“Mbak, tolong bersihkan juga kamar mandi di lantai atas. Dan jangan sentuh barang-barang saya, ya?”
Marissa, 46 tahun, hanya mengangguk pelan sambil memegang alat pel.
“Baik, Bu.”
Wanita yang memberinya perintah itu tidak tahu bahwa “pembantu” yang berdiri di hadapannya bukanlah seorang pekerja rumah tangga biasa.
Dia juga tidak tahu bahwa pakaian sederhana, sandal tua, dan kacamata yang dipakai Marissa hanyalah bagian dari penyamarannya.
Karena kenyataannya—
Marissa adalah saudara perempuan dari pemilik rumah tersebut.
Dan setelah lima belas tahun tinggal di Amerika, dia pulang membawa tabungan jutaan rupiah, dua bisnis yang sukses, serta sebuah rencana rahasia untuk menguji siapa sebenarnya keluarganya.
Selama lima belas tahun, Marissa tinggal di California.
Dia memulai hidupnya sebagai seorang caregiver.
Kemudian menjadi asisten di sebuah fasilitas perawatan lansia.
Dia kembali belajar di malam hari.
Hingga akhirnya dia membangun bisnis layanan perawatan rumah bersama seorang teman.
Bisnis itu berkembang.
Membuka cabang kedua.
Lalu cabang ketiga.
Dia memang bukan orang yang sangat kaya, tetapi dia berhasil mengumpulkan tabungan dan investasi dengan nilai setara lebih dari 25 miliar rupiah.
Namun dia tidak pernah membanggakannya.
Bagi keluarganya di Indonesia, mereka hanya tahu bahwa pekerjaannya berjalan dengan baik.
Setiap bulan, dia selalu mengirim uang.
Untuk biaya obat ibu mereka, Bu Nena.
Untuk uang sekolah keponakan-keponakannya.
Untuk renovasi rumah keluarga.
Dan sering kali, juga untuk membantu bisnis adik laki-lakinya, Rico.
Setiap kali ada yang meminta bantuan, jawabannya selalu sama.
“Baik, nanti aku kirim.”
“Berapa yang kamu butuhkan?”
“Jangan khawatir, biar aku yang urus.”
Namun semakin lama, ada satu hal yang mulai dia sadari.
Saat dia mengirim uang, balasan datang dengan cepat.
“Sayang kamu, Kak!”
“Kami kangen!”
“Kakak terbaik!”
Tetapi ketika dia hanya bertanya sederhana:
“Bagaimana keadaan Mama?”
Terkadang hanya dibaca tanpa jawaban.
Terkadang baru dibalas keesokan harinya.
Dan ketika suatu hari dia mengatakan mungkin hanya bisa mengirim sedikit uang karena ada pengeluaran bisnis, nada beberapa orang langsung berubah menjadi dingin.
Saat itu dia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Jika aku tidak punya uang, apakah mereka masih menganggapku keluarga?
Satu bulan sebelum pulang, dia berbicara dengan mantan pembantu keluarganya, Bu Tess.
Wanita itu sudah lama bekerja untuk keluarga mereka.
“Mbak Tess, saya punya permintaan.”
“Apa itu, Nak?”
“Jangan beri tahu siapa pun kalau saya akan pulang.”
Wanita tua itu terkejut.
“Kenapa?”
“Saya hanya ingin melihat sesuatu.”
Dan dari situlah rencana itu dimulai.
Dia memotong rambutnya dengan gaya sederhana.
Tidak memakai riasan.
Mengenakan pakaian lama.
Dan berpura-pura sebagai sepupu Bu Tess dari desa yang sedang mencari pekerjaan sebagai pembantu sementara.
Nama yang dia gunakan di rumah itu?
Mbak Cora.
Saat memasuki rumah keluarga mereka, Marissa hampir tidak mengenali tempat itu.
Dulu rumah itu sangat sederhana.
Sekarang ada televisi besar.
Sofa kulit.
AC split.
Peralatan rumah tangga baru.
Dan dua mobil di garasi.
Dia tersenyum pahit.
Sebagian besar renovasi rumah itu berasal dari uang yang dia kirim selama bertahun-tahun.
Orang pertama yang menyambutnya adalah Vanessa, istri Rico.
“Mbak Tess, apakah ini penggantinya?”
“Iya.”
Vanessa melihatnya dari kepala sampai kaki.
“Bisa kerja tidak?”
Marissa tersenyum.
“Saya bisa, Bu.”
“Harus cepat. Saya tidak suka harus mengulang perintah.”
“Iya, Bu.”
Dia tidak mengenalinya.
Rico juga tidak mengenalinya ketika pulang.
“Ada pembantu baru?”
“Iya,” jawab Vanessa. “Kelihatannya orang desa, tapi lumayan.”
Marissa mendengar percakapan itu dari dapur.
Dia tidak sakit hati karena disebut orang desa.
Yang membuat hatinya terluka adalah betapa mudahnya mereka merendahkan seseorang yang mereka anggap tidak punya apa-apa.

Bau bawang putih gosong mengambang di udara dapur yang pengap. Marissa—atau sekarang dipanggil Mbak Cora—menggeser wajan baja tebal itu ke tungku mati dengan ujung sutil kayu yang sudah gompal. Tangannya tidak canggung. Belasan tahun di panti wreda California mengajarinya cara bergerak cepat di antara uap panas, cucian sprei bernoda kotoran lansia, dan perintah-perintah kasar perawat jaga. Bedanya, di sana dia digaji empat belas dollar per jam. Di sini, di rumah yang gentengnya dulu ia biayai sendiri tambalannya, dia diperlakukan seperti bayangan yang baunya mengganggu hidung.
