**Suamiku Cuma Memberi Rp6.600 untuk Kelahiran Anak Kakakku—Besoknya Kubatalkan Paket Postpartum Rp66,8 Juta untuk Adiknya**
BAGIAN 1
“Anak kakakku baru genap sebulan, dan di depan seluruh keluarga, suamiku hanya mentransfer Rp6.600 sebagai hadiah.”
Suara notifikasi dari ponsel Rendra terdengar jelas di meja makan.
Tangan Ibu yang sedang memegang sendok langsung berhenti di udara.
Ayah perlahan menurunkan gelasnya.
Kakakku, Maya, menunduk dan pura-pura sibuk dengan nasi di piringnya.
Sementara suaminya, Arif, masih mencoba tersenyum meski wajahnya sudah kaku.
Aku menatap layar ponsel Rendra.
Transfer digital.
Rp6.600.
Catatan:
“Semoga semuanya lancar.”
Hari itu kami mengadakan syukuran satu bulan kelahiran putri pertama Maya di sebuah rumah makan keluarga di Depok. Hampir semua kerabat dekat datang.
Bahkan Pak Hadi, mantan rekan kerja Ayah yang sudah bertahun-tahun jarang bertemu, memberi amplop Rp500.000.
Rendra?
Enam ribu enam ratus rupiah.
Aku menarik napas, lalu menyentuh lengannya pelan.
“Mungkin salah tekan nol? Transfer lagi saja.”
Rendra menatapku.
Tatapan yang sangat kukenal setelah lima tahun menikah.
Bukan malu.
Bukan merasa bersalah.
Melainkan kesal karena aku berani mempertanyakannya.
Ia mengunci layar ponsel lalu memasukkannya ke saku.
“Kakakmu melahirkan memang ada hubungannya apa denganku?”
Suasana meja mendadak sunyi.
Sendok Ibu jatuh mengenai pinggir mangkuk.
“Rendra, maksudmu apa?”
Sebelum Rendra menjawab, ibu mertuaku, Bu Ratna, tertawa kecil.
“Besan jangan dipikirkan. Angka enam itu bagus. Enam ribu enam ratus, doanya supaya rezeki lancar. Anak zaman sekarang kan sudah tidak terlalu memikirkan adat amplop.”
Senyumnya terlihat ramah.
Namun aku mengenal senyum itu.
Senyum yang sama setiap kali ia berhasil membuat keluargaku merasa lebih rendah.
Bibir Ibu bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya diam.
Ayah menatapku.
Ada kemarahan di matanya.
Namun lebih banyak kekhawatiran.
Ia takut jika membela putrinya sekarang, kehidupan rumah tanggaku akan semakin sulit nanti.
Maya masih menunduk.
Tangannya sedikit gemetar.
Aku mengenal kakakku selama tiga puluh tahun. Dia bukan perempuan yang mudah menangis di depan orang lain.
Namun saat itu matanya sudah merah.
Beberapa kerabat mulai berbisik.
“Tega sekali…”
“Memangnya keluarga istrinya dianggap apa?”
Arif akhirnya meletakkan sendok.
Ia masih mencoba memberi Rendra kesempatan menyelamatkan muka.
“Ren, jangan-jangan memang salah transfer. Kalau begitu biar kukembalikan. Kamu transfer ulang saja.”
Rendra mengambil sepotong ayam dari piring saji.
“Tidak salah.”
Hanya dua kata.
Dingin.
Tanpa sedikit pun rasa malu.
Aku menatap wajah pria yang selama lima tahun kupanggil suami.
Dulu aku menganggapnya tenang dan tegas.
Hari itu, baru kusadari bahwa selama ini aku terlalu sering menyebut sikap kejamnya sebagai “ketegasan”.
Aku tidak bertengkar.
Tidak membanting meja.
Aku hanya mengambil sepotong ikan dan meletakkannya di piring Maya.
“Makanlah, Kak.”
Maya mengangkat wajah.
Aku tersenyum kepadanya.
Dalam perjalanan pulang, Rendra malah bersenandung sambil menyetir.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku membuka aplikasi di ponsel.
Di layar masih tersimpan satu pemesanan yang kubuat bulan lalu.
Adik Rendra, Dinda, sedang hamil delapan bulan.
