Tanah di bawah sepatu pantofel Adrian terasa becek, lembap bercampur bau jerami busuk dan kotoran ayam yang menyengat hidung. Dia ingin memungut gantungan kunci mobilnya yang terpental ke kubangan, tapi otot pinggangnya kaku. Matanya cuma terpaku pada retakan di jempol kaki Lara—kulit pecah-pecah yang kemerahan, khas orang yang saban subuh mencuci pakaian di sungai air dingin atau berjam-jam berdiri di atas tanah lembap tanpa alas kaki yang layak. Delapan tahun ia berkutat dengan neraca saldo, pelabuhan kargo Jurong, dan rapat direksi dengan aroma kopi arabika mahal, tapi di sini, dunia cuma terbuat dari kayu lapuk yang dimakan rayap dan seng berkarat yang disangga bambu bengkok.
Miguel, bocah kecil itu, mundur setengah langkah sambil menaruh ember sengnya ke tanah. Airnya tumpah sedikit, membasahi ujung celana pendeknya yang kelonggaran karena karetnya sudah mati dan diikat pakai tali rafia merah. Matanya bulat, bening, tapi cara ia memandang Adrian bukan tatapan anak yang menyambut pahlawan dari negeri dongeng. Itu tatapan waspada seekor anak kucing liar terhadap orang asing bertubuh besar dengan jas abu-abu yang terlalu rapi untuk ukuran jalan setapak berbatu ini.

“Ibu kamu…” Suara Lara serak, seperti ada pasir di tenggorokannya. Dia menarik napas pendek, mengelap tangan kanannya ke celemek lusuh yang kainnya sudah begitu tipis sampai benang-benang putihnya mencuat ke mana-mana. “Ibu kamu datang pas Miguel baru umur satu tahun dua bulan. Waktu itu dia lagi demam tinggi, Adrian. Batuknya sampai muntah lendir. Aku nggak pegang uang sama sekali karena kiriman wesel yang kamu janjikan nggak pernah sampai ke tanganku. Saban aku tanya ke Ibu, katanya kamu di seberang lagi susah, katanya bisnismu bangkrut dan kamu malah terlilit utang judi di kapal.”
Adrian merasakan rahangnya berdenyut kencang. Pembuluh darah di pelipisnya serasa mau meledak. “Aku kirim uang tiap tanggal dua puluh lima, Lara. Rekening Bank Mandiri atas nama Ibu. Dua puluh juta waktu awal, lalu naik jadi lima puluh, sampai ratusan juta tiap bulan begitu perusahaanku tembus tender di Batam. Demi Tuhan, aku nggak pernah lupa ngirim sepeser pun.”
“Tuhan mana yang kamu maksud?” potong Lara datar. Tidak ada bentakan, tidak ada teriakan histeris seperti di sinetron jam tujuh malam. Nada suaranya dingin, jenis kedinginan yang cuma bisa lahir dari keputusasaan yang sudah basi bertahun-tahun lalu. “Ibumu bawa dua orang pria berbadan kekar sore itu. Barang-barangku dilempar keluar dari kontrakan petak kita di pinggir rel. Kasur kapuk yang kita beli waktu baru nikah disiram minyak tanah, dibakar di depan mataku. Dia bilang, anak jalang nggak pantas makan uang hasil keringat anak laki-lakinya yang lagi berjuang di negeri orang. Dia bilang kamu sudah nikah lagi sama anak pemilik galangan kapal di sana. Dan kalau aku berani ngetuk pintu rumah gedenya di kota, dia bakal bikin Miguel hilang di kali.”
Angin sore bertiup lambat, membawa kabut tipis dari perbukitan kapur di belakang gubuk. Adrian melangkah maju satu tindak, tapi Lara sontak menarik Miguel ke belakang punggungnya. Gerakan refleks itu menampar kesadaran Adrian lebih keras daripada pukulan linggis buruh pelabuhan. Wanita itu takut padanya. Darah dagingnya sendiri bersembunyi di balik kain daster ibunya seolah-olah Adrian adalah penagih sewa tanah yang kejam.
“Kenapa kamu nggak hubungi kantor lamaku? Kenapa nggak cari kabar lewat kawan-kawan buruh di Tanjung Priok?” tanya Adrian, suaranya tercekat di jakun. Pertanyaan itu terdengar begitu bodoh dan egois begitu lepas dari lidahnya sendiri, dan dia langsung mengutuk dirinya detik itu juga.
