“Setujui pertemuannya. Tapi dilakukan di kantor kita, dengan aturan kita.”

PART 2

Ruang rapat PT Nusantara Logistik berukuran sedang, terang, dan sangat sederhana.

Saat Bima masuk bersama 4 orang jajaran direksinya, Kirana sudah berdiri di ujung meja.

Mata mereka bertemu.

Ada keheningan panjang yang mengudara di antara mereka.

Bima tampak terkejut melihat Kirana berdiri begitu tegak, tampil sangat profesional dan berwibawa.

Rapat dimulai dengan pemaparan angka-angka keuangan.

Tim Bima terus mendesak agar akuisisi disetujui.

Namun Kirana mematahkan setiap argumen dengan data yang sangat akurat tanpa perlu menaikkan nada suaranya.

Ketika Bima menawarkan opsi kemitraan operasional, Kirana langsung paham taktik itu.

Mereka hanya ingin masuk ke dalam sistem, mempelajari rahasia klien, dan menguasai perusahaan dari dalam.

“Penawaran kalian resmi ditolak,” tegas Kirana.

Setelah rapat selesai, tim Bima keluar dari ruangan. Bima sengaja bertahan di tempatnya.

“Kamu apa kabar, Kirana?” tanya Bima pelan.

Kirana menatap Bima tanpa ekspresi.

“Saya sangat baik, Tuan Bima.”

Malam itu, Bima yang merasa ada yang tidak beres mulai menyewa seorang penyelidik independen.

Dia meminta penyelidik itu memeriksa riwayat pembentukan Nusantara Logistik.

Hasilnya mengejutkan. Penyelidik menemukan catatan transfer modal awal sebesar Rp120.000.000 yang masuk 3 hari setelah perceraian mereka.

Asal-usul dana itu disembunyikan rapat-rapat oleh pihak bank.

Sementara itu, di kantor Adhitama Group, Siska sedang menelepon seseorang.

“Aku tahu wanita itu pemiliknya,” kata Siska dengan nada tajam. “Keluarkan dokumen itu sebelum mereka melantai di bursa saham.”

Keesokan harinya, pertemuan kedua digelar di gedung Adhitama Group atas permintaan mendesak dari pihak hukum.

Kali ini, Siska hadir secara langsung dengan senyuman sinis.

Di tengah pembicaraan, Siska meminta asistennya menampilkan sebuah dokumen di layar proyektor.

Itu adalah draf surat perjanjian lama yang pernah ditandatangani Kirana saat masih menjadi istri Bima.

Di dalam dokumen itu, tertera klausa non-kompetisi selama 10 tahun dan tuduhan bahwa Kirana menggunakan rahasia dagang Adhitama Group untuk mendirikan Nusantara Logistik.

Para peserta rapat di ruangan itu mendadak hening.

Bima menatap dokumen di layar dengan wajah tegang.

Kirana memperhatikan setiap baris tulisan di proyektor.

Ketakutan yang sempat ada di hatinya perlahan sirna, berganti dengan rasa percaya diri.

Tanda tangan di dokumen itu memang mirip dengannya.

Tapi Kirana tahu betul, dokumen itu telah direkayasa.

Dan Kirana menyimpan berkas aslinya.

“Saya minta salinan dokumen ini,” kata Kirana sambil menutup foldernya dengan tenang.

Siska tersenyum puas, merasa telah menang.

Kirana ikut tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya dalam 3 tahun, Kirana tahu bahwa permainan baru saja dimulai.

Pagi harinya, Kirana mengundang Siska ke kantor pengacaranya di daerah Menteng.

Tidak ada staf, tidak ada direksi lain.

Hanya ada satu meja, dua kursi, dan sebuah map biru.

Siska datang terlambat 8 menit dengan gaya angkuh.

“Untuk apa kamu memanggilku ke sini? Kamu mau menyerah?” tanya Siska.

Kirana membuka map biru di depannya.

