SUAMI MEMAKSA ISTRINYA YANG BARU SAJA MENJALANI OPERASI BESAR DAN MASIH TERBARING LEMAH DI RANJANG RUMAH SAKIT

“…kamu bukan lagi direktur utama perusahaan itu.”

Kalimat Bu Ratih jatuh begitu saja.

Tidak keras.

Tidak dibentak.

Justru karena diucapkan dengan suara yang sangat tenang, kalimat itu terasa jauh lebih mengerikan.

Raka masih memegang pipinya yang memerah akibat tamparan sang ibu. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

 

 

 

 

 

Keisya yang sejak tadi berdiri dengan wajah penuh kemenangan perlahan menurunkan tangannya dari mulut.

“Apa maksud Ibu?”

Akhirnya Raka berhasil bersuara.

Bu Ratih tidak langsung menjawab.

Ia menarik sebuah kursi, meletakkannya di sisi ranjang Laras, kemudian duduk.

Gerakannya pelan.

Nyaris terlalu pelan untuk suasana seperti itu.

“Laras.”

Laras menoleh.

“Iya, Bu…”

“Letakkan penanya.”

Laras menatap benda di tangannya.

Barulah ia sadar sejak tadi jemarinya masih menggenggam pena yang diberikan Raka.

Ia meletakkannya di atas selimut.

Bu Ratih mengambil surat perceraian tersebut.

Dibacanya halaman pertama.

Halaman kedua.

Lalu halaman ketiga.

Alisnya semakin mengernyit.

Tiba-tiba ia tertawa kecil.

Bukan tawa senang.

Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang begitu keterlaluan sampai kemarahan pun tidak cukup untuk menanggapinya.

“Kamu bahkan memasukkan klausul pelepasan hak atas aset?”

Raka langsung menyela.

“Itu urusan pengacaraku.”

“Jangan lempar kesalahan kepada pengacara.”

Bu Ratih mengangkat wajah.

“Kamu yang meminta dokumen ini dibuat.”

Raka terdiam.

Salah satu pria berjas yang berdiri di belakang Bu Ratih maju.

Usianya sekitar lima puluhan. Rambutnya sudah mulai beruban di sisi pelipis.

“Perkenalkan, Bu Laras. Saya Surya Mahendra, kuasa hukum pribadi Ibu Ratih.”

Laras hanya mengangguk lemah.

Pak Surya membuka tas dokumennya.

Keisya mulai terlihat gelisah.

“Mas…”

Ia menyentuh lengan Raka.

“Kita pulang saja.”

Bu Ratih langsung menoleh.

“Kenapa?”

Keisya membeku.

“Tadi kalian bilang punya reservasi makan malam, bukan?”

Tidak ada yang menjawab.

Bu Ratih menunjuk kursi kosong.

“Duduk.”

Keisya menelan ludah.

“Bu, saya rasa ini masalah keluarga.”

“Bagus.”

Bu Ratih tersenyum tipis.

“Berarti kamu seharusnya tidak berada di sini sejak awal.”

Wajah Keisya memerah.

Raka buru-buru berdiri di depannya.

“Ibu jangan mempermalukan Keisya.”

Bu Ratih memandang putranya lama.

Aneh.

Tatapan seorang ibu kepada anaknya biasanya masih menyisakan sesuatu. Marah sekalipun, ada serpihan kasih yang tidak bisa benar-benar hilang.

Namun saat itu, yang terlihat di wajah Bu Ratih hanyalah kecewa.

Sangat kecewa.

“Kamu masih membelanya?”

“Dia tidak salah.”

“Begitu.”

Bu Ratih mengangguk.

“Lalu siapa yang salah? Laras?”

Raka tidak menjawab.

“Laras salah karena sakit?”

Sunyi.

“Salah karena tidak bisa memberimu anak?”

Raka mengalihkan pandangan.

Bu Ratih berdiri.

