SUAMIKU MEMBERI RP6.600 UNTUK KELAHIRAN ANAK KAKAKKU, BESOKNYA KUBATALKAN PAKET POSTPARTUM RP66,8 JUTA UNTUK ADIKNYA—LALU SATU TRANSFER MEMBUKA SEMUANYA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN KELUARGANYA

 

 

BAGIAN 1

“Anak kakakku baru genap satu bulan, dan kamu cuma transfer Rp6.600?”

Aku sengaja bertanya pelan.

Tetapi meja makan langsung sunyi.

Ponsel Bagas masih ada di tangannya. Di layarnya terlihat bukti transfer digital.

Rp6.600.

Catatan singkat:

“Semoga lancar.”

Ibu berhenti menyendok sup.

Ayah meletakkan gelas.

Kakakku, Sinta, menatap piringnya.

Reza, suaminya, masih tersenyum tipis sambil menggendong putri mereka yang baru berusia sebulan.

Hari itu keluarga kami mengadakan syukuran sederhana di sebuah rumah makan di Depok.

Tidak ada acara mewah.

Hanya keluarga dekat dan beberapa teman lama Ayah.

Pak Darto, mantan rekan kerja Ayah, bahkan memberikan amplop Rp500.000.

Bagas, suamiku sendiri, memberikan Rp6.600.

Aku menyentuh lengannya.

“Mungkin kurang nol. Transfer ulang saja.”

Bagas mengunci ponselnya.

“Enggak salah.”

Aku menatapnya.

“Enam ribu enam ratus?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Bagas mengambil ayam dari piring saji.

“Memangnya kakakmu melahirkan ada hubungannya apa sama aku?”

Aku langsung diam.

Sinta menunduk lebih dalam.

Ibu mertuaku, Bu Yuni, yang duduk di samping Bagas, tertawa kecil.

“Sudahlah. Jangan lihat nominal. Angka enam bagus. Doanya biar rezekinya lancar.”

Aku melihat Ibu.

Wajahnya berubah.

Ayah juga jelas kesal, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Aku tahu alasannya.

Mereka takut kalau membela Sinta, nanti akulah yang menerima masalah setelah pulang.

Reza akhirnya bicara.

“Gas, kalau memang salah transfer, santai saja. Aku kembalikan. Kamu kirim ulang.”

Bagas langsung menjawab.

“Enggak perlu.”

Reza berhenti tersenyum.

Aku merasa malu.

Bukan karena nominalnya.

Kalau Bagas memang sedang kesulitan, bahkan tidak memberi apa pun pun aku bisa memahami.

Masalahnya, tiga hari sebelumnya dia baru membeli sepatu hampir Rp3 juta.

Malam sebelum acara ini, dia mengajak dua temannya makan dan membayar tagihan lebih dari Rp1 juta.

Jadi aku tahu ini bukan soal uang.

Ini sengaja.

Sinta tiba-tiba berdiri.

“Aku ke toilet sebentar.”

Aku ikut berdiri.

Di depan wastafel, dia tidak menangis.

Justru itu yang membuatku semakin tidak nyaman.

Dia hanya mencuci tangan lama sekali.

“Nad, enggak usah dipikirkan.”

Aku bersandar di dekat pintu.

“Maaf.”

“Kenapa kamu yang minta maaf?”

Aku tidak bisa menjawab.

Sinta menatapku melalui cermin.

“Pulang nanti jangan bertengkar gara-gara aku.”

Aku mengangguk.

Tetapi di dalam kepala, ada satu hal yang terus menggangguku.

Selama lima tahun menikah, aku selalu berusaha memperlakukan keluarga Bagas dengan baik.

Saat Bu Yuni perlu mengganti kulkas, aku ikut membantu.

Saat ayah Bagas perlu pemeriksaan rutin, beberapa kali aku yang membayar.

Ketika adik Bagas, Tika, hamil anak pertama, Bu Yuni sendiri yang meneleponku.

“Nadya, Tika takut setelah melahirkan. Dia ingin tempat yang nyaman beberapa minggu pertama.”

Aku yang mencari tempatnya.

Postpartum care center premium di Jakarta Selatan.

Kamar pribadi.

Pendampingan ibu.

Perawatan bayi.

Makanan harian.

Konsultasi menyusui.

Paket dua minggu.

Rp66.800.000.

Bagas saat itu berkata,

“Kalau kamu mau kasih itu ke Tika, bagus. Dia pasti ingat kebaikanmu.”

Aku membayar menggunakan bonus tahunan dari pekerjaanku.

Bukan dari rekening bersama.

Bukan dari uang Bagas.

Bonusku sendiri.

Dalam perjalanan pulang dari acara Sinta, Bagas malah bersenandung sambil menyetir.

Seolah kejadian tadi tidak penting.

Aku membuka aplikasi di ponsel.

Pemesanan postpartum care center masih aktif.

Nama tamu:

Tika Prameswari.

Tanggal masuk diperkirakan tiga minggu lagi.

Total pembayaran:

Rp66.800.000.

Aku membaca lagi angka itu.

Lalu teringat Rp6.600.

Aku tidak ingin balas dendam.

Aku hanya tiba-tiba sadar bahwa selama ini ada aturan berbeda di rumah tanggaku.

Kalau keluargaku membutuhkan sesuatu, itu urusanku.