“Ini dokumen yang kamu tampilkan di layar kemarin,” kata Kirana sambil meletakkan satu lembar kertas.

Lalu dia meletakkan lembar kedua di sebelahnya.

“Dan ini adalah dokumen asli yang saya tandatangani 6 tahun lalu, lengkap dengan legalisasi notaris dan cap digital.”

Senyum di wajah Siska mendadak hilang.

Dua dokumen itu terlihat persis sama, namun pada dokumen asli milik Kirana, tidak pernah ada klausa non-kompetisi.

“Pengacara saya sudah melakukan uji forensik digital tadi malam,” lanjut Kirana tenang. “File yang kamu tampilkan kemarin baru diubah kurang dari 48 jam lalu menggunakan akun pengguna dari server internal kalian.”

Siska bersandar di kursinya, mencoba tetap tenang.

“Itu tidak membuktikan bahwa aku yang melakukannya.”

“Kami memiliki salinan email yang kamu kirimkan ke staf IT, catatan riwayat akses server, dan pengakuan dari mantan staf keuangan saya yang kamu bayar,” jawab Kirana tegas.

Wajah Siska berubah pucat.

“Apa maumu?” tanya Siska dengan suara bergetar.

“Surat pengunduran diri kamu dari Adhitama Group. Tanpa drama. Kamu mundur dengan alasan pribadi hari ini, atau tim hukum saya menyerahkan bukti rekayasa ini ke kepolisian,” kata Kirana tanpa ragu.

Siska mengepalkan tangannya di bawah meja.

“Kamu selalu pandai berakting polos, Kirana.”

“Aku tidak sedang berakting.”

“Kamu masuk ke keluarga kami tanpa latar belakang, tanpa harta, dan tanpa koneksi!” seru Siska dengan nada benci. “Tapi dalam 2 tahun, Bima mulai meminta pendapatmu soal bisnis. Ayah juga lebih mendengarkanmu. Ibu selalu membela dirimu!”

“Itu bukan alasan bagimu untuk memfitnah dan memalsukan dokumen,” potong Kirana dingin.

“Kamu tidak tahu betapa susahnya aku mempertahankan posisiku di perusahaan ini!”

“Aku tahu persis. Karena itu sangat memuakkan melihatmu menjatuhkan sesama wanita hanya demi kekuasaan,” balas Kirana.

Siska bungkam.

Kirana mulai merapikan berkasnya, namun Siska mendadak bersuara lagi.

“Ada satu hal yang tidak kamu tahu,” kata Siska pelan. “Soal uang Rp120.000.000 itu.”

Tangan Kirana terhenti.

“Apa maksudmu?”

“Aku pernah mencoba membatalkan transfer itu saat ketahuan di sistem keuangan,” kata Siska. “Tapi aku tidak bisa menyentuhnya.”

“Siapa yang mengirimnya?” tanya Kirana.

Siska menatap Kirana dengan mata bersorot rumit.

“Ibu.”

Kirana terdiam.

Ibu Bima, Rahmi Adhitama, rupanya menggunakan jasa kantor hukum independen untuk mengirimkan dana bantuan itu secara rahasia.

“Aku tidak pernah paham kenapa Ibu membantumu,” lanjut Siska. “Tapi sekarang aku mengerti.”

Kirana tidak menjawab lagi.

“Surat pengunduran dirimu harus ada di meja Bima sebelum jam 5 sore,” kata Kirana lalu berdiri dan pergi.

Saat kembali ke kantornya, masalah baru muncul.

Tepat pukul 18.07, Hendra masuk ke ruangan Kirana dengan wajah cemas.

Sebuah portal berita bisnis baru saja menerbitkan artikel destruktif.

Artikel itu mempertanyakan legalitas teknologi Nusantara Logistik dan menuduh Kirana mencuri aset intelektual Adhitama Group, menggunakan salinan dokumen palsu buatan Siska.

Dua investor besar langsung menelepon untuk meminta klarifikasi.