Atas permintaan Bu Ratna, aku memesankan paket perawatan ibu dan bayi pascamelahirkan di sebuah postpartum care center premium di Jakarta Selatan.
Total:
Rp66.800.000.
Aku yang membayarnya.
Menggunakan bonus tahunan dari pekerjaanku sendiri.
Jariku berhenti di tombol:
Batalkan pesanan.
Tiga detik.
Lalu kutekan.
“Dana akan dikembalikan ke metode pembayaran awal.”
Aku mematikan layar.
Sesampainya di rumah, Rendra melempar sandalnya lalu rebahan di sofa untuk menonton sepak bola.
Di pintu kulkas masih tertempel kartu kecil dari Dinda.
Tulisan tangannya berbunyi:
“Makasih, Kak Laras. Aku suka banget tempat ini!”
Aku mencabut kartu itu.
Melipatnya.
Memasukkannya ke dalam tas.
Tak lama kemudian, notifikasi masuk.
Pengembalian dana Rp66.800.000 sedang diproses.
Rendra bersorak karena tim favoritnya mencetak gol.
“YES!”
Aku menatapnya dari belakang.
Dia sama sekali belum tahu bahwa besok pagi, satu keluarganya akan meneleponku.
Dan kali ini, aku tidak berniat menjadi menantu yang selalu mengalah
BAGIAN 2: Rahasia di Balik Rp6.600
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Rendra sudah mendengkur di sampingku, sama sekali tidak terganggu oleh apa yang terjadi siang tadi. Ponselku masih menyala, menampilkan halaman pengembalian dana yang sedang diproses.
Aku menatap langit-langit kamar.
Lima tahun menikah.
Lima tahun aku selalu menjadi pihak yang mengalah.
Setiap kali ada konflik, ibuku selalu berpesan, “Laras, sabarlah. Rumah tangga itu butuh pengorbanan.”
Setiap kali Bu Ratna merendahkan keluargaku, aku hanya tersenyum dan menelan semua rasa sakit itu.
Tapi hari ini…
Rp6.600.
Angka itu terus berputar di kepalaku.
Bukan soal jumlahnya. Bukan soal uang.
Tapi soal penghinaan yang dilakukan di depan keluargaku sendiri.
Aku meraih ponsel dan membuka galeri foto. Ada satu folder yang sudah lama tidak kubuka—folder berisi screenshot percakapan yang dulu kutemukan secara tidak sengaja di ponsel Rendra.
Dulu aku memilih diam.
Aku memilih percaya bahwa itu semua hanya salah paham.
Tapi malam ini, aku membaca ulang semuanya dengan mata yang berbeda.
Pagi berikutnya, aku terbangun karena suara ponsel yang bergetar.
Nama “Bu Ratna” terpampang di layar.
Aku menatapnya selama beberapa detik sebelum menjawab.
“Halo, Bu.”
“Laras! Akhirnya!” Suara Bu Ratna terdengar panik—panik yang tidak pernah kudengar sebelumnya. “Kamu di mana? Dinda menelepon sejak subuh. Katanya ada masalah dengan pesanan postpartum-nya!”
Aku duduk di tepi ranjang. Rendra masih tidur.
“Masalah apa, Bu?”
“Katanya pesanannya dibatalkan! Kamu yang pesan, kan? Coba cek, mungkin ada kesalahan sistem atau apa…”
Aku diam.
“Laras? Kamu dengar?”
“Aku dengar, Bu.”
“Ya sudah, cepat cek! Dinda sudah delapan bulan, dia butuh kepastian. Apalagi suaminya, Budi, sudah bilang ke keluarganya kalau istrinya akan melahirkan di tempat premium itu. Kalau sampai batal, malu dong!”
Aku tersenyum tipis.
Malu.
Jadi Bu Ratna masih tahu kata itu.
“Bu,” suaraku tenang. “Pesanan itu memang saya batalkan.”
Hening.
“APA?!”
“Iya, saya batalkan.”
“Kamu… kamu gila ya, Laras?! Kenapa kamu batalkan? Itu kan untuk Dinda! Kamu sudah janji!”
“Betul, saya yang menjanjikan. Dan saya yang membayar. Jadi saya juga yang berhak membatalkan.”
