lebih.

Ada teman proyek tidak jadi makan.

Ia tahu Raka tidak sepenuhnya percaya, tetapi anak itu juga tidak pernah membongkar kebohongan kecil tersebut.

Kalau cuaca panas, Pak Darma menunggu di bawah emperan toko kelontong.

Kalau hujan, ia berdiri di dekat ujung gang sambil melindungi bungkusan nasi dengan kantong plastik.

Tidak setiap hari ia mendapat upah tepat waktu.

Pernah mandor menahan pembayaran hampir seminggu karena pekerjaan rumah yang mereka kerjakan belum selesai. Hari itu uang di sakunya tinggal sedikit.

Pak Darma membeli nasi lengkap untuk Raka.

Untuk dirinya sendiri, ia hanya membeli sepotong roti dan teh.

Pemilik warung melihatnya.

“Dar, kamu enggak makan nasi?”

Pak Darma menggeleng.

“Belum lapar.”

Padahal perutnya sudah berbunyi sejak pukul sebelas.

Pada kesempatan lain, pinggangnya kambuh setelah seharian mengangkat karung semen. Ia pulang lebih cepat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak.

Namun ketika jam makan siang tiba, ia tetap berjalan pelan ke ujung gang.

Raka sudah menunggu.

Anak itu memperhatikan cara Pak Darma berjalan.

“Pinggang Bapak sakit?”

“Cuma kecapekan.”

Raka menerima makanannya, tetapi tidak segera membuka bungkusan.

“Besok enggak usah belikan aku lagi.”

Pak Darma duduk perlahan.

“Kenapa?”

“Aku bisa makan nasi dingin di rumah.”

Pak Darma tahu kemungkinan besar tidak ada nasi dingin yang dimaksud.

“Anak seusiamu harus makan yang benar.”

Raka menunduk.

“Tapi Bapak juga enggak punya banyak uang.”

Pak Darma tertawa kecil.

“Memang.”

Raka mengangkat wajah, sedikit bingung karena jawaban itu begitu terus terang.

“Tapi satu bungkus nasi masih bisa aku usahakan.”

Anak itu memandangi Pak Darma cukup lama.

“Kenapa Bapak baik sama aku?”

Pertanyaan itu membuat Pak Darma terdiam.

Ia menatap ujung gang, kemudian berkata pelan, “Karena dulu aku juga pernah tahu rasanya lapar dan berharap ada orang yang menyadarinya.”

Raka tidak bertanya lebih jauh.

Ia mungkin belum mengerti sepenuhnya.

Namun sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah.

Ia masih takut pulang ketika ayah tirinya sedang marah.

Ia masih berbicara pelan.

Ia masih berhenti setiap kali mendengar bentakan.

Tetapi setiap siang, setidaknya ia tahu ada satu orang yang menunggu tanpa menuntut apa pun darinya.

Beberapa tahun berlalu.

Raka bertambah tinggi. Ia mulai membantu ibunya membawa barang belanjaan dan sesekali bekerja kecil-kecilan sepulang sekolah.

Lalu suatu sore, ia berlari menuju rumah petak Pak Darma.

Pak Darma sedang membalik sepeda tuanya untuk memperbaiki rantai.

“Pak Darma.”

Ia menoleh.

Raka berdiri di depan pintu dengan sebuah tas kain kecil di bahu.

“Aku mau pergi.”

Tangan Pak Darma berhenti memegang rantai.

“Ke mana?”

“Ke rumah saudara Ibu. Di kota lain.”

Pak Darma tidak menanyakan alasan.

Dari mata Raka, ia tahu kepindahan itu bukan rencana liburan.

“Sekolahmu?”

“Kata Ibu nanti dilanjutkan di sana.”

Pak Darma membersihkan tangannya dengan kain bekas.

“Ya sudah. Pergi yang benar. Jangan berhenti sekolah kalau masih bisa lanjut.”

Raka merogoh saku dan mengeluarkan selembar kertas kecil yang dilipat beberapa kali.

Ia menyerahkannya kepada Pak Darma.

“Nanti aku cari Bapak lagi.”

Pak Darma menerima kertas itu.

Ia tersenyum.

“Kalau sudah besar, mungkin kamu sudah lupa sama tukang bangunan dari gang ini.”

Raka langsung menggeleng.