Kalau keluarga Bagas membutuhkan sesuatu, uangku dianggap uang keluarga.

Aku menekan menu pembatalan.

Sistem menampilkan konfirmasi.

“Pengembalian dana penuh akan diproses ke metode pembayaran awal.”

Aku menekan tombol itu.

Selesai.

Aku tidak mengatakan apa-apa kepada Bagas.

Sesampainya di rumah, dia langsung mengganti pakaian dan menonton pertandingan sepak bola.

Di pintu kulkas ada kartu kecil dari Tika.

“Makasih, Kak Nadya. Aku benar-benar lega setelah lihat tempatnya.”

Aku melepas kartu itu.

Melipatnya.

Memasukkannya ke tas.

Pukul 22.18, pemberitahuan masuk.

“Pengembalian dana Rp66.800.000 sedang diproses.”

Aku tidur lebih cepat malam itu.

Besok paginya, pukul 06.47, ponselku bergetar berkali-kali.

Tika menelepon.

Lalu Bu Yuni.

Lalu Tika lagi.

Aku baru ingin mengangkat ketika sebuah pesan masuk.

Dari Tika.

“Kak Nadya, kenapa paketku dibatalkan?”

Belum sempat aku menjawab, pesan kedua muncul.

“Mas Bagas bilang paket itu hadiah dari dia buat aku.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Hadiah dari Bagas?

Uangku.

Bonusku.

Tetapi dia mengaku membayarnya.

Lalu pesan ketiga masuk.

Dan kali ini aku benar-benar duduk tegak.

“Kak, sebenarnya aku juga sudah transfer uang penggantinya ke Mas Bagas tiga minggu lalu.”

Di bawah pesan itu ada sebuah gambar bukti transfer.

Rp67.000.000.

Atas nama Bagas.

Catatan:

“Ganti biaya paket Tika.”

Aku menatap pintu kamar.

Bagas masih tidur.

Saat itulah aku tahu masalah Rp6.600 kemarin ternyata bukan masalah terbesar dalam pernikahanku.

Tapi itu baru awalnya.

BAGIAN 2

Aku tidak langsung membangunkan Bagas.

Tanganku masih memegang ponsel ketika Tika menelepon lagi.

Kali ini aku angkat.

“Halo.”

“Kak, aku bingung. Sebenarnya paket itu siapa yang bayar?”

Aku diam beberapa detik.

“Aku.”

Tika juga diam.

“Apa?”

“Aku yang bayar Rp66,8 juta. Pakai bonusku.”

“Tapi Mas Bagas bilang dia yang bayar.”

“Aku baru tahu.”

Suara Tika berubah.

“Kak, tiga minggu lalu aku sama Iqbal transfer Rp67 juta ke Mas Bagas.”

“Kenapa?”

“Karena kami enggak enak menerima hadiah sebesar itu.”

Aku berdiri dan keluar dari kamar.

Aku tidak ingin Bagas mendengar percakapan ini sebelum aku memahami semuanya.

Aku masuk ke dapur.

“Tika, jelaskan dari awal.”

Tika menarik napas.

“Waktu Mama bilang Kak Nadya sudah pesan tempat itu, aku sebenarnya bilang mahal banget. Aku sama Iqbal masih bisa bayar sendiri.”

Aku mendengarkan.

“Terus Mas Bagas telepon. Katanya jangan bikin Kak Nadya enggak enak karena paket sudah dipesan. Dia bilang Kak Nadya cuma pakai kartu dulu karena limitnya lebih besar.”

Aku langsung menutup mata.

Itu tidak pernah terjadi.

Tidak ada cerita soal limit.

Tidak ada cerita soal Bagas akan mengganti uangku.

Tika melanjutkan.

“Mas Bagas bilang nanti dia yang beresin sama Kak Nadya.”

“Lalu kalian transfer ke Bagas?”

“Iya.”

“Rp67 juta?”

“Iya.”

“Dan dia bilang uang itu akan diberikan kepadaku?”

“Iya.”

Aku bersandar pada meja dapur.

“Kenapa kamu enggak pernah bilang langsung ke aku?”

“Aku pikir sudah selesai. Aku malah sempat bilang makasih ke Mas Bagas.”

Aku melihat pintu kamar.

Masih tertutup.

“Tika, simpan semua chat.”

“Hah?”

“Jangan hapus apa pun.”

Nada suaraku membuatnya berhenti bertanya.

“Baik.”

“Bukti transfer juga.”

“Ada.”

“Tolong kirim semuanya.”

Beberapa detik kemudian, pesan mulai masuk.

Tangkapan layar percakapan.

Bukti transfer.

Tanggal.

Jam.

Semua jelas.

Bagas menulis:

“Transfer saja ke aku. Nadya cuma talangin dulu.”

Lalu:

“Nanti aku ganti ke dia.”

Kemudian setelah transfer masuk:

“Sudah diterima. Jangan ngomong lagi ke Nadya, nanti dia malah merasa hadiah ini enggak tulus.”

Aku membaca kalimat terakhir itu berkali-kali.

Jangan ngomong ke Nadya.

Jadi Bagas sengaja memastikan aku tidak tahu.

Aku menyimpan semua bukti ke folder terpisah.

Saat aku kembali ke kamar, Bagas sudah bangun.

Dia sedang melihat ponselnya.

Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.

“Kamu batalkan paket Tika?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku berdiri di dekat lemari.

