Lidah Maya kelu seketika. Roti selai sarikaya yang ia pegang mendadak terasa seringan gabus, sementara tenggorokannya seperti tersumbat serat kapas kering. Di luar terpal bajaj, aspal basah sisa gerimis semalam memantulkan lampu merkuri kuning yang redup dan bopeng. Nama itu—Luningning. Bunyinya ganjil di telinga orang kota, terdengar seperti denting logam tipis atau nama panggilan anak-anak pesisir timur yang jauh, bukan nama yang lazim didengar di lorong IGD yang bau karbol dan darah kering. Maya melirik tangan tua di atas setang bajaj; punggung tangan itu dipenuhi bintik penuaan cokelat tua, urat-uratnya menonjol kaku seperti akar jati yang melilit setang besi berkarat. Ia tidak tahu harus menjawab apa selain menunduk, menatap ujung sepatunya yang ternoda cipratan betadine minggu lalu yang tak kunjung luntur dicuci detergen.
Pagi itu bajaj melaju lebih lambat dari biasanya. Bukan karena Pak Ben sengaja memperlambat laju mesin dua taknya yang batuk-batuk, melainkan karena jalanan Manggarai mulai dijejali gerobak sayur dan orang-orang berjaket kusam yang berjalan setengah tidur mengejar kereta rel listrik pertama. Radio kecil bermerek merk dagang tiruan yang diikat karet ban bekas di dekat spion kiri itu tetap bungkam. Keheningan tanpa desis kaset rekaman itu justru jauh lebih menindas daripada suara sumbang si gadis. Suara mesin menggeram kasar—brem-brem-ngik—mengisi ruang sempit di antara mereka berdua, mengaduk udara pengap yang berbau bensin campur dan minyak angin roll-on aroma mentol dari leher Pak Ben. Ketika Maya turun di depan gang kontrakannya, ia membayar dengan uang pas seratus ribu rupiah, menolak kembalian dengan melambaikan tangan terburu-buru, lalu masuk ke kamarnya hanya untuk berbaring telentang di kasur busa tipis tanpa mencopot kaus kaki, membiarkan dengungan mesin bajaj terus berputar di dalam kepalanya sampai siang bolong.

Kerja di IGD rumah sakit rujukan provinsi bukan tempat yang ramah bagi orang yang gampang melamun. Tiga hari berikutnya, ritme kerja Maya kembali dihajar kenyataan brutal yang datang tanpa jeda. Pasien kecelakaan lalu lintas dari jalur pantura masuk dengan patah tulang terbuka; anak balita demam berdarah yang nadinya hampir tak teraba di triase merah; keluarga pasien yang mengamuk gara-gara stok kantung darah golongan B kosong di PMI cabang. Tangannya terbiasa bergerak mekanis: menyobek bungkus jarum suntik ukuran dua puluh, memasang infus dua jalur, menekan dada pria paruh baya yang henti jantung di atas brankar beroda patah hingga tulang rusuknya berderak halus di bawah telapak tangannya. Tapi di sela-sela dentang gunting bedah yang dijatuhkan ke baskom ginjal stainless steel dan suara monitor saturasi oksigen yang berteriak-teriak ritmis, telinganya seperti mendengung sendiri. Ia kerap menangkap potongan lirik tanpa irama itu. Tentang bintang yang jatuh di pematang sawah kering, tentang anak yang disuruh lelap sebelum angin laut membawa kabut.
Pak Ben tidak pernah menyalakan radio itu lagi selama dua minggu berikutnya. Pria tua itu tetap menunggu di pangkalan yang sama setiap pukul empat lewat sepuluh menit, mengenakan jaket parasit hitam kusam bertuliskan logo bengkel las yang tintanya sudah mengelupas. Setiap kali Maya naik ke jok belakang yang lapis kulit imitasi merahnya sobek dan mengeluarkan spons kuning rapuh, Pak Ben hanya menoleh sedikit, mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang menghitam akibat kretek murahan. Radio itu tergantung bisu di samping speedometer yang jarumnya sudah mati bertahun-tahun lalu di angka empat puluh kilometer per jam.
Keheningan itu perlahan menjadi siksaan tersendiri buat Maya. Rasa bersalahnya bermutasi menjadi kegelisahan ganjil. Ia mulai memperhatikan hal-hal sepele yang luput selama tiga bulan terakhir: cara Pak Ben menatap tiap perempuan muda yang menyeberang zebra cross di depan Stasiun Cikini, bagaimana matanya yang keruh oleh katarak tipis selalu menyapu trotoar di bawah jembatan layang yang dipenuhi lapak emperan tempat para pengamen dan pemulung perempuan tidur beralaskan kardus aqua bekas. Pria tua itu tidak sekadar mencari, ia mengikis sisa hidupnya untuk memindai kota berpenduduk sepuluh juta jiwa ini satu meter persegi demi satu meter persegi, dari balik setang bajaj reyot yang lajunya terengah-engah.
