SETELAH KAYA, DIA PULANG KE RUMAH ORANG TUANYA—TETAPI TERKEJUT MELIHAT APA YANG TERJADI PADA MEREKA!
“Pak… Anda yakin ini rumah orang tua Anda?”
Rafael Pratama tidak langsung menjawab.
Ia berdiri di depan sebuah rumah tua yang nyaris tidak dikenalnya lagi.
Atapnya berlubang.
Sebagian jendela ditutup papan kayu.
Cat dindingnya sudah mengelupas.
Dan kebun kecil yang dulu selalu dirawat ibunya kini hanya dipenuhi rumput kering.
Tujuh tahun ia meninggalkan kampung halamannya di Jawa Barat.
Tujuh tahun ia bekerja di luar negeri.
Awalnya ia hanya seorang pekerja biasa di sebuah perusahaan konstruksi. Sedikit demi sedikit, ia naik menjadi kontraktor, kemudian menjadi rekan bisnis, hingga akhirnya memiliki perusahaan sendiri.
Sekarang, ia sudah punya uang.
Mobil bagus.
Investasi.
Dan rencana pertamanya setelah sukses adalah membuat kejutan untuk kedua orang tuanya.
Ia ingin membelikan mereka rumah baru.
Menanggung semua biaya pengobatan.
Lalu berkata:
“Ma, Pak, masa sulit kita sudah selesai.”
Namun ketika pintu rumah tua itu terbuka, seolah-olah seluruh dunianya runtuh.
Seorang pria berusia 74 tahun keluar dari balik pintu.
Itu ayahnya, Pak Iskandar.
Tubuhnya kurus.
Punggungnya membungkuk.
Dan kini ia berjalan menggunakan tongkat.
“Rafael?”
Mata pria tua itu membesar.
“Pak…”
Rafael menjatuhkan kunci mobilnya dan langsung berlari menghampiri ayahnya.
Ia memeluk sang ayah erat-erat.
“Di mana Ibu?”
Wajah Pak Iskandar tiba-tiba berubah.
Ia tidak menjawab.
“Pak… Ibu di mana?”
Pria tua itu menunduk.
“Di belakang.”
Rafael langsung berlari menuju sebuah gubuk kecil di belakang rumah.
Dan di sanalah ia melihat ibunya, Bu Ratna.
Perempuan tua itu terbaring di atas kasur tipis.
Tubuhnya lemah.
Wajahnya pucat.
Dan jelas terlihat bahwa ia sudah lama menderita sakit.
“Bu…”
Perlahan, Bu Ratna membuka mata.
Ketika melihat anaknya, tangannya yang gemetar terangkat.
“Rafael?”
Rafael berlutut di samping tempat tidur.
“Bu… kenapa jadi begini?”
Bu Ratna menangis.
“Kamu akhirnya pulang juga.”
Rafael memeluk ibunya sambil menahan tangis.
Namun ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.
Setiap bulan ia mengirim uang.
Jumlahnya bukan sedikit.
Dua tahun pertama, ia mengirim sekitar Rp30 juta setiap bulan.
Kemudian menjadi Rp50 juta.
Ketika bisnisnya mulai berkembang, jumlahnya bahkan mencapai Rp100 juta per bulan untuk makanan, obat-obatan, dan memperbaiki rumah.
Selama tujuh tahun, ia telah mengirim uang hingga mencapai miliaran rupiah.
Lalu mengapa kondisi orang tuanya seperti ini?
“Pak,” tanyanya dengan suara bergetar, “ke mana semua uang yang saya kirim?”
Pak Iskandar menatap istrinya.
“Nak…”
“Tolong jawab.”
Kedua orang tuanya terdiam.
Sampai akhirnya Bu Ratna menangis.
“Kami kira… kamu sudah tidak mengirim uang lagi.”
Rafael membeku.
“Apa?”
“Kakakmu bilang kamu sudah berhenti mengirim karena biaya hidupmu di luar negeri semakin besar.”
Darah Rafael terasa dingin.
Yang dimaksud ibunya adalah kakak laki-lakinya, Damar.
Ketika Rafael pergi bekerja ke luar negeri, Damar-lah yang dipercayainya untuk mengurus kebutuhan orang tua mereka.
“Mas, tolong jaga Ibu dan Bapak.”
“Tenang saja.”
Karena Damar tinggal paling dekat dengan orang tua mereka, Rafael mengirim sebagian besar uang melalui rekening kakaknya.
