BAGIAN 1
“Ibuku sudah berjuang sepanjang hidupnya untuk membesarkan kami. Dia berhak tinggal di rumah baru di Jakarta Selatan agar bisa menikmati masa tuanya! Sedangkan ibumu yang sakit, lebih baik dimasukkan saja ke panti lansia di Bogor. Di sana ada yang merawatnya dan dia tidak akan menjadi beban bagi kita berdua.”
Saat suamiku, Adrian, mengatakan itu dengan penuh kebanggaan di meja makan, seluruh keluarganya berada di sekelilingnya.
Aku bisa melihat jelas senyum puas dan rasa kemenangan di wajah mereka yang bahkan tidak berusaha mereka sembunyikan.
Aku tidak berteriak.
Aku tidak membuat keributan.
Aku tidak memohon.
Sebaliknya, aku tersenyum, membuatkan teh hangat, lalu dengan sopan menyerahkannya kepada ibu mertuaku, Bu Tati, sambil berkata:
“Bu, selamat atas rumah baru Ibu.”
Mereka mengira aku sudah menyerah.
Mereka mengira mereka sudah memegang leherku.
Namun keesokan harinya, ketika seorang agen properti datang bersama empat kelompok calon pembeli yang membawa cek bank untuk memeriksa seluruh rumah, barulah Adrian mulai panik dan memohon.
Rumah yang dibangun dari hasil kerja keras orang tuaku sendiri sebelum aku menikah dengannya, dengan begitu mudahnya diberikan suamiku kepada ibunya.
Lalu apa yang kulakukan?
Aku langsung menjualnya dengan harga terendah agar cepat berpindah tangan.
Sekarang mari kita lihat siapa yang sebenarnya tidak punya malu.
Suara benturan alat makan di meja memecahkan keheningan makan malam.
Adrian.
Tatapannya keras, dagunya terangkat tinggi, seperti seorang raja yang sedang bersiap mengumumkan keputusan besar.
Tiga pasang mata langsung mengarah kepadaku:
Suamiku.
Ibu mertuaku, Bu Tati.
Dan adik perempuan termuda Adrian, Marisa, yang sudah berusia 24 tahun tetapi tidak bekerja dan masih hidup dari keluarga.
Aku masih mengunyah nasi ketika Adrian mulai berbicara.
“Salsa, aku sudah lama memikirkan hal ini. Dan sebagai kepala keluarga, aku sudah membuat keputusan.”
Dia menyilangkan tangan, lalu bersandar di kursinya seolah-olah dia adalah orang yang paling berjasa dalam rumah tangga kami.
“Rumah baru tiga kamar kita di kawasan elit Jakarta Selatan yang bulan depan selesai serah terima… sudah kuputuskan bahwa Ibu yang akan tinggal di sana bersama Marisa.”
Aku tetap diam.
Aku hanya menatapnya sambil perlahan meminum air.
Bu Tati langsung mulai berakting.
Dia menundukkan kepala, mengambil sapu tangan lusuh dari kantong bajunya, lalu pura-pura menyeka air mata dari mata yang sebenarnya kering.
“Aduh, Nak… Ibu jadi tidak enak dengan Salsa,” bisiknya dengan suara penuh kepura-puraan.
“Seumur hidup Ibu hanya tinggal di rumah kontrakan dan rumah sederhana di kampung. Nanti menantu Ibu berpikir Ibu ikut campur dalam kehidupan kalian.”
Marisa langsung menyela sambil melirikku dengan sinis.
“Ibu, jangan begitu! Ibu pantas mendapatkan itu! Kak Adrian memang anak yang sangat baik dan bertanggung jawab! Ibu sudah berjuang keras membesarkannya saat sekolah, jadi sudah sepantasnya Ibu menikmati masa tua di perumahan mewah dan nyaman!”
Marisa menatapku dengan senyum mengejek.
“Kak Salsa, jangan pelit ya. Coba pikirkan pengorbanan Ibu. Lagipula kita sudah keluarga. Apa pun yang dimiliki Kak Adrian, keluarga dia juga berhak menikmatinya.”
