SEORANG ANAK PEREMPUAN BERUSIA SEMBILAN TAHUN TIDUR SENDIRIAN, TETAPI SETIAP PAGI IA SELALU MENGELUH BAHWA

Seluruh tubuhku mendadak membeku…

Di layar ponsel, Alya masih tertidur.

Tapi dia tidak sendirian.

Ada sesuatu di sebelahnya.

 

 

 

 

Awalnya aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang kulihat. Layar CCTV hanya menampilkan gambar hitam putih, sedikit berbintik karena cahaya kamar yang minim. Selimut Alya tampak menggembung di bagian kanan.

Aku memperbesar gambar.

Tanganku mulai gemetar.

Gumpalan itu bergerak.

Pelan sekali.

Seperti seseorang sedang bernapas di bawah selimut.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

“Astaghfirullah…”

Suara itu keluar begitu saja dari mulutku.

Aku menatap ke arah lorong.

Kamar Alya berada hanya beberapa meter dari tempatku berdiri.

Pintunya tertutup.

Tidak ada suara.

Aku buru-buru kembali melihat layar.

Pukul 03.07.

Alya bergerak dalam tidurnya.

Tubuh kecilnya bergeser ke kiri sampai hampir berada di tepi kasur.

Dan bagian kanan tempat tidur…

semakin penuh.

Persis seperti yang selama ini dikatakannya.

Kasurnya terasa sempit.

Bukan karena Alya bermimpi.

Bukan karena boneka.

Ada seseorang di sana.

Aku berlari menuju kamar.

Tidak kupikirkan lagi apakah itu pencuri, orang asing, atau sesuatu yang lebih buruk. Yang ada di kepalaku cuma satu.

Anakku.

Aku membuka pintu dengan keras.

“Alya!”

Lampu langsung kunyalakan.

Alya terbangun dan menjerit kecil.

Aku menarik selimut.

Kosong.

Benar-benar kosong.

Hanya ada Alya, bantal, dan boneka kelinci kesayangannya.

Aku berdiri terpaku.

Alya mengucek matanya.

“Bu?”

Aku tidak menjawab.

Tanganku menyentuh bagian kanan kasur.

Hangat.

Aku menarik tangan seketika.

Bukan hangat seperti terkena lampu.

Rasanya seperti…

baru saja ada seseorang berbaring di sana.

“Bu, kenapa?”

Aku memeluk Alya begitu erat sampai ia mengeluh.

“Sakit, Bu…”

“Maaf. Maaf…”

Aku melonggarkan pelukan, tetapi tidak melepaskannya.

Malam itu Alya tidur di kamar kami.

Atau lebih tepatnya, Arif dan Alya tidur.

Aku tidak.

Aku duduk di ujung ranjang sampai azan Subuh terdengar dari masjid yang tidak jauh dari kompleks rumah kami.

Ponsel masih berada di tanganku.

Aku memutar ulang rekaman CCTV.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Lalu aku melihat sesuatu yang sebelumnya kulewatkan.

Pukul 02.48.

Pintu kamar Alya terbuka sedikit.

Tidak banyak.

Hanya selebar beberapa sentimeter.

Kemudian tertutup lagi.

Tidak ada seorang pun yang terlihat masuk.

Aku mempercepat rekaman.

02.53.

Selimut bergerak.

02.56.

Kasur di sebelah Alya perlahan turun.

Seolah menerima berat tubuh seseorang.

03.01.

Alya bergeser.

03.04.

Muncul sebuah bentuk.

Aku menghentikan video.

Memperbesar gambar.

Bukan wajah.

Bukan tubuh.

Hanya seperti bagian belakang kepala seseorang.

Rambut hitam.

Panjang.

Aku menutup mulut.

Tiba-tiba suara Arif terdengar dari belakang.

“Kamu belum tidur?”

Aku hampir menjerit.

“Mas!”

Arif kaget melihat wajahku.

“Kamu kenapa?”

Tanpa berkata apa-apa, kuberikan ponsel kepadanya.

Awalnya ekspresinya biasa saja.

Lalu alisnya berkerut.

Ia memutar ulang.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian duduk.

Untuk pertama kalinya sejak aku menceritakan keluhan Alya, suamiku tidak tertawa.

“Ini…”

“Aku sudah bilang.”

“Tunggu.”

Ia memperbesar gambar.