Lara mendengus pendek, matanya menatap nanar ke arah pohon pisang yang daunnya sobek-sobek diterpa angin. “Pakai apa? Ponsel Cina murahan yang kamu belikan dulu ditarik paksa sama adik iparmu. Nomor teleponmu diblokir dari semua akses yang kubisa jangkau di wartel. Aku ini cuma tamatan SMP yang jualan kue cucur, Adrian. Aku nggak paham internet, aku nggak ngerti cara ngelacak orang di Singapura. Buat beli susu kaleng kental manis biar anak ini nggak mati kelaparan aja aku harus bersihin lendir di pasar ikan dari jam tiga pagi sampai bedug lohor. Kamu pikir dunia ini segampang caramu duduk di mobil ber-AC itu?”
Miguel mengintip dari pinggang ibunya. Jari-jarinya yang dekil menggenggam erat lipatan kain daster Lara. Bocah itu lalu berbisik, suaranya cempreng tapi jelas menembus kesunyian sore, “Ibu… ini orang gila yang mau gusur gubuk kita ya? Panci di dapur jangan dikasihin, Bu. Itu buat masak ubi besok.”
Adrian berlutut. Lutut celana wol seharga belasan juta rupiah itu terbenam langsung ke dalam lumpur hitam yang basah, tanpa ia pedulikan sama sekali. Tingginya kini sejajar dengan Miguel. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, menetes menuruni pipinya yang kasar tercukur rapi. “Bukan, Nak… Papa bukan mau gusur. Papa ini… Papa yang ada di foto kecil yang suka disimpan ibumu di bawah bantal.”
Miguel bergeming, dahinya berkerut rapat menatap wajah pria di depannya. Lara tidak bersuara, tapi bahunya yang kurus mulai terguncang pelan. Kenyataannya memang ada selembar foto usang ukuran 3×4 centimeter, sudutnya sudah terkelupas dan gambarnya buram karena sering basah kena keringat di dalam dompet plastik Lara. Foto Adrian muda yang masih kurus kering, memakai kemeja flanel murah sewaan waktu mereka mengurus surat nikah di KUA.
“Delapan tahun aku hidup dalam neraka pikiran sendiri,” bisik Adrian, suaranya parau, tangannya terangkat gemetar hendak menyentuh pipi Miguel tapi urung karena takut bocah itu terkejut. “Tiap kali tenderku tembus, tiap kali uang ratusan miliar masuk ke rekening perusahaanku, aku selalu mikir: buat apa semua ini kalau anak dan istriku kabur sama lelaki lain? Ibu selalu nangis di telepon, bilang kalau kamu selingkuh sama mandor kayu, bilang kamu bawa kabur perhiasan peninggalan almarhum Bapak, bilang kamu nggak sudi nunggu aku pulang.”
Lara mengusap hidungnya dengan punggung tangan yang kasar. Ada luka goresan lama di pergelangan tangannya, bekas terbakar minyak goreng yang sudah menghitam jadi koreng abadi. “Ibumu bangun rumah tingkat tiga di pusat kota pakai uang siapa, Adrian? Adikmu yang bungsu bisa beli mobil sport merah dan buka kafe di Jakarta itu modal dari mana? Dari keringatmu, kan? Mereka butuh kamu tetap sendirian di luar negeri biar keran uangnya nggak mampet. Kalau kamu punya istri dan anak, uang itu bakal lari ke kami. Sederhana itu otak mereka bekerja, tapi kamu terlalu sibuk jadi orang hebat sampai nggak pernah repot-repot pulang barang seminggu buat lihat sendiri apa yang terjadi di tanah kelahiranmu.”
Kalimat itu menancap telak, merobek sisa-sisa kebanggaan diri yang selama ini dibangun Adrian di atas gedung-gedung pencakar langit Singapura. Lara benar. Kesuksesannya adalah topeng bagi kepengecutannya sendiri. Dia begitu mabuk oleh angka-angka di rekening dan sanjungan para pejabat lokal, sampai-sampai ia mengabaikan firasatnya sendiri setiap kali ibunya menolak saat ia berniat pulang mendadak. Nggak usah repot-repot, Yan, di sini panas, nanti bisnismu di sana terbengkalai, serahkan urusan kampung sama Ibu. Kalimat manis beracun yang ia telan mentah-mentah selama hampir satu dekade.