Adrian menggenggam tangan ibunya dengan penuh kebanggaan.
“Bu, masalah ini sudah selesai! Tidak ada siapa pun yang bisa menghalangi keputusan saya tentang rumah ini!”
Dia menatapku lurus.
Sebuah perintah.
Tanpa kasih sayang.
Tanpa sedikit pun meminta pendapatku.
“Dan untuk Tante Elena,” lanjut Adrian, merujuk kepada ibuku yang menderita gagal ginjal kronis stadium akhir dan harus menjalani cuci darah tiga kali seminggu,
“karena kondisinya sudah lemah dan sering keluar masuk rumah sakit, aku sudah mencari fasilitas perawatan khusus di Bogor. Lebih baik di sana, Salsa. Ada perawat 24 jam. Itu lebih cocok untuk beliau daripada menjadi gangguan dan beban bagi kita di rumah baru.”
Jantungku seakan berhenti mendengar kalimat itu.
Beban?
Ibuku sendiri yang mencurahkan darah dan keringat agar aku bisa menyelesaikan kuliah dan menjadi direktur perusahaan yang sukses?
Rumah yang dimaksud Adrian—sebuah properti eksklusif di kawasan premium Jakarta Selatan dengan nilai lebih dari 20 miliar rupiah—dibeli oleh orang tuaku sendiri tiga tahun sebelum aku menikah dengannya.
Sudah lunas.
Atas namaku.
Secara hukum, itu adalah harta bawaan milikku.
Tidak ada satu rupiah pun yang diberikan Adrian, Bu Tati, atau siapa pun dari keluarga mereka.
Dan sekarang ibuku sendiri, orang yang mengumpulkan uang untuk membeli rumah itu, ingin dia buang ke panti lansia hanya agar keluarga malas dan sombongnya bisa tinggal di sana?
“Salsa,” tambah Adrian, seolah-olah apa yang dia lakukan adalah sebuah kebaikan besar.
“Jangan khawatir. Aku akan menjadi menantu yang baik. Aku akan membayar setengah biaya bulanan fasilitas perawatan Ibu Elena. Aku melakukan ini demi ketenangan keluarga kita.”
Aku hampir tertawa.
Sebuah tawa kecil yang membuat mereka bertiga berhenti.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Adrian dengan dahi berkerut, jelas terkejut melihat reaksiku.
Aku berdiri dari kursiku.
Aku berjalan menuju dispenser, membuat teh, lalu membawanya ke depan Bu Tati.
Aku sedikit membungkuk sambil tersenyum.
“Ibu, silakan diminum. Mari kita bersulang untuk rumah baru Ibu. Semoga Ibu bahagia tinggal di sana.”
Bu Tati terdiam.
Dia dan Marisa saling berpandangan.
Mereka mengira aku takut ditinggalkan suamiku, sehingga aku menyerah begitu saja.
“Ter-terima kasih, Salsa… Ibu tahu kamu memang menantu yang baik,” jawab Bu Tati dengan suara bergetar sambil meminum tehnya.
Aku naik ke kamar.
Begitu pintu tertutup, aku langsung mendengar tawa dan sorakan keras dari bawah.
“Aku sudah bilang, Kak! Istrimu pasti menyerah! Dia tidak bisa melakukan apa-apa kalau kamu sudah mengambil keputusan!”
Dengan tenang, aku mengambil Sertifikat Hak Milik (SHM) asli dari bagian paling bawah brankas pribadiku.
Aku mengambil ponsel dan menelepon agen properti terpercaya.
“Pak Rudi, segera pasang properti di kawasan Jakarta Selatan itu ke pasar. Saya mau jual cepat. Turunkan harga sepuluh persen di bawah harga pasar. Yang penting pembeli tunai yang bisa tanda tangan dan membayar dengan cek bank besok pagi, langsung berikan.”
Keesokan paginya, tepat pukul delapan, saat Adrian sedang bercukur di kamar mandi dan Bu Tati mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus besar, bel rumah berbunyi.
Ketika aku membuka pintu, agen properti berdiri di sana bersama empat calon pembeli kaya yang membawa cek bank, siap membeli seluruh properti.
