Suamiku mengira telepon kami sudah terputus ketika aku mendengar suara seorang perempuan tertawa di sampingnya.

Suamiku mengira telepon kami sudah terputus ketika aku mendengar suara seorang perempuan tertawa di sampingnya.

Lalu Arga berkata santai, “Aku sudah muak sama Nadia. Tunggu saja. Aku akan menceraikannya, setelah itu kita bisa bersama.”

Tanganku langsung dingin.

Aku sedang cuti melahirkan di rumah kami di Bintaro, mengurus putri kami yang baru beberapa bulan, Alya. Selama ini aku percaya alasan Arga hampir setiap malam pulang terlambat adalah pekerjaan.

Ternyata bukan.

Dari sambungan telepon yang belum terputus itu, aku mendengar suara perempuan tersebut semakin dekat.

“Terus istrimu gimana?”

Arga tertawa kecil.

“Dia bikin aku sesak. Tiap hari kirim foto Alya, tanya aku pulang jam berapa. Seolah hidupku cuma buat mereka.”

Dadaku terasa seperti ditekan.

Beberapa jam sebelumnya, aku bahkan mengirim foto Alya memakai baju yang dibelikan Arga sendiri.

Aku kira itu akan membuatnya tersenyum.

Ternyata dia menertawakanku bersama perempuan lain.

Kemudian aku mendengar Arga berkata pelan, “Aku bahkan sudah malas menyentuh dia. Setelah semuanya beres, aku nikahi kamu.”

Aku langsung mematikan telepon.

Aku tidak menangis.

Belum.

Malam itu Arga pulang membawa bunga dari minimarket dekat kompleks.

Dia mencium keningku.

“Kangen dua perempuan kesayanganku.”

Aku menatap wajahnya beberapa detik.

Lalu tersenyum.

“Kami juga kangen Papa.”

Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, aku sadar betapa mudahnya seseorang berbohong sambil menatap mata orang yang mempercayainya.

Enam hari berikutnya aku tidak mengatakan apa pun.

Aku hanya memperhatikan.

Arga mulai membawa ponselnya ke kamar mandi. Kode layarnya berubah. Sebelum berangkat untuk “lembur”, dia memakai parfum lebih banyak dari biasanya.

Namun ada satu hal yang tidak dia ketahui.

Aku tidak sedang menunggu dia mengaku.

Aku sedang mempersiapkan sesuatu.

Minggu itu adalah ulang tahun pernikahan kami.

Awalnya aku berencana makan malam sederhana bertiga. Tapi setelah mendengar percakapan tersebut, aku mengubah rencana.

Aku menelepon Mama dan Papa.

Kemudian orang tua Arga.

Aku juga mengundang kakaknya.

“Ada makan malam kecil di rumah,” kataku. “Aku ingin bikin kejutan untuk Arga.”

Hari Minggu, meja makan penuh dengan ayam bakar, tumis buncis, perkedel kentang, sambal, dan puding buatan Mama.

Semua terlihat seperti acara keluarga biasa.

Arga bahkan tampak senang.

“Kamu repot-repot banget,” katanya sambil merangkul bahuku.

Aku tersenyum.

“Setahun sekali.”

Setelah makan selesai, aku berdiri sambil memegang gelas.

“Aku mau bilang sesuatu.”

Percakapan langsung berhenti.

Wajah Arga berubah sedikit.

Aku menatapnya.

“Untuk suamiku tercinta…”

Ibu mertuaku tersenyum lebar.

Arga mencoba ikut tersenyum, tetapi aku melihat tangannya perlahan meraih ponsel di samping piring.

“Aku ingin berterima kasih,” lanjutku, “karena beberapa hari lalu Arga membuatku memahami sesuatu yang sangat penting tentang pernikahan kami.”

Senyumnya menghilang.

“Nad…”

“Tunggu, Mas. Aku belum selesai.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku mengambil ponselku dari meja.

“Aku kira kejutan terbesar malam ini akan datang dariku.”

Arga menatap layar ponsel di tanganku.

Wajahnya pucat.

“Tapi ternyata,” kataku, “ada seseorang yang sudah lebih dulu menyiapkan kejutan untuk seluruh keluarga.”

Saat itulah bel rumah berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Arga langsung berdiri.

“Siapa yang kamu undang?”

Aku menatapnya dan tersenyum.

“Kenapa panik, Mas?”

Aku berjalan menuju pintu.

