BAGIAN 2
Aku tidak bergerak.
Arman juga tidak.

Galang berdiri di ambang pintu ruang keamanan dengan ponselku di tangan.
Keisha berada tepat di belakangnya.
Wajah mereka terlalu tenang.
Itulah yang paling menakutkan.
“Rencana kedua apa?” tanyaku.
Galang menutup pintu.
Klik.
Kunci elektronik berbunyi.
“Harusnya kamu sudah berada di Lembang sekarang.”
“Aku kecewa juga,” kataku. “Rupanya rem yang kamu rusak sudah diperbaiki.”
Keisha langsung menoleh kepada Galang.
“Kamu bilang aman.”
“Diam.”
Galang melangkah masuk.
Arman berdiri di depanku.
“Jangan mendekat.”
Galang tertawa kecil.
“Arman, kamu pegawai.”
“Bukan berarti saya akan membiarkan Anda membunuh pemilik perusahaan.”
Mata Galang berubah.
“Pemilik sementara.”
Kalimat itu membuatku sadar.
Rencana mereka bukan hanya soal warisan setelah aku mati.
Ada sesuatu yang sudah disiapkan.
“Dokumen apa yang harus dibawa ke notaris?” tanyaku.
Keisha membeku.
Galang menatapku.
“Kamu membaca pesan?”
“Semua.”
Dia mengangkat ponselku.
“Ternyata tidak semua.”
Lalu dia mengeluarkan amplop cokelat dari balik jaket.
“Ini rencana kedua.”
Dia meletakkannya di meja.
Aku tidak menyentuhnya.
“Buka.”
Arman bergerak hendak mengambilnya.
Galang langsung mengeluarkan pisau lipat.
“Jangan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku membuka amplop perlahan.
Isinya salinan hasil pemeriksaan psikiatri atas namaku.
Ada diagnosis:
Gangguan delusi berat.
Tidak cakap mengambil keputusan bisnis.
Di bawahnya ada surat kuasa.
Jika aku dianggap tidak cakap secara hukum, Galang ditunjuk menjadi pengelola sementara seluruh saham dan asetku.
Tanda tanganku tercetak di bawah.
Palsu.
“Ini bodoh,” kataku.
“Tidak juga.”
Keisha maju satu langkah.
“Sudah enam bulan kami menyiapkan riwayatnya.”
“Apa?”
Galang tersenyum.
“Tiga kali kamu dibawa ke dokter karena pusing.”
Aku ingat.
Galang selalu memaksaku periksa.
Katanya stres.
Katanya aku terlalu banyak bekerja.
“Ada obat di darahmu,” lanjutnya. “Ada laporan serangan panik. Ada saksi.”
“Siapa?”
“Staf.”
Aku menatapnya.
“Kamu membiusku?”
“Sedikit.”
Tiba-tiba aku teringat malam-malam ketika teh hangat selalu disiapkan Galang.
Pagi ketika kepalaku berat.
Rapat yang tak kuingat utuh.
Kesalahan kecil yang membuat beberapa direksi mulai bertanya apakah aku kelelahan.
Semuanya disengaja.
“Jadi kalau aku tidak mati di Lembang…”
“Semua orang akan percaya kamu kehilangan kendali.”
Keisha tersenyum.
“Dan kalau kamu marah sekarang, itu justru membantu.”
Arman mendesis pelan.
“Kalian sakit.”
Galang menoleh kepadanya.
“Masalahmu sebenarnya sederhana, Man. Kamu tahu terlalu banyak.”
Lalu lampu padam.
Gelap total.
Aku mendengar bunyi kursi jatuh.
Keisha menjerit.
Seseorang menubrukku.
Aku meraba meja.
“Arman!”
“DI SINI!”
Terdengar benturan keras.
Galang mengumpat.
Emergency light menyala merah.
Aku melihat Arman memegangi lengan Galang.
Pisau jatuh.
Keisha mengambilnya.
Aku mundur.
Dia mengarahkan pisau kepadaku.
“Jangan bikin sulit.”
“Kamu benar-benar mau membunuhku?”
“Kalau perlu.”
“Kamu sedang hamil.”
Wajahnya berubah.
Aku melirik perutnya.
“Anak kedua Galang, kan?”
Dia tersentak.
“Kamu nggak berhak bicara soal anakku.”
“Aku bahkan baru tahu anak pertamamu ada.”
Galang berhasil mendorong Arman.
Dia berteriak,
“KEISHA, JANGAN BANYAK OMONG!”
Terlambat.
Aku sudah melihat ketakutan di wajahnya.
Bukan karena polisi.
Bukan karena aku.
Karena Galang.
Aku mengambil satu langkah mendekat.
“Keisha, dia akan melakukan hal yang sama kepadamu.”
“Diam.”
“Kalau aku sudah mati dan semua saham berpindah, untuk apa dia masih butuh kamu?”
“Diam!”
“Empat tahun anakmu disembunyikan. Namanya bahkan tidak memakai Galang.”
Tangannya mulai gemetar.
Galang menatap tajam.
“Jangan dengarkan dia.”
Aku melanjutkan.
“Kenapa kolom ayah kosong?”
Keisha tidak menjawab.
“Karena Galang tidak pernah mau mengakui anak itu secara legal.”
“Dia akan mengakuinya setelah kami menikah!”
“Begitu?”
Aku menatap Galang.
“Kalau begitu tunjukkan surat pengakuan anaknya.”
Keisha berbalik.
“Galang?”
“Dia sedang mengulur waktu.”
“Suratnya mana?”
Galang tidak menjawab.
Wajah Keisha berubah.
Aku tahu aku mengenai sesuatu.
“Galang?”
“Taruh pisau itu dan bantu aku.”
“Suratnya mana?”
“KEISHA!”
Keisha mundur.
Pisau masih di tangannya.
“Empat tahun kamu bilang tunggu.”
“Bukan sekarang.”
“Sekarang justru waktu yang tepat!”
Arman tiba-tiba menjatuhkan Galang ke lantai.
Pisau Keisha jatuh.
Aku menendangnya menjauh.
Arman langsung menekan tubuh Galang.
“Telepon polisi!”
Aku mengambil ponsel meja.
Mati.
“Kabelnya diputus!”
Galang tertawa dari lantai.
“Kalian pikir aku datang tanpa rencana?”
Lalu terdengar bunyi dari lorong.
Banyak langkah.
Aku sempat berharap itu polisi.
Ternyata tiga pria masuk.
Salah satunya Yogi.
Mantan staf kami.
Pria yang menyabotase rem.
Dia membawa tas hitam.
“Pak, mobilnya gagal,” katanya.
“Aku tahu.”
Yogi menatapku.
“Dia seharusnya sudah mati.”
Arman menegang.
“Tiga lawan dua.”
Aku menatap kamera CCTV di sudut.
Lampunya mati.
Galang mengikuti pandanganku.
“Sudah diputus.”
Aku tersenyum.
“Yang itu iya.”
Dia mengerutkan dahi.
Aku menunjuk jam tangan Arman.
“Yang ini tidak.”
Arman mengangkat pergelangan tangannya.
Smartwatch dengan kamera mikro tersembunyi yang biasa dipakai tim keamanan saat inspeksi.
Wajah Galang seketika berubah.
“Sejak kapan?”
“Sejak Anda masuk,” jawab Arman.
Aku menambahkan,
“Dan rekamannya tidak tersimpan di sini.”
Yogi langsung panik.
“Kirim ke mana?”
“Server eksternal.”
Galang berdiri pelan.
“Bluff.”
Arman tersenyum.
“Coba saja.”
Keisha memandang Galang.
“Semua direkam?”
Aku menatapnya.
“Termasuk saat dia bilang kamu tidak diperlukan.”
Galang menoleh.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Tidak perlu. Ekspresimu cukup.”
Keisha mundur.
Aku meraih ponsel cadangan di bawah konsol.
Galang baru sadar ada satu perangkat yang belum ia ambil.
Aku menekan satu tombol.
Alarm senyap hotel aktif.
Di layar muncul:
SECURITY LOCKDOWN — POLISI DIHUBUNGI.
Yogi berlari menuju pintu.
Terkunci.
Arman mengaktifkan sistem magnetic lock.
“Tidak ada yang keluar.”
Galang langsung menyerangku.
Aku sempat menghindar, tapi bahunya menghantam tubuhku.
Kami jatuh.
Tangannya mencengkeram leherku.
“Nadira!”
Arman mencoba menariknya, tapi Yogi dan dua pria lain menahannya.
Aku sulit bernapas.
Wajah Galang hanya beberapa sentimeter dariku.
“Seharusnya kamu naik mobil itu.”
Aku menatapnya.
“Seharusnya kamu tahu aku tidak pernah percaya penuh pada siapa pun.”
Aku menghantam lututnya.
Dia kehilangan keseimbangan.
Keisha tiba-tiba mengambil alat pemadam kebakaran.
BRAK!
Dia menghantam pundak Galang.
Galang jatuh ke samping.
Kami semua membeku.
Keisha berdiri sambil menangis.
“Empat tahun aku menunggu.”
Galang memegangi pundaknya.
“Kamu gila?”
“Empat tahun aku menyembunyikan anak kita.”
“Turunkan itu.”
“Kamu bilang setelah Nadira mati kita jadi keluarga.”
“Keisha—”
“Kamu bahkan tidak pernah berniat mengakui anakmu, kan?”
Galang tidak menjawab.
Itu jawaban paling jelas.
Keisha melempar alat pemadam.
“Aku akan bicara.”
Yogi langsung berkata,
“Bu, jangan.”
Keisha menatapnya.
“Diam. Kalian semua cuma dibayar.”
Ia menoleh kepadaku.
“Dokumen aslinya bukan di notaris.”
“Apa?”
“Galang bohong.”
Galang berteriak,
“KEISHA!”
“Ada safe deposit box di bank.”
Aku menatapnya.
“Isinya apa?”
“Akta lama perusahaan. Surat pemindahan saham palsu. Dan…”
Dia berhenti.
“Dan apa?”
“Surat wasiat ibumu.”
Aku membeku.
Ibuku meninggal enam tahun lalu.
Dialah yang memberiku modal pertama untuk hotel.
Aku selalu diberi tahu bahwa wasiatnya sederhana.
Semua warisan dibagi antara aku dan yayasan keluarga.
“Wasiat apa?”
Galang mencoba berdiri.
Aku menunjuknya.
“Jangan bergerak.”
Keisha melanjutkan.
“Ibumu meninggalkan satu klausul khusus.”
“Apa?”
“Kalau pernikahanmu terbukti melibatkan penipuan finansial, hak pengelolaan aset keluarga tidak bisa jatuh ke pasanganmu.”
Aku menatap Galang.
Jadi itu alasan dokumen asli begitu penting.
Bahkan kalau aku mati, Galang belum tentu mendapat kendali.
Mereka perlu menghilangkan wasiat itu.
“Kenapa kamu tahu?”
Keisha tertawa getir.
“Karena ayahku yang membantu Galang mencari notaris yang mau membereskan semuanya.”
Dadaku semakin dingin.
Ayah Keisha.
Investor terbesar kedua jaringan hotelku.
Permainan ini jauh lebih besar.
Sirene akhirnya terdengar dari luar.
Galang menatap Keisha seperti ingin membunuhnya.
“Kamu menghancurkan semuanya.”
Keisha menjawab pelan,
“Tidak. Kamu yang menghancurkannya sejak awal.”
Polisi masuk sebelas menit kemudian.
Galang, Yogi, dan dua orang lain ditangkap.
Keisha juga dibawa untuk diperiksa.
Aku menyerahkan semuanya.
Rekaman suara di ruang rapat.
Foto selang rem.
Percakapan yang disinkronkan.
Dokumen psikiatri palsu.
Surat kuasa.
Rekaman dari smartwatch Arman.
Dan pengakuan Keisha.
Dalam dua hari, kasusnya meledak.
Polisi menggeledah bengkel tempat Yogi bekerja.
Mereka menemukan catatan pembayaran dari perusahaan cangkang milik Galang.
Ada juga pembelian obat penenang dengan resep palsu.
Dokter yang menandatangani hasil psikiatri akhirnya mengaku menerima Rp350 juta.
Notaris yang seharusnya membantu perubahan akta diperiksa.
Ayah Keisha juga dipanggil.
Awalnya dia menyangkal semuanya.
Sampai polisi membuka safe deposit box.
Isinya lebih buruk daripada yang kukira.
Ada wasiat asli Ibu.
Ada sertifikat saham lama.
Ada surat perjanjian pernikahanku.
Dan ada dua dokumen yang membuat penyidik langsung memisahkan Galang dari pengacaranya.
Dokumen pertama adalah draft surat kematianku.