Saat Adrian mendengar dari lorong bahwa rumah itu sedang dijual, wajahnya langsung berubah gelap.
Dia menghampiriku dengan marah dan mencengkeram lenganku sampai hampir menyakitkan.
“Salsa! Apa gila kamu?! Kamu menjual rumah ini?! Kamu mau membuatku jadi gelandangan dan membuang seluruh keluargaku ke jalan?!”
Aku menatap langsung matanya yang penuh amarah.
Suaraku lebih dingin daripada es.
“Adrian, sepertinya kamu lupa bahwa rumah ini milikku. Dan tidak akan pernah menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan warisan orang tuaku.”

Cengkeraman Adrian di pergelangan tanganku mengeras. Urat-urat di pelipisnya menonjol, sebagian busa cukur masih menempel di bawah cuping telinga kirinya, memutih seperti kapur di kulitnya yang merah padam.
“Lepaskan tanganmu, Adrian,” ucapku sangat pelan. Suaraku tidak bergetar. Datar, dingin, memotong udara pagi yang mulai menghangat di lobi depan. “Ada saksi di sini. Sekali lagi kamu menekan pergelanganku, laporan visum kekerasan dalam rumah tangga akan masuk ke Polres Metro Jakarta Selatan sebelum jam makan siang.”
Adrian tersentak. Refleks tangannya mengendur, matanya liar melirik ke arah empat pria berpakaian rapi dan Pak Rudi yang berdiri mematung di dekat pintu ganda setinggi tiga meter itu. Salah satu calon pembeli—pria Tionghoa paruh baya berkacamata tanpa bingkai yang membawa map kulit hitam—hanya melipat tangan di dada, memperhatikan sandiwara ini dengan tatapan dingin orang bisnis yang sudah terbiasa melihat sengketa keluarga.
“Salsa, masuk ke dalam! Kita bicara di dalam sekarang juga!” bisik Adrian mendesis, giginya bergemeletuk. “Pak Rudi, tolong tinggalkan tempat ini! Ada salah paham internal. Rumah ini tidak dijual! Istri saya sedang emosional!”
“Rumah ini milik Nyonya Salsabila Prasetyo secara hukum tunggal, Tuan Adrian,” suara Pak Rudi menyela, tenang tapi tegas. Sebagai agen senior yang menangani aset-aset puluhan miliar di koridor Simprug dan Pondok Indah, dia bukan orang yang gampang digertak oleh pria yang bahkan belum sempat membersihkan sisa krim cukur di lehernya. “Sertifikat Hak Milik nomor 04182 atas nama Salsabila Prasetyo, tanggal penerbitan tiga tahun sebelum akta perkawinan Anda tercatat. Tidak ada klausul persetujuan pasangan yang dibutuhkan dalam pelepasan hak ini. Berkas bersih, bebas sengketa, dan verifikasi BPN sudah selesai tadi malam jam dua puluh dua.”
Dari arah tangga melengkung marmer di belakang kami, suara sandal terseret-seret terdengar tergesa-gesa.
“Ada apa ini ribut-ribut?! Adrian! Siapa orang-orang asing ini masuk ke rumah kita?!”
Bu Tati muncul di bordes tangga. Dia mengenakan daster batik barunya, rambutnya masih digulung rol plastik murah, tapi di tangannya dia sudah memegang map plastik transparan berisi brosur toko perabot impor yang semalam dia kumpulkan bersama Marisa. Di belakangnya, Marisa mengekor dengan piyama satin merah muda, wajahnya yang belum dicuci memancarkan arogansi yang mendadak buyar saat melihat kerumunan orang di bawah.
“Mas Adrian! Ini siapa sih?! Mengotori lantai saja, baru dipel Mbak tadi pagi!” cerocos Marisa, matanya memicing menatap para tamu. “Kalian keluar sana! Rumah ini sebentar lagi mau ditempati keluarga besar kami! Jangan sembarangan masuk!”
Pria berkacamata tanpa bingkai—Pak Hendarto, pemilik jaringan klinik swasta ternama—mengeluarkan pulpen berlapis emas dari saku jasnya. Dia bahkan tidak melirik Marisa. Tatapannya tertuju lurus padaku.