Pada suatu malam Kamis yang lengang di akhir pekan bulan berikutnya, Maya duduk di meja registrasi IGD yang dingin sambil mengunyah keripik singkong asin yang sudah melempem. Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Tidak ada rujukan baru. Dokter jaga sedang tidur ayam di ruang dokter, mendengkur halus di balik sekat tripleks. Maya membuka ponselnya, membuka aplikasi pencarian orang hilang di grup media sosial berbasis kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, lalu mengetik nama Luningning. Hasilnya nihil. Nama itu terlalu unik, atau mungkin justru salah dieja oleh orang-orang desa di kartu keluarga lama mereka. Ia mencoba variasi lain: Ningning, Luning, gadis hilang Wonosobo, asisten rumah tangga hilang Jakarta Timur tahun dua ribu dua puluh tiga. Layar ponselnya hanya menampilkan ratusan unggahan buram tentang anjing peliharaan yang hilang, penipuan lowongan kerja pinjaman online, dan foto-foto gadis remaja yang kabur dari rumah bersama pacarnya lalu ditemukan kembali seminggu kemudian di penginapan melati. Tak ada jejak yang cocok. Jakarta terlalu luas, terlalu gampang menelan orang rendahan tanpa perlu bersendawa.
“Ngapain lo melototin postingan tahun jebot?” suara Eni, perawat senior bertubuh gempal yang baru keluar dari pantry sambil membawa cangkir kopi instan jahe, mengejutkan Maya. Eni mengintip layar ponsel Maya dari balik pundak sambil mendecap. “Bocah kabur lagi? Udahlah, May, urusin tuh formulir klaim BPJS pasien bangsal Teratai yang belum lo stempel. Pasien hidup aja bikin puyeng, ngapain nyariin orang ilang di pesbuk.”
“Bukan pasien, Mbak. Ini… anaknya tukang bajaj langganan gue,” sahut Maya pelan, menyapu layarnya turun.
Eni tertawa mencemooh, tawa khas orang yang sudah dua puluh lima tahun melihat orang mati di lorong rumah sakit dan kehilangan selera untuk bersimpati pada hal-hal sentimental. “Tukang bajaj? May, bocah daerah datang ke mari jadi pembantu, kalau nggak dibawa kabur calo tenaga kerja ilegal ke Malaysia, ya mentok-mentok nyangkut di lokalisasi pinggir rel atau udah kawin siri sama sopir truk di Marunda. Lo mikir dia diculik mafia organ tubuh kayak di film-film Korea? Kebanyakan nonton tivi lo. Kerjain noh resume medis, keburu dokter konsulen visit jam enam pagi.”
Maya tidak mendebat. Omongan Eni kasar, tetapi di lorong rumah sakit ini, orang-orang sinis seperti Eni biasanya mendekati kebenaran yang paling masuk akal secara statistik. Pembantu rumah tangga tanpa KTP kota yang kabur dari majikan biasanya punya dua alasan: disiksa atau mencuri barang majikan. Kalau disiksa sampai tewas, mayatnya mungkin berakhir di instalasi forensik RSCM sebagai Mr. X atau Mrs. X tanpa nama, dikubur di pemakaman massal Tegal Alur setelah tiga puluh hari tak ada keluarga yang menebus. Jika tidak ada mayat, berarti orang itu masih hidup di suatu sudut yang pengap, mungkin mengganti nama panggilannya menjadi Anti, Rini, atau Maya—nama-nama pasaran yang aman untuk menghilangkan jejak masa lalu yang memalukan.
Pukul empat lewat lima belas menit dini hari itu, udara terasa luar biasa dingin menusuk tulang. Angin membawa bau lumpur comberan yang diaduk excavator pembersih kali di dekat Matraman. Saat Maya menghampiri bajaj hijau Pak Ben, ia tidak langsung masuk. Ia berdiri di samping pintu tanpa daun itu, mengetuk atap seng bajaj dua kali dengan buku-buku jarinya.
“Pak,” panggil Maya.
Pak Ben mendongak, matanya merah karena menahan kantuk dan embusan angin malam tanpa helm. “Ya, Nak Maya? Masuk, anginnya lagi jahat malam ini.”
