BAGIAN 1:
Aku meneleponnya sebanyak dua puluh tujuh kali.
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengirim pesan:
“Cinta, kamu di mana? Aku masih di Gate 4, menunggumu.”
Satu jam berlalu.
Tidak ada balasan.
Aku mengirim pesan lagi:
“Cinta, di luar dingin sekali. Aku sudah berdiri di dekat tiang dari tadi. Tolong jemput aku kembali atau setidaknya beri tahu aku harus pergi ke mana.”
Pesanku hanya menunjukkan centang abu-abu.
Bahkan tidak dibuka.
Aku berdiri di sana selama dua jam penuh sambil menarik koper perak berukuran 24 inci milikku.
Di sekelilingku, aku melihat keluarga-keluarga yang menangis bahagia saat menyambut kepulangan kerabat mereka dari luar negeri, anak-anak yang berlari memeluk ayah mereka, dan pasangan suami istri yang bergandengan tangan sambil memasukkan barang bawaan ke bagasi mobil.
Setiap senyuman di sekitarku terasa seperti jarum yang menusuk dadaku.
Sementara aku?
Aku berdiri sendirian di udara dingin area kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, jari-jariku kaku karena dingin, dan aku berusaha menelan kenyataan pahit bahwa suamiku sendiri meninggalkanku di tengah ratusan orang asing—tanpa pemberitahuan, tanpa rasa bersalah, dan tanpa sedikit pun rasa khawatir.
Ketika tepat dua jam berlalu, aku menurunkan ponselku.
Aku tidak menangis lagi.
Aku menghapus air mata yang mulai jatuh di pipiku, menarik napas dalam-dalam, lalu mempererat genggamanku pada pegangan koper.
Aku kembali masuk ke dalam aula keberangkatan yang terang, mengantre di loket tiket, dan membeli tiket sekali jalan menuju Yogyakarta—kota yang sudah tiga tahun tidak kukunjungi karena aku selalu terikat oleh permintaan, kemewahan, dan kebutuhan keluarga suamiku.
Lima hari berlalu sebelum suara Vincent mulai serak karena berteriak kepada para pekerja rumah tangga kami di rumah mewah kawasan Pondok Indah untuk menanyakan keberadaanku.
Saat itulah dia baru sadar bahwa nomor teleponnya sudah kublokir, dan dia tidak bisa menemukanku di mana pun.
Dan bagiku?
Itulah lima hari paling indah, paling tenang, dan paling bebas selama delapan tahun aku menjadi istrinya.
Sebelum aku masuk ke toilet tadi, aku masih melihat dengan jelas mobil Ford Everest hitam miliknya terparkir di pinggir jalan depan terminal.
Dia berkata kepadaku tanpa menatap mataku sedikit pun, sibuk memainkan ponselnya:
“Buruan ke toilet, Therese. Aku tidak mau terjebak macet karena ada meeting.”
Aku hanya mengangguk dan bergegas.
Tidak sampai tiga menit berlalu.
Aku hanya mencuci tangan dan merapikan rambut.
Namun ketika aku keluar dari pintu otomatis, yang menyambutku hanyalah asap bus dan taksi kuning yang berlalu-lalang.
Awalnya aku berpikir mungkin petugas keamanan meminta mobil itu bergerak sebentar agar tidak mengganggu jalur penjemputan.
Jadi aku meneleponnya.
Telepon berdering terus sampai akhirnya terputus.
Aku mencoba lagi.
Kedua kali.
Ketiga kali.
Kesepuluh kali.
Tidak ada jawaban.
Sampai perlahan ingatanku kembali pada panggilan telepon yang dia terima sebelum kami meninggalkan rumah besar kami di Pondok Indah pagi tadi.
Alyssa Wijaya.
Satu-satunya wanita yang selama ini tersembunyi di lubuk hatinya.
“The one that got away” yang meskipun selama delapan tahun aku berusaha menjadi istri sempurna, tetap tidak pernah bisa kukalahkan.
Aku tidak mendengar seluruh percakapan mereka.
Namun aku melihat dengan jelas perubahan wajah Vincent.
Dahinya mengernyit.
Wajahnya memucat.
Tangannya gemetar memegang kemudi saat mengemudi.
Ternyata sejak panggilan itu berbunyi, dia memang tidak pernah berniat membawaku bersamanya.
Dia meninggalkanku di jalan seperti kain bekas yang sudah dipakai lalu dibuang.
Pukul sepuluh malam, pesawat menuju Yogyakarta akhirnya lepas landas.
Saat tiba pukul satu dini hari, aku naik taksi dan langsung menuju rumah keluarga lama kami di daerah Kotagede.
Ketika aku memutar kunci gerbang dan membuka pintu, Mama dan Papa terbangun.
Mereka sangat terkejut melihatku berdiri di ruang tamu—sendirian, membawa koper, dan dengan mata yang menunjukkan kelelahan luar biasa.
Aku berbohong.
Aku tersenyum dan mengatakan bahwa aku mendapat proyek konsultasi desain mendadak di Yogyakarta, sementara Vincent sedang sangat sibuk di kantor Jakarta.
Aku tidak ingin membuat orang tuaku khawatir di tengah malam.
Papa hanya diam berdiri lalu berjalan ke dapur tanpa bertanya banyak.
Lima belas menit kemudian, dia kembali membawa semangkuk nasi ayam hangat dengan telur, banyak jahe, dan taburan bawang putih goreng.
“Makan dulu, Therese. Papa tahu kamu lapar dan lelah, Nak,” bisik Papa lembut sambil memberikan sendok.
Saat aku menyuapkan sendok pertama ke mulutku, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh.
Selama delapan tahun di keluarga Wijaya, aku adalah orang yang memasak semua hidangan di meja makan.
Aku tahu seberapa hangat sup yang Vincent butuhkan ketika penyakit maag kronisnya kambuh.
Aku tahu teh madu apa yang dibutuhkan ibu mertuaku, Bu Ratna, ketika penyakit rematiknya menyerang saat hujan.
Aku bahkan belajar kursus pastry profesional hanya untuk membuatkan kue bagi adik iparku, Clara, karena dia tidak suka kue yang dijual di luar.
Namun selama delapan tahun itu…
tidak pernah sekali pun ada seseorang yang bertanya apakah aku lapar.
Selama lima hari, aku mematikan ponselku.
Aku menemani Mama berbelanja ke pasar tradisional Kotagede, minum kopi bersama Papa di teras sambil membaca koran, dan berbincang dengan teman-teman lamaku.
Mereka bilang aku terlihat lebih kurus, tetapi cahaya di mataku yang sudah lama hilang ketika aku menjadi “Nyonya Vincent Wijaya” perlahan kembali.
Ketika aku menyalakan ponselku pada sore hari kelima, layar langsung dipenuhi notifikasi.
Ada hampir delapan puluh panggilan tak terjawab dan ratusan pesan.
Semuanya dari Bu Ratna dan Clara.
Semua berisi tuduhan dan keluhan:
“Therese, kamu di mana?! Tidak ada yang menyiapkan obat Ibu!”
“Kak, di mana kue matcha bebas gluten-ku untuk acara amal besok?! Kamu menghancurkan hidupku!”
Namun dari suamiku yang meninggalkanku di bandara?
Tidak ada satu pun panggilan tak terjawab.
Tidak ada satu pun pesan sederhana yang menanyakan apakah aku masih hidup.
Sampai tiba-tiba teleponku berdering.
Nomor telepon rumah tanpa identitas dari Jakarta.
Aku menjawabnya dengan perasaan gugup.
Suara di seberang bukan suara Vincent.
Melainkan suara asisten pribadinya, Karen, yang menangis dan gemetar.
“K-Kak Therese… Syukurlah kamu menjawab! Pak Vincent sudah mengamuk di kantor, dia mencari Kakak ke semua rumah sakit dan kamar jenazah di Jakarta… tapi Kak, sebelum Kakak muncul di hadapannya, ada sesuatu yang harus Kakak ketahui…
Bu Ratna membawa Alyssa ke rumah kalian di Pondok Indah untuk tinggal di sana, dan Pak Vincent membekukan semua rekening bersama kalian pagi tadi!”
Aku berdiri.
Rasa sakit yang kurasakan di bandara tiba-tiba menghilang.
Digantikan oleh keputusan yang dingin dan tajam.
Jika mereka berpikir aku akan kembali ke Pondok Indah sebagai istri yang menangis dan memohon…
mereka salah.