“Bisa jadi bayangan.”

“Bayangan apa yang membuat kasur turun?”

Arif diam.

“Dan bagian itu hangat waktu aku masuk.”

Ia menoleh kepadaku.

Tidak ada lagi penjelasan soal imajinasi anak.

Pagi itu kami memeriksa seluruh rumah.

Jendela.

Pintu belakang.

Gudang.

Loteng kecil di atas plafon.

Lemari.

Bahkan ruang kosong di bawah tangga.

Tidak ada tanda-tanda seseorang masuk.

Kami juga meminta petugas keamanan kompleks memeriksa rekaman CCTV di luar rumah.

Tidak ada orang asing.

Tidak ada kendaraan mencurigakan.

Tidak ada apa-apa.

Justru itulah yang membuatku semakin takut.

Malam berikutnya Alya tidur bersama kami.

Aku mencabut sementara kamera dari kamarnya.

Tidak ada alasan khusus.

Aku hanya tidak sanggup melihat layar itu lagi.

Aneh sekali, ya.

Kita memasang kamera supaya merasa aman.

Lalu ketika kamera menunjukkan sesuatu yang tidak kita pahami, benda kecil itu justru menjadi hal terakhir yang ingin kita lihat.

Selama tiga malam, semuanya tenang.

Alya kembali ceria.

Ia sarapan sambil bercerita soal teman sekolahnya. Ia bermain sepulang sekolah. Ia bahkan sempat menertawakanku karena aku salah memasukkan garam ke dalam teh Arif.

Aku mulai berpikir mungkin semua itu sudah selesai.

Sampai hari keempat.

Saat aku sedang melipat pakaian, Alya masuk ke kamar membawa sesuatu.

“Bu.”

“Hm?”

“Ini punya siapa?”

Di tangannya ada sebuah jepit rambut kecil.

Warnanya biru pucat.

Model lama.

Aku mengambilnya.

“Dapat dari mana?”

“Di bawah bantal Alya.”

Jantungku seperti berhenti satu ketukan.

“Kamu masuk kamar?”

“Tadi mau ambil buku.”

“Jangan masuk sendirian dulu.”

Alya memandangku bingung.

“Kenapa?”

Aku tidak ingin menakutinya.

“Nggak apa-apa. Kamarnya mau Ibu bersihkan.”

Ia mengangguk lalu pergi.

Aku menatap jepit rambut itu.

Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.

Aku pernah melihatnya.

Tapi di mana?

Aku membawa benda itu ke ruang kerja Arif.

Saat melihatnya, wajah suamiku langsung berubah.

Bukan takut.

Lebih seperti…

terkejut.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Di bawah bantal Alya.”

Arif mengambilnya perlahan.

“Mas kenal?”

Ia tidak langsung menjawab.

“Arif.”

“Itu mirip punya Dinda.”

“Siapa Dinda?”

Suamiku mengangkat wajah.

Dan entah kenapa, saat itulah aku tahu ada bagian dari hidup Arif yang belum pernah ia ceritakan kepadaku.

“Adikku.”

Aku terdiam.

“Adik?”

Arif mengangguk.

“Aku pernah cerita kalau aku anak tunggal, kan?”

“Iya.”

“Sebenarnya tidak.”

Kalimat itu membuatku kesal.

Bukan karena takut lagi.

Kesal.

“Sepuluh tahun menikah dan baru sekarang kamu bilang punya adik?”

“Karena Dinda meninggal waktu aku masih kecil.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arif duduk.

“Aku umur sebelas tahun. Dinda tujuh tahun.”

Ia memutar jepit rambut itu di antara jarinya.

“Ibu sangat terpukul setelah Dinda meninggal. Setelah beberapa tahun, beliau berhenti membicarakannya. Semua foto disimpan. Kamar Dinda dibongkar. Ayah juga tidak pernah menyebut namanya lagi. Lama-lama… kami seperti sepakat untuk tidak membuka luka itu.”

“Dia meninggal karena apa?”

Arif menelan ludah.

“Demam berdarah. Kondisinya terlambat diketahui.”

Aku duduk di depannya.

Ada bagian yang terasa tidak cocok.

“Lalu kenapa jepit rambutnya ada di kamar Alya?”

“Itu yang aku nggak tahu.”

Aku memandangnya lama.

Kemudian sebuah ingatan muncul.