“Nyalain lagi radionya, Pak. Putar lagunya.”
Pak Ben tertegun sejenak. Tangannya yang memegang lap gombal berhenti di atas setang. Garis-garis keriput di sekitar sudut matanya yang mengendur berkedut samar. “Nanti Nak Maya terganggu lagi. Kemarin saya salah, memaksakan orang dengar suara rusak.”
“Saya yang minta sekarang, Pak. Putar aja. Keras-keras sekalian. Kuping saya udah kebal denger raungan sirene ambulans tiap jam, masa denger lagu pengantar tidur aja nggak kuat.” Maya memaksakan sebuah senyum tipis, menyelinap masuk ke jok belakang, lalu bersandar pada dinding seng yang bergetar.
Pak Ben tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan jemarinya yang kapalan ke tombol putar radio usang itu. Kretek. Sakelar on-off itu berderak, diikuti desis statis frekuensi radio AM yang kosong, lalu terdengar bunyi klik mekanis dari pemutar pita kaset mini yang sudah dimodifikasi dengan colokan kabel audio aux menuju pemutar MP3 murahan berperekat selotip hitam. Desis suara pita rekaman kembali merayap keluar dari speaker kecil berdiameter empat inci yang sobek konus kertasnya.
Suara cempreng, sedikit parau, dan jelas direkam di dalam ruangan berpantul seperti kamar mandi berdinding seng, kembali terdengar. Lagu itu tidak memiliki bait pembuka yang teratur. Si perempuan langsung menyanyi dari tengah kalimat, suaranya kadang melonjak naik ke nada tinggi tanpa kontrol napas yang baik, lalu merosot ke gumaman rendah seperti orang malas yang mengantuk:
Bintang tiga di atas genteng patah,
jangan turun ke comberan basah,
kalau tidur jangan pasang kelambu merah,
nanti malam dicuri angin sawah.
Maya mendengarkannya baik-baik kali ini. Bukan lagu anak-anak ciptaan AT Mahmud atau Pak Kasur yang riang. Liriknya aneh, bernada agak gelap dengan dialek campuran yang sulit ditebak—ada cengkok mirip tembang Jawa pesisiran tapi diucapkan dengan vokal terbuka yang lebih menyerupai aksen Melayu pedalaman atau Madura pinggiran. Di latar belakang rekaman itu, jika telinga didekatkan baik-baik melewati derak mesin bajaj, Maya bisa mendengar suara lain: kokok ayam jago yang tercekik di kejauhan, desau angin yang mengibaskan dedaunan bambu, dan denting sendok beradu dengan mangkok seng. Rekaman sebuah pagi di sebuah kampung yang sangat jauh dari rimba beton Jakarta.
“Bapak merekamnya pakai HP apa waktu itu?” tanya Maya, mencondongkan badannya ke celah sempit di antara dua jok depan.
“Bukan ponsel, Nak,” jawab Pak Ben setengah berteriak agar suaranya bisa mengalahkan raungan mesin bajaj saat mereka mulai melintasi tanjakan flyover Salemba. “Dulu dia beli tape recorder kecil bekas dari tukang rongsokan di pasar malam kampung. Katanya buat latihan karaoke, mau ikut lomba qasidah di kecamatan tapi lagunya lagu karangan ibunya sendiri. Kasetnya cuma satu itu, pita cokelatnya sudah kusut, saya bawa ke Glodok disalin ke gantungan flashdisk kecil sama anak muda di ruko elektronik. Tapi suaranya ya tetap kresek-kresek begitu, nggak bisa dibersihkan kata mereka.”
“Ibu… Luningning di mana sekarang, Pak?” Maya tahu ia menyeberangi batas sopan santun urusan pribadi penumpang dan sopir, tapi rasa penasaran yang terpendam berminggu-minggu membuatnya tak bisa menahan diri lagi.
Pak Ben terdiam cukup lama hingga bajaj meluncur turun dari jembatan layang. Ban bajaj menghantam lubang kecil, membuat tubuh mereka terlonjak keras di atas jok pegas yang sudah aus. “Sudah lama tanahnya merah, Nak. Luningning umur sepuluh tahun, ibunya meninggal kena sakit kuning. Sejak itu dia cuma hidup sama saya di gubuk bekas penjaga tambak di Brebes sana. Waktu tambaknya dijual ke orang pabrik garam, kami nggak punya apa-apa lagi. Saya narik becak, dia bantu bersihin ikan di pelelangan. Terus ada orang dari kota datang, bawa pakaian bagus-bagus, nawarin kerja di perumahan elite di Jakarta Barat. Gajinya katanya cukup buat beli sepetak tanah lagi di kampung. Saya bodoh. Saya tanda tangan surat cap jempol itu. Saya lepaskan dia naik bus malam dari terminal bayangan.”
