TERBONGKAR! TETANGGAKU MENDENGAR TERIAKAN WANITA DARI RUMAH KOSONGKU SETIAP HARI, SAAT AKU BERSEMBUNYI DI BAWAH RANJANG KARENA PENASARAN, AKU MENDENGAR SUARA SUAMIKU YANG SUDAH MENINGGAL SEDANG BERSEKONGKOL DENGAN WANITA SELINGKUHANNYA UNTUK MEREBUT SELURUH HARTA WARISANKU! 

TERBONGKAR! TETANGGAKU MENDENGAR TERIAKAN WANITA DARI RUMAH KOSONGKU SETIAP HARI, SAAT AKU BERSEMBUNYI DI BAWAH RANJANG KARENA PENASARAN, AKU MENDENGAR SUARA SUAMIKU YANG SUDAH MENINGGAL SEDANG BERSEKONGKOL DENGAN WANITA SELINGKUHANNYA UNTUK MEREBUT SELURUH HARTA WARISANKU!

“Indah, ada suara perempuan berteriak meminta tolong dari dalam rumahmu setiap hari!”

Kalimat itu terucap dari bibir Ibu Salma, wanita berusia 70 tahun yang tinggal tepat di depan rumahku. Sore itu, udara di kawasan cluster perumahan elit daerah Sentul, Bogor, terasa sangat dingin dan mencekam. Tangan kanan Ibu Salma memegang kantong plastik berisi roti isi kelapa sisa syukuran Lebaran, sementara tangan kirinya tidak berhenti memutar butiran tasbih kayu.

Aku baru saja pulang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah klinik kesehatan daerah Cibubur. Rasa lelah yang menumpuk setelah delapan jam memelototi layar komputer mendadak menguap, berganti menjadi sengatan dingin yang menjalar dari telapak kaki hingga ke tengkukku.

“Saya serius, Indah. Kalau besok suara jeritan itu masih terdengar saat kamu pergi bekerja, saya tidak mau tahu, saya akan panggil petugas keamanan dan kepolisian!” tegas Ibu Salma dengan tatapan mata yang tidak main-main.

Ibu Salma bukan tipe lansia yang suka membual atau mencari perhatian. Di usianya yang sudah berkepala tujuh, ingatan dan pendengarannya masih sangat tajam. Dia bisa membedakan mana suara kucing berkelahi, suara pipa air bocor, hingga denting sendok yang jatuh ke lantai.

“Tapi saya tinggal sendirian di rumah ini, Ibu Salma,” bisikku lirih sambil mencoba tersenyum, meski bibirku terasa sangat kaku. “Pintu dan jendela selalu saya kunci rapat sebelum berangkat kerja jam delapan pagi.”

“Justru karena kamu tinggal sendirian, Indah!” Ibu Salma melangkah mendekat. Nafasnya terengah-engah, matanya bergetar hebat. “Suara jeritan itu selalu mulai beberapa jam setelah mobilmu keluar dari garasi. Awalnya hanya suara perempuan menangis sesenggukan… tapi makin lama makin kencang. Dan kemarin sore, suara itu berteriak sangat jelas: Jangan kurung aku lagi!

Plak!

Gantungan kunci rumah yang ada di genggamanku mendadak terlepas dan jatuh menghantam lantai semen. Suaraku tertahan di tenggorokan. Jantungku seperti berhenti berdetak seketika.

Jangan kurung aku lagi!

Ya Allah! Kalimat itu bukan sekadar rintihan biasa. Itu adalah kalimat persis yang pernah kuteriakkan dua tahun lalu lewat rekaman pesan suara kepada Budi, suamiku. Saat itu kami bertengkar hebat karena masalah keuangan. Budi yang tersulut emosi tega mengunciku di dalam kamar tidur utama selama dua hari penuh tanpa makanan. Kejadian memalukan dan menyakitkan itu tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada ibu kandungku sendiri saat mudik ke Bandung. Bagaimana mungkin Ibu Salma bisa mendengarnya dari dalam rumahku yang kosong?

Sejak Budi dinyatakan berpulang 18 bulan lalu akibat kecelakaan maut di Tol Jagorawi, rumah mewah dua lantai ini memang berubah menjadi sunyi bagaikan kuburan. Adik kandung Budi, Rizky, yang kala itu datang ke rumah sakit untuk mengidentifikasi kondisi kendaraan yang terbakar habis. Rizky melarangku melihat jasad Budi dengan alasan agar aku tidak mengalami trauma seumur hidup. Aku yang diselimuti duka mendalam hanya bisa pasrah menandatangani seluruh berkas kematian dan menerima sebuah guci berisi abu jenazah.

Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Rasa takut dan rasa penasaran meracuni pikiranku. Aku memeriksa seluruh sudut rumah, dari slot jendela, lemari pakaian, area loteng, hingga jemuran belakang. Semuanya terkunci rapat. Tidak ada tanda-tanda kebobolan.

Keesokan paginya, aku menyusun sebuah rencana. Jam delapan pagi, aku menyalakan mesin mobil hitamku, menyapa petugas keamanan di gerbang perumahan, lalu mengemudikan mobil sejauh empat blok. Aku memarkirkan kendaraan di balik kompleks ruko kosong yang sepi.

Dengan hati-hati, aku berjalan kaki menyusuri semak belukar di lahan kosong belakang perumahan, lalu menyelinap masuk ke dalam rumah melalui pintu servis dapur yang sengaja tidak kukunci rapat. Langkah kakiku tanpa alas sepatu melangkah sangat perlahan di atas lantai granit yang dingin. Aku masuk ke kamar tidur utama, lalu merangkak pelan ke bawah ranjang kayu jati yang tebal. Aku memastikan ponselku dalam mode hening total.

Dua jam berlalu dalam kegelapan yang menyiksa. Otot kakiku mulai kram hebat. Saat aku hampir menyerah dan berpikir bahwa Ibu Salma mungkin hanya berhalusinasi, tiba-tiba terdengar suara denting besi di pintu depan.

Klik!

Seseorang memasukkan kunci master dan memutar gagang pintu utama! Langkah kaki bersepatu melangkah masuk tanpa ragu. Orang itu berjalan melintasi ruang tamu, membuka laci meja kerja, dan menggeser lemari. Tak lama kemudian, langkah kaki itu menuju lurus ke kamar tidur utama.

Dari balik celah sprei tebal yang menjuntai, mataku membelalak. Sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah marun melangkah masuk. Seorang wanita mengenakan baju batik elegan dan berhijab berdiri tepat di samping ranjang tempatku bersembunyi. Dia sedang menelepon seseorang dengan mode pengeras suara aktif.

“Aku sudah di dalam kamar utama, Sayang,” ucap wanita itu dengan suara manja.

Lalu, sebuah suara pria menjawab dari seberang telepon. Suara berat, hangat, dan sangat familiar—suara yang seharusnya sudah tertimbun tanah dan berubah jadi abu 18 bulan yang lalu!

“Bagus. Cari di balik cermin besar dekat lemari. Di sana aku menyembunyikan polis asuransi jiwa senilai sepuluh milyar Rupiah dan sertifikat asli rumah ini,” sahut suara pria itu.

Budi! Itu suara Budi! Suamiku masih hidup!

Darahku serasa berhenti mengalir. Air mata menetes deras membakar pipiku. Wanita itu tertawa kecil sambil menggeser cermin besar di dinding. “Janda bodoh itu ternyata masih sering menangis sambil memeluk bantal bekas parfummu setiap malam,” ejeknya.

“Indah memang selalu mudah dibodohi dan terlalu polos,” balas Budi dari balik telepon tanpa rasa dosa sedikit pun. “Segera ambil dokumen itu dan keluar dari sana.”

Wanita itu melangkah mendekati ranjang. Dia tiba-tiba membungkukkan badannya dan mengulurkan tangan untuk mengangkat pinggiran sprei tebal…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Jantungku serasa ingin meledak keluar dari dada. Tatapan mataku beradu langsung dengan iris mata milik wanita berkerudung yang berdiri anggun di atas lantai kayu. Senyum sinis perlahan terukir di bibirnya yang terpoles gincu merah menyala.

“Halo, Ibu Janda…” sapa wanita itu dengan nada mengejek yang sangat dingin.

Astaga! Aku mengenali wajah itu dengan sangat jelas! Dia adalah Dewi, agen wanita dari perusahaan asuransi jiwa yang dua tahun lalu kerap datang ke rumah kami untuk menawarkan polis perlindungan diri bagi Budi!

“Dewi?! Kamu… kamu…” Suaraku bergetar hebat. Tenggorokanku serasa disumpal pasir. Aku merangkak keluar dari bawah ranjang jati dengan tubuh gemetar hebat. Seluruh persendianku lemas, namun kemarahan yang mendidih membakar kesadaranku.

Dewi tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dia justru santai merapikan baju batiknya dan melangkah mundur dua langkah, tetap memegang ponselnya yang masih terhubung dalam panggilan pengeras suara.

“Ada apa di sana, Dewi? Kenapa ada suara Indah?!” suara Budi terdengar panik dari speaker ponsel. Suara yang selama 18 bulan ini kusebut dalam setiap doa dan tangisku!

“Budi! Budi, kamu masih hidup?!” jeritku histeris. Air mataku bercucuran deras hancur tak berbekas. “Demi Tuhan, Budi! Apa-apaan semua ini?! Siapa yang ada di dalam guci abu di meja riasku?! Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?!”

Keheningan melingkupi sambungan telepon selama beberapa detik sebelum akhirnya tawa dingin Budi terdengar dari seberang sana. Tawa yang sangat asing, penuh kelicikan yang belum pernah kudengar selama lima tahun pernikahan kami.

“Indah, Indah… Harusnya kamu tetap berpura-pura tidak tahu dan menikmati hidupmu,” kata Budi tanpa sedikit pun penyesalan. “Kamu itu terlalu naif. Kamu pikir aku benar-benar mencintaimu? Aku menikahimu hanya karena kamu punya akses warisan tanah dari orang tuamu dan tabungan yang cukup untuk membiayai gaya hidupku!”

“Kurang ajar kamu, Budi!” teriakku histeris. “Aku melayanimu bagaikan raja! Aku menyerahkan seluruh hidupku untukmu!”

Saat aku hendak merebut ponsel dari tangan Dewi, pintu kamar tidur utama mendadak terdorong lebar. Seorang pria melangkah masuk dengan santai sambil mengantongi kunci master di saku celananya.

Rizky! Adik kandung Budi sendiri!

“Wah, wah… ternyata sang janda berduka sedang mengadakan reuni,” ejek Rizky dengan senyum culas.

“Rizky? Kamu juga terlibat?!” dadaku sesak menahan kebenaran yang teramat menyakitkan. “Kamu yang datang ke rumah sakit! Kamu yang membawakan guci abu itu padaku! Kamu bilang kakakmu terbakar habis di Tol Jagorawi!”

“Tentu saja aku terlibat, Mbak Indah tercinta,” jawab Rizky sambil bersedekap dada. “Kamu pikir siapa yang mencari jasad tunawisma yang sudah tak bernyawa di pinggir jalan lalu mendudukkannya di kursi pengemudi sebelum mobil Budi ditabrakkan dan dibakar di Tol Jagorawi? Aku dan Budi menyogok oknum petugas lapangan agar proses identifikasi berjalan cepat tanpa otopsi mendalam. Semuanya demi klaim asuransi jiwa sepuluh milyar Rupiah!”

Demi Tuhan! Mereka bukan lagi manusia, mereka adalah iblis berdarah dingin! Mereka mengorbankan nyawa orang lain dan memalsukan peristiwa maut demi uang miliaran Rupiah!

“Lalu suara jeritan wanita yang didengar Ibu Salma…” bisikku, merangkai setiap kepingan puzzle mengerikan ini. “Suara itu…”

“Oh, itu?” Dewi tertawa renyah. “Itu rekaman suara lamamu yang disimpan Budi di flashdisk. Setiap kali kami datang menyelinap untuk mencari sertifikat tanah dan dokumen asli yang belum ketemu, kami sengaja memutar rekaman itu lewat speaker nirkabel kecil di loteng. Rencananya sederhana, Indah: membuat tetangga sekitar berpikir kamu mulai kehilangan akal sehat karena terlalu berduka. Jadi saat kami memindahkanmu ke rumah sakit jiwa kelak, tidak akan ada satu orang pun yang curiga!”

Rencana mereka begitu rapi, begitu biadap! Mereka tidak hanya mencuri harta dan uang asuransi, tetapi juga berniat menghancurkan mental dan masa depanku!

“Sekarang, Indah,” Rizky melangkah mendekatiku, mengeluarkan selembar kertas formulir dari tas dokumennya. “Karena kamu sudah tahu semuanya, penawaran kita simpel. Tanda tangani surat kuasa pengalihan sertifikat rumah ini dan persetujuan pencairan klaim asuransi. Setelah itu, kamu bisa pergi ke luar kota dan tetap hidup. Tapi kalau kamu menolak…”

Rizky mencengkeram bahuku dengan kasar, memaksaku duduk di tepi ranjang.

“Lepaskan aku! Biadab kalian!” aku berontak sekuat tenaga, menghentakkan kakiku dan mencoba melayangkan pukulan ke wajah Rizky. Namun tenaga pria itu jauh lebih kuat. Dewi berdiri di dekat pintu sambil terus merekam aksiku menggunakan ponselnya.

“Buat dia bertanda tangan, Rizky! Kita tidak punya banyak waktu!” seru Budi dari balik panggilan telepon.

Tiba-tiba, dari luar rumah, terdengar derap langkah kaki yang sangat ramai. Suara teriakan memecah kesunyian cluster elit yang biasanya tenang itu.

“Woi! Saya tahu ada orang asing di dalam rumah ini! Keluar kalian! Jangan macam-macam di perumahan ini!” suara keras Ibu Salma menggelegar dari balik pagar depan, diiringi suara tiupan peluit petugas keamanan perumahan.

Dewi dan Rizky panik seketika. “Setan! Lansia rewel itu benar-benar memanggil satpam!” maki Dewi sambil mengintip dari balik tirai jendela.

“Cepat paksa dia tanda tangan!” bentak Budi di telepon.

Rizky menarik tanganku dengan paksa, menjejalkan pulpen ke jariku. “Tanda tangan cepat, Indah! Atau aku buat kamu berpulang menyusul guci abu palsu itu!”

Di tengah tekanan dan ancaman yang begitu hebat, aku justru tertawa. Tawa yang keluar dari kedalaman jiwaku yang paling hancur. Aku menatap mata Rizky dan Dewi bergantian dengan tatapan penuh dendam.

“Kalian pikir aku benar-benar janda bodoh yang tidak tahu apa-apa?” ucapku pelan namun penuh penekanan.

Brak!

Pintu depan rumah dikendor keras, disusul suara hantaman berat hingga selot pintu kayu mahoni itu jebol menghantam lantai. Bukannya petugas keamanan perumahan yang masuk pertama kali, melainkan empat orang pria berbadan tegap mengenakan jaket bertuliskan JATANRAS POLRES BOGOR dengan senjata terkokoh di tangan mereka!

“Jangan bergerak! Kepolisian! Angkat tangan kalian semua!” teriak salah satu petugas polisi dengan tegas.

Ibu Salma masuk di belakang petugas polisi bersama komandan satpam cluster. Rizky langsung menurunkan tangannya dan gemetar hebat, sementara pulpen di tangannya jatuh ke lantai. Dewi menjatuhkan ponselnya hingga layarnya retak seketika.

Dari arah pintu luar, seorang pria berjaket tebal masuk dengan terburu-buru. Wajahnya pucat pasi saat melihat barisan polisi sudah mengepung seluruh ruangan. Pria itu adalah Budi! Dia ternyata selama ini bersembunyi di dalam mobil kaca gelap yang terparkir dua blok di luar gerbang cluster, menunggu instruksi dari Dewi!

Budi membeku saat menatapku berdiri tegak di tengah ruangan.

“Bagaimana… bagaimana mungkin polisi bisa datang secepat ini?!” gagap Budi dengan bibir gemetar hebat.

Seorang perwira polisi melangkah maju dan menepuk bahuku dengan hormat. “Terima kasih atas kerja samanya, Mbak Indah. Laporan dan bukti elektronik yang Mbak serahkan minggu lalu sudah cukup untuk menyergap mereka red-handed.”

Budi, Rizky, dan Dewi menatapku dengan mata melotot tak percaya.

“Kalian pikir Ibu Salma memanggil polisi karena mendengar suara jeritan hari ini?” aku melangkah mendekati Budi yang kini sudah diborgol oleh dua petugas polisi. “Aku sudah mencurigai adanya transaksi mencurigakan di rekening perusahaanku sejak tiga bulan lalu. Dan saat Ibu Salma memberi tahu soal suara aneh minggu lalu, aku langsung menyewa detektif swasta dan melapor ke Polres Bogor!”

Aku menyapukan pandanganku ke arah cermin besar yang kini bergeser. “Sertifikat tanah dan polis asuransi yang kalian cari di balik cermin itu? Itu dokumen palsu yang sengaja kupasang kemarin malam sebagai umpan. Dokumen asli dan seluruh aset properti sudah kuatasnamakan penuh atas nama ibu kandungku secara hukum seminggu yang lalu!”

Budi tersungkur di atas lantai granit. Wajahnya yang dulu selalu kubanggakan kini dipenuhi ketakutan yang teramat sangat. Dia menyembah di depan kakiku saat polisi mulai menyeretnya keluar.

“Indah! Ampuni aku, Indah! Aku khilaf! Aku masih suamimu, Indah! Tolong cabut laporannya!” ratap Budi histeris dengan air mata penyesalan yang tak lagi berguna.

Aku melangkah ke meja rias, mengambil guci keramik yang selama 18 bulan ini kurawat dengan penuh duka, lalu membalikkan guci tersebut di depan wajah Budi.

Bukan abu jenazah yang keluar dari dalam guci itu, melainkan remukan daun teh kering dan abu rokok bekas yang kubeli dari pasar.

“Suamiku sudah berpulang 18 bulan yang lalu,” ucapku dingin tanpa meneteskan air mata lagi. “Kamu yang ada di depanku hanyalah seonggok mayat hidup yang akan menghabiskan sisa umurmu di balik jeruji besi penjara!”