“Karena aku yang bayar.”

Dia melempar selimut ke samping.

“Kamu ini kenapa sih? Jangan kekanak-kanakan.”

Aku hampir tertawa.

“Rp6.600 buat anak kakakku enggak kekanak-kanakan?”

“Jangan campur dua masalah.”

“Justru aku baru sadar selama ini dua masalah itu selalu kamu pisahkan kalau menguntungkan kamu.”

Bagas berdiri.

“Telepon tempat itu sekarang. Aktifkan lagi.”

“Bayar sendiri.”

Dia menatapku.

“Apa?”

“Paketnya Rp66,8 juta. Kalau kamu mau hadiah untuk adikmu, bayar sendiri.”

“Uang kamu juga uang keluarga.”

Aku mengangguk.

“Baik. Kalau begitu kenapa uang keluarga cuma Rp6.600 saat kakakku punya anak?”

Bagas tidak menjawab.

Aku menunggu.

Dia berjalan ke kamar mandi.

“Kita bicara nanti.”

Aku langsung berkata,

“Tidak. Kita bicara sekarang.”

Bagas berhenti.

Aku membuka ponsel.

“Rp67 juta dari Tika ada di mana?”

Dia perlahan menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak bangun, wajahnya benar-benar berubah.

“Apa?”

Aku menunjukkan layar.

Bukti transfer dari Iqbal.

Nama Bagas jelas terlihat.

“Ini.”

Dia menatap layar sebentar.

Lalu kembali menatapku.

“Kamu ngomong sama Tika?”

“Jawab pertanyaanku.”

“Itu urusan aku sama Tika.”

“Tidak. Dia mengirim uang itu untuk mengganti uangku.”

Bagas mengusap wajah.

“Nadya, pagi-pagi jangan bikin suasana begini.”

Aku langsung tahu dia tidak punya jawaban yang siap.

Biasanya Bagas sangat cepat kalau berdebat.

Dia selalu punya alasan.

Sekarang dia menghindar.

“Uangnya di mana?”

“Aku pakai dulu.”

“Untuk apa?”

“Keperluan keluarga.”

“Keluarga siapa?”

Dia terdiam.

Aku mengangguk pelan.

“Keluargamu lagi?”

“Nanti aku jelaskan.”

Aku mengambil tas kerja.

“Aku tunggu penjelasan lengkap malam ini.”

Saat aku berjalan keluar, Bagas berkata,

“Paket Tika tetap harus diaktifkan.”

Aku menoleh.

“Silakan.”

Wajahnya sedikit lega.

Lalu aku melanjutkan.

“Pakai uangmu.”

Aku pergi.

Di dalam mobil, ponselku langsung berdering.

Bu Yuni.

Aku biarkan.

Beliau menelepon lagi.

Aku tetap tidak mengangkat.

Ketiga kali, aku jawab.

“Nadya, kamu kenapa membatalkan tempat Tika?”

“Karena saya yang membayar, Bu.”

“Ya memang. Bukannya dari awal itu hadiahmu?”

Aku hampir menjawab, tetapi berhenti.

Ada sesuatu yang aneh.

Kalau Bu Yuni tahu itu hadiah dariku, kenapa Tika diberi tahu bahwa Bagas yang membayar?

Aku bertanya,

“Menurut Ibu siapa yang bayar paket itu?”

Beliau diam sesaat.

“Ya kamu sama Bagas. Kalian kan suami istri.”

“Uangnya keluar dari rekening saya.”

“Jangan hitung-hitungan dalam keluarga.”

Kalimat itu membuatku lelah.

“Saya hanya ingin satu jawaban.”

“Apa?”

“Kalau saya enggak boleh hitung-hitungan, kenapa Bagas kemarin hitung-hitungan dengan keluarga saya sampai cuma memberi Rp6.600?”

Bu Yuni langsung meninggikan suara.

“Itu beda.”

“Bedanya apa?”

“Kakakmu bukan tanggung jawab Bagas.”

Aku menatap jalan di depan.

“Kalau begitu Tika juga bukan tanggung jawab saya.”

Beliau langsung diam.

Aku tidak menunggu jawaban.

“Saya kerja dulu, Bu.”

Aku menutup telepon.

Sampai kantor, aku sulit berkonsentrasi.

Bukan karena paket Tika.

Aku menyukai Tika.

Hubungan kami sebenarnya tidak buruk.

Kalau dia membutuhkan bantuan dan datang langsung kepadaku, mungkin aku tetap akan membantu.

Masalahnya bukan dia.

Masalahnya adalah suamiku menerima Rp67 juta sebagai penggantian biaya yang sudah kubayar, lalu menyembunyikannya dariku.

Aku membuka aplikasi bank.

Bonus tahunan memang masuk dua bulan sebelumnya.

Pembayaran Rp66,8 juta terlihat jelas.

Tidak ada transfer Rp67 juta dari Bagas setelahnya.

Tidak ada Rp60 juta.

Tidak ada Rp50 juta.

Tidak ada uang pengganti apa pun.

Aku mulai memeriksa transaksi lama.

Awalnya hanya beberapa bulan.

Lalu satu tahun.

Aku berhenti ketika melihat sebuah transaksi dari dua tahun lalu.

Rp18.500.000.

Pembayaran klinik gigi untuk Bu Yuni.

Aku ingat kejadian itu.