Ketika pintu kubuka dan melihat siapa yang berdiri di sana sambil membawa sebuah amplop cokelat, aku sendiri hampir kehilangan kata-kata.

Karena ternyata perselingkuhan Arga bukan satu-satunya rahasia yang akan terbongkar malam itu.

Dan isi amplop tersebut bisa mengubah jauh lebih banyak daripada sekadar pernikahan kami.

Perempuan yang berdiri di depan pintu itu mengenakan blazer hitam sederhana. Usianya mungkin sekitar tiga puluh lima tahun. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tebal.

Aku tidak mengenalnya.

Tapi Arga jelas mengenalnya.

Wajah suamiku berubah seketika.

“Bu Sinta?”

Semua orang di meja makan menoleh kepadanya.

Perempuan itu mengangguk.

“Maaf datang malam-malam, Bu Nadia. Saya Sinta dari kantor notaris yang menangani dokumen rumah ini.”

Jantungku seperti berhenti sesaat.

“Dokumen rumah?”

Aku menoleh kepada Arga.

Rumah kami di Bintaro dibeli setahun sebelum kami menikah. Uang muka sebagian besar berasal dari tabunganku selama bekerja sebagai supervisor keuangan, sementara sisanya kami cicil bersama setelah menikah.

Setidaknya, itulah yang selama ini kupahami.

Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Ini urusan kantor. Besok saja.”

Bu Sinta tidak bergerak.

“Maaf, Pak. Saya justru datang karena Ibu Nadia perlu mengetahui ini sebelum besok pagi.”

Ruangan langsung sunyi.

Mama berdiri dari kursinya.

“Nadia, ada apa?”

“Aku juga belum tahu, Ma.”

Aku mempersilakan Bu Sinta masuk.

Arga menghadang.

“Nadia, jangan bikin drama di depan keluarga.”

Aku hampir tertawa.

Enam hari lalu, kalimat seperti itu mungkin membuatku mundur.

Sekarang tidak.

Aku menatapnya.

“Mas, perempuan yang tadi kamu panggil Bu Sinta datang membawa dokumen tentang rumah kita. Kenapa aku yang dianggap bikin drama?”

Papa Arga berdeham.

“Arga, duduk.”

“Papa nggak ngerti.”

“Makanya jelaskan.”

Arga tidak menjawab.

Bu Sinta menyerahkan amplop itu kepadaku.

“Saya sarankan Ibu membacanya sendiri.”

Tanganku sedikit gemetar ketika membuka perekatnya.

Di dalamnya ada beberapa fotokopi dokumen.

Aku membaca halaman pertama.

Namaku tercetak jelas.

Nadia Prameswari.

Alamat rumah kami.

Nomor sertifikat.

Lalu sebuah kalimat yang membuat kepalaku berdengung.

Ada permohonan terkait penggunaan rumah sebagai jaminan untuk fasilitas kredit usaha.

Aku mengangkat kepala.

“Apa ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku membalik halaman berikutnya.

Ada salinan KTP-ku.

Ada data pribadi.

Dan di bagian tanda tangan…

ada namaku.

Tetapi itu bukan tanda tanganku.

Aku mengenal setiap lengkungan tanda tanganku sendiri.

Yang di kertas itu terlihat mirip.

Sangat mirip.

Tapi salah.

“Arga.”

Suaraku terdengar lebih tenang daripada yang kurasakan.

“Apa ini?”

Arga mengusap wajah.

“Nadia, aku bisa jelaskan.”

Aku tertawa pendek.

Tentu.

Kalimat favorit semua orang yang baru ketahuan berbohong.

“Silakan.”

Dia melihat orang tuanya, lalu orang tuaku.

“Nggak harus di sini.”

“Justru harus di sini.”

Ibu Arga mulai gelisah.

“Arga, kamu pakai rumah ini untuk pinjaman?”

“Bukan begitu, Ma.”

Aku mengangkat dokumennya.

“Kalau bukan begitu, kenapa ada tanda tangan atas namaku?”

Arga diam.

Bu Sinta akhirnya menjelaskan bahwa beberapa hari sebelumnya kantornya menerima dokumen awal untuk proses pengikatan jaminan. Karena ada beberapa data yang perlu diverifikasi langsung dengan pemilik yang tercantum dalam dokumen, mereka mencoba menghubungiku.

Nomor telepon yang diberikan ternyata bukan nomorku.

Itu nomor lain.

Dan seseorang menjawab seolah-olah menjadi aku.

Bulu kudukku berdiri.

