SERAHKAN 70 PERSEN GAJIMU BERSAMA BONUS 90 JUTA UNTUK MAMA ATAU KELUAR DARI RUMAH INI! SAAT AKU MENGEMPAS BUKU REKENING DAN MENGEMPAKKAN KOPER MEREKA TERTAWA MENGEJEK, TANPA SADAR SEBUAH RAHASIA BESAR AKAN MENGHANCURKAN MEREKA DENGAN KETIKAN KARTU AKSES APARTEMEN MEWAHKU!

SERAHKAN 70 PERSEN GAJIMU BERSAMA BONUS 90 JUTA UNTUK MAMA ATAU KELUAR DARI RUMAH INI! SAAT AKU MENGEMPAS BUKU REKENING DAN MENGEMPAKKAN KOPER MEREKA TERTAWA MENGEJEK, TANPA SADAR SEBUAH RAHASIA BESAR AKAN MENGHANCURKAN MEREKA DENGAN KETIKAN KARTU AKSES APARTEMEN MEWAHKU!

“Serahkan tujuh puluh persen gajimu ke Ibu setiap bulan! Kalau kamu tidak mau menurut, angkat kaki dan keluar dari rumah ini sekarang juga!”

Suara Ibu Siti menggema keras di ruang tengah apartemen kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Suasana meja makan yang semula hangat oleh aroma sate ayam hangat mendadak mencekam. Aku belum sempat menarik napas, apalagi menjawab gertakan mertuaku itu, ketika suamiku, Aditya, justru mendorong buku rekening Tabungan Mandiri milik ibunya ke hadapanku.

“Putri, nurut aja dulu sama Mama,” bisik Aditya tanpa rasa bersalah sedikit pun. tangannya menekan pundakku, menyuruhku tunduk. “Transfer tiap bulan. Biar Mama yang atur keuangan kita. Demi kebaikan bersama.”

Aku menatap laki-laki yang sudah dua tahun ini menjadi suamiku. Laki-laki yang berjanji di hadapan penghulu untuk melindungiku dan menghormatiku.

“Jadi kamu setuju, Mas? Kamu benar-benar setuju tujuh puluh persen dari keringatku dimasukin ke rekening ibumu?” suaraku bergetar, menahan gemuruh amarah yang membakar dada.

Aditya mengembuskan napas panjang, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar. “Daripada kita ribut terus, Putri. Mama cuma mau yang terbaik.”

Ibu Siti tersenyum puas, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh. “Nah, begitu dong! Berikan ponselmu sekarang. Sekalian kita buatkan transfer otomatis di aplikasi Mobile Banking tiap tanggal gajian.”

Aku mengamati wajah mertuaku, lalu menatap Bapak Hendra—ayah mertuaku—yang tenang menyesap teh hangat tanpa berniat membela menantunya sedikit pun.

Aku berdiri tegak. “Baik.”

Wajah Ibu Siti dan Aditya seketika berubah lega. Bibir mereka mengembang penuh kemenangan. Mereka mengira aku telah tunduk. Mereka mengira keputusasaanku adalah tanda kekalahan.

Padahal, aku melangkah masuk ke kamar utama, menarik koper besar berukuran 28 inci dari bawah ranjang, lalu mulai melempar seluruh pakaian kerja, sepatu, dan dokumen pentingku ke dalamnya.

Karena kata “baik” yang keluar dari mulutku tadi berarti— BAIK. AKU AKAN PERGI DARI RUMAH BERACUN INI.

Namaku Putri. Dua minggu lalu, manajemen PT Karya Utama Konstruksi—perusahaan teknologi material bangunan terbesar di Jakarta—resmi mempromosikan aku menjadi Head of Product Development. Gajiku setelah dipotong pajak mencapai Rp38 juta per bulan. Tidak hanya itu, aku baru saja menerima bonus keberhasilan proyek bahan bangunan ramah lingkungan senilai hampir Rp90 juta bersih.

Malam ketika pengumuman promosi itu tiba, Aditya memelukku erat di restoran mewah kawasan Senopati. “Aku bangga banget punya istri hebat kayak kamu, Putri.”

Saat itu aku percaya suamiku tulus bangga. Sampai akhirnya, dua hari kemudian, aku mendapati pesan WhatsApp di ponselnya. Aditya tanpa malu menceritakan seluruh rincian nominal gaji, bonus, hingga sisa tabunganku kepada ibunya di kampung.

Sejak hari itulah, sikap Ibu Siti berubah total. Kehangatan palsunya meluap, berganti menjadi keserakahan yang tidak tertutupi.

“Untuk apa kamu pegang uang sebanyak itu, Putri?” bentak Ibu Siti ketika aku mempertanyakan permintaannya.

“Tujuh puluh persen dari gajiku itu artinya Rp26,6 juta setiap bulan, Bu!” tegasku seraya menunjukkan kalkulator di ponsel. “Apakah uang sebesar itu dipakai untuk membayar listrik, air, biaya pemeliharaan apartemen, dan belanja bulanan rumah ini?”

Mata Ibu Siti melotot. “Astaga! Kamu sudah jadi istri kok masih hitung-hitungan sama mertua? Kurang ajar sekali!”

Aku hampir tertawa sumbang mendengar lontaran kalimatnya. Demi Tuhan, selama dua tahun pernikahan kami, justru sebagian besar fasilitas di apartemen ini dibeli menggunakan uang pribadiku! Kulkas dua pintu, mesin cuci inverter, tiga unit AC, televisi 65 inci, sofa kulit, hingga biaya pemeliharaan bulanan—semuanya keluar dari dompetku! Bahkan saat area dapur rusak parah tahun lalu, aku merogoh tabunganku hingga Rp68 juta untuk renovasi total!

