PART 2
Maya membutuhkan waktu 4 hari untuk mengubah semua kecurigaannya menjadi fakta yang pasti.
Dari lantai dasar gedung kantornya, Maya melihat Rendy menjemput Sisi dengan mobil SUV mereka.
Rendy merangkul Sisi dengan mesra di dalam mobil.
Malam itu juga, Maya menemui Rina, sahabat lamanya yang bekerja sebagai pengacara hukum keluarga.
“Jangan beritahu dia kalau kamu sudah tahu,” saran Rina. “Lindungi dulu semua dokumen keuanganmu dan cari tahu ke mana saja uang bersama kalian mengalir.”
Maya mengumpulkan seluruh riwayat transaksi rekening bersama mereka.
Dia menemukan transfer rutin kepada Sisi dengan jumlah fantastis: Rp15.000.000, Rp30.000.000, hingga Rp40.000.000.
Dalam 12 bulan terakhir, total transfer itu mencapai Rp580.000.000.

Tidak berhenti di situ, ada pula pembayaran sebesar Rp750.000.000 kepada pengembang rumah di Serpong.
Petunjuk utama akhirnya muncul di kantor.
Sisi memperlihatkan proposal bisnis kepada Maya untuk meminta masukan.
Proposal itu berisi pendirian perusahaan investasi baru bernama R&S Capital.
Di dalam dokumen legalitas, Rendy terdaftar sebagai direktur utama, sedangkan Sisi memegang 20 persen saham.
“Rendy bilang saya adalah mitra sejati dalam hidup dan bisnisnya,” ucap Sisi penuh percaya diri.
Maya menutup dokumen itu dengan tenang.
Modal awal perusahaan itu diambil langsung dari tabungan masa depan yang Maya kumpulkan bersama Rendy selama bertahun-tahun.
Hari Jumat malam, Rendy menjadwalkan acara peluncuran perusahaan di sebuah hotel bintang lima di kawasan Thamrin.
Acara itu bertujuan untuk menarik investor besar.
Sisi hadir sebagai tunangan sekaligus calon mitra bisnis.
Sebelum berangkat, Rendy berkata kepada Maya di rumah:
“Malam ini aku ada pertemuan bisnis yang sangat membosankan. Cuma pembahasan keuangan.”
Maya menatap suaminya lurus-lurus.
“Aku harap semuanya berjalan sesuai dengan apa yang pantas kamu dapatkan,” kata Maya.
Rendy tersenyum tanpa mencurigai apa pun.
Pukul 20:00 WIB, Maya melangkah masuk ke ruang ballroom hotel dengan gaun hitam elegan.
Dia membawa sebuah map dokumen tebal di tangannya.
Lampu krisitil menerangi ruangan, dan logo R&S Capital terpampang besar di layar utama.
Rendy berdiri di tengah kerumunan pengusaha, tampak rapi dengan jas hitam.
Rendy sedang menjelaskan proyeksi keuntungan perusahaan dengan penuh semangat.
Sisi berdiri di sampingnya dengan gaun putih, memegang lengan Rendy.
Maya berdiri diam di dekat pintu masuk selama beberapa detik.
Maya tidak berniat membuat keributan hysteris.
Rendy memutar kepalanya dan melihat Maya.
Wajah Rendy langsung pucat pasi.
Sisi ikut menoleh dan terkejut melihat keberadaan Maya.
“Bu Maya? Sedang apa di sini?” tanya Sisi bingung.
Maya berjalan mendekati mereka berdua.
“Saya pikir Rendy ingin memperkenalkan kita secara resmi,” kata Maya.
Sisi mengerutkan keningnya.
“Apakah kalian sudah saling kenal?”
Rendy melangkah cepat mencoba menarik tangan Maya.
“Maya, kita bicara di luar sekarang.”
Maya menepis tangan Rendy dan tetap berdiri kokoh.
“Sisi, Rendy adalah suami sah saya secara hukum dan agama selama 7 tahun terakhir.”
Suasana di sekitar mereka langsung menjadi hening.
Senyum di wajah Sisi hilang seketika.
“Tidak mungkin,” bisik Sisi. “Itu tidak benar.”
Rendy mencoba meraih tangan Sisi.
“Sisi, aku bisa jelaskan semuanya.”
Sisi mundur dua langkah.
“Kamu bilang kamu sudah bercerai! Kamu bilang semua proses perceraianmu sudah selesai!”
Maya membuka map yang dibawanya.
“Dia tidak pernah mengajukan perceraian apa pun,” ujar Maya tegas.
Beberapa investor penting yang berdiri di dekat mereka mulai memperhatikan pertengkaran itu.
Rendy berbisik dengan suara tertahan.
“Maya, ini masalah pribadi keluarga kita.”
“Urusan perasaan memang masalah pribadi,” potong Maya. “Tapi penggelapan uang tabungan adalah urusan hukum.”
Maya meletakkan salinan mutasi rekening dan dokumen legal di atas meja kaca.
Dokumen itu disiapkan dengan rapi oleh pengacaranya tanpa memuat privasi yang tidak perlu.
Hanya ada angka, tanggal, dan bukti transfer resmi.
“Selama 1 tahun terakhir, ada uang sebesar Rp580.000.000 dari rekening bersama kami yang mengalir ke rekening Sisi,” kata Maya lantang.
“Lalu ada Rp750.000.000 yang dipakai untuk uang muka rumah di Serpong.”
“Selain itu, modal awal pendirian R&S Capital ini berasal dari tabungan pernikahan kami.”
“Kami menikah dengan perjanjian harta bersama, dan pengacara saya sedang memproses semua transaksi ilegal ini.”
Popo, salah satu calon investor utama berkumis tebal, mengambil salah satu lembar kertas bukti tersebut.
“Apakah modal awal perusahaan ini sedang dalam sengketa hukum?” tanya pengusaha itu tegas.
“Benar, Pak,” jawab Maya. “Dan siapa pun yang menanamkan modal di sini berisiko terlibat dalam gugatan hukum.”
Rendy berusaha membela diri.
“Ini cuma kesalahpahaman! Saya bisa menjelaskan semua asal-usul dana ini!”
“Silakan jelaskan di depan pengadilan nanti,” sahut Maya tenang.
Pengusaha berkumis tebal itu meletakkan kembali kertas bukti ke atas meja.
“Kami menarik diri dari investasi ini sampai semua masalah hukum kalian selesai.”
Beberapa investor lain saling berpandangan, lalu mulai melangkah meninggalkan ruangan.
Dalam waktu kurang dari 15 menit, ruang acara yang tadinya ramai berubah menjadi sepi.
Sisi menatap Rendy dengan mata berkaca-kaca.
“3 tahun?” tanya Sisi dengan suara bergetar. “Selama 3 tahun kamu pulang ke rumahnya setelah bersamaku?”
“Sisi, aku memang berniat berpisah darinya…” dalih Rendy.
“Kapan?” cecar Sisi. “Sebelum atau sesudah kamu menikahiku?”
Rendy tidak mampu menjawab.
Sisi tertawa getir.
“Kamu tidak pernah berniat berpisah. Kamu hanya menikmati hidup nyaman dengan membohongi kami berdua.”
Sisi melepas cincin berlian di jari manisnya.
Dia tidak melemparkannya, melainkan meletakkannya dengan pelan di atas meja, tepat di atas lembaran mutasi bank.
“Jangan pernah hubungi aku lagi,” tegas Sisi.
Rendy mencoba menahannya. “Sisi, aku mencintaimu!”
“Kamu tidak pernah tahu arti kata itu,” balas Sisi dingin lalu melangkah pergi meninggalkan ballroom.
Kini tinggal Rendy dan Maya yang berdiri berhadapan.
Rendy menatap Maya dengan kemarahan yang meluap.
“Kamu puas? Kamu baru saja menghancurkan perusahaan dan masa depanku di depan semua orang!”
Maya membalas tatapan itu tanpa rasa takut.
“Aku tidak menghancurkan apa pun. Aku hanya membongkar kebohonganmu.”
“Kita bisa bicarakan ini baik-baik di rumah!” bentak Rendy.
“Kamu sudah berbicara kebohongan di rumah selama 3 tahun,” balas Maya.
“Kamu cuma mau balas dendam, kan?” tuduh Rendy.
“Aku cuma mau kamu berhenti membangun masa depanmu menggunakan uang dan keringatku,” kata Maya tajam.
Maya menutup mapnya dan berjalan keluar dari hotel.