“Atau salah karena sebelas tahun lalu dia cukup bodoh untuk percaya kepadamu?”

Laras menutup mata.

Kalimat terakhir itu mengenai sesuatu yang sangat dalam.

Namun anehnya, ia tidak merasa tersinggung.

Ia justru merasa… lega.

Untuk pertama kalinya, seseorang mengatakan sesuatu yang selama ini tidak berani ia akui sendiri.

Ya.

Mungkin dulu ia memang terlalu percaya.

Bu Ratih mengambil dokumen dari tangan Pak Surya.

“Raka, kamu ingat tahun pertama perusahaan hampir tutup?”

“Tentu.”

“Berapa saldo rekening perusahaan waktu itu?”

Raka mengernyit.

“Apa hubungannya?”

“Jawab.”

“Mungkin seratus atau dua ratus juta.”

“Salah.”

Bu Ratih membuka satu lembar dokumen.

“Dua puluh tujuh juta delapan ratus ribu rupiah.”

Raka terdiam.

“Utang gaji karyawan dua bulan. Sewa kantor menunggak. Tiga proyek dibatalkan. Bank menolak pengajuan kredit.”

Bu Ratih meletakkan dokumen itu di atas meja.

“Kamu pulang ke rumah dan bilang perusahaan selesai.”

Raka mulai memahami arah pembicaraan itu.

Wajahnya berubah.

Bu Ratih menoleh kepada Laras.

“Keesokan harinya, perempuan ini datang menemuiku.”

Laras membuka mata.

Ingatan lama tiba-tiba kembali.

Sebuah rumah sederhana di Yogyakarta.

Hujan sore.

Secangkir teh yang sudah dingin.

Dan dirinya yang saat itu baru berusia dua puluh tiga tahun.

Bu Ratih melanjutkan.

“Dia membawa sertifikat tanah warisan ibunya.”

Raka menggeleng.

“Aku tahu soal tanah itu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu semuanya.”

Bu Ratih mengeluarkan dokumen lain.

“Tanah itu terjual Rp1,8 miliar.”

Keisya spontan menoleh kepada Raka.

Raka sendiri tampak terkejut.

“Sebagian uang digunakan untuk menyelamatkan perusahaan. Sisanya?”

Bu Ratih berhenti.

Laras memandang ibu mertuanya.

Ia pun tidak tahu.

“Atas saranku, uang itu digunakan membeli saham perusahaan melalui badan investasi yang waktu itu baru dibentuk.”

Raka membeku.

“Apa?”

“Namanya PT Lestari Karya Nusantara.”

Raka langsung mengenali nama itu.

“Tidak mungkin.”

Pak Surya mengeluarkan salinan akta.

“Mungkin Bapak pernah melihat nama perusahaan tersebut dalam daftar pemegang saham.”

Raka mengambil dokumen itu dengan kasar.

Matanya bergerak cepat.

Satu baris.

Dua baris.

Tiga…

Tangannya mendadak berhenti.

PT Lestari Karya Nusantara.

Pemegang saham terbesar.

Empat puluh dua persen.

Raka menatap ibunya.

“Perusahaan ini milik Ibu.”

Bu Ratih menggeleng.

“Bukan.”

Raka kembali membaca.

“Selama ini Ibu yang mewakili perusahaan itu dalam rapat pemegang saham.”

“Benar.”

“Jadi?”

Bu Ratih menatap Laras.

“Pemilik manfaat akhirnya adalah Laras.”

Ruangan seolah membeku.

Bahkan suara mesin jantung terasa jauh.

Laras mengerutkan kening.

“Bu…”

Bu Ratih mendekati ranjang.

“Dulu kamu menyerahkan semuanya kepadaku karena kamu bilang tidak mengerti soal saham. Kamu hanya ingin perusahaan Raka selamat.”

Mata Laras mulai berkaca-kaca.

“Aku ingat.”

“Kamu bahkan meminta namamu jangan diberitahukan kepada Raka.”