“Siapa?”

Bu Sinta menggeleng.

“Kami tidak bisa memastikan. Karena itu prosesnya kami tahan.”

Aku menatap Arga.

“Berapa?”

Dia memalingkan wajah.

“Berapa uang yang mau kamu pinjam dengan rumah ini?”

“Nadia…”

“Berapa?”

Bu Sinta menjawab dengan hati-hati.

“Nilai fasilitas yang diajukan sekitar Rp850 juta.”

Mama menutup mulutnya.

Papa langsung berdiri.

“Delapan ratus lima puluh juta?”

Arga membanting telapak tangannya ke meja.

“Aku bilang aku bisa jelaskan!”

Alya yang berada di kursi bayi terkejut dan mulai menangis.

Aku langsung menggendongnya.

“Jangan bentak-bentak di dekat anakku.”

Arga membeku.

Aku membawa Alya kepada Mama.

“Ma, tolong pegang sebentar.”

Lalu aku kembali ke meja.

“Sekarang jelaskan.”

Arga menarik napas panjang.

Katanya, seorang teman mengajaknya masuk ke bisnis distribusi bahan makanan untuk beberapa restoran di Jakarta Selatan. Awalnya usaha itu berjalan baik. Lalu salah satu mitra berhenti membayar, sementara mereka sudah telanjur mengambil stok dalam jumlah besar.

Arga membutuhkan modal.

“Aku cuma mau menyelamatkan investasi.”

“Dengan rumah kita?”

“Aku akan mengembalikannya.”

“Kenapa tidak bicara kepadaku?”

“Kamu baru melahirkan. Aku nggak mau bikin kamu stres.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi supaya aku tidak stres, kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Nggak ada yang memalsukan!”

“Lalu siapa yang menandatangani?”

Dia tidak menjawab.

Dan itulah saat aku tahu ada bagian lain yang belum dia ceritakan.

Papa mengambil dokumen dari tanganku.

“Kamu sadar ini bukan perkara kecil?”

Arga semakin defensif.

“Belum ada uang yang cair! Semuanya belum selesai.”

“Karena mereka menghentikannya,” jawabku. “Bukan karena kamu berubah pikiran.”

Dia terdiam.

Lalu aku teringat sesuatu.

Telepon.

Perempuan itu.

“Apa dia tahu?”

Arga menatapku.

“Siapa?”

“Perempuan yang kamu bilang akan kamu nikahi setelah menceraikanku.”

Ibu Arga langsung menoleh tajam.

“Apa?”

Arga pucat.

Aku belum sempat memutar apa pun.

Belum sempat menunjukkan bukti apa pun.

Satu kalimat itu saja sudah cukup membuat meja makan berubah seperti ruang sidang keluarga.

“Nadia, kamu salah paham.”

Kali ini aku benar-benar tertawa.

Aku mengambil ponsel.

“Aku mendengar sendiri.”

“Dengar apa?”

“Telepon kita belum terputus enam hari lalu.”

Wajah Arga kehilangan seluruh warnanya.

Aku melanjutkan.

“Aku dengar seorang perempuan tertawa. Aku dengar kamu bilang aku bikin kamu gila karena selalu bertanya kapan pulang. Aku dengar kamu bilang sudah muak denganku.”

Aku berhenti.

Kemudian menatap langsung ke matanya.

“Dan aku dengar kamu berjanji akan menceraikanku lalu menikahinya.”

Tidak ada seorang pun bergerak.

Ibu Arga menatap putranya seolah baru melihat orang asing.

“Arga…”

“Ma, bukan seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

“Aku sedang emosi.”

“Emosi sampai berjanji menikahi perempuan lain?”

Arga menoleh kepadaku.

“Kamu merekam aku?”

Pertanyaannya membuatku sadar sesuatu.

Dia bukan bertanya apakah aku salah dengar.

Dia bertanya apakah aku punya bukti.

Aku menjawab pelan.

“Kenapa? Ada sesuatu yang kamu takutkan?”

Dia langsung diam.

Aku belum memiliki rekaman lengkap. Yang kudengar saat itu terjadi secara langsung, dan aku terlalu syok untuk merekam semuanya.

Tetapi Arga tidak tahu itu.

Dan aku tidak berniat memberitahunya.

Aku duduk kembali.

“Siapa dia?”

“Nggak penting.”

“Kalau kamu mau menikahinya, seharusnya cukup penting.”

“Nadia, berhenti.”