“Ibu Salsabila, sesuai kesepakatan lewat telepon tadi pagi jam tujuh. Delapan belas miliar rupiah, tunai keras. Saya bawa bilyet giro dan cek kasir Bank Mandiri yang sudah divalidasi notaris rekanan saya, Pak Robert, yang sedang menunggu di mobil luar. Jika kita tanda tangani Pengikatan Perjanjian Jual Beli (PPJB) dan Akta Jual Beli (AJB) langsung di kantor notaris jam sepuluh pagi ini, dana efektif masuk ke rekening Ibu sebelum jam dua belas.”
Delapan belas miliar.
Dua miliar di bawah harga pasar wajar untuk properti seluas 650 meter persegi dengan kolam renang pribadi dan lantai marmer Italia ini. Tapi diskon sepuluh persen itu adalah harga yang sangat murah untuk membeli kebebasan mutlak dan melihat wajah keluarga parasit ini runtuh berkeping-keping di depan mataku sendiri.
“Delapan belas miliar?!” jerit Bu Tati dari tangga. Kakinya terpeleset satu anak tangga, beruntung tangannya sigap mencengkeram railing besi tempa. Wajahnya yang keriput seketika memutih seperti kain kafan. “Adrian! Rumah ini mau dijual delapan belas miliar?! Kamu gila ya?! Itu rumah Ibu! Kamu sudah janji semalam rumah ini buat Ibu sama Marisa!”
“Ibu, diam dulu!” bentak Adrian, suaranya pecah karena panik yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia menatapku dengan mata merah, urat lehernya menegang liar. “Salsa! Kamu nggak bisa lakukan ini! Rumah ini aset masa depan kita! Kalau kamu jual delapan belas miliar, kamu rugi dua miliar cuma gara-gara emosi sesaat! Pikir pakai otak dinginmu!”
“Aku berpikir sangat jernih, Adrian,” balasku sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Senyum tipis yang sama dari semalam kembali terbit di bibirku. “Dua miliar itu biaya buang sampah. Sangat sepadan untuk memastikan kamu dan keluargamu tidak pernah punya tempat berpijak di atas warisan ayahku.”
“Kak Salsa jahat banget sih!” Marisa turun terburu-buru, menuruni tangga sambil menudingkan jarinya tepat ke depan wajahku. “Kakak tega ya bikin Mas Adrian malu begini di depan orang?! Ibu sudah pamer ke seluruh arisan keluarga di Solo tadi malam kalau Ibu mau pindah ke Jaksel bulan depan! Ibu sudah janjiin kamar paviliun belakang buat Tante Wati dan keponakan-keponakan Mas Adrian kalau liburan ke Jakarta! Mau ditaruh di mana muka Ibu?!”
Aku menatap jari Marisa yang berjarak sepuluh sentimeter dari hidungku.
Tanpa membuang waktu, aku melangkah maju satu langkah. Gestur sederhanaku membuat Marisa tersentak kaget dan menurunkan tangannya secara refleks.
“Muka ibumu bukan urusanku, Marisa,” ucapku dingin, menusuk langsung ke pupil matanya. “Kalau ibumu mau pamer, suruh anak laki-lakinya yang hebat ini membelikannya rumah pakai gajinya sendiri. Berapa gaji manajer operasionalmu sekarang, Adrian? Tiga puluh lima juta sebulan? Setelah dipotong cicilan sedan Eropa yang uang mukanya kupinjamkan dan sampai sekarang belum kamu bayar kembali, sisa berapa? Cukup buat sewa rumah petak di pinggiran Depok?”
Wajah Adrian seketika terbakar rasa malu yang luar biasa. Di hadapan para taipan properti yang berdiri tenang di ruang tamu, statusnya sebagai ‘manajer sukses’ yang selama ini dia bangga-banggakan di depan keluarga besarnya dikuliti habis sampai ke tulang.
“Salsa, tutup mulutmu!” geram Adrian, napasnya memburu. “Kamu mempermalukan suamimu sendiri di depan orang luar!”