Namun, setiap kali ada keputusan besar, keluarga Aditya selalu menyingkirkan aku dengan alasan, “Ini rumah milik keluarga Aditya!”

Anehnya, begitu mereka butuh uang, mendadak namaku dipanggil sebagai “keluarga”!

Aku menunjuk buku rekening di meja. “Kalau gajiku masuk rekening Ibu, apakah Mas Aditya juga menyetorkan tujuh puluh persen gajinya?”

Ruangan langsung hening. Bapak Hendra menghentikan cangkir tehnya. Ibu Siti menjawab tajam, “Aditya itu laki-laki!”

“Memangnya kenapa kalau dia laki-laki, Bu?”

“Dia punya banyak kebutuhan! Ketemu klien, menjaga relasi kerja, membantu teman-temannya di perhimpunan! Sedangkan kamu? Kamu cuma perempuan! Paling ke kantor lalu pulang. Perempuan pegang uang puluhan juta buat apa? Cuma buat foya-foya!”

Aku menoleh ke arah suamiku, berharap ada sedikit keberanian dalam dirinya untuk melindungiku. Namun Aditya justru menunduk dan bergumam pelan, “Mama cuma mau bantu kita mengelola uang, Putri…”

“Dengan cara memeras dan merampas hakku?!” tembakku tepat di wajahnya.

“Nanti aku bicara lagi sama Mama…” kata-kata keramat itu keluar lagi dari mulutnya.

Nanti. Aku muak setengah mati mendengar kata “nanti” dari Aditya!

Ketika ibunya menyuruhku memasak untuk sepuluh saudaranya padahal aku baru pulang lembur pukul sepuluh malam—”Nanti aku bicara sama Mama.” Ketika ayahnya memakai mobil pribadiku tanpa izin hingga lecet dan enggan membayar ganti rugi—”Nanti aku jelaskan ke Papa.” Ketika ibunya menggeledah lemariku dan mengambil perhiasan peninggalan almarhumah ibuku—”Nanti kita ambil lagi.”

Dua tahun menikah, kata “nanti” itu tidak pernah berubah menjadi tindakan nyata!

Bapak Hendra menaruh cangkirnya keras-keras ke piring alas. “Kalau kamu tetap menolak aturan keluarga ini, silakan keluar dari rumah ini sekarang juga! Kami tidak butuh menantu pembangkang!”

Ibu Siti menyambung dengan tawa mengejek. “Silakan hidup sendiri di luar! Kamu pikir sewa apartemen dekat kantor di pusat Jakarta itu murah? Nanti kalau uangmu habis buat bayar kontrakan, kamu pasti bakal merangkak pulang sambil menangis minta ampun!”

Aku mengangguk tenang. “Baik.”

Lima menit kemudian, Aditya menyusulku ke kamar. Wajahnya pucat pasi melihat pakaianku sudah bertumpuk rapi di dalam koper.

“Kamu gila, Putri?! Mau ngapain?!”

“Pergi.”

“Papa cuma emosi! Jangan kekanak-kanakan!”

“Tapi kamu menyuruhku menurut pada keserakahan keluargamu, Mas!”

Aditya menutup pintu kamar rapat-rapat, suaranya merendah tapi penuh kepanikan. “Kamu mau tinggal di mana? Hotel? Rumah temanmu? Mau ditaruh di mana mukaku?”

Aku mematikan lampu meja, lalu memasukkan laptop kerjaku tanpa memandangnya.

Kemudian, kalimat berikutnya meluncur dari bibir Aditya—kalimat yang menyadarkanku sepenuhnya bahwa pernikahan ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.

“Kamu pikir apa kata teman-teman kantor dan kerabatku kalau tahu istriku keluar rumah bawa koper malam-malam?! Kamu mau mempermalukan aku?!”

Bukan “Aku takut kehilanganmu, Putri.” Bukan “Jangan pergi, mari kita bicarakan baik-baik.” Bukan “Aku akan memasang badan untuk membelamu di hadapan orang tuaku.”

Yang dipikirkannya di detik-detik kehancuran rumah tangga kami hanyalah… gengsi dan pandangan orang lain!

Aku menarik ritsleting koperku dengan bunyi nyaring.

Dari luar kamar, suara Ibu Siti berteriak makin kencang. “BIARKAN DIA PERGI! Paling tiga hari lagi juga pulang sambil mencium kaki kita!”

Bapak Hendra tertawa terbahak-bahak dari balik koridor. “Seminggu paling lama! Perempuan manja seperti dia tidak akan tahan!”

Ibu Siti kembali berseru penuh keangkuhan, “Kalau dia berani pulang nanti, syaratnya bukan tujuh puluh persen lagi! Tapi SERATUS PERSEN gajinya harus diserahkan ke Ibu!”

Mereka tertawa bersahut-sahut di luar. Dengki dan serakah menyatu dalam tawa mereka. Tapi aku tidak menangis. Aku justru mengambil sebuah map dokumen tebal bertulisan “Kertas Bukti Kepemilikan” dari dalam laci kerjaku.

Saat aku melangkah keluar kamar sambil menarik koper besar, Ibu Siti melipat tangan dan menatap map di tanganku. “Map apa itu? Kamu mau pamer harta?”