Bu Yuni perlu beberapa perawatan dan Bagas bilang uangnya sedang tertahan dalam deposito.

Aku yang membayar.

Sebulan kemudian Bagas bilang,

“Nanti kalau Mama ada uang, enggak usah minta ganti. Anggap saja dari kita.”

Saat itu aku setuju.

Aku tidak pernah memikirkannya lagi.

Sekarang aku membuka percakapan lama dengan Tika.

Aku mengetik.

“Tik, aku mau tanya sesuatu. Dua tahun lalu waktu perawatan gigi Mama, kamu atau keluarga pernah ganti uang ke Bagas?”

Tika membaca.

Lama sekali dia tidak membalas.

Lalu muncul satu kalimat.

“Kak, tunggu sebentar.”

Sepuluh menit kemudian, dia mengirim gambar.

Transfer Rp6 juta dari Tika.

Ke Bagas.

Catatan:

“Bagian Tika biaya Mama.”

Aku langsung duduk tegak.

Pesan berikutnya datang.

“Mas Bagas bilang waktu itu Kak Nadya sama dia patungan Rp18,5 juta. Jadi kami bertiga diminta bagi.”

Aku tidak menjawab.

Tika lalu menulis lagi.

“Aku tanya Iqbal dulu. Kayaknya ada beberapa kali.”

Jantungku mulai berdebar lebih cepat.

Bukan karena jumlahnya.

Karena aku mulai melihat pola.

Setiap kali aku membayar sesuatu untuk keluarganya, Bagas mungkin meminta penggantian kepada orang lain.

Aku menelepon Sinta.

Dia mengangkat cepat.

“Nad?”

“Kak, aku mau tanya.”

“Kenapa suara kamu begitu?”

“Dua tahun lalu waktu kita bantu Ayah renovasi kamar mandi, Bagas pernah minta uang ke Kakak?”

Sinta diam.

“Kenapa tanya itu?”

“Jawab saja.”

“Iya.”

Aku memejamkan mata.

“Berapa?”

“Lima juta.”

“Untuk apa?”

“Bagas bilang kamu keluar Rp10 juta, jadi aku sama Reza sebaiknya ganti setengah karena itu rumah orang tua kita.”

Aku merasa tengkukku kaku.

“Kapan?”

“Nadya, ada apa?”

“Buktinya masih ada?”

“Mungkin.”

“Tolong cari.”

Sinta mulai panik.

“Nad, kamu enggak tahu?”

“Enggak.”

Saat itu aku sadar masalahnya bahkan tidak hanya mengenai keluarga Bagas.

Dia juga melakukan hal yang sama kepada keluargaku.

Aku ingat renovasi kamar mandi itu.

Ayah sempat terpeleset beberapa kali karena lantai lama terlalu licin.

Aku memang mengeluarkan sekitar Rp10 juta.

Aku sengaja bilang kepada Sinta tidak perlu ikut karena saat itu dia sedang menabung untuk biaya kelahiran.

Ternyata Bagas diam-diam meminta Rp5 juta darinya.

Uang itu juga tidak pernah diberikan kepadaku.

Sore itu aku pulang lebih cepat.

Bagas sudah ada di rumah.

Dia duduk di meja makan.

Begitu aku masuk, dia langsung bicara.

“Tika cerita macam-macam ke kamu?”

Aku meletakkan tas.

“Tidak perlu menyalahkan Tika.”

“Aku enggak menyalahkan.”

“Kamu bilang Rp67 juta dipakai untuk keluarga. Keluarga siapa?”

Bagas menarik kursi.

“Duduk dulu.”

“Aku bisa dengar sambil berdiri.”

Dia menghela napas.

“Aku kasih sebagian ke Mama.”

“Berapa?”

“Lima puluh juta.”

“Untuk apa?”

“Renovasi dapur.”

Aku menatapnya.

“Bu Yuni bilang kepada aku renovasi dapurnya pakai tabungan beliau.”

Bagas terlihat kesal.

“Nadya, jangan periksa semua hal kecil.”

“Lima puluh juta bukan hal kecil.”

“Itu uang dari Tika.”

Aku langsung menjawab,

“Tidak. Itu uang yang Tika kirim untuk mengganti uangku.”

“Ya sama saja.”

Aku tertawa pendek.

“Bagaimana bisa sama?”

“Kita suami istri.”

Aku membuka layar ponsel.

“Kalau begitu Rp67 juta itu harus masuk rekening rumah tangga atau dikembalikan ke aku.”

Bagas mengusap meja dengan jarinya.

“Aku lagi enggak punya.”

“Berarti memang kamu pakai.”

“Iya.”

“Tanpa bilang.”

Dia tidak menjawab.

Aku kemudian menunjukkan bukti lain.

Rp6 juta dari Tika untuk perawatan gigi Bu Yuni.

Lalu bukti Rp5 juta dari Sinta.

Bagas menatap layar.

“Kamu ngapain bongkar-bongkar masa lalu?”

Aku langsung tahu.

Dia tidak menyangkal.

Aku duduk.

“Berapa kali?”

“Nadya.”

“Berapa kali kamu minta orang mengganti uang atas pengeluaran yang kubayar?”

Dia berdiri.

“Aku enggak mau interogasi begini.”

Aku tetap duduk.

“Kalau kamu keluar sekarang, aku akan anggap kamu memang tidak mau menjelaskan.”

Bagas mengambil kunci mobil.