Setiap kali Rafael bertanya, Damar selalu menjawab:
“Mereka baik-baik saja.”
“Atap sudah diperbaiki.”
“Ibu sudah membeli obat.”
“Kamu tenang saja.”
Bahkan beberapa kali Damar mengirim foto kulkas baru.
Rafael mengira kulkas itu dibelikan untuk orang tua mereka.
Ia tidak pernah tahu bahwa kulkas itu ternyata untuk rumah Damar sendiri.
“Berapa uang yang selama ini kalian terima?” tanya Rafael.
Pak Iskandar menjawab pelan.
“Sekitar lima juta. Kadang tidak ada sama sekali.”
“Lima juta?”
Ayahnya mengangguk.
“Kalau kami bertanya, kakakmu bilang kamu sedang kesulitan di luar negeri.”
Rafael memegang kepalanya.
“Pak… saya mengirim hampir seratus juta setiap bulan.”
Bu Ratna langsung menutup mulutnya.
“Sebesar itu?”
“Iya, Bu.”
Suasana di gubuk kecil itu mendadak sunyi.
Di sanalah Rafael mengetahui semuanya.
Dua tahun setelah ia pergi, Damar kehilangan pekerjaannya.
Ia memiliki keluarga.
Ia juga memiliki utang.
Awalnya, Damar hanya mengambil sebagian kecil dari uang kiriman Rafael.
“Nanti saya kembalikan setelah mendapat pekerjaan.”
Tetapi uang itu tidak pernah dikembalikan.
Kemudian jumlah yang diambil semakin besar.
Damar menggunakannya untuk membuka usaha.
Membeli sepeda motor.
Merenovasi rumah.
Dan ketika usahanya bangkrut, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli obat orang tua mereka pun ikut dipakainya.
Yang paling menyakitkan, ketika Bu Ratna mulai sakit, Damar mengatakan bahwa Rafael sudah tidak punya uang lagi.
Akibatnya, ibunya tidak segera dibawa ke dokter spesialis.
Saat mendengar itu, darah Rafael terasa mendidih.
“Kenapa kalian tidak menelepon saya?”
Pak Iskandar menundukkan kepala.
“Kami sudah mencoba.”
“Saya tidak pernah menerima telepon dari kalian.”
“Damar yang sering mengangkat. Katanya kamu sedang sibuk.”
Rafael terdiam.
Ia teringat semua perkataan kakaknya selama bertahun-tahun.
“Di sini sinyalnya jelek.”
“Mereka sedang tidur.”
“Mereka baik-baik saja.”
Selama tujuh tahun, ia mengira semuanya berjalan baik.
Sementara ia membangun bisnis di luar negeri, rumah orang tuanya perlahan-lahan hancur.
Keesokan harinya, Rafael pergi ke rumah Damar.
Begitu sampai, emosinya semakin sulit dikendalikan.
Rumah itu bagus.
Pagarnya baru.
Ada AC di beberapa ruangan.
Sebuah mobil terparkir di garasi.
Damar keluar dari rumah.
“Rafael!”
Wajahnya jelas terkejut.
“Kamu kenapa tidak bilang mau pulang?”
Rafael hanya menatap kakaknya.
“Di mana uangnya?”
Damar terdiam.
“Uang apa?”
“Semua uang yang kukirim untuk Ibu dan Bapak.”
“Itu semua dipakai untuk mereka.”
“Jangan bohong.”
Rafael mengeluarkan riwayat transfer dari ponselnya.
“Hampir Rp100 juta setiap bulan selama beberapa tahun terakhir.”
Wajah Damar memerah.
“Raf, dengarkan dulu. Ada banyak kebutuhan—”
“Di rumahmu?”
Damar diam.
“Untuk mobil?”
Tidak ada jawaban.
“Untuk usaha yang bangkrut itu?”
Damar menundukkan kepala.
“Rafael, dengarkan. Awalnya cuma sedikit. Aku berencana mengembalikannya.”
“Tapi kamu tidak pernah mengembalikannya.”
“Maaf.”
“Maaf saja tidak cukup.”
Suasana menjadi hening.
“Saat kamu merenovasi rumahmu, atap rumah Ibu bocor.”
Damar mulai menangis.
“Aku tahu.”
“Saat kamu membeli kendaraan, Ibu bahkan tidak bisa membeli obatnya.”
“Rafael…”
“Saat kamu bilang mereka baik-baik saja, Bapak tidur di samping ember untuk menampung air hujan.”
Damar tidak mampu lagi menatap adiknya.