Suara deru mesin diesel tua memecah ketegangan. Sebuah mobil pikap butut dengan bak terbuka berhenti di pinggir jalan raya, sekitar dua ratus meter dari gubuk. Dua orang pria bertubuh gempal dengan topi anyaman turun, membawa kunci pas dan dongkrak buaya. Itu montir desa yang ditelepon sopir Adrian tadi siang waktu sedan mewahnya mogok akibat selang radiator yang pecah. Sopirnya berlari kecil menyusuri pematang sawah, napasnya terengah-engah, tampak bingung melihat bos besarnya berlutut di tanah becek di depan gubuk reyot.
“Pak Adrian? Montirnya sudah datang, radiatornya bisa diakali sementara buat sampai ke kota—” Sopir itu mendadak berhenti bicara saat melihat ekspresi wajah Adrian yang kelam dan mata bosnya yang merah padam.
“Suruh mereka tunggu di mobil,” perintah Adrian tanpa menoleh, suaranya berat dan berbahaya.
Sopir itu mengangguk cepat, lalu berbalik setengah berlari tanpa berani bertanya lagi.
Adrian berdiri perlahan. Kakinya gemetar, bukan karena lelah fisik, tapi beban rasa bersalah yang teramat masif meremukkan rongga dadanya. Dia menatap dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu lapuk yang ditambal spanduk kampanye caleg bekas pemilu lima tahun lalu. Di sudut atap, ada ember plastik pecah yang digantung tali untuk menampung bocoran air hujan. Di sinilah anaknya tumbuh. Di tempat di mana nyamuk malaria berpesta tiap malam dan angin dingin menusuk celah-celah dinding kayu saat musim penghujan tiba.
“Lara, kemasi barang-barangmu. Kita pergi sekarang,” kata Adrian.
Lara tidak bergerak. Matanya menyipit sinis. “Pergi ke mana? Ke rumah megah ibumu? Mau pamer kalau kamu sudah jadi juragan besar? Mau bikin tontonan buat orang-orang kampung yang dulu ngeludahi aku waktu aku ngemis sisa nasi basi di warung pojok?”
“Bukan ke sana,” sela Adrian cepat. “Aku nggak akan bawa kamu ke rumah itu. Kita ke hotel di kota dulu malam ini. Besok kita ke Jakarta. Aku beli rumah baru di mana pun kamu mau. Singapura, Bali, di mana saja asal kamu dan Miguel aman dari perempuan itu.”
“Aku nggak butuh istanamu, Adrian!” suara Lara meninggi untuk pertama kalinya, melengking dan pecah oleh tangisan yang akhirnya tumpah tak terbendung. Miguel ketakutan dan memeluk paha ibunya erat-erat, ikut menangis tersedu-sedu tanpa mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi. “Aku sudah delapan tahun belajar hidup tanpa kamu! Aku belajar nambal atap gubuk ini sendirian waktu badai! Aku belajar ngubur rasa maluku waktu pemilik warung beras ngusir aku karena utang lima kilo beras nggak sanggup kubayar! Tiba-tiba kamu datang pakai jas mentereng, turun dari mobil mahal, terus nyuruh kami beres-beres seolah-olah delapan tahun penderitaan ini cuma lelucon yang bisa kamu bayar pakai gepokan uang kertasmu?!”
Adrian terpaku. Tangannya yang terkepal gemetar hebat. Dia tahu uang tidak akan pernah bisa membeli kembali masa balita anaknya yang hilang. Uang tidak bisa menghapus malam-malam dingin saat Lara menangis memeluk Miguel yang menggigil kelaparan di atas kasur berbau apek. Namun membiarkan mereka tetap di gubuk ini sedetik pun lebih lama adalah kejahatan yang tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh nuraninya.
“Kamu berhak benci aku seumur hidupmu, Lara. Ludahi mukaku sekarang, pukul aku pakai kayu kasau itu, aku nggak akan ngelawan,” kata Adrian sambil melangkah mendekat, mengabaikan tatapan mata Lara yang menyala-nyala. “Tapi jangan hukum Miguel. Dia butuh sekolah yang benar. Dia butuh dokter buat meriksa paru-parunya. Dia butuh makan daging yang layak, bukan cuma air rebusan daun singkong tiap hari. Kalau kamu nggak sudi tidur satu atap sama aku, nggak apa-apa. Aku yang pergi. Aku yang bakal tidur di luar pagar, tapi biarkan anak ini dapat apa yang jadi haknya.”