Saat pertama membeli rumah ini, ibu mertua pernah membawa beberapa kardus dari rumah lama keluarga Arif.

Katanya isinya buku dan barang masa kecil Arif.

Kardus-kardus itu sempat disimpan di kamar yang sekarang menjadi kamar Alya.

Aku berdiri.

“Gudang.”

Kami membongkar gudang sore itu.

Butuh hampir dua jam.

Di balik koper lama, kami menemukan sebuah kardus cokelat yang bagian bawahnya sudah lembap.

Tulisan di atasnya hampir hilang.

Arif membersihkan debu dengan telapak tangan.

DINDA.

Aku menatap suamiku.

Ia tidak bicara.

Di dalamnya ada buku gambar.

Seragam SD lama.

Beberapa foto.

Sebuah boneka kain.

Dan kotak plastik kecil berisi jepit rambut.

Biru.

Sama persis.

Aku merasakan bulu kuduk berdiri.

Tapi kemudian aku menemukan sesuatu yang lebih aneh.

Sebuah foto.

Dinda sedang duduk di tempat tidur sambil memeluk boneka kain.

Aku membalik fotonya.

Ada tulisan tangan seorang perempuan.

Tulisan ibu mertua.

“Dinda selalu bilang kasurnya terlalu besar kalau tidur sendirian.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Arif mengambil foto dari tanganku.

Wajahnya pucat.

Malam itu kami menelepon ibu mertua.

Awalnya beliau diam ketika mendengar nama Dinda.

Lama sekali.

Lalu suaranya bergetar.

“Kalian menemukan kotaknya?”

“Iya, Bu.”

“Harusnya Ibu buang dari dulu.”

“Kenapa dibuang?”

Beliau menangis.

Bukan tangisan keras.

Tangisan orang tua yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu.

“Dinda sayang sekali sama Arif. Waktu kecil mereka selalu tidur berdekatan kalau takut hujan. Setelah Dinda meninggal, Arif sering bilang merasa kasurnya sempit. Seperti Dinda masih tidur di sebelahnya.”

Aku menoleh kepada suamiku.

Arif menunduk.

Ia ternyata ingat.

Hanya saja selama bertahun-tahun ia memilih tidak mengingat.

Kemudian ibu mertua bertanya sesuatu.

“Cucuku namanya Alya, kan?”

“Iya.”

“Umurnya berapa sekarang?”

“Sembilan.”

Sunyi.

“Bu?”

Suara di telepon menjadi sangat pelan.

“Dinda juga mulai sering tidur sendiri sekitar umur segitu.”

Aku tidak tahu harus merasa takut atau sedih.

Malam itu kami memutuskan melakukan sesuatu yang sederhana.

Bukan memanggil paranormal.

Bukan membongkar rumah.

Kami mengajak Alya bicara.

Tentu saja tidak menceritakan semua detail yang bisa membuatnya ketakutan.

Aku hanya menunjukkan foto Dinda.

“Ini tante kamu waktu kecil.”

Alya mengambil foto itu.

Ia memandang cukup lama.

Lalu berkata,

“Oh…”

Aku dan Arif saling pandang.

“Oh kenapa?”

Alya menunjuk foto.

“Alya pernah lihat dia.”

Tanganku langsung dingin.

“Di mana?”

Alya berpikir.

“Kayaknya… di mimpi.”

“Kapan?”

“Sering.”

Arif berjongkok di depan putrinya.

“Dia ngomong apa?”

Alya menggeleng.

“Nggak banyak.”

“Terus?”

Alya menatap ayahnya.

“Dia cuma bilang jangan tidur terlalu pinggir nanti jatuh.”

Aku hampir menangis.

Semua ketakutan yang kurasakan beberapa hari terakhir mendadak berubah bentuk.

Belum hilang.

Tapi berbeda.

Malam berikutnya, Arif masuk ke kamar Alya sendirian.

Ia membawa foto Dinda dan jepit rambut biru itu.

Aku berdiri di pintu.

Arif duduk di sisi kasur.

Lama ia tidak berkata apa-apa.

Lalu suaranya pecah.

“Din…”

Aku belum pernah melihat suamiku seperti itu.

Seorang dokter yang setiap hari menghadapi pasien, ruang operasi, kabar buruk, keluarga yang panik.

Tapi malam itu ia kembali menjadi anak sebelas tahun.

“Maaf aku berhenti mengingat kamu.”