Laras tertawa kecil.

Tawa yang sangat lemah.

“Dulu aku takut dia merasa harga dirinya terluka.”

Bu Ratih memejamkan mata sebentar.

“Nah. Itu kesalahan kita.”

Raka memukul dokumen dengan telapak tangannya.

“Tunggu!”

Semua menoleh.

“Kalau benar Laras punya empat puluh dua persen, itu tetap tidak cukup untuk memecatku!”

Pak Surya menjawab datar.

“Benar.”

Raka seperti mendapatkan udara kembali.

Ia tersenyum.

“Nah.”

“Tetapi ada saham milik Ibu Ratih sebesar dua belas persen.”

Senyumnya hilang.

Pak Surya melanjutkan.

“Dan berdasarkan rapat luar biasa pemegang saham yang sah pagi tadi, gabungan suara tersebut cukup untuk memberhentikan Bapak dari jabatan direktur utama.”

Raka tidak bergerak.

Keisya perlahan mundur satu langkah.

Hanya satu.

Namun Laras melihatnya.

Bu Ratih juga.

“Keisya.”

Perempuan itu tersentak.

“I-iya, Bu?”

“Mau ke mana?”

“Saya hanya…”

“Restoran?”

Tidak ada jawaban.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, Laras hampir tersenyum.

Bukan karena senang melihat orang lain dipermalukan.

Ia hanya baru menyadari sesuatu.

Keisya tadi datang dengan kepala tegak karena mengira Raka memiliki segalanya.

Sekarang tubuhnya sudah mengarah ke pintu.

Cepat sekali.

Begitu rupanya.

Raka menatap Laras.

“Kamu merencanakan ini?”

Pertanyaan itu begitu absurd sampai Laras sempat mengira dirinya salah dengar.

“Apa?”

“Kamu sengaja menyuruh ibuku melakukan semua ini!”

Laras memandang infus di tangannya.

Kemudian monitor.

Lalu selimut rumah sakit.

Terakhir, ia menatap Raka.

“Aku bahkan belum bisa berjalan ke kamar mandi.”

Raka kehilangan kata-kata.

Bu Ratih maju.

“Yang merencanakan semuanya aku.”

“Ibu menghancurkan anak sendiri demi dia?”

“Jangan salah.”

Suara Bu Ratih berubah.

“Aku sedang menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan dari kesalahan anakku sendiri.”

Raka tertawa kasar.

“Hebat.”

Ia menunjuk Laras.

“Jadi sekarang semua orang membela perempuan yang tidak bisa memberiku keturunan.”

Bu Ratih menatapnya.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat dokter senior di dekat pintu ikut mengangkat kepala.

“Masih juga soal anak?”

Raka mendengus.

“Apa lagi?”

Bu Ratih membuka tasnya.

Ada satu amplop putih.

Ia tidak langsung memberikannya.

“Enam bulan lalu aku memintamu melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap sebelum program kehamilan berikutnya.”

Raka terdiam.

Laras perlahan menoleh.

Bu Ratih melanjutkan.

“Kamu menolak memberikan hasilnya kepada Laras.”

Wajah Raka berubah.

“Karena itu privasiku.”

“Benar.”

Bu Ratih mengangguk.

“Dan aku tidak akan membuka rincian medisnya di sini.”

Ia memasukkan kembali amplop tersebut.

“Tapi jangan pernah lagi menggunakan Laras sebagai sasaran hinaan soal keturunan. Dokter sudah menjelaskan bahwa persoalan itu tidak bisa kamu timpakan begitu saja kepadanya.”

Keisya menatap Raka.

“Mas?”

Raka menggeram.

“Cukup!”

Monitor Laras kembali berbunyi lebih cepat.

Dokter senior akhirnya maju.

“Pak Raka.”

Nada suaranya tegas.

“Pasien baru menjalani operasi besar. Percakapan ini harus dihentikan.”