“Tapi… tapi kenapa?!”
Aku menarik napas.
“Tanya saja ke anak Ibu. Tanya kenapa dia hanya memberi Rp6.600 untuk kelahiran keponakannya sendiri.”
Hening lagi.
Lebih lama kali ini.
Lalu suara Bu Ratna meninggi.
“Jadi ini balas dendam?! Kamu batalkan pesanan Rp66 juta hanya karena masalah amplop?! Laras, kamu itu menantu yang tidak tahu terima kasih! Kami sudah menerimamu di keluarga ini dengan baik—”
“Dengan baik?”
Aku tertawa.
Tawa yang bahkan membuat Rendra bergerak di tempat tidur.
“Bu, selama lima tahun saya selalu mengalah. Saya selalu diam. Saya selalu menelan semua ucapan Ibu yang merendahkan keluarga saya. Tapi kemarin… di depan semua orang… anak Ibu mempermalukan kakak saya dengan cara yang paling kejam.”
“Itu hanya salah paham—”
“Rp6.600, Bu. Bukan salah paham. Itu penghinaan.”
Suara Bu Ratna bergetar.
“Laras, kamu tidak bisa begitu. Dinda sudah terlanjur bilang ke semua orang. Kalau ini batal, nama keluarga kami hancur!”
“Nama keluarga Ibu?”
Aku berdiri dari ranjang, berjalan ke jendela.
“Bu, kemarin nama keluarga saya juga hancur. Di depan semua kerabat saya. Dan anak Ibu melakukannya sambil makan ayam dengan santai.”
“Laras—”
“Maaf, Bu. Saya harus siapkan sarapan.”
Aku menutup telepon.
Rendra terbangun satu jam kemudian.
Ia langsung menuju dapur, masih dengan mata setengah tertutup.
“Ada sarapan?”
“Aku tidak masak.”
Ia menatapku.
“Kenapa?”
“Tanya ibumu.”
Rendra mengerutkan kening. Ia meraih ponselnya dan—seperti yang kuduga—layar langsung dipenuhi notifikasi.
Panggilan tak terjawab dari Bu Ratna.
Pesan dari Dinda.
Pesan dari Budi, suami Dinda.
Wajah Rendra berubah.
“Laras… kamu batalkan pesanan Dinda?”
“Iya.”
“Kamu gila?!”
Ia menghampiriku, ponsel masih di tangan.
“Kenapa kamu lakukan itu?!”
“Kamu serius bertanya?”
“Kamu tidak bisa main-main dengan uang segitu! Itu untuk adikku!”
“Uang itu uangku.”
Rendra terdiam.
“Bonus tahunanku. Aku yang bekerja lembur berbulan-bulan untuk mendapatkannya. Aku yang mengatur semuanya. Dan aku yang berhak membatalkannya.”
“Tapi kamu sudah janji!”
“Aku janji karena ibumu memaksa. Kamu tahu itu.”
Rendra menatapku dengan tatapan yang sama seperti kemarin—kesal karena aku berani melawan.
“Kamu cemburu ya? Karena aku kasih Rp6.600 ke kakakmu?”
“Bukan cemburu, Rendra. Aku muak.”
“Apa?”
“Muak. Lima tahun aku muak.”
Rendra pergi ke rumah ibunya siang itu.
Aku tidak mengikutinya.
Aku duduk di ruang tamu, menatap kartu kecil dari Dinda yang sudah kumasukkan ke dalam tas.
Ponselku bergetar.
Maya.
“Laras? Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik, Kak.”
“Tadi Ibu telepon. Katanya… Bu Ratna menelepon Ibu. Marah-marah. Katanya kamu batalkan pesanan adik Rendra?”
“Aku memang batalkan.”
Hening.
“Laras… apa kamu tidak takut?”
“Takut apa, Kak?”
“Takut… rumah tanggamu hancur?”
Aku tersenyum.
“Kak, rumah tanggaku sudah hancur sejak lama. Aku hanya terlalu bodoh untuk mengakuinya.”
Maya diam.
Lalu suaranya terdengar bergetar.
“Laras… aku minta maaf.”
“Kak, kamu tidak salah.”
“Tapi karena acara syukuran aku—”
“Kak, dengar.” Suaraku tegas. “Kamu tidak pernah salah. Kamu hanya melahirkan anakmu. Rendra yang memilih untuk mempermalukan kita. Dan sekarang… aku memilih untuk berhenti diam.”
Malam itu, Rendra pulang dengan wajah gelap.
Aku sedang duduk di sofa, membaca buku.
“Laras.”
Aku tidak mengangkat kepala.
“Laras, kita bicara.”
Aku menutup buku.
“Silakan.”
Ia duduk di seberangku.
“Kamu harus mengembalikan pesanan itu.”
“Tidak.”
“Laras—”
“Rendra, kamu dengar aku.” Aku menatapnya lurus. “Pesanan itu sudah dibatalkan. Uangnya sudah kembali ke rekeningku. Dan aku tidak akan memesannya lagi.”
“Tapi Dinda—”
“Dinda bisa melahirkan di rumah sakit biasa seperti orang lain. Seperti kakakku.”
Rendra mengepalkan tangan.
“Kamu ini keterlaluan.”
“Aku keterlaluan?”
Aku berdiri.
“Aku keterlaluan, Rendra? Aku yang membayar Rp66 juta untuk adikmu. Aku yang mengurus semua pesanan itu. Aku yang bahkan memilih kamar terbaik untuknya. Dan kamu? Kamu memberi Rp6.600 untuk keponakanmu sendiri.”
“Itu kan cuma—”
“Cuma apa? Cuma uang? Cuma amplop? Cuma tradisi?”
Aku menatapnya.
“Rendra, kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Ia diam.
“Bukan angka Rp6.600. Tapi kenyataan bahwa kamu melakukannya di depan keluargaku. Kamu ingin mereka tahu bahwa aku… istri kamu… tidak berharga.”
“Laras, bukan begitu—”
“Lalu kenapa?”
Rendra membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Kamu tidak bisa menjawab, kan?”
Aku duduk kembali.
“Rendra, aku sudah tahu.”
“Tahu apa?”
Aku meraih ponsel dan membuka folder screenshot itu.
“Tahu tentang percakapanmu dengan ibumu. Tentang rencana kalian.”
Wajah Rendra memucat.
“Tentang… tentang apa?”
“Tentang bagaimana kalian ingin aku terus bekerja. Terus menghasilkan uang. Tapi tidak pernah dianggap bagian dari keluarga.”
Rendra terdiam.
“Tentang bagaimana ibumu bilang, ‘Biarkan dia yang bayar semua. Toh dia tidak punya pilihan. Dia tidak akan berani meninggalkanmu.'”
“Laras, itu—”
“Tentang bagaimana kamu setuju.”
BAGIAN 3: Kebenaran yang Terbongkar
Rendra tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit.
Wajahnya bergantian antara pucat dan merah.
“Aku… aku tidak pernah setuju.”
“Kamu tidak membantah.”
“Itu karena—”
“Karena apa? Karena kamu pikir aku tidak akan pernah tahu?”
Aku meletakkan ponsel di meja.
“Rendra, aku menemukan ini setahun yang lalu.”
Matanya membelalak.
“Setahun?!”
“Iya. Setahun.”
“Dan kamu… kamu diam saja?”
“Aku berharap aku salah. Aku berharap itu hanya percakapan biasa. Aku berharap aku terlalu sensitif.”
Aku menatapnya.
“Tapi kemarin… di depan semua orang… aku sadar bahwa aku tidak salah.”
Rendra menunduk.
Ponselnya bergetar lagi. Dinda.
Ia mengabaikannya.
“Laras, aku… aku minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Untuk… untuk semuanya.”
“Terlalu terlambat, Rendra.”
Ia mengangkat wajah.
“Apa maksudmu?”
Aku berdiri dan berjalan ke kamar.
Ketika aku kembali, aku membawa sebuah map.
“Apa itu?”
“Dokumen.”
Aku meletakkannya di meja.
“Surat cerai.”
Rendra terlonjak.
“APA?!”
“Aku sudah menyiapkannya sejak tiga bulan lalu. Aku hanya menunggu momen yang tepat.”
“Laras, kamu tidak bisa—”
“Aku bisa. Dan aku akan melakukannya.”
Rendra berdiri, panik.