Air matanya jatuh.

“Aku kira kalau nggak membicarakan kamu, rasa sakitnya akan hilang.”

Ia tertawa kecil sambil menangis.

“Ternyata nggak.”

Aku membiarkannya.

Tidak semua tangisan harus dihentikan.

Kadang seseorang memang perlu menyelesaikan tangis yang tertunda puluhan tahun.

Arif meletakkan jepit rambut di samping foto.

“Kalau memang kamu masih menjaga keluarga ini… terima kasih.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi jangan bikin Alya kesempitan lagi, ya.”

Entah kenapa aku tertawa kecil.

Arif juga.

Suasana yang beberapa hari terakhir terasa berat mendadak menjadi sedikit lebih ringan.

Kami menyimpan barang-barang Dinda dengan baik.

Bukan kembali memasukkannya ke gudang.

Kami memilih beberapa foto, membersihkannya, lalu memberikannya kepada ibu mertua.

Sisanya kami simpan dalam kotak baru.

Tidak disembunyikan.

Tidak dianggap tabu.

Dinda pernah hidup.

Ia bagian dari keluarga.

Menghapus namanya tidak pernah benar-benar menghapus kehilangan.

Malam pertama Alya kembali tidur di kamarnya, aku tetap gugup.

Aku memasang CCTV lagi.

Bukan diam-diam kali ini.

Alya bahkan melambaikan tangan ke kamera.

“Selamat malam, Bu!”

Aku tertawa dari layar ponsel.

“Tidur.”

“Besok boleh es krim?”

“Tidur dulu.”

“Berarti boleh?”

“Alya…”

Ia cekikikan lalu menarik selimut.

Pukul sebelas malam, ia sudah tertidur.

Pukul satu.

Aman.

Pukul dua.

Aman.

Aku masih terjaga.

Arif sudah mendengkur kecil di sebelahku.

Menjelang pukul tiga, mataku terpaku pada layar.

03.02.

Tidak ada apa-apa.

03.05.

Alya berguling.

03.09.

Selimutnya sedikit bergerak.

Aku menahan napas.

Lalu…

Alya bergeser ke tengah kasur.

Sendirian.

Tidak ada lekukan lain.

Tidak ada rambut hitam.

Tidak ada pintu terbuka.

Aku baru hendak mematikan layar ketika Alya mendadak tersenyum dalam tidur.

Bibirnya bergerak.

Kamera tidak menangkap suara dengan jelas.

Aku menaikkan volume.

Sangat pelan.

Hampir seperti bisikan.

“Selamat malam, Tante.”

Dadaku terasa sesak.

Tapi anehnya, aku tidak takut.

Pagi berikutnya aku bertanya apakah ia bermimpi.

Alya sedang menyendok bubur ayam.

“Mimpi apa?”

“Tante Dinda.”

“Oh.”

Ia tetap makan.

“Kamu ketemu?”

Alya mengangguk santai.

“Dia bilang mau pulang.”

Sendokku berhenti.

“Pulang ke mana?”

“Nggak tahu.”

“Terus?”

“Dia bilang Alya sudah berani tidur sendiri.”

Aku menatap Arif.

Ia tidak berkata apa-apa.

Matanya memerah.

“Terus dia bilang apa lagi?”

Alya memasukkan kerupuk ke mulut.

“Rahasia.”

“Alya.”

Ia tertawa.

“Katanya Ayah dulu kalau tidur suka ngiler.”

Aku menoleh kepada Arif.

Wajahnya langsung berubah.

“Itu fitnah.”

“Katanya sampai bantalnya basah.”

“Alya.”

Aku tertawa sampai air mataku keluar.

Untuk pertama kalinya, nama Dinda terdengar di rumah kami tanpa membuat siapa pun takut.

Beberapa minggu kemudian, ibu mertua datang.

Kami menunjukkan foto-foto lama yang sudah dibersihkan.

Beliau menangis ketika melihatnya.

Alya duduk di samping neneknya.

“Nenek, Tante Dinda cantik.”

Ibu mertua memeluknya.

“Iya.”

“Mirip Alya nggak?”

“Sedikit.”

“Lebih cantik siapa?”

Aku langsung menegur.

“Alya.”

Tapi ibu mertua tertawa.

“Kamu.”

Alya puas.

Sore itu rumah kami penuh suara.

