Pesawatku tinggal dua jam lagi ketika bel apartemen berbunyi.
Aku membeku di depan koper yang masih terbuka.
Dwi baru saja mengirim pesan terakhir.
Pak Arjuna sudah pergi dari kantor dan menanyakan alamatku.
Aku mematikan lampu ruang tamu, memasukkan hasil USG ke tas, lalu berdiri tanpa bergerak. Bodoh memang. Kalau Arjuna benar-benar sudah sampai di depan pintu, mematikan lampu tidak akan membuatku menghilang.

Bel berbunyi lagi.
Kali ini lebih lama.
“Ayu.”
Suara itu terdengar dari balik pintu.
Jantungku langsung berdegup keras.
“Aku tahu kamu di dalam.”
Aku menggigit bibir, mengambil koper, lalu berjalan ke pintu belakang apartemen. Untung unitku berada dekat tangga darurat.
“Ayu, buka pintunya.”
Aku tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian ponselku bergetar.
Arjuna menelepon.
Kutolak.
Dia menelepon lagi.
Kutolak lagi.
Pesan masuk.
“Klinik Pratama Bunda. Aku sudah lihat amplopnya.”
Tanganku dingin.
Pesan berikutnya muncul.
“Aku cuma mau bicara.”
Aku menatap kalimat itu lama.
Selama empat tahun menikah, justru itulah masalah kami.
Kami tidak pernah benar-benar bicara.
Arjuna menyelesaikan masalah dengan uang, koneksi, atau diam. Sementara aku menumpuk pertanyaan sampai akhirnya semuanya berubah menjadi kecurigaan.
Malam ini aku tidak punya tenaga mengulang semuanya.
Aku membuka pintu tangga darurat dan turun.
Lima belas menit kemudian aku sudah berada di taksi menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Aku terus melihat ke belakang sepanjang perjalanan.
Tidak ada mobil hitam mengikuti.
Barulah aku bisa bernapas.
Tanganku perlahan menyentuh perut.
“Aku cuma butuh waktu,” bisikku.
Entah kepada bayi ini, kepada Arjuna, atau kepada diriku sendiri.
Sesampainya di bandara, aku langsung menuju area keberangkatan. Koper sudah masuk bagasi. Boarding pass ada di tangan. Tinggal melewati pemeriksaan terakhir.
Aku hampir berhasil.
Sampai sebuah tangan mengambil boarding pass dari tanganku.
Aku menoleh cepat.
Arjuna berdiri di sana.
Kemeja putihnya kusut. Dasi sudah tidak ada. Napasnya berat seperti baru berlari.
Aku belum pernah melihat Arjuna seperti itu.
Selama mengenalnya, dia selalu terlihat terkendali.
Bahkan ketika kami menandatangani surat perceraian, tangannya tidak gemetar sedikit pun.
Sekarang tangannya gemetar.
“Kembalikan.”
Dia menatap boarding pass.
“Yogyakarta?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Ayu.”
“Kembalikan.”
Orang-orang mulai melirik.
Arjuna menyerahkan boarding pass, tetapi berdiri menghalangi jalanku.
“Apakah kamu hamil?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Aku tidak menjawab.
“Ayu, lihat aku.”
Aku mengangkat wajah.
“Kalau iya, memang kenapa?”
Wajahnya berubah.
Bukan marah.
Bukan juga terkejut.
Lebih seperti seseorang yang baru mendapat jawaban atas sesuatu yang paling ditakutkannya.
“Berapa minggu?”
Aku tertawa pendek.
“Sekarang kamu peduli?”
“Aku tanya berapa minggu.”
“Hampir sebelas.”
Arjuna menutup mata.
Bibirnya bergerak seperti sedang menghitung.
Ketika membuka mata lagi, suaranya nyaris berbisik.
“Malam terakhir itu?”
Aku mengangguk.
Dia mengusap wajah.
Untuk beberapa detik kami hanya berdiri di tengah suara pengumuman keberangkatan dan roda koper yang bergesekan dengan lantai.
Lalu Arjuna berkata, “Jangan pergi malam ini.”
“Kenapa?”
“Aku perlu menjelaskan sesuatu.”
Aku tertawa getir.
“Lucu. Tiga bulan setelah bercerai, akhirnya kamu merasa perlu menjelaskan.”
“Aku salah.”
Dua kata itu membuatku terdiam.
Arjuna bukan laki-laki yang mudah mengakui kesalahan.
“Aku seharusnya menjelaskan tentang Dewi sejak awal.”
Dadaku langsung terasa panas.
“Aku tidak ingin mendengarnya.”
“Dewi bukan selingkuhanku.”
“Semua laki-laki bilang begitu.”
“Dia adikku.”
Aku membeku.
Arjuna menatapku tanpa berkedip.
“Adik kandungku.”
Aku menggeleng.
“Kamu anak tunggal.”
“Itu yang diketahui semua orang.”
Dia menarik napas.
“Ayahku punya hubungan dengan perempuan lain sebelum menikah dengan Ibu. Dewi lahir dari hubungan itu. Keluarga kami menyembunyikannya puluhan tahun.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Dua tahun lalu Dewi menghubungiku. Dia tidak meminta masuk keluarga. Tidak meminta nama belakang. Dia cuma butuh bantuan karena anaknya harus menjalani operasi jantung.”
Transfer Rp 280 juta.
Rumah sakit.
Bu Sari.
Semua potongan yang selama ini kuanggap bukti perselingkuhan mendadak membentuk gambar berbeda.
“Kenapa ibumu ada di rumah sakit?”
“Karena akhirnya Ibu tahu.”
Arjuna menunduk.
“Dan anehnya, orang yang paling marah ketika aku ingin membantu Dewi justru Ayah. Dia takut skandal lama terbongkar.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang kepadaku?”
“Karena Dewi memintaku merahasiakan identitasnya sampai anaknya selesai operasi. Dan aku…”
Dia berhenti.
“Aku terlalu yakin kamu akan tetap menungguku.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada alasan apa pun.
Arjuna melanjutkan, “Aku pikir setelah semuanya selesai, aku akan menjelaskan. Aku tidak sadar bahwa setiap hari aku diam, kamu semakin yakin aku mengkhianatimu.”
Aku menatap boarding pass.
“Dan chat itu?”
“Jangan sampai Ayu tahu dulu?”
Dia mengangguk pahit.
“Dewi tahu aku berniat memberitahumu. Tapi waktu itu kondisinya belum siap diketahui keluarga besar. Dia takut ayahku mengambil tindakan.”
Aku menahan air mata.
“Tapi kamu tetap memilih rahasia keluargamu daripada istrimu.”
“Iya.”
Tidak ada pembelaan.
Justru jawaban itu membuat dadaku semakin sesak.
“Aku salah di situ.”
Pengumuman boarding pesawatku terdengar.
Aku melangkah.
Arjuna tidak menahan.
“Ayu.”
Aku berhenti.
“Aku tidak datang untuk memaksamu kembali.”
Aku menoleh.
“Kalau kamu mau pergi, pergi. Kalau kamu tidak mau melihatku lagi, aku terima.”
Tatapannya turun ke perutku.
“Tapi jangan hilangkan hakku untuk mengetahui anakku.”
Aku menggenggam pegangan koper kecil.
“Menjadi ayah bukan hak yang otomatis kamu dapat hanya karena anak itu membawa darahmu.”
“Aku tahu.”
“Menjadi ayah berarti hadir.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu bahkan tidak bisa hadir dalam pernikahanmu sendiri.”
Wajah Arjuna menegang.
Aku berbalik dan berjalan menuju pemeriksaan.
Tiga langkah.
Empat langkah.
Lalu pandanganku mendadak berputar.
Suara di sekitar terdengar jauh.
Hal terakhir yang kulihat adalah boarding pass jatuh dari tanganku.
Ketika sadar, aku berada di klinik bandara.
Arjuna duduk di kursi dekat ranjang.
Seorang dokter perempuan sedang memeriksa infus.
“Tekanan darah Ibu sempat turun,” katanya. “Kemungkinan karena kurang makan, kelelahan, dan dehidrasi. Kondisi awal kehamilan memang bisa membuat mual cukup berat.”
Tanganku langsung menyentuh perut.
“Bayinya?”
“Untuk sementara tidak ada tanda yang mengkhawatirkan. Tapi sebaiknya diperiksa lebih lengkap besok.”
Aku mengembuskan napas panjang.
Arjuna menunduk.
Aku melihat kedua tangannya saling menggenggam erat.
Dokter keluar.
Kami kembali berdua.
“Pesawatku?”
“Sudah berangkat.”
Aku menutup mata.
“Tentu saja.”
“Aku belikan tiket besok kalau kamu masih mau pergi.”
Aku menatapnya curiga.
“Kamu tidak akan menahanku?”
“Tidak.”
Malam itu Arjuna mengantarku kembali ke apartemen.
Dia tidak masuk.
Tidak meminta kesempatan kedua.
Tidak menyentuhku.
Sebelum pergi, dia hanya berkata, “Besok aku tunggu di lobi jam sembilan. Kalau kamu tidak turun, aku akan pergi.”
Besok pagi pukul sembilan kurang lima, aku berdiri di balik tirai.
Mobilnya sudah ada.
Jam sembilan lewat sepuluh, dia masih menunggu.
Jam sembilan lewat tiga puluh, masih ada.
Aku tidak turun.
Tepat pukul sepuluh, mobil itu pergi.
Aku menangis setelahnya.
Bukan karena kecewa dia pergi.
Melainkan karena untuk pertama kalinya Arjuna melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah bisa dia lakukan.
Menghormati pilihanku.
Aku tetap mengundurkan diri.
Apartemen batal kujual.
Aku juga tidak jadi pindah ke Yogyakarta.
Selama beberapa minggu berikutnya, Arjuna tidak datang tanpa izin.
Setiap Senin dia hanya mengirim satu pesan.
“Kontrol kapan? Kalau kamu mengizinkan, aku ingin ikut.”
Dua kali aku tidak menjawab.
Pada kontrol ketiga, aku akhirnya mengirim jadwal.
Dia datang tiga puluh menit lebih awal.
Ketika suara detak jantung bayi memenuhi ruang pemeriksaan, Arjuna mendadak menunduk.
Aku melihat sesuatu jatuh ke celananya.
Air mata.
Aku pura-pura tidak melihat.
Hubungan kami tidak membaik secara ajaib.
Ada terlalu banyak luka untuk diselesaikan dengan satu penjelasan.
Kami mulai bertemu konselor, bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai dua calon orang tua.
Di sanalah untuk pertama kalinya Arjuna mengakui sesuatu yang tidak pernah kuketahui.
“Aku tumbuh di rumah yang semua masalahnya disembunyikan,” katanya. “Ayah mengajarkan bahwa melindungi keluarga berarti menutup mulut. Aku membawa cara itu ke pernikahan.”
Aku menatapnya.
“Dan aku tumbuh dengan ayah yang pernah berselingkuh,” kataku pelan. “Jadi ketika melihat transfer dan perempuan asing, aku langsung percaya kemungkinan terburuk.”
Kami ternyata sama-sama membawa luka lama ke rumah yang kami bangun bersama.
Bedanya, kami baru menyadarinya setelah rumah itu runtuh.
Lima bulan kemudian aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Arjuna berada di luar ruang operasi karena aku menjalani operasi caesar darurat.
Ketika sadar, orang pertama yang kulihat adalah dia.
Matanya merah.
“Bayinya?”
“Sehat.”
Dia tersenyum sambil menangis.
“Perempuan.”
Aku memejamkan mata lega.
“Aku mau namanya Kirana.”
Arjuna mengangguk.
“Namanya Kirana.”
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada upaya mengambil kendali.
Enam bulan setelah Kirana lahir, aku menerima sebuah amplop.
Pengirimnya Dewi.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan.
Dia meminta maaf karena rahasianya ikut menghancurkan rumah tangga orang lain.
Di bagian akhir dia menulis bahwa anaknya sudah sehat dan mereka pindah ke Surabaya untuk memulai hidup baru.
Namun ada satu kalimat yang membuatku terdiam lama.
“Mas Arjuna tidak pernah mengkhianati Mbak dengan perempuan lain, tetapi mungkin dia pernah mengkhianati pernikahan kalian dengan memilih diam ketika seharusnya jujur.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Dewi benar.
Kesetiaan ternyata bukan sekadar tidak tidur dengan orang lain.
Kadang kesetiaan berarti memberikan pasangan kita tempat di dalam kehidupan yang sedang kita jalani.
Malam itu Arjuna datang untuk menjemput Kirana.
Hubungan kami masih aneh.
Kami sudah bercerai, tetapi makan malam bersama dua kali seminggu.
Dia punya kunci apartemen untuk keadaan darurat, tetapi selalu mengetuk.
Dia membantu mengurus Kirana, tetapi tidak pernah memakai anak kami sebagai alasan untuk memaksaku kembali.
Saat Kirana tertidur di lengannya, Arjuna berkata pelan, “Ada sesuatu yang belum pernah aku bilang.”
Aku menatapnya.
“Aku pindah ke kantor cabang itu karena tahu kamu bekerja di sana.”
Aku terdiam.
“Jadi bukan kebetulan?”
Dia menggeleng.
“Setelah perceraian, aku meminta dipindahkan. Aku pikir kalau melihatmu lagi, mungkin aku bisa meminta maaf.”
“Lalu kenapa di rapat kamu bersikap seperti tidak mengenalku?”
Arjuna tersenyum tipis.
“Karena begitu melihatmu, semua kalimat yang kusiapkan selama tiga bulan hilang.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tertawa.
Setahun kemudian kami menikah lagi.
Bukan pesta besar.
Tidak ada ballroom hotel.
Hanya keluarga terdekat, beberapa sahabat, Dewi dan putranya yang datang dari Surabaya, serta Kirana yang tertidur hampir sepanjang acara.
Sebelum menandatangani buku nikah, Arjuna menggenggam tanganku.
“Aku tidak akan berjanji tidak pernah membuat kesalahan.”
Aku menatapnya.
“Aku cuma berjanji satu hal. Kalau ada masalah, kamu akan mendengarnya dariku. Bukan dari rekening bank, bukan dari chat orang lain, dan bukan dari orang ketiga.”
Aku tersenyum.
“Kalau begitu aku juga berjanji tidak akan langsung kabur membawa koper.”
“Kalau marah?”
“Boleh.”
“Banting pintu?”
“Masih bisa dinegosiasikan.”
Kami tertawa.
Namun kejutan terakhir justru datang beberapa hari setelah pernikahan kedua kami.
Aku sedang membereskan dokumen lama ketika menemukan map hasil pemeriksaan kehamilan pertamaku.
Aku memperhatikan tanggalnya.
Lalu tanggal perceraian kami.
Kemudian aku menghitung lagi.
Aku memanggil Arjuna.
“Jun.”
Dia datang sambil menggendong Kirana.
“Apa?”
Aku menunjukkan kalender.
“Kamu sadar sesuatu?”
Dia melihatnya beberapa detik.
Wajahnya perlahan berubah.
Secara hukum, ketika kami menandatangani perceraian, aku ternyata sudah mengandung Kirana hampir dua minggu tanpa kami ketahui.
Arjuna menatap putri kecil kami.
Kirana sedang menarik kerah bajunya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa, tetapi mataku terasa panas.
Selama ini aku mengira Kirana hadir dari malam terakhir kami, malam ketika dua orang yang sudah menyerah pada pernikahan mereka melakukan satu kesalahan sebelum berpisah.
Ternyata tidak.
Dokter kemudian membantu menghitung ulang usia kehamilan berdasarkan pemeriksaan awal dan perkiraan konsepsi.
Kirana kemungkinan besar sudah ada sebelum pertengkaran terakhir itu.
Artinya, pada hari kami duduk berhadapan dan menandatangani akhir pernikahan kami, ada kehidupan kecil yang diam-diam ikut berada di ruangan itu.
Kami bertiga.
Hanya saja dua orang dewasa di sana terlalu sibuk mempertahankan luka masing-masing sampai tidak menyadarinya.
Arjuna memeluk Kirana lebih erat.
“Berarti dia ikut waktu kita bercerai.”
Aku mengangguk.
“Dan ikut waktu kita menikah lagi.”
Kirana tiba-tiba tertawa keras tanpa alasan.
Aku menyentuh pipinya.
Dulu aku berpikir perceraian kami terjadi karena Dewi.
Kemudian aku berpikir semuanya terjadi karena Arjuna tidak jujur.
Namun setelah waktu berlalu, aku memahami sesuatu yang lebih sulit diterima.
Pernikahan kami tidak hancur oleh satu perempuan, satu transfer uang, atau satu percakapan yang disembunyikan.
Ia hancur karena dua orang yang sebenarnya masih saling mencintai berhenti membuat satu sama lain merasa aman untuk bertanya dan menjawab.
Kirana tidak menyelamatkan pernikahan kami.
Seorang anak tidak seharusnya memikul tugas sebesar itu.
Dia hanya memaksa kami berhenti berlari cukup lama untuk melihat kesalahan masing-masing.
Yang menyelamatkan kami adalah keputusan untuk berubah setelah melihatnya.
Dan sejak hari itu, setiap kali Arjuna mulai berkata, “Ini rumit, nanti aku jelaskan,” aku cukup menatapnya.
Dia akan langsung menghela napas, duduk di sampingku, lalu berkata,
“Oke. Kita mulai dari awal.”