“Pikir sesukamu.”

Dia pergi.

Aku tidak mengejar.

Malam itu aku tidur di kamar tamu.

Besok paginya, Tika mengirim pesan.

“Kak, Mama minta semuanya datang ke rumah malam ini.”

Aku menjawab,

“Aku datang.”

Pukul tujuh malam aku tiba di rumah Bu Yuni di Bekasi.

Bagas sudah ada di sana.

Tika duduk bersama suaminya, Iqbal.

Bu Yuni terlihat sangat kesal.

Begitu aku duduk, beliau langsung berkata,

“Masalah keluarga enggak perlu dibesar-besarkan.”

Aku mengangguk.

“Saya setuju.”

Beliau sedikit lega.

Lalu aku menambahkan,

“Makanya malam ini kita cukup bicara angka dan bukti.”

Bagas langsung menatapku.

“Nadya.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Tetapi Iqbal lebih dulu bicara.

“Mas Bagas, uang Rp67 juta dari saya sama Tika sebenarnya ke mana?”

Bagas menatap adik iparnya.

“Sudah aku bilang, buat kebutuhan keluarga.”

“Paket itu dibayar Kak Nadya.”

“Aku tahu.”

Iqbal mengerutkan kening.

“Kalau tahu, kenapa uang penggantinya enggak dikasih ke Kak Nadya?”

Bagas mulai kesal.

“Kamu jangan ikut campur rumah tangga aku.”

Iqbal langsung menjawab,

“Saya ikut campur karena uangnya dari rekening saya.”

Ruangan sunyi.

Tika kemudian membuka ponselnya.

“Mas, aku sudah cari chat lama.”

Wajah Bagas berubah lagi.

Aku menoleh kepadanya.

Tika menaruh ponsel di meja.

“Aku enggak cuma pernah transfer yang paket ini.”

Dia mulai menggulir layar.

“Dua tahun lalu, Rp6 juta untuk perawatan Mama.”

“Setahun lalu, Rp4,5 juta untuk hadiah ulang tahun Papa.”

“Delapan bulan lalu, Rp8 juta untuk mesin cuci Mama.”

“Empat bulan lalu, Rp5 juta untuk tiket liburan keluarga.”

Aku menatap Bagas.

Sebagian pengeluaran itu kubayar penuh.

Hadiah ulang tahun ayahnya Rp9 juta memang aku yang beli.

Mesin cuci Rp16 juta juga dibayar menggunakan kartuku.

Tiket liburan keluarga Rp22 juta sebagian besar aku yang tanggung.

Bagas beberapa kali mengatakan,

“Biar kita saja yang traktir.”

Ternyata di belakangku, dia meminta Tika ikut mengganti.

Tika menatapku.

“Maaf, Kak. Aku pikir uangnya memang dibagi antara Kak Nadya sama Mas Bagas.”

Aku menggeleng.

“Bukan salah kamu.”

Bu Yuni menyela.

“Sudahlah. Bagas kan akhirnya juga pakai uang itu untuk keluarga.”

Aku menoleh.

“Ibu tahu?”

Beliau berhenti.

Aku mengulang.

“Ibu tahu Bagas menerima uang pengganti dari Tika?”

Bu Yuni tidak langsung menjawab.

Bagas buru-buru berkata,

“Mama enggak tahu detail.”

Namun terlambat.

Bu Yuni sudah terlihat gugup.

Aku bertanya lagi.

“Ibu tahu atau enggak?”

Beliau akhirnya berkata,

“Bagas pernah bantu Mama. Tapi Mama pikir itu uang dia.”

“Berapa?”

“Nadya, enggak perlu—”

“Berapa, Bu?”

Beliau menarik napas.

“Ya beberapa kali.”

Tika ikut menatap ibunya.

“Mama.”

Bu Yuni mulai defensif.

“Mama mana tahu uang itu dari mana? Bagas bilang dia lagi ada uang.”

Aku mengangguk.

Aku percaya beliau mungkin memang tidak tahu semua sumbernya.

Tetapi masalahku dengan Bagas sudah cukup jelas.

Iqbal membuka laptop kecil yang dibawanya.

“Aku sudah unduh bukti transfer dari rekening lama.”

Bagas langsung berkata,

“Ngapain sampai begitu?”

Iqbal tidak menjawab.

Dia hanya menunjukkan layar kepadaku.

Ada beberapa transfer.

Total dari Tika dan Iqbal kepada Bagas selama dua tahun lebih sedikit:

Rp90.500.000.

Aku menatap angka itu.

Itu baru dari Tika.

Ponselku kemudian bergetar.

Sinta.

Dia mengirim empat bukti transfer.

Rp5 juta.

Rp3,5 juta.

Rp4 juta.

Rp2 juta.

Total Rp14,5 juta.

Pesannya singkat.

“Nad, ini yang pernah Bagas minta dari kami. Katanya untuk mengganti bagianmu.”

Aku menunjukkan pesan itu kepada Bagas.

Wajahnya langsung pucat.

“Jadi bukan hanya keluargamu.”

Bagas berdiri.

“Kamu sekarang mau apa?”

Aku menatapnya.

“Jawaban.”

“Jawaban apa lagi?”

“Kenapa?”

Dia tertawa kecil karena tertekan.

“Karena pengeluaran kita besar.”

“Bohong.”

“Apa?”

