Sore itu, Nita menelepon seseorang di koridor luar.

PARTE 2

Empat hari kemudian, Dimas mengubah ruang makan rumah Arya menjadi tempat eksekusi.

Maya baru saja meletakkan obat di samping piring Arya ketika Nita menunjuk ke arah dapur.

“Mulai hari ini kamu makan di dapur saja. Arya butuh ketenangan dan wajah keluarga kandung untuk memulihkan ingatannya.”

Wajah Maya pucat.

Namun dia tidak melawan dan berjalan pelan menuju dapur.

Arya duduk di kursi roda dengan tatapan kosong yang dibuat-buat.

Dimas duduk di ujung meja, membeberkan surat kuasa, dokumen perbankan, dan pengalihan aset.

“Ini demi kebaikan perusahaan sementara waktu,” ucap Dimas tanpa rasa malu.

Malam harinya, Arya mendengar suara tangisan perlahan di lorong luar kamar.

Itu suara Maya.

Maya menyapu air matanya sendiri lalu berbisik pelan bahwa esok hari dia akan memasakkan sup ayam kesukaan Arya.

Penghinaan terhadap Maya tidak berhenti di sana.

Di ruang perpustakaan, Dimas menyodorkan lembaran surat pernyataan kepada Maya.

Surat itu berisi pelepasan hak atas keputusan medis dan pengurusan aset suami.

Maya membaca tanggal di bagian bawah dokumen tersebut.

Matanya membelalak.

Tanggal di surat itu tertera 3 hari sebelum kecelakaan Arya terjadi.

“Dokumen ini sudah dibuat sebelum Arya celaka?” tanya Maya dengan suara gemetar.

Dimas tersenyum sinis.

“Tanda tangani saja dan jangan bikin rumit. Kamu hanya orang luar di rumah ini.”

Maya menolak keras dan keluar dari ruangan.

Bok Siti, asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama 24 tahun di rumah itu, melihat kejadian tersebut.

Saat membersihkan sofa perpustakaan, Bok Siti menemukan draf surat lain yang terjatuh.

Itu draf gugatan cerai atas nama Arya dan penunjukan Siska, teman dekat Nita, sebagai pendamping baru Arya.

Bok Siti menyembunyikan kertas itu di balik bajunya.

Keesokan harinya, Nita membawa Siska ke halaman belakang.

Siska duduk di dekat kursi roda Arya, memegang tangannya, dan berbicara dengan suara manis.

“Arya, mungkin ingatanmu hilang, tapi hatimu pasti mengenalku.”

Di pergelangan tangan Siska melingkar jam tangan mewah yang dibeli memakai kartu kredit perusahaan Perkasa Land.

Ketika Maya keluar membawa cangkir teh, Nita berbisik lantang pada Siska.

“Si sekering ini pasti angkat kaki sebelum Arya sadar sepenuhnya. Kita pastikan dia tidak membawa satu sen pun.”

Arya tetap memasang wajah polos tanpa ekspresi.

Namun di dalam hatinya, Arya sudah mencatat setiap detail kecurangan mereka.

Kecelakaan mobil itu bukanlah kebetulan.

Itu adalah eksekusi dari rencana yang sudah disusun rapi.

Malam harinya, jam menunjukkan pukul 02:00 pagi.

Bok Siti mengetuk pintu kamar Arya dengan sangat pelan.

Dia memastikan Dimas dan Nita sudah tertidur di kamar tamu.

Bok Siti mengeluarkan kertas draf perceraian dari saku celemeknya dan meletakkannya di atas selimut Arya.

Arya membuka matanya, duduk tegak, dan membaca setiap kalimat.

Dokumen itu tidak hanya mendepak Maya dari kehidupan Arya.

Surat itu juga memuat permohonan penetapan pengadilan untuk menyatakan Arya tidak mampu secara hukum.

Dengan begitu, Dimas bisa menguasai seluruh saham Perkasa Land secara penuh.

Ada klausa yang menyebutkan bahwa keberadaan Maya bisa “membahayakan kondisi emosional pasien”.

“Apakah Maya sudah membaca surat ini?” tanya Arya dengan suara riilnya yang tegas.