Sudah waktunya aku mengambil kembali semua yang selama ini kupinjamkan kepada mereka.

Suara isak tangis Karen masih berderak pelan di seberang sambungan, bersaing dengan bunyi gesekan daun mangga di halaman rumah Kotagede yang tersapu angin petang.
“Kak Therese? Kakak masih di sana?”
“Aku masih dengar, Karen.” Suaraku keluar begitu datar, nyaris tanpa riak, sampai-sampai aku sendiri heran dari mana datangnya ketenangan sedingin ini. “Biar kutebak. Rekening bersama atas nama Vincent dan Therese di Bank Mandiri dan BCA Prioritas dibekukan dengan alasan ‘pengamanan aset keluarga’?”
“I-iya, Kak…” Karen menelan ludah dengan susah payah. “Tadi jam sepuluh pagi pengacara Pak Vincent, Pak Danu, datang langsung bawa surat permohonan pemblokiran sementara. Katanya untuk mencegah penarikan dana sepihak selama Kakak dianggap ‘hilang tanpa kejelasan hukum’. Padahal… padahal staf keuangan tahu betul dari mana asal sebagian besar perputaran dana di rekening itu.”
Aku tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Papa yang sedang menyiram tanaman anggrek di dekat teras tidak menyadarinya.
Vincent Wijaya. Selalu bergerak dengan perhitungan yang dia kira sangat cerdik, padahal picik bukan main. Dia panik karena aku tidak bisa dihubungi, tapi alih-alih mengkhawatirkan nyawaku, insting pertamanya adalah mengunci dompet. Dia mengira, seperti delapan tahun terakhir, aku adalah burung kenari yang sayapnya sudah dipotong—yang begitu kehabisan biji-bijian di lantai sangkar, akan terbang pulang sambil menciap-ciap memohon belas kasihan.
“Karen,” kataku tenang. “Kamu tahu di mana salinan akta perjanjian lisensi desain dan hak paten modul arsitektur Nirmala Living disimpan?”
Di seberang sana, napas Karen tercekat. “D-di brankas arsip lantai empat, Kak. Di bawah wewenang divisi legal… tapi Kakak pemegang hak cipta tunggalnya.”
“Tolong hubungi pengacara Mas Arga di kantor hukum Hendrawan & Partners. Bilang padanya, surat kuasa yang kutandatangani sebelum menikah delapan tahun lalu… aktifkan sekarang juga. Pukul empat sore ini, layangkan surat somasi penghentian hak guna merek dan pemutusan lisensi desain terhadap Wijaya Corp.”
“Kak… itu… proyek apartemen premium Wijaya di TB Simatupang sedang tahap finishing interior… Kalau lisensi itu dicabut—”
“Izin layak fungsi mereka akan gugur otomatis di dinas tata kota, Karen,” potongku tanpa ragu. “Dan bank sindikasi akan membekukan sisa pinjaman konstruksi sebesar seratus dua puluh miliar rupiah besok pagi. Sampaikan salamku pada suamiku. Sampai jumpa di ruang mediasi pengadilan.”
Kumatikan panggilan itu dengan satu sentuhan jari.
Papa meletakkan selang air di dekat pot gerabah. Beliau menoleh, matanya yang teduh menatapku lurus-lurus. Papa tidak mendengar seluruh percakapan telepon itu, tapi beliau mengenalku lebih dari siapa pun di dunia ini. Selama delapan tahun, beliau melihat putrinya—lulusan terbaik arsitektur Institut Teknologi Bandung yang dulu merancang museum seni di Ubud—meredup perlahan, berubah menjadi pelayan tanpa upah yang sibuk memikirkan kadar gluten pada kue bolu seorang gadis manja dan takaran madu pada rebusan jahe seorang wanita tua yang haus pujian sosialita.
“Mau berangkat sekarang, Therese?” tanya Papa lembut. Tidak ada kepanikan dalam suaranya. Hanya ada keteguhan seorang ayah tua yang tahu anaknya baru saja mencabut duri yang menancap di telapak kakinya sendiri.
“Malam ini, Pa,” jawabku sambil melangkah mendekatinya, mencium punggung tangan tuanya yang beraroma sabun sirih. “Therese naik kereta malam Taksaka. Mobil jemputan Mas Arga sudah menunggu di Gambir besok subuh.”
Papa menepuk pundakku dua kali. Tepukan yang berat, mantap. “Bawa kembali barang-barang Ibumu yang kamu pajang di ruang tengah rumah itu. Lemari jati peninggalan eyangmu… jangan biarkan kaki-kaki orang yang tidak punya adab menginjak bayangannya.”
Kereta Taksaka meluncur membelah kegelapan Jawa Tengah menuju barat.
Di dalam gerbong eksekutif yang senyap, ditemani dengung AC yang dingin dan secangkir teh seduh panas dari restorasi, aku membuka iPad-ku. Tidak ada media sosial. Tidak ada pesan WhatsApp. Aku membuka brankas berkas digital yang selama delapan tahun kubiarkan tidur di server pribadi.
Orang-orang di lingkaran elite Jakarta mengira Vincent Wijaya adalah pangeran bisnis properti yang mengubah tanah kosong di selatan ibu kota menjadi ladang emas berkonsep arsitektur tropis modern. Mereka memuji kepekaan estetikanya, sentuhan artistiknya, dan caranya memadukan kayu jati daur ulang dengan beton ekspos yang memenangi penghargaan internasional tiga tahun lalu.
Mereka tidak pernah tahu bahwa seluruh rancangan itu digambar di meja kerja kecil di sudut kamar tidur kami oleh tanganku—saat Vincent mendengkur di kasur king-size sehabis menenggak anggur merah bersama rekan-rekan golfnya.
Vincent butuh wajahku untuk karyanya, tapi butuh latar belakang keluarga Wijaya untuk menutupi kelemahannya sendiri: dia adalah pria yang selalu membutuhkan validasi orang lain, terutama validasi dari Alyssa, putri konglomerat tekstil yang delapan tahun lalu menolaknya mentah-mentah demi menikahi putra diplomat di Jenewa.
Dan sekarang, Alyssa kembali. Kabarnya suaminya bangkrut di Swiss dan mengajukan perceraian. Dan Vincent? Vincent seperti anjing peliharaan yang langsung berdiri dengan dua kaki belakang begitu mendengar bunyi gemerincing kalung tuannya dari kejauhan.
Bahkan dia sampai lupa bahwa dia membawa seorang istri ke bandara. Dia meninggalkanku di Gate 4 seolah-olah aku cuma kantong plastik belanjaan yang tertinggal di bangku tunggu.
Ponselku bergetar pelan. Nomor Vincent.
Akhirnya.
Pasti kantornya baru saja menerima draf somasi darurat dari Mas Arga setengah jam lalu. Aku tidak mengangkatnya. Kubiarkan getarannya merambat di atas meja lipat, berdentang pelan seperti bunyi jam pasir yang menghitung mundur kehancurannya.
Panggilan ketiga terputus. Lalu sebuah pesan masuk:
“Therese! Kamu gila?! Kenapa Arga mengirim surat pencabutan lisensi Nirmala ke dewan direksi?! Kamu di mana sekarang?! Pulang ke Pondok Indah sekarang juga! Kita selesaikan masalah ini di rumah, jangan bawa-bawa urusan bisnis kantor ke ranah pribadi! Kamu tahu konsekuensinya kalau bank dengar soal ini?!”
Ketikanku singkat, dingin, tanpa tanda seru:
“Urusan bisnis kantor? Seluruh hak paten Nirmala adalah milik pribadiku sebelum aku menandatangani surat nikah bersamamu, Vincent. Kamu yang membawa urusan pribadi ke rekening bersama pagi tadi. Nikmati sarapanmu bersama Alyssa dan ibumu. Kita bertemu di rumah jam sembilan pagi.”
Kumatikan koneksi internet ponselku. Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menutup mata, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tertidur lelap tanpa bayang-bayang ketakutan bahwa masakan sarapanku kurang asin atau setrikaan kemeja suamiku kurang licin.
Pondok Indah, pukul delapan lewat empat puluh lima menit pagi.
Matahari Jakarta mulai terasa menyengat ketika dua mobil berhenti di depan gerbang besi tempa setinggi empat meter itu. Mobil pertama adalah sedan hitam milik Arga Hendrawan, sahabat sekaligus kuasa hukum keluargaku sejak masa kuliah. Mobil kedua adalah truk boks tertutup berukuran sedang dengan lima orang pekerja angkut berseragam biru tua di dalamnya.
Petugas keamanan gerbang—Pak Ujang, yang sudah mengenalku sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di rumah ini—membuka palang dengan mata terbelalak. Wajahnya cemas luar biasa.
“N-Nyonya Therese…” bisiknya gemetar ketika aku menurunkan kaca jendela belakang. “Pak Vincent dari subuh teriak-teriak di dalam… Nyonya Alyssa dan Bu Ratna juga ada di ruang makan…”
“Buka saja gerbangnya, Pak Ujang,” jawabku lembut sambil tersenyum. “Bapak tidak perlu ikut campur. Tugas Bapak hanya memastikan truk di belakang saya masuk sampai ke halaman depan.”
Pintu utama rumah mewah bergaya modern klasik itu terbuka bahkan sebelum langkah kakiku menyentuh anak tangga teras marmer.
Vincent berdiri di sana.
Dia mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang lengannya digulung asal-asalan sampai siku. Rambutnya yang biasanya disisir pomade rapi tampak awut-awutan, lingkaran hitam pekat di bawah matanya menunjukkan dia sama sekali tidak tidur semalaman.
Di belakangnya, berdiri Bu Ratna dengan daster sutra ungu dan syal kasmir yang melingkari lehernya, sementara Clara bersandar di pilar lorong sambil memegang ponsel dengan kuku-kuku akrilik yang dicat merah darah.
Dan di meja konsol dekat foyer… seorang wanita dengan gaun linen krem dan rambut cokelat bergelombang berdiri memegang cangkir porselen Inggris milikku. Alyssa. Wajahnya memang cantik dengan tipe kecantikan dingin dan rapuh yang selalu berhasil memanipulasi ego laki-laki seperti Vincent.
“Therese!” Vincent melangkah cepat menuruni undakan, tangannya terulur hendak mencengkeram pergelangan tanganku.
Arga melangkah maju setengah langkah, tubuhnya yang tegap menghalangi jangkauan tangan Vincent.
“Jaga jarakmu dua langkah, Tuan Wijaya,” suara Arga berat dan berwibawa, memancarkan ketegasan seorang advokat litigasi senior. “Segala bentuk kontak fisik tanpa persetujuan klien saya akan langsung kami catat sebagai delik perbuatan tidak menyenangkan dan potensi tindak kekerasan dalam proses gugatan cerai.”
Langkah Vincent tertahan kaku di udara. Matanya beralih dari Arga ke wajahku. Tatapannya liar, campuran antara amarah yang tertahan, kebingungan, dan rasa takut yang mulai merayap naik ke tenggorokannya.
“Cerai…?” Vincent mengulang kata itu dengan nada sumbang, hampir seperti tawa kering yang tersedak. “Kamu menghilang lima hari tanpa kabar, bikin panik seluruh orang di rumah, terus tiba-tiba bawa pengacara dan bicara soal cerai?! Cuma gara-gara kamu tertinggal di bandara?!”
“Tertinggal?”
Aku mengulang kata itu pelan-pelan. Sangat pelan, sampai suara gemercik air mancur di kolam depan terdengar jelas di antara kami.
“Vincent, kamu tidak meninggalkanku karena kelupaan. Kamu meninggalkanku karena kamu menerima telepon dari wanita itu,” kutunjuk Alyssa dengan daguku, tanpa sedikit pun rasa gentar. “Kamu melajukan Everest hitammu dari Gate 4 kurang dari tiga menit setelah aku pamit ke toilet. Kamu tidak membalas dua puluh tujuh panggilanku. Kamu tidak membalas pesanku selama dua jam aku berdiri kedinginan di tengah ratusan orang asing.”
Bu Ratna mendengus keras dari ambang pintu, tangannya berkacak pinggang dengan lagak nyonya besar yang tersinggung.
“Halah! Drama murahan macam apa ini, Therese?!” semprot wanita tua itu dengan suara melengkingnya yang khas. “Vincent itu buru-buru pulang karena Alyssa baru mendarat dari Swiss dan butuh tempat tinggal darurat! Rumah tangganya sedang bermasalah di sana, dia tidak punya siapa-siapa di Jakarta! Kamu kan cuma disuruh nunggu sebentar, kenapa tidak naik taksi bandara saja pulang ke rumah?! Kenapa harus kabur ke Jogja dan bikin gaduh kantor suamimu?!”
“Ibu,” panggilku, menatap wanita tua itu lurus ke manik matanya. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tidak menundukkan pandanganku di depannya. “Rumah ini berdiri di atas tanah milik keluarga besar kalian, tapi interiornya, perabotannya, sistem pencahayaannya, dan karya seni yang menghiasi dinding ruang tamu ini… dibeli dengan uang royalti desain yang masuk ke rekening pribadiku. Dan hari ini, aku tidak datang untuk berdebat soal siapa yang pantas tidur di kamar tamu.”
Aku menoleh ke arah mandor pekerja angkut di belakangku.
“Pak Bowo, silakan masuk. Bawa keluar lemari jati ukir Jepara di ruang tengah, lukisan kanvas pemandangan Merapi karya Raden Saleh tiruan bersertifikat di atas perapian, dan seluruh set meja makan kayu trembesi solid di ruang makan formal. Berkas inventaris barang sudah diverifikasi oleh notaris di tangan Pak Arga.”
“Tunggu! Jangan berani-berani kalian sentuh barang di rumah ini!” teriak Clara panik, ponselnya hampir terjatuh dari tangannya. “Kak Vincent! Cegah mereka! Lemari jati itu tempat aku nyimpan koleksi tas Hermes-ku!”
Vincent tidak bergerak. Dia menatap Arga yang membuka map kulit hitam dan menyerahkan selembar salinan keputusan sita jaminan administratif kepada sekuriti rumah.
“Ini dokumen kepemilikan faktur asli atas nama Therese Larasati,” kata Arga dingin kepada Vincent. “Dan ini salinan surat penghentian hak pakai desain Nirmala Living yang sudah kami tembuskan ke Bank Danamon, Bank Mandiri, dan Dinas Cipta Karya Pemprov DKI Jakarta per jam delapan pagi tadi.”
Wajah Vincent seketika memutih. Benar-benar memutih seperti kertas HVS baru.
“Therese…” Vincent melangkah mendekat, suaranya mendadak turun beberapa oktaf, kehilangan seluruh arogansi yang tadi sempat meluap. “Jangan begini. Kita bisa bicara di dalam. Alyssa cuma menumpang sementara sampai urusan perceraiannya di Swiss selesai. Aku bersumpah tidak ada apa-apa di antara kami! Jangan bawa-bawa proyek Simatupang! Kalau izinnya dibekukan, penalti keterlambatan serah terima unitnya mencapai dua miliar per minggu! Perusahaan keluargaku bisa kolaps!”
Aku menatap pria yang delapan tahun lalu mengucapkan janji suci di depan altar gereja, bersumpah untuk menghormati dan melindungiku dalam untung dan malang.
Pria ini tidak pernah mencintaiku. Dia hanya mencintai kenyamanan yang kuberikan padanya. Dia mencintai kopi hangat yang selalu tersedia tepat waktu, dia mencintai rumah bersih tanpa debu, dia mencintai pujian orang-orang terhadap desain rumahnya yang sebenarnya adalah hasil begadangku berminggu-minggu, dan dia mencintai kepatuhanku yang membuat egonya merasa seperti tuan besar.
“Vincent,” bisikku pelan. “Waktu kamu membekukan rekening bersama kemarin pagi, apa kamu memikirkan bagaimana aku makan di luar sana? Waktu kamu meninggalkanku di Gate 4 di tengah dinginnya udara malam bandara, apa kamu memikirkan apakah aku punya uang tunai untuk pulang?”
Vincent terdiam kaku. Lidahnya kelu.
“Kamu mengira aku akan mengemis padamu,” lanjutku dengan nada yang begitu tenang hingga terasa mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya. “Kamu mengira uangmu adalah oksigen bagi hidupku. Kamu lupa… sebelum menikah denganmu, namaku adalah Therese Larasati. Arsitek kepala studio rancang bangun yang menyelamatkan portofolio bisnismu waktu bangkrut tahun 2018.”
Alyssa yang sejak tadi berdiri diam di dekat meja konsol perlahan meletakkan cangkir porselennya. Dia melangkah maju dengan gerakan yang anggun namun tampak sangat canggung di tengah situasi yang mendadak kacau.