“Kalau karena pengeluaran besar, kamu bisa bilang ke aku.”

Bagas diam.

“Aku enggak pernah melarang kamu membahas uang.”

Dia tetap diam.

“Kenapa kamu harus bilang ke Tika bahwa aku cuma menalangi? Kenapa kamu bilang ke Sinta bahwa dia harus mengganti bagian biaya orang tua kami? Kenapa semua uang harus masuk ke rekeningmu tanpa sepengetahuanku?”

Bagas akhirnya duduk.

“Aku cuma merasa…”

Dia berhenti.

Aku menunggu.

“Aku enggak suka kamu terlihat seperti orang yang selalu paling mampu.”

Aku tidak langsung memahami.

“Apa?”

“Setiap ada apa-apa, kamu bayar.”

Aku menatapnya.

“Karena kamu yang minta.”

“Iya, tapi akhirnya semua orang bilang Nadya baik, Nadya sukses, Nadya bantu ini itu.”

Aku benar-benar tidak menyangka jawaban itu.

Bagas menatap meja.

“Aku suamimu. Tapi di depan keluarga, malah kelihatannya aku yang selalu ikut kamu.”

Tidak ada yang bicara.

Aku akhirnya mengerti sesuatu.

Selama ini aku mengira Bagas mengambil uang karena rakus.

Ternyata ada hal lain.

Dia mengambil kembali sebagian uang dari orang-orang tanpa sepengetahuanku supaya dia bisa merasa pengeluaran itu datang darinya.

Dia bahkan mengaku paket Tika adalah hadiah darinya.

Lalu uang penggantinya dia pakai sesukanya.

Aku bertanya,

“Jadi karena kamu malu aku yang membayar, kamu mengambil kredit atas uangku?”

Bagas langsung menjawab,

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Dia tidak punya jawaban.

Tika menatap kakaknya.

“Mas, aku selama ini justru pikir Kak Nadya sama Mas Bagas memang selalu patungan.”

Bagas diam.

Iqbal berkata singkat,

“Kalau malu karena istri punya penghasilan sendiri, solusinya bukan begini.”

Bu Yuni langsung menegur.

“Iqbal.”

Iqbal berhenti bicara.

Aku tidak butuh siapa pun memberi ceramah kepada Bagas.

Aku hanya perlu membuat keputusan.

Aku membuka catatan di ponsel.

“Untuk sementara, aku hitung yang ada buktinya dulu.”

Aku membaca.

“Rp67 juta paket Tika.”

“Rp14,5 juta dari Sinta dan Reza.”

“Rp23,5 juta transfer lama dari Tika yang berkaitan dengan pengeluaran yang kubayar.”

Bagas menyela.

“Jangan semuanya dihitung ke aku.”

Aku menatapnya.

“Memang harus.”

“Sebagian uang itu aku pakai untuk Mama.”

“Tanpa izin.”

“Dia ibuku.”

“Dan uangnya milikku.”

Bagas terdiam.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak akan meminta Tika atau Iqbal membayar apa pun lagi. Mereka sudah membayar.”

Aku menatap Tika.

“Kalau kamu tetap mau paket postpartum itu, pesan ulang pakai uangmu sendiri. Aku akan bantu urus tempatnya kalau kamu perlu.”

Tika mengangguk.

“Aku pesan sendiri, Kak.”

Bu Yuni terlihat tidak senang.

“Tika, uang segitu sayang.”

Tika menatap ibunya.

“Justru karena mahal, aku enggak mau Kak Nadya yang tanggung.”

Untuk pertama kalinya malam itu aku merasa lega.

Aku berdiri.

Bagas ikut berdiri.

“Kamu mau pulang?”

“Iya.”

“Kita belum selesai.”

Aku menatapnya.

“Benar.”

Dia terlihat seperti menunggu aku marah.

Aku tidak marah.

Aku sudah melewati tahap itu.

“Mulai besok, semua rekening dan pengeluaran kita dipisah dulu.”

Bagas langsung mengerutkan kening.

“Nadya.”

“Tagihan rumah kita bagi sesuai kesepakatan tertulis.”

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Kita suami istri.”

“Justru itu. Aku tidak bisa hidup dalam pernikahan yang membuatku harus memeriksa setiap transfer karena takut suamiku mengambil uang dari belakang.”

Bu Yuni berdiri.

“Jangan bicara pisah cuma gara-gara uang.”

Aku menoleh kepadanya.

“Ini bukan gara-gara uang, Bu.”

Aku menunjuk ponsel Bagas.

“Ini karena dia berbohong kepada semua orang dengan versi berbeda.”

Aku pulang sendiri malam itu.

Bagas menyusul satu jam kemudian.

Dia mengetuk pintu kamar tamu.

“Nad.”

Aku membuka pintu.

“Aku mau ganti.”

“Kapan?”

“Aku bisa cairkan sebagian investasi.”

Aku sedikit terkejut.

Selama ini Bagas selalu bilang investasinya tidak boleh disentuh.

“Berapa?”

“Sekitar Rp40 juta sekarang.”

“Lalu sisanya?”

“Dua atau tiga bulan.”

Aku mengangguk.

“Transfer semuanya sesuai catatan.”

Bagas terlihat lega.

Namun aku belum selesai.

“Dan aku mau laporan rekening yang kamu pakai menerima transfer dari keluarga selama tiga tahun terakhir.”