“Belum, Pak. Ibu Maya tidak tahu. Dan saya tidak sanggup melihat Ibu diperlakukan seperti binatang,” bisik Bok Siti dengan mata berkaca-kaca.

“Saya ikut Bapak dari zaman Bapak makan nasi bungkus berdua sama Ibu di barak proyek. Ibu Maya yang jahit celana Bapak yang robek. Mereka tidak berhak membuang Ibu.”

Arya mengambil ponsel tersembunyi dari bawah kasurnya.

Dia memotret seluruh halaman dan mengirimkannya langsung ke pengacaranya, Hendra Wijaya.

Balasan pesan dari Hendra masuk 12 menit kemudian.

“Draf ini dibuat 10 bulan lalu. Saya sudah melacak arus kasnya. Saya butuh waktu 1 hari lagi untuk mengunci bukti.”

Pagi harinya, Hendra mengirimkan laporan lengkap secara digital.

Uang dari Proyek Citra Raya sebesar 15 miliar rupiah dialirkan ke perusahaan fiktif bernama PT Cipta Sentosa.

Pemilik rekening penampung tersebut adalah Dimas.

Nita memang tidak menandatangani dokumen keuangan perusahaan.

Namun Nita menerima dana rutin dari rekening PT Cipta Sentosa untuk biaya hidup mewahnya.

Termasuk pembelian jam tangan emas yang dipakai Siska.

Bahkan ada hal yang lebih menjijikkan.

Selama 4 bulan terakhir, Dimas menyewa detektif swasta untuk membuntutinya dan Maya.

Foto-foto Maya saat keluar dari rumah sakit, mendatangi panti asuhan, dan mengobrol dengan rekan lamanya dipotong dan direkayasa.

Mereka berniat memakai foto-foto itu untuk menuduh Maya berselingkuh dan tidak setia.

Arya mengepalkan tangannya.

Dia teringat masa lalu ketika Maya memperingatkannya tentang kelakuan adik-adiknya.

Dulu Arya selalu membela Dimas dan Nita.

Arya selalu berpikir mereka adalah saudara kandungnya, darah dagingnya sendiri.

Arya mengorbankan perasaan istrinya demi menjaga nama baik keluarga.

Sekarang, saudara kandungnya sendiri yang mencoba menghancurkannya.

Pukul 03:30 pagi, Maya masuk ke kamar dengan langkah sangat pelan.

Dia mengira Arya tertidur lelap.

Maya membawa sebuah kotak sepatu tua.

Di dalamnya ada foto-foto masa lalu, kuitansi kontrakan rumah di Tebet, dan surat bukti pegadaian cincin pernikahan mereka.

Maya duduk di tepi ranjang dan mengelus kepala Arya.

“Dulu aku tahu ada yang tidak beres di kantor. Aku ingin ceritakan padamu, tapi aku takut kamu sedih.”

Maya mengusap air mata yang menetes di pipinya.

“Aku tidak ingin menjadi istri yang merusak hubunganmu dengan adik-adikmu. Aku memilih diam dan bertahan.”

Maya memegang tangan Arya dengan erat.

“Kalau kamu tidak pernah ingat aku lagi, tidak apa-apa. Aku yang akan tetap mengingat siapa dirimu sebelum uang mengubah segalanya. Aku akan merawatmu sampai kapan pun.”

Arya harus menahan napasnya agar tidak ketahuan bahwa dia sedang menahan tangis.

Setetes air mata lolos dari sudut mata Arya saat Maya berpaling.

Begitu Maya keluar kamar, Arya langsung menelepon Hendra.

“Besok pagi. Kita selesaikan semuanya.”

Hendra menjawab cepat di seberang telepon.

“Kita punya bukti baru soal truk boks putih itu. Sopir truk sudah ditangkap polisi di Bekasi.”

“Dia mengaku dibayar oleh seseorang bernama Rian, orang kepercayaan Dimas. Bengkel tempat perbaikan truk itu juga sudah memberikan bukti pembayaran dari rekening PT Cipta Sentosa.”

“Itu sudah cukup untuk membawa mereka ke ranah hukum,” tegas Hendra.

Dimas, yang merasa rencananya berjalan mulus, memutuskan untuk bergerak lebih cepat.