Raka tidak peduli.

Ia mendekati Laras.

“Kamu senang sekarang?”

Laras menatapnya.

Anehnya, ia tidak lagi takut.

Mungkin karena sesuatu di dalam dirinya sudah patah.

Dan benda yang sudah patah tidak selalu menjadi lebih lemah.

Kadang justru tidak ada lagi yang bisa diancam.

“Tidak.”

Jawaban itu membuat Raka berhenti.

“Aku tidak senang.”

Laras menarik napas.

“Aku kehilangan sebelas tahun.”

Matanya basah, tetapi suaranya stabil.

“Aku kehilangan banyak hal untuk membangun hidup bersamamu.”

Ia menatap Keisya sebentar.

“Kamu pikir aku ingin menang seperti ini?”

Raka diam.

“Aku cuma ingin sembuh.”

Kalimat sederhana itu membuat ruangan mendadak sunyi.

“Aku ingin bisa duduk tanpa sakit. Aku ingin bisa berjalan lagi. Aku ingin makan tanpa mual. Aku ingin pulang dan tidur tanpa mendengar mesin ini.”

Air matanya jatuh.

“Perusahaan, saham, jabatanmu… hari ini aku tidak peduli.”

Ia berhenti.

Kemudian menambahkan pelan,

“Tapi surat cerai itu…”

Raka menunggu.

“…aku akan menandatanganinya.”

Keisya tersenyum spontan.

Raka pun tampak terkejut.

Bu Ratih justru menoleh cepat.

“Laras.”

Laras menggeleng.

“Bukan sekarang, Bu.”

Ia menatap Pak Surya.

“Setelah saya pulih. Setelah pengacara membaca semuanya. Setelah pembagian hak dilakukan secara adil.”

Pak Surya mengangguk.

“Itu keputusan yang jauh lebih aman.”

Laras kembali memandang Raka.

“Aku akan menceraikanmu.”

Kali ini suaranya tidak bergetar.

“Bukan karena kamu memaksaku.”

Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi.

“Tapi karena aku akhirnya tidak ingin menjadi istrimu lagi.”

Entah kenapa, justru kalimat itulah yang menghancurkan wajah Raka.

Bukan kehilangan jabatan.

Bukan saham.

Bukan tamparan ibunya.

Melainkan kenyataan bahwa Laras tidak lagi memohon.

Raka mundur.

Keisya memegang lengannya.

“Mas, ayo pergi.”

Raka menoleh kepadanya.

“Pergi ke mana?”

Keisya terdiam.

“Tadi kamu bilang kita makan malam.”

Raka tertawa hambar.

“Kamu masih memikirkan makan malam?”

Keisya langsung melepaskan tangannya.

“Aku cuma…”

Sesuatu yang pahit melintas di wajah Raka.

Barangkali baru saat itu ia melihat perempuan di sampingnya tanpa tirai kesombongan.

Namun sudah terlambat.

Bu Ratih menunjuk pintu.

“Keluar.”

Raka menatap ibunya.

“Ibu…”

“Keluar dari kamar Laras.”

Kali ini Raka menurut.

Keisya berjalan menyusul.

Sebelum keluar, ia sempat menoleh ke arah Laras.

Tidak ada lagi senyum mengejek.

Yang tersisa hanya wajah seseorang yang sadar bahwa pesta yang ia kira baru dimulai ternyata sudah selesai.

Pintu tertutup.

Klik.

Laras mengembuskan napas.

Lalu tubuhnya tiba-tiba lemas.

“Laras!”

Bu Ratih langsung mendekat.

Dokter dan perawat masuk.

Ruangan menjadi sibuk.

Tekanan darah diperiksa.

Infus diperhatikan.

Monitor berbunyi.

Bu Ratih berdiri di sudut ruangan dengan tangan gemetar.

Baru saat itu kemarahannya runtuh.

Ia menangis.

Diam-diam.

Beberapa menit kemudian kondisi Laras stabil.