“Enggak.”

Pak Darma tertawa kecil.

“Ya sudah. Aku tunggu.”

Keesokan paginya, Raka dan ibunya pergi.

Itulah terakhir kali Pak Darma melihat anak itu.

Waktu bergerak jauh lebih cepat daripada yang ia kira.

Lima tahun.

Sepuluh tahun.

Lima belas tahun.

Pak Darma tetap bekerja sebagai tukang bangunan selama tubuhnya masih mampu. Rambutnya mulai memutih. Penglihatannya tidak setajam dulu. Pinggangnya semakin sering sakit.

Lalu, ketika usianya sudah mendekati enam puluh lima, ia jatuh dari perancah saat bekerja di rumah dua lantai.

Ia selamat.

Namun cedera pada punggung membuat kedua kakinya kehilangan banyak kemampuan bergerak.

Setelah berbulan-bulan berobat dengan tabungan yang semakin tipis, ia hampir tidak bisa lagi berdiri tanpa bantuan.

Pekerjaan berhenti.

Penghasilan berhenti.

Rumah petak yang dulu hanya sederhana kini benar-benar terlihat tua. Atapnya bocor di beberapa bagian. Dinding dekat jendela mengelupas. Kipas angin di atas ranjang berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi kecil setiap beberapa detik.

Tetangga kadang membawakan makanan.

Bu Yuni dari rumah depan sering menitipkan sayur.

Pemilik warung kadang mengirim nasi.

Namun orang-orang di sekitar Pak Darma juga hidup pas-pasan. Tidak mungkin mereka menanggung semua kebutuhannya.

Pada sore-sore yang panjang, Pak Darma sering berbaring sambil memandang keluar jendela.

Sesekali ia teringat Raka.

Anak kurus dengan sandal rusak yang selalu menerima nasi menggunakan kedua tangan.

Pak Darma bertanya-tanya apakah Raka berhasil menyelesaikan sekolah.

Apakah ia punya pekerjaan.

Apakah ibunya sehat.

Apakah ia sudah menikah.

Atau apakah hidup membawanya ke tempat yang sama sekali berbeda.

Kadang Pak Darma tersenyum sendiri.

“Mana mungkin masih ingat.”

Ia tidak pernah menganggap apa yang dilakukannya dulu sebagai sesuatu yang istimewa.

Ia melihat seorang anak kelaparan.

Ia punya cukup uang untuk membeli satu porsi tambahan.

Baginya, persoalannya sesederhana itu.

Dua puluh tahun setelah Raka pergi, pada suatu pagi, suara mesin kendaraan terdengar memasuki gang.

Satu mobil berhenti.

Lalu satu lagi.

Kemudian sebuah kendaraan ketiga menyusul di belakangnya.

Orang-orang keluar dari warung, bengkel, dan rumah masing-masing karena jarang ada beberapa mobil sekaligus masuk ke jalan sekecil itu.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun turun dari mobil pertama.

Ia memakai kemeja dan jas kerja sederhana yang tampak mahal tanpa berlebihan. Beberapa orang membawa map dan tas laptop turun dari kendaraan di belakangnya.

Pria itu tidak langsung berbicara.

Ia berdiri di tengah gang sambil memandang kanan dan kiri.

Deretan rumah memang berubah.

Beberapa sudah dibangun ulang.

Warung di sudut gang menjadi lebih besar.

Namun di ujung jalan masih ada sebuah rumah petak tua dengan jendela sempit.

Tatapan pria itu berhenti di sana.

Ia kemudian menghampiri seorang perempuan tua yang sedang menyapu halaman.

“Bu, permisi. Pak Darma yang dulu kerja sebagai tukang bangunan masih tinggal di sini?”

Perempuan itu mengamatinya.

“Pak Darma?”

“Iya.”

“Yang rumahnya paling ujung?”

Pria itu mengangguk cepat.

“Masih. Tapi sekarang sakit. Sudah lama enggak bisa jalan.”

Wajah pria itu berubah.

Ia mengucapkan terima kasih lalu berjalan ke ujung gang tanpa menunggu orang-orang yang datang bersamanya.

Pintu rumah Pak Darma tidak dikunci.

Ketika dibuka, engselnya berbunyi panjang.

Pak Darma sedang berbaring di ranjang besi.