Pukul 10:00 pagi, Dimas mengumpulkan seluruh pemegang saham, direksi Perkasa Land, 2 notaris, dan pengacara keluarga di ruang rapat utama kantor pusat.

Dimas sengaja menyuruh Nita membawa Arya dan Maya ke kantor pusat.

Dia ingin memamerkan kemenangannya di depan semua orang.

Ruang rapat berukuran besar itu diisi oleh 20 orang penting.

Dimas duduk di kursi pimpinan di ujung meja.

Nita duduk di sebelah kanannya dengan senyum bangga.

Siska duduk di kursi belakang dengan pakaian mewah.

Maya berdiri di dekat pintu karena tidak ada satu pun orang yang menyediakannya kursi.

Arya duduk di kursi roda di samping Maya, ditutupi selimut tebal di bagian kakinya, dan didorong oleh Bok Siti.

Hendra duduk diam di sudut ruangan dengan tas dokumen hitam di pangkuannya.

Dokter Paula juga hadir sebagai saksi medis yang diminta Dimas.

Dimas berdiri dan memulai pembicaraan dengan nada berwibawa.

“Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Kakak saya, Arya Perkasa, mengalami musibah berat. Kondisi fisiknya lemah dan ingatannya terganggu permanen.”

Dimas menunjuk ke arah Arya.

“Demi menyelamatkan Perkasa Land dan investasi kita semua, saya harus mengambil alih kepemimpinan secara sah.”

Nita menaikkan suaranya agar terdengar oleh seluruh peserta rapat.

“Kami juga harus melindungi Arya dari orang-orang di sekitarnya yang ingin memanfaatkan kondisi lemahnya.”

Nita melirik tajam ke arah Maya.

Dimas menggeser selembar dokumen tebal ke tengah meja.

“Ini adalah surat pengalihan hak kelola dan kuasa penuh. Maya hanya perlu menandatangani persetujuan ini sebagai pendamping.”

Maya berdiri tegak.

“Saya tidak akan pernah menandatangani surat itu.”

Siska bersuara dengan nada pura-pura kasihan.

“Mbak Maya, tolong jangan egois. Ini demi kebaikan Arya dan masa depannya.”

Maya menatap Siska tanpa rasa takut.

“Kebaikan Arya tidak ada hubungannya dengan wanita yang memakai jam tangan hasil korporasi suami saya.”

Wajah Siska mendadak berubah merah padam.

Nita berdiri dan menunjuk muka Maya.

“Jaga mulutmu! Arya bahkan tidak kenal siapa kamu sekarang! Dia tidak butuh wanita miskin seperti kamu!”

Dimas menepuk meja untuk menenangkan suasana, lalu menatap Arya yang duduk di kursi roda.

“Arya, katakan pada mereka semua. Siapa yang harus mengurus hartamu dan perusahaan ini?”

Seluruh ruangan menjadi hening.

Arya menundukkan kepalanya sejenak.

Lalu suara Arya terdengar pelan namun jernih.

“Kamu, Dimas.”

Dimas tersenyum lebar dan menatap para pemegang saham.

“Kalian dengar sendiri? Dia memilih adiknya!”

Namun Arya belum selesai berbicara.

“Kamu yang sangat menginginkan uang itu.”

Senyum Dimas membeku.

Arya menyibakkan selimut tebal yang menutupi kakinya.

Pria itu menginjakkan kedua kakinya ke lantai, berdiri dari kursi roda, dan merapikan jasnya.

Seluruh ruangan terperanjat.

Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Nita mundur dua langkah hingga kursi yang didudukinya bergeser.

Arya melangkah mantap menuju ujung meja rapat.

Langkah kakinya tegap dan matanya menatap tajam ke arah Dimas.

“Saya tidak pernah hilang ingatan.”

Suara Arya menggema di dalam ruangan yang mendadak bisu.

“Saya hanya kehilangan kepercayaan pada saudara kandung saya sendiri.”

Hendra berdiri dari tempat duduknya dan menghubungkan laptopnya ke proyektor ruangan.

Layar besar di belakang meja rapat langsung menyala.

Di layar terpampang jelas seluruh transaksi bodong Proyek Citra Raya.