Ekspresinya langsung berubah.

“Buat apa?”

Pertanyaan itu justru membuatku semakin yakin.

“Aku ingin tahu jumlah sebenarnya.”

“Nadya, jangan cari masalah baru.”

Aku menatapnya.

“Kalau enggak ada masalah baru, kamu enggak perlu takut.”

Dia diam lama.

“Aku capek.”

“Aku juga.”

Dia kembali ke kamar utama.

Besok paginya, Rp40 juta masuk ke rekeningku.

Bagas tidak berbicara banyak.

Sore harinya, Rp27 juta lagi masuk.

Dari rekening investasi.

Catatan transfernya hanya satu kata.

“Penggantian.”

Aku pikir setidaknya dia mulai memperbaiki keadaan.

Tiga hari kemudian, Tika mengirim pesan.

“Kak, aku menemukan sesuatu.”

Aku langsung menelepon.

“Apa?”

“Mas Bagas pernah minta aku transfer ke rekening lain juga.”

Aku berdiri dari kursi kerja.

“Rekening siapa?”

“Namanya PT Sinar Karya Mandiri.”

Aku tidak mengenal nama itu.

“Perusahaan apa?”

“Katanya punya teman Mas Bagas.”

“Berapa?”

“Dua kali. Total Rp19 juta.”

“Untuk apa?”

Tika mengirim chat lama.

Bagas menulis:

“Transfer ke sini saja. Ini rekening vendor Nadya, biar langsung mengurangi tagihan.”

Aku tidak pernah punya vendor dengan nama itu.

Aku langsung mencari nama perusahaan tersebut.

Alamatnya di Tangerang.

Namanya terasa asing.

Malam itu aku menunjukkan chat tersebut kepada Bagas.

Wajahnya langsung kaku.

“PT Sinar Karya Mandiri siapa?”

Bagas tidak menjawab.

“Bagas.”

“Teman.”

“Namanya?”

“Dion.”

“Kenapa Tika diminta transfer ke perusahaan dia untuk mengurangi tagihanku?”

Bagas duduk.

“Nadya, cukup.”

Aku tidak bergerak.

“Aku sudah ganti uang kamu.”

“Ini bukan soal ganti uang lagi.”

Dia menatapku.

“Aku bilang cukup.”

Aku semakin yakin ada sesuatu.

Aku tidak membentak.

Aku hanya menghubungi Iqbal.

“Bal, kamu kenal PT Sinar Karya Mandiri?”

Iqbal menjawab lima menit kemudian.

“Kenal namanya.”

Aku membaca pesan berikutnya.

“Itu perusahaan teman Mas Bagas. Mereka pernah buka usaha distribusi barang bareng.”

Aku menatap Bagas.

Dia memalingkan wajah.

Saat itu semuanya mulai masuk akal.

Selama ini uang dari keluarga tidak selalu dia pakai untuk pengeluaran rumah.

Sebagian dipindahkan ke usaha sampingannya.

Usaha yang bahkan tidak pernah dia ceritakan secara terbuka kepadaku.

Aku bertanya,

“Kamu pakai uang penggantian itu sebagai modal?”

Bagas menjawab pelan.

“Sebagian.”

“Tanpa bilang ke aku?”

“Iya.”

“Berapa totalnya?”

Dia diam.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata,

“Sekitar seratus juta lebih.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena angka itu akhirnya menjelaskan semuanya.

“Jadi setiap kali aku membayar sesuatu untuk keluarga, kamu minta mereka mengganti sebagian. Lalu uangnya kamu pakai untuk usaha.”

“Aku niatnya kalau usaha berhasil, uangnya balik.”

“Ke siapa?”

Bagas tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Ke aku?”

Diam.

“Ke Tika?”

Diam.

“Ke Sinta?”

Diam lagi.

Aku mengangguk.

“Berarti jawabannya tidak.”

Bagas langsung berdiri.

“Aku melakukan itu juga buat masa depan kita.”

Aku menatapnya.

“Kalau memang buat kita, kenapa aku tidak tahu?”

Dia tidak bisa menjawab.

Malam itu aku membawa pakaian secukupnya dan menginap di rumah Sinta.

Aku tidak langsung memutuskan apa pun.

Aku perlu berpikir tanpa mendengar alasan Bagas setiap satu jam.

Sinta tidak banyak bertanya.

Dia hanya menyiapkan kamar.

Sebelum tidur, dia berkata,

“Kalau kamu mau pulang besok, pulang. Kalau mau tinggal seminggu, tinggal. Enggak usah putuskan malam ini.”

Aku mengangguk.

Itu kalimat paling berguna yang kudengar selama beberapa hari terakhir.

Seminggu kemudian, Bagas datang menemui aku.

Kami duduk di sebuah kafe dekat kantor Sinta.

Dia membawa map.

“Apa itu?”

“Rekening.”

Aku membukanya.

Tiga tahun transaksi.

Transfer masuk dari Tika.

Dari Iqbal.

Dari Sinta.

Dari beberapa anggota keluarga lain.

Kemudian transfer keluar ke Bu Yuni.

Ke rekening bisnis.

Ke beberapa tagihan pribadi.

Total uang yang masuk dengan alasan mengganti pengeluaran yang sebenarnya sebagian besar kubayar:

Rp128.750.000.

Aku tidak mengatakan apa-apa selama beberapa menit.