“Ini bukti pembayaran dan kuitansi barang-barang di rumah ini, Bu,” suaraku tenang, dingin, dan tajam. “Kulkas dua pintu itu saya yang beli. Mesin cuci front loading itu uang saya. Tiga unit AC di atas itu atas nama saya. Televisi OLED, sofa kulit Italia, hingga set meja makan ini—semuanya dibeli dari rekening pribadi saya.”

Raut wajah keangkuhan Ibu Siti seketika luntur, berganti kebingungan. “M-maksudmu apa?!”

“Besok pagi pukul delapan, tim teknisi dan armada truk pengangkut barang akan datang ke apartemen ini untuk mengambil seluruh barang elektronik dan furnitur milik saya. Tanpa terkecuali.”

Ibu Siti langsung berdiri dari kursinya, matanya hampir melompat keluar. “KAMU MAU MENGOSONGKAN RUMAH INI?! KURANG AJAR!”

“Saya tidak mengosongkan rumah,” jawabku sambil tersenyum manis. “Saya hanya mengambil kembali apa yang dibeli dengan uang darah dan keringat saya sendiri.”

Bapak Hendra berdiri dan menunjuk mukaku dengan jari gemetar. “Kamu sudah tinggal gratis di apartemen anakku selama dua tahun! Tidak tahu diri!”

Aku sudah menduga ucapan busuk itu akan keluar. Aku membuka map dan menyodorkan lembaran kalkulasi keuangan yang sudah kuatur secara detail.

“Kalau Bapak mau menghitung sewa tempat tinggal saya selama dua tahun, silakan. Tapi mari kita hitung bersama: biaya renovasi dapur Rp68 juta, biaya pemeliharaan apartemen bulanan Rp72 juta selama dua tahun, bayar listrik, air, internet, ditambah furnitur dan elektronik totalnya mencapai Rp210 juta! Silakan potong biaya sewa kamar saya, dan kembalikan sisa uang saya senilai Rp140 juta malam ini juga!”

Ruang tamu itu mendadak hening bak kuburan. Tidak ada lagi tawa mengejek dari Bapak Hendra. Tidak ada lagi senyum kemenangan Ibu Siti.

Aditya melangkah maju, wajahnya memerah karena malu dan marah. “Putri! Kenapa kamu jadi perhitungan banget sama suami dan mertua sendiri?!”

Aku menatap mata suamiku dengan pandangan paling dingin yang pernah ada. “Saat keluargamu menghitung dan memeras tujuh puluh persen gajiku, kamu cuma diam mematung bak patung batu, Mas! Sekarang, ketika aku menuntut hak atas uangku sendiri, kamu berani bilang aku perhitungan?!”

Aditya terbungkam. Bibirnya terkunci rapat.

Melihat anaknya terpojok, Ibu Siti mengamuk dan melontarkan kalimat paling beracun yang disimpan keluarga ini selama bertahun-tahun.

“Memangnya selama dua tahun jadi istri kamu sudah kasih apa untuk keluarga ini?! DUA TAHUN MENIKAH, CUCU SATU PUN TIDAK BISA KAMU BERIKAN! KAU WANITA MANDUL!”

Tanganku yang memegang gagang koper terhenti seketika. Koridor ruangan terasa makin dingin.

Aku perlahan menoleh dan menatap Aditya. Wajah suamiku yang tadinya memerah kini berubah pucat pasi bagai mayat.

Satu tahun lalu, kami diam-diam melakukan pemeriksaan fertilitas di RS Bunda Jakarta. Hasil laboratorium lengkap itu masih tersimpan rapi dalam folder enkripsi di ponselku. Dan masalah kesuburan itu… sama sekali bukan berasal dariku. Aditya mengalami azoospermia total. Jumlah spermanya nol.

Selama satu tahun penuh, aku memilih diam, menanggung lirikan sinis keluarga besar, serta pura-pura tersenyum saat dihina di setiap acara keluarga—hanya demi menjaga harga diri dan martabat suamiku!

Namun malam ini, keluarganya menggunakan kebaikanku untuk menikam dadaku di hadapan semua orang!

Aku menatap tajam ke arah Ibu Siti. “Bu Siti, kalau Ibu benar-benar ingin membuka tabir kenapa sampai hari ini belum ada cucu di rumah ini…”

Aditya mendadak berteriak histeris dengan suara melengking. “IBU! CUKUP! JANGAN BICARA LAGI!”

Semua orang di ruangan itu terdiam terpaku. Ibu Siti terkejut mendengarkan anaknya sendiri membentak dengan mata memerah.

Aku tersenyum pahit. Akhirnya… akhirnya suamiku berani bersuara keras di hadapan ibunya. Tapi sayangnya, bukan karena dia ingin membelaku dari hinaan “wanita mandul”. Dia berteriak histeris hanya karena takut rahasia kelelakiannya terbongkar!

Aku menarik gagang koperku menuju pintu keluar. “Besok, pengacaraku akan menghubungi kalian untuk menyelesaikan sisa kewajiban.”

Pagi berikutnya, pukul 06.30 WIB, aku kembali ke apartemen itu sebentar untuk mengambil sisa dokumen penting di brankas kecilku. Ibu Siti sudah duduk berkacak pinggang di sofa ruang tamu, seolah menungguku.

“Masih mau sok gengsi dan benar-benar pergi?” sindirnya pedas.

“Bukankah Ibu sendiri yang mengusir saya semalam?”