“Laras, dengar. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku bodoh. Tapi kita bisa perbaiki ini. Aku akan berubah—”
“Kamu sudah bilang itu lima kali.”
“Aku serius kali ini!”
“Kamu serius setiap kali.”
Aku menatapnya.
“Rendra, aku sudah memberikan kesempatan kelima. Keenam. Ketujuh. Aku sudah mencoba segalanya. Tapi kemarin… kamu menghancurkan sesuatu yang tidak bisa kamu perbaiki.”
“Keluargamu?”
“Martabatku.”
Pintu depan terbuka.
Bu Ratna masuk, disusul Dinda yang perutnya sudah besar.
“Rendra! Laras! Kalian harus—”
Bu Ratna berhenti ketika melihat map di meja.
“Apa itu?”
“Surat cerai, Bu.”
Wajah Bu Ratna berubah.
“Kamu… kamu tidak bisa!”
“Kenapa tidak?”
“Karena… karena Rendra mencintaimu!”
Aku menatap Rendra.
Ia tidak berkata apa-apa.
“Bu, kalau Rendra mencintaiku, dia tidak akan membiarkan Ibu merendahkanku selama lima tahun.”
“Aku tidak pernah merendahkanmu!”
“Bu, kemarin Ibu bilang angka enam itu bagus untuk rezeki. Ibu menertawakan keluargaku di depan mereka sendiri.”
Bu Ratna terdiam.
“Dan Ibu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Ia tidak menjawab.
“Ketika Ibu melakukannya, Ibu tersenyum. Seperti sudah biasa. Seperti aku memang pantas diperlakukan begitu.”
Dinda maju.
“Kak Laras… aku minta maaf. Aku tidak tahu—”
“Dinda, kamu tidak salah.”
“Tapi pesananku—”
“Dinda, pesanan itu bukan hadiah. Itu alat kendali.”
Dinda mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Aku menatap Bu Ratna.
“Bu, mau Ibu jelaskan? Atau aku yang jelaskan?”
Bu Ratna memucat.
“Laras, jangan—”
“Kenapa? Dinda sudah dewasa. Dia berhak tahu.”
Rendra maju.
“Laras, cukup.”
“Kenapa? Kamu takut Dinda tahu bahwa selama ini dia jadi alat ibumu untuk mengontrol aku?”
Dinda menatap ibunya.
“Ibu… apa maksud Kak Laras?”
Bu Ratna tidak menjawab.
“Bu, jelaskan.”
“Tidak ada apa-apa, Dinda.”
“Ada.” Aku meraih ponselku. “Dinda, mau lihat screenshot-nya?”
“LARAS!” Rendra mencoba meraih ponselku.
Aku mundur.
“Kenapa? Kamu takut?”
“Laras, tolong—”
“Dinda, ibumu merencanakan ini semua. Dia tahu aku punya bonus tahunan. Dia tahu aku tidak bisa menolak permintaan. Jadi dia meminta aku memesan postpartum care untukmu.”
Dinda menatapku, bingung.
“Tapi… itu kan karena Ibu sayang aku?”
“Itu karena ibumu ingin menguras tabunganku. Supaya aku tidak punya cukup uang untuk meninggalkan Rendra.”
Hening.
Dinda menatap ibunya.
“Ibu… benar?”
“Tidak! Dia bohong!”
“Bu, aku bisa tunjukkan screenshot-nya.”
Bu Ratna menatapku dengan kebencian.
“Kamu… kamu memang tidak tahu terima kasih!”
“Bu, saya tahu terima kasih. Saya berterima kasih pada diri saya sendiri karena akhirnya berani berdiri.”
Dinda duduk di sofa.
Wajahnya pucat.
“Jadi… selama ini…”
“Dinda, kamu tidak salah. Kamu hanya tidak tahu.”
Rendra berdiri di sudut ruangan, tidak berkata apa-apa.
Dinda menatap kakaknya.
“Kak… kamu tahu?”
Rendra diam.
“KAK! Kamu tahu?!”
“AKU…” Rendra menelan ludah. “Aku tahu sebagian.”
“Sebagian?!”
