SETIAP SIANG AKU MENEMUKAN KOTAK MAKAN MAHAL DI DEKAT SAMPAH, TAPI SAAT KUTANGKAP ORANG YANG MENARUHNYA, DIA MENYEBUT NAMA PUTRIKU YANG SUDAH MENINGGAL

BAGIAN 2

“Putri Bapak tidak pernah naik bus itu.”

Aku menatap pria berkemeja itu.

Tanganku masih mencengkeram lengannya.

“Apa maksudmu?”

Dia tidak langsung menjawab.

Alena berdiri di sampingku dengan wajah pucat.

“Pak Seno,” katanya pelan, “tolong jangan bikin keributan di sini.”

Aku hampir tertawa.

“Anakku dinyatakan meninggal tujuh tahun lalu. Sekarang kamu bilang dia bahkan tidak ada di bus itu, lalu kamu minta saya tenang?”

Pria itu menarik lengannya.

“Nama saya Reza Mahendra.”

Aku sudah membaca namanya di kartu identitas tadi.

Mahendra.

Nama dokter yang menandatangani kematian Mira adalah dr. Surya Mahendra.

“Apa hubunganmu dengan dokter Surya?”

Rahangnya mengeras.

“Dia ayah saya.”

Aku langsung menarik kerah bajunya.

“Di mana Mira?”

Satpam kampus mulai memperhatikan.

Reza menurunkan suaranya.

“Kalau Bapak mau tahu, jangan lakukan di sini.”

“Jawab sekarang.”

“Kalau saya jawab sekarang, bukan cuma Bapak yang dalam bahaya.”

Alena tiba-tiba memegang lenganku.

“Pak, ikut kami.”

Aku menatapnya.

“Kamu juga terlibat?”

Air matanya jatuh.

“Saya justru sudah bertahun-tahun mencoba menemukan Bapak.”

Kalimat itu membuat tanganku perlahan lepas dari kerah Reza.

Kami berjalan ke sebuah warung kosong sekitar dua ratus meter dari kampus.

Reza memilih meja paling belakang.

Dia mengecek jalan beberapa kali sebelum duduk.

Aku tidak sabar.

“Mulai bicara.”

Reza menatap Alena.

“Seharusnya dia tidak menunjukkan foto itu.”

“Sudah terlambat.”

Aku meletakkan surat Mira di meja.

“Ini tulisan anak saya.”

“Iya.”

“Kalau begitu Mira hidup setelah tanggal kecelakaan?”

Reza mengangguk.

Dunia rasanya miring.

Selama tujuh tahun aku datang ke makamnya setiap bulan.

Membawa bunga.

Mengusap nisannya.

Berbicara dengan tanah.

Aku bahkan masih menyimpan seragam perawat terakhirnya di lemari.

“Berapa lama?”

“Setidaknya dua tahun setelah kecelakaan.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku jatuh.

“Kalian tahu dia hidup selama dua tahun dan tidak pernah memberi tahu saya?”

“Pak—”

“KALIAN TAHU?”

Orang warung menoleh.

Reza tetap duduk.

“Ayah saya yang tahu lebih dulu.”

Aku merasakan darah naik ke kepala.

“Dokter Surya?”

“Iya.”

Aku ingin memukulnya.

Tapi Alena lebih dulu bicara.

“Pak Seno, Mira menyelamatkan saya.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Dia menyeka air mata.

“Waktu foto itu diambil, umur saya dua belas tahun.”

“Apa hubunganmu dengan dia?”

“Saya pasiennya.”

Mira memang perawat.

Aku tahu dia pernah bekerja di klinik kecil di Sidoarjo sebelum pindah ke rumah sakit swasta.

Alena melanjutkan.

“Saya punya penyakit darah. Butuh transfusi berkala. Orang tua saya meninggal waktu saya kecil. Saya tinggal dengan paman.”

“Lalu?”

“Paman saya menjual identitas anak-anak yatim untuk klaim asuransi.”

Aku diam.

Reza mengambil alih.

“Bukan cuma identitas. Ada jaringan yang membuat data kematian palsu, klaim kecelakaan palsu, bahkan pasien fiktif.”

Aku menatapnya.

“Dan ayahmu?”

Wajahnya berubah.

“Ayah saya dokter yang menandatangani beberapa dokumen.”

“Jadi dia bagian dari jaringan itu.”

Reza tidak membantah.

Aku langsung paham.

Surat kematian Mira.

Bus menuju Malang.

Jenazah yang katanya rusak parah.

Peti yang tidak boleh dibuka.

Semua kembali ke kepalaku.

Saat itu dokter mengatakan kondisi tubuh terlalu parah.