Ia menoleh ketika cahaya dari luar masuk.

Di ambang pintu berdiri seorang pria yang belum pernah ia lihat, setidaknya begitulah yang ia kira.

Pak Darma mengernyit.

“Cari siapa?”

Pria itu masuk.

Ia tidak langsung menjawab.

Langkahnya melambat ketika melihat tubuh kurus di atas ranjang, ember yang diletakkan di bawah titik atap bocor, dan tongkat kayu yang bersandar di dinding.

Lalu ia mendekati ranjang.

Tanpa memperhatikan jasnya menyentuh lantai semen, pria itu berlutut di sisi Pak Darma.

Kedua matanya memerah.

Bagian 2 Pria itu menunduk beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara serak, “Pak Darma… saya Raka.” Pak Darma tidak langsung menjawab. Dahinya berkerut, seolah sedang mencoba mencocokkan wajah lelaki dewasa berusia tiga puluhan di depannya dengan seorang anak kurus bersandal rusak yang dahulu selalu menunggu sebungkus nasi di ujung gang. “Raka?” tanyanya pelan. Pria itu mengangguk, dan air matanya jatuh tanpa sempat ia sembunyikan. “Iya, Pak. Raka yang dulu selalu Bapak bilang kebetulan ada nasi lebih.” Tangan Pak Darma bergerak sedikit di atas selimut. Raka segera meraih tangan kasar yang kini jauh lebih kurus itu dengan kedua tangannya. “Kamu benar-benar kembali,” gumam Pak Darma. Raka tertawa kecil sambil mengusap wajah. “Saya bilang akan mencari Bapak.” Pak Darma memandangnya lama, lalu matanya bergeser ke pintu tempat beberapa orang berdiri menjaga jarak. “Yang di luar itu siapa?” “Tim kerja saya. Kami baru selesai meninjau proyek di daerah sini.” Pak Darma mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh tentang mobil atau pakaian Raka. Pertanyaan pertamanya justru, “Ibumu bagaimana?” Senyum Raka melemah. “Ibu meninggal tujuh tahun lalu, Pak.” Pak Darma menutup mata sesaat. “Maaf.” “Tidak apa-apa. Sebelum meninggal, Ibu masih sering ingat Bapak.” Raka lalu bercerita bahwa setelah mereka pindah, hidup tidak langsung menjadi mudah. Mereka tinggal bersama saudara ibunya beberapa tahun. Raka tetap sekolah sambil membantu di warung dan mengambil pekerjaan kecil. Setelah lulus sekolah teknik, ia bekerja di perusahaan konstruksi sebagai pengawas lapangan. Bertahun-tahun kemudian, bersama dua teman, ia membuka usaha kontraktor kecil. Usahanya sempat hampir tutup dua kali, tetapi perlahan berkembang sampai kini memiliki puluhan pekerja. “Saya pernah kembali ke gang ini waktu umur dua puluh dua,” katanya. “Waktu itu Bapak sedang kerja di luar kota. Saya datang lagi beberapa tahun sesudahnya, rumah ini kosong. Tetangga bilang Bapak pindah sementara karena proyek.” Pak Darma tersenyum tipis. “Aku memang sering berpindah proyek.” “Saya terus cari. Alamat lama hilang waktu kami pindah kontrakan. Baru beberapa minggu lalu salah satu orang saya menemukan nama Bapak lewat tukang lama yang pernah bekerja bersama Bapak.” Raka menatap sekeliling kamar. Atap yang bocor, dinding lembap, obat-obatan murah di meja, dan ember di sudut ruangan membuat rahangnya menegang. “Sudah berapa lama Bapak begini?” “Hampir dua tahun.” “Kenapa tidak bilang siapa-siapa?” Pak Darma tertawa pelan. “Mau bilang ke siapa?” Raka tidak bisa membalas. Ia berdiri, memeriksa jarak antara ranjang dan kursi kayu, lalu bertanya, “Besok kita ke rumah sakit.” “Tidak.” Jawaban Pak Darma keluar cepat. Raka menoleh. “Pak…” “Jangan datang setelah dua puluh tahun lalu langsung mengatur hidupku.” Raka terdiam. Pak Darma menarik napas, kemudian melanjutkan, “Aku senang kamu datang. Sungguh. Tapi kalau kamu merasa harus membayar semua makan