Pukul 18.30, Kirana mengumpulkan seluruh tim inti di ruang rapat.

“Satu investor mengancam tarik modal sebelum pembukaan bursa,” kata Hendra.

Kirana meletakkan dokumen asli bercap notaris di tengah meja.

“Kirimkan fakta sebenarnya. Jangan ada yang disembunyikan.”

Tim hukum Nusantara Logistik bergerak cepat.

Mereka mengirimkan surat klarifikasi resmi ke otoritas bursa saham beserta bukti analisis forensik digital.

Pernyataan dari notaris publik juga dilampirkan.

Pukul 19.10, Kirana melakukan konferensi video dengan para investor utama.

Dia menjelaskan secara lugas tentang dokumen palsu, fakta hukum yang sebenarnya, serta langkah pidana yang siap diambil.

Penjelasannya sangat tenang, terstruktur, dan berbasis data.

Salah satu perwakilan investor asing berkata, “Kami menghargai transparansi Anda. Kami tetap bertahan dalam investasi ini.”

Pukul 20.03, Nusantara Logistik mengeluarkan rilis pers resmi.

Portal berita yang menyebarkan berita bohong tersebut langsung menurunkan artikelnya dan mengunggah klarifikasi terbuka.

Pukul 21.15, suasana kantor mulai tenang.

Hendra membawakan secangkir kopi untuk Kirana.

“Perusahaan kita aman,” kata Hendra lega.

Kirana tersenyum tipis. “Perusahaan ini akan selalu aman.”

Beberapa menit kemudian, telepon di meja sekretaris berdering.

“Bu Kirana, ada Pak Bima di luar. Beliau memaksa ingin bertemu.”

Bima masuk ke ruangan Kirana tanpa jas. Kemejanya tergulung dan dasinya sudah dilepas.

Dia tidak lagi terlihat seperti pengusaha angkuh yang menguasai gedung pencakar langit.

“Aku datang bukan untuk membicarakan bisnis,” kata Bima pelan.

Dia meletakkan selembar kertas di meja Kirana.

Itu adalah salinan email lama antara Siska dan pihak IT yang ditemukan Bima setelah melakukan audit internal mendadak di kantornya.

Bima mendapati adiknya baru saja menyerahkan surat pengunduran diri dan mengakui seluruh perbuatannya.

“Aku menemukan ini di sistem cadangan,” kata Bima dengan suara serak.

Kirana membaca email itu sekilas.

“Kenapa baru sekarang kamu memeriksanya?” tanya Kirana.

Bima menunduk.

“Aku salah, Kirana. Dulu aku langsung percaya pada berkas yang diberikan Siska. Aku tidak bertanya padamu. Aku tidak memeriksa apa pun. Aku memilih jalan yang paling mudah.”

Kirana menatap Bima dengan tenang.

“Selama 3 tahun, aku pikir hal paling menyakitkan adalah tuduhan palsu itu,” kata Kirana. “Tapi ternyata bukan. Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa pria yang menikahiku sama sekali tidak sudi mendengarkan penjelasanku.”

“Aku takut…” kata Bima lirih. “Aku takut jika kenyataannya kamu memang melakukan itu.”

“Jadi kamu memilih untuk membuangku daripada mencari kebenaran?”

Bima tidak bisa menjawab.

“Aku minta maaf, Kirana,” ujar Bima penuh penyesalan.

Kirana menarik napas panjang.

Rasa sakit yang selama ini tersimpan perlahan menguap. Tidak ada amarah, hanya rasa lega yang luar biasa.

“Aku menerima permintan maafmu, Bima. Tapi maaf tidak bisa mengembalikan waktu 3 tahun yang hilang.”

“Aku tahu.”

Kirana lalu membuka laci mejanya dan mengeluarkan berkas bukti transfer modal awal Rp120.000.000.

“Ibumu yang mengirimkan uang ini.”