Aku hanya melihat gelang nama.

Jam tangan.

Tas milik Mira.

Aku tidak pernah melihat wajahnya.

Tanganku dingin.

“Mayat siapa yang saya kuburkan?”

Reza menatapku.

“Kami belum tahu.”

Aku merasa mual.

Alena menunduk.

“Mira menemukan data saya dipakai untuk klaim kematian. Padahal saya masih hidup.”

“Lalu?”

“Dia mulai menyelidiki.”

Itu sangat mirip Mira.

Keras kepala.

Kalau melihat sesuatu salah, dia tidak bisa diam.

Reza berkata, “Dia menemukan puluhan nama. Sebagian benar-benar orang meninggal. Sebagian masih hidup.”

“Kenapa dia tidak lapor polisi?”

“Dia mencoba.”

“Lalu?”

“Orang yang dia laporkan ternyata punya hubungan dengan jaringan itu.”

Aku mengepalkan tangan.

“Jadi kecelakaan bus itu dibuat?”

“Tidak.”

Jawaban Reza cepat.

“Bus itu benar-benar kecelakaan. Ada korban.”

“Tapi Mira tidak ada di dalamnya.”

“Benar.”

“Lalu bagaimana barangnya bisa ada?”

Reza menatap meja.

“Itu dipasang.”

Aku berdiri lagi.

Kali ini suaraku lebih pelan.

“Siapa yang memasang?”

Reza tidak menjawab.

Alena berkata, “Dokter Surya.”

Aku menutup mata.

Ayah Reza.

Dokter yang menandatangani kematian.

Orang yang berdiri di depanku saat pemakaman.

Orang yang berkata, “Kami turut berduka.”

Aku ingat tangannya menepuk bahuku.

Sekarang aku ingin mematahkan tangan itu.

“Kenapa?”

Reza menghela napas.

“Karena Mira sudah tahu terlalu banyak.”

“Jadi ayahmu membunuh dia?”

“Tidak.”

“Jangan bohong!”

“Ayah saya membantu Mira menghilang.”

Aku terdiam.

Reza mendekat sedikit.

“Ayah saya awalnya memang bagian dari jaringan. Tapi ketika Mira menemukan semuanya, dia mengancam akan membuka data. Ayah saya takut. Bukan hanya takut masuk penjara. Dia juga tahu orang-orang di atasnya akan membunuh Mira.”

“Lalu?”

“Mereka membuat Mira seolah meninggal di kecelakaan.”

Aku menatapnya.

“Dengan persetujuan Mira?”

Reza mengangguk.

Aku sulit bernapas.

Mira memilih menghilang.

Tanpa menghubungiku.

Tanpa ibunya.

Tanpa siapa pun.

“Kenapa dia tidak membawa kami?”

“Karena ada seseorang dekat keluarga Bapak yang bekerja untuk jaringan itu.”

Kalimat itu membuat tubuhku membeku.

“Siapa?”

Reza mengeluarkan ponselnya.

Dia membuka sebuah foto lama.

Mira berdiri di depan klinik.

Di sampingnya ada dr. Surya.

Dan seorang pria yang kukenal.

Aku langsung duduk.

“Tidak mungkin.”

Alena menatapku.

“Bapak kenal?”

Aku tentu kenal.

Pak Darto.

Bukan petugas kebersihan malam yang ditanyakan Alena sebelumnya.

Darto adalah adik istriku.

Paman Mira.

Selama tujuh tahun, dia selalu datang setiap Lebaran.

Sering mengantar obat untuk istriku.

Bahkan dua bulan lalu dia meminjam uang padaku.

“Darto?”

Reza mengangguk.

“Dia yang memantau rumah Bapak setelah Mira menghilang.”

Aku merasa isi perutku diperas.

“Kenapa Alena tadi mencari petugas bernama Pak Darto?”

“Karena beberapa bulan terakhir dia menyamar sebagai petugas malam di area ini.”

Aku menatap Alena.

“Kamu melihat dia?”

“Dua kali.”

“Kenapa kamu tidak lapor?”

“Karena Mira pernah bilang, kalau saya melihat Darto lagi, jangan percaya siapa pun.”

Aku menggenggam meja.

“Mira bilang itu kapan?”

Alena tidak menjawab.

Reza menatapnya tajam.

Aku menangkap sesuatu.

“Kapan?”

Alena akhirnya berkata,

“Tiga bulan lalu.”

Aku tidak bergerak.

“Apa?”

“Mira masih hidup tiga bulan lalu.”

Suara warung hilang.

Suara kendaraan hilang.

Semua seperti jauh.

“Kamu bertemu dia?”

Alena mengangguk sambil menangis.