“Mbak Cora! Garamnya kurang itu! Sayur lodeh kok rasanya kayak air cucian piring!”
Suara melengking itu datang dari meja makan marmer sintetis. Vanessa duduk menyilangkan kakinya yang putih mulus, mengibaskan majalah mode edisi impor yang entah dia beli di mana. Di sampingnya, Rico mendengus pelan, matanya tidak lepas dari layar ponsel lipat keluaran terbaru.
“Tambahin garam sedikit saja, Mbak. Jangan banyak-banyak, tensiku naik nanti,” gerutu Rico tanpa menoleh. Jempolnya sibuk menggulir layar, memamerkan cincin batu kecubung berikat perak tebal—hadiah ulang tahun dari uang kiriman Marissa dua tahun lalu dengan dalih ‘modal sewa ruko fotokopi’.
Ruko itu tidak pernah ada. Yang ada hanya kafe mini di garasi depan yang bangkrut dalam empat bulan karena Rico lebih suka nongkrong gratis bersama kawan-kawan klub motornya ketimbang mencatat arus kas.
“Iya, Mas. Nanti saya perbaiki,” sahut Marissa. Suaranya sengaja dibuat sedikit bindeng, serak-serak basah khas orang dusun yang jarang bicara panjang lebar.
Dia menatap punggung adik laki-lakinya. Dulu, waktu Rico umur tujuh tahun dan demam tifus parah, Marissalah yang mengompres keningnya semalaman memakai parutan bawang merah bercampur minyak kelapa, sampai matanya perih dan seragam SMA-nya bau apek. Sekarang, punggung itu lebar, terbungkus polo shirt katun mahal, menolak menatap siapa pun yang posisinya dianggap berada di bawah tumit sepatunya.
Lalu di mana Bu Nena? Di mana ibunya?
Kamar belakang. Kamar sempit bekas gudang dekat jemuran pakaian. Itulah yang membuat dada Marissa serasa dihantam martil berkarat sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah ini tiga hari lalu.
Di kamar depan yang ber-AC dingin dan berpintu kayu jati perhutani, Vanessa menyimpan puluhan pasang sepatu hak tinggi dan tumpukan tas kulit tiruan bermerek. Sementara Bu Nena—wanita ringkih yang rahimnya melahirkan mereka bertiga—ditaruh di ruang pengap berukuran dua setengah kali tiga meter. Hanya ada kipas angin duduk kecil yang baling-baling plastiknya berderit setiap kali berputar: kriet-kriet-kriet, menepis lalat yang sesekali hinggap di botol minyak kayu putih.
Marissa membawa mangkok keramik putih berisi bubur beras halus dan rebusan labu siam ke kamar belakang. Langkah sandalnya yang tipis nyaris tak bersuara di atas lantai semen plesteran—lantai bagian dapur dan jemuran memang sengaja tidak dikeramik oleh Rico saat renovasi, biar hemat katanya.
“Bu… sarapan dulu,” bisik Marissa sambil mendorong pintu tripleks yang sudah melengkung bagian bawahnya.
Bu Nena terbaring miring di atas kasur busa yang kempes di bagian tengah. Rambutnya yang memutih total awut-awutan, diikat karet gelang sayur. Matanya yang kabur oleh katarak berkedip lambat saat mendengar derit engsel pintu.
“Siapa… Nduk? Mbak Tess?” suara orang tua itu parau, tercekat lendir di tenggorokan.
“Bukan, Bu. Cora. Saudaranya Mbak Tess.”
Marissa duduk di dingklik kayu pendek di samping ranjang. Bau pesing samar tercium dari tumpukan popok dewasa di keranjang plastik sudut ruangan. Uang dua puluh juta per bulan yang dikirim Marissa khusus untuk ‘perawatan premium Mama’ ternyata cuma berujung pada popok curah kiloan tanpa merek dan bubur encer tanpa suwiran ayam.
Marissa menyendok bubur, meniupnya pelan-pelan. Tangannya yang kasar menyentuh sudut bibir Bu Nena. Ada kerutan yang begitu dalam di sana, bekas air mata kering yang mengalir saat malam buta.
“Rico… sudah jalan kantor, Nduk?” bisik Bu Nena pelan sekali, seolah takut suaranya menembus celah ventilasi dan memicu kemarahan menantunya.
“Masih di depan, Bu. Lagi sarapan sama Mbak Vanessa.”
Orang tua itu menghela napas panjang, bau napasnya asam dan kosong. “Kasihan anakku… capek cari uang. Marissa juga… si Mbakyu-mu itu, sudah dua minggu nggak telepon. Jangan-jangan dia sakit di negeri orang. Di sana kan dingin, Nduk. Nggak ada yang masakin rawon kesukaannya…”
Gerakan sendok Marissa membeku di udara. Ujung sendok gemetar menyentuh dagu ibunya.
Dua minggu tidak telepon?
Marissa baru sadar. Tiga minggu lalu, dia sengaja mengirim pesan teks ke grup WhatsApp keluarga memakai nomor Amerika-nya: ‘Teman-teman, perusahaanku lagi kena audit pajak. Semua rekening pribadi dibekukan sementara. Bulan ini aku cuma bisa transfer dua juta rupiah buat obat Mama. Maaf ya.’
Respons Rico waktu itu singkat dan dingin: ‘Oh. Ya sudah. Tapi obat Mama mahal lho, Kak. Kalau kurang gimana?’ Liza, adik keduanya yang ada di Semarang, bahkan hanya mengirim emotikon jempol miring lalu langsung pamit keluar dari grup obrolan dengan alasan memori ponselnya penuh.
Dan sejak pesan itu dikirim, ponsel satelit Marissa tak pernah berdering lagi. Tak ada yang bertanya apakah dia punya uang untuk makan siang di San Francisco. Tak ada yang mencemaskan apakah apartemennya bakal disita. Mereka memutus kabel komunikasi begitu keran uangnya mampet. Dan yang paling kejam: mereka bahkan tidak memberi tahu Bu Nena bahwa anak sulungnya sedang ‘jatuh miskin’, melainkan membiarkan wanita tua itu mengira putrinya sibuk mencari makan di negeri salju.
“Mbak Marissa… pasti sehat di sana, Bu. Doa ibu kan nembus langit,” suara Marissa tercekat, nyaris membongkar penyamarannya sendiri.
Bu Nena tersenyum tipis, gusinya yang ompong terlihat. Tangannya yang kurus tinggal tulang dan kulit kering meraba-raba paha Marissa, menepuknya pelan. “Iya. Dia anak kuat. Dari kecil dia yang ngalah terus. Sandal jepitnya putus saja disambung kawat biar uangnya bisa buat beli buku gambar adik-adiknya. Gusti Allah nggak tidur, Nduk. Gusti mboten sare…”
Air mata Marissa menetes tepat ke permukaan bubur labu siam. Dia buru-buru menunduk, pura-pura menyeka keringat di pelipis dengan lengan bajunya yang kusam.
Hari kelima adalah hari Minggu. Hari di mana Liza datang dari Semarang bersama suaminya yang bekerja sebagai juru taksir gadai dan dua anak lelakinya yang berisik.
Sejak pagi buta, Marissa sudah disuruh memotong ayam, mengupas dua kilogram bawang merah sampai matanya bengkak berair, dan mengepel teras depan tiga kali karena Vanessa melihat ada jejak kaki kucing garong di atas ubin granitnya yang mengilat.
“Mbak Cora! Itu ayam gorengnya jangan terlalu cokelat! Mas Doni kolesterolnya gampang naik kalau makan yang gosong-gosong!” jerit Vanessa dari ruang tengah yang sedang disetelkan musik jaz dari pelantang nirkabel Bluetooth.
Marissa membalik ayam di wajan tanpa membantah. Sreng. Percikan minyak mengenai pergelangan tangannya, meninggalkan bintik merah pedih. Dia tidak peduli. Kulitnya sudah terbiasa dengan luka bakar uap dapur industri.
Di ruang keluarga, suara tawa terdengar renyah, beradu dengan denting sendok makan perak yang dulu dibeli Marissa di sebuah toko barang antik di Carmel-by-the-Sea.
“Jadi gimana, Mas Rico? Rumah ini mau ditingkat dua?” tanya Doni, suami Liza, sambil mengunyah rempeyek kacang dengan suara berisik.
“Rencananya gitu,” sahut Rico santai. Dia meletakkan gelas jus jeruknya. “Tapi si Mbakyu yang di Amrik itu lagi banyak alasan. Masak kirim cuma dua juta? Katanya perusahaannya kena audit. Alasan klasik orang pelit. Pasti mau nikah lagi dia di sana, makanya pelit sama keluarga sendiri.”
“Halah, dari dulu kan emang gitu wataknya,” timpal Liza pedas. Dia sedang sibuk mencat kukunya dengan warna merah marun di atas meja kopi. “Keras kepala. Mentang-mentang sarjana luar negeri, kalau ngomong suka ngatur. Padahal yang jagain Mama tiap hari siapa? Kita kan? Dia enak-enakan di luar negeri, jalan-jalan ke Hollywood, foto-foto di jembatan merah itu, sementara kita di sini ngurus kotoran orang tua.”
Marissa yang sedang mengantarkan semangkuk sambal terasi terhenti tepat di balik partisi kayu pembatas ruang makan. Dadanya bergetar hebat.
Mengurus kotoran orang tua?
Sejak dia tiba di rumah ini menyamar sebagai Cora, dialah yang memandikan Bu Nena setiap jam lima pagi. Dialah yang mencuci sprei berbau pesing itu di pancuran belakang tanpa mesin cuci karena mesin cuci otomatis di samping garasi hanya boleh dipakai untuk pakaian Vanessa dan Rico. Selama lima hari ini, Liza bahkan belum melangkah satu jengkal pun ke kamar belakang untuk menengok ibunya. Anak-anaknya malah sibuk main gim daring di ponsel masing-masing sambil membentak-bentak nenek mereka saat Bu Nena batuk terlalu keras dari dalam kamar gudang.
“Trus sertifikat rumah ini gimana?” tanya Doni lagi, suaranya dipelankan, tapi tetap terdengar jelas oleh telinga Marissa yang terlatih menangkap desah napas pasien darurat.
Rico terkekeh sinis. “Tenang. Notaris kenalanku di Jalan Pemuda sudah bereskan berkasnya. Kan atas nama almarhum Bapak. Nanti tinggal bikin surat keterangan waris palsu dari kelurahan, bilang aja Mbak Marissa sudah hilang kontak lebih dari sepuluh tahun atau meninggal di luar negeri tanpa kabar. Beres. Tanah ini bisa kita agunkan ke bank buat modal proyek perumahan saya sama Mas Doni. Cair minimal delapan ratus juta.”
“Baguslah,” Vanessa menimpali sambil menyandarkan kepalanya manja di bahu Rico. “Biar kita bisa cepat pindah dari lingkungan kumuh ini. Malu aku tiap kali arisan ibu-ibu pejabat, rumahnya masih nempel sama gang becek begini.”
Piring sambal di tangan Marissa bergetar hebat. Denting kaca tipis beradu dengan jemarinya yang mendadak beku.
