Lily akhirnya tertidur setelah hampir satu jam aku menggendong dan menenangkannya. Jari-jari kecilnya menggenggam selimut kuning kesayangannya ketika suara David menggema dari lorong.
“Claire!”
Dia terkejut dan langsung mulai menangis. Aku keluar dari kamar bayi.
“Pelankan suaramu. Kamu membangunkan bayi.”
David berdiri di ruang tamu dengan kemeja kerja kusut, ponselnya digenggam erat di satu tangan.
“Apa yang kamu lakukan dengan rekening bersama kita?”
“Maksudmu apa?”
“Ibu sedang makan siang bersama teman-temannya. Kartu debitnya ditolak, dan gaji yang biasanya masuk langsung ke rekening tidak masuk.”
Tiga tahun sebelumnya, David meyakinkanku untuk menambahkan ibunya, Susan, sebagai pengguna resmi rekening tabungan rumah tangga kami. Dia bilang itu akan membantu setelah Lily lahir. Susan bisa membeli kebutuhan rumah, mengambil obat, dan membayar tagihan kapan pun aku sedang sibuk.
Awalnya, dia memang melakukan hal itu.
Lalu jumlah pengeluaran mulai membesar.
Belanja kebutuhan rumah mulai disertai kosmetik mahal. Tagihan restoran muncul setelah perjalanan ke apotek. Entah bagaimana, membeli popok bayi selalu diikuti dengan biaya tas baru dan perawatan salon. Setiap kali aku mempertanyakannya, David selalu membela ibunya.
“Ibu lebih mengerti soal uang daripada kamu.”
“Ibu sedang membantu keluarga kita.”
“Kamu harusnya berterima kasih.”
Sementara itu, aku memakai sepatu kerja yang sudah usang dan memeriksa saldo rekening sebelum membeli susu bayi. Suatu kali, kartuku ditolak saat aku sedang membayar popok di kasir. Sore yang sama, Susan mengunggah foto di media sosial saat dirinya minum sampanye bersama teman-temannya.
David menyebutnya hanya kebetulan.
Aku sudah berhenti percaya pada kebetulan sejak berbulan-bulan lalu.
“Aku membuka rekening baru,” kataku. “Gajiku masuk ke sana sekarang.”
Ekspresinya langsung berubah keras.
“Kamu memindahkan gajimu tanpa memberitahuku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena ibumu menghabiskan uang itu.”
“Dia menggunakan uang itu untuk keluarga.”
“Dia menggunakannya untuk mentraktir makan siang teman-temannya.”
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Susan muncul di layar kunci.
Kamu bilang uangnya masuk pagi ini. Urus sekarang.
David langsung membalikkan ponselnya menghadap meja.
“Aku juga mendapat promosi,” kataku.
Matanya langsung tertuju kepadaku.
“Kamu mendapatkannya?”
“Iya. Manajer Akun Senior.”
“Berapa kenaikan gajinya?”
“30 persen.”
Dulu, aku mungkin akan menunggu dia mengucapkan selamat atas pencapaianku. Namun malam itu, aku hanya ingin melihat apakah dia peduli dengan kerja kerasku atau hanya peduli pada uangnya.
“Kamu menyembunyikannya dariku,” katanya.
“Aku belum mengumumkannya.”
“Kamu memindahkan pembayaran gaji karena ingin menyimpan kenaikan itu untuk dirimu sendiri.”
“Aku memindahkannya karena aku ingin punya kendali atas uang hasil kerja kerasku sendiri.”
“Kita sudah menikah. Keuangan kita harus bersama.”
“Kalau begitu tunjukkan milikmu.”
Dia terdiam.
“Apa?”
“Tunjukkan kepadaku ke mana tepatnya gajimu pergi setiap bulan.”
“Aku membayar tagihan.”
“Tidak, David. Aku yang membayar cicilan rumah, listrik, air, belanja kebutuhan, biaya penitipan anak, dan asuransi kesehatan Lily. Bulan lalu, aku bahkan membayar asuransi mobilmu.”
“Aku tetap berkontribusi.”
“Berapa banyak?”
Rahangnya mengeras.
“Aku adalah laki-laki di keluarga ini. Aku yang menanggung semuanya.”
“Tidak. Kamu hanya menyebut dirimu sebagai penyedia, sementara kenyataannya aku yang menyediakan hampir semuanya.”
Ponselnya bergetar lagi.
Kali ini, notifikasi dari bank muncul.
Transfer gagal. Rekening sementara dibatasi. Hubungi bagian penipuan bank.
Wajahnya langsung kehilangan warna.

Ponsel David yang tergeletak di atas meja kaca bergetar sekali lagi, bunyinya mendengung panjang dan kering di tengah gemericik hujan di luar jendela. Layar ponselnya menyala, menampilkan logo merah terang dari pihak bank bersama teks konfirmasi lanjutan: Penyelidikan atas transaksi mencurigakan sedang berjalan. Akses perbankan daring dinonaktifkan.