Teh hangat.

Pisang goreng.

Cerita lama.

Untuk pertama kalinya aku mendengar Arif menceritakan masa kecilnya bersama Dinda.

Tentang mereka yang pernah mencuri mangga tetangga.

Tentang Dinda yang takut cicak.

Tentang Arif kecil yang pernah menyalahkan adiknya setelah memecahkan vas bunga.

Tentang dua anak yang dulu bertengkar karena berebut bantal lalu lima menit kemudian tidur berpelukan.

Aku sadar sesuatu.

Selama ini yang menghantui keluarga kami mungkin bukan sesuatu yang jahat.

Mungkin justru diam.

Puluhan tahun diam.

Nama yang tidak boleh disebut.

Foto yang disembunyikan.

Kesedihan yang dianggap akan hilang kalau dikunci di gudang.

Dan Alya…

tanpa sengaja membuka pintu itu.

Bukan pintu kamar.

Pintu yang lain.

Beberapa bulan berlalu.

Alya tidak pernah lagi mengeluh kasurnya sempit.

Kadang ia masih tidur menyamping sampai hampir jatuh, tapi itu memang kebiasaannya.

Aku memasang pagar kecil di sisi tempat tidur.

Lebih praktis daripada menyalahkan makhluk gaib.

CCTV tetap terpasang.

Sesekali aku masih mengeceknya.

Namanya juga ibu.

Suatu malam, hampir setengah tahun setelah kejadian itu, aku sedang membereskan galeri ponsel ketika menemukan rekaman lama.

Video pukul 03.04.

Video yang membuatku hampir pingsan malam itu.

Aku sempat ingin menghapusnya.

Tapi rasa penasaran menang.

Aku menontonnya sekali lagi.

Dengan kepala lebih tenang.

Aku memperbesar bagian tempat tidur.

Bentuk seperti seseorang memang masih terlihat.

Kasur memang tampak turun.

Namun ada satu detail kecil yang baru kusadari.

Di samping Alya ada boneka kain.

Bukan boneka kelinci miliknya.

Boneka kain lama.

Aku langsung berdiri dan membuka kotak peninggalan Dinda.

Boneka itu masih ada di dalam.

Aku menatapnya.

Lalu kembali melihat video.

Mirip.

Sangat mirip.

Aku tidak mencari penjelasan lagi.

Ada hal-hal yang mungkin suatu hari bisa dijelaskan secara logis.

Pantulan cahaya.

Kompresi video.

Bayangan.

Kasur yang bergerak karena berat tubuh Alya.

Ingatan anak kecil yang bercampur mimpi.

Bisa jadi.

Aku menerima semua kemungkinan itu.

Tapi ada juga bagian hidup yang tidak harus dipaksa memiliki jawaban malam itu juga.

Aku mematikan ponsel.

Dari kamar sebelah terdengar suara Alya.

“BUUU!”

Aku berlari.

“Ada apa?!”

Ia duduk di tempat tidur dengan rambut acak-acakan.

Wajahnya serius sekali.

“Alya haus.”

Aku menatapnya.

“Hanya itu?”

“Iya.”

“Ya Allah, Nak. Ibu kira kenapa.”

Ia tersenyum.

“Air dingin ya, Bu.”

Aku mengambilkan air.

Sebelum keluar, aku mencium keningnya.

Alya menarik selimut sampai dagu.

“Bu?”

“Hm?”

“Tempat tidur Alya sekarang besar banget.”

Aku tersenyum.

“Bagus dong.”

Ia mengangguk.

Kemudian matanya perlahan terpejam.

Aku mematikan lampu utama dan menyisakan cahaya kuning kecil di sudut kamar.

Saat hendak menutup pintu, aku menoleh sekali lagi.

Kasur itu memang terlihat besar.

Terlalu besar untuk seorang anak kecil.

Tapi Alya tidak tampak kesepian.

Entah kenapa, pikiran itu membuatku tersenyum.

Aku menutup pintu.

Di ruang keluarga, Arif sedang menunggu sambil membawa dua cangkir teh.

“Alya?”

“Sudah tidur.”

“Masih bilang kasurnya sempit?”

Aku duduk di sebelahnya.

“Nggak.”

Arif menyerahkan secangkir teh kepadaku.

Beberapa detik kami hanya duduk.

Kemudian ia berkata,

“Aku tadi telepon Ibu.”