Napas Pak Ben tersendat di ujung kalimat, tapi ia tidak menangis tersedu-sedu. Air matanya tampak sudah lama mengering, menyisakan tatapan mata yang kosong dan keras seperti permukaan batu kali. “Tahun pertama dia masih kirim wesel pos tiga kali. Isinya tidak banyak, tapi ada surat tulisan tangannya. Katanya majikannya baik, tapi dia dilarang keluar pagar rumah karena takut kena pergaulan bebas anak kota. Masuk tahun kedua, wesel pos berhenti. Suratnya tidak ada lagi. Saya susul ke alamat majikannya di daerah Kedoya. Satpam perumahannya bilang, keluarga majikan itu sudah pindah ke Australia sejak delapan bulan sebelumnya, dan mereka tidak pernah punya pembantu dengan nama Luningning. Satpamnya malah panggil polisi komplek, nuduh saya mau memeras.”
Maya merasakan hawa dingin merayap dari telapak tangannya naik ke tengkuk. Cerita klise yang sering ia baca di koran kriminal pos ronda, tapi ketika diceritakan oleh punggung tua yang membungkuk di depan setang bajaj tiga puluh sentimeter dari wajahnya, ceritanya berubah menjadi monster nyata yang dingin dan mencengkeram.
“Lalu kenapa Bapak narik bajaj di Jakarta Pusat? Kenapa nggak cari di sekitar Jakarta Barat?”
“Saya cari di mana-mana, Nak. Tiga tahun lalu saya jual sisa seng rumah di kampung buat bayar uang muka sewa bajaj ini. Siang malam saya jalan. Tapi Jakarta ini seperti baskom raksasa yang airnya butek. Saya tidak punya uang buat bayar detektif swasta, polisi minta syarat ini-itu dan kartu keluarga yang hilang waktu banjir rob. Jadi saya cuma punya ini.” Pak Ben mengetuk radio kecilnya dengan ujung jari telunjuknya yang bernoda oli. “Kalau dia masih ada di kota ini, entah jadi pelayan warung, entah jadi pemulung, entah jalan di trotoar… kalau dia dengar suara dia sendiri, dia pasti nengok. Dia pasti tahu bapaknya masih hidup dan lagi keliling nyari dia.”
Sebuah logika yang naif hingga menusuk ulu hati. Betapa mustahilnya mempertemukan suara rekaman cempreng bervolume delapan puluh desibel di tengah hiruk-pikuk kebisingan Jakarta yang mencapai ratusan desibel dari deru knalpot tronton, klakson TransJakarta, dan musik lantai dansa kelab malam. Suara Luningning di radio itu tak ubahnya bisikan seekor jangkrik di tengah lapangan terbang Sukarno-Hatta. Tapi bagi Pak Ben, pita audio itu adalah satu-satunya mercusuar yang ia miliki di tengah samudra kelam tak bertepi.
Perjalanan berakhir seperti biasa di mulut gang kontrakan Maya. Sebelum Maya turun, ia merogoh tas kanvasnya, mengeluarkan buku saku perawat bergaris biru dan pena hitam bertutup retak. Ia merobek selembar kertas kosong di halaman paling belakang.
“Pak Ben, tulis nama lengkap Luningning di sini. Tanggal lahirnya, atau minimal perkiraan umurnya, dan kalau ada ciri-ciri fisiknya yang paling menonjol—tahi lalat, bekas luka bakar, atau apa saja.”
Pak Ben menatap kertas itu dengan ragu-ragu. “Buat apa, Nak?”
“Rumah sakit tempat saya kerja itu rumah sakit rujukan pemerintah paling besar, Pak. Pasien tanpa identitas dari dinas sosial, korban tabrak lari tanpa KTP dari seluruh penjuru Jakarta, sampai orang terlantar yang pingsan di kolong flyover, semuanya kalau sakit parah pasti dilarikan ke IGD kami. Setiap minggu ada puluhan pasien Mr. X dan Mrs. X yang masuk sistem data. Saya bisa bantu cek catatan rekam medis lama di bagian instalasi pemulasaraan jenazah dan ruang rawat inap jiwa.”