Lara menunduk, menatap puncak kepala Miguel yang rambutnya kaku kemerahan karena terbakar matahari sawah. Kata-kata Adrian menghantam dinding pertahanannya yang paling rapuh: masa depan anaknya. Dia bisa saja mati kelaparan di gubuk ini demi mempertahankan harga dirinya, tapi melihat tubuh Miguel yang kurus kering dengan tulang rusuk yang menonjol jelas di balik kaos oblongnya, ego seorang ibu luluh lantak seketika.
“Beri aku waktu lima menit,” gumam Lara sangat pelan, nyaris tertelan suara gesekan daun tebu di samping gubuk.
Wanita itu berbalik, melangkah masuk ke dalam gubuk yang gelap tanpa penerangan listrik. Adrian mengikutinya sampai ke ambang pintu reyot, tapi tidak melangkah masuk—merasa dirinya terlalu kotor dan berdosa untuk menginjak lantai tanah yang selama delapan tahun menjadi saksi bisu ketabahan wanita itu. Dari luar, ia melihat Lara membuka sebuah kardus mi instan bekas di sudut ruangan. Barang bawaannya cuma dua pasang daster tua, selembar ijazah SMP yang terbungkus plastik kresek hitam, sebuah buku gambar usang milik Miguel yang halamannya penuh coretan krayon tumpul, dan dompet plastik kusam berisi foto Adrian muda.
Hanya itu. Delapan tahun kehidupan mereka termampatkan dalam satu kardus mi instan yang robek di bagian pinggirnya.
Ketika Lara keluar sambil menenteng kardus itu dan menggandeng tangan Miguel, hari sudah menjelang magrib. Langit berubah warna menjadi ungu kehitaman, dingin mulai turun menyelimuti perkampungan terpencil itu. Adrian refleks mengulurkan tangan hendak membawakan kardus tersebut, tapi Lara menggeser tubuhnya, menolak bantuannya secara halus namun tegas. Dia membawa bebannya sendiri, seperti yang ia lakukan ribuan hari sebelumnya.
“Ayo,” kata Adrian pelan.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak berbatu menuju jalan raya tempat mobil sedan Adrian yang sudah selesai diperbaiki terparkir. Sopir dan kedua montir desa menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak heran: konglomerat yang biasanya tampil parlente di majalah bisnis berjalan kaki sambil menuntun seorang bocah dekil bertelanjang dada, diikuti seorang wanita desa kurus dengan kardus rombeng di pelukannya.
Adrian membuka pintu belakang sedan mewahnya yang beraroma kulit sapi Italia. “Masuk, Lara. Duduk di dalam.”
Lara sempat ragu-ragu melihat jok kulit berwarna krem yang begitu bersih mengilap. Dia menatap kakinya sendiri yang berlumpur. Namun Adrian tidak membiarkannya berpikir panjang; ia berlutut sekali lagi di pinggir aspal, mengambil selembar kain microfiber pembersih kaca dari saku pintu mobil, lalu dengan tangannya sendiri mulai membersihkan lumpur yang menempel di telapak kaki dan betis anaknya, lalu melakukan hal yang sama pada kaki Lara.
Lara memalingkan muka, menggigit bibir bawahnya keras-keras sampai terasa asin darah, menolak menumpahkan air mata lagi di hadapan lelaki itu.
Begitu mobil melaju membelah kegelapan malam menuju kota kabupaten, Adrian menatap ke kursi depan. Sopirnya melirik lewat kaca spion tengah dengan cemas.
“Pak, kita langsung ke hotel bintang lima di pusat kota seperti rencana awal?” tanya sopir itu hati-hati.
“Bukan,” jawab Adrian dingin. Suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan yang menandakan badai besar sedang bersiap menerjang. “Arahkan mobil ke Perumahan Grand Cendana. Ke rumah Ibu saya.”
Mobil meluncur kencang di jalan provinsi. Di kursi belakang, Miguel yang kelelahan akhirnya tertidur lelap di pangkuan ibunya, kepalanya berbantalkan paha Lara yang kurus. Ini pertama kalinya bocah itu merasakan sejuknya embusan penyejuk udara mobil dan lembutnya jok kulit, sesuatu yang selama ini hanya ia lihat melintas dari kejauhan di jalan raya dekat sawah tempatnya mencari keong sawah. Tangan Adrian terulur perlahan, menyentuh ujung jemari Miguel yang kasar. Kali ini, Lara tidak menepisnya, meski tatapan matanya tetap lurus menatap lampu-lampu jalan yang berkelebat di luar jendela kaca yang gelap.