Nama PT Cipta Sentosa tertera besar-besar beserta alur transfer ke rekening pribadi Dimas dan Nita.

Foto-foto bukti belanja barang mewah Siska, rekaman obrolan WhatsApp, dan kuitansi pembayaran detektif swasta ditampilkan satu per satu.

Lalu, Hendra memutar rekaman suara.

Suara Nita terdengar sangat jelas dari pengeras suara ruangan.

“Si sekering ini pasti angkat kaki sebelum Arya sadar sepenuhnya. Kita pastikan dia tidak membawa satu sen pun.”

Siska langsung menundukkan kepala dan bersembunyi di balik tasnya.

Para pemegang saham mulai berbisik-bisik dengan wajah marah.

Dimas berusaha menguasai diri.

“Ini jebakan! Ini semua manipulasi data! Aku saudaramu, Arya!”

“Kalau begitu, jelaskan surat ini,” potong Arya dingin.

Hendra menampilkan dokumen draf gugatan cerai dan pengalihan harta yang diberi tanggal 10 bulan lalu.

Lalu dilanjutkan dengan surat keterangan kepolisian tentang penangkapan sopir truk boks yang menabrak mobil Arya.

“Sopir truk itu sudah berkasnya dilimpahkan ke Polda Metro Jaya pagi ini,” tegas Hendra.

“Dia menyebut nama Rian, asisten pribadimu, Dimas.”

Nita langsung menangis histeris.

“Arya! Kami cuma tidak ingin Maya menguasai harta keluarga Perkasa! Kami cuma mau mengamankan hak kami!”

Arya menatap adiknya dengan tatapan dingin.

“Maya ada di sampingku saat ‘harta keluarga’ ini cuma berupa utang 200 juta dan dua buah kursi lipat di kontrakan sempit.”

Hendra membuka dokumen terakhir.

Itu adalah Surat Wasiat dan Kuasa Darurat yang disahkan notaris sah 7 bulan lalu oleh Arya.

Jika Arya mengalami koma, kecelakaan, atau tidak mampu beraktivitas, seluruh kendali perusahaan dan harta pribadi Arya tidak jatuh ke tangan Dimas atau Nita.

Pengelola tunggal yang ditunjuk secara hukum adalah Maya, di bawah pengawasan firma hukum independen.

Nita memukul meja dengan marah.

“Dia bahkan tidak punya garis darah Perkasa!”

“Tapi dia punya hati yang tidak pernah menjualku demi uang,” jawab Arya tegas.

Dimas berjalan mengitari meja dan memegang tangan Arya.

“Arya… kita bersaudara. Jangan hancurkan keluarga kita sendiri di depan orang-orang ini.”

Arya melepaskan genggaman tangan Dimas.

“Keluarga tidak menyewa orang untuk mencelakai saudaranya di jalan tol.”

Dimas memandang Maya dengan tatapan memohon.

“Maya… tolong katakan sesuatu pada Arya. Jangan biarkan kami dipenjara. Ini akan merusak nama besar keluarga.”

Maya menatap Dimas dan Nita yang kini berdiri gemetaran.

Arya berjalan mendekati Maya dan menggenggam tangannya.

“Maya, aku tidak akan mengambil keputusan ini sendiri. Setelah semua penghinaan yang kamu terima, katakan padaku apa yang kamu inginkan.”

Seluruh ruangan menunggu jawaban Maya.

Dimas dan Nita berharap Maya akan membalas dendam secara kejam.

Namun Maya menggelengkan kepalanya pelan.

“Saya tidak butuh dendam. Saya hanya butuh keadilan dan batas yang jelas.”

Maya menatap Dimas dengan tenang.

“Saya ingin Dimas dicopot dari seluruh jabatan di Perkasa Land hari ini juga. Seluruh uang perusahaan yang dicuri harus dikembalikan penuh.”

“Saya ingin Nita mengembalikan semua aset perusahaan yang dipakai untuk kepentingan pribadi.”

“Dan untuk kasus kecelakaan lalu lintas, biarkan kepolisian menjalankan proses hukum secara murni tanpa ada intervensi.”

Dimas melotot tidak percaya.

“Kamu memenjarakan kami?!”