“Pergilah!” Dia tersenyum sinis, mengibaskan tangannya di udara. “Nanti kalau kamu pulang sambil menangis dan berlutut di depan pintu ini karena tidak kuat bayar kontrakan, jangan berharap Ibu bakal bukakan pintu!”

Aku mengikat tali sepatu ketsku tanpa memandangnya.

“Ingat,” lanjut Ibu Siti dengan nada mengancam, “kalau kamu mau kembali ke rumah ini nanti, syaratnya bukan lagi tujuh puluh persen. Tapi serahkan seluruh gajimu tanpa sisa!”

Aku memegang gagang pintu, lalu menoleh sedikit. “Tidak akan pernah ada hari itu, Bu Siti.”

Ibu Siti tertawa terbahak-bahak. Dia sangat yakin bahwa tanpa Aditya dan tanpa rumah keluarga ini, aku adalah wanita lemah yang tidak memiliki tempat bernaung di megahnya kota Jakarta.

Yang tidak pernah diketahui oleh keluarga Aditya adalah… enam bulan lalu, jajaran direksi PT Karya Utama Konstruksi telah mendaftarkan namaku sebagai kandidat tunggal penerima Fasilitas Hunian Eksekutif untuk pejabat senior perusahaan.

Dan tepat sehari sebelum pertengkaran hebat ini terjadi… pengajuan apartemen dinas kelas penthouses tersebut telah ditandatangani oleh General Manager!

TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN…

Taksi yang kubawa berhenti tepat di depan loby megah Apartemen St. Moritz, sebuah kompleks hunian supermewah di kawasan Jakarta Barat yang menghadap langsung ke aliran sungai dan cakrawala megah ibu kota.

Petugas resepsionis berseragam rapi berdiri membungkuk hormat saat melihatku melangkah masuk.

“Selamat pagi, Ibu Putri,” sapanya dengan ramah dan profesional.

Aku mengangguk lelah tapi lega. “Selamat pagi. Apakah unit saya sudah siap digunakan?”

“Sudah siap seratus persen, Bu. Seluruh kelengkapan dinas sudah dirapikan.” Dia menyerahkan sebuah kartu akses bernuansa hitam-emas dengan ukiran logo perusahaan. “Unit Penthouse di Lantai 31.”

Aku memasuki lift khusus penghuni kelas atas. Tanganku meremas kartu akses itu. Lift meluncur cepat tanpa suara.

TING!

Pintu lift terbuka langsung menembus koridor pribadi. Aku berjalan menuju unit nomor 3101. Kartu akses kutempelkan pada sensor pintu digital.

BIP! Pintu kayu jati tebal itu terbuka secara otomatis.

Aku terpaku di ambang pintu. Ruang keluarga yang sangat luas berpenerangan alami, tiga kamar tidur berukuran besar, ruang kerja pribadi lengkap dengan meja kayu mahoni, dapur modern bergaya Italia, serta jendela kaca raksasa dari lantai hingga langit-langit yang menyajikan pemandangan spektakuler kota Jakarta. Dari balkon luar, sinar matahari pagi memantul indah di atas permukaan sungai.

Seluruh biaya sewa apartemen senilai puluhan juta per bulan ini ditanggung penuh oleh perusahaan selama aku memegang jabatan Head of Product Development. Aku hanya perlu membayar biaya pemeliharaan ringan.

Aku meletakkan koper besar yang semalam ditertawakan oleh mertuaku di tengah ruangan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun… aku bisa menarik napas dalam-dalam tanpa merasa tercekik.

Tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar hebat. Nama Aditya terpampang di layar.

Aku menggeser tombol hijau. “Ada apa?”

“Putri! Mama masih berbaik hati memberi kamu kesempatan terakhir!” suara Aditya terdengar terburu-buru dan penuh penekanan. “Malam ini kamu harus pulang, berlutut di depan Mama, dan minta maaf atas kelakuan kasarmu semalam!”

Aku belum sempat membalas ucapan konyol itu ketika sebuah notifikasi foto masuk di aplikasi WhatsApp-nya.

Sebuah foto memperlihatkan seorang tukang kunci sedang membongkar dan mengganti engsel pintu kamar utama apartemen lama kami. Pesan singkat dari Ibu Siti menyusul di bawah foto tersebut:

[Sekarang kamu tahu rasanya tidak punya rumah dan terlunta-lunta di jalanan, Putri! Kunci kamar sudah Ibu ganti. Jangan harap kamu bisa mengambil barang-barangmu lagi sebelum menyerahkan seluruh gajimu!]

Aku menatap layar ponsel itu lama. Lalu perlahan kuangkat pandanganku menatap keindahan dan kemewahan apartemen 300 meter persegi di hadapanku. Aku tertawa kecil. Tawa bebas tanpa beban.

Keluarga suami serakah itu benar-benar mengira telah mengunci satu-satunya pintu kehidupan yang kumiliki. Padahal… mereka baru saja menendangku keluar menuju pintu gerbang kemewahan dan kebebasan yang tidak akan pernah bisa mereka sentuh seumur hidup mereka!

Namun, kejutan sebenarnya yang menguji batasan kesabaranku datang tepat pukul 09.17 pagi.

Telepon interkom apartemen di dekat dinding berdering nyaring. Aku mengangkat gagangnya. Suara resepsionis di lantai bawah terdengar panik dan serak.

“Ibu Putri, maaf sekali mengganggu waktu Anda…”

“Ada apa, Pak?”

“Di bawah… ada tiga orang yang memaksakan diri ingin naik ke unit Anda. Mereka membuat keributan besar di area Loby Utama.”

