Surya melihat layar ponsel Aris.

PART 2

Mobil sedan hitam itu terdaftar atas nama perusahaan milik Kusuma.

Rekaman memperlihatkan pengemudi menerima panggilan beberapa menit sebelum kejadian.

Nomor itu terhubung langsung ke asisten pribadi Maya.

Surya segera memerintahkan pemeriksaan ulang seluruh laporan medis.

Kenyataannya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.

Maya hanya mengalami komplikasi ringan pasca perawatan rutin dan sudah aman di malam pertama.

Sementara Kirana mengalami trauma fisik akibat benturan mobil yang memicu pendarahan hebat.

Pihak rumah sakit telah mengirimkan sinyal darurat berkali-kali ke ponsel Surya.

Aris akhirnya mengaku bahwa Maya sempat mengangkat salah satu panggilannya saat itu.

“Saya sudah memberi tahu Mbak Maya bahwa Bu Kirana kritis. Mbak Maya berjanji menyampaikan kepada Bapak.”

Wajah Surya memucat.

Ia langsung mendatangi apartemen Maya.

Maya berusaha mengelak sampai Surya memutar rekaman video parkir di depan matanya.

Maya terduduk di lantai.

“Saya hanya ingin tahu siapa yang akan kamu pilih. Ayah saya yang mengatur mobil itu, saya hanya ingin kamu tetap di samping saya.”

“Kamu menjadikan nyawa anakku sebagai bahan ujian?” suara Surya bergetar.

Polisi tiba 15 menit kemudian.

Maya dibawa untuk pemeriksaan intensif, sementara Kusuma ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta saat mencoba terbang ke luar negeri.

Aset keluarga Kusuma dibekukan oleh pihak berwenang.

Suntikan dana dari grup Kusuma batal masuk, membuat PerdanaMedika berada dalam posisi kritis.

Dewan komisaris segera menggelar rapat darurat.

Para pemegang saham khawatir Kirana akan menjual 10% sahamnya kepada pihak lawan.

Pintu ruang rapat terbuka di tengah perdebatan sengit.

Kirana masuk mengenakan setelan jas warna pastel.

Tubuhnya masih terlihat lemah, tetapi langkahnya mantap.

Hendra berjalan di sampingnya membawa berkas tebal.

“Kirana…” panggil Surya.

“Di ruangan ini saya adalah Pemegang Saham Serrano,” potong Kirana dingin.

Ia meletakkan dokumen perjanjian di atas meja kaca.

“Saya tidak pernah menjual saham saya kepada Kusuma. Saya hanya membuat dia percaya bahwa dia bisa membelinya.”

Kirana menekan remote proyektor.

“Dan sekarang kalian harus mendengar alasannya.”

Suara rekaman percakapan memenuhi ruangan.

Itu adalah suara Kusuma saat bertemu Kirana di kafe dekat rumah sakit, beberapa jam sebelum musibah terjadi.

“Pengaruhmu di PerdanaMedika hanya bergantung pada bayi dalam kandunganmu. Jika bayi itu lahir, Surya akan memberimu posisi yang sulit digeser,” ujar Kusuma dalam rekaman.

Suara Kirana terdengar tenang membalas.

“Apakah Anda sedang mengancam saya?”

Kusuma tertawa kecil.

“Saya hanya mengingatkan bahwa kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Jual sahammu dan kita semua aman.”

Ruang rapat menjadi sunyi senyap.

Kirana menjelaskan bahwa ia sengaja menandatangani surat niat jual beli, bukan surat peralihan kepemilikan.

Dokumen itu mewajibkan pihak Kusuma membuktikan legalitas asal-usul dana investasi mereka dalam waktu 24 jam.

Kusuma yang terlalu percaya diri menandatangani berkas tanpa memeriksa klausul audit secara rinci.

Ketika pemeriksaan dana dilakukan, ditemukan indikasi penggelapan dana dan manipulasi pajak pada perusahaan Kusuma.

“Saya tidak datang ke kafe itu untuk menjual saham,” kata Kirana. “Saya datang untuk memastikan seorang pria yang merasa menguasai segalanya meninggalkan bukti tertulis.”

Hendra membagikan salinan laporan yang telah diserahkan ke otoritas keuangan dan kepolisian.

Kasus hukum Kusuma membuat kerja sama PerdanaMedika dan grup lawan batal demi hukum.

Namun Kirana tidak membiarkan PerdanaMedika hancur.

Ia meletakkan map kedua di meja.

Konsorsium kesehatan internasional dan dua grup farmasi lokal telah menyetujui investasi baru.

Syaratnya jelas: bersihkan seluruh manajemen yang terlibat dengan keluarga Kusuma dan lakukan reformasi total.

Seorang komisaris senior menatap Kirana dengan ragu.

“Mengapa investor besar itu mau percaya pada Anda?”

Kirana menatap balik komisaris itu tanpa ragu.

“Karena sebelum perusahaan ini memakai nama PerdanaMedika, sayalah yang membangun sistem operasinya dari nol.”

Kirana mengeluarkan berkas-berkas lama.

Di sana tertera cetak biru sistem teknologi medis, model keuangan awal, dan lisensi paten atas nama ayah Kirana, seorang dokter spesialis yang mengabdikan hidupnya untuk sistem kegawatdaruratan.

Pada 5 tahun pertama berdiri, Kirana menjabat sebagai direktur keuangan sekaligus perancang sistem.

Saat perusahaan kekurangan modal di masa awal, Kirana menjual rumah warisan ibunya untuk menutupi operasional.

Setelah mengalami keguguran pertama beberapa tahun lalu, kesehatannya menurun.

Surya memintanya berhenti bekerja demi fokus pada keluarga.

Kirana menyetujuinya karena mengira ia sedang melindungi rumah tangganya.

Seiring berjalannya waktu, narasi publik berubah.

Surya dikenal sebagai pendiri tunggal yang jenius, sedangkan Kirana hanya dikenal sebagai istri pendamping di acara formal.

Surya sendiri tidak pernah meluruskan kenyataan itu.

“Saya minta dewan membentuk komite independen,” lanjut Kirana. “Dan saya mengajukan penonaktifan sementara Surya Perdana dari jabatan Direktur Utama selama investigasi internal berlangsung.”

Hasil pemungutan suara menunjukkan 61% komisaris mendukung usulan Kirana.

Surya tidak mengajukan keberatan.

Ia menatap wanita di depannya seperti baru pertama kali mengenalnya secara utuh.

Di koridor gedung, Surya mengejar langkah Kirana.

“Kamu tahu Kusuma berbahaya. Kenapa tidak bicara padaku?”

Kirana berhenti.

“Jika saya bicara hari itu, apakah kamu akan percaya?”

“Ya,” jawab Surya cepat.

Kirana tersenyum tipis.

“Aris memberi tahumu bahwa saya dalam bahaya di rumah sakit, dan kamu tetap mematikan ponselmu.”

Surya tertunduk.

“Kamu tidak kehilangan saya karena Maya,” ucap Kirana pelan. “Kamu kehilangan saya karena setiap kali keluarga ini membutuhkanmu, kamu selalu memilih kenyamananmu sendiri.”

Sore itu Surya pulang ke rumah mereka di kawasan Pondok Indah.

Rumah itu sudah kosong.

Kirana telah membawa seluruh pakaian, buku, dan barang pilihannya.

Di kamar bayi, sebuah gantungan bintang masih terpasang di atas tempat tidur bayi yang belum terpakai.

Di dalam lemari, tersisa satu pakaian bayi warna putih dengan bordir nama: Arka.

Surya memeluk pakaian kecil itu di lantai yang dingin.

Ia teringat pesan singkat Kirana beberapa minggu lalu: “Hari ini Arka bergerak 3 kali.”

Saat itu Surya hanya membalas dengan simbol jempol karena sedang berada di tengah rapat ekspansi bisnis.

Proses hukum terhadap Kusuma dan Maya berjalan selama bertahun-tahun.

Pengemudi mobil mengaku diperintah Kusuma untuk memberi pelajaran pada Kirana agar bersedia menjual sahamnya.

Maya terbukti secara sah membantu menyembunyikan informasi darurat dan memanipulasi situasi.

Bagi Kirana, fakta itu memberinya kedamaian.

Ia berhenti menyalahkan diri sendiri.

Perceraian resmi diputus pengadilan tanpa perdebatan harta bersama.

Kirana mengembalikan rumah, mobil, dan aset atas nama Surya.

