SELINGKUHANNYA HAMIL—SANG SUAMI LANGSUNG MENCERAIKAN ISTRINYA DEMI MENIKAHINYA. NAMUN PADA MALAM PERNIKAHAN,

Tiga bulan setelah perceraian itu resmi, aku menikahi Maya.

Semuanya terjadi begitu cepat sampai kadang-kadang aku sendiri merasa seperti sedang mengejar kereta yang sudah telanjur bergerak.

Maya ingin pernikahan dilaksanakan sebelum kandungannya semakin besar.

Ibuku sebenarnya sempat keberatan.

 

 

 

 

 

“Arga, apa tidak terlalu cepat?”

Aku menjawab tanpa berpikir panjang.

“Bu, Maya sedang mengandung anakku.”

Kalimat itu seperti kartu terakhir yang menutup semua perdebatan.

Ayah diam.

Ibu akhirnya mengalah.

Keluarga Maya pun menyambut rencana pernikahan dengan antusias. Mereka meminta resepsi yang cukup besar karena Maya adalah anak perempuan satu-satunya.

Aku menyetujuinya.

Entah karena bahagia atau karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang-orang.

Mungkin juga kepada Rani.

Aneh, ya.

Aku sudah menceraikannya, tetapi sebagian kecil dalam diriku masih ingin ia mengetahui bahwa aku baik-baik saja.

Bahwa keputusanku benar.

Bahwa perempuan yang dulu kusebut “bermasalah” sudah kugantikan dengan seseorang yang bisa memberiku keturunan.

Sifat manusia kadang memalukan kalau dipikir-pikir setelah semuanya terlambat.

Aku bahkan mengirim undangan pernikahan kepada Rani.

Bukan langsung.

Aku menitipkannya kepada seorang teman lama.

Rani tidak datang.

Ia juga tidak mengirim ucapan apa pun.

Hanya ada satu pesan pendek yang disampaikan teman kami.

“Rani bilang semoga semuanya berjalan baik.”

Itu saja.

Entah mengapa, justru kalimat sederhana itu membuatku tidak nyaman.

Hari pernikahanku dengan Maya berlangsung meriah di sebuah gedung di Jakarta Selatan.

Bunga putih memenuhi pelaminan.

Lampu-lampu menggantung seperti ratusan bintang kecil.

Orang-orang bergantian menyalamiku.

“Selamat, Mas Arga!”

“Sebentar lagi jadi ayah!”

“Wah, lengkap sudah hidupmu.”

Aku tersenyum sampai rahangku terasa pegal.

Maya tampak cantik.

Gaun pengantinnya sengaja dibuat sedikit longgar di bagian perut agar kehamilannya tidak terlalu terlihat.

Saat itu usia kandungannya, menurut perhitungannya, hampir empat bulan.

Aku tidak pernah mempersoalkan detail.

Maya mengatakan empat bulan.

Aku percaya empat bulan.

Sesederhana itu.

Sampai malam tiba.

Setelah seluruh acara selesai, kami pulang ke apartemen yang sudah kusiapkan untuk kehidupan baru kami.

Maya terlihat kelelahan.

Ia melepaskan anting-anting, membersihkan riasan, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Aku masuk kamar mandi sebentar.

Ketika keluar, Maya sedang mengganti pakaian.

Dan saat itulah aku melihat perutnya dengan jelas untuk pertama kalinya tanpa tertutup gaun longgar.

Aku berhenti.

Bukan karena perut itu terlalu besar.

Justru sebaliknya.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Aku memang bukan dokter kandungan.

Aku juga tidak tahu bagaimana bentuk perut perempuan hamil empat bulan seharusnya.

Namun selama beberapa minggu terakhir, aku sering melihat Maya memegangi perutnya yang terlihat cukup menonjol ketika mengenakan pakaian.

Malam itu…

Perutnya hampir datar.

Aku berdiri di dekat pintu kamar mandi.

“Maya.”

Ia menoleh.

“Hm?”

“Perutmu kenapa?”

Tangannya spontan menutupi bagian depan tubuhnya.

Gerakan kecil.

Sangat cepat.

Tapi aku melihatnya.

“Kenapa apanya?”

“Kok…”

Aku tidak melanjutkan.

Maya tertawa pendek.

“Namanya juga hamil. Bentuk perut orang beda-beda.”

Aku ingin mempercayainya.

Sungguh.

Namun ketika Maya berjalan menuju lemari, sesuatu jatuh dari balik gaun pengantinnya yang tergeletak di kursi.

Benda berwarna krem.

Lembut.

Berbentuk seperti…

Aku membungkuk dan mengambilnya.

Tanganku langsung dingin.

Itu bantalan.

Semacam bantalan silikon yang dibentuk menyerupai perut hamil.

“Maya.”

Ia membeku.

Kali ini aku tidak perlu bertanya dua kali.

Wajahnya berubah.

“Maya, ini apa?”

Tidak ada jawaban.

“INI APA?”

Ia mundur selangkah.

“Arga, dengarkan aku dulu.”

Jantungku berdetak begitu keras sampai telingaku berdenging.

Aku menatap perutnya.

Lalu bantalan itu.

Lalu wajahnya.

“Kamu tidak hamil?”

Maya mulai menangis.

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Kadang manusia tertawa ketika kenyataan terlalu buruk untuk langsung diterima.

“Kamu bilang kamu hamil.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Empat bulan, Maya.”

“Aku takut kehilangan kamu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Aku terdiam.

Maya duduk di ujung ranjang sambil menutupi wajahnya.

“Aku memang sempat telat datang bulan,” katanya. “Aku pikir aku hamil.”

“Tesnya?”

Ia tidak menjawab.

Aku mendekat.

“Tes dua garis yang kamu kasih ke aku?”

Maya menangis semakin keras.

“Itu bukan punyaku.”

Rasanya seperti seseorang memukul bagian belakang kepalaku.

Aku harus memegang sandaran kursi agar tidak kehilangan keseimbangan.

“Punya siapa?”

“Temanku.”

Aku tidak tahu berapa lama aku diam.

Lima detik?

Satu menit?

Mungkin lebih.

Yang terdengar hanya suara pendingin ruangan.

Lalu, anehnya, satu kalimat muncul di kepalaku.

Suara Rani.

Suatu hari nanti… apa pun yang terjadi, jangan menyesali keputusan Mas sendiri.

Dadaku langsung sesak.

Aku mengambