Suamiku menuduhku memakai kehamilan ini demi menguasai harta konglomerat keluarga Mahatirta, padahal dia tak pernah menganggapku istri Aku memutuskan membawa janin ini kabur ke kampung halaman di tengah malam demi harga diri dan keselamatan buah hatiku!

Suamiku menuduhku memakai kehamilan ini demi menguasai harta konglomerat keluarga Mahatirta, padahal dia tak pernah menganggapku istri Aku memutuskan membawa janin ini kabur ke kampung halaman di tengah malam demi harga diri dan keselamatan buah hatiku!

Tanganku gemetar hebat saat menatap dua garis merah pekat pada alat tes kehamilan di kamar mandi serba marmer ini. Dua garis yang menjadi bukti nyata bahwa di dalam rahimku sedang tumbuh benih kehidupan. Benih dari Aditya Mahatirta, pria dingin pemilik imperium bisnis bernilai triliunan Rupiah yang menyuntingku tiga bulan lalu tanpa rasa cinta sedikit pun.

Pernikahan kami hanyalah sandiwara demi memenuhi keinginan terakhir Pak Surya, kakek Aditya yang terbaring lemah. Pak Surya menginginkan cucu kesayangannya menikahi gadis sederhana berbalut kain Batik anggun pilihan almarhumah neneknya. Namun bagi Aditya dan ibunya, Ibu Ratna, aku tak lebih dari benalu miskin yang menyusup ke istana megah mereka di kawasan elite Jakarta Selatan.

Selama sembilan puluh hari mengikat janji, Aditya lebih banyak menghabiskan waktu di Singapura. Dia hanya mentransfer uang puluhan juta Rupiah setiap bulan ke rekeningku, seolah membayar sewa seorang pelayan. Hanya ada satu malam kelam ketika Aditya pulang dalam keadaan hilang kesadaran akibat minuman di pesta bisnis. Malam itu, batasan di antara kami hancur. Namun saat fajar menyingsing dan dia melihatku terbaring di sampingnya, tatapannya memancar kebencian luar biasa.

“Lupakan kejadian menceramahkan moral malam ini,” cetusnya dingin sambil merapikan kemeja mewahnya. “Jangan pernah berpikir satu malam bisa mengubah statusmu di rumah ini.”

Kini, delapan minggu setelah malam kelam itu, dokter di rumah sakit Jakarta mengonfirmasi janin di perutku berkembang sangat sehat. Rasa bahagia sempat membuncah, namun langsung sirna saat aku menghadiri makan malam keluarga di kediaman utama Mahatirta.

Di meja makan yang dipenuhi hidangan mewah, Ibu Ratna meletakkan sendok peraknya dengan kasar. Tatapan matanya menusuk tajam ke arah perutku.

“Sudah tiga bulan kamu jadi menantu Mahatirta, Indah,” cibir Ibu Ratna dengan nada menghina. “Keluarga kami tidak membutuhkan istri pajangan. Kalau kamu tidak bisa memberikan keturunan penerus warisan puluhan triliun ini, lebih baik tahu diri dan angkat kaki!”

Aku menelan ludah, menahan gejolak mual di perut serta rasa hina yang membakar dada. Padahal malaikat kecil itu sudah ada di sini. Di dalam tubuhku.

Aditya yang duduk di sampingku hanya bergeming, mengunyah Nasi Goreng tanpa selera, lalu berkata datar, “Mama, jangan bahas hal tidak penting saat makan.”

Seusai makan malam, ketika aku hendak melangkah keluar, pergelangan tanganku dicengkeram kuat oleh Aditya. Dia menyeretku ke ruang kerja beraroma kayu jati yang dingin.

“Ibu memang keras,” ucap Aditya tanpa empati, tangannya mencengkeram bahuku. “Tapi perkataannya benar. Keluarga Mahatirta butuh penerus keturunan murni. Cepat atau lambat, kamu harus hamil.”

Aroma parfum maskulin yang tajam menyeruak, memicu rasa mual hebat di perutku. Aku spontan memegang mulut dan mendorong dadanya.

“Uh—” aku memalingkan wajah, menahan muntah.

Mata tajam Aditya bergetar. Dia melangkah mendekat, tangannya terulur hendak menyentuh perutku. Namun naluriku berteriak. Aku melangkah mundur dengan panik.

“Jangan sentuh aku!” teriakku refleks.

Suasana ruangan mendadak membeku. Tatapan Aditya berubah dari terkejut menjadi penuh kecurigaan yang sangat beracun.

“Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Indah?” desisnya dengan suara rendah yang mengerikan.

“Tidak ada,” jawabku gemetar.

“Jangan bohong!” gertak Aditya, mencengkeram kedua lenganku hingga terasa sakit. “Astaga! Kamu sudah hamil?”

Aku membisu, air mata mulai menetes di pipiku.

Aditya tertawa sinis, tawa dingin yang meremukkan seluruh sisa penghormatanku padanya. “Kurang ajar! Jadi ini rencanamu? Kamu sengaja jebak aku malam itu supaya bisa hamil? Demi Tuhan, Indah! Jangan pernah bermimpi menggunakan keturunan keluarga Mahatirta sebagai alat untuk memeras hartaku! Kalau anak itu benar-benar ada, aku akan merebutnya dan membuangmu tanpa sepeser pun uang Rupiah!”

Kata-kata itu merobek jantungku. Ya Allah! Dia tidak melihatku sebagai manusia, apalagi seorang istri. Dia menganggap calon anaknya sendiri sebagai alat pemeras harta.

Rasa sakit hati ini bertransformasi menjadi tekad sekeras baja. Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah naungan pria sekejam ini.

Malam itu juga, saat rumah megah di Jakarta terlelap, aku mengemas baju-bajuku ke dalam satu tas lusuh. Aku membalikkan foto pernikahan kami di atas meja hingga tertelungkup. Dengan tangan bergetar, aku menelepon Maya, sahabatku di kampung halaman.

“Maya… tolong jemput aku di stasiun Bandung besok pagi. Aku hamil… dan aku harus pergi dari Jakarta malam ini juga…”

Sambil memeluk erat perutku yang masih rata di dalam gerbong kereta malam yang melaju menembus kegelapan, aku berjanji pada janin di rahimku bahwa kami tidak akan pernah kembali…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Kereta malam jurusan Jakarta-Bandung itu melaju membelah kegelapan. Di dalam gerbong yang sepi, aku memeluk erat perutku yang masih rata. Air mata yang menetes ke atas pangkuanku terasa dingin, menyuarakan kepedihan mendalam atas penghinaan suami yang sangat kucintai. Aditya menuduhku sebagai wanita licik yang menjadikan benih di rahimku sebagai umpan untuk menguasai harta keluarga Mahatirta. Kata-kata kejam itu terus bergema, membakar sisa-sisa cinta yang pernah ada di dalam dadaku.

Begitu fajar menyingsing di Stasiun Bandung, Maya sudah menungguku dengan mata berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara, dia memelukku erat dan membawaku ke sebuah rumah panggung sederhana milik keluarganya di kawasan perkampungan sejuk daerah Lembang. Di sinilah, di tengah hamparan kebun teh dan udara dingin yang menenangkan, aku memulai babak baru hidupku.

Langkah pertama yang kulakukan adalah memblokir seluruh akses komunikasi dengan Aditya dan keluarga Mahatirta. Aku menarik seluruh sisa tabungan pribadiku yang tak seberapa, membuang kartu ATM pemberian Aditya, dan menolak menyentuh satu Rupiah pun uang dari pria itu. Aku ingin membuktikan pada dunia, dan terutamanya pada Aditya, bahwa harga diriku tidak bisa dibeli dengan kilauan harta.

Bulan-bulan pertama di Bandung berjalan sangat berat. Mual muntah akibat kehamilan membuat tubuhku sangat lemah. Namun setiap kali rasa lelah datang menyapa, aku memegang perutku dan mengingat tatapan dingin Aditya. Rasa sakit itu berubah menjadi bahan bakar semangat yang membara. Demi bertahan hidup, aku mulai memanfaatkan keahlian merancang kain Batik Tulis yang diajarkan almarhumah nenekku sewaktu aku masih kecil.