Bukan karena mereka berencana mencuri hak warisnya. Tanah dan bangunan tua itu nilainya tak seberapa dibanding aset propertinya di Sacramento yang menghasilkan sewa ribuan dollar tiap bulan. Tapi kebusukan yang terencana begitu rapi, begitu dingin, tanpa secuil pun rasa kemanusiaan pada darah daging sendiri… itu yang membuat isi perutnya terasa mual teraduk-aduk.
“Mbak Cora! Sambalnya mana kok malah bengong di situ kayak patung?!” bentak Vanessa tiba-tiba saat menoleh dan melihat Marissa berdiri mematung di balik tiang partisi.
Marissa melangkah maju. Matanya lurus menatap wajah adik-adiknya. Kacamata minus berbingkai plastik hitam murahan yang dipakainya agak melorot di hidung.
“Ini sambalnya, Bu,” katanya datar. Suara seraknya mulai memudar, kembali ke intonasi aslinya yang tegas dan berwibawa, tapi mereka terlalu kenyang oleh keangkuhan untuk menyadarinya.
Liza meliriknya sinis. “Pembantu zaman sekarang kok ya lelet banget kerjanya. Mas Doni, tolong ambilkan dompetku di tas. Kasih uang tip sepuluh ribu biar kerjanya bener.”
Doni melempar uang kertas sepuluh ribuan yang lecek berminyak ke atas taplak meja, tepat di samping mangkuk sambal. “Nih, Mbak. Buat beli pulsa. Jangan lelet lagi ya.”
Marissa menatap uang sepuluh ribu itu. Uang yang nilainya bahkan lebih kecil dari biaya tip parkir valét mobilnya di San Jose.
Dia tidak mengambilnya. Dia hanya tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk Rico tiba-tiba meremang sesaat, entah kenapa. Ada sesuatu dalam tatapan mata pembantu itu yang mendadak membuatnya teringat pada seseorang yang sangat ia takuti di masa kecil.
“Kenapa senyum-senyum? Ambil!” bentak Rico kasar untuk menutupi kegelisahannya yang ganjil.
“Nanti saja, Mas. Takut uangnya luntur kena minyak sambal,” jawab Marissa tenang, lalu berbalik menuju dapur dengan langkah tegak yang sama sekali tidak mencerminkan seorang wanita desa yang penakut.
Malam harinya, bom waktu itu meledak lebih cepat dari yang direncanakan Marissa.
Pukul sepuluh malam, hujan lebat mengguyur kota. Angin kencang menerbangkan seng-seng jemuran tetangga. Di kamar belakang, air mulai merembes dari sudut plafon tripleks yang jebol, menetes tepat di ujung kasur Bu Nena.
“Uhuk… uhuk… Nduk… dingin, Nduk…” rintih Bu Nena, bibirnya mulai membiru.
Marissa buru-buru memindahkan tubuh ibunya yang ringan ke sisi ranjang yang kering. Selimut tipis Bu Nena sudah basah separuh. Marissa berlari ke ruang depan, mengetuk pintu kamar Rico dengan panik.
“Mas! Mas Rico! Kamar Ibu bocor parah! Tolong bantu angkat Ibu ke sofa depan dulu, kasurnya basah semua!”
Pintu kamar terbuka sentak. Rico berdiri hanya mengenakan celana kolor dan kaos singlet, wajahnya kusut dipenuhi amarah karena tidurnya terganggu. Di belakangnya, Vanessa bersungut-sungut sambil menarik selimut bulu tebal menutupi dadanya.
“Kamu ini gila ya?!” sembur Rico dengan mata melotot. “Sofa depan itu kain beludru impor! Kalau dikencingi Mama gimana?! Kamu pikir beli sofa begitu murah?!”
“Ibu kedinginan, Mas! Beliau menggigil! Paling tidak pinjam selimut atau bawa ke kamar tamu!” suara Marissa meninggi, kepura-puraannya mulai runtuh oleh amarah yang tak tertahankan.
“Heh, pembantu kurang ajar!” Vanessa bangkit dari ranjang, melangkah mendekat dengan jari telunjuk mengacung tepat di depan hidung Marissa. “Kamu jangan ngatur-ngatur di rumah ini ya! Tugas kamu itu ngepel airnya, cari baskom sana! Bukan malah mau bikin kotor perabotan mahal kami! Kalau orang tua itu kedinginan, balut saja pakai sarung bekas! Manja banget sih, kayak ratu aja minta dipindah ke ruang depan!”
Plak!
Suara tamparan itu begitu keras sampai memotong desau angin ribut di luar.
Hening seketika.
Vanessa terhuyung ke samping, tangannya memegangi pipi kirinya yang langsung memerah membara. Matanya membelalak tak percaya. Mulutnya menganga, syok luar biasa.
Rico membeku. Wajahnya pucat pasi, lalu seketika berubah merah padam penuh nafsu membunuh. “Kamu… kamu berani nampar istriku?! Kamu ini siapa, bangsat?!”
Rico mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tinjunya mengeras hendak menghantam pelipis Marissa.
Marissa tidak mundur satu senti pun. Dia tidak berkedip. Justru tangannya bergerak secepat kilat—gerakan refleks dari pelatihan bela diri dasar yang wajib diambil perawat lapangan di California—mencengkeram pergelangan tangan Rico tepat di urat nadinya, lalu memelintirnya ke bawah dengan sudut yang membuat sendi adik laki-lakinya terkunci menyakitkan.
“Aaargh! Lepas! Lepas, anjing!” jerit Rico kesakitan, tubuhnya terpaksa membungkuk mengikuti puntiran tangan Marissa.
Liza dan Doni yang terbangun karena keributan itu berlari keluar dari kamar tamu. Anak-anak mereka mengintip dari balik pintu dengan mata ketakutan.
“Ada apa ini?! Mas Doni, panggil satpam! Ada pembantu gila mau membunuh Rico!” jerit Liza histeris sambil memegangi kepalanya.
Marissa melepaskan puntiran tangannya dengan sentakan kasar, membuat Rico terjerembap menabrak meja nakas jati. Jam weker kuningan jatuh dan pecah kacanya di lantai.
Lalu, di bawah sorot lampu gantung kristal yang dibeli dari uang transferannya empat tahun lalu, Marissa melepas kacamata minus tebalnya. Dia melemparnya ke lantai, lalu menginjaknya hingga remuk di bawah sandal jepit kusamnya.
Krak.
Dia meraba tengkuknya, melepas jepit rambut plastik hitam yang menahan rambutnya yang kusut, membiarkan rambut pendeknya yang dipotong rapi jatuh membingkai wajahnya yang tegas. Dia menegakkan bahunya. Cara berdirinya berubah seratus delapan puluh derajat—bukan lagi Mbak Cora yang membungkuk takut, melainkan Marissa Wijaya, CEO dari Pacific Coast Senior Care LLC, wanita yang biasa duduk bernegosiasi dengan pengacara korporat dan dewan direksi rumah sakit di San Francisco.
Dia menatap mereka berempat satu per satu. Tatapannya begitu dingin, begitu hampa, sampai-sampai Doni yang hendak melangkah maju mendadak berhenti di tempat, kakinya terasa dipaku ke lantai ubin.
“Mau panggil satpam, Liza?” tanya Marissa.
Suaranya tidak lagi serak. Suara itu jernih, berat, dan dipenuhi otoritas mutlak yang tak terbantahkan. Suara yang selama lima belas tahun ini hanya mereka dengar lewat panggilan video WhatsApp saat meminta transferan uang.
Liza terpaku. Napasnya tercekat di tenggorokan. “M-Mbak… Mbak Marissa…?”
Rico yang masih memegangi pergelangan tangannya mendongak dari lantai. Matanya yang tadi liar oleh amarah mendadak kehilangan seluruh cahayanya begitu menatap mata kakaknya. “Mbak… Rissa?”
Vanessa terdiam di sudut ranjang. Wajahnya yang memerah bekas tamparan mendadak berubah pucat seperti mayat yang baru dikeluarkan dari kamar pendingin. “M-Mbakyu…?”
“Kenapa kaget?” Marissa melangkah maju dua langkah. Sandal jepitnya berderit pelan di lantai. “Bukannya kalian tadi siang lagi merencanakan surat kematianku buat cairkan sertifikat rumah Bapak? Kenapa sekarang mukanya kayak lihat hantu beneran?”
Ruangan itu seperti kehabisan oksigen. Hanya suara kipas angin Bu Nena dari kamar belakang yang masih terdengar sayup-sayup: kriet-kriet-kriet.
“Mbak… ini… ini salah paham, Mbak…” Rico mencoba bangkit, lututnya gemetar hebat. Tangannya mencoba meraih ujung baju kakaknya, tapi Marissa melangkah mundur, menghindari sentuhan itu seolah Rico adalah bangkai tikus got.
“Salah paham?” Marissa terkekeh. Tawa yang kering dan mengerikan. “Dua puluh lima miliar rupiah asetku di Amerika, Rico. Tiga ratus juta kubelikan ruko yang kamu bilang buat bisnis fotokopi, tapi kamu belikan motor gede yang sekarang kamu parkir di rumah temanmu. Lima belas juta tiap bulan buat uang saku kamu, sepuluh juta buat anak-anak Liza, dua puluh juta buat perawatan Mama…”
Marissa menunjuk ke arah kamar belakang dengan jari telunjuknya yang bergetar menahan luapan amarah yang telah membakar dadanya selama berhari-hari.
“Dan mamamu… ibu kandungmu sendiri… kamu taruh di kamar pembantu! Di kasur lapuk yang kena tetesan air hujan! Kamu kasih popok curah yang bikin kulit pahanya lecet-lecet merah, sementara istrimu beli tas tiruan Hermes tiap dua minggu sekali?!”
“Mbak… ampun, Mbak…” Liza mulai menangis tersedu-sedu, menjatuhkan dirinya bersimpuh di lantai. “Liza khilaf, Mbak… Liza cuma ngikut kata Mas Rico… Liza nggak tahu kalau kasur Mama basah…”
“Kamu tahu, Liza!” bentak Marissa tajam, suaranya menggelegar menghantam dinding ruang tengah. “Kamu tahu persis! Kamu cuma nggak peduli karena kamu terlalu sibuk mikirin bagian tanah warisan delapan ratus juta itu! Kamu pikir aku nggak dengar obrolan kalian tadi siang di meja makan?!”
Doni mundur perlahan-lahan ke arah lorong belakang, mencoba menyelinap masuk ke kamar tamu, tapi Marissa meliriknya tajam seperti elang mengunci mangsa.
“Jangan bergerak, Doni. Atau besok pagi kantor cabang gadai tempatmu kerja bakal kedatangan tim audit khusus dari kantor pusat Jakarta. Kamu pikir aku nggak tahu siapa komisaris utama di perusahaan keuangan tempatmu kerja? Pak Hendra itu rekanan bisnisku di California. Satu telepon dari saya malam ini, dan karier juru taksirmu tamat dengan status pemecatan tidak hormat karena manipulasi data taksiran emas.”
Wajah Doni seketika berkeringat dingin. Dia menempel di dinding seperti cicak ketakutan, tangannya gemetar di sisi paha.
Marissa merogoh saku celana kulotnya yang lusuh. Dia mengeluarkan sebuah ponsel hitam tipis—bukan ponsel tua milik Cora, melainkan iPhone edisi khusus berpelindung baja titanium dengan nomor satelit internasional.
Dia menekan satu tombol panggilan cepat, lalu menempelkannya ke telinga.