Saat itu Rafael menyadari bahwa bukan uang yang paling menyakitinya.
Melainkan kenyataan bahwa kakaknya sendiri telah menggunakan kepercayaannya untuk mengambil hak kedua orang tua mereka.
Rafael tidak membuang waktu.
Keesokan harinya, ia membawa Bu Ratna ke sebuah rumah sakit swasta di Bandung.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ibunya membutuhkan pengobatan cukup panjang, tetapi kondisinya masih memiliki peluang besar untuk membaik karena belum terlambat ditangani.
“Bu,” kata Rafael sambil menggenggam tangan ibunya, “mulai sekarang saya sendiri yang akan mengurus semuanya.”
Bu Ratna tersenyum lemah.
“Nak, jangan habiskan uangmu untuk kami.”
Rafael menahan air mata.
“Bu, itu cuma uang.”
“Kamu mendapatkannya dengan susah payah.”
“Iya. Tapi buat apa saya bekerja keras kalau hasilnya tidak bisa saya gunakan untuk menjaga Ibu dan Bapak?”
Setelah kondisi ibunya stabil, Rafael membawa kedua orang tuanya ke sebuah rumah yang diam-diam sudah lama dibelinya.
Rumah itu sederhana tetapi nyaman.
Ada dua kamar.
Ruang keluarga yang luas.
Taman kecil.
Dan lokasinya dekat rumah sakit.
Ketika gerbang dibuka, Pak Iskandar berhenti melangkah.
“Ini rumah siapa?”
“Rumah Bapak dan Ibu.”
Ayahnya langsung menggeleng.
“Nak, kami tidak membutuhkan rumah sebesar ini.”
Rafael tersenyum.
“Ini bukan hadiah.”
“Lalu apa?”
“Rumah kalian. Seharusnya dari dulu kalian tinggal di sini.”
Bu Ratna masuk ke taman.
Ada beberapa bunga mawar.
Sebuah kursi kecil berada di bawah pohon.
Air matanya langsung jatuh.
“Kamu masih ingat bunga kesukaan Ibu.”
Rafael menghampirinya.
“Bu, mungkin banyak hal yang saya lupakan selama bertahun-tahun.”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Tapi saya tidak pernah lupa siapa yang membuat saya bisa sampai di tempat saya sekarang.”
Perlahan, kondisi Bu Ratna membaik.
Pak Iskandar juga semakin kuat setelah pola makannya diperbaiki dan ia rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
Namun ada satu hal yang tidak bisa diperbaiki oleh uang.
Tujuh tahun yang telah hilang.
Karena itu, Rafael membuat keputusan besar.
Ia menata ulang perusahaannya agar tidak perlu terus-menerus tinggal di luar negeri.
Ia membentuk tim manajemen yang dapat dipercaya dan mulai lebih sering pulang.
Ia tidak lagi menunggu Lebaran atau hari raya untuk mengunjungi orang tuanya.
Kadang ia pulang tanpa alasan.
Hanya untuk makan bersama.
Minum kopi.
Mendengarkan cerita ayahnya yang sama berulang kali.
Menemani ibunya merawat bunga di taman.
Suatu malam, ketika mereka sedang makan bersama, Pak Iskandar berkata:
“Nak, waktu kamu sudah kaya, apa hal pertama yang ingin kamu beli?”
Rafael tersenyum.
“Rumah untuk Bapak dan Ibu.”
“Sekarang?”
Rafael melihat ke dalam rumah.
Di sana, Bu Ratna sedang tertawa sambil berbicara dengan cucunya.
Sementara Damar berada di dapur menyiapkan makanan.
“Sekarang?”
Rafael menarik napas panjang.
“Waktu.”
Pak Iskandar tersenyum.
“Benar.”
Karena pada akhirnya, itulah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli Rafael dengan sebanyak apa pun uang yang dimilikinya.
Tujuh kali Lebaran yang tidak mereka habiskan bersama.
Ulang tahun yang terlewat.
Malam-malam ketika ibunya sakit dan ia tidak berada di sana.
Namun sekarang masih ada waktu.
Dan Rafael memilih untuk menggunakannya.
Terkadang, dalam keinginan kita untuk menjadi kaya demi keluarga, kita justru lupa bahwa hal yang paling mereka tunggu bukanlah uang—melainkan kepulangan kita ke sisi mereka.
Kalau kamu menjadi Rafael, apakah kamu juga akan memaafkan kakakmu yang menggunakan uang yang kamu kirim untuk orang tuamu sendiri?