Tangan tua Pak Ben gemetar hebat saat menerima pena itu. Ia harus menopangkan kertas robekan itu di atas setang bajaj untuk menulis. Tulisannya kaku, runcing-runcing dengan huruf kapital campur aduk seperti anak sekolah dasar yang baru belajar mengeja: LUNINGNING BINTI BENI. TAHUN LAHIR KIRA-KIRA 2002. TANDA DI JIDAT KANAN BEKAS JATUH DARI POHON JAMBU AIR WAKTU KECIL, AGAK MENDOK KE DALAM SEPERTI BULAN SABIT.
Kertas lecek itu berpindah ke saku seragam scrub hijau toska milik Maya, bergesekan dengan stetoskop Littmann miliknya di saku dada kiri.
Dua bulan berlalu tanpa hasil yang berarti. Musim hujan mulai mengetuk Jakarta secara serampangan. Banjir-banjir lokal mulai memutus jalan-jalan protokol, membuat jam kerja di IGD menjadi semakin gila. Pasien leptospirosis, diare akut balita, dan korban kecelakaan motor terpeleset rel basah memenuhi lorong-lorong rumah sakit hingga ranjang lipat militer harus dipasang darurat di koridor dekat toilet. Maya hampir melupakan kertas robekan di saku bajunya seandainya ia tidak terus mendengar suara cempreng itu setiap kali pulang kerja pukul empat dini hari.
Hubungan Maya dan Pak Ben berubah secara perlahan. Tidak ada lagi keluhan pusing. Maya bahkan mulai hafal di bagian mana nada suara si gadis meleset ke oktaf yang lebih rendah, di detik ke berapa pita kaset tua itu berdesis paling kasar sebelum kembali normal, dan di lirik mana si gadis sempat tertawa kecil geli karena salah mengucap kata rembulan menjadi rembulung. Terkadang, jika malam di rumah sakit benar-benar menguras air mata—seperti malam ketika ia gagal memasang selang pernapasan pada bayi prematur yang membiru di tangannya—Maya justru memejamkan mata di bangku belakang bajaj dan membiarkan suara Luningning yang canggung itu menyapu kepalanya dari rasa putus asa. Suara itu bukan lagi polusi suara; ia menjelma menjadi pengingat yang rapuh bahwa di luar tembok rumah sakit yang dingin dan berbau alkohol ini, ada cinta purba yang tak kenal putus asa dari seorang bapak yang menolak menyerah pada kekejaman takdir.
Hingga tibalah malam pergantian tahun. Tanggal tiga puluh satu Desember menuju satu Januari.
Bagi petugas ruang gawat darurat, malam tahun baru adalah neraka tahunan yang sudah terprediksi. Bau mesiu kembang api di luar bercampur dengan bau ampas alkohol dari muntahan anak-anak muda yang menabrakkan motornya ke tiang lampu jalan. Pukul dua dini hari, sebuah mobil bak terbuka milik Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berhenti mendadak di depan lobi IGD. Dua orang petugas berseragam cokelat loreng melompat turun, menurunkan sesosok tubuh perempuan yang dibungkus selimut lurik kotor dan basah kuyup oleh air hujan campur comberan.
“Ditemukan di mana ini, Pak?” tanya Dokter Reza, dokter jaga kepala shift malam itu, sambil buru-buru memakai sarung tangan lateks.
“Di gorong-gorong dekat bantaran Kali Ciliwung, Dok, sekitaran Bukit Duri,” kata salah satu petugas Satpol PP sambil menyeka peluh di dahinya dengan lengan seragam. “Tadi sore ada operasi penertiban gubuk liar di pinggir tanggul penahan air. Warga lapor ada perempuan gelandangan yang suka ngumpet di dalam gorong-gorong saluran pembuangan air limbah pabrik tahu. Pas hujan deras air kali meluap, dia kejebak di dalam, hampir tenggelam. Pas kami tarik keluar, badannya sudah demam tinggi menggigil, napasnya tinggal satu-satu. Bau bensin juga, kayaknya suka ngisap lem atau tiner.”
Maya segera menarik brankar kosong. Bersama dua perawat pria, ia mengangkat tubuh kurus kering yang bobotnya mungkin tak sampai tiga puluh lima kilogram itu. Tubuh itu ringan sekali, seperti tinggal tumpukan tulang yang dilapisi kulit kering bersisik penuh koreng bernanah di bagian betis dan lengannya. Rambutnya gimbal mengeras karena lumpur hitam yang mengering berhari-hari, menutupi hampir separuh wajahnya yang cekung.
“Pasang infus ringer laktat dua kolf guyur cepat, siapkan seftriakson satu gram lewat intravena, bersihkan jalan napasnya!” perintah Dokter Reza cepat setelah meletakkan stetoskop di dada perempuan itu. “Ronkhi basah kasar di kedua lapang paru. Sepsis berat, kemungkinan pneumonia aspirasi gara-gara kemasukan air comberan kotor. Saturasi oksigen cuma tujuh puluh dua persen tanpa alat bantu. Pasang sungkup non-rebreathing sepuluh liter per menit sekarang!”
Maya bergerak dengan efisiensi yang sudah terlatih selama bertahun-tahun. Gunting medisnya merobek kaus oblong dekil bertuliskan promosi caleg pemilu lima tahun lalu yang menempel lekat di kulit dada perempuan itu karena nanah yang mengering. Bau busuk yang menyengat segera menyeruak ke udara—campuran aroma infeksi jaringan kulit, kotoran manusia, dan bau tanah basah. Maya mengambil kassa steril yang dibasahi larutan antiseptik, mulai menyeka lumpur hitam pekat yang menutup dahi dan pipi pasien malang itu agar selang oksigen bisa terpasang dengan rekat di wajahnya.
Ketika usapan kassa ketiga mengangkat gumpalan lumpur yang mengering di atas pelipis kanan, gerakan tangan Maya membeku seketika.
Tepat di bawah garis rambut yang kusut, di atas alis kanan, ada sebuah lekukan luka parut lama yang mencolok. Kulit di area itu tertarik ke dalam membentuk cekungan putih licin tak berbulu. Panjangnya sekitar tiga sentimeter, melengkung samar ke bawah.
Mendok ke dalam seperti bulan sabit.
Dada Maya terasa dihantam palu godam seberat sepuluh ton. Darahnya mendesir deras sampai ujung-ujung jarinya kesemutan hebat di dalam sarung tangan lateks.
Ia menelan ludah dengan susah payah, mengabaikan teriakan Dokter Reza yang meminta diambilkan ampul obat penurun panas. Jemari Maya yang terbungkus karet perlahan menyingkap sisa-sisa rambut gimbal yang menempel di dahi pasien itu. Di bawah penerangan lampu operasi LED IGD yang putih menyilaukan dan dingin tanpa ampun, wajah itu tampak jelas. Tulang pipinya menonjol tajam di bawah kulit pucat keabu-abuan khas pasien gagal napas stadium akhir. Bibirnya membiru gelap, merekah pecah-pecah berdarah. Matanya membuka sedikit, hanya memperlihatkan sklera putih keruh yang bergetar lemah tanpa fokus pandang sama sekali.
“May! Ngapain lo bengong?! Ambilin ampul epinefrin di troli emergensi sekarang! Irama jantungnya mulai ventrikel takikardia tuh, lihat monitornya!” bentak Dokter Reza keras, menyentakkan Maya kembali ke realitas yang bising.
Maya tersentak mundur, kakinya hampir tersandung kabel ground monitor jantung. “I-iya, Dok! Siap!”
Selama empat puluh menit berikutnya, sudut resusitasi IGD itu berubah menjadi arena pertarungan yang hiruk-pikuk dan brutal. Jarum suntik berhamburan di atas baki instrumen. Dokter Reza bergantian dengan Maya melakukan kompresi dada ketika garis gelombang di layar monitor mendadak rata menjadi garis lurus hijau yang berdengung panjang tanpa henti—tiiiiiiiit. Maya menekan telapak tangannya di atas tulang dada yang ringkih itu, merasakan retakan mikro di bawah tekanannya, sementara air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya tumpah menetes di atas kacamata pelindungnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima… napas buatan masuk… satu, dua, tiga, empat, lima…
“Amiodaron tiga ratus miligram masuk!” seru Maya dengan suara parau yang nyaris pecah.
“Cek nadi karotis!” Dokter Reza meletakkan dua jarinya di leher perempuan itu. Sepuluh detik berlalu dalam keheningan yang mencekik, hanya diiringi suara petasan tahun baru yang meledak susul-menyusul di kejauhan di luar jendela kaca rumah sakit.
Dokter Reza menghela napas panjang, bahunya merosot turun. Ia melepas kacamata pelindungnya yang berembun, lalu melirik jam digital di dinding triase.
“Pukul nol dua lewat empat puluh delapan menit. Henti sirkulasi permanen. Catat waktu kematiannya, May. Pasien Nyonya X, umur perkiraan awal dua puluhan tahun. Penyebab kematian: syok septik ec pneumonia aspirasi berat.”
Maya menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Napasnya memburu, peluh membasahi seluruh bagian dalam pakaian scrub-nya hingga menempel lengket di punggung. Di atas brankar, tubuh ringkih itu kini benar-benar diam. Kejang-kejang ototnya telah lenyap. Wajah yang dipenuhi bekas luka dan debu jalanan itu perlahan tampak tenang, terbebas dari siksaan dunia yang menelantarkannya selama bertahun-tahun di dalam gorong-gorong comberan kota yang gelap dan dingin.
“Mbak Eni,” bisik Maya, suaranya bergetar hebat saat memanggil perawat senior yang sedang membereskan bungkus jarum suntik bekas. “Tolong… tolong jangan langsung dorong ke kamar jenazah dulu. Kasih saya waktu lima belas menit. Tolong bersihkan wajahnya dulu sama kain kassa bersih.”
Eni menatap Maya dengan pandangan heran bercampur curiga. “Lo kenapa sih, May? Biasanya juga lo paling cepet kalau disuruh bungkus jenazah Mrs. X pakai kain mori. Lu kenal sama gelandangan ini?”
“Tolong, Mbak. Kali ini aja. Jangan dipindahin dulu.”
Maya tidak menunggu jawaban Eni. Ia membalikkan badan, setengah berlari melintasi pintu kaca otomatis IGD yang membuka lambat, lalu menerobos rintik gerimis yang kembali turun di halaman parkir rumah sakit. Sepatunya menginjak genangan air kotor di selokan depan instalasi farmasi, mengabaikan cipratan lumpur yang mengotori celana panjangnya.
Ia berlari keluar menuju ujung jalan protokol, tempat pangkalan bajaj biasa mangkal di bawah pohon angsana tua.
Di sana, di antara deretan warung kopi tenda yang mulai tutup dan sisa-sisa trompet tahun baru yang terinjak-injak di trotoar, bajaj hijau bernomor lambung usang itu masih terparkir tenang. Lampu kotanya menyala redup kuning kemerahan di tengah kabut dini hari. Di dalamnya, siluet punggung bungkuk Pak Ben tampak bersandar di setang. Radio kecil itu tidak berbunyi; jam operasional rekaman itu memang biasanya baru dimulai tepat pukul empat pagi ketika jalanan mulai kosong.
Maya berhenti dua meter di depan moncong bajaj itu, terengah-engah dengan dada yang nyeri seperti ditusuk jarum es.
Pak Ben menyadari kehadirannya. Pria tua itu membuka matanya yang sembab, menatap Maya dengan senyum tua yang selalu ramah. Ia merogoh saku jaketnya, mengira Maya datang lebih awal karena shift malamnya sudah selesai.
“Tumben jam segini sudah keluar, Nak Maya? Shift malamnya sepi ya gara-gara orang pesta tahun baru?” tanya Pak Ben sambil memutar kunci kontak bajajnya. Mesin dua tak itu bergetar hidup dengan suara knalpot yang familiar—treng-teng-teng-teng.
Maya berdiri mematung di tengah gerimis yang mulai membasahi rambutnya. Lidahnya serasa membeku, persis seperti tiga bulan lalu saat ia pertama kali mengetahui kisah di balik kaset rekaman itu.
Semua teori moral dan etika keperawatan yang dipelajarinya di bangku kuliah serasa menguap tak bersisa ke udara malam: Apakah seorang ayah yang telah mencari anaknya selama tiga tahun lebih baik diberitahu bahwa pencariannya telah berakhir di atas brankar IGD yang berbau busuk, bahwa anaknya mati tanpa nama sebagai gelandangan gorong-gorong yang meregang nyawa di tangan perawat asing? Ataukah kabar buruk yang pasti itu lebih berharga daripada ketidaktahuan yang membunuh secara perlahan setiap subuh?
Pak Ben memperhatikan pakaian Maya yang kotor dan wajahnya yang pucat pasi tanpa sisa darah. Senyum di wajah keriput pria tua itu perlahan memudar, digantikan oleh kerutan waspada yang naluriah. Naluri seorang orang tua yang selama tiga tahun terakhir selalu hidup di ambang teror kabar buruk.
“Nak Maya? Ada apa? Ada keluarga pasien yang ngamuk lagi di dalam?” tanya Pak Ben pelan, suaranya bergetar ragu-ragu. Tangannya berhenti di atas tombol radio tua itu.
