Tengah malam suamiku membentakku dan menelpon ayahku agar mengambilku kembali karena aku mengirim uang lima ratus ribu untuk ibu, tapi lima belas menit kemudian ayah datang membawa dokumen rahasia yang membuat suamiku seketika berlutut lumpuh bersimbah penyesalan!

Jam dinding di ruang tamu rumah kami di kawasan Jakarta Selatan menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Dehors, hujan gerimis membungkus jalanan aspal yang dingin. Namun di dalam rumah, udaranya membakar, begitu sesak dan penuh amarah.
Aku, Indah, terduduk kaku di atas lantai keramik yang dingin. Air mataku menetes tanpa henti, membasahi kedua pipiku yang memerah bekas cengkeraman kasar. Di depanku, Budi—pria yang kunikahi dua tahun lalu—berdiri menjulang dengan wajah merah padam, matanya menyala bagaikan iblis yang sedang kerasukan.
“Kurang ajar kamu, Indah!” bentak Budi, suaranya menggelegar memecah kesunyian malam. Sepasang matanya menatapku dengan kebencian yang amat sangat. “Siapa yang mengizinkanmu mentransfer uang lima ratus ribu rupiah dari rekening rumah tangga ke rekening ibumu, hah? Jawab!”
“Ya Allah, Mas Budi… demi Tuhan, aku tidak bermaksud mencuri!” tangisku sesenggukan, mencoba membela diri sambil memegang dada yang rasanya teramat sesak. “Ibu Nur sedang terbaring lemah di kampung. Obat tebusannya habis dan beliau tidak punya uang sama sekali. Lima ratus ribu itu hanya untuk membeli obat, Mas! Apa salahnya aku membantu ibu kandungku sendiri?”
“Salahnya adalah kamu tidak minta izin padaku!” jerit Budi seraya menendang meja kaca di depannya hingga piring kecil di atasnya terhempas dan hancur berkeping-keping. “Di rumah ini, aku adalah kepala keluarga! Aku yang bekerja membanting tulang setiap hari, aku yang memberi makan kamu! Semua uang di rumah ini milikku! Kamu tidak berhak menyentuh satu rupiah pun untuk keluargamu yang miskin itu!”
Hatiku seperti diiris-iris sembilu mendengar ucapan suamiku. Pria yang dulu berjanji akan menyayangiku dan menghormati orang tuaku, kini menatapku seolah aku adalah sampah yang paling tidak berharga.
“Aduh, Mas… kenapa kamu tega sekali bicara seperti itu?” bisikku lirih, tak sanggup lagi menahan rasa sakit di dada. “Ibuku juga ibumu. Masa untuk beli obat ibu kandungku saja kamu sebegini pelitnya?”
“Tutup mulutmu!” Budi mendesis kasar. Dia melangkah mendekat, lalu mencengkeram daguku dengan sangat kuat hingga aku meringis kesakitan. “Aku sudah muak dengan keturunan orang miskin seperti kamu dan keluargamu! Kamu tidak tahu diri! Kamu cuma parasit yang menumpang hidup padaku!”
Dia melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepalaku terhentak ke belakang. Budi lalu meraih telepon genggamnya dari atas meja, jemarinya mengetik nomor telepon seseorang dengan kemarahan yang meluap-luap.
“Kalau caramu berbakti adalah dengan mencuri uang suami, maka kamu tidak layak jadi istriku!” seru Budi dengan nada penuh keangkuhan. Dia mengaktifkan mode pengeras suara pada teleponnya.
Telepon itu tersambung. Di seberang sana, terdengar suara bernada dalam, tenang, dan sangat berwibawa. Suara yang sangat kukenal. Suara ayah kandungku, Pak Raden.
“Halo, Budi? Ada apa menelpon tengah malam begini?” tanya Ayah dari balik telepon, suaranya jernih tanpa nada kantuk sedikit pun.
“Pak Raden!” sahut Budi dengan nada meremehkan dan teriakannya yang membumbung tinggi. “Tolong datang ke rumah saya sekarang juga! Ambil kembali putri Bapak yang tidak tahu aturan ini! Dia baru saja mencuri uang saya untuk dikirimkan ke ibunya di kampung. Saya tidak butuh istri penipu dan parasit seperti dia! Datang dan didik kembali putri Bapak!”
Hening sejenak. Tidak ada ledakan amarah dari Ayah. Tidak ada nada panik. Hanya hembusan napas yang tenang.
“Baik,” jawab Ayah ringkas dan mantap. “Tunggu saya. Dalam lima belas menit, saya akan sampai di rumahmu.”
Sambungan telepon terputus. Budi menyunggingkan senyum sinis yang amat sombong. Dia memandangku yang masih tersungkur di lantai dengan tatapan penuh kemenangan.
“Dengar itu?” bisik Budi menyeringai. “Ayahmu sendiri tidak membelamu! Sebentar lagi dia akan datang, menyeretmu keluar dari rumah mewahku ini, dan kamu akan kembali membusuk di rumah panggungmu yang reot di kampung!”
Aku hanya bisa terdiam, memeluk lututku sendiri di atas keramik yang dingin, meratapi nasibku yang begitu malang.
Tepat lima belas menit kemudian, suara derum mesin mobil berukuran besar terdengar berhenti di halaman depan rumah. Cahaya lampu mobil memancar terang menembus kaca jendela ruang tamu.
Budi tersenyum makin lebar. “Nah, datang juga tua bangkai itu! Mari kita lihat bagaimana dia memohon ampun padaku atas kelakuan anaknya!”
Dengan langkah angkuh, Budi berjalan menuju pintu utama dan membukanya lebar-lebar. Namun, begitu pintu terbuka, senyuman sombong di wajah Budi mendadak sirna. Wajahnya berubah pucat pasi, matanya melotot lebar, dan tubuhnya gemetar hebat saat melihat apa yang ada di depan matanya…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Pintu kayu jati yang kokoh itu terbuka lebar. Angin malam yang dingin berhembus masuk membawa aroma tanah basah, namun suasana di ambang pintu seketika membeku.
Budi berdiri terpaku, bibirnya yang tadi sibuk mencaci-maki kini terkunci rapat. Senyum kejam di wajahnya luntur total, berganti dengan raut ketakutan yang sangat nyata.
Di luar sana, bukan hanya Ayahku, Pak Raden, yang berdiri di bawah naungan payung hitam. Di belakang Ayah, berderet tiga unit mobil hitam mewah. Dan yang membuat Budi hampir membelalakkan matanya hingga keluar adalah orang-orang yang melangkah keluar dari mobil-mobil tersebut.
Ayahku melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang. Beliau mengenakan kemeja Batik tulis berwarna gelap yang anggun dan berwibawa. Di tangan kanannya, Ayah memegang sebuah tas koper kulit tua berwarna hitam dengan kunci kombinasi logam emas. Namun, Ayah tidak datang sendirian.
Di samping Ayah, berdiri Bapak Hendra—Pemilik Utama sekaligus Direktur Utama dari PT Nusantara Karya, perusahaan konglomerat tempat Budi bekerja sebagai manajer pemasaran. Di belakang mereka, berdiri dua orang pria berjas hitam rapi yang merupakan pengacara papan atas Jakarta, serta dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap!
Dan yang paling mengejutkan dari semuanya, di barisan paling belakang, seorang wanita muda berdiri gemetar dengan wajah pucat menyerupai mayat. Wanita itu adalah Maya—sekretaris pribadi Budi sekaligus wanita simpanan rahasia yang selama delapan bulan ini telah berselingkuh dengan suamiku!
“B-Bapak…?” suara Budi tercekat di tenggorokan. Kakinya mendadak lemas bagaikan tanpa tulang. “Pak Hendra? Pak Pengacara? K-kenapa… kenapa Bapak-Bapak sekalian bisa ada di sini tengah malam begini? Dan… Maya?”
Ayahku tidak langsung menjawab. Beliau melangkah mendekatiku yang masih terduduk di lantai. Dengan penuh kasih sayang seorang ayah, Ayah berlutut, mengusap lembut rambutku, dan membantuku berdiri.
“Kamu tidak apa-apa, Indah?” tanya Ayah lembut, suaranya hangat menenangkan jiwaku yang hancur.
“Aku tidak apa-apa, Ayah…” bisikku seraya menyapu sisa air mata di pipi.
Ayah lalu berbalik, menatap Budi dengan tatapan tajam yang sanggup menembus jantung siapa saja yang melihatnya. Aura kepemimpinan dan ketegasan terpancar kuat dari sosok tua itu.
“Budi,” kata Ayah dengan suara berat penuh penekanan. “Tadi kamu menelponku, memintaku datang untuk mengambil anakku karena kamu bilang dia mencuri uang lima ratus ribu rupiah milikmu, bukan? Kamu juga bilang bahwa anakku adalah parasit yang menumpang hidup pada kehebatanmu?”
Budi menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Kerat leher kemejanya terasa mencekik. “I-iya, Pak Raden… tapi… tapi kenapa Bapak membawa Direktur saya? Kenapa bawa polisi dan pengacara? Ini kan masalah rumah tangga kita!”
Ayah tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat mengerikan. Ayah meletakkan tas koper kulit hitam itu di atas meja kaca yang tadi ditendang Budi. Beliau memutar kunci kombinasi logamnya dengan bunyi klik yang nyaring.
“Masalah rumah tangga?” sahut Ayah perlahan. “Tidak, Budi. Malam ini, masalah rumah tangga ini sudah selesai. Sekarang, saatnya kita menyelesaikan masalah perhitungan hutang, kebohongan, dan kejahatanmu.”
Ayah membuka koper tersebut dan mengeluarkan setumpuk dokumen tebal berstempel resmi negara, Sertifikat Hak Milik (SHM) berkertas tebal, serta berkas laporan keuangan bank.
“Kamu bilang rumah mewah ini milikmu karena kamu yang bekerja keras?” Ayah mengambil satu lembar sertifikat rumah dan melemparkannya tepat ke dada Budi. “Buka matamu lebar-lebar, Budi! Rumah ini dibeli atas nama Indah putriku, dibayar lunas oleh rekening milikku dua hari sebelum kalian menikah!”
Budi tersentak. Jemarinya yang gemetar meraih kertas sertifikat itu. Matanya menyapu barisan tulisan di atasnya. Nama pemilik rumah yang tertera di sana secara sah adalah: Indah Permatasari.
“T-tidak… tidak mungkin!” teriak Budi panik, wajahnya makin memutih. “Aku… aku yang membayar cicilannya setiap bulan!”
“Kamu membayar cicilan?” potong Pak Hendra, Direktur Utama Budi, yang melangkah maju dengan wajah penuh kemurkaan. “Budi! Jangan berakting seolah kamu tidak tahu! Gaji bulanan yang kamu terima dari perusahaanku itu sebenarnya dari mana, kamu tahu?!”
Budi menatap atasannya dengan kebingungan yang membuncah. “G-gaji saya… ya dari hasil kerja saya di perusahaan Bapak!”
Pak Hendra tertawa sinis, menggelengkan kepalanya penuh penghinaan. “Kurang ajar! PT Nusantara Karya tempatmu bekerja itu adalah anak perusahaan milik Holding Company milik Pak Raden! Kamu bisa diangkat jadi Manajer Pemasaran bukan karena kemampuanmu yang pas-pasan itu, Budi! Tapi karena Pak Raden yang memintaku menempatkanmu di sana agar kamu punya harga diri sebagai seorang suami!”
DEGG!
Sebuah dentuman dahsyat serasa menghantam dada Budi. Tubuhnya limbung, mundur dua langkah hingga menabrak sandaran sofa.
“A-apa…?” bisik Budi tak percaya. “Perusahaan itu… milik Pak Raden?”
“Ya!” seru Pak Hendra tegas. “Dan selama ini, gaji besar yang kamu bangga-banggakan itu adalah bentuk bantuan terselubung dari Pak Raden untuk menghidupi kalian! Tapi apa yang kamu lakukan, Budi? Kamu malah bertindak melampaui batas!”
Ayahku melangkah maju satu langkah lagi, menatap Budi yang kini mulai berkeringat dingin di tengah dinginnya malam.
“Budi, selama dua tahun ini aku berdiam diri,” ujar Ayah penuh ketenangan yang mematikan. “Aku membiarkanmu berakting menjadi pria berkuasa di depan putriku. Aku membiarkanmu berpura-pura menjadi kepala keluarga yang hebat. Namun, ketamakanmu ternyata tidak memiliki batas.”
Ayah membalik berkas berikutnya dari dalam koper.
“Kamu menuduh Indah mencuri uang lima ratus ribu rupiah hanya karena dia berbakti mengirimkan obat untuk ibunya yang sedang terbaring lemah di kampung,” kata Ayah dengan nada penuh kekecewaan. “Padahal, uang lima ratus ribu rupiah itu bukan berasal dari uangmu! Itu adalah hasil deviden usaha kontrakan kecil milik Indah sendiri yang dikelolanya sejak sebelum menikah denganmu!”
Budi menatapku dengan mata membelalak. Dia sama sekali tidak tahu bahwa selama ini aku memiliki penghasilan sendiri dari hasil usahaku sendiri, karena selama ini aku selalu mengalah dan membiarkan Budi merasa dirinya adalah pencari nafkah tunggal demi menjaga perasaan dan harga dirinya!
“Dan sekarang,” lanjut Ayah, tatapannya beralih menatap tajam ke arah Maya yang berdiri gemetar di dekat pintu. “Mari kita bicara tentang uang yang sebenarnya hilang dari rekeningmu dan perusahaan!”
Pengacara Ayah melangkah maju, membuka satu berkas audit keuangan internal dari kepolisian.
“Berdasarkan bukti transaksi perbankan dan laporan audit forensik,” pengacara itu membacakan dengan suara lantang dan jelas, “Saudara Budi telah melakukan penggelapan dana perusahaan sebesar dua koma empat miliar rupiah selama delapan bulan terakhir. Dana tersebut ditransfer secara bertahap ke rekening atas nama Maya Aulia—wanita yang berada di belakang sana—untuk membeli satu unit mobil sedan mewah, apartemen, dan perhiasan emas!”
Maya yang tidak sanggup lagi menahan rasa takutnya seketika bersimpuh di lantai, menangis histeris.
“Ampun, Pak! Ampun!” jerit Maya seraya menunjuk ke arah Budi. “Saya tidak tahu apa-apa! Budi yang memaksa saya! Budi yang bilang kalau dia sangat kaya dan istrinya cuma cewek kampung yang tidak tahu apa-apa! Budi yang mentransfer semua uang itu ke rekening saya untuk membelikan saya hadiah! Jangan penjarakan saya, Pak!”
“Maya! Kurang ajar kamu! Kenapa kamu malah menyalahkanku?!” teriak Budi panik, mencoba membela diri.
“Cukup, Budi!” bentak Pak Hendra dengan nada menggelegar. “Bukti-bukti pencucian uang dan penggelapan dana ini sudah sangat lengkap! Malam ini juga, detik ini juga, kamu secara resmi dipecat secara tidak hormat dari PT Nusantara Karya! Seluruh aset atas namamu telah dibekukan oleh pihak kepolisian untuk menutup kerugian negara dan perusahaan!”
Budi bagaikan tersambar petir di siang bolong. Dunia yang selama ini dibangun di atas kesombongan dan kebohongan runtuh total dalam hitungan menit.
“T-tidak… tidak bisa begitu!” Budi merancik ketakutan. Dia berpaling menatap Ayahku, matanya memancarkan kepanikan yang luar biasa. “Pak Raden! Tolong saya, Pak! Saya ini menantu Bapak! Jangan lakukan ini pada saya! Saya mohon, Pak!”
“Menantu?” Ayah tersenyum dingin. Beliau mengeluarkan selembar kertas putih berstempel pengadilan agama dari kopernya. “Malam ini, Indah telah menandatangani surat gugatan cerai secara resmi. Kamu bukan lagi menantuku. Dan sesuai dengan isi perjanjian pra-nikah yang pernah kamu tandatangani dulu tanpa kamu baca dengan teliti, seluruh aset rumah ini, mobil, dan barang berharga di dalam rumah ini adalah milik tunggal Indah!”
Ayah menudingkan jarinya ke arah pintu keluar.
“Kamu tadi memintaku datang untuk mengambil anakku, bukan?” kata Ayah dengan suara yang begitu berwibawa. “Tapi sekarang, akulah yang memintamu keluar dari rumah anakku! Bawa baju yang melekat di badanmu saja! Karena detik ini juga, kamu tidak punya hak atas satu inci pun tanah di rumah ini!”
Dua petugas polisi melangkah maju, siap memasangkan borgol di kedua pergelangan tangan Budi atas dugaan penggelapan dana milyaran rupiah.
Budi yang menyadari bahwa dirinya telah kehilangan segalanya—kehilangan kehormatan, jabatan, kekayaan, dan kebebasannya—seketika berlutut di atas lantai. Pria yang tadi berteriak-teriak penuh keangkuhan itu kini menangis histeris seperti anak kecil, merangkak di atas lantai dingin menuju ke arah kakiku.
“Indah! Indah, maafkan aku, Sayang!” jerit Budi bersimbah air mata, mencoba memegang ujung gaun tidurku. “Ampuni aku! Aku mengaku salah! Aku khilaf, Indah! Tolong suruh Ayahmu menghentikan semua ini! Tolong selamatkan suamimu ini, Indah! Demi Tuhan, aku masih mencintaimu!”
Aku menatap Budi yang tersungkur di kakiku. Tidak ada lagi rasa cinta, tidak ada lagi rasa kasihan. Yang tersisa di dalam hatiku hanyalah rasa jijik dan dingin.
Aku mundur satu langkah, menarik gaunku dari cengkeraman jarinya yang gemetar.
“Dulu saat aku menangis memohon agar kamu memberi sedikit kasih sayang untuk ibuku, kamu menginjak-injak harga diriku, Mas,” ucapku lirih namun penuh penekanan. “Kamu bilang aku ini parasit. Tapi kenyataannya, kamulah parasit yang selama ini menggerogoti kebaikan keluargaku. Penyesalanmu sudah terlambat.”
Polisi memegang kedua lengan Budi dan memaksanya berdiri. Budi meraung-raung, memberontak saat kedua tangannya dikunci borgol besi yang dingin.
Namun, sebelum Budi diseret keluar menuju mobil polisi di bawah guyuran hujan malam, Ayah melangkah mendekati Budi dan berbisik tepat di samping telinganya.
“Satu hal lagi yang perlu kamu tahu, Budi,” bisik Ayah dengan nada suara yang membuat jantung Budi berhenti berdetak. “Ibu kandungmu di kampung yang dulu kamu pelantarkan dan kamu buang demi mengejar status sosial di kota… selama lima tahun ini dialah yang merawat taman di rumah utamaku, dan seluruh sisa sisa aset pribadimu yang disita telah resmi diserahkan kepadanya atas nama hukum.”
Budi melotot gemetar, air matanya menetes bercampur keringat dingin saat menyadari ironi terbesar dalam hidupnya.
Wanita yang dulu dituduhnya mencuri uang lima ratus ribu rupiah kini berdiri tegak sebagai pemilik sah seluruh dunianya, sementara pria yang menganggap dirinya raja kini diseret menuju kegelapan malam tanpa membawa apa-apa selain penyesalan seumur hidup.