Bima terkejut melihat tulisan tangan ibunya di bagian catatan dokumen tersebut.

“Ibu… melakukan ini?”

“Ibumu tahu aku tidak bersalah. Tapi dia membiarkan aku pergi agar aku bisa membuktikan diriku sendiri tanpa bayang-bayang keluargamu,” kata Kirana.

Bima terduduk di kursi dengan lemas.

“Aku benar-benar pria yang bodoh.”

“Kamu hanya terlalu sibuk mempertahankan gengsimu,” kata Kirana jujur.

Bima menatap Kirana dengan mata berkaca-kaca.

“Apakah ada kesempatan bagi kita untuk mulai dari awal?”

Kirana menggelengkan kepala secara perlahan.

“Tidak, Bima. Aku tidak membangun Nusantara Logistik untuk membuktikan apa pun padamu. Dan aku tidak membutuhkanmu lagi untuk merasa utuh.”

Bima menerima jawaban itu dengan anggukan pasrah.

Tujuh minggu kemudian, PT Nusantara Logistik resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.

Di hari pertama perdagangan, saham perusahaan melonjak naik sebesar 23 persen.

Seluruh tim di ruang kerja bersorak gembira.

Hendra memeluk rekan-rekannya, sementara Rina meneteskan air mata bahagia di sudut ruangan.

Kirana berdiri di tengah ruangan, menatap angka-angka hijau di layar besar.

Dia teringat masa-masa sulit saat harus tidur di sofa kecil, menghitung sisa uang makan, dan bekerja hingga larut malam.

Semua perjuangan itu telah terbayar tuntas.

Hari Sabtu berikutnya, Kirana mendatangi rumah ibu Bima di kawasan Pozuelo.

Dia membawa kantong kopi kesukaan wanita tua itu.

Rahmi Adhitama membukakan pintu dan menatap Kirana dengan senyum hangat.

“Kamu datang juga,” kata Rahmi.

“Saya butuh waktu 3 tahun untuk memahami semuanya, Bu,” jawab Kirana.

Mereka duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi hangat.

Kirana meletakkan berkas transfer di atas meja.

“Terima kasih atas bantuan Ibu waktu itu.”

Rahmi tersenyum lembut.

“Ibu tidak pernah meragukanmu, Kirana. Ibu tahu kamu wanita yang kuat. Jika Ibu memberimu uang itu atas nama keluarga Adhitama, kamu akan merasa terbebani. Kamu butuh peluang, bukan belas kasihan.”

“Kenapa Ibu tidak menghentikan Bima waktu itu?” tanya Kirana pelan.

Rahmi menghela napas.

“Bima harus belajar dari kesalahannya sendiri. Dia harus paham bahwa ketidakpercayaan akan menghancurkan hal paling berharga dalam hidupnya. Ibu hanya menyesal kamu harus melewati masa-masa sulit itu.”

Kirana menggenggam tangan wanita tua itu.

“Masa-masa sulit itu yang membentuk saya menjadi seperti sekarang.”

Sore harinya, saat Kirana berjalan menuju mobilnya, ponselnya berdering.

Pesan masuk dari Bima: “Selamat atas keberhasilan IPO perusahaanmu. Kamu layak mendapatkan semuanya.”

Kirana membalas singkat: “Terima kasih, Bima.”

Tidak ada lagi rasa benci. Tidak ada lagi dendam.

Kirana masuk ke dalam mobilnya dan menatap pemandangan kota Jakarta dari balik jendela.

Ponselnya berdering lagi. Kali ini dari Hendra, mengabarkan bahwa kontrak kerja sama baru dengan pelabuhan utama telah ditandatangani untuk jangka waktu 5 tahun ke depan.

Kirana tersenyum manis.

Dia menyalakan mesin mobil dan melaju bergabung dengan aliran kendaraan di jalan raya.

Masa lalu telah selesai.

Di depannya, ada masa depan cerah yang dia bangun dengan tangannya sendiri.