Ia hanya mempertahankan 10% saham PerdanaMedika karena itu adalah hak atas kerja kerasnya sejak awal.

Satu tahun kemudian, dewan komisaris secara resmi menunjuk Kirana sebagai Direktur Utama PerdanaMedika.

Keputusan pertama yang diambil Kirana adalah meluncurkan Program Arka.

Program ini berfokus pada penyediaan sistem komunikasi darurat dan armada medis cepat tanggap untuk penanganan kehamilan berisiko tinggi.

Sebagian keuntungan dari sahamnya disalurkan penuh untuk mendanai program tersebut.

Pada hari peluncuran resmi Program Arka di Jakarta Convention Center, Surya duduk di barisan paling belakang.

Ia tidak lagi memiliki posisi manajerial di perusahaan.

Saat Kirana naik ke atas panggung, ia menyampaikan pidatonya dengan tenang.

“Program ini lahir dari sebuah kehilangan. Tapi saya tidak ingin tempat ini dikenang karena rasa sakit. Saya ingin program ini diingat karena bantuan yang datang tepat waktu.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Hendra berdiri di sisi panggung, memperhatikan Kirana dengan senyum bangga.

Selama proses perceraian, Hendra bersikap profesional tanpa pernah memanfaatkan situasi rentan Kirana.

Setelah semua proses hukum selesai, mereka mulai sering bertemu untuk sekadar minum kopi atau berdiskusi.

Hendra adalah pria yang selalu mendengarkan dan menghargai setiap jawaban Kirana.

Dua tahun kemudian, Kirana menerima lamaran Hendra.

Pernikahan digelar secara sederhana di Bogor, hanya dihadiri keluarga dekat dan rekan kerja lama dari masa awal perusahaan.

Pada pagi hari sebelum acara dimulai, sebuah kurir mengantarkan dokumen ke kamar Kirana.

Surya menyerahkan seluruh hak royalti atas 3 patenet alat medis peninggalan ayah Kirana secara permanen kepada Foundation Program Arka.

Di dalam dokumen itu terselip pesan singkat: “Saya mengembalikan apa yang sejak awal adalah milikmu.”

Kirana menyimpan berkas itu di lemari arsip tanpa membalas pesan tersebut.

Ia melangkah ke altar sendirian tanpa perlu didampingi atau diserahkan oleh siapa pun.

Tahun-tahun berlalu, Program Arka telah melayani lebih dari 200 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.

PerdanaMedika tumbuh menjadi perusahaan yang stabil di bawah kepemimpinan Kirana.

Dalam sebuah seminar bisnis di Surabaya, seorang reporter bertanya kepada Kirana tentang keputusan terbesar dalam hidupnya.

“Apakah keputusan terbesar Anda adalah meninggalkan masa lalu atau mengambil alih perusahaan?”

Kirana menjawab sambil tersenyum.

“Bukan keduanya. Keputusan terbesar saya adalah berhenti mengukur harga diri saya dari keputusan orang lain. Ketika seseorang pergi, itu menunjukkan kualitas dirinya. Apa yang saya lakukan setelahnya adalah kualitas diri saya.”

Di luar gedung seminar, Hendra sedang berdiri memegang tangan anak perempuan mereka yang berusia 3 tahun, mengenakan gaun merah muda.

Anak itu berlari mendekati Kirana begitu melihat ibunya keluar.

Nama anak itu adalah Dara.

Hendra tidak pernah berusaha menghapus kenangan tentang Arka.

Di rumah mereka, sebuah bingkai foto kecil Arka tetap tersimpan rapi di ruang baca.

Dari dalam mobil di seberang jalan, Surya memperhatikan bertiga berjalan bersama.

Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis.

Surya hidup dari hasil investasi pasif dan tidak pernah menikah lagi.

Aris yang masih mengurus beberapa urusan pribadinya bertanya dari kursi pengemudi.

“Kita berangkat sekarang, Pak?”

Surya menatap foto lama di dalam dompetnya sebelum menjawab.

Foto Kirana sedang tersenyum sambil memegang perutnya di masa lalu.

“Ya, kita berangkat,” kata Surya pelan.

Ia telah memiliki segalanya di masa lalu, tetapi baru memahami nilainya setelah semuanya terlambat 144 jam.