“Kamu yang mempermalukan dirimu sendiri saat berani membuka mulutmu semalam dan menyebut ibuku beban,” potongku tanpa menaikkan nada suara sedikit pun. Setiap kata terucap dengan artikulasi yang tajam dan berat. “Ibuku yang menjual perhiasan simpanannya untuk membiayai pengobatan stroke ayahku, ibuku yang memilih makan tempe goreng tiap hari agar perusahaan keluarga kami bisa berkembang sampai bisa membeli tanah ini sebelum aku mengenal pria tak tahu diri sepertimu. Dan kamu… dengan mulut kotormu itu, berani menyuruh ibuku masuk panti jompo di Bogor?!”
Bu Tati berjalan mendekat, mencoba memasang wajah memelas yang biasa dia pakai untuk memanipulasi Adrian. Air mata buayanya mulai mengalir membasahi pipinya yang kendur.
“Salsa… Nak… Ibu minta maaf kalau omongan Adrian semalam menyinggung perasaanmu… Namanya juga anak laki-laki ingin berbakti pada orang tuanya. Jangan begini, Nak. Ibu kan mertuamu, surga Adrian ada di bawah telapak kaki Ibu… Kamu nggak takut kualat sama mertua?”
“Surga Adrian urusan dia dengan Tuhannya, Bu Tati,” jawabku menatapnya tanpa secuil pun rasa kasihan. “Tapi sertifikat rumah ini urusan perdata saya dengan Badan Pertanahan Nasional. Di atas kertas legalitas republik ini, nama Ibu tidak ada. Dan surga yang Anda banggakan itu tidak berlaku di hadapan akta notaris.”
Aku menoleh ke arah Pak Hendarto dan Pak Rudi.
“Pak Hendarto, berkas PPJB sudah siap di mobil Pak Robert?”
“Sudah lengkap, Bu Salsabila. Tinggal tanda tangan dan verifikasi transfer RTGS,” sahut Pak Hendarto dengan senyum puas seorang investor yang baru saja mendapatkan durian runtuh.
“Bagus. Kita berangkat ke kantor notaris sekarang juga.”
“TIDAK! SAYA TIDAK IZINKAN!” Adrian berteriak histeris. Dia bergerak cepat, mencoba berdiri menghalangi pintu utama, membentangkan kedua tangannya seperti orang gila. “Pak Rudi, kalau Anda berani melanjutkan transaksi ini, saya akan tuntut kantor properti Anda ke pengadilan! Ini harta gono-gini! Rumah tangga kami masih sah!”
Pak Rudi hanya menghela napas panjang, mengeluarkan sebuah dokumen tipis dari tas selempangnya lalu menyodorkannya ke dada Adrian.
“Tuan Adrian, ini surat perjanjian pra-nikah (prenuptial agreement) yang Anda dan Nyonya Salsabila tanda tangani di hadapan Notaris Megawati S.H. empat tahun lalu. Pemisahan harta murni secara mutlak, mencakup seluruh aset bawaan, warisan, dan pendapatan usaha yang diperoleh masing-masing pihak baik sebelum maupun selama perkawinan berlangsung. Tidak ada yang namanya harta gono-gini dalam pernikahan Anda.”
Adrian terpaku. Tangannya yang memegang kertas itu gemetar hebat.
Dia lupa.
Empat tahun lalu, ketika dia masih seorang supervisor rendahan yang memohon-mohon pada ayahku agar diizinkan menikahiku, ayahku memberikan satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar: tanda tangan perjanjian pra-nikah dengan pemisahan harta total. Waktu itu, Adrian menandatanganinya sambil bersujud di ruang kerja ayahku, bersumpah bahwa dia mencintaiku murni karena diriku, bukan karena kekayaan keluargaku. Dan seiring berjalannya waktu, ketika dia mulai terbiasa hidup mewah, menikmati fasilitas mobil dinas perusahaan keluargaku, dan disanjung-sanjung oleh ibunya sebagai ‘pria sukses’, dia mulai lupa daratan dan mengira semua kemewahan ini adalah miliknya.