Dokter meminta semua orang keluar kecuali satu anggota keluarga.

Bu Ratih tetap tinggal.

Ia duduk di samping ranjang.

Tidak ada yang berbicara cukup lama.

Kemudian Laras berkata,

“Bu.”

“Hm?”

“Kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku soal saham itu?”

Bu Ratih menatap tangannya.

“Karena kamu pernah memintaku merahasiakannya.”

“Itu sebelas tahun lalu.”

“Aku tahu.”

“Seharusnya Ibu bilang.”

“Iya.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan panjang.

Hanya satu kata itu.

Iya.

Laras justru merasa lebih tenang.

Bu Ratih menggenggam tangannya dengan hati-hati.

“Ada satu hal lagi.”

Laras mengerutkan kening.

“Apa?”

“Saat kamu sudah pulih nanti, jangan langsung mengurus perusahaan.”

Laras hampir tertawa.

“Saya bahkan tidak tahu cara menjadi direktur.”

“Bagus.”

Laras menatapnya bingung.

Bu Ratih tersenyum untuk pertama kalinya.

“Berarti kamu tidak akan sok tahu seperti anakku.”

Laras tertawa kecil.

Bekas operasinya langsung terasa sakit.

“Aduh…”

“Jangan tertawa!”

“Ibu sendiri yang membuat saya tertawa.”

Dan entah bagaimana, setelah hari yang kacau itu, mereka berdua benar-benar tertawa.

Pelan.

Aneh.

Sedikit menangis juga.

Tiga bulan berlalu.

Perceraian Laras dan Raka akhirnya diproses melalui jalur hukum.

Tidak ada drama besar di depan pengadilan.

Tidak ada Laras datang dengan pakaian mewah untuk membalas penghinaan.

Ia datang dengan kemeja putih sederhana, celana panjang hitam, dan sepatu datar karena tubuhnya masih dalam masa pemulihan.

Raka datang sendiri.

Keisya sudah tidak bersamanya.

Hubungan mereka berakhir kurang dari dua minggu setelah Raka kehilangan jabatan.

Laras mendengar kabar itu dari orang lain.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Bukan urusannya lagi.

Dalam proses penyelesaian perceraian, hak-hak Laras dipisahkan secara jelas. Saham yang sejak awal memang menjadi miliknya tetap berada di bawah kendalinya. Aset perkawinan diselesaikan melalui pendampingan hukum.

Tidak ada perebutan dengan teriakan.

Kertas.

Tanda tangan.

Stempel.

Kadang akhir sebuah pernikahan sebelas tahun memang sesederhana bunyi pena di atas meja.

Srek.

Selesai.

Setidaknya secara hukum.

Luka tentu tidak bekerja secepat itu.

Ada malam ketika Laras masih terbangun dan refleks mencari Raka di sisi tempat tidur.

Ada pagi ketika ia tiba-tiba menangis hanya karena melihat dua cangkir kopi.

Ada pula hari ketika ia merasa sangat kuat.

Lalu besoknya tidak ingin keluar kamar.

Bu Ratih tidak pernah menyuruhnya “segera melupakan.”

Ia hanya datang.

Kadang membawa soto ayam.

Kadang membawa buah terlalu banyak.

Kadang tidak membawa apa-apa.

Enam bulan setelah kejadian di rumah sakit, Laras kembali menginjakkan kaki di gedung perusahaan.

Para karyawan berdiri menyambutnya.

Ia langsung mengangkat tangan.

“Jangan begini.”

Mereka bingung.

“Saya bukan presiden.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Ketegangan pecah.

Laras tidak mengambil posisi direktur utama.

Ia memilih duduk sebagai komisaris dan pemegang saham aktif, sementara operasional perusahaan diserahkan kepada profesional yang sudah berpengalaman.

Keputusan pertamanya bahkan bukan proyek besar.