Aku mengerutkan kening. “Siapa mereka?”

Petugas itu terdiam sejenak, menahan napas sebelum menjawab, “Bapak Aditya, bersama seorang wanita paruh baya dan seorang pria tua yang mengaku sebagai orang tuanya.”

Darahku mendadak mendidih. Bagaimana bisa mereka mengetahui lokasi apartemen dinas rahasia ini?!

Lalu petugas resepsionis melanjutkan kalimatnya dengan nada ragu—kalimat yang membuat seluruh tubuhku meremang oleh amarah paling memuncak.

“Wanita paruh baya bernama Ibu Siti itu berteriak-teriak kepada seluruh tamu di loby… Beliau mengklaim bahwa apartemen penthouse mewah lantai 31 ini adalah aset milik anaknya, Bapak Aditya, yang dibeli dari hasil kerja kerasnya… Dan beliau menuntut kami memberikan kunci cadangan karena mengaku sebagai pemilik sah apartemen ini!”

Aku menggenggam gagang telepon interkom begitu erat hingga buku-buku jariku memutih.

Ternyata… mereka tidak datang untuk minta maaf. Mereka datang karena keserakahan yang sudah merusak otak mereka! Mereka mengira tempat tinggal baruku ini adalah harta kekayaan Aditya yang disembunyikan… DAN MEREKA DATANG UNTUK MEREBUTNYA DARI TANGANKU!

Aku menutup telepon interkom, lalu melangkah menuju pintu dengan tatapan mata semerah darah.

Kali ini… aku tidak akan mengalah sedikit pun. Karena untuk pertama kalinya, mereka melangkah masuk ke dalam wilayah kekuasaanku—wilayah di mana aturan hukumnya tidak lagi diatur oleh keserakahan keluarga Aditya! …

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Aku melangkah keluar dari lift berpanel kaca dengan langkah mantap. Blazer hitam buatan penjahit ternama dan celana bahan yang kupakai mempertegas posisiku sebagai seorang pimpinan eksekutif. Tidak ada lagi raut wanita teraniaya yang bisa mereka intimidasi.

Di tengah loby utama Apartemen St. Moritz yang berlantaikan marmer Italia, suara melengking Ibu Siti menggema, memecah ketenangan penghuni kelas atas yang sedang menikmati kopi pagi mereka.

“Kamu jangan bohongi saya ya, Satpam!” jerit Ibu Siti seraya menunjuk-nunjuk muka manajer keamanan apartemen. “Anak saya ini, Aditya, adalah pejabat tinggi di kantornya! Dialah yang membeli unit penthouse di atas! Perempuan pembawa sial yang bernama Putri itu cuma numpang hidup! Serahkan kunci cadangannya sekarang juga!”

Aditya berdiri di samping ibunya, mengenakan kemeja Batik yang tampak lusuh. Wajahnya dipenuhi kesombongan palsu, sementara Bapak Hendra berdiri berkacak pinggang di belakang mereka, memandang sekeliling Loby dengan mata berbinar penuh ketakutan akan kemewahan yang ingin disengkeramnya.

“Ada keributan apa ini?” suaraku menggelegar, dingin, dan memotong jeritan Ibu Siti.

Semua orang di loby menoleh. Tiga pasang mata keluarga suamiku membelalak melihat penampilanku. Aku berdiri tegak, memegang berkas kepemilikan dinas dari perusahaan.

Ibu Siti langsung melangkah maju, menjangkau lenganku dengan cengkeraman kasar. “Nah! Ini dia perempuannya! Putri! Bagus ya kamu! Baru sehari keluar dari rumah sudah berani main rahasia-rahasiaan! Darimana anakku dapat uang buat beli apartemen mewah begini, hah?! Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau Aditya punya aset seluas ini?!”

Aku mengempaskan tangan Ibu Siti hingga cengkeramannya terlepas. “Jaga batasanmu, Bu Siti! Jangan lancang menyentuh saya di tempat umum!”

“Kurang ajar kamu ya!” bentak Bapak Hendra ikut maju. “Kamu pikir setelah keluar membawa koper, kamu bisa menguasai apartemen mewah anakku ini sendirian?! Ingat Putri, menurut hukum agama dan negara, apa yang dimiliki suami adalah milik keluarga suami juga!”

Aku menoleh ke arah Aditya, yang tampak berusaha tersenyum pelan seraya melangkah mendekatiku.

“Putri…” bisik Aditya dengan nada sok lembut yang memuakkan. “Sudahlah, jangan perpanjang masalah ini di depan umum. Malu dilihat orang-orang kaya di sini. Sekarang, kamu Minta maaf sama Mama dan Papa. Serahkan kartu akses unit penthouse itu ke Mama. Biar Mama dan Papa tinggal di sini beberapa bulan untuk menenangkan diri. Soal gajimu, kita bisa bicarakan lagi nanti…”

Demi Tuhan, aku hampir tertawa terbahak-bahak mendengar kegilaan ilusi keluarga ini! Mereka benar-benar mempercayai kebohongan yang mereka ciptakan sendiri di dalam kepala mereka yang penuh keserakahan!

“Aditya,” kataku datar. “Coba jelaskan pada ibumu dan ayahmu… Jabatan apa yang kamu pegang di kantormu sekarang?”