“A-apa ini…?” bisik Bu Tati, suaranya serak menatap kertas di tangan anaknya. “Adrian… jadi selama ini kamu nggak punya hak apa-apa atas rumah ini?”
Marisa langsung menoleh menatap kakaknya dengan pandangan ngeri bercampur marah. “Kak Adrian! Kamu bohong sama kami?! Kamu bilang perusahaan yang kamu pimpin itu punya kamu! Kamu bilang rumah mewah ini dibeli dari bonus proyekmu!”
“Diam kamu, Marisa!” bentak Adrian putus asa, wajahnya merah padam menahan aib yang terbongkar telanjang bulat di depan keluarganya sendiri.
Aku melangkah melewati Adrian yang masih mematung di dekat pintu. Aroma parfum mahalku menguar tipis saat aku berpapasan dengannya.
“Pak Hendarto, silakan jalan duluan ke kantor notaris di Gandaria. Saya akan menyusul dengan mobil saya lima menit lagi.”
“Baik, Bu Salsabila. Kami tunggu di sana,” jawab Pak Hendarto sambil mengangguk sopan, lalu melangkah keluar bersama tiga calon pembeli lainnya yang tampak tersenyum tipis melihat kehancuran keluarga amatir itu.
Begitu pintu utama tertutup menyisakan kami berempat di ruang depan, keheningan yang jatuh terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
Adrian mendadak menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai marmer.
Pria yang semalam duduk menyilangkan kaki di meja makan sambil memerintahku seperti pelayan, kini bersujud di dekat ujung sepatu hak tinggiku. Tangannya mencoba meraih pergelangan kakiku, tapi aku melangkah mundur setengah meter, menghindarinya seolah dia adalah bangkai tikus got yang basah.
“Salsa… tolong… jangan lakukan ini, aku mohon,” suara Adrian pecah menjadi isakan memalukan. Bahunya berguncang hebat. “Aku salah… aku minta maaf. Semalam aku cuma terbawa suasana karena ingin terlihat hebat di depan Ibu dan Marisa. Aku nggak bermaksud kirim Tante Elena ke panti jompo, sumpah! Nanti kita bawa Tante Elena tinggal di kamar utama, biar Ibu Tati tinggal di kontrakan lama saja… Salsa, tolong jangan batalkan semuanya… Kalau rumah ini dijual, posisiku di kantor keluargamu bagaimana? Dewan direksi akan tahu kalau kita hancur!”
Bu Tati yang melihat anak kesayangannya bersujud di lantai langsung berteriak histeris, separuh marah separuh meratap: “Adrian! Bangun kamu! Jangan rendahkan dirimu di depan perempuan sombong ini! Masih banyak perempuan lain di luar sana!”
“IBU YANG DIAM!” Adrian berbalik dan membentak ibunya dengan suara melengking yang membuat kaca jendela bergetar. “Ibu nggak tahu apa-apa! Mobil yang Ibu pakai pamer ke tetangga itu cicilannya dipotong dari rekening Salsa! Jabatan manajerku di kantor itu karena ayah Salsa yang naruh aku di sana! Kalau Salsa menceraikan aku hari ini, aku dipecat! Kita semua jatuh miskin, Bu! Paham nggak?!”
Bu Tati ternganga. Dadanya naik-turun dengan cepat, napasnya memburu seperti orang terkena serangan asma. Tangannya meraba dadanya sendiri, lalu perlahan merosot duduk di undakan tangga terbawah, air mata kepanikannya mengalir deras merusak bedak tebalnya.
Marisa berdiri mematung di samping ibunya, ponsel pintarnya terjatuh ke lantai tanpa ia sadari. Mimpi-mimpinya tentang tinggal di perumahan elite, berfoto di tepi kolam renang pribadi untuk media sosialnya, dan memamerkan gaya hidup mewah kepada teman-temannya mendadak hancur berkeping-keping menjadi abu dalam waktu kurang dari satu jam.
Aku menatap mereka bertiga dari atas. Tidak ada kemarahan yang tersisa di dalam dadaku. Yang ada hanyalah rasa dingin yang tenang, sebuah kepuasan murni dari seorang wanita yang telah selesai membuang racun dari hidupnya.