Ia meminta perusahaan membayar seluruh tunggakan lembur karyawan lama yang dulu terabaikan.

Keputusan keduanya?

Membentuk dana bantuan kesehatan untuk karyawan dan keluarga inti mereka.

Seorang manajer bertanya mengapa.

Laras hanya menjawab,

“Saya pernah terbaring di rumah sakit sambil memikirkan siapa yang akan membayar tagihan besok.”

Tidak ada presentasi motivasi.

Tidak ada pidato.

Cukup itu.

Setahun kemudian, Laras kembali ke rumah sakit yang sama.

Bukan sebagai pasien.

Ia datang untuk menandatangani kerja sama program bantuan operasi bagi pasien perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah.

Setelah acara selesai, Laras berdiri sendirian di koridor.

Ia melihat pintu kamar VIP tempat dirinya dulu terbaring.

Nomornya masih sama.

Langkahnya berhenti.

Banyak hal datang sekaligus.

Pena.

Dokumen.

Gaun merah.

Tamparan.

Suara monitor.

Dan satu kalimat:

Kamu bukan lagi direktur utama perusahaan itu.

“Laras?”

Ia menoleh.

Bu Ratih berdiri beberapa meter di belakangnya.

Usianya kini terlihat sedikit lebih tua. Atau mungkin Laras baru mulai memperhatikan.

“Kok diam?”

Laras tersenyum.

“Ingat sesuatu.”

“Yang buruk?”

“Sebagian.”

Bu Ratih berdiri di sampingnya.

Mereka memandang pintu itu.

“Laras.”

“Iya, Bu?”

“Kamu menyesal?”

Laras berpikir.

Cukup lama.

Kemudian menggeleng.

“Kalau ditanya apakah saya ingin mengulang semuanya, tentu tidak.”

Bu Ratih tersenyum kecil.

“Tapi?”

“Tapi saya akhirnya tahu hidup saya ternyata lebih besar daripada menjadi istrinya Raka.”

Mereka berjalan menuju lift.

Pintu lift terbuka.

Sebelum masuk, ponsel Laras berbunyi.

Pesan dari sekretaris perusahaan.

Rapat pukul dua siang dimundurkan.

Pesan kedua dari sahabatnya.

Makan malam jangan lupa.

Pesan ketiga…

Laras berhenti.

Bu Ratih melirik.

“Kenapa?”

Laras tersenyum aneh.

“Tidak apa-apa.”

“Siapa?”

“Teman.”

“Teman?”

“Bu.”

Bu Ratih langsung tertawa.

“Baik, baik.”

Laras memasukkan ponselnya ke tas.

Tidak semua kebahagiaan membutuhkan lelaki baru.

Tidak semua akhir bahagia harus berupa pernikahan kedua.

Saat itu, kebahagiaan Laras jauh lebih sederhana.

Tubuhnya sehat.

Ia memiliki pekerjaan yang ia pilih sendiri.

Rumah kecil yang ditatanya sesuai seleranya.

Orang-orang yang datang tanpa meminta apa pun.

Dan pagi hari yang tidak lagi dimulai dengan rasa takut.

Beberapa minggu kemudian, pada hari ulang tahunnya yang ketiga puluh tiga, Laras mengadakan makan malam kecil di halaman rumah.

Tidak ada pesta mewah.

Hanya lampu-lampu kecil.

Nasi liwet.

Ayam bakar.

Sambal yang terlalu pedas karena Bu Ratih salah menghitung cabai.

Dan tawa.

Banyak tawa.

Di tengah acara, Bu Ratih menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya ada gelang emas.

Laras langsung diam.

Modelnya tidak sama persis dengan gelang peninggalan ibunya yang dulu ia jual.

Namun cukup mirip untuk membuat tenggorokannya tercekat.

“Bu…”

“Aku tidak bisa mengembalikan gelang ibumu.”

Bu Ratih menatapnya.

“Jadi jangan anggap ini pengganti.”