Satu jam kemudian, mobil mewah itu berbelok memasuki gerbang besi tempa setinggi tiga meter berlapis cat emas di kawasan perumahan paling elit di kota tersebut. Rumah Nyonya Elena berdiri megah dengan pilar-pilar bergaya Mediterania, diterangi puluhan lampu sorot taman yang hangat. Di garasi terbuka yang luas, terparkir sebuah SUV keluaran Eropa terbaru dan mobil sport merah milik adik bungsu Adrian, Dion.
Pintu gerbang otomatis terbuka saat satpam rumah mengenali pelat nomor mobil mewah milik bos besar penyandang dana keluarga tersebut. Sedan hitam itu berhenti tepat di depan teras marmer.
Adrian turun lebih dulu. Langkah kakinya berat namun mantap. Dia membukakan pintu untuk Lara, lalu menggendong Miguel yang masih setengah terlelap ke dalam dekapannya. Bocah itu melingkarkan tangannya yang kecil ke leher Adrian secara naluriah, mencari kehangatan dari hawa dingin malam.
Pintu jati utama rumah itu terbuka sebelum Adrian sempat mengetuk. Nyonya Elena melangkah keluar dengan daster sutra ungu yang anggun, leher dan pergelangan tangannya dihiasi kilau kalung berlian dan gelang emas tebal. Di belakangnya, Dion menyusul santai sambil memegang cangkir kopi keramik impor, tampak segar sehabis mandi malam.
“Adrian! Ya ampun, anakku sayang, kenapa nggak telepon dulu kalau mau mampir malam-malam begini? Tadi sopirmu cuma bilang ada urusan tanah di pinggiran—” Kalimat Elena terputus di tenggorokan.
Matanya yang berias celak hitam tebal membelalak liar saat pandangannya turun ke arah bocah yang berada di gendongan Adrian, lalu bergeser ke sosok wanita kurus yang berdiri diam di samping mobil, diterangi lampu teras marmer putih. Cangkir kopi di tangan Dion terlepas, jatuh menghantam lantai batu alam dan pecah berkeping-keping, mencipratkan cairan hitam pekat ke sandal kulit mahalnya.
“La… Lara?” bisik Elena, suaranya tercekat seolah lidahnya mendadak kelu menjadi batu. Wajahnya yang dipoles krim pemutih mahal seketika berubah pucat pasi seperti mayat.
“Iya, Bu. Ini Lara. Dan ini Miguel, cucu kandung Ibu yang katanya dibawa lari sama pria lain delapan tahun lalu,” kata Adrian. Tidak ada nada marah yang meledak-ledak. Suaranya rendah, menusuk, dan begitu dingin sampai-sampai Dion tanpa sadar mundur dua langkah ke balik punggung ibunya.
Elena mencoba menguasai diri. Otak manipulatifnya yang terlatih selama puluhan tahun segera mencari celah pembelaan. Matanya bergetar saat ia mencoba memaksakan senyum keibuan yang selama ini selalu berhasil memperdaya Adrian. “Adrian, dengarkan Ibu dulu… Kamu jangan langsung percaya sama perempuan ini! Dia licik! Dia sengaja datang ke sini begitu tahu kamu sudah sukses besar di luar negeri! Dia pasti menyewa anak kecil ini buat memerasmu—”
“Cukup!” bentak Adrian. Bentakan itu menggema di lorong teras marmer, begitu keras sampai satpam di pos gerbang berlari mendekat dengan panik sebelum akhirnya mematung di kejauhan. “Miguel anak kandungku. Mukanya adalah mukaku waktu kecil. Nggak perlu tes DNA buat tahu siapa anak ini, Bu!”
Adrian melangkah maju dua tindak, menatap lekat-lekat mata wanita yang telah melahirkannya itu. Rasa hormat, bakti, dan cinta buta yang selama tiga puluh tahun lebih ia pelihara dalam hatinya hancur berkeping-keping tanpa sisa malam itu.