“Adrian,” panggilku pelan.
Pria itu mendongak, matanya yang basah menatapku dengan setitik harapan rapuh yang tersisa.
“Di atas meja rias kamar kita, ada map merah,” kataku dengan suara yang sangat tenang, menusuk seperti jarum bedah. “Di dalamnya ada berkas gugatan cerai talak satu yang sudah didaftarkan tim pengacaraku ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan tadi pagi jam delapan lewat lima belas menit. Jam sepuluh nanti, surat panggilan sidang pertama akan dikirimkan ke alamat kantor.”
Mata Adrian membelalak liar. “Salsa… cerai?!”
“Ya. Cerai.” Aku mengambil tas tangan kulit hitamku dari atas meja konsol. “Dan satu hal lagi. Truk pindahan yang disewa Pak Hendarto akan tiba di rumah ini jam satu siang untuk mengosongkan seluruh perabot, karena besok pagi tim renovasi dari pembeli baru akan mulai membongkar interior. Kalian bertiga punya waktu sampai jam dua belas siang untuk mengeluarkan semua koper dan kardus pakaian kalian dari rumah ini.”
“Salsa, kamu nggak bisa usir kami begitu saja!” jerit Marisa panik. “Kami mau tinggal di mana siang ini?!”
“Terserah kalian,” sahutku sambil melangkah menuju pintu depan. Tanganku meraih gagang pintu kuningan yang berat. “Bukankah semalam kamu bilang Adrian anak yang sangat berbakti dan bertanggung jawab? Biarkan anak berbakti ini mencarikan kamar kos bulanan untuk kalian berdua siang ini. Jangan lupa bayar pakai harga diri yang semalam kalian banggakan di meja makan.”
Klek.
Aku membuka pintu depan. Udara pagi Jakarta Selatan yang cerah dan hangat langsung menyambut wajahku, bersih tanpa bau kemunafikan keluarga parasit itu. Sopir pribadiku, Pak Joko, sudah memarkirkan mobil Alphard hitam milik keluargaku tepat di depan lobi, membukakan pintu penumpang belakang dengan sikap hormat yang sempurna.
“Salsa! SALSABILA! JANGAN TINGGALKAN AKU!” Adrian merangkak keluar pintu, berteriak di atas teras marmer dengan suara serak yang memecah ketenangan komplek perumahan elite itu. Para tetangga yang sedang berolahraga pagi mulai berhenti di trotoar, memperhatikan pemandangan memalukan itu dengan bisik-bisik yang riuh.
Aku tidak menoleh lagi.
Aku masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk dan harum aromaterapi kayu cendana. Pak Joko menutup pintu dengan suara blam yang kedap dan solid, memutus seluruh jeritan dan ratapan di belakangku.
Mobil mulai bergerak perlahan melintasi gerbang kluster perumahan.
Aku mengeluarkan ponselku dari tas, menekan tombol panggilan cepat nomor satu.
“Halo, Rumah Sakit Medistra?” ucapku dengan nada suara yang hangat dan penuh kelegaan. “Ya, selamat pagi. Saya Salsabila. Tolong siapkan kamar rawat VVIP paviliun barat untuk Ibu Elena Prasetyo sore ini. Seluruh jadwal cuci darah dan perawatan intensifnya tolong dialihkan ke dokter spesialis terbaik di sana… Biayanya? Jangan khawatir. Dananya sudah tersedia penuh dan tidak akan pernah berkurang satu rupiah pun.”
Kututup panggilan itu. Aku menyandarkan punggungku ke jok kulit yang empuk, menatap langit Jakarta yang biru cerah di balik jendela kaca film gelap.
Malam tadi mereka mengira telah berhasil memegang leherku dan membuang ibuku ke jurang kesepian. Pagi ini, mereka baru saja belajar satu hukum dasar kehidupan yang tak terbantahkan: jangan pernah mencoba mencuri dari seorang anak perempuan yang dibesarkan oleh wanita tangguh, karena ketika dia melawan balik, dia tidak akan meninggalkan satu inci tanah pun untuk tempatmu berteduh dari badai.