“Kenapa?”

“Minggu depan hari ulang tahun Dinda.”

Aku menoleh.

Arif tersenyum kecil.

“Kita mau makan bersama. Ibu ingin masak makanan kesukaan Dinda dulu.”

“Masak apa?”

“Rawon.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Tidak ada ritual aneh.

Tidak ada ketakutan.

Hanya sebuah keluarga yang akhirnya belajar bahwa mengenang seseorang bukan berarti hidup di masa lalu.

Kadang itu justru cara supaya masa lalu berhenti mengetuk pintu.

Minggu berikutnya kami benar-benar berkumpul.

Ibu mertua membawa album lama.

Alya sibuk bertanya.

“Ini Ayah?”

“Iya.”

“Kok rambut Ayah kayak mangkuk?”

Aku tertawa.

Arif protes.

“Itu model zaman dulu.”

“Jelek.”

“Alya!”

Rumah dipenuhi tawa.

Di salah satu halaman album ada foto Dinda.

Rambutnya dikuncir dua.

Jepit biru di sisi kiri.

Senyumnya lebar.

Alya menyentuh foto itu dengan ujung jari.

Kemudian berkata pelan,

“Selamat ulang tahun, Tante.”

Angin dari jendela bergerak pelan.

Tirai bergoyang.

Tidak ada yang panik.

Tidak ada yang berlari memeriksa CCTV.

Ibu mertua hanya memeluk Alya.

Arif menggenggam tanganku.

Dan aku…

aku akhirnya memahami mengapa malam itu aku menangis saat melihat layar kamera.

Bukan semata-mata karena takut.

Ada sesuatu dalam gambar itu yang terasa sedih.

Seperti seseorang yang sudah lama tidak disebut namanya akhirnya menemukan jalan pulang.

Sejak hari itu, kami tidak pernah lagi melihat bentuk aneh di CCTV.

Pintu tidak terbuka sendiri.

Kasur tidak lagi turun di sisi kanan.

Alya tidak pernah merasa didorong ke pinggir.

Semuanya kembali biasa.

Dan ternyata…

biasa adalah sesuatu yang sangat indah setelah kita hampir kehilangannya.

Beberapa tahun kemudian, ketika Alya sudah cukup besar untuk memahami cerita keluarga, kami menceritakan semuanya.

Ia terdiam cukup lama.

Lalu bertanya,

“Jadi waktu kecil aku benar-benar tidur sama Tante Dinda?”

Arif tertawa.

“Kami juga nggak tahu.”

“Tapi CCTV-nya?”

“Bisa jadi banyak hal.”

Alya berpikir.

Kemudian tersenyum.

“Kalau memang Tante Dinda, berarti dia cuma mau nemenin aku.”

Aku mengusap rambutnya.

“Mungkin.”

Alya berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

Di ambang pintu ia berhenti.

“Oh iya, Bu.”

“Apa?”

“Aku baru ingat sesuatu.”

“Apa?”

Ia mengerutkan kening seperti sedang menggali ingatan yang sangat jauh.

“Waktu kecil… malam terakhir aku mimpi Tante Dinda, dia bilang sesuatu.”

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

“Apa?”

Alya menatapku.

“Dia bilang…”

Ia berhenti.

Aku menunggu.

“Kalau suatu hari Ayah sudah berani menyebut namanya tanpa menangis, berarti tugasnya selesai.”

Aku menoleh kepada Arif.

Ia diam.

Matanya berkaca-kaca.

Tapi kali ini ia tersenyum.

Bukan senyum orang yang sedang menahan kehilangan.

Senyum seseorang yang akhirnya berdamai dengannya.

Arif melihat foto adiknya yang kini berdiri di rak keluarga, bukan lagi terkunci dalam kardus di gudang.

“Dinda.”

Hanya itu yang ia katakan.

Satu nama.

Tanpa takut.

Tanpa mencoba melupakan.

Di luar, suara azan Magrib terdengar samar dari kejauhan.

Alya masuk ke kamarnya.

Aku menuju dapur.

Arif mengikuti sambil bertanya makan malam apa.

Hidup bergerak lagi.

Sederhana.

Biasa.

Hangat.

Dan kamar yang dulu terasa terlalu sempit itu…

akhirnya cukup luas untuk menyimpan kenangan tanpa membuat siapa pun kehilangan tempat untuk hidup.