“Halo, Pak Anton?” ucap Marissa dalam bahasa Indonesia yang sangat formal dan dingin. “Iya, saya Marissa Wijaya. Tolong kirim ambulans swasta dari Rumah Sakit Siloam sekarang juga ke alamat rumah keluarga saya. Bawa tandu medis khusus lansia dan dokter jaga. Sekarang.”
Jeda satu detik.
“Dan satu lagi, Pak Anton. Hubungi tim kuasa hukum dari firma hukum Pak Baskoro. Bawa semua berkas asli sertifikat tanah atas nama almarhum Bapak saya yang sudah saya tebus pajaknya lima tahun lalu di kantor BPN. Suruh mereka datang ke sini bersama dua petugas kepolisian dari Polsek terdekat. Ada dugaan percobaan pemalsuan surat keterangan waris dan penelantaran orang tua dalam kondisi rentan.”
Mendengar kata ‘kepolisian’, Rico langsung bersujud di kaki Marissa. Dia menangis meraung-raung, mencium lantai di dekat sandal jepit kakaknya.
“Mbak! Jangan, Mbak! Demi Allah, Mbak! Aku adikmu, Mbak! Rico adik kandungmu! Jangan penjarakan aku, Mbak! Nanti anak-istriku makan apa kalau aku ditahan?!”
Vanessa ikut merangkak maju, air matanya merusak maskara tebalnya hingga membentuk garis-garis hitam menjijikkan di pipinya. “Mbak Marissa… tolong… ampuni kami… saya salah, Mbak, saya yang serakah, saya yang nggak bener ngurus Mama… jangan panggil polisi, Mbak… kasihan anak-anak…”
Marissa menatap kedua sosok yang merayap di bawah kakinya itu tanpa secuil pun rasa kasihan yang biasanya selalu meluluhkan hatinya di masa lalu. Topeng ‘kakak yang selalu berkorban’ itu sudah ia buang bersama kacamata tebalnya yang remuk di lantai.
“Kalian tidak memikirkan anak-anak waktu membiarkan nenek mereka kedinginan di kamar belakang,” desis Marissa rendah. “Kalian tidak memikirkan keluarga waktu kalian berencana menyatakan aku sudah mati di luar negeri demi selembar tanah warisan.”
Dia menarik kakinya dari jangkauan tangan Rico, berbalik, dan melangkah lurus menuju kamar belakang tanpa menoleh sedikit pun ke arah ratapan mereka yang semakin histeris.
Di kamar belakang, Bu Nena masih terbaring miring. Tetesan air hujan di sudut plafon semakin deras, membasahi kain seprai di dekat ujung kakinya.
Marissa duduk di tepi ranjang. Kali ini dia tidak menyembunyikan siapa dirinya lagi. Didekapnya tubuh rapuh ibunya ke dalam pelukannya. Aroma minyak kayu putih yang hangat dan bau apek kasur tua itu menenggelamkan seluruh sisa kemarahannya, menyisakan kehampaan yang perih luar biasa di dadanya.
“Mama…” bisik Marissa, suaranya bergetar hebat.
Bu Nena tersentak kecil. Jemari tuanya yang bergetar meraba leher Marissa, meraba rahang putrinya, lalu naik ke pipinya yang basah oleh air mata.
“Nduk…? Iki… iki suarane Marissa ya? Suaramu, Nduk?” mata tua yang rabun itu terbuka lebar-lebar, mencari-cari bayangan di tengah temaramnya lampu bohlam lima watt.
“Iya, Ma. Ini Icha… Icha pulang, Ma…” Marissa membenamkan wajahnya di lekuk leher ibunya. Bahunya terguncang hebat. Air matanya tumpah ruah membasahi daster ibunya yang kusam.
“Gusti… anakku…” Bu Nena merengkuh kepala putrinya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya yang lemah membelai rambut pendek Marissa berulang-ulang. “Kamu kurusan, Nduk… capek ya kerja di sana? Makanya jangan mikirin Mama terus… Mama di sini kenyang kok, Rico sama Vanessa baik… kamu jangan sampai sakit di negeri orang…”
Mendengar kepolosan dan kebaikan hati ibunya yang masih saja berusaha melindungi anak-anaknya yang berhati iblis itu, tangis Marissa semakin pecah. Dia mengeratkan dekapannya, bersumpah dalam hati bahwa tidak akan ada lagi yang boleh menyentuh atau merendahkan ibunya sampai hembusan napas terakhirnya nanti.
“Mama ikut Icha ya malam ini. Kita pergi dari sini. Icha sudah punya rumah baru buat Mama di Bandung. Ada tamannya, ada pohon melatinya kayak di rumah kita yang lama dulu…”
Bu Nena tersenyum lembut di tengah keremangan. “Asal bareng kowe, Nduk… ke mana aja Mama ikut.”
Tiga puluh menit kemudian, sirene ambulans membelah sunyi malam di gang perumahan itu.
Dua paramedis berseragam putih bersih masuk dengan sigap membawa tandu dorong berlapis busa empuk dan selimut termal tebal. Mereka mengangkat Bu Nena dengan sangat hati-hati, memasangkan selang oksigen portabel yang nyaman di hidungnya, dan membungkus tubuh rentanya dengan kehangatan yang layak.
Di ruang depan, dua orang polisi berseragam dan seorang pengacara muda bertubuh jangkung berkacamata—rekanan kantor hukum Baskoro—sudah berdiri menunggu dengan berkas-berkas bermeterai di tangannya.
Rico, Vanessa, Liza, dan Doni duduk berjejer di atas sofa kulit dengan kepala tertunduk dalam-dalam, tak berani mengangkat wajah mereka di hadapan para tetangga yang mulai berkerumun di depan pagar karena melihat ambulans dan mobil polisi terparkir di sana.