Aditya tersentak, wajahnya mendadak memerah. “P-Putri, kenapa kamu tanya soal itu sekarang—”

“Jawab!” tegasku keras hingga beberapa penghuni apartemen berhenti untuk menyaksikan. “Kamu cuma seorang Staf Analis Junior di PT Graha Semesta dengan gaji Rp8 juta per bulan! Bagaimana mungkin seorang staf junior sepertimu mampu membeli unit Penthouse senilai Rp12 Miliar di kompleks Apartemen St. Moritz ini?!”

Suasana Loby mendadak hening.

Ibu Siti tertegun, matanya bergantian menatapku dan Aditya. “A-apa? Delapan juta? Aditya… bukankah kamu bilang gajimu lima puluh juta per bulan dan kamu yang membiayai seluruh hidup Putri?!”

Bapak Hendra ikut melotot. “Aditya! Jelaskan pada Papa! Bukankah kamu yang membeli apartemen ini?!”

Aditya menyapu keringat dingin yang mulai membasahi dahinya. “Ma… Pa… M-maksud Aditya…”

Aku melangkah mendekati manajer keamanan dan menyerahkan dokumen resmi dari perusahaanku. “Pak Manajer, ini surat bukti Penunjukan Hunian Dinas Eksekutif atas nama saya, Putri, Head of Product Development dari PT Karya Utama Konstruksi. Unit Penthouse lantai 31 adalah fasilitas penuh dari perusahaan untuk saya pribadi. Tiga orang ini tidak memiliki hak hukum sedikit pun atas unit tersebut dan telah melakukan tindakan perusakan ketertiban umum!”

Manajer keamanan memeriksa dokumen bernomor registrasi resmi tersebut, lalu menatap keluarga Aditya dengan pandangan tajam dan jijik. “Bapak dan Ibu sekalian, Anda telah melakukan penipuan dan mengganggu kenyamanan penghuni kami. Silakan meninggalkan area apartemen ini sekarang juga sebelum kami memanggil pihak kepolisian!”

“T-Tunggu dulu! Ini tidak mungkin!” jerit Ibu Siti panik, wajah keangkuhannya mulai hancur berkeping-keping. “Perempuan ini pasti bohong! Mana mungkin perusahaan kasih apartemen semewah ini cuma buat seorang perempuan?! Pasti Putri memakai uang tabungan Aditya untuk menyewanya!”

“Uang tabungan Aditya?” aku menyunggingkan senyum paling sinis. “Ibu Siti, jangankan untuk menyewa apartemen ini, uang di rekening anak kesayanganmu itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya pemeliharaan bulanan tempat ini! Selama dua tahun ini, dialah yang hidup menumpang dari uang gaji dan bonus saya!”

“BAJINGAN KAMU PUTRI!” amuk Bapak Hendra, menunjuk-nunjuk mukaku dengan wajah merah padam karena malu yang tak tertahankan. “Kamu sudah mempermalukan keluarga kami di tempat umum! Kamu wanita durhaka! Kami akan hancurkan karirmu di kantor! Aku akan laporkan keatasanmu bahwa kamu adalah menantu yang tidak berakhlak!”

“Oh, mau melaporkan saya ke atasan PT Karya Utama Konstruksi, Pak Hendra?” kataku penuh penekanan, menyebut nama lengkap ayah mertuaku.

Langkah Bapak Hendra yang hendak maju mendadak terhenti. Matanya membelalak ketakutan saat melihat perubahan ekspresi di wajahku.

“Kenapa, Pak Hendra? Kaget saya tahu nama lengkap dan rekam jejak Anda?” aku mengambil satu langkah maju, menundukkan kepala dan berbisik tepat di hadapan wajahnya. “Apakah Anda lupa bahwa PT Karya Utama Konstruksi—perusahaan tempat saya menjabat sebagai Head of Product Development—baru saja melakukan audit internal terhadap seluruh vendor penyedia bahan bangunan minggu lalu?”

Wajah Bapak Hendra yang tadinya memerah akibat kemarahan, seketika berubah pucat pasi bagaikan kertas kafan. Seluruh badannya mulai gemetaran hebat.

“P-Putri… k-kamu…” gagap Bapak Hendra, suaranya tercekat di tenggorokan.

“Kemarin malam, tim audit saya menemukan indikasi manipulasi kuitansi dan faktur fiktif pengadaan semen dan besi baja senilai Rp2,5 Miliar!” suaraku meninggi, cukup keras untuk didengar oleh petugas keamanan di sekitar kami. “Dan nama pemilik perusahaan vendor fiktif yang mengeruk uang perusahaan saya itu… adalah milik Anda, Bapak Hendra!”

BOOM!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, Ibu Siti dan Aditya terperanjat setengah mati.

“A-Apa?! Dua koma lima miliar?!” jerit Ibu Siti hysteris, menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. “Papa! Apa yang wanita gila ini maksudkan?!”

“Jadi ini alasan sebenarnya kenapa kalian semalam begitu bernafsu memeras dan menuntut tujuh puluh persen gajiku?” tembakku dengan analisis tajam yang melumpuhkan mental mereka. “Surat panggilan audit pertama dari kepolisian sudah dikirimkan ke rumah kalian tadi pagi, bukan?! Kalian butuh uang ratusan juta dengan cepat untuk menutup kerugian dan membayar pengacara agar Pak Hendra tidak masuk penjara! Makanya kalian menjadikan promosi jabatan dan bonus Rp90 jutaku sebagai sasaran empuk!”

Aditya menatap ayahnya dengan tubuh berguncang. “Papa! Jadi… jadi tuduhan pemalsuan faktur itu benar?! Papa yang memakai nama perusahaanku untuk mencairkan uang vendor fiktif itu?!”