“Hukum yang memenjarakan kalian, bukan saya,” jawab Maya singkat.

Rapat hari itu berakhir dengan pembekuan seluruh hak saham Dimas dan Nita.

Polisi yang dipanggil oleh Hendra sudah menunggu di luar gedung kantor untuk membawa Dimas dan Rian guna pemeriksaan lebih lanjut.

Malam harinya, Arya dan Maya kembali ke rumah mereka.

Di meja makan, Bok Siti sudah menata piring Maya tepat di sebelah piring Arya.

Tidak ada lagi piring di dapur.

Bok Siti tersenyum tipis lalu permisi mundur ke belakang.

Maya berdiri di dekat meja, menatap kursi yang beberapa hari lalu dilarang untuk didudukinya.

Arya menarikkan kursi itu untuk Maya.

“Duduklah. Ini tempatmu.”

Maya duduk, namun wajahnya masih menyimpan duka.

“Ini tidak bisa menghapus semua yang sudah terjadi, Arya.”

“Aku tahu,” jawab Arya pelan.

“Ini juga tidak otomatis menyembuhkan luka akibat perkataan mereka.”

“Aku sangat paham.”

Arya berlutut di samping kursi Maya dan memegang kedua tangan istrinya.

“Aku tidak minta kamu melupakan semuanya malam ini. Aku hanya minta beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku sudah berubah.”

Dari balik pintu dapur, Bok Siti mengusap air matanya.

Rumah besar itu akhirnya kembali mendengar percakapan yang jujur tanpa ada kepalsuan.

Beberapa bulan berlalu dengan cepat.

Hasil audit independen membongkar seluruh penyimpangan dana sebesar 28 miliar rupiah yang dilakukan Dimas selama 3 tahun terakhir.

Dimas dijatuhi hukuman penjara atas kasus penggelapan dan keterlibatan dalam perencanaan kecelakaan.

Nita harus menjual seluruh rumah dan mobil mewahnya untuk mengganti kerugian perusahaan agar terhindar dari hukuman penjara.

Siska menyerahkan kembali seluruh hadiah barang mewah kepada pihak auditor.

Suatu sore, Arya mengajak Maya berkendara ke daerah Tebet.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan ruko tua berlantai dua.

Cat dindingnya sudah mengelupas dan pintunya berkarat.

Maya tertawa kecil saat melihat tempat itu.

“Ini kan ruko tempat kamu pertama kali sewa kantor dulu? Masih jelek saja.”

“Iya. Makanya kemarin lusa sudah aku beli,” kata Arya.

Arya menyerahkan sepasang kunci ruko ke telapak tangan Maya.

“Selama ini aku selalu sombong bilang bahwa aku yang membangun Perkasa Land sendirian. Itu kebohongan besar.”

“Kilas balik ke masa lalu, kita yang membangunnya berdua.”

Maya membuka tas tangannya dan mengeluarkan selembar kertas tua yang kusam.

Itu adalah surat bukti pegadaian cincin pernikahan mereka dari 19 tahun lalu.

“Aku tidak pernah menyimpan kertas ini untuk menagih hutang padamu,” kata Maya lembut.

“Aku menyimpannya untuk mengingatkan diriku sendiri, bahwa sebelum ada uang dan harta, kita sudah memilih untuk saling mendukung.”

Arya memeluk Maya dengan erat di depan ruko tua itu.

Dia tidak berjanji bahwa masa depan mereka akan bebas dari masalah.

Namun Arya tahu satu hal pasti.

Di atas bangunan ruko itu, Arya memasang plang nama baru untuk usaha sosial yang dipimpin oleh Maya.

Nama yang tertera di sana sangat sederhana:

“Srikandi & Maya”.

Arya berpura-pura lupa ingatan untuk mengetahui siapa yang mengincar hartanya.

Namun pada akhirnya, Arya menyadari fakta yang paling berharga.

Bukan harta yang hampir hilang dari hidupnya.

Melainkan satu-satunya wanita yang berdiri di sampingnya saat dia tidak memiliki apa-apa untuk disombongkan.

Darah mungkin membuat seseorang menjadi saudara.

Namun kesetiaan sejati hanya teruji saat tidak ada lagi harta yang bisa diperebutkan.