“Aku tahu Ibu meminta Laras membayar. Tapi aku tidak tahu…”
“Kamu tidak tahu apa? Kamu tidak tahu bahwa ibumu ingin mengontrol istrimu? Atau kamu tidak tahu bahwa kamu ikut serta dalam rencana itu?”
Dinda berdiri.
“Kak, aku hamil. Aku akan punya anak. Dan aku baru tahu bahwa selama ini… aku jadi bagian dari permainan kalian?”
“Bukan permainan—”
“Lalu apa namanya?!”
Dinda menatap ibunya.
“Ibu, aku minta maaf. Aku tidak bisa tinggal di sini.”
“Dinda, tunggu—”
Dinda berjalan ke pintu.
“Kak Laras.”
Aku menatapnya.
“Aku minta maaf. Untuk semuanya.”
“Dinda, kamu tidak salah.”
“Tapi aku tetap minta maaf.”
Ia keluar.
Pintu tertutup.
Bu Ratna menatapku dengan mata merah.
“Kamu puas?”
“Belum.”
“APA?!”
“Bu, saya akan puas ketika saya tidak perlu lagi melihat wajah Ibu setiap hari.”
Aku meraih map di meja.
“Rendra, besok kita ke pengadilan.”
“Laras—”
“Kamu bisa datang atau tidak. Tapi pernikahan ini selesai.”
Aku berjalan ke kamar.
Malam itu, aku mengunci pintu kamar.
Rendra mengetuk beberapa kali, tapi akhirnya menyerah.
Aku duduk di ranjang, menatap ponsel.
Ada pesan dari Maya.
“Laras, Ibu dan Ayah bilang mereka bangga padamu.”
Aku tersenyum.
Ada pesan dari Dinda.
“Kak Laras, aku sudah bicara dengan Budi. Kami akan cari tempat lain. Aku minta maaf.”
Aku membalas:
“Kamu tidak perlu minta maaf. Jaga dirimu dan bayimu.”
Ada pesan dari Arif.
“Laras, terima kasih. Kamu lebih kuat dari yang kami kira.”
Aku meletakkan ponsel.
Esoknya, aku pergi ke pengadilan.
Sendiri.
Rendra tidak datang.
Tapi aku tidak peduli.
Tiga bulan kemudian.
Aku duduk di kafe bersama Maya.
Bayinya tidur di stroller.
“Kamu terlihat berbeda,” kata Maya.
“Ya?”
“Lebih… ringan.”
Aku tersenyum.
“Aku memang merasa ringan.”
“Rendra?”
“Sudah selesai. Perceraian selesai bulan lalu.”
“Bu Ratna?”
“Katanya dia masih marah. Tapi aku tidak peduli.”
Maya menatapku.
“Kamu tidak menyesal?”
“Tidak.”
“Tidak sedih?”
“Kak, aku sedih selama lima tahun. Sekarang… aku hanya ingin bahagia.”
Maya meraih tanganku.
“Aku bangga padamu.”
“Terima kasih, Kak.”
Ponselku bergetar.
Pesan dari Dinda.
“Kak Laras, aku sudah melahirkan. Anakku sehat. Aku melahirkan di rumah sakit biasa. Dan aku bahagia.”
Aku tersenyum.
“Semoga bahagia selalu, Dinda.”
Aku meletakkan ponsel.
Menatap langit di luar jendela.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun…
Aku tidak takut.
EPILOG: Enam Bulan Kemudian
Aku berdiri di depan cermin.
Gaun putih.
Bukan gaun pengantin.
Gaun untuk pembukaan kafe kecilku.
“Laras Kopi.”
Maya berdiri di sampingku.
“Kamu yakin dengan nama itu?”
“Aku suka.”
“Rendra?”
“Aku dengar dia masih tinggal dengan ibunya. Dinda sudah pindah ke Surabaya bersama Budi.”
“Bu Ratna?”
“Katanya dia sering bilang aku menantu yang tidak tahu terima kasih.”
Maya tertawa.
“Dan kamu?”
“Aku tidak peduli.”
Aku berjalan ke depan kafe.
Pintu terbuka.
Matahari masuk.
Aku tersenyum.
Hidup memang tidak selalu adil.
Tapi aku belajar bahwa aku punya pilihan.
Dan pilihanku…
Adalah kebahagiaanku sendiri.
TAMAT