Bapak Hendra menyapu wajahnya yang dibasahi keringat dingin, tidak sanggup mengucapkan satu kata pun untuk membela diri. Rahasia kejahatan finansial yang selama ini ditutupinya rapat-rapat telah dibongkar habis oleh menantu yang selama ini dihina dan diremehkannya!

Namun, keserakahan dan kegilaan Ibu Siti rupanya belum mencapai batasnya. Bukannya sadar dan memohon maaf, wanita tua itu justru kehilangan akal sehatnya. Di tengah kepungan satpam dan tatapan menjijikkan para penghuni apartemen, Ibu Siti menyerangku dengan kata-kata paling kejam.

“DASAR WANITA IBLIS! WANITA IBLIS PEMBAWA SIAL!” jerit Ibu Siti sambil mencoba mencakar wajahku, namun langsung ditahan kuat-kuat oleh dua petugas keamanan badan tegap. “Kamu sengaja mau menghancurkan keluarga kami! Kamu menjebak suamiku! Kamu tidak pantas jadi istri! Kamu memang wanita mandul yang tidak berguna! Hanya menang punya uang tapi tidak bisa memberikan keturunan untuk melanjutkan garis keturunan keluarga kami! Wanita tidak laku! Wanita cacat!”

Kata-kata “wanita mandul” dan “wanita cacat” menggema di sepanjang loby apartemen yang megah itu. Beberapa pengunjung yang menyaksikan mengelus dada, kasihan melihat kejahatan verbal yang dilontarkan seorang mertua kepada menantunya.

Tapi kali ini… aku tidak akan diam lagi. Waktu untuk melindungi harga diri Aditya telah habis.

“Pak Manajer,” kataku tenang pada manajer keamanan. “Tolong pegang wanita ini. Saya punya dokumen medis yang harus dibacakan agar seluruh dunia tahu siapa yang sebenarnya cacat di sini.”

Aku mengambil ponselku, membuka folder terenkripsi berkode rahasia, lalu memutar volume pengeras suara ke tingkat maksimal. Aku menayangkan dokumen hasil laboratorium resmi dari RS Bunda Jakarta ke layar monitor besar di meja resepsionis melalui fitur screencast, membuat seluruh pengunjung loby dapat melihatnya dengan jelas.

“Ibu Siti! Bacalah kertas analisis laboratorium fertilitas ini dengan mata kepalamu sendiri!” suaraku bergema penuh wibawa. “Ini adalah Hasil Analisis Sperma dan Tes Fertilitas milik anak kesayanganmu, Aditya, yang diperiksa oleh Dokter Spesialis Andrologi satu tahun lalu!”

Ibu Siti mendongak, matanya menatap layar monitor besar yang menampilkan grafik dan angka-angka medis.

“Jumlah konsentrasi sperma: NOL! Diagnosis: Azoospermia Total irreversibel!” aku membaca dokumen medis itu kalimat demi kalimat dengan suara lantang dan tegas. “Secara medis, anak laki-lakimu ini TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBERIKAN KETURUNAN SECARA ALAMI! Dan kondisi rahim saya? SERATUS PERSEN SEHAT DAN SUBUR!”

Bagaikan ledakan bom atom di tengah ruangan, seluruh loby mendadak senyap bak kuburan.

Aditya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin, menangis tersedu-sedu karena rasa malu dan kehancuran harga diri lelakinya yang kini telanjang di depan umum.

“Selama dua tahun ini, Bu Siti…” kataku sambil berjalan mendekati Ibu Siti yang mematung bagaikan patung garam. “Saya menahan rasa sakit dihina oleh keluarga besar kalian. Saya menelan bulat-bulat sindiran saudara-saudaramu setiap kali acara Lebaran. Saya berpura-pura tersenyum dan menyalahkan diri sendiri di depan semua orang—HANYA DEMI MENJAGA HARGA DIRI DAN MARTABAT ANAK LAKILAKIMU!”

Airmata keharusanku akhirnya menetes satu titik, tapi bukan airmata kesedihan, melainkan pelepasan beban yang menindih dadaku selama dua tahun.

“Tapi apa balasan kalian atas pengorbananku?” lanjutku tajam. “Kalian menginjak-injak kepalaku! Kalian memeras gajiku! Dan semalam, kamu dengan mulut beracunmu menyebutku wanita mandul di depan suamiku sendiri… sementara suamiku hanya diam membisu karena takut rahasia kelelakiannya terbongkar!”

Ibu Siti memegang dadanya yang terasa sesak. Wajahnya yang semula sombong kini berubah pucat pasi, matanya bergetar menatap anaknya yang sedang meraung-raung berlutut di lantai.

“A-Aditya…” suara Ibu Siti tercekat. “I-ini… ini tidak benar kan, Nak? Kamu… kamu laki-laki sejati kan, Nak? Katakan pada Mama kalau dokumen itu palsu!”

Namun Aditya hanya bisa menggelengkan kepala dalam tangisnya yang hancur. “Ma… maafkan Aditya, Ma… Maafkan Aditya…”

Pengakuan polos dari mulut Aditya menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan mental Ibu Siti. Wanita tua itu limbung, kakinya lemas tak sanggup menopang berat tubuhnya, hingga harus dipegangi oleh petugas satpam agar tidak pingsan di tempat.