“Namanya siapa?”

Dia tetap diam.

Tiba-tiba kakak Arga, Rani, yang sejak tadi hampir tidak bicara, meletakkan sendoknya.

“Namanya Laras?”

Kepala Arga langsung menoleh.

Aku menatap Rani.

“Kak Rani kenal?”

Wajah Rani berubah gugup.

“Cuma pernah dengar.”

“Dari siapa?”

“Teman kantor.”

Arga memotong.

“Rani, jangan ikut campur.”

Itu jawaban yang kubutuhkan.

Aku mendekati Rani.

“Kak, tolong lihat aku.”

Dia akhirnya menatapku.

“Kamu tahu?”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku nggak tahu mereka selingkuh.”

“Tapi kamu tahu Laras?”

Dia mengangguk perlahan.

Ternyata Laras bekerja di perusahaan yang beberapa bulan terakhir sering menjadi rekanan kantor Arga.

Rani pernah bertemu dengannya di acara perusahaan.

Dan dua bulan lalu, Rani melihat Arga dan Laras keluar dari sebuah restoran di kawasan Senopati.

Berdua.

Saat itu Arga mengatakan mereka baru selesai bertemu klien.

“Kakak percaya?”

Rani tidak menjawab.

“Kenapa nggak bilang ke aku?”

“Aku takut salah. Kamu baru melahirkan. Aku…”

Aku menutup mata.

Semua orang ternyata menggunakan alasan yang sama.

Aku baru melahirkan.

Seolah menjadi ibu baru membuatku terlalu rapuh untuk mengetahui kebenaran.

“Berapa lama?”

Arga berkata, “Sudah cukup.”

“Berapa lama kamu sama dia?”

“Nadia!”

“Jawab.”

Akhirnya dia mengembuskan napas.

“Empat bulan.”

Aku menghitung dalam kepala.

Empat bulan.

Berarti ketika aku memasuki bulan-bulan terakhir kehamilan, suamiku sudah mulai berhubungan dengan perempuan lain.

Aku merasa mual.

Namun sesuatu masih menggangguku.

Pinjaman Rp850 juta.

Hubungan dengan Laras.

Dua hal itu terasa terlalu dekat untuk menjadi kebetulan.

Aku menoleh kepada Bu Sinta.

“Bu, siapa yang mengurus pengajuan dokumen ini?”

Beliau tampak ragu.

“Saya hanya bisa menyampaikan bagian yang terkait dengan Ibu.”

“Apakah suami saya datang sendiri?”

Bu Sinta melihat Arga.

Lalu kembali kepadaku.

“Tidak.”

Arga langsung maju.

“Bu Sinta.”

“Dengan siapa?” tanyaku.

Bu Sinta menjawab.

“Seorang perempuan.”

Dadaku menegang.

“Namanya Laras?”

Bu Sinta tidak menjawab langsung.

Namun ekspresinya sudah cukup.

Arga mulai mengambil kunci mobil.

“Aku pergi.”

Papa Arga berdiri menghalangi.

“Kamu duduk.”

“Papa jangan ikut campur.”

“Kamu membawa nama istrimu untuk pinjaman ratusan juta dan sekarang mau kabur?”

“Aku nggak kabur!”

Aku menatap Arga.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak lagi merasa ingin menangis.

Aku justru mulai berpikir jernih.

Kalau Laras ikut mengurus dokumen rumah kami, hubungan mereka mungkin bukan sekadar perselingkuhan.

Ada uang di dalamnya.

“Bisnis itu milik siapa?”

Arga tidak menjawab.

“Bisnis distribusi yang kamu bilang tadi. Atas nama siapa?”

Diam.

“Arga.”

“Bukan urusanmu.”

Aku hampir tidak percaya.

“Rumahku mau kamu jadikan jaminan, tapi bisnisnya bukan urusanku?”

Bu Sinta perlahan membuka tas kerjanya.

“Sebenarnya ada satu hal lagi.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Beliau mengeluarkan selembar fotokopi.

“Ketika kami menemukan ketidaksesuaian nomor telepon, staf kami memeriksa ulang dokumen pendukung. Ada sesuatu yang tidak cocok.”

Beliau menyerahkannya kepadaku.

Itu salinan dokumen sebuah perusahaan.

Aku melihat nama perusahaan.

PT Langit Rasa Nusantara.

Aku tidak mengenalnya.

Kemudian mataku turun ke bagian nama pengurus.

Nama Arga ada di sana.

Tapi ada nama kedua.

Laras Ayuningtyas.

Aku merasa ruangan berputar.

“Mereka punya perusahaan bersama?” tanya Mama.

Arga buru-buru berkata, “Cuma urusan administrasi.”

Aku membaca lagi.

Tanggal pendiriannya membuatku berhenti.

Perusahaan itu didirikan tujuh bulan lalu.

Bukan empat bulan.

Aku mengangkat dokumen.

“Kamu bilang hubungan kalian baru empat bulan.”

Arga tidak menjawab.

“Perusahaan ini dibuat tujuh bulan lalu.”

Rani menatap adiknya.

“Waktu itu Nadia masih hamil.”

Arga mengepalkan tangan.

“Aku nggak pernah bilang perusahaan ini ada hubungannya dengan hubungan kami.”

Benar.

Dan justru itu masalahnya.

Aku mulai memahami bahwa perselingkuhan mungkin bukan awal dari semuanya.

Mungkin bisnis itu datang lebih dulu.

Aku membuka ponsel dan mencari nama perusahaan tersebut.

Tidak banyak informasi.

Namun aku menemukan sebuah alamat kantor di kawasan Kuningan.

Aku mengenal alamat itu.

Aku pernah melihatnya sebelumnya.

Di mana?

Aku memaksa ingat.

Kemudian semuanya kembali.

Tiga bulan lalu, aku pernah menemukan struk parkir di saku celana Arga saat hendak mencuci.

Gedung yang sama.

Saat kutanya, dia bilang ada rapat dengan klien.

Aku tidak curiga.

Saat itu aku sedang kurang tidur, sibuk dengan Alya, dan percaya pada suamiku.

Sekarang setiap kebohongan lama terasa seperti potongan puzzle yang mulai menemukan tempatnya.

Aku menatap Arga.

“Berapa uang kita yang sudah masuk ke perusahaan ini?”

“Nggak banyak.”

“Angka.”

“Nadia, ini bukan waktunya.”

“Justru ini waktunya.”

Aku membuka aplikasi bank di ponsel.

Kami punya rekening bersama untuk cicilan rumah dan kebutuhan keluarga.

Aku jarang memeriksanya secara detail sejak melahirkan karena Arga yang biasanya mengatur pembayaran bulanan.

Saldo yang muncul membuat napasku tertahan.

Jauh lebih rendah daripada seharusnya.

Aku membuka riwayat transaksi.

Ada transfer-transfer yang tidak kukenal.

Rp25 juta.

Rp40 juta.

Rp35 juta.

Rp60 juta.

Beberapa dikirim ke rekening perusahaan.

Sebagian ke rekening lain.

Totalnya lebih dari Rp300 juta selama beberapa bulan.

Tanganku gemetar.

“Ini apa?”

Arga melihat layar.

Dia tidak lagi mencoba menyangkal.

“Modal.”

“Uang tabungan keluarga kita?”

“Aku akan ganti.”

Aku berdiri.

“Dengan apa?”

“Kalau bisnisnya jalan—”

“Kalau?”

Suaraku pecah untuk pertama kalinya.

“Aku menghemat belanja. Aku menunda membeli banyak kebutuhan untuk diriku sendiri karena kamu bilang kita harus disiplin setelah punya anak. Aku pikir kita sedang membangun masa depan Alya.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Dan kamu mengirim ratusan juta ke perusahaanmu dengan perempuan itu?”

“Nadia…”

“Jangan sentuh aku.”

Tangannya langsung berhenti.

Mama membawa Alya ke kamar karena bayi kami mulai rewel.

Ketika pintu kamar tertutup, aku menghapus air mata.

“Mulai malam ini, jangan ambil keputusan apa pun memakai namaku.”

Arga menggeleng.

“Kamu nggak bisa langsung menghancurkan semuanya cuma karena satu kesalahan.”

“Satu?”

Aku menunjuk dokumen di meja.

“Perselingkuhan. Uang tabungan. Tanda tangan yang bukan milikku. Rumah yang mau dijadikan jaminan. Yang mana yang kamu sebut satu kesalahan?”

Dia tidak punya jawaban.

Lalu ponsel Arga bergetar.

Sekali.

Dia buru-buru membalik layar.

Gerakan kecil.

Terlalu cepat.

Aku melihatnya.

Begitu juga Rani.

“Kamu dapat pesan dari siapa?” tanyaku.

“Nggak ada.”

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini layar menyala cukup lama.