David menatap layar itu tanpa berkedip. Ujung jarinya gemetar saat ia mencoba menyentuh tombol buka kunci, tetapi sistem menolaknya mentah-mentah.
“Claire… apa maksudnya ini?” suaranya pecah, nada arogan yang tadi digunakannya mendadak mengempis menjadi kepanikan tipis yang kikuk. “Kenapa rekeningnya masuk ke bagian penipuan? Di sana ada sisa uang tabungan operasional!”
Aku berjalan tenang ke arah sofa, meluruskan ujung selimut rajut yang sedikit miring, lalu duduk. Napas Lily di dalam kamar sudah kembali teratur, dengkuran halusnya samar-samar terdengar menembus celah pintu kayu. Rasa damai dari suara napas putriku itu kontras sekali dengan kekacauan yang merayapi wajah suamiku.
“Kemarin lusa, waktu kamu tidur siang setelah pulang main golf bersama teman-teman kantormu,” kataku perlahan, menikmati setiap suku kata yang keluar dari mulutku, “aku mencetak mutasi rekening enam bulan terakhir. Semuanya, David. Dari lembar pertama sampai lembar terakhir.”
David menelan ludah. “Terus? Itu rekening rumah tangga. Ibu berhak menggunakannya kalau ada keperluan mendadak.”
“Perjalanan akhir pekan ke vila di Puncak bersama geng arisannya senilai delapan juta itu keperluan mendadak?” tanyaku sambil menatap lurus ke matanya. “Atau perawatan botoks di klinik kecantikan Menteng senilai dua belas juta minggu lalu? Kamu sebut itu nafkah keluarga?”
David melangkah maju, tangannya terkepal di samping paha. “Ibu sudah tua, Claire! Dia membesarkanku sendirian setelah Ayah meninggal. Kalau dia ingin menikmati hidupnya sedikit di masa tuanya, apa salahnya kita membahagiakannya? Uang itu bisa dicari lagi!”
“Uang itu uangku, David!” potongku, nada suaraku tajam seperti silet meski volumenya tetap terjaga agar tidak membangunkan Lily. “Bukan uangmu. Bukan uang keluargamu. Uang hasil lemburku sampai jam dua pagi, uang bonus akhir tahunku yang tidak pernah kunikmati sepeser pun karena kalian selalu punya alasan untuk mengurasnya!”
Pintu depan mendadak terdorong terbuka dengan kasar, diiringi derak engsel yang menjerit.
Susan berdiri di ambang pintu dengan payung hitam besar yang meneteskan air ke lantai marmer ruang tamu. Mantel kasmirnya basah di bagian bahu, tas bahu kulitnya tergantung miring, dan riasan wajahnya tampak luntur di sekitar kelopak mata. Matanya berkilat marah saat ia mengabaikan kesopanan dan melangkah masuk tanpa melepas sepatunya yang basah.
“David!” suara Susan melengking memenuhi ruangan, kasar dan menuntut. “Ibu harus membayar restoran itu pakai uang tunai darurat yang Ibu simpan di dompet! Pelayan di sana menatap Ibu seperti melihat gembel! Kenapa kartu debitnya bisa ditolak?! Kamu bilang uang gaji menantumu sudah otomatis terpotong ke rekening itu setiap tanggal dua puluh lima!”
David melirik ke arahku dengan cemas, lalu mencoba menenangkan ibunya. “Ibu, tenang dulu… ini ada kesalahpahaman teknis dengan pihak bank—”
“Tidak ada kesalahpahaman teknis, Susan,” potongku tenang sambil berdiri dari sofa.
Susan menoleh ke arahku, tatapannya penuh rasa jijik yang selama tiga tahun ini berusaha disamarkannya di balik senyum manis palsu. “Oh, kamu ada di sini, Claire. Baguslah. Cepat buka aplikasi ponselmu dan transfer dua puluh juta sekarang juga ke rekening pribadi Ibu. Teman-teman Ibu masih menunggu di kafe sebelah, Ibu bilang pada mereka kalau sistem jaringan bank yang sedang rusak.”
Aku menatap wanita paruh baya itu dari atas ke bawah. Sepatu hak tingginya meninggalkan jejak lumpur kotor di atas karpet ruang tamuku—karpet yang kubeli dengan cicilan gajiku sendiri.
“Tidak akan ada satu rupiah pun yang keluar dari rekeningku untukmu, Susan,” ucapku datar.
Susan mendengus sinis, melipat tangannya di dada. “David, lihat kelakuan istrimu! Begini caranya menghormati orang tua yang sudah merelakan waktunya untuk mengurus rumah tangga kalian? Aku ini membantu menjaga anak kalian! Tanpa aku, kalian berdua tidak akan bisa kerja dengan tenang!”