“Sekarang,” kataku pada manajer keamanan. “Serahkan orang-orang ini ke pihak kepolisian. Bapak Hendra atas kasus penipuan vendor fiktif senilai Rp2,5 Miliar, dan usir dua orang lainnya dari area Apartemen St. Moritz!”

“Baik, Ibu Putri!” jawab manajer keamanan tegas.

Dalam hitungan menit, tiga mobil patroli kepolisian dari Polsek Kembangan tiba di loby. Bapak Hendra digiring keluar dengan tangan terborgol plastik, berteriak-teriak memohon ampun pada menantunya. Sementara Ibu Siti meratap histeris seraya menarik-narik celana Aditya yang hanya bisa berjalan gontai bagaikan mayat hidup.

Tapi pembalasanku belum selesai sampai di sana.

Siang harinya, pukul 13.00 WIB, armada dua truk besar beserta sepuluh teknisi yang telah kusewa tiba di apartemen lama milik keluarga Aditya di kawasan Tebet. Dengan membawa kuitansi asli dan bukti transfer atas namaku, tim teknisi mulai membongkar seluruh AC inverter, menarik kulkas dua pintu, membawa keluar sofa kulit Italia, televisi OLED 65 inci, set meja makan, hingga mesin cuci.

Ibu Siti yang baru saja pulang dari kantor polisi mengurus suaminya, histeris melihat rumahnya dikosongkan secara paksa. Para tetangga kompleks keluar rumah, menonton pemandangan spektakuler bagaimana rumah keluarga beracun itu dipreteli hingga menyisakan dinding bata yang kosong dan berlubang bekas copotan engsel AC.

Dua minggu berlalu setelah kejadian dahsyat hari itu.

Proses perceraianku dengan Aditya berjalan sangat cepat di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Dengan bukti perlakuan buruk, pemerasan finansial, serta kebohongan medis, hakim memutus verfict cerai secara kilat. Tidak hanya itu, kepolisian resmi menetapkan Bapak Hendra sebagai tersangka kasus korupsi vendor fiktif dan menjatuhkan hukuman ganti rugi sebesar Rp2,5 Miliar atau sita seluruh aset pribadi.

Untuk membantu ayahnya agar tidak membusuk di dalam penjara, Aditya terpaksa menjual seluruh tabungannya, mobil pribadinya, hingga meminjam uang ke sana-sini dengan bunga mencekik. Namun uangnya masih jauh dari cukup. Akhirnya, rumah keluarga mereka yang berada di kawasan Tebet itu didaftarkan ke lelang eksekusi bank untuk menutup sisa ganti rugi perusahaan.

Suatu sore yang dingin di penghujung bulan, aku baru saja menyiram tanaman bunga di balkon penthouse lantai 31 milikku. Telepon interkom berdering dari loby bawah.

“Ibu Putri, ada Mantan Suami Anda, Bapak Aditya, memohon untuk bertemu satu kali saja. Dia menangis di meja resepsionis.”

Aku menghela napas panjang. “Biarkan dia naik.”

Beberapa menit kemudian, bel pintuku berbunyi. Aku membuka pintu jati yang tebal itu.

Berdiri di hadapanku seorang laki-laki yang hampir tak kukenali lagi. Aditya tampak kurus kering, matanya cekung dengan kantung mata hitam yang berat, pakaian Batinya kusam dan tidak terurus. Tidak ada lagi sisa-sisa pria tampan yang dulu kukagumi.

Begitu melihat wajahku, Aditya langsung menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai koridor, berlutut dan menangis terisak-isak di depan kakiku.

“Putri… tolong aku, Putri…” suaranya parau, meratap penuh penderitaan. “Aku mohon… tolong ampuni Papa… Rumah kami di Tebet sudah disita bank hari ini untuk dilelang. Ibu jatuh sakit kena stroke ringan karena stres memikirkan uang. Aku sudah dipecat dari kantorku karena reputasi buruk keluarga kita… Kami tidak punya tempat tinggal lagi, Putri…”

Aku menatap laki-laki yang pernah menghiasi hidupku itu dengan pandangan dingin tanpa emosi sedikit pun.

“Lalu, apa urusannya denganku, Aditya?”

“Tolong pinjamkan uang bonus sembilan puluh jutamu itu, Putri…” meratap Aditya seraya memegang ujung celanaku. “Cuma uang itu yang bisa menyewa rumah kecil untuk Ibu berobat… Aku janji akan bekerja keras untuk mengembalikannya. Dulu aku sangat bodoh menurut pada Mama… Aku sadar dialah yang menghancurkan rumah tangga kita. Tolong beri aku kesempatan kedua…”

Aku memandangnya dengan tatapan kasihan—kasihan pada seorang laki-laki dewasa yang baru menyadari kesalahannya setelah seluruh dunianya hancur berkeping-keping.

Aku menarik kakiku dari genggamannya, lalu mengeluarkan sebuah folder map berwarna biru tua dari dalam tas kerjaku. Aku melempar sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan asli di atas lantai di hadapan wajahnya yang bersimbah air mata.

“Kamu salah besar, Aditya. Rumah orang tuamu di Tebet itu bukan lagi disita bank untuk dilelang.” “Kemarin sore, aku telah membeli lunas seluruh sertifikat rumah itu atas nama pribadiku melalui lelang resmi eksekusi bank.” “Dan hari ini, surat perintah eksekusi pengosongan dari pengadilan sudah terbit—angkat kakimu dan ibumu dari rumahku sebelum pukul lima sore, atau polisi yang akan menyeret kalian keluar ke jalanan!”