Aku hanya sempat membaca dua kata dari pratinjau pesan.

Mas, Nadia…

Arga langsung meraih ponselnya.

Tapi Rani lebih cepat.

Dia mengambilnya dari meja.

“Balikin!”

Arga berdiri.

Rani mundur.

“Aku cuma mau lihat siapa yang kirim.”

“Rani!”

Papa kembali berdiri di antara mereka.

“Cukup!”

Ponsel masih terkunci.

Namun notifikasi baru muncul.

Nama pengirim terlihat jelas.

Laras.

Aku merasa anehnya tenang.

“Buka.”

Arga menggeleng.

“Tidak.”

“Buka ponselmu.”

“Nggak.”

Aku mengangguk perlahan.

“Baik.”

Aku mengambil tasku.

“Aku tidak perlu melihatnya.”

Untuk pertama kalinya, Arga terlihat bingung.

Aku menatap Bu Sinta.

“Besok pagi saya datang ke kantor Ibu. Saya ingin memastikan tidak ada proses apa pun menggunakan persetujuan saya tanpa verifikasi langsung.”

“Tentu.”

Aku lalu menatap Papa dan Mama Arga.

“Maaf acara malam ini jadi seperti ini.”

Ibu Arga menangis.

Justru beliau yang memegang tanganku.

“Kamu nggak perlu minta maaf.”

Aku berbalik menuju kamar untuk mengambil Alya.

Tapi sebelum sampai, ponselku berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Sebuah pesan WhatsApp masuk.

Aku hampir mengabaikannya.

Kemudian muncul pesan kedua.

“Bu Nadia, saya tahu malam ini Ibu sedang bersama Pak Arga.”

Aku berhenti.

Pesan ketiga datang.

“Jangan percaya cerita tentang bisnis yang gagal itu.”

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Arga melihat wajahku.

“Siapa?”

Aku tidak menjawab.

Kemudian sebuah foto masuk.

Foto Arga dan Laras berdiri di sebuah ruangan kantor.

Di belakang mereka ada papan bertuliskan nama perusahaan.

Namun bukan itu yang membuat tanganku gemetar.

Di meja depan mereka terdapat beberapa map.

Salah satunya memiliki stiker dengan alamat rumah kami.

Pesan berikutnya muncul.

“Rumah Ibu bukan satu-satunya aset yang mereka coba gunakan.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

“Siapa kamu?” balasku.

Jawabannya datang hampir seketika.

“Saya mantan staf keuangan perusahaan mereka.”

Arga mendekat.

“Nadia, kasih lihat.”

Aku mundur.

“Jangan.”

Pesan berikutnya masuk.

“Saya berhenti setelah menemukan transaksi yang tidak masuk akal.”

Lalu sebuah file muncul.

Bukan foto.

Sebuah dokumen.

Nama filenya hanya:

DAFTAR INVESTOR.

Aku menatap Arga.

Dia menatap layar ponselku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa malu di wajahnya.

Ketakutan.

“Jangan buka itu,” katanya.

Ruangan membeku.

Aku menatap suamiku.

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab.

Ponselku kembali berbunyi.

Mantan staf itu mengirim satu pesan terakhir.

“Bu Nadia, sebelum Ibu membuka file tersebut, ada satu hal yang harus Ibu tahu. Nama Ibu ada di dalamnya, tetapi bukan sebagai pemilik rumah.”

Aku menelan ludah.

“Lalu sebagai apa?”

Tiga titik muncul di layar.

Hilang.

Muncul lagi.

Kemudian sebuah pesan masuk.

Aku membacanya.

Dan tanganku langsung berhenti di atas tombol untuk membuka dokumen.

Karena kalau orang itu mengatakan yang sebenarnya, Arga bukan hanya berencana meninggalkanku.

Dia sudah menggunakan identitasku untuk sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku mengangkat kepala.

“Arga…”

Dia tidak berani menatapku.

Aku menyentuh file DAFTAR INVESTOR.

Dan tepat sebelum dokumen itu terbuka, Arga berkata satu kalimat yang membuat seluruh keluarganya kembali terdiam.

“Nadia, kalau kamu buka file itu, kamu akan tahu kenapa sebenarnya aku menikahimu.”

Jari tanganku membeku.

Ternyata dua tahun pernikahan kami mungkin menyimpan kebohongan yang dimulai jauh sebelum Laras muncul.

Dan aku tinggal satu sentuhan lagi dari mengetahui semuanya.