Sudah dibuat tiga minggu sebelum sabotase rem.
Penyebab kematian ditulis:
Kecelakaan tunggal akibat kegagalan kendaraan.
Dokumen kedua adalah polis asuransi jiwa.
Nilainya Rp90 miliar.
Penerima manfaat:
Galang.
Aku hampir tidak bisa membaca sampai selesai.
“Dia sudah merencanakan ini lama,” kata penyidik.
“Sejak kapan?”
“Setidaknya delapan bulan.”
Aku tertawa kecil.
Delapan bulan.
Delapan bulan kami masih sarapan bersama.
Masih menghadiri acara keluarga.
Masih berfoto seolah pernikahan kami baik-baik saja.
Delapan bulan dia menunggu hari yang tepat untuk membunuhku.
Dua minggu kemudian, Keisha meminta bertemu.
Aku hampir menolak.
Tapi pengacaraku menyarankan aku mendengar langsung keterangannya.
Kami bertemu di ruang pemeriksaan.
Keisha terlihat pucat.
Kehamilannya baru memasuki bulan ketiga.
“Aku tidak minta dimaafkan,” katanya.
“Bagus.”
“Aku memang tahu soal rem.”
“Dan tetap ikut.”
Dia mengangguk.
“Aku benci kamu waktu itu.”
“Karena Galang?”
“Karena aku percaya semua yang dia katakan.”
“Apa?”
“Katanya kamu kejam. Katanya kamu mengontrol hidupnya. Katanya perusahaan itu sebenarnya dibangun dengan uang keluarganya.”
Aku tertawa.
“Dan kamu percaya?”
“Dulu iya.”
“Apa yang membuatmu berubah?”
Keisha menatap meja.
“Anakku.”
Anak laki-laki empat tahun itu.
“Seminggu sebelum semua terjadi, dia bertanya kenapa Papa tidak pernah datang ke acara sekolahnya.”
Keisha mulai menangis.
“Aku bertengkar dengan Galang. Dia bilang anak itu hanya masalah yang harus diselesaikan setelah menikah denganku.”
“Masalah?”
Dia mengangguk.
“Dia tidak pernah menyebutnya anak.”
Aku tidak merasa kasihan.
Belum.
Mungkin tidak akan pernah.
Tapi aku mulai memahami mengapa dia memukul Galang di ruang keamanan.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
“Apa?”
“Anak pertama itu bukan milik Galang.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Setidaknya… itu yang baru kuketahui.”
Aku menunggu.
“Galang menyuruhku melakukan tes DNA tahun lalu. Katanya untuk persiapan pengakuan anak. Hasilnya tidak pernah dia tunjukkan.”
“Lalu?”
“Setelah ditahan, pengacaranya mengirim salinan.”
“Dan?”
“Tidak cocok.”
Aku mengerutkan dahi.
“Kalau bukan anak Galang, kenapa dia membiarkan anak itu memanggilnya Papa?”
Keisha menggeleng.
“Aku juga baru paham.”
“Paham apa?”
“Dia tidak peduli siapa ayah biologisnya.”
Aku menatapnya lama.
“Aku tidak mengerti.”
“Dia butuh anak itu untuk sesuatu.”
“Untuk apa?”
Keisha tidak tahu.
Atau mungkin takut menjawab.
Persidangan berjalan berbulan-bulan.
Bukti terlalu banyak untuk diabaikan.
Yogi mengaku menerima Rp600 juta untuk menyabotase mobilku.
Dokter mengaku memalsukan diagnosis.
Notaris mengakui ada tekanan dan pembayaran.
Keisha menjadi saksi penting.
Ayahnya juga terseret dalam kasus pemalsuan dokumen dan pencucian uang.
Galang tetap menyangkal rencana pembunuhan.
Sampai jaksa memutar rekaman suaranya sendiri:
“Kalau dia tahu, gunakan dosis yang membunuh ibunya.”
Aku langsung menoleh.
Kalimat itu bukan dari kasusku.
Bukan dari percakapan mengenai rem.
Itu dari file lain yang ditemukan di laptop Galang.
Aku merasa seluruh tubuhku mati rasa.
Ibuku meninggal enam tahun lalu.
Resminya karena stroke.
Aku berdiri.
“Putar lagi.”
Jaksa menatap hakim.
Hakim mengizinkan.
Rekaman diputar ulang.
Suara Galang.
Jelas.
“Dosis seperti yang dipakai ke ibunya dulu. Tidak meninggalkan banyak jejak.”
Aku tidak mendengar kalimat setelah itu.
Suara di ruang sidang seperti hilang.
Pengacaraku menahan lenganku.
“Nadira.”
Aku menatap Galang.
Untuk pertama kali sejak dia ditangkap, wajahnya menunjukkan ketakutan.
“Ibu?”
Dia tidak menjawab.
“Ibuku juga kamu bunuh?”
Hakim menegur agar aku tenang.
Tapi aku tidak bisa.
Enam tahun.
Enam tahun aku percaya Ibu meninggal mendadak.
Enam tahun aku merasa bersalah karena malam sebelum dia meninggal, kami sempat berdebat soal pekerjaan.
Ternyata mungkin dia dibunuh.
Penyelidikan baru dibuka.
Jenazah Ibu tidak bisa diuji lagi karena telah dikremasi.
Tapi rumah sakit masih menyimpan sebagian sampel jaringan.
Laboratorium menemukan residu zat yang tidak sesuai dengan pengobatan Ibu.
Kemudian polisi menemukan transfer lama.
Dua minggu sebelum kematiannya, Galang membayar seorang perawat pribadi Rp200 juta.
Perawat itu menghilang setelah Ibu meninggal.
Tiga bulan kemudian, Galang melamarku.
Aku muntah ketika mendengar kronologinya.
Dia mendekatiku bukan setelah Ibu meninggal.
Dia sudah mendekati keluargaku sebelumnya.
Pernikahan kami bukan kisah cinta yang berubah menjadi pengkhianatan.
Sejak awal, aku adalah target.
Setahun kemudian, Galang dijatuhi hukuman atas serangkaian kejahatan, termasuk percobaan pembunuhan, pemalsuan, penipuan, dan tindak pidana lain yang terungkap selama penyidikan.
Kasus kematian Ibu tetap diproses terpisah.
Perusahaan berhasil kuselamatkan.
Struktur pemegang saham dirombak.
Semua direktur yang terlibat diperiksa.
Aku juga menjual saham milik ayah Keisha setelah jalur hukumnya selesai.
Keisha pindah dari Bandung.
Kami tidak menjadi teman.
Tidak mungkin.
Tapi sebelum pergi, dia mengizinkanku bertemu anak laki-lakinya.
Namanya Ezra.
Anak itu duduk di ruang tunggu sambil memainkan mobil-mobilan.
Ketika melihatku, ia bertanya,
“Papa Galang kapan pulang?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Keisha langsung memeluknya.
“Papa Galang tidak akan tinggal bersama kita lagi.”
Ezra terlihat sedih.
Lalu ia melihatku.
“Aku pernah lihat Tante.”
“Di mana?”
“Di foto Papa.”
Keisha dan aku saling pandang.
“Foto apa?”
“Foto Tante waktu kecil.”
Aku membeku.
“Papa punya?”
Ezra mengangguk polos.
“Banyak.”
Polisi sudah menyita hampir semua perangkat Galang.
Tapi setelah pernyataan Ezra, mereka menggeledah ulang sebuah rumah lama milik keluarga Galang di Cimahi.
Di loteng, mereka menemukan kotak besi.
Isinya puluhan foto keluargaku.
Sebagian diambil sebelum aku mengenal Galang.
Ada foto Ibu.
Foto rumah lama kami.
Foto aku saat SMA.
Bahkan foto pemakaman ayahku yang meninggal ketika aku masih remaja.
Dan di bagian paling bawah ada sebuah hasil tes DNA lama.
Atas namaku.
Aku membaca nama yang tercantum sebagai sampel pembanding.
Tanganku langsung gemetar.
Bukan Galang.
Bukan ayahku.
Bukan siapa pun yang kukenal.
Hasil kecocokannya 99,99 persen untuk hubungan orang tua dan anak.
Baru di lembar berikutnya aku melihat foto pemilik sampel itu.
Foto seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip Galang.
Namanya Bagas Pradipta—ayah kandung Ezra.
Bagas adalah kakak kandung Galang yang dinyatakan meninggal dua puluh delapan tahun lalu.
Dan menurut hasil DNA yang sama, Bagas bukan hanya ayah Ezra—dia juga ayah kandungku.