“Tiap bulan ratusan juta uangku masuk ke rekeningmu, Bu. Kamu minta dana buat renovasi rumah, minta modal buat bisnis Dion, minta tunjangan bulanan buat ‘mengurus istri dan anakku yang sakit-sakitan’—bahkan setelah kamu usir mereka ke gubuk lumpur di tengah sawah!” Adrian tertawa pahit, tawa yang membuat bulu kuduk Elena meremang. “Kamu bakar kasur mereka, kamu ancam mau buang anakku ke kali, lalu kamu hidup foya-foya di atas tanah penderitaan mereka berdua?”
Dion mencoba angkat bicara dengan suara gemetar, “Mas… Mas Adrian, Ibu nggak sepenuhnya salah, waktu itu situasinya—”
Adrian mengalihkan pandangannya ke arah adik bungsunya itu dengan tatapan membunuh. “Kunci mobil merahmu, sertifikat kafe yang kamu kelola, dan semua kartu kredit yang kamu pakai buat foya-foya di Jakarta atas nama siapa, Dion? Atas nama perusahaanku, kan?”
Dion terdiam membisu, keringat dingin membasahi dahinya.
“Besok pagi jam sembilan,” lanjut Adrian sambil menatap lurus ke arah Elena yang mulai gemetar hebat sampai lututnya nyaris lemas, “tim kuasa hukumku dari Jakarta akan datang ke rumah ini. Semua aset yang dibeli pakai rekening tampungan itu—rumah ini, dua mobil di garasi, tanah di pusat kota, dan rekening bank yang kalian pegang—akan dibekukan dan dialihkan kepemilikannya atas nama yayasan perwalian untuk Miguel.”
Elena menjerit histeris, air mata buayanya tumpah menuruni pipinya yang keriput di balik polesan bedak. “Adrian! Kamu anak durhaka! Aku ini ibumu! Sembilan bulan aku mengandungmu, menyusuimu sampai besar! Kamu mau mengusir ibu kandungmu sendiri demi perempuan miskin pembawa sial ini?!”
“Kamu yang ngajarin aku cara mengusir keluarga sendiri delapan tahun lalu, Bu,” potong Adrian dengan nada yang datar dan final. “Bedanya, aku nggak akan bakar bajumu. Aku masih sisakan rumah petak tua almarhum Kakek di pinggir rel kereta buat kalian berdua tinggal. Bawa daster sutramu dan pergilah ke sana besok pagi. Rasakan bagaimana rasanya hidup dengan aroma jelaga lokomotif dan air sumur yang berkarat, seperti yang dirasakan Lara dan anakku selama hampir satu dekade.”
Tanpa menunggu sahutan histeris ibunya yang mulai meracau dan memukul-mukul dadanya sendiri di lantai teras marmer, Adrian berbalik. Dia tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Pintu gerbang rumah megah itu tertutup perlahan, meninggalkan jeritan histeris Elena dan raut wajah Dion yang linglung di balik teras.
Di dalam mobil, Adrian mendudukkan Miguel kembali ke pangkuan Lara. Napasnya masih memburu, tapi tatapan matanya kini terarah sepenuhnya pada wanita yang duduk di hadapannya.
Perjalanan mereka masih panjang. Luka delapan tahun tidak akan sembuh hanya dengan penyitaan aset, pembalasan dendam, atau rumah mewah baru yang akan ia belikan besok pagi. Kerutan di dahi Lara, tatapan takut Miguel, dan jarak dingin di antara mereka berdua adalah utang seumur hidup yang harus Adrian cicil setiap hari dengan kesabaran, penyesalan, dan pembuktian nyata tanpa kata-kata manis.
“Kita ke hotel sekarang,” kata Adrian dengan suara yang melembut, kali ini sepenuhnya tulus tanpa kepalsuan status miliardernya. “Besok, kita beli sepatu baru buat Miguel. Yang pas di kakinya. Bukan yang diikat tali rafia.”
Lara tidak tersenyum. Matanya masih sembab, tangannya masih memeluk kardus mi instan tua di lantai mobil. Namun saat mobil mulai melaju meninggalkan perumahan mewah itu menuju gemerlap lampu kota, perlahan-lahan ia menyandarkan kepalanya yang lelah ke sandaran kursi, membiarkan jemari kasarnya menyentuh lengan jas Adrian—sebuah sentuhan kecil, ragu-ragu, tapi cukup untuk menandakan bahwa untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, malam ini ia tidak perlu takut lagi atap rumahnya akan runtuh diterpa angin hujan.