“Membantu?” Aku tertawa kecil, suara tawa yang begitu dingin hingga membuat Susan terdiam sejenak. “Kamu menyewa pengasuh harian seharga dua juta sebulan dari uang belanja untuk menjaga Lily, sementara kamu sendiri pergi arisan dan belanja seharian. Lalu kamu menagih sepuluh juta ke rekening bersama dengan alasan ‘biaya susu dan popok premium’. Kamu pikir aku bodoh? Pengasuh itu yang menceritakan semuanya padaku minggu lalu karena kamu memotong gajinya secara sepihak.”
Wajah Susan seketika memucat, matanya melirik liar ke arah David. “David… itu bohong. Anak ini mengarang cerita karena tidak suka pada Ibu!”
“Aku sudah melaporkan seluruh penarikan tidak wajar yang kamu lakukan ke divisi penipuan bank pagi ini,” lanjutku tanpa memberi jeda bagi Susan untuk mengelak. “Aku melampirkan rekaman CCTV toko, struk belanjaan, dan bukti bahwa kartu debit yang kamu pegang adalah kartu fasilitas sekunder yang tidak sah karena kamu memalsukan tanda tanganku di formulir penambahan pengguna tiga tahun lalu.”
“Claire!” bentak David panik, menyadari betapa jauhnya situasi ini telah bergulir. “Kamu melaporkan ibuku ke polisi?!”
“Bukan polisi, David. Setidaknya, belum,” balasku santai. “Pihak audit internal bank yang akan memeriksa aliran dananya terlebih dahulu. Tapi karena kamu yang memasukkan namanya secara ilegal ke akun perusahaan tempat gajiku bernaung, kantor pusatku juga ikut turun tangan memeriksa dugaan penggelapan dana tunjangan keluarga.”
Kata kantor pusat membuat tubuh David membeku kaku. David bekerja di anak perusahaan tempatku bekerja; posisinya sebagai supervisor lapangan sangat rentan terhadap penyelidikan etika dan kepatuhan finansial.
“Kamu… kamu gila, Claire,” bisik David dengan bibir gemetar. “Kamu bisa menghancurkan karierku! Kamu bisa membuatku dipecat!”
“Kamu sendiri yang menghancurkannya saat memutuskan untuk memperlakukanku seperti mesin penarik uang tunai pribadi untuk membiayai gengsi keluargamu,” jawabku tegas.
Aku berjalan menuju meja kerja kecil di dekat jendela, mengambil sebuah map cokelat tebal yang sudah kusiapkan sejak kemarin malam, lalu melemparkannya ke atas meja kopi di depan David dan Susan. Suara map yang mendarat di atas kaca terdengar berat dan final.
David menatap map itu dengan ragu. “Apa lagi ini?”
“Gugatan cerai, tuntutan hak asuh penuh atas Lily, dan rincian kewajiban pengembalian dana sebesar dua ratus empat puluh juta rupiah yang ditarik secara tidak sah dari tabunganku selama tiga tahun terakhir,” kataku. “Rumah ini berdiri di atas tanah keluarga kandungku dan cicilan bulanannya lunas atas namaku. Malam ini juga, bawa ibumu dan semua barang-barang pribadimu keluar dari pintuku.”
Susan menjerit histeris, mencoba meraih lengan putranya. “David! Jangan diam saja! Kamu laki-laki di rumah ini! Usir dia! Ini rumahmu juga!”
David menatap map cokelat itu, lalu beralih menatapku. Di matanya, aku melihat kerapuhan seorang pria yang selama ini hanya bersembunyi di balik bayang-bayang topeng dominasi palsu. Tidak ada lagi kebanggaan, tidak ada lagi arogansi, yang tersisa hanyalah kepanikan seorang parasit yang baru saja kehilangan inangnya.
“Claire, tolong… kita bicarakan ini baik-baik,” rintih David, suaranya tercekat di tenggorokan. “Pikirkan Lily. Lily butuh seorang ayah.”
Aku menatapnya dengan tatapan hampa, rasa iba yang dulu sempat ada di hatiku kini telah mati sepenuhnya.
“Lily butuh masa depan yang stabil, bukan seorang ayah yang tega membiarkan anaknya hampir kehabisan susu formula hanya demi menjaga harga diri ibunya di hadapan teman-teman sosialitanya,” balasku pelan namun menusuk. “Kalian punya waktu satu jam untuk mengepak pakaian kalian sebelum pihak keamanan kompleks datang membantu mengeluarkan barang-barang kalian.”
Hujan di luar semakin deras, membilas kaca jendela dengan suara gemuruh yang mantap. Di dalam keheningan kamar bayi di belakangku, Lily tertidur lelap tanpa tahu bahwa malam ini, ibunya baru saja meruntuhkan tirai kebohongan yang menjerat hidup mereka dan merebut kembali kendali atas masa depan mereka berdua.