Laras menyentuh gelang tersebut.

“Lalu?”

“Anggap saja hadiah untuk perempuan yang akhirnya belajar menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri.”

Laras menunduk.

Air matanya jatuh.

“Jangan menangis.”

“Saya tidak menangis.”

“Itu air apa?”

“Kena asap ayam bakar.”

Bu Ratih menoleh ke panggangan yang jaraknya hampir sepuluh meter.

“Asapnya pintar sekali.”

Laras tertawa sambil menghapus air mata.

Malam semakin larut.

Setelah semua tamu pulang, Laras berdiri di teras.

Ia memasang gelang itu di pergelangan tangannya.

Tidak terlalu mahal.

Tidak perlu.

Angin malam Jakarta terasa lembut.

Ponselnya berbunyi sekali.

Sebuah pesan masuk.

Nama pengirimnya membuat Laras diam beberapa detik.

Raka.

Pesannya pendek.

Selamat ulang tahun. Semoga kamu sehat. Aku minta maaf atas semuanya. Aku tahu mungkin sudah terlambat.

Laras membaca sampai selesai.

Tidak ada kemarahan.

Anehnya juga tidak ada rasa ingin membalas.

Ia hanya menatap layar sebentar.

Kemudian menguncinya.

Pesan itu dibiarkan tanpa jawaban.

Bukan karena dendam.

Ada beberapa pintu yang tidak perlu dibanting.

Cukup tidak dibuka lagi.

Laras masuk ke rumah.

Bu Ratih ternyata masih berada di dapur, sibuk memasukkan sisa makanan ke wadah.

“Bu belum pulang?”

“Besok saja.”

“Kenapa?”

“Sudah malam.”

“Rumah Ibu cuma dua puluh menit.”

Bu Ratih pura-pura tidak mendengar.

Laras tersenyum.

Ia mengambil dua gelas.

Membuat teh hangat.

Kemudian duduk bersama perempuan yang secara hukum tidak lagi menjadi ibu mertuanya.

Aneh memang.

Ia kehilangan seorang suami, tetapi justru menemukan seorang ibu.

Bu Ratih menyeruput teh.

“Laras.”

“Hm?”

“Besok kita sarapan bubur ayam?”

Laras berpikir sebentar.

“Boleh.”

“Jam tujuh.”

“Jam delapan.”

“Setengah delapan.”

“Deal.”

Bu Ratih mengangguk puas.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada orang bertepuk tangan.

Tidak ada pula seseorang datang membawa bunga lalu berlutut.

Hanya dua perempuan duduk di dapur hampir tengah malam, minum teh yang terlalu manis sambil berdebat soal jam sarapan.

Namun bagi Laras…

mungkin beginilah bahagia akhirnya datang.

Bukan sebagai sesuatu yang besar.

Bukan sebagai hadiah karena ia sudah cukup menderita.

Bahagia datang diam-diam.

Lewat tubuh yang kembali sehat.

Lewat rumah yang terasa aman.

Lewat pekerjaan yang tidak lagi membuatnya kehilangan dirinya sendiri.

Lewat orang yang memilih tinggal bahkan ketika tidak ada lagi hubungan darah atau ikatan pernikahan yang mewajibkan.

Dan terutama…

lewat keberanian untuk tidak kembali ke pintu yang pernah menghancurkannya.

Laras memandang gelang di pergelangan tangannya.

Dulu ia menjual gelang warisan untuk menyelamatkan impian seorang lelaki.

Sekarang ia memakai gelang baru.

Bukan untuk mengingat apa yang hilang.

Melainkan untuk mengingat satu hal yang hampir saja ia lupakan selama sebelas tahun:

Dirinya sendiri juga layak diselamatkan.

Di luar, Jakarta masih penuh suara kendaraan.

Di dapur, Bu Ratih sudah mulai menguap.

Laras tersenyum.

Besok pagi akan datang.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama…

ia tidak takut menyambutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *