Di dalam kain itu ada sebuah benda kecil berwarna hitam.
Awalnya aku tidak mengerti apa yang sedang kulihat.
Bentuknya persegi panjang, kira-kira sebesar ruas ibu jari, dibungkus lagi dengan plastik bening yang sudah kusam karena bertahun-tahun berada di dalam tanah.
Aku mengangkatnya ke arah cahaya.
Sebuah kartu memori.
Di bawahnya ada sebuah kunci kecil.
Dan selembar kertas yang dilipat berkali-kali hingga ukurannya tak lebih besar dari kotak korek api.
Jantungku berdegup semakin cepat.
Aku membuka kertas itu.
Tulisan tangan di sana langsung kukenali.
Tulisan Arga.
Aku bahkan masih ingat kebiasaannya membuat huruf “g” dengan ekor terlalu panjang. Dulu aku sering mengejeknya karena tulisan tangannya terlihat seperti tulisan dokter.
Tetapi kali ini aku tidak tertawa.
Hanya ada enam kata.
“Laras, kalau kau menemukan ini, maafkan aku.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lututku mendadak lemas.
Aku terduduk di lantai, tepat di antara tanah basah, akar anggrek, dan pecahan pot.
“Arga… apa ini?”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan tipis yang mulai turun di luar teras.
Aneh.
Padahal beberapa menit sebelumnya langit masih terang.
Aku mengambil ponsel.
Tanganku gemetar begitu keras sampai dua kali aku salah memasukkan kode layar.
Kartu memori itu terlalu kecil untuk langsung dimasukkan ke laptopku. Aku membutuhkan card reader.
Aku hampir berlari ke toko elektronik.
Hampir.
Sampai mataku kembali tertuju pada kunci kecil tadi.
Ada angka yang terukir di kepalanya.
Angka itu membuat sesuatu di kepalaku seperti tersentak.
Aku pernah melihat angka itu.
Entah di mana.
Aku berdiri, masuk ke kamar, lalu membuka lemari lama milik Arga yang tidak pernah benar-benar kubereskan sejak kematiannya.
Kemeja-kemejanya sudah kusumbangkan bertahun-tahun lalu. Beberapa buku masih ada. Jam tangan rusaknya masih kusimpan.
Aku membuka laci paling bawah.
Tidak ada.
Meja kerja.
Tidak ada.
Kotak dokumen.
Tidak ada.
Lalu aku teringat.
Sebuah kartu keanggotaan tempat penitipan barang di sebuah stasiun lama di Bandung.
Aku pernah menemukannya setelah Arga meninggal.
Nomornya…
Darahku terasa dingin.
Aku menelepon polisi.
Bukan karena aku tahu telah terjadi kejahatan.
Justru karena aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang kuhadapi.
Sekitar empat puluh menit kemudian, dua petugas datang ke rumahku.
Salah satunya bernama Inspektur Raka Pradana. Usianya mungkin awal empat puluhan. Ia tidak banyak bicara. Ia memeriksa kain, kertas, kartu memori, dan kunci tanpa menyentuhnya sembarangan.
“Bu Larasati yakin tulisan ini milik suami Ibu?”
“Sangat yakin.”
“Apakah almarhum pernah mengatakan sedang memiliki masalah?”
Aku menggeleng.
“Musuh?”
“Tidak.”
“Masalah pekerjaan?”
“Setahu saya tidak.”
Raka menatapku beberapa detik.
“Lima tahun lalu, kematian suami Ibu dinyatakan kecelakaan?”
“Iya.”
Ia tidak menjawab.
Tatapannya justru berpindah ke arah lorong menuju gudang belakang.
Tempat Arga jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, rumahku terasa seperti bukan rumahku sendiri.
Malam itu polisi membawa kartu memori tersebut untuk diperiksa.
Aku tidak tidur.
Sama sekali.
Aku duduk di sofa sambil memandangi anggrek yang sementara kupindahkan ke baskom plastik.
Lucu juga.
Selama bertahun-tahun aku merawat bunga itu seperti merawat kenangan.
Menyiramnya.
Mengganti pupuk.
Membersihkan daunnya satu per satu.
Ternyata beberapa sentimeter di bawah akarnya terdapat sesuatu yang mungkin sengaja disembunyikan Arga dariku.
Menjelang pukul dua dini hari, ponselku berbunyi.
Inspektur Raka.
“Bu Larasati?”
“Iya?”
“Kami berhasil membuka sebagian isi kartu memori.”
Aku langsung berdiri.
“Apa isinya?”
Ia diam sebentar.
“Rekaman video.”
“Nanti pagi Ibu perlu datang.”
“Apa yang ada di videonya?”
Lagi-lagi ia diam.
Dan justru jeda itulah yang membuatku semakin takut.
“Bu Larasati… sebaiknya Ibu melihatnya sendiri.”
Pagi berikutnya aku tiba di kantor polisi dengan kepala berat karena tidak tidur.
Raka membawaku ke sebuah ruangan kecil.
Ada laptop di atas meja.
Seorang petugas perempuan duduk di sampingku.
Mungkin mereka khawatir reaksiku tidak terkendali.
Raka menekan tombol putar.
Layar gelap beberapa detik.
Kemudian wajah Arga muncul.
Aku langsung menutup mulut.
Itu dia.
Suamiku.
Hidup.
Bernapas.
Mengenakan kaus abu-abu kesukaannya.
Video itu jelas direkam beberapa hari sebelum kematiannya.
Arga duduk di dalam mobil.
Wajahnya tegang.
“Laras…”
Aku berhenti bernapas.
Suara itu.
Lima tahun aku tidak mendengarnya.
“Laras, kalau kamu menonton video ini, berarti aku tidak sempat menjelaskan semuanya.”
Air mataku jatuh sebelum aku sempat menyekanya.
Arga menoleh ke kanan dan kiri, seolah takut seseorang melihatnya.
“Aku melakukan kesalahan. Bukan kesalahan seperti yang mungkin kamu pikirkan. Aku tidak punya perempuan lain. Aku juga tidak berjudi.”
Aku hampir tertawa di tengah tangis.
Bahkan dalam situasi seperti itu, Arga masih tahu apa yang paling mungkin kupikirkan.
Kemudian wajahnya berubah serius.
“Ada masalah di kantor.”
Saat itu Arga bekerja sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan distribusi bahan bangunan.
Menurut ceritanya di video, selama beberapa bulan ia menemukan transaksi aneh.
Pembayaran kepada pemasok yang tidak pernah mengirim barang.
Invoice ganda.
Nama perusahaan yang alamatnya ternyata rumah kosong.
Jumlahnya bukan sedikit.
Miliaran rupiah.
Awalnya Arga mengira itu kesalahan pencatatan.
Kemudian ia menemukan pola.
Seseorang menggunakan dokumen perusahaan untuk mengalihkan uang.
Arga diam-diam menyalin beberapa data.
“Aku berniat menyerahkannya kepada pihak berwenang,” katanya dalam video. “Tapi seseorang tahu aku menyimpan salinannya.”
Aku menoleh kepada Raka.
“Apakah ini berarti…”
“Teruskan dulu, Bu.”
Video berlanjut.
Arga mengatakan bahwa ia menyimpan bukti tambahan di sebuah loker.
Nomor 317.
Kunci yang kutemukan di dalam pot.
Namun ada satu kalimat berikutnya yang membuat seluruh tubuhku kaku.
“Kalau terjadi sesuatu kepadaku, jangan langsung percaya kalau itu kecelakaan.”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.
“Tidak.”
Raka mematikan video.
“Tidak…”
Aku menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Lima tahun.
Selama lima tahun aku menerima bahwa Arga terpeleset.
Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri karena hari itu lupa mengeringkan lantai dekat pintu belakang.
Berapa malam aku terbangun sambil berpikir, seandainya aku mengepel lantai itu…
Seandainya aku memasang keset…
Seandainya aku memintanya tidak keluar saat listrik padam…
Lima tahun aku menghukum diriku sendiri.
Dan sekarang—
“Bu Larasati.”
Suara Raka menarikku kembali.
“Kami belum bisa menyimpulkan apa pun hanya berdasarkan rekaman ini.”
“Tapi dia tahu.”
“Kami perlu bukti.”
“Kunci itu.”
Raka mengangguk.
“Kami akan memeriksanya.”
Loker 317 ternyata masih ada.
Tempat penitipan barang tersebut sudah berganti pengelola, tetapi bagian loker lama belum dibongkar karena termasuk area penyimpanan jangka panjang.
Di dalamnya ditemukan sebuah tas laptop berwarna hitam.
Isinya membuat penyelidikan lama dibuka kembali.
Ada salinan dokumen transaksi.
Sebuah flashdisk.
Beberapa foto.
Dan sebuah buku catatan kecil milik Arga.
Aku tidak diperbolehkan melihat semuanya.
Tetapi polisi memberitahuku satu hal.
Arga ternyata sedang membantu seorang auditor internal bernama Dimas Wicaksono.
Nama itu asing bagiku.
Polisi mencarinya.
Tiga hari kemudian mereka menemukannya.
Masih hidup.
Tinggal di Yogyakarta.
Ketika mendapat kabar bahwa bukti milik Arga ditemukan, Dimas langsung datang ke Bandung.
Pertemuan kami terasa canggung.
Ia berdiri di depan pintu rumahku cukup lama tanpa berani masuk.
“Bu Larasati?”
“Iya.”
“Saya Dimas.”
Aku menatapnya.
Entah kenapa aku marah.
Bukan karena ia melakukan sesuatu kepadaku.
Aku hanya…
Aku butuh seseorang untuk dimarahi.
“Anda kenal suami saya?”
Dimas menunduk.
“Kenal.”
“Kenapa saya tidak pernah tahu?”
“Karena Arga meminta saya tidak melibatkan Ibu.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Bagus sekali. Semua orang rupanya tahu sesuatu tentang suami saya kecuali saya.”
Dimas tidak membela diri.
Ia duduk di teras.
Lalu ia menceritakan semuanya.
Arga menemukan transaksi fiktif secara tidak sengaja.
Ia melaporkannya kepada Dimas.
Mereka mengumpulkan dokumen bersama.
Namun sebelum laporan resmi selesai, seseorang di perusahaan mulai curiga.
Arga menerima pesan ancaman.
Awalnya hanya pesan anonim.
Berhenti mencari.
Jangan ikut campur.
Pikirkan keluargamu.
Arga ketakutan.
Tetapi ia juga keras kepala.
Itu memang Arga.
Kalau merasa sesuatu salah, ia sulit berpura-pura tidak melihat.
“Malam sebelum dia meninggal,” kata Dimas pelan, “dia menelepon saya.”
Aku menatapnya.
“Apa katanya?”
Dimas menelan ludah.
“Dia bilang ada orang yang mengikuti motornya.”
Udara di sekitarku terasa berhenti.
“Lalu?”
“Saya menyuruhnya datang ke tempat saya. Dia menolak. Katanya dia harus pulang karena Ibu sendirian di rumah.”
Aku tidak bisa berkata-kata.
Dimas mengusap wajahnya.
“Saya seharusnya memaksa dia.”
“Jangan.”
Ia menatapku.
Aku sendiri terkejut mendengar kata itu keluar dari mulutku.
“Jangan lakukan apa yang saya lakukan selama lima tahun.”
“Apa?”
“Menyiksa diri dengan kata ‘seharusnya’.”
Kami terdiam.
Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang sederhana tetapi selama ini sulit kuterima.
Rasa bersalah suka menyamar menjadi cinta.
Kita berpikir kalau terus menyalahkan diri sendiri, berarti kita masih peduli kepada orang yang telah pergi.
Padahal tidak.
Kadang kita cuma sedang menghukum orang yang masih hidup.
Termasuk diri sendiri.
Penyelidikan berjalan hampir tiga bulan.
Tidak dramatis seperti film.
Tidak ada polisi datang tengah malam lalu langsung menangkap seseorang.
Tidak ada pengakuan mendadak.
Yang ada justru tumpukan dokumen.
Pemeriksaan saksi.
Rekaman lama.
Riwayat telepon.
Laporan forensik yang diperiksa ulang.
Tetapi sedikit demi sedikit, potongan-potongan itu bertemu.
Polisi menemukan bahwa pada malam Arga meninggal, seseorang dari perusahaan memang datang ke lingkungan rumah kami.
Sebuah rekaman CCTV lama dari minimarket di ujung jalan masih tersimpan dalam arsip digital pemilik lama.
Buram.
Namun nomor kendaraan bisa dilacak.
Kendaraan itu terdaftar atas nama perusahaan.
Kemudian muncul saksi lain.
Pak Harun.
Tetangga lama yang sudah pindah ke Cimahi.
Ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia sampaikan lima tahun lalu.
“Saya melihat seorang laki-laki keluar dari arah belakang rumah kalian malam itu.”
“Kenapa Bapak tidak bilang?”
Pak Harun menunduk.
“Saya takut.”
Aku ingin marah.
Sungguh.
Tetapi ketika melihat tangannya gemetar, kemarahanku kehilangan tenaga.
Orang itu akhirnya diketahui sebagai mantan manajer keuangan perusahaan bernama Surya Mahendra.
Namun penyelidikan menemukan hal yang sedikit berbeda dari dugaan awalku.
Surya tidak datang dengan rencana untuk membunuh Arga.
Ia datang untuk mengambil dokumen.
Mereka bertengkar di dekat gudang.
Arga mencoba mengambil kembali tasnya.
Terjadi dorong-mendorong.
Arga kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh dari tangga.
Surya panik.
Bukannya meminta pertolongan, ia pergi.
Dan kemudian berusaha membuat kejadian itu terlihat seperti kecelakaan biasa.
Aku mendengar penjelasan itu di kantor polisi.
Anehnya, aku tidak berteriak.
Tidak menangis.
Aku hanya bertanya satu hal.
“Jadi selama ini… lantai basah itu bukan penyebabnya?”
Raka menggeleng.
“Bukan, Bu.”
Aku menunduk.
Tanganku menggenggam ujung baju.
Lima tahun.
Tiba-tiba beban yang kupikul selama lima tahun terasa seperti dilepaskan begitu saja.
Bukan lega sepenuhnya.
Ada marah.
Ada sedih.
Ada ruang kosong yang aneh.
Aku pulang sore itu.
Masuk ke rumah.
Berjalan menuju tangga belakang.
Aku berdiri di tempat Arga jatuh.
Dulu aku selalu menghindari tempat itu.
Hari itu aku duduk di anak tangga paling bawah.
“Ga…”
Suaraku pecah.
“Aku ternyata marah sama diriku sendiri selama ini.”
Tidak ada jawaban.
Tentu saja.
“Aku pikir aku yang bikin kamu pergi.”
Air mata jatuh.
“Aku bodoh, ya?”
Aku tertawa kecil.
Entah mengapa aku bisa membayangkan Arga menjawab:
Lumayan.
Aku tertawa lebih keras.
Lalu menangis.
Lalu tertawa lagi.
Kalau ada tetangga melihat, mungkin mereka akan mengira aku kehilangan akal.
Biarlah.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, tangisku tidak terasa seperti tenggelam.
Rasanya seperti…
keluar.
Beberapa bulan kemudian proses hukum berjalan.
Surya dan beberapa orang lain yang terlibat dalam penggelapan dana diperiksa dan diproses sesuai hukum.
Aku tidak mengikuti setiap sidang.
Awalnya aku datang.
Kemudian berhenti.
Bukan karena tidak peduli.
Aku hanya sadar hidupku tidak boleh berubah menjadi ruang tunggu untuk hukuman orang lain.
Aku sudah kehilangan lima tahun.
Aku tidak mau kehilangan lima tahun lagi.
Suatu pagi aku membeli pot baru.
Bukan yang mahal.
Pot tanah liat biasa dari pasar tanaman.
Warnanya bahkan sedikit tidak rata.
Aku memindahkan anggrek Arga ke sana.
Akar-akarnya ternyata masih sehat.
Beberapa minggu kemudian muncul tunas baru.
Aku memotretnya.
Tanpa sadar aku hampir mengirim foto itu ke nomor Arga.
Kebiasaan lama.
Jariku berhenti di layar.
Nomornya masih tersimpan.
Aku belum pernah menghapusnya.
Aku membuka percakapan terakhir kami.
Pesan terakhir darinya ternyata sangat biasa.
“Beli cabai nggak?”
Aku menjawab:
“Beli. Jangan banyak-banyak.”
Itulah percakapan terakhir kami.
Bukan “aku mencintaimu.”
Bukan kalimat puitis.
Bukan pesan perpisahan.
Cabai.
Aku tertawa sampai menangis.
Mungkin begitulah kehidupan sebenarnya.
Kita tidak tahu percakapan mana yang akan menjadi yang terakhir.
Karena itu kebanyakan perpisahan tidak memiliki musik latar.
Hanya hal-hal kecil yang kemudian menjadi mahal karena tidak bisa diulang.
Setahun setelah pot itu pecah, aku membuat keputusan.
Aku menjual rumah tersebut.
Banyak orang mengira aku akan mempertahankannya karena penuh kenangan.
Justru karena penuh kenangan, aku pergi.
Aku pindah ke rumah kecil di daerah yang lebih tenang di pinggiran Bandung.
Ada halaman mungil.
Cukup untuk beberapa pot tanaman.
Anggrek ungu itu ikut denganku.
Tentu saja.
Dimas sesekali menghubungiku.
Bukan hal romantis.
Tidak.
Hidup tidak harus selalu memberi pasangan baru agar sebuah akhir disebut bahagia.
Kadang akhir bahagia adalah bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Bisa mendengar hujan tanpa teringat suara tubuh seseorang jatuh.
Bisa melewati tanggal kematian orang yang kita cintai tanpa merasa dunia harus berhenti.
Itu sudah sangat besar.
Aku mulai bekerja lagi.
Aku membuka toko kecil tanaman hias bersama sepupuku.
Awalnya hanya lewat media sosial.
Lalu kami menyewa kios kecil.
Aku menamainya “Akar”.
Bukan nama yang istimewa.
Tapi aku menyukainya.
Karena sesuatu bisa patah di atas tanah…
sementara akarnya diam-diam masih hidup.
Pada ulang tahun keenam kematian Arga, aku pergi ke makamnya.
Aku membawa satu tangkai anggrek.
Duduk di dekat nisannya.
“Ga, toko kita mulai untung.”
Aku berhenti.
“Eh, tokoku. Bukan toko kita.”
Angin bergerak pelan.
Aku tersenyum.
“Jangan geer.”
Ada seorang ibu di makam sebelah yang menatapku aneh karena aku bicara sendiri.
Aku tidak peduli.
“Aku baik-baik saja sekarang.”
Kalimat itu sulit sekali keluar.
Aku menelan ludah.
“Aku benar-benar baik-baik saja.”
Dulu aku merasa mengatakan itu berarti mengkhianati Arga.
Seolah sembuh berarti cintaku berkurang.
Ternyata bukan begitu.
Aku masih mencintainya.
Hanya bentuknya berubah.
Tidak lagi seperti luka terbuka.
Lebih seperti bekas jahitan.
Ada.
Terasa kalau disentuh.
Tetapi tidak lagi berdarah.
Sebelum pulang, aku meletakkan bunga di makamnya.
Kemudian aku teringat sesuatu.
Kertas kecil yang ditemukan di dalam pot.
“Laras, kalau kau menemukan ini, maafkan aku.”
Aku akhirnya mengerti.
Arga mungkin meminta maaf karena menyembunyikan masalah dariku.
Mungkin karena membuatku berada dalam bahaya tanpa sepengetahuanku.
Mungkin karena tidak sempat menjelaskan.
Aku tidak tahu.
Aku tidak akan pernah tahu.
Dan ternyata…
aku tidak perlu tahu semuanya.
Aku berdiri.
Membersihkan tanah dari rok.
Lalu berkata pelan,
“Aku maafin.”
Aku berjalan beberapa langkah.
Berhenti.
Menoleh lagi.
“Tapi aku masih kesel soal kamu nyembunyiin kartu memori di pot. Lima tahun, Ga. Lima tahun aku siram itu pot. Kalau rusak kena air gimana?”
Aku tertawa sendiri.
Benar-benar tertawa.
Bukan tangis yang menyamar menjadi tawa.
Saat itulah ponselku berbunyi.
Pesan dari sepupuku.
“Laras! Cepat balik! Ada pelanggan mau pesan 120 pot anggrek buat acara pernikahan. Kita kewalahan!”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Seratus dua puluh pot.
Aku mendongak ke langit.
“Kerjaan kamu, ya?”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Aku tersenyum.
Lalu berjalan menuju mobil.
Sebelum membuka pintu, aku melihat tanganku sendiri.
Tidak gemetar lagi.
Enam tahun sebelumnya, tangan yang sama memegang tangan Arga di rumah sakit sambil memohon sesuatu yang tidak mungkin.
Setahun sebelumnya, tangan ini membuka bungkusan kecil dari dalam tanah dan menemukan rahasia yang mengubah semuanya.
Hari ini tangan yang sama memegang kunci mobil.
Sederhana.
Tapi entah kenapa aku menyukai kenyataan itu.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Ada benda-benda yang kita simpan karena takut kehilangan seseorang.
Baju.
Foto.
Pesan suara.
Hadiah.
Pot bunga.
Kita menjaga semuanya seolah jika benda itu pecah, kenangan ikut pecah.
Padahal tidak.
Pot itu sudah hancur.
Arga tetap ada dalam ingatanku.
Bahkan mungkin lebih jujur daripada sebelumnya.
Aku pulang ke toko.
Sore itu kami bekerja sampai malam menyiapkan pesanan.
Ada tanah di bajuku.
Rambutku berantakan.
Sepupuku mengeluh lapar.
Seorang pegawai salah menghitung jumlah pot sampai kami harus mengulang semuanya.
Tidak indah.
Tidak dramatis.
Tetapi aku bahagia.
Di sudut toko, dekat jendela, anggrek ungu milik Arga sedang berbunga.
Tiga kuntum.
Aku tidak pernah lagi menyebutnya sebagai “satu-satunya yang tersisa dari Arga.”
Karena kalimat itu ternyata salah.
Yang tersisa darinya bukan pot.
Bukan bunga.
Bukan kartu memori.
Yang tersisa adalah keberanian yang pernah ia tunjukkan ketika memilih tidak diam melihat sesuatu yang salah.
Tawanya yang masih bisa kuingat.
Kebiasaan buruknya meninggalkan handuk basah di tempat tidur.
Caranya memasak mi terlalu lembek.
Dan aku.
Aku juga bagian dari kehidupan yang pernah ia jalani.
Malam semakin larut.
Aku mematikan lampu toko satu per satu.
Sebelum pintu ditutup, aku kembali melihat anggrek itu.
“Besok jangan bikin masalah lagi, ya.”
Daunnya bergerak sedikit karena kipas angin.
Aku terkekeh.
Lalu mematikan lampu terakhir.
Di luar, Bandung baru saja selesai diguyur hujan.
Dulu suara hujan selalu membawaku kembali ke malam ketika Arga meninggal.
Namun malam itu berbeda.
Aku berdiri sebentar di depan toko.
Menghirup udara dingin.
Mendengar kendaraan lewat.
Orang-orang tertawa dari warung seberang.
Dunia terus berjalan.
Dan akhirnya…
aku ikut berjalan bersamanya.
Bukan meninggalkan Arga.
Bukan melupakannya.
Hanya berhenti tinggal di hari ketika ia pergi.
Aku mengunci pintu toko.
Memasukkan kunci ke tas.
Kemudian pulang.
Besok pagi ada 120 pot anggrek yang harus disiapkan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku lebih penasaran pada apa yang akan terjadi besok daripada apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