“Therese…” kata Alyssa lembut, memasang senyum diplomatis yang dipelajarinya di kalangan ekspatriat Eropa. “Saya minta maaf kalau kedatangan saya menimbulkan salah paham. Vincent hanya bermaksud menolong teman lama yang sedang dalam masa sulit. Kita tidak perlu memperbesar masalah ini sampai mengorbankan bisnis keluarga Wijaya, kan? Sebagai sesama wanita, saya harap kamu bisa mengerti—”
“Tutup mulutmu, Alyssa,” potongku tanpa menoleh sepenuhnya ke arahnya.
Suaraku tidak keras, tapi memotong kata-katanya seperti silet yang membelah sutra tipis.
“Kamu menolaknya delapan tahun lalu waktu dia bukan siapa-siapa, dan kamu kembali mencarinya begitu suamimu di Swiss bangkrut dan menyita seluruh aset apartemenmu di Jenewa. Kamu pikir aku tidak tahu alasan kepulanganmu yang tergesa-gesa itu? Surat kabar finansial berbahasa Prancis memuat berita likuidasi aset mantan suamimu minggu lalu. Kalau kamu mau mencari pria kaya untuk menalangi gaya hidupmu, carilah di tempat lain. Karena mulai hari ini, Vincent Wijaya bukan lagi orang kaya seperti yang kamu bayangkan.”
Wajah Alyssa yang anggun mendadak kaku. Bibirnya yang dipoles lipstik nude bergetar tipis, matanya memancarkan rasa terhina yang luar biasa.
Para pekerja angkut mulai masuk ke ruang tamu, mengangkat lemari jati peninggalan kakekku dengan hati-hati menggunakan tali tambang tebal. Bu Ratna menjerit-jerit histeris mencoba menghalangi mereka, tapi Arga dengan tenang berdiri di depan wanita tua itu sambil menyodorkan kartu nama kepolisian sektor Cilandak yang sudah disiagakan di pos depan jika terjadi keributan fisik.
“Therese! Tolong!” Vincent memohon, kali ini benar-benar memohon. Tangannya gemetar hebat saat dia mencoba meraih ujung jaketku. “Jangan hancurkan aku! Aku salah! Aku minta maaf karena meninggalkanmu di bandara! Aku panik waktu itu, sumpah! Aku akan suruh Alyssa keluar dari rumah ini sekarang juga! Aku akan kembalikan semua rekeningmu!”
Aku menarik tasku menjauh dari jangkauan tangannya.
“Semuanya sudah terlambat, Vincent. Rekening bersama itu? Ambil saja isinya. Anggap saja itu biaya sewa tenagaku sebagai koki, pembantu rumah tangga, dan perawat gratis keluargamu selama delapan tahun terakhir. Tapi proyek Simatupang, lisensi Nirmala, dan seluruh hak rancang bangun yang membawa namamu ke panggung penghargaan… hari ini kutarik kembali ke tempat asalnya.”
Aku berbalik, melangkah menuruni teras menuju mobil Arga. Udara pagi Jakarta yang berdebu terasa begitu segar di dadaku. Tidak ada lagi sesak napas. Tidak ada lagi rasa bersalah yang mencekik setiap kali aku ingin menyuarakan pendapatku sendiri.
“Therese!” raungan Vincent terdengar dari belakang, disusul suara pecahan kaca ketika Bu Ratna secara tidak sengaja menjatuhkan salah satu vas porselen di foyer karena histeris.
Aku tidak menoleh lagi.
Tujuh bulan berlalu seperti hembusan angin sejuk di lereng Gunung Merapi.
Kawasan Kotagede di Yogyakarta pada bulan Oktober selalu memiliki aroma yang khas: perpaduan antara tanah basah sehabis hujan rintik sore hari, aroma perak yang sedang disepuh di bengkel-bengkel kerajinan tradisional, dan semerbak wangi bunga melati yang merambat di pagar batu bata ekspos.
Studio arsitektur baruku—Larasati & Partners—menempati sebuah rumah joglo tua beratap tumpang sari yang kami restorasi dengan sentuhan kaca modern dan taman dalam terbuka. Tidak ada marmer dingin seperti di Pondok Indah. Lantainya terbuat dari terakota bakar lokal yang sejuk di telapak kaki, dan dindingnya dipenuhi sketsa-sketsa rancangan bangunan ramah lingkungan yang mengalir bebas dari imajinasiku tanpa perlu diintervensi oleh dewan direksi yang haus laba instan.