“Ibu Marissa,” kata Pak Hendro, pengacara itu, sambil membungkuk hormat. “Semua dokumen kepemilikan mutlak atas tanah dan bangunan ini sudah kami verifikasi. Akta hibah dari almarhum ayah Anda yang disahkan sebelum beliau wafat menyebutkan bahwa seluruh properti ini dialihkan atas nama Marissa Wijaya secara tunggal, dengan hak tinggal seumur hidup untuk Ibu Nena. Saudara Rico dan saudari Liza tidak memiliki hak sepeser pun atas lahan ini.”
Rico tersentak, wajahnya terangkat sedikit dengan tatapan putus asa. “Mbak… ini rumah masa kecil kita, Mbak… masak aku diusir…?”
Marissa berdiri di dekat pintu depan, mengawasi tandu ibunya yang dimasukkan perlahan ke dalam kabin ambulans. Hujan di luar sudah mereda menjadi gerimis tipis yang dingin.
Dia berbalik menatap adik-adiknya untuk terakhir kali.
“Aku tidak akan memenjarakan kalian malam ini,” kata Marissa tenang. Setiap katanya terdengar seperti vonis hakim yang tak bisa dibanding. “Bukan karena kalian pantas diampuni. Tapi karena Mama masih menganggap kalian anak-anaknya yang berbakti. Aku tidak mau sisa umur Mama dihabiskan dengan menangisi anak lelakinya yang pakai baju oranye di tahanan.”
Napas lega yang terdengar serentak dari mulut Rico dan Liza seketika terpotong oleh kalimat Marissa berikutnya.
“Tapi jangan bermimpi kalian bisa menikmati satu rupiah pun dari hasil keringatku lagi.”
Marissa menoleh ke arah pengacaranya. “Pak Hendro, beri mereka waktu empat puluh delapan jam dari sekarang untuk mengosongkan rumah ini. Semua barang mewah yang dibeli memakai rekening atas nama saya—dua mobil di garasi, televisi, perabotan ruang tamu, AC—semuanya disita untuk dilelang. Uangnya akan disumbangkan ke yayasan panti jompo tempat Mbak Tess bekerja sekarang.”
“Mbak! Tolong, Mbak! Kami mau tinggal di mana?!” jerit Vanessa histeris sambil memegangi ujung celana suaminya.
“Tinggal di mana saja yang sanggup kamu bayar dari hasil kerjamu sendiri, Vanessa,” jawab Marissa dingin tanpa menatapnya. “Bukannya kamu gengsi tinggal di gang becek ini? Sekarang kamu bebas cari rumah mewah yang pantas buat arisan sosialitamu.”
Dia menatap Rico.
“Kamu punya dua tangan dan dua kaki yang sehat, Rico. Mulai besok pagi, cari uang dari tetesan keringatmu sendiri. Belajarlah bagaimana rasanya tanganmu melepuh karena kerja kasar sebelum kamu berani membentak orang yang membelikan beras untuk piring makanmu.”
Marissa melangkah keluar melewati pintu gerbang. Sepatu bot kulitnya yang baru—yang dibawakan oleh sopir kantor hukum dari mobil jemputan—menginjak halaman basah dengan mantap, meninggalkan sandal jepit kusam Mbak Cora tergeletak di samping tempat sampah luar.
Dia masuk ke dalam ambulans, duduk di samping ranjang ibunya, menggenggam tangan tua yang keriput itu erat-erat.
“Jalan, Pak,” katanya lembut kepada pengemudi.
Ambulans bergerak perlahan membelah gerimis malam, meninggalkan rumah masa kecil yang penuh kepalsuan itu di belakang, menuju jalan tol yang membentang ke arah selatan.
Tujuh bulan berlalu seperti hembusan angin sejuk di lereng Gunung Tangkuban Parahu.
Di sebuah rumah bergaya kolonial modern di kawasan Lembang, udara sore selalu beraroma daun pinus basah dan bunga melati air. Halamannya tidak berpagar tinggi kaku seperti rumah-rumah orang kaya baru di kota besar, melainkan dibatasi pagar tanaman perdu berbunga ungu yang dipangkas rapi.
Di teras samping yang berlantai kayu jati hangat, Bu Nena duduk di kursi goyang berbantalan wol tebal. Wajahnya tidak lagi pucat cekung. Pipinya mulai berisi, kemerahan disapu hawa sejuk pegunungan. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang, disemat jepit perak sederhana, dan di pangkuannya ada rajutan syal wol warna gading yang sedang ia kerjakan perlahan-lahan.
Operasi kataraknya lima bulan lalu di rumah sakit mata swasta di Bandung berjalan sukses tanpa komplikasi. Kini, dia bisa melihat kembali warna-warni bunga dahlia di sudut kebun dengan matanya sendiri tanpa perlu meraba-raba bayangan kabur.
“Mama, jangan kelamaan di luar. Angin lembah mulai turun itu,” suara Marissa terdengar dari arah pintu geser kaca.
Marissa melangkah keluar membawa nampan kayu berisi dua cangkir teh kamomil hangat dan sepiring pisang goreng kipas yang masih mengepulkan uap manis. Dia mengenakan sweater rajut longgar warna abu-abu muda dan celana linen santai. Wajahnya polos tanpa riasan berlebih, tapi pancaran matanya tenang, damai—tipe kedamaian yang hanya bisa dimiliki oleh orang yang sudah selesai bertarung dengan ekspektasi masa lalunya.
Di sampingnya, Bu Tess—yang kini dipekerjakan resmi sebagai kepala rumah tangga dengan gaji empat kali lipat dari standar kota dan asuransi kesehatan penuh—sedang menyiram rumpun bunga mawar merah di dekat kolam ikan koi.
“Sebentar lagi, Nduk. Enak hawanya,” Bu Nena tersenyum menatap putrinya yang meletakkan cangkir teh di atas meja bundar kecil. “Burung gerejanya lagi pada mandi di pancuran kolam itu, lucu.”
Marissa duduk di kursi rotan di samping ibunya, menyesap teh hangatnya perlahan. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat pemandangan lembah hijau yang membentang luas di bawah, diselimuti kabut tipis sore hari.
Perusahaannya di California kini dijalankan oleh manajer operasional kepercayaannya lewat laporan mingguan virtual. Dia hanya perlu memeriksa neraca keuangan dan menandatangani persetujuan ekspansi dua jam sehari lewat laptopnya di ruang kerja belakang. Sisa waktunya ia habiskan di sini—menemani ibunya sarapan bubur ayam panas, jalan-jalan santai di taman botani tiap Selasa pagi, dan mengurus kebun bunga kecilnya.
“Kemarin… Rico telepon ke nomor rumah, Nduk,” suara Bu Nena terdengar pelan, memecah deru halus gemericik air kolam.
Tangan Marissa yang memegang cangkir tidak bergerak. Wajahnya tetap tenang. “Iya, Ma? Dia bilang apa?”
Bu Nena meletakkan jarum rajutnya di atas pangkuan, menatap lurus ke arah bunga-bunga dahlia yang bergoyang ditiup angin.
“Dia kerja jadi sopir truk ekspedisi di Tanjung Priok sekarang. Tinggal di kamar sewa dekat pelabuhan sama Vanessa. Vanessa-nya bantu jualan nasi bungkus di pangkalan ojek depan gang.”
Marissa terdiam sejenak. Ada desau angin gunung yang dingin menyusup di antara tiang-tiang teras.
“Mama sedih?” tanya Marissa hati-hati.
Orang tua itu menggeleng perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya yang kini kemerahan sehat.
“Enggak, Nduk. Awalnya sedih. Namanya juga ibu. Tapi kemarin… waktu dia ngomong di telepon, suaranya beda. Dia nggak minta uang sepeser pun sama Mama. Dia cuma nanya apa kaki Mama masih sering linu kalau malam, terus bilang minta maaf sudah jadi anak bodoh selama bertahun-tahun.”
Bu Nena menoleh, menatap putri sulungnya dengan mata tuanya yang jernih dan penuh kasih. Tangannya yang hangat meraih punggung tangan Marissa, mengelusnya lembut.
“Dia bilang, kemarin waktu pertama kali gajian setelah angkat karung beras seharian di dermaga, dia cuma bisa beli nasi bungkus satu dibagi dua sama istrinya. Dan waktu nelen nasi itu, dia baru nangis mikirin kamu… mikirin gimana susahnya kamu dulu banting tulang sendirian di negeri orang belasan tahun buat ngirimin mereka uang tiap bulan.”
Marissa memandang cangkir tehnya yang mulai tenang permukaannya, memantulkan bayangan langit sore yang mulai memerah saga.
Rasa sakit dan dendam malam itu di ruang tengah yang berantakan sudah lama menguap, terbawa aliran air Sungai Cikapundung yang deras. Dia tidak merasa menang. Dia juga tidak merasa puas melihat adik kandungnya harus memeras keringat menjadi kuli angkut di pelabuhan yang bising dan berdebu.
Tapi dia tahu, itulah satu-satunya cara Tuhan menyembuhkan penyakit kronis yang menggerogoti jiwa keluarganya. Kadang-kadang, mencintai seseorang berarti melepaskan pegangan tangan kita dari tengkuk mereka, membiarkan mereka jatuh tersungkur mencium debu jalanan, agar mereka belajar caranya berdiri menggunakan lutut mereka sendiri.
“Kalau Lebaran nanti… mereka boleh sowan ke sini nggak, Nduk?” tanya Bu Nena sangat hati-hati, suaranya nyaris seperti bisikan angin di pucuk daun bambu.
Marissa menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara pegunungan Lembang yang bersih dan dingin, lalu menghembuskannya perlahan.
Dia tersenyum. Bukan senyum palsu Mbak Cora yang penuh kepatuhan terpaksa, bukan pula senyum dingin seorang miliarder yang sedang menghakimi pecundang. Itu adalah senyuman seorang kakak perempuan yang hatinya sudah kembali utuh.
“Boleh, Ma,” sahut Marissa tenang sambil mengambil sepotong pisang goreng dan meletakkannya di piring kecil ibunya. “Suruh mereka naik bus umum ke terminal Leuwi Panjang. Nanti biar Icha yang jemput pakai mobil bak terbuka dari kebun sayur depan. Biar Vanessa nggak pusing nyari tempat buat naruh tas bermereknya.”
Bu Nena tertawa renyah—tawa lepas yang sudah belasan tahun tidak pernah terdengar di rumah keluarga mereka yang lama. Tawa seorang ibu yang tahu bahwa badai paling pekat sekalipun pada akhirnya akan menyapu bersih sampah-sampah kemunafikan, menyisakan tanah yang subur untuk tumbuhnya benih-benih kerendahan hati yang baru.
Di sudut halaman, Bu Tess tersenyum melihat kedua wanita itu dari balik rimbunnya pohon melati.
Matahari perlahan tenggelam di balik punggung gunung, menebarkan warna keemasan yang hangat ke seluruh teras rumah itu. Di atas meja kayu jati, cangkir teh mereka masih mengepulkan uap tipis, menyatu dengan kabut sore yang turun membawa kedamaian yang tak lagi bisa dibeli atau ditukar dengan lembaran uang mana pun di dunia.