Maya menatap mata Pak Ben yang keruh oleh katarak. Di balik selaput keruh itu, ada kobaran harapan rapuh yang telah bertahan melewati ribuan kilometer aspal panas, jutaan caci maki penumpang yang terganggu, dan ratusan malam basah tanpa kepastian. Jika ia berbicara sekarang, kobaran lilin kecil di mata pria tua itu akan padam seketika, meninggalkan kegelapan pekat yang mungkin akan meremukkan tubuh rentanya di atas aspal malam ini juga.
Tapi menyembunyikannya? Membiarkan jenazah perempuan di dalam sana dikirim ke kamar mayat, diawetkan di lemari pendingin selama tiga puluh hari, lalu dikubur dalam liang lahat massal tanpa nama di pemakaman Tegal Alur dengan nisan bernomor register dinas sosial—sementara dua kilometer dari makam itu, bapaknya masih terus memutar lagu pengantar tidur tentang bintang jatuh di atas bajaj bututnya sampai napas terakhirnya habis?
Itu bukan sekadar kebohongan; itu adalah pembunuhan kedua bagi martabat si gadis.
Maya melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Ia mencengkeram besi spion kiri bajaj itu dengan tangannya yang masih dingin gemetar. Matanya tidak lagi menunduk ke ujung sepatu.
“Pak Ben,” suara Maya terdengar sangat rendah, tapi tegas dan bergetar di sela derak mesin bajaj yang bising. “Matikan mesinnya dulu, Pak.”
Pak Ben terdiam. Tangannya tidak bergerak mematikan kontak. Tatapannya terpaku pada saku baju seragam Maya, tempat secarik kertas robekan dari buku catatan dua bulan lalu menyembul sedikit di balik stetoskop.
“Kenapa, Nak?” bisik Pak Ben. Suaranya kali ini hampir tak terdengar sama sekali, seolah udara di paru-parunya mendadak mengempis habis sebelum kata-kata itu berhasil keluar dari kerongkongannya.
Maya menarik napas panjang, membiarkan udara dingin malam tahun baru membakar tenggorokannya yang perih. Ia tidak menangis lagi. Tangisnya sudah habis di atas dada jenazah tanpa nama itu lima belas menit yang lalu. Sekarang yang tersisa hanyalah tugas paling berat yang pernah dipikulnya seumur hidup sebagai seorang manusia: menjadi jembatan terakhir bagi dua jiwa yang telah terpisah terlalu lama di kota yang kejam ini.
“Luningning sudah ada di dalam, Pak,” kata Maya lembut, kata per kata terucap pelan tanpa ada penghalusan yang palsu. “Dia sudah tidak kedinginan lagi. Dia sudah menunggu Bapak di dalam.”
Dunia di sekitar pangkalan bajaj itu seakan berhenti berputar detik itu juga. Raungan knalpot motor anak-anak muda di jalan raya Salemba, dentuman kembang api terakhir di langit malam, dan desis angin basah di pucuk pohon angsana—semuanya lenyap ditelan keheningan absolut yang runtuh di antara mereka berdua.
Pak Ben tidak berteriak. Ia tidak menjatuhkan dirinya ke aspal. Tubuhnya hanya tersentak kaku ke belakang, seolah sebutir peluru tak kasat mata baru saja menembus tepat di tengah dadanya. Tangannya yang kapalan perlahan terlepas dari setang bajaj, jatuh terkulai lemas di atas pangkuan celana kainnya yang basah kuyup. Matanya yang merah menatap nanar ke arah pintu kaca IGD yang terang benderang di kejauhan, tempat lampu ambulans berputar-putar tanpa suara membelah rintik hujan.
Lalu, dengan gerakan yang luar biasa lambat dan kaku seperti orang yang baru tersadar dari koma panjang, jemari tua Pak Ben merayap ke arah radio kecil di dashboard bajaj.
Bukan untuk mematikannya.
Ia menekan tombol pengatur volume ke putaran paling maksimal, lalu memencet tombol play di pemutar audionya sekali lagi.
Suara cempreng berdesis itu meledak keluar dari speaker kertas yang sobek. Membelah kabut fajar yang mulai merayap naik di atas aspal Jakarta Pusat. Kali ini, tidak ada yang meminta pria tua itu untuk mengecilkannya. Tidak ada penumpang yang mengeluh pusing. Tidak ada klakson sopir taksi yang mengumpat di belakangnya.
Suara Luningning bergema liar di pelataran rumah sakit: menyanyikan lagu tentang bintang di atas genteng patah, tentang anak kecil yang tak perlu lagi takut dicuri angin sawah, karena malam ini—setelah tiga tahun perjalanan yang panjang, melelahkan, dan penuh derita—bapaknya akhirnya datang tepat waktu untuk membawanya pulang ke kampung halaman.