Malam di Jakarta tetap bising dengan lalu lintas kendaraan.
Maya menembus dinginnya malam menuju kafe tempat Rina menunggunya.
“Bagaimana reaksinya?” tanya Rina.
“Semuanya sudah selesai,” jawab Maya singkat. “Besok layangkan surat gugatan cerai.”
Saat Maya tiba di rumah mereka pukul 23:00 WIB, suasana rumah gelap gulita.
Maya duduk di sofa ruang tamu tanpa menyalakan lampu.
Selama 7 tahun, dia percaya rumah ini adalah fondasi hidupnya.
Sekarang semua perabotan itu terasa asing.
Rendy tiba di rumah lewat tengah malam.
Dasi jasnya sudah dilepas dan wajahnya tampak sangat kusut.
“Haruskah kamu melakukan hal sekejam itu di depan para investor?” tanya Rendy dengan suara serak.
“Haruskah kamu memakai uang tabungan kita untuk wanita lain tanpa izin?” balas Maya dingin.
Rendy duduk di kursi berseberangan.
“Aku bisa mengembalikan uang itu.”
“Ini bukan cuma soal uang, Rendy.”
“Aku memang melakukan kesalahan…”
“Kesalahan itu terjadi sekali karena khilaf,” potong Maya. “Tapi hidup dalam 2 dunia selama 3 tahun adalah pilihan sadar.”
Rendy menundukkan kepalanya.
“Hubungan kita memang sudah dingin sejak lama…”
Maya mengepalkan tangannya.
“Hubungan kita dingin karena kita sama-sama sibuk bekerja! Tapi aku tidak pernah berpaling.”
“Aku menaruh kepercayaan penuh padamu, tapi kamu menggunakan kepercayaan itu untuk menipuku.”
Rendy bungkam.
“Besok kamu kemasi barang-barangmu,” perintah Maya. “Pengacaraku akan mengurus perceraian dan pembagian harta.”
“Maya, tolong…”
“Cukup,” potong Maya. “Jangan minta aku memaklumi perbuatanmu.”
Rendy akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar tamu dengan langkah berat.
Pukul 08:00 WIB keesokan harinya, ibu kandung Rendy menelepon Maya.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada Rendy?” cerca ibu mertuanya tanpa salam. “Rendy bilang kamu mempermalukannya di depan mitra bisnis. Kamu tahu berapa kerugiannya?”
Maya menghela napas panjang.
Dulu dia sangat menghormati ibu mertuanya ini.
“Rendy kehilangan uang, Bu. Tapi saya kehilangan kepercayaan selama 7 tahun.”
“Pernikahan itu ada pasang surutnya! Jangan hancurkan masa depan suamimu cuma karena masalah seperti ini!”
“Ini bukan sekadar masalah biasa, Bu,” tegas Maya. “Rendy berhubungan dengan wanita lain selama 3 tahun, bertunangan dengannya, dan memakai uang tabungan kami untuk membelikan rumah dan modal usaha.”
Telepon di seberang mendadak hening.
“Itu… itu tidak mungkin,” bisik ibu mertuanya.
“Saya akan kirimkan dokumen buktinya ke rumah Ibu,” kata Maya tenang.
Maya hanya mengirimkan salinan transfer bank dan bukti pendaftaran properti tanpa menyertakan pesan pribadi.
20 menit kemudian, ibu mertuanya menelepon kembali dengan suara gemetar.
“Ibu tidak tahu kalau Rendy seberani itu…”
“Saya tahu Ibu tidak tahu,” sahut Maya.
“Lalu bagaimana dengan wanita itu?”
“Wanita itu juga korban kebohongan Rendy. Dia tidak tahu kalau Rendy masih memiliki istri sah.”
Ibu mertuanya diam cukup lama sebelum akhirnya berkata:
“Ibu tidak akan membela kesalahan Rendy lagi.”
Hari Senin berikutnya, gugatan cerai resmi didaftarkan ke Pengadilan Agama.
Rina juga mengajukan permohonan pembekuan aset bersama untuk mengamankan hak Maya.
Rendy menyewa pengacara lain untuk membela haknya.
Komunikasi di antara mereka kini hanya dilakukan melalui pengacara masing-masing.
Satu bulan kemudian, Sisi meminta bertemu dengan Maya di luar jam kerja.
Rendahnya rasa percaya diri Sisi terlihat jelas saat mereka duduk di sebuah kedai kopi.
“Saya sudah mengundurkan diri dari proyek R&S Capital,” kata Sisi pelan. “Saya juga sudah mengajukan resign dari kantor kita.”
Maya mengangguk paham. “Itu keputusan yang bijak.”
Sisi menyerahkan sebuah amplop cokelat.
“Ini berisi bukti pesan singkat, email, dan dokumen yang pernah dikirimkan Rendy kepada saya.”
“Dia menunjukkan surat cerai palsu untuk meyakinkan saya.”
“Dia bilang rumah di Serpong itu dibeli dari uang pribadinya.”
Maya tidak membuka amplop itu.
“Serahkan saja ini ke pengacaraku.”
Sisi menatap Maya dengan heran. “Kamu tidak ingin membacanya?”
“Aku sudah tahu fakta yang perlu kuketahui,” jawab Maya tegas.
Sisi menundukkan kepalanya.
“Awalnya saya sangat membencimu malam itu.”
“Aku paham.”
“Tapi kemudian saya sadar, kamu menyelamatkan hidup saya dari pernikahan penuh kebohongan,” lanjut Sisi dengan mata berkaca-kaca.
“Saya minta maaf karena pernah menjadi bagian dari masalah ini.”
“Kamu juga korban,” kata Maya lembut.
Kedua wanita itu saling menatap.
Tidak ada dendam di antara mereka, hanya rasa simpati sesama wanita yang pernah dikhianati oleh pria yang sama.
Bukti-bukti tambahan dari Sisi mempercepat proses persidangan.
Perusahaan R&S Capital akhirnya dibubarkan karena kekurangan modal dan diterpa isu sengketa hukum.
Rendy terpaksa menjual beberapa aset pribadinya untuk menutup kerugian dan mengembalikan bagian harta bersama milik Maya.
Rumah di Serpong dibatalkan pembeliannya, dan uang mukanya berhasil dikembalikan sebagian setelah dipotong denda.
Rumah tinggal mereka akhirnya dijual dan hasilnya dibagi dua sesuai ketetapan hukum.
Di hari penyerahan kunci rumah, Maya berjalan mengelilingi setiap ruangan yang kini sudah kosong melompong.
Di dinding kamar utama, terdapat bekas bingkai foto yang warnanya lebih terang dibanding cat di sekitarnya.
Itu adalah tempat foto liburan mereka di Bali dulu terpajang.
Foto yang sama yang akhirnya membuka tabir kebohongan suaminya di meja kerja Sisi.
Maya tersenyum tipis.
Foto itu bukan lagi simbol rasa malu atau penderitaan.
Foto itu adalah awal dari kebebasannya.
Maya tetap melanjutkan karirnya di perusahaan baru dengan hasil kerja yang sangat memuaskan.
Sisi mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan lain dan menata ulang hidupnya.
6 bulan kemudian, putusan perceraian resmi dikeluarkan oleh pengadilan.
Rina menelepon Maya saat keluar dari gedung pengadilan.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Rina.
Maya berdiri di tangga pengadilan, memandang langit sore Jakarta yang cerah.
“Aku merasa sangat lega,” jawab Maya mantap.
Sore itu, Maya mengunjungi sebuah toko perabotan rumah tangga.
Dia membeli sebuah bingkai foto kayu yang sederhana.
Sesampainya di apartemen barunya, Maya memasukkan sebuah foto ke dalam bingkai tersebut.
Foto itu diambil minggu lalu saat dia melakukan solo traveling ke Pegunungan Bromo.
Di dalam foto itu, Maya berdiri sendiri dengan rambut terurai diterpa angin, tersenyum lepas ke arah kamera.
Maya meletakkan bingkai foto itu di atas meja kerjanya.
Foto itu bukan untuk mengenang masa lalu yang kelam.
Tapi sebagai pengingat akan jati diri dan kebebasan yang berhasil dia rebut kembali.
Rendy tidak pernah berhasil menghancurkan hidup Maya.
Rendy hanya menghancurkan tempatnya sendiri di dalam hati Maya.
Dan itu adalah kebenaran paling murni yang dimiliki Maya dalam hidupnya.