Proyek rancangan resor ekologi kami di kawasan pesisir Gunungkidul baru saja memenangi penghargaan Aga Khan Award for Architecture nominasi regional Asia Tenggara pekan lalu. Tawaran kerja sama mengalir dari Bali, Singapura, hingga Melbourne.
Ponsel di atas meja kerja kayu jatikuku bergetar pelan. Sebuah pesan dari Karen—yang kini sudah mengundurkan diri dari Wijaya Corp dan bekerja di biro konsultan properti independen di Sudirman:
“Kak Therese, sidang putusan pailit untuk proyek Simatupang sudah selesai siang tadi. Bank pelaksana mengambil alih seluruh struktur bangunan mangkrak itu untuk dilelang umum. Pak Vincent… kabarnya menjual rumah lamanya di Pondok Indah untuk menutupi utang vendor material, dan sekarang tinggal bersama ibunya di rumah sewa sederhana di daerah Bekasi timur. Alyssa? Dia sudah lama pergi ke Bali bersama pengusaha kapal pesiar asal Australia sebulan setelah gugatan cerai Kakak diputus hakim.”
Kutatapi layar ponsel itu selama beberapa detik.
Tidak ada rasa dendam yang melonjak girang di dadaku. Tidak ada pula rasa kasihan yang tersisa. Yang kurasakan hanyalah sebuah penutupan buku yang sangat rapi. Vincent mendapatkan apa yang selalu dia kejar: kenyataan tanpa topeng. Dia ingin hidup di atas kepalsuan, dan ketika pilar kepalsuan itu ditarik dari bawah kakinya, dia runtuh bersama puing-puingnya sendiri.
“Therese?” suara Mama terdengar lembut dari arah pintu geser samping yang menghubungkan studio dengan rumah utama.
Mama melangkah masuk membawa nampan anyaman bambu berisi sepiring getuk lindri hangat bertabur kelapa parut dan dua cangkir wedang uwuh yang mengepulkan aroma kayu secang dan cengkih.
“Istirahat dulu, Nduk. Dari tadi siang menggambar terus, matamu bisa lelah,” kata Mama sambil meletakkan nampan di sudut meja yang bebas dari kertas kalkir.
Aku tersenyum lebar, meregangkan kedua tanganku ke atas hingga tulang belakangku berbunyi pelan. “Sebentar lagi selesai, Ma. Tinggal menyesuaikan sirkulasi udara untuk ruang perpustakaan anak-anak di panti asuhan Kulon Progo.”
Papa muncul di belakang Mama, mengenakan sarung tenun dan kacamata bacanya yang bertengger di ujung hidung, membawa koran sore lokal.
“Ada berita lelang material di koran, Therese,” kata Papa sambil duduk di kursi rotan seberang mejaku. “Banyak kayu jati gelondongan bekas bongkaran gudang tua di Solo. Barangkali studio barumu butuh tambahan tiang penyangga untuk ruang galeri belakang.”
“Nanti Therese cek sama tim lapangan, Pa,” sahutku sambil meraih cangkir wedang uwuh yang hangat di kedua telapak tanganku.
Kuhirup uap rempah yang manis dan pedas itu dalam-dalam. Hangatnya menjalar dari tenggorokan hingga ke relung hatiku yang paling sunyi.
Delapan tahun aku mengira bahwa menjadi istri yang baik berarti harus mengecilkan diriku sendiri agar orang lain bisa terlihat besar. Aku mengira bahwa cinta adalah tentang seberapa banyak pengorbanan yang bisa kuberikan tanpa pernah meminta balasan, sampai akhirnya aku ditinggalkan di pinggir jalan raya bandara seperti barang rongsokan yang tak lagi berharga.
Namun sore ini, di bawah lindungan atap joglo peninggalan leluhurku sendiri, di tengah aroma cengkih dan tawa tenang kedua orang tuaku yang menua dengan damai, aku tahu satu hal yang pasti:
Kadang-kadang, kehilangan terbesar dalam hidup kita justru adalah pintu keluar terbaik yang dibukakan semesta—agar kita bisa berhenti menjadi bayang-bayang orang lain, dan mulai membangun kembali istana megah milik kita sendiri yang tak akan pernah bisa dirobohkan oleh siapa pun.