“Di Yogyakarta.”

Aku berdiri perlahan.

“Tunjukkan.”

“Pak—”

“Tunjukkan tempatnya.”

Kami meninggalkan warung.

Aku bahkan lupa tentang pekerjaan.

Tentang gerobak sampah.

Tentang apa pun.

Tapi sebelum masuk mobil Reza, teleponnya berdering.

Dia melihat layar.

Wajahnya langsung berubah.

“Siapa?”

Dia tidak menjawab.

Telepon berhenti.

Masuk pesan.

Dia membaca.

Kemudian menatapku.

“Kita tidak bisa ke Yogyakarta.”

“Kenapa?”

Dia menunjukkan layar.

Ada foto istriku.

Dia sedang duduk di teras rumah.

Diambil dari seberang jalan.

Pesannya:

JANGAN BAWA SENO KE MIRA.

Aku langsung merebut ponsel.

Nomornya tidak dikenal.

Di bawahnya ada pesan kedua.

KALAU MAU ISTRINYA TETAP HIDUP, SERAHKAN ALENA.

Aku memandang gadis itu.

Dia mundur.

“Ini karena saya.”

“Tidak.”

“Pak, mereka mencari saya dari dulu.”

“Kenapa?”

Dia diam.

Reza berkata, “Karena Mira menitipkan sesuatu padanya.”

“Apa?”

Alena membuka resleting kecil di tas pendinginnya.

Dari dalam lapisan kain, dia mengeluarkan kartu memori.

Kecil.

Hampir seperti sampah.

“Data asli.”

“Data apa?”

“Nama orang-orang yang terlibat.”

Aku menatap kartu itu.

“Serahkan ke polisi.”

Reza tertawa hambar.

“Kami pernah mencoba.”

“Lalu?”

“Ayah saya meninggal seminggu setelah membuat salinan.”

Aku terdiam.

“Katanya serangan jantung,” lanjut Reza. “Saya percaya selama dua tahun. Sampai menemukan hasil pemeriksaan lain.”

Aku mengerti sekarang.

Ini lebih besar daripada satu dokter.

Lebih besar daripada Darto.

Aku memikirkan istriku.

Aku langsung menelepon tetangga menggunakan ponsel Reza.

“Bu Ratna, tolong lihat rumah saya.”

Beberapa detik.

Lalu jawabannya membuatku membeku.

“Pak Seno, Bu Wati baru saja pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Katanya dijemput saudaranya.”

“Siapa?”

“Pak Darto.”

Aku langsung berbalik.

“Dia membawa istri saya.”

Reza mengumpat.

Teleponku berbunyi.

Nomor asing.

Aku angkat.

Suara Darto.

“Seno.”

Aku hampir tidak mengenali suaranya.

“Di mana Wati?”

“Dia aman.”

“Kalau kamu sentuh dia—”

“Dengar dulu.”

“Aku tidak mau dengar!”

“Kamu pikir Mira korban?”

Aku terdiam.

Darto tertawa kecil.

“Kamu benar-benar tidak tahu anakmu.”

Aku menatap Reza.

“Apa maksudmu?”

“Mira bukan cuma menemukan jaringan itu.”

“Apa?”

“Dia mengambil alih sebagian operasi.”

Aku merasa darahku berhenti.

“Bohong.”

“Tanya Alena kenapa biaya kuliahnya dibayar yayasan.”

Aku menoleh.

Alena menunduk.

“Alena?”

Tidak ada jawaban.

“Yayasan apa itu?”

Bibirnya bergetar.

“Yayasan milik Mira.”

Aku mundur.

“Dia hidup selama ini… punya yayasan… punya uang… dan membiarkan saya mengira dia mati?”

“Pak—”

Darto masih di telepon.

“Mira tidak lari karena takut dibunuh, Seno.”

“Diam.”

“Dia lari karena sudah membawa uang mereka.”

“DIAM!”

“Rp38 miliar.”

Tanganku gemetar.

“Dia mencuri Rp38 miliar dari rekening jaringan dan menghilang.”

Aku menutup telepon.

Tidak sanggup mendengar.

Aku menatap Alena.

“Benar?”

Dia menangis.

“Sebagian.”

“Bagian mana?”

“Mira memang mengambil uang itu.”

Aku merasa seolah seseorang menamparku.

“Tapi bukan untuk dirinya.”

“Lalu untuk apa?”

“Untuk orang-orang yang identitasnya dipakai. Untuk pasien. Untuk keluarga korban.”

“Kenapa tidak pernah kembali?”

“Karena dia bilang selama Darto masih bebas, Bapak tidak aman.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi dia melindungi saya dengan membiarkan saya berkabung tujuh tahun?”

Alena tidak bisa menjawab.

Reza tiba-tiba berkata,

“Kita harus bergerak.”

“Ke mana?”

“Saya bisa lacak nomor yang kirim foto.”

Beberapa menit kemudian, jejak sinyal mengarah ke gudang lama di kawasan Margomulyo.

Kami menghubungi polisi yang dikenal Reza.

Kali ini bukan kantor lokal.

Unit dari Polda.

Mereka sudah menerima salinan sebagian data sejak seminggu lalu.

Kami dilarang masuk.

Tapi aku tetap ikut sampai gerbang gudang.

Polisi bergerak dari dua sisi.

Lima belas menit terasa seperti lima jam.

Lalu terdengar teriakan.

Suara benda jatuh.

Kemudian tiga orang dibawa keluar.

Darto salah satunya.

Wajahnya berdarah.

Tangannya diborgol.

Aku langsung mendekat.

“Di mana istriku?”

Dia tersenyum.

“Di dalam.”

Aku berlari.

Wati duduk di ruangan kecil.

Tangannya terikat, tapi tidak terluka.

Begitu melihatku, dia menangis.

“Seno…”

Aku memeluknya.

“Maaf.”

“Bukan salahmu.”

Tapi kemudian dia berkata sesuatu yang membuatku melepaskan pelukan.

“Mira di sini.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Wati menunjuk pintu lain.

“Dia datang sebelum polisi.”

Aku tidak bisa bergerak.

Pintu terbuka.

Seorang perempuan berdiri di sana.

Lebih kurus.

Rambutnya pendek.

Ada bekas luka tipis di pelipis.

Tapi aku tahu wajah itu.

Bahkan setelah tujuh tahun.

“Mira?”

Dia menangis sebelum aku.

“Ayah.”

Aku tidak tahu siapa yang bergerak dulu.

Aku memeluknya.

Keras.

Terlalu keras.

Aku memukul punggungnya sekali.

Lalu dua kali.

“Kenapa?”

“Maaf.”

“Kamu hidup.”

“Maaf.”

“Kamu hidup!”

Aku menangis seperti anak kecil.

Selama tujuh tahun aku membayangkan tubuhnya di dalam tanah.

Ternyata dia bernapas.

Berjalan.

Makan.

Tidur.

Hidup di tempat lain.

“Ayah, aku ingin pulang berkali-kali.”

“Kenapa tidak?”

“Karena Darto mengawasi kalian.”

“Sekarang sudah selesai.”

Dia menatapku.

“Belum.”

Polisi membawa keluar beberapa komputer dan dokumen.

Mira menyerahkan kartu memori yang dibawa Alena.

Semua nama akhirnya terbuka.

Ada pemilik rumah sakit.

Pengusaha.

Mantan pejabat perusahaan asuransi.

Dua polisi.

Tiga dokter.

Darto hanya salah satu penghubung.

Dalam dua minggu, lebih dari belasan orang ditangkap.

Kasus kematian palsu dibuka kembali.

Makam yang selama tujuh tahun kukunjungi dibongkar untuk identifikasi.

Jenazah di dalamnya ternyata perempuan tak dikenal yang telah dilaporkan hilang pada tahun yang sama.

Mira memberikan kesaksian.

Reza juga.

Alena ditempatkan dalam perlindungan saksi.

Aku kira setelah itu semuanya selesai.

Mira akhirnya pulang ke rumah.

Ia duduk di tempat lamanya.

Memegang tangan ibunya.

Makan masakan yang dulu sering dia rindukan.

Aku marah padanya.

Sangat marah.

Tapi setiap kali melihatnya tidur di kamar lama, aku juga bersyukur.

Anakku hidup.

Itulah yang kupikir paling penting.

Sampai sebulan kemudian polisi datang membawa hasil pemeriksaan forensik dari kuburan yang selama ini memakai nama Mira.

Mereka tidak datang untuk membahas perempuan tak dikenal itu.

Mereka membawa hasil DNA.

Aku membaca lembar pertama.

Lalu kedua.

Tanganku mulai gemetar.

Petugas itu berkata pelan,

“Pak Seno, ada sesuatu tentang hubungan keluarga Bapak yang harus kami klarifikasi.”

Aku menatap Mira yang duduk di seberangku.

Wajahnya langsung pucat.

Hasil tes menunjukkan satu hal yang mustahil.

Perempuan yang pulang dan memanggilku Ayah itu bukan anak kandungku.

DNA-nya justru cocok sebagai anak kandung Darto.

Dan nama asli putriku, Mira Seno, tercatat masuk ke rumah sakit di Yogyakarta hanya tiga hari lalu.