Setiap malam, di bawah temaram cahaya lampu minyak, jarum canting dan malam panas menjadi kawan setiaku. Aku menggoreskan motif-motif Batik nan indah di atas kain sutra halus. Motif yang kutuangkan bukan sekadar hiasan, melainkan lukisan jiwa tentang perjuangan, ketabahan, dan kasih sayang seorang ibu. Maya membantuku memasarkan kain-kain Batik buatan tanganku ke pasar lokal dan wisatawan yang berkunjung ke Lembang.

Sembilan bulan berlalu. Di sebuah klinik bersalin sederhana di Lembang, suara tangisan bayi laki-laki meletus merobek keheningan malam. Ya Allah! Rasa haru yang tak terkira membuncah di dadaku saat dokter meletakkan bayi mungil itu di atas dadaku. Wajahnya sangat tampan, memiliki ukiran alis dan garis bibir yang sangat mirip dengan Aditya. Aku menamainya Rizky Mahardika. Nama yang bermakna rezeki yang agung dan kebebasan. Dia adalah nafasku, alasanku untuk tetap berdiri tegak di tengah badai kehidupan.

Tahun demi tahun berganti dengan cepat. Usaha Batik buatan tanganku berkembang pesat secara luar biasa. Dari sebuah warung kecil di pinggir jalan perkampungan, kain Batik berlabel “Batik Sekar Indah” mulai dikenal luas oleh kalangan pengusaha dan pencinta seni tinggi. Keunikan motif buatan tanganku yang memadukan keanggunan budaya Jawa dan kesegaran alam Sunda sukses memikat hati para pengkolektor kain ternama.

Dalam waktu lima tahun, aku berhasil mendirikan sebuah rumah produksi Batik besar di Bandung yang mempekerjakan puluhan janda dan wanita kurang mampu di kampung tempat tinggalku. Aku tidak lagi Indah yang lemah, wanita lugu yang bisa diintimidasi dan dihina di meja makan keluarga Mahatirta. Aku telah bertransformasi menjadi seorang pengusaha wanita yang mandiri, dihormati, dan memiliki aset senilai puluhan miliar Rupiah atas usahaku sendiri.

Rizky tumbuh menjadi anak laki-laki berusia lima tahun yang sangat cerdas, tampan, dan penuh kasih sayang. Dia tidak pernah kekurangan kehangatan meski tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Setiap kali dia bertanya tentang ayahnya, aku selalu memeluknya dan berkata bahwa ayahnya adalah seorang pejuang yang sedang bertugas di tempat yang sangat jauh. Aku tidak ingin menanamkan rasa benci di hatinya yang suci.

Namun, ketenangan hidup yang kami bangun di Bandung mendadak berguncang hebat menjelang perayaan hari raya Lebaran.

Saat itu, dalam rangka menyambut tradisi Mudik dan pameran busana kebudayaan nasional, majalah fashion terkemuka meliput kisah sukses “Batik Sekar Indah”. Foto profilku bersama Rizky terpampang jelas di halaman utama media massa dan media sosial. Pameran tunggal karya-karyaku digelar di sebuah ballroom hotel berbintang lima di Bandung, dihadiri oleh kalangan elite dari berbagai kota besar, termasuk Jakarta.

Hari itu, suasana pameran sangat meriah. Pengunjung berjejal mengagumi gaun-gaun Kebaya Batik mewah rancanganku. Rizky tampak gagah mengenakan kemeja Batik kecil bermotif senada denganku, berlarian kecil membawa segelas jus jeruk dengan tawa riang.

Tiba-tiba, suasana gembira itu pecah oleh suara langkah kaki yang dihentakkan secara kasar. Pintu utama ballroom terbuka lebar, dan sesosok wanita paruh baya berbalut perhiasan berlian menyilaukan melangkah masuk dengan wajah penuh amarah.

Ibu Ratna.