siang yang dulu kuberi, lupakan.” “Saya tidak sedang membayar.” “Lalu apa?” Raka duduk lagi. “Dulu Bapak membantu saya karena melihat saya butuh bantuan. Sekarang saya melakukan hal yang sama.” Pak Darma menggeleng. “Aku bukan anak kecil.” “Saya tahu. Karena itu saya bertanya, bukan memaksa.” Beberapa detik berlalu sebelum Raka berkata lebih hati-hati, “Kalau Bapak tidak mau ke rumah sakit, izinkan dokter datang ke sini untuk melihat kondisi Bapak. Setelah itu Bapak sendiri yang memutuskan.” Pak Darma masih tampak ragu. Raka tidak mendesak. Ia justru mengambil termos air, menuangkan minum, lalu membantu Pak Darma duduk sedikit lebih tegak. Saat menggeser meja kecil, matanya tertumbuk pada sebuah kaleng biskuit tua. “Itu masih ada?” tanyanya. Pak Darma menatap arah yang sama lalu tersenyum. “Ambilkan.” Raka menyerahkan kaleng itu. Dari dalamnya, Pak Darma mengeluarkan beberapa foto lama, kartu pekerja, kuitansi pengobatan, dan akhirnya selembar kertas kecil yang sudah menguning. Raka langsung mengenali tulisan tangannya sendiri meski huruf-hurufnya nyaris pudar. Nanti aku cari Pak Darma lagi. Ia menatap kertas itu cukup lama. “Bapak simpan?” “Katanya mau kembali.” Raka menunduk dan tertawa sambil menangis. “Saya telat sekali.” “Yang penting datang.” Keesokan paginya, Raka kembali tanpa rombongan. Ia membawa dua bungkus nasi. Begitu melihatnya, Pak Darma berkata, “Sekarang kamu yang salah beli dua?” Raka tertawa. “Iya, Pak. Rupanya kebiasaan itu menular.” Mereka makan bersama sebelum dokter yang dihubungi Raka datang. Pemeriksaan berlangsung hampir satu jam. Dokter menjelaskan bahwa cedera lama Pak Darma memang berat dan tidak ada jaminan ia dapat berjalan kembali seperti dulu, tetapi kondisinya masih bisa ditingkatkan dengan fisioterapi, nutrisi yang lebih baik, serta lingkungan rumah yang lebih aman. Setelah dokter pulang, Pak Darma memandang Raka. “Jadi tidak ada keajaiban.” “Saya juga tidak datang membawa keajaiban.” “Bagus.” “Saya cuma membawa pilihan.” Dalam minggu-minggu berikutnya, Raka datang hampir setiap hari. Ia tidak memindahkan Pak Darma secara paksa, tidak membeli rumah mewah, dan tidak menyerahkan setumpuk uang. Ia mulai dari hal-hal kecil: memperbaiki sebagian atap dengan izin pemilik rumah, menyediakan kursi roda yang sesuai, mengatur terapi, dan membayar pemeriksaan setelah Pak Darma setuju. Namun suatu malam ketika hujan turun deras, air tetap merembes dari bagian dinding lain. Pak Darma mencoba memindahkan ember sendiri dan hampir jatuh dari ranjang. Bu Yuni yang biasanya membantu sedang demam sehingga anaknya yang datang menolong. Pagi berikutnya, Raka datang dan melihat bekas air di lantai. Kali ini ia tidak marah. Ia hanya duduk di samping ranjang dan berkata, “Pak, kalau Bapak tetap tinggal di sini, bukan cuma Bapak yang harus menanggung risikonya. Bu Yuni juga makin tua. Tetangga semua punya hidup sendiri.” Pak Darma diam cukup lama. “Kamu mau aku pindah?” “Saya mau Bapak melihat satu tempat dulu. Kalau tidak cocok, kita cari pilihan lain.” Dua hari kemudian, untuk pertama kalinya Pak Darma mengizinkan Raka membawanya keluar dengan kursi roda menuju sebuah rumah kecil satu lantai tidak jauh dari kampung lama. Ketika kendaraan berhenti di depan teras sederhana itu, Pak Darma menatap pintu yang cukup lebar untuk kursi roda, kamar mandi tanpa undakan tinggi, dan halaman kecil yang teduh. Raka menunggu di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Pak Darma akhirnya bertanya, “Berapa sewanya?”

Bagian 3 Raka menyebutkan angka sewanya apa adanya. Pak Darma langsung mengernyit. “Aku tidak sanggup.” “Saya tahu.” “Kalau begitu kenapa dibawa ke sini?” Raka menarik sebuah kursi dan duduk di depannya. “Karena saya bisa membantu untuk satu tahun pertama. Setelah kondisi Bapak lebih stabil, kita bicarakan lagi bagaimana pembagiannya.” Pak Darma langsung menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau hidup dari uangmu.” Raka menatapnya tanpa tersinggung. “Kalau saya datang dan memberi Bapak rumah besar, mobil, dan uang puluhan juta, Bapak boleh usir saya. Tapi ini tempat tinggal yang aman. Bapak tetap punya tabungan kecil, bantuan yang selama ini diterima, dan kalau nanti memungkinkan, kita cari cara supaya sebagian biaya bisa Bapak tanggung sendiri.” Pak Darma tetap diam. Raka lalu berkata, “Dulu Bapak tidak pernah bertanya apakah saya bisa membayar nasi itu kembali. Bapak hanya memastikan saya makan. Sekarang izinkan saya memastikan Bapak tidak jatuh setiap kali mau ke kamar mandi.” Kata-kata itu membuat Pak Darma menatap halaman. Setelah beberapa menit, ia berkata, “Kalau aku pindah, semua pengeluaran dicatat.” Raka mengangguk. “Dicatat.” “Aku lihat jumlahnya.” “Boleh.” “Jangan diam-diam membayar sesuatu yang mahal lalu bilang murah.” Raka tersenyum. “Baik.” “Dan aku tetap bayar semampuku.” “Baik.” Pak Darma mendengus. “Kamu sekarang gampang sekali bilang baik.” “Karena Bapak akhirnya mau pindah.” “Aku belum bilang mau.” Namun tiga minggu kemudian, Pak Darma meninggalkan rumah petak yang sudah ditempatinya puluhan tahun. Tidak ada upacara. Bu Yuni dan beberapa tetangga membantu mengemas pakaian, peralatan dapur, kipas tua, dan kaleng biskuit yang selalu disimpan Pak Darma di dekat ranjang. Ketika Raka menyuruh pekerjanya meninggalkan meja kayu lama karena satu kakinya sudah rapuh, Pak Darma langsung protes. “Itu ikut.” “Pak, kakinya hampir lepas.” “Bisa diperbaiki.” Raka akhirnya menyerah dan meminta seseorang membawanya. Rumah baru Pak Darma sederhana. Dua kamar, ruang tengah kecil, dapur, teras, dan kamar mandi yang sudah dipasangi pegangan. Raka tidak tinggal bersamanya. Ia juga tidak mempekerjakan perawat sepanjang hari tanpa persetujuan Pak Darma. Seorang pendamping hanya datang beberapa jam pada hari-hari terapi, sementara kebutuhan sehari-hari dibicarakan bersama. Minggu pertama tetap sulit. Pak Darma sering kesal karena harus meminta bantuan untuk hal-hal yang dulu bisa ia lakukan sendiri. Ia juga beberapa kali mencoba bangun tanpa memanggil siapa pun. Suatu pagi ia hampir terjatuh ketika berpindah dari ranjang ke kursi roda. Raka kebetulan datang dan langsung memegang lengannya. “Saya sudah bilang panggil kalau mau pindah.” Pak Darma menarik tangannya. “Aku bukan anak kecil.” “Saya tahu.” “Jangan awasi aku terus.” Raka terdiam sebentar, lalu berkata, “Baik. Saya akan belajar tidak berlebihan. Tapi Bapak juga harus belajar bilang kalau butuh bantuan.” Pak Darma menatapnya, lalu mengangguk pelan. Hubungan mereka mulai menemukan bentuk baru. Raka tidak lagi memperlakukan Pak Darma seperti orang yang harus diselamatkan, dan Pak Darma perlahan memahami bahwa menerima pertolongan tidak menghapus harga dirinya. Dua bulan kemudian, kekuatan tangan dan tubuh bagian atas Pak Darma membaik. Ia belum bisa berjalan, tetapi sudah lebih mandiri berpindah tempat dan mulai memasak makanan sederhana. Suatu siang Raka datang dengan pakaian proyek penuh debu semen. Pak Darma melihat celananya dan mengerutkan kening. “Campuran plesternya terlalu encer.” Raka tertawa. “Bapak tahu dari mana?” “Lihat noda di celanamu.” Raka lalu menunjukkan beberapa foto pekerjaan di ponselnya. Pak Darma mengamati lama sebelum menunjuk salah satu sudut dinding. “Yang ini harus diperiksa lagi. Kalau permukaannya begini, nanti cepat retak.” Raka membawa saran itu ke kepala lapangan. Ternyata Pak Darma benar. Sejak saat itu, sesekali Raka menunjukkan foto pekerjaan sederhana untuk meminta pendapat. Pak Darma menikmati kegiatan itu, tetapi suatu hari ia berkata, “Kalau memang ini pekerjaan, jangan pura-pura cuma minta tolong.” Raka memahami maksudnya. Ia kemudian menawarkan pekerjaan konsultasi ringan untuk beberapa pemeriksaan visual yang memang sesuai pengalaman Pak Darma. Bayarannya tidak besar, tetapi ketika uang pertama masuk ke rekeningnya, Pak Darma menunjukkan layar ponselnya dengan wajah puas. “Mulai bulan depan aku bayar sebagian sewa.” “Pak, uang itu buat kebutuhan Bapak.” “Kebutuhanku salah satunya tempat tinggal.” Mereka berdebat hampir lima belas menit sebelum sepakat bahwa Pak Darma akan membayar sebagian kecil sesuai kemampuan. Sisanya tetap dibantu Raka sampai mereka menemukan pengaturan jangka panjang yang lebih stabil. Enam bulan berlalu. Pak Darma masih menggunakan kursi roda dan masih menjalani terapi. Ada hari ketika pinggangnya sakit dan ia memilih beristirahat. Namun hidupnya tidak lagi hanya berputar antara ranjang, obat, dan ember penampung air hujan. Tetangga lama sering datang. Bu Yuni paling sering membawa makanan sambil mengomel karena Pak Darma kini terlalu rajin menyapu teras dari kursi rodanya. Suatu Minggu, Raka datang membawa sebuah map plastik. “Apa lagi itu?” tanya Pak Darma curiga. “Bukan tagihan.” Di dalamnya ada salinan kertas kecil yang dahulu ditulis Raka sebelum pindah. Tulisan pensilnya sudah dipindai agar tidak hilang. Nanti aku cari Pak Darma lagi. Pak Darma memeriksa salinan itu. “Yang asli?” “Masih di kaleng Bapak.” “Bagus.” Raka duduk di seberangnya. “Saya dulu merasa gagal karena butuh dua puluh tahun untuk kembali.” Pak Darma menggeleng. “Aku memang berharap kamu datang. Tapi bukan karena ingin dibalas.” Raka diam. “Aku cuma ingin tahu anak yang dulu makan terburu-buru itu akhirnya hidup baik atau tidak.” Ia menatap Raka dengan tenang. “Jadi jangan jadikan sisa hidupmu sebagai pembayaran utang. Kalau mau datang, datang karena memang mau bertemu.” Raka tersenyum kecil. “Baik, Pak.” Keesokan harinya Raka datang menjelang makan siang dengan motor, bukan mobil kantor. Pak Darma sudah berada di dapur sejak pagi, menyiapkan nasi, sayur bening, dan telur kecap. Dua kotak makan tersusun di meja. Raka membuka satu lalu tertawa. “Banyak sekali.” Pak Darma mendorong kotak itu ke arahnya. “Kamu kerja di lapangan. Makan yang benar.” Raka berhenti sebentar mendengar kalimat itu, lalu duduk tanpa berkata apa-apa. Pak Darma mengambil kotak satunya. Untuk beberapa saat mereka hanya makan bersama di teras kecil, mendengar suara anak-anak bermain dari ujung jalan. Tidak ada lagi orang yang berpura-pura salah membeli dua bungkus nasi. Tidak ada utang yang harus dibayar. Hanya seorang lelaki tua yang dulu menolong seorang anak lapar, dan seorang pria dewasa yang akhirnya berhasil pulang untuk memastikan orang yang pernah menjaganya tidak lagi menghadapi hidup sendirian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *