BAGIAN 1
“Kalau dia benar-benar berjalan dalam tidur, kenapa setiap malam yang hancur selalu barang mili
kku?”
Suara benda jatuh keras membangunkanku tepat pukul 02.17 dini hari.
Aku membuka mata dan tubuhku langsung membeku.
Laptopku tergeletak di lantai kamar asrama. Layarnya retak seperti sarang laba-laba. Segelas air yang tadi kutaruh jauh di sudut meja telah tumpah tepat ke atas keyboard.
Di samping meja, Nabila berdiri tanpa alas kaki.
Rambutnya berantakan. Matanya kosong.
Beberapa detik kemudian ia seolah baru sadar, lalu memeluk lengannya sendiri.
“Aku… jalan sambil tidur lagi?”
Air matanya langsung jatuh.
“Maaf, Laras. Aku benar-benar nggak sadar.”
Aku menatapnya tanpa bicara.
Adegan ini terlalu kukenal.
Karena aku pernah mengalaminya.
Di kehidupan sebelumnya.
Malam inilah awal kehancuranku.
Laptop itu kubeli dengan uang hasil mengajar les anak SMP di Depok, menjadi admin toko online, dan mengerjakan input data hampir setiap malam.
Di dalamnya ada tugas proyek kuliah, portofolio untuk melamar magang di perusahaan konsultan Jakarta, serta dokumen pengajuan beasiswa semester depan.
Dulu, aku langsung menangis dan meminta Nabila bertanggung jawab.
Namun Dinda, teman sekamar kami, segera turun dari ranjang.
“Laras, jangan keras-keras. Nabila juga pasti takut.”
Rani ikut duduk.
“Orang yang sleepwalking memang nggak sadar. Mau menyalahkan dia sampai kapan?”
Besoknya, ketua kelas kami, Siska, juga berkata hal yang sama.
“Masalah kamar jangan dibesar-besarkan. Kita sebentar lagi masuk periode rekomendasi magang.”
Aku mengalah.
Lalu kejadian kedua terjadi.
Hard disk eksternalku dimasukkan ke baskom berisi air.
Kejadian ketiga, blazer dan kemeja putih yang telah kusiapkan untuk wawancara dipotong.
Kemudian buku referensi dan berkas kuliahku dirobek.
Puncaknya, portofolio yang kukerjakan hampir satu bulan dihancurkan malam sebelum wawancara.
Aku gagal datang.
Aku kehilangan kesempatan magang.
Berkas beasiswaku juga terlambat.
Saat aku akhirnya menuduh Nabila berpura-pura, dia menangis di depan seluruh penghuni asrama.
Kemudian muncul unggahan anonim di forum kampus.
Katanya aku merundung seorang mahasiswi yang menderita gangguan tidur.
Semua orang memarahiku.
“Masa barang lebih penting daripada kesehatan mental teman?”
“Laptop bisa dibeli lagi.”
“Kalau dia sampai melakukan sesuatu pada dirinya sendiri, kamu mau tanggung jawab?”
Tak seorang pun bertanya dari mana aku mendapat uang untuk membeli laptop baru.
Tak seorang pun bertanya siapa yang akan mengganti kesempatan yang hilang.
Dan ketika hidupku berada di titik paling buruk—
aku terbangun kembali di malam pertama laptopku dihancurkan.
“Laras?”
Suara Dinda menarikku kembali.
Ia memandang laptop di lantai, lalu memandang Nabila.
“Sudahlah. Jangan dibahas malam ini.”
Rani menguap kesal.
“Besok bawa ke servis. Kalau masih bisa diperbaiki ya selesai.”
Nabila menangis semakin keras.
“Aku benar-benar nggak sengaja.”
Aku menatap kakinya.
Dari ranjangnya menuju mejaku, Nabila harus melewati koper Rani, sandal Dinda, kursi plastik, dan jemuran kecil.
Tidak satu pun tersentuh.
Dia hanya menghancurkan laptopku.
Aku tersenyum.
“Oke.”
Dinda terlihat lega.
“Nah, begitu dong.”
Aku mengambil laptop rusak itu dan menaruhnya kembali di meja.
“Aku nggak akan berdebat.”
Nabila menundukkan kepala.
Dalam satu detik, aku melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Sama seperti kehidupan sebelumnya.
Dia pikir aku menyerah.
Keesokan paginya aku membawa laptop ke tempat servis.
Teknisi memeriksanya hampir dua puluh menit.
“Layar, motherboard, dan keyboard kena. Kalau mau diperbaiki total mungkin sekitar enam sampai tujuh juta rupiah. Data recovery terpisah.”
Dadaku sesak.
Aku meminta estimasi tertulis, memotretnya, kemudian mengirimkannya ke grup kamar.
“Nabila, aku tidak meminta harga laptop baru. Biaya perbaikan saja. Bagaimana kita menyelesaikannya?”
Balasannya datang cepat.
“Aku nggak sadar saat melakukannya. Kalau harus mengganti sebanyak itu, aku dapat uang dari mana?”
Dinda menimpali:
“Laras, tunggu dia periksa ke dokter dulu.”
Rani:
“Kenapa harus dibahas di grup sih? Bikin suasana nggak nyaman.”
Beberapa menit kemudian Siska mengirim pesan pribadi.
“Jangan melapor ke pihak kampus dulu. Kalau masalah ini membesar, semua penghuni kamar bisa kena evaluasi.”
Aku membaca pesannya lama.
Lalu aku mengetik:
“Jadi kerugianku bagaimana?”
Balasannya datang setelah lima menit.
“Coba kamu lebih pengertian pada kondisi khusus Nabila.”
Aku tertawa kecil.
Baik.
Kalau mereka begitu memahami kondisi Nabila, berarti mereka pasti tidak keberatan ikut menanggung risikonya.
Sore itu, ketika kamar kosong, aku mulai memindahkan barang.
Laptop baru milik Dinda kutaruh di mejaku.
Tas bermerek kesayangan Rani kutaruh di kursiku.
Kotak berisi berkas seleksi pertukaran mahasiswa milik Siska yang kebetulan dititipkan di kamar kami juga kutaruh tepat di sampingnya.
Barang milikku?
Semua kupindahkan ke dalam koper dan kukunci.
Malamnya, Dinda terkejut.
“Eh, laptopku kenapa di meja kamu?”
Aku menjawab santai.
“Mejaku lebih dekat stop kontak. Pinjam semalam ya.”
Rani menunjuk tasnya.
“Kalau itu?”
“Biar nggak kena lembap di bawah.”
Mereka menggerutu, tetapi tidak terlalu memikirkan.
Nabila hanya menatapku beberapa detik.
Aku tersenyum kepadanya.
Malam itu aku naik ke ranjang lebih awal.
Pukul 02.13, dari balik selimut, aku menyalakan kamera ponsel.
Empat menit kemudian—
Nabila bangun.
Ia turun perlahan.
Melewati sandal.
Melewati koper.
Melewati kursi.
Lalu berjalan lurus menuju mejaku.
Tangannya terangkat.
Dan kali ini, yang berada tepat di bawah tangannya bukan lagi barang milikku.
Itu laptop Dinda seharga hampir dua puluh juta rupiah.
Tangannya menghantam ke bawah.
“BRAK!”
Dinda menjerit dari ranjang.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat orang-orang yang selalu menyuruhku “mengerti” akhirnya merasakan sendiri arti kata itu.
BAGIAN 2
“LAPTOPKU!”
Dinda melompat turun seperti tersengat listrik.
Laptopnya jatuh ke lantai dengan sudut layar menghantam kaki meja.
Belum sempat ia mengambilnya, Nabila meraih tas Rani.
Resletingnya dibuka.
Tangannya bergerak menuju botol minum yang ada di atas meja.
Rani langsung menerjang turun.
“JANGAN!”
Ia merebut tasnya dan mendorong botol menjauh.
Nabila berkedip.
Kemudian, seperti naskah yang sudah kuhafal, tubuhnya mulai gemetar.
“Aku… aku sleepwalking lagi?”
Dinda menatap layar laptopnya yang pecah.
Wajahnya pucat.
“Kamu apakan laptopku?”
“Aku nggak sadar…”
Dinda langsung meledak.
“Nggak sadar tetap saja kamu yang merusak!”
Aku hampir tertawa.
Kalimat yang sama pernah kuucapkan.
Dan Dinda pernah menjawab:
“Dia kan nggak sengaja.”
Aku menyandarkan tubuh ke lemari.
“Din, jangan bikin dia tertekan. Laptop bisa diperbaiki.”
Dinda menoleh tajam kepadaku.
“Ini beda!”
“Bedanya apa?”
Dia bungkam.
Rani memeluk tasnya sambil memeriksa isinya.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Nabila punya kondisi khusus. Kita harus lebih pengertian.”
Wajah Dinda memerah.
Pagi harinya, masalah itu akhirnya sampai ke pembina asrama.
Anehnya, Dinda yang sebelumnya melarangku membuat masalah kini justru menjadi orang pertama yang meminta tindakan.
“Bu, ini sudah berbahaya. Kalau setiap malam dia merusak barang orang bagaimana?”
Aku duduk di samping mereka.
Nabila menangis.
“Saya bersedia periksa, Bu. Tapi saya benar-benar tidak ingat apa-apa.”
Pembina asrama menatap kami.
“Kalau begitu kita perlu bukti dan pemeriksaan medis.”
Aku langsung membuka ponsel.
“Saya punya rekamannya.”
Semua kepala menoleh kepadaku.
Video malam sebelumnya diputar.
Nabila turun dari ranjang.
Berjalan melewati berbagai penghalang.
Tidak tersandung sedikit pun.
Kemudian berhenti tepat di depan mejaku.
Pembina asrama mengernyit.
“Itu belum membuktikan dia pura-pura.”
“Betul,” kataku.
“Ada satu video lagi.”
Aku memutar rekaman malam pertama.
Dalam video itu, sebelum menghancurkan laptopku, Nabila sempat berdiri di depan meja Dinda.
Tangannya hampir menyentuh laptop Dinda.
Namun ia berhenti.
Berbalik.
Lalu berjalan ke mejaku.
Wajah Nabila langsung berubah.
Aku berkata pelan:
“Jadi saya juga penasaran, Bu. Kenapa orang yang tidak sadar bisa membedakan laptop siapa yang boleh dihancurkan?”
Ruangan mendadak hening.
Nabila tiba-tiba menangis keras.
“Kamu memasang kamera untuk menjebakku!”
Aku tersenyum.
“Bukankah kamu bilang kamu tidak sadar?”
“Kalau begitu, bagaimana aku bisa menjebak seseorang yang bahkan tidak tahu apa yang sedang dia lakukan?”
Dinda perlahan menjauh dari Nabila.
Namun aku tahu itu belum cukup.
Di kehidupan sebelumnya, Nabila sangat pandai memainkan simpati.
Kalau aku berhenti sekarang, dia masih bisa membalikkan keadaan.
Karena itu aku mengeluarkan satu barang lagi.
Sebuah flashdisk.
“Ada hal lain yang harus Ibu dengar.”
Nabila mendadak berdiri.
“Jangan!”
Untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke masa lalu—
wajahnya tidak terlihat seperti orang sakit.
Melainkan seperti seseorang yang ketahuan.
Dan ketika suara rekaman dari flashdisk mulai terdengar, bahkan Siska yang baru saja masuk ruangan langsung membeku.
Suara dalam rekaman itu adalah suara Nabila sendiri.
Dan kalimat pertamanya membuat seluruh ruangan diam.
“Selama barang yang rusak cuma punya Laras, siapa juga yang bakal bela dia?”
BAGIAN 3
Rekaman itu berasal dari sore sehari sebelumnya.
Saat teman-teman lain pergi makan, aku sengaja meninggalkan ponsel lama di dalam lemari dengan fungsi perekam suara aktif.
Aku ingat sesuatu dari kehidupan sebelumnya.
Setiap kali barangku rusak, Nabila selalu menelepon seseorang.
Dulu aku tidak pernah tahu siapa.
Kali ini aku ingin memastikan.
Suara Nabila terdengar jelas.
“Dia masih minta aku ganti laptop.”
Suara perempuan di ujung telepon samar.
Nabila tertawa kecil.
“Nggak mungkin aku bayar.”
Beberapa detik kemudian ia berkata:
“Selama barang yang rusak cuma punya Laras, siapa juga yang bakal bela dia?”
Tanganku mengepal ketika pertama kali mendengar rekaman itu.
Namun bagian berikutnya jauh lebih buruk.
“Aku cuma harus pura-pura bingung pas bangun.”
“Dinda pasti bela aku. Rani juga malas ribut.”
“Kalau Laras marah, tinggal bilang dia menekan orang sakit.”
Kemudian terdengar suara tawa.
“Dia lagi ngejar magang di Jakarta, kan? Kalau portofolionya hilang, lucu juga.”
Ruangan pembina asrama mendadak seperti kehilangan udara.
Dinda menatap Nabila dengan wajah tak percaya.
“Kamu… selama ini sadar?”
Nabila menggeleng cepat.
“Itu bercanda!”
Aku menatapnya.
“Bercanda soal menghancurkan portofolioku?”
“Aku nggak pernah benar-benar berniat—”
Aku memotongnya.
“Laptopku sudah hancur.”
Pembina asrama segera meminta Nabila menyerahkan ponselnya untuk pemeriksaan internal sesuai prosedur kampus.
Nabila menolak.
Tangannya gemetar.
“Ini privasi saya!”
Pembina asrama menjawab tegas.
“Tidak ada yang akan membuka ponselmu tanpa izin dan prosedur resmi. Tetapi masalah ini sekarang bukan lagi sekadar konflik teman sekamar.”
Siska akhirnya maju.
Wajahnya tidak lagi setenang saat mengirim pesan kepadaku.
“Laras… kenapa dari awal kamu nggak bilang ada rekaman?”
Aku memandangnya.
“Kalau dari awal kubilang, apa kamu akan percaya?”
Siska terdiam.
Aku membuka percakapan kami.
Pesannya masih ada.
Jangan lapor ke kampus dulu.
Coba lebih pengertian.
Aku memperlihatkannya kepada pembina asrama.
Kemudian percakapan dengan Dinda.
Percakapan dengan Rani.
Semuanya memiliki pola sama.
Saat barangku rusak, aku diminta diam.
Begitu laptop Dinda hampir hancur dan tas Rani hampir dirusak, semua orang langsung meminta tindakan.
Tidak ada yang sanggup menatapku.
Aku tidak berteriak.
Aku juga tidak menangis.
Aku hanya berkata:
“Sekarang kalian tahu kenapa kemarin aku menaruh barang kalian di mejaku.”
Dinda menatapku.
“Jadi kamu sengaja?”
“Iya.”
“Kamu tahu Nabila akan datang?”
“Aku tahu kalau teorimu benar bahwa dia tidak sadar, dia bisa saja merusak barang siapa pun.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi ternyata begitu barang kalian yang kena, toleransi kalian hanya bertahan beberapa detik.”
Wajah Dinda memucat.
Rani menggigit bibir.
“Aku… kemarin mungkin terlalu gampang ngomong.”
Aku menatapnya.
“Karena yang kehilangan bukan kamu.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.
Setelah laporan resmi dibuat, kampus meminta Nabila menjalani pemeriksaan medis.
Hasil konsultasi tidak menemukan dasar yang cukup untuk membenarkan klaim bahwa seluruh rangkaian tindakannya terjadi dalam kondisi tidak sadar.
Lebih penting lagi, rekaman suara menunjukkan bahwa setidaknya sebagian tindakannya direncanakan.
Pihak kampus lalu memeriksa CCTV koridor asrama.
Di sanalah ditemukan hal lain.
Pada malam hard disk-ku rusak di kehidupan sebelumnya, tentu kejadian itu belum terjadi di garis waktu ini.
Tetapi ternyata Nabila sudah beberapa kali keluar kamar tengah malam dalam minggu sebelumnya.
Ia bisa membuka pintu dengan tenang.
Memeriksa ponsel.
Bahkan pernah berhenti di mesin air minum sebelum kembali ke kamar.
Pembina asrama bertanya kepadanya:
“Kalau kamu benar-benar tidak sadar sama sekali, bagaimana kamu bisa membuka kunci pintu dan mengecek pesan?”
Nabila tidak bisa menjawab.
Akhirnya ia menangis dan mengatakan alasan sebenarnya.
Beberapa bulan sebelumnya, kami pernah mendaftar program magang yang sama.
Nilai akademikku lebih tinggi.
Portofolioku lebih lengkap.
Seorang dosen bahkan sempat merekomendasikanku di depan kelas.
Sejak hari itu, Nabila merasa semua orang membandingkannya denganku.
Awalnya ia hanya ingin membuatku kehilangan beberapa file.
Setelah laptop pertama rusak dan semua orang justru membelanya, ia sadar telah menemukan cara yang sempurna.
Selama ia berkata “aku tidak sadar”, setiap protesku akan terdengar seperti kekejaman.
Ia bahkan berencana menunggu sampai seminggu sebelum wawancara magang.
Lalu menghancurkan portofolioku.
Persis seperti kehidupan sebelumnya.
Aku menunduk ketika mendengar pengakuannya.
Ternyata semua penderitaanku dahulu bukan kecelakaan.
Aku memang sengaja dijadikan sasaran.
Dinda mulai menangis.
“Laras, maaf.”
Aku menatapnya.
Ia berkata lirih:
“Aku nggak tahu sampai sejauh ini.”
Aku mengangguk.
“Aku juga dulu tidak tahu.”
“Tapi waktu laptopku rusak, kamu tahu aku rugi.”
“Kamu tetap menyuruhku diam.”
Dinda tidak mampu menjawab.
Rani mencoba memegang tanganku.
Aku menariknya perlahan.
Dia langsung melepaskan.
Siska paling lama terdiam.
Kemudian ia berkata:
“Aku cuma takut masalah kamar memengaruhi penilaian kelas.”
Aku tersenyum tipis.
“Jadi kamu memilih korban yang paling mudah disuruh diam.”
Wajahnya langsung merah.
Setelah proses disiplin selesai, Nabila diwajibkan mengganti biaya kerusakan laptopku dan laptop Dinda sesuai hasil mediasi kampus serta bukti servis.
Orang tuanya datang.
Ibunya berkali-kali meminta maaf kepadaku.
Aku tidak menghina mereka.
Aku hanya menyerahkan tagihan perbaikan.
“Bu, saya tidak meminta lebih. Saya hanya ingin apa yang dirusak dikembalikan.”
Beberapa hari kemudian aku pindah kamar.
Aku membeli laptop bekas dengan uang tabungan dan sebagian dana penggantian sementara.
Data dari SSD lama berhasil dipulihkan sebagian.
Untungnya, file portofolio terpenting masih bisa diselamatkan.
Aku mengerjakannya ulang selama tiga malam.
Pada hari wawancara, aku mengenakan blazer pinjaman dari kakak tingkat dan naik KRL pagi-pagi menuju Jakarta.
Ketika namaku dipanggil, tanganku masih dingin.
Namun kali ini tidak ada file yang hilang.
Tidak ada baju yang dipotong.
Tidak ada seseorang yang tiba-tiba “mộng du” tepat sebelum aku berangkat.
Dua minggu kemudian, email masuk.
Selamat. Anda diterima dalam program internship.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu tertawa sampai mataku panas.
Tak lama kemudian Dinda mengirim pesan.
“Selamat, Laras.”
Rani juga mengirim stiker.
Siska menulis panjang meminta maaf.
Aku hanya membalas singkat.
“Terima kasih.”
Aku tidak membenci mereka.
Tetapi aku juga tidak lagi membutuhkan pengakuan mereka.
Beberapa bulan setelah itu, aku mendengar Nabila mengambil cuti semester dan menjalani konseling yang diwajibkan keluarganya.
Ada yang berkata aku terlalu kejam karena menyerahkan rekaman.
Ada pula yang berkata seharusnya aku memberi kesempatan kedua sejak awal.
Aku tidak berdebat.
Karena sekarang aku memahami sesuatu.
Orang selalu mudah berkata,
“Sudahlah, maafkan saja.”
“Jangan terlalu perhitungan.”
“Kasihan dia.”
selama harga dari kemurahan hati itu dibayar oleh orang lain.
Malam sebelum pengumuman beasiswa, aku kembali ke asrama lama untuk mengambil sebuah buku yang tertinggal.
Dinda sedang duduk di depan meja.
Laptop barunya berada sangat jauh dari pinggir.
Botol minumnya ditutup rapat.
Tas Rani tersimpan di dalam lemari dan dikunci.
Aku melihatnya lalu tersenyum.
Ternyata setelah mengalami sendiri, semua orang belajar berhati-hati.
Dinda tampak malu.
“Laras…”
Aku mengangkat tangan.
“Nggak apa-apa.”
Ia terdiam beberapa detik.
Kemudian berkata:
“Sekarang aku baru sadar. Waktu dulu menyuruhmu mengerti, aku sebenarnya cuma ingin masalahnya cepat selesai supaya nggak menggangguku.”
Aku memandangnya.
Untuk pertama kalinya, seseorang akhirnya mengatakan kebenaran.
Banyak orang yang menyebut dirinya “penengah” sebenarnya bukan sedang mencari keadilan.
Mereka hanya ingin ketenangan.
Dan cara termudah mendapatkan ketenangan adalah meminta orang yang paling banyak dirugikan untuk diam.
Aku mengambil bukuku dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, Dinda bertanya:
“Kalau bisa mengulang malam itu, kamu masih akan menaruh laptopku di mejamu?”
Aku berhenti.
Lalu menoleh sambil tersenyum.
“Tentu.”
“Karena kalau yang hancur tetap barangku, sampai hari ini kalian mungkin masih menyuruhku untuk lebih pengertian.”
Aku menutup pintu.
Ponselku bergetar.
Email pengumuman beasiswa baru saja masuk.
Namaku berada di daftar penerima.
Aku berdiri di koridor asrama cukup lama, memandang layar itu.
Di kehidupan sebelumnya, aku kehilangan kesempatan ini karena memilih terus mengalah.
Kali ini aku akhirnya mengerti:
Berbaik hati bukan berarti membiarkan orang lain menghancurkan hidupmu.
Dan ketika seseorang terus meminta kita “berbesar hati”, mungkin pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah—
mengapa selalu kita yang diminta menanggung kerugiannya?