Mantan ibu mertuaku berdiri di sana, didampingi oleh dua orang pria berbadan tegap berpakaian serba hitam dan seorang pengacara kawakan dari Jakarta. Di belakangnya, tampak Siska—wanita kaya raya pilihan Ibu Ratna yang dulu ingin dijodohkan dengan Aditya—menatapku dengan cemoohan tajam.

“Astaga! Ternyata benar dugaanku!” jerit Ibu Ratna dengan suara melengking yang menyita perhatian seluruh pengunjung pameran. “Wanita ini bersembunyi di sini!”

Aku berdiri mematung di atas panggung pameran. Jantungku berdegup kencang, namun mataku menatap tajam tanpa sedikit pun rasa takut. Aku melangkah turun dari panggung dan berdiri pasang badan membelakangi Rizky yang ketakutan di belakang Maya.

“Ada keperluan apa Anda datang ke tempat saya, Ibu Ratna?” tanyaku dingin, mengontrol intonasi suaraku agar tetap tenang dan berwibawa.

Ibu Ratna tertawa terbahak-bahak, suara tawanya dipenuhi kesombongan yang meluap-luap. “Tempatmu? Jangan berakting seolah kamu wanita terhormat, Indah! Kamu hanyalah pencuri! Pencuri penerus resmi keluarga Mahatirta!”

Mata Ibu Ratna tertuju pada Rizky yang bersembunyi di balik kain saraku. Tatapan matanya berubah menjadi sangat serakah saat melihat wajah Rizky yang begitu mirip dengan Aditya.

“Kurang ajar kamu, Indah!” pekik Ibu Ratna lagi sambil menunjuk wajahku dengan jarinya yang dipenuhi cincin emas. “Selama lima tahun ini kamu menyembunyikan cucu kandungku! Kamu melarikannya ke kampung ini hanya untuk membalas dendam pada keluarga kami!”

“Jaga mulut Anda, Ibu Ratna!” potongku tegas, langkahku maju satu tapak menantangnya. “Kampung ini bukan tempat sembarangan, dan anak ini adalah anakku! Anda dan putra Anda telah membuang kami lima tahun lalu. Anda menyebut anak ini sebagai alat pemeras harta! Sekarang atas dasar apa Anda berani datang ke sini?”

Siska melangkah maju sambil mengibaskan tas mewahnya. “Halah, Indah! Jangan sok suci! Semua orang tahu kamu kabur membawa keturunan Mahatirta supaya bisa menuntut warisan di kemudian hari! Pak Surya sekarang sedang terbaring kritis di rumah sakit Jakarta, dan keluarga Mahatirta membutuhkan cucu laki-laki untuk menerima estafet kepemimpinan perusahaan! Serahkan anak itu sekarang juga!”

Ibu Ratna memberi isyarat kepada dua pengawalnya. “Bawa anak itu! Pengacara saya sudah menyiapkan dokumen hak asuh secara hukum! Kamu tidak punya hak atas penerus Mahatirta, wanita miskin!”

Dua pengawal itu melangkah maju hendak merampas Rizky dari samping Maya. Rizky menjerit ketakutan, “Mama! Mama, aku takut!”

Darahku mendidih seketika. Ya Allah! Rasa murka seorang ibu meledak di dalam dadaku. Aku mengambil sebuah vas bunga keramik besar dari meja pameran dan membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping dengan suara memekakkan telinga!

PRANGGG!

Langkah kedua pengawal itu terhenti seketika. Seluruh pengunjung pameran membisu.

“Jangan coba-coba menyentuh anakku dengan tangan kotor kalian!” teriakku dengan suara menggelegar yang mengguncang ruangan. “Siapa pun yang berani melangkah satu senti lagi mendekati anakku, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian ke jalur hukum atas tuduhan penculikan dan tindakan kriminal!”

Maya dan puluhan pekerja batikku langsung berbaris di belakangku, membentuk benteng manusia untuk melindungi Rizky. Suasana di dalam ballroom menjadi sangat tegang dan memanas.

Ibu Ratna mengeraskan rahangnya, wajahnya memerah padam akibat malu dan murka. “Kamu membangkang, Indah?! Kamu pikir usahamu yang sepele ini bisa tandingi kekuasaan keluarga Mahatirta di Jakarta? Aku bisa meratakan bisnis Batikmu ini dalam waktu semalam!”

“CUKUP, MAMA!”

Sebuah suara bariton yang terengah-engah menggema dari arah pintu masuk.

Seluruh pasang mata tertuju ke sumber suara. Seorang pria tinggi dengan kemeja putih yang kusut dan wajah penuh kelelahan berdiri di sana. Matanya sembap, rambutnya berantakan, dan penampilannya jauh dari kesan pengusaha sukses yang dulu selalu tampil sempurna.

Aditya.

Pria yang lima tahun lalu mengusirku dengan kata-kata paling kejam—berdiri mematung di pintu ballroom. Tatapannya terkunci padaku, lalu perlahan beralih ke arah Rizky yang sedang memeluk kakiku.

Mata Aditya bergetar hebat. Air mata tergenang di pelupuk matanya saat melihat sosok anak laki-laki yang merupakan cerminan dirinya sewaktu kecil.

“Aditya?” Ibu Ratna terkejut. “Untuk apa kamu datang ke sini? Baguslah kamu datang! Lihat wanita ini, dia menyembunyikan anakmu di sini! Kita harus merebut anak itu sekarang juga untuk ditunjukkan pada Kakek Surya sebelum beliau berpulang!”

Aditya tidak mendengarkan ibunya. Langkah kakinya terasa berat saat berjalan mendekatiku. Setiap langkahnya dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat.

“Indah…” bisik Aditya dengan suara bergetar dan parau.

“Jangan mendekat, Aditya,” ucapku dingin, menatapnya tanpa emosi sedikit pun. “Tempatmu bukan di sini.”

Aditya menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depanku. Dia memegang sebuah amplop cokelat besar di tangannya.

“Indah… maafkan aku…” ucap Aditya, suaranya pecah oleh tangisan yang selama lima tahun ini dipendamnya. “Aku mohon… maafkan aku…”

Siska yang berdiri di samping Ibu Ratna berseru kesal, “Aditya! Kamu kenapa minta maaf pada wanita ini? Ingat posisi keluarga kita!”

“DIAM KAMU, SISKA!” bentak Aditya keras, membuat Siska dan Ibu Ratna terlonjak kaget.

Aditya menatap ibunya dengan tatapan penuh kepedihan dan kekecewaan yang mendalam. “Mama… sampai kapan Mama akan terus berbohong dan merusak hidupku?!”

“Aditya, apa maksudmu?!” sahut Ibu Ratna gagap, wajahnya mulai pucat.

Aditya membuka amplop cokelat itu dan melemparkan tumpukan berkas dokumen serta hasil rekaman medis ke lantai di depan kaki Ibu Ratna.

“Aku sudah tahu semuanya, Ma!” teriak Aditya dengan deru nafas memburu. “Aku sudah tahu fakta sebenarnya tentang malam kelam lima tahun lalu! Malam itu Mama sengaja memasukkan obat ke dalam minumanku, berniat menjebakku dengan Siska agar aku punya alasan menceraikan Indah! Tapi Indah yang malam itu masuk ke kamarku membawa teh hangat untukku!”

Pengunjung pameran berbisik-bisik gempar. Wajah Ibu Ratna mendadak pucat pasi bagaikan mayat.

“Bukan cuma itu!” lanjut Aditya dengan derai air mata. “Mama juga yang memalsukan surat medis dari dokter, memfitnah Indah seolah-olah dia meminum obat penyubur kandungan untuk menjebakku! Mama membuatku percaya bahwa Indah adalah wanita yang memanfaatkan kehamilan! Dokter pribadi Kakek yang berada di ambang maut minggu lalu telah mengakui semua kejahatan dan suap yang Mama berikan padanya sebelum dokter itu meninggal dunia!”

Astaga! Ya Allah!

Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar pengakuan itu. Jadi selama ini… kebenaran itu sengaja ditutupi oleh Ibu Ratna untuk menghancurkan rumah tanggaku!

“Aditya… itu… itu tidak benar! Dokter itu pasti bohong!” gagap Ibu Ratna dengan tubuh gemetar hebat.

“Cukup, Ma! Cukup!” bentak Aditya. Dia memalingkan wajahnya dari ibunya, lalu berlari dan mendadak berlutut di depanku!

Pengusaha dingin yang dulu begitu diagungkan di Jakarta Selatan itu kini berlutut di atas lantai pameran, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadaku sambil menangis sesengguran.

“Indah… demi Tuhan, maafkan aku…” panggil Aditya memelas, air matanya menetes meresap ke dalam karpet. “Aku adalah suami paling bodoh dan paling jahat di dunia ini. Aku telah terhasut oleh fitnah ibuku sendiri hingga menyakiti hati wanita secipta dan setulus dirimu. Selama lima tahun ini, hidupku bagaikan neraka tanpa hadirmu. Rumah megah kita terasa dingin dan hampa…”

Aditya menatap Rizky dengan mata merah penuh kerinduan. “Lihatlah anak kita, Indah… dia sangat tampan. Ampuni papamu ini, Nak…”

Aditya mengeluarkan sebuah dokumen perjanjian resmi bertanda tangan notaris dan kunci master brankas utama keluarga Mahatirta dari saku jasnya, meletakkannya di dekat kakiku.

“Indah, aku menyerahkan seluruh saham milikku di Mahatirta Group kepadamu. Seluruh aset rumah, tanah, dan tabunganku… semuanya atas namamu dan Rizky. Aku tidak butuh harta itu lagi. Aku hanya butuh kamu dan anak kita kembali ke Jakarta. Kembalilah padaku, Indah… mari kita perbaiki keluarga kita yang hancur ini. Kakek Surya di Jakarta sangat merindukanmu…”

Seluruh ruangan mendadak sunyi senyap. Semua mata tertuju padaku, menunggu keputusanku. Apakah aku akan luluh oleh derai air mata dan serahan harta triliunan Rupiah dari pria yang pernah kucintai ini?

Aku menatap Aditya yang berlutut di depanku. Rasa sakit hati lima tahun lalu, dinginnya malam saat aku diusir, dan perjuangan sekuat tenaga membesarkan Rizky seorang diri berputar kilat di dalam ingatanku.

Aku menghela nafas panjang, menyapu wajahku dengan ketenangan yang luar biasa.

“Berdirilah, Aditya,” ucapku datar.

Aditya mendongak dengan tatapan penuh harapan. “Indah… kamu memaafkanku?”

Aku tersenyum kecil—sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan.

“Aku sudah memaafkan kesalahanmu sebagai sesama manusia,” jawabku tegas. “Tapi untuk kembali menjadi istrimu? Tidak akan pernah. Luka yang kamu goreskan terlalu dalam. Harta triliunanmu tidak akan pernah bisa membeli kembali masa-masa ketika anakku tumbuh tanpa pelukan seorang ayah karena kamu menyebutnya sebagai alat pemeras harta.”

Aditya membeku, wajahnya meredup kehilangan harapan. “Indah… tolong…”

“Dan satu hal lagi yang perlu kalian semua ketahui,” lanjutku dengan intonasi vokal yang bergema kuat di seluruh ruangan pameran. Aku melangkah ke meja kerjaku, mengambil sebuah map dokumen emas berkunci khusus yang selalu kubawa.

Aku membuka map itu dan merentangkan surat hibah sah dari Mahkamah Agung.

Dokumen resmi ini membuktikan bahwa akulah pemilik lima puluh satu persen saham pengendali Mahatirta Group sekaligus cucu kandung sah Kakek Surya dari putra sulungnya, sedangkan Aditya hanyalah anak adopsi tanpa hak waris!

Sambil melempar surat gugatan cerai dan pencabutan jabatan eksekutif untuk Aditya serta Ibu Ratna, aku membuktikan bahwa wanita yang dulu mereka hinakan kini memegang kendali penuh atas nasib mereka.

Aku menggandeng erat tangan Rizky, meninggalkan mantan suamiku yang menangis bersimpuh di lantai, melangkah keluar sebagai satu-satunya penguasa tunggal kekaisaran bisnis Mahatirta.