Bagas menatapku.

“Aku salah.”

Aku membaca lagi.

Untuk pertama kalinya dia tidak memberikan alasan.

“Aku sudah jual bagian investasiku.”

Aku menatapnya.

“Semua uang yang masih kurang akan aku kembalikan.”

“Bagas.”

“Iya?”

“Aku bukan pergi karena kamu belum mengganti uang.”

Dia diam.

“Aku pergi karena selama bertahun-tahun aku hidup dengan versi keuangan rumah tangga yang ternyata tidak benar.”

Bagas menunduk.

“Aku tahu.”

“Aku juga baru tahu kenapa kamu begitu gampang merendahkan keluargaku.”

Dia mengangkat wajah.

Aku melanjutkan.

“Karena kamu perlu merasa lebih tinggi di satu tempat.”

Bagas tidak membantah.

Aku mengembalikan map.

“Aku belum tahu apakah pernikahan ini masih bisa diperbaiki.”

Wajahnya berubah.

“Tapi—”

“Aku tidak akan pura-pura semuanya selesai hanya karena uangnya dikembalikan.”

Dia diam.

“Aku butuh jarak. Dan kalau kita mau bicara soal melanjutkan pernikahan, semua keuangan harus terbuka.”

Bagas mengangguk perlahan.

Aku berdiri.

Sebelum pergi, dia berkata,

“Tika jadi ambil paket postpartum itu?”

Aku hampir tidak percaya pertanyaan itu muncul lagi.

Tetapi kali ini nadanya berbeda.

Bukan menuntut.

Hanya bertanya.

“Iya.”

“Siapa yang bayar?”

“Tika dan Iqbal.”

Bagas mengangguk.

Dua minggu kemudian, Tika melahirkan.

Aku datang menjenguk.

Dia sudah memesan paket yang lebih sederhana di tempat lain.

Bukan Rp66,8 juta.

Dia memilih paket sekitar sepertiganya.

Saat aku masuk kamar, dia tersenyum.

“Kak.”

Aku mendekat.

Dia memegang tanganku.

“Maaf soal semuanya.”

Aku menggeleng.

“Kamu enggak perlu minta maaf.”

Tika kemudian mengambil ponselnya.

“Ada satu hal lagi.”

Aku sempat tegang.

Dia membuka grup keluarga.

Lalu memperlihatkan pesan dari Bagas.

Pesan itu dikirim beberapa jam sebelumnya.

Bagas menulis:

“Untuk hadiah kelahiran anak Tika, aku transfer Rp6.600 saja.”

Aku menatap layar.

Tika menahan senyum.

Di bawahnya, Bu Yuni sudah membalas.

“Bagas, jangan aneh-aneh.”

Iqbal menambahkan:

“Angka enam katanya bagus.”

Aku akhirnya tertawa.

Namun Tika menggulir layar lagi.

Di bawah pesan bercanda itu, ada bukti transfer kedua.

Rp20.000.000.

Dari Bagas langsung ke rekening tabungan pendidikan anak Tika.

Catatannya:

“Dari Om. Tidak perlu diganti.”

Aku terdiam.

Tika berkata,

“Dia telepon aku tadi pagi. Katanya dia baru sadar selama ini dia enggak pernah benar-benar memberi kalau selalu berharap uang itu kembali lewat orang lain.”

Aku melihat bayi kecil di samping Tika.

Aku tidak menganggap satu transfer bisa memperbaiki semuanya.

Kepercayaan tidak kembali secepat uang.

Bagas dan aku masih tinggal terpisah.

Kami mulai menjalani konseling pernikahan dan seluruh keuangan dibuat terbuka.

Aku juga sudah memindahkan bonus, tabungan pribadi, dan dana darurat ke rekening yang hanya bisa kuakses sendiri.

Bukan karena aku ingin menghukum siapa pun.

Aku hanya tidak mau lagi mengabaikan batas yang seharusnya sejak awal sudah jelas.

Beberapa hari kemudian, Sinta mengirim foto putrinya memakai baju yang kubelikan.

Di bawah foto itu dia menulis,

“Bagas barusan transfer hadiah susulan.”

Aku langsung bertanya,

“Berapa?”

Sinta membalas dengan tangkapan layar.

Rp6.593.400.

Aku menghitung sebentar.

Ditambah Rp6.600 yang dia kirim pada hari syukuran, totalnya tepat Rp6.600.000.

Di catatan transfer, Bagas hanya menulis:

“Yang kemarin memang keterlaluan. Maaf.”

Aku tidak langsung memaafkan semuanya.

Sinta juga tidak meminta aku melakukannya.

Tetapi setidaknya untuk pertama kalinya, Bagas berhenti menggunakan uang untuk menentukan siapa yang lebih penting.

Dan aku akhirnya mengerti sesuatu yang jauh lebih penting daripada nominal Rp6.600 atau Rp66,8 juta.

Aku tidak harus membeli tempatku di sebuah keluarga.

Aku juga tidak harus terus memberi hanya supaya disebut istri yang baik.

Kalau sebuah hubungan hanya terasa damai ketika aku membayar dan diam, itu bukan kedamaian yang ingin kupertahankan.

Sekarang, setiap kali ada pengeluaran keluarga, aku bertanya satu hal lebih dulu:

“Ini tanggung jawab siapa?”

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan, aku tidak merasa bersalah saat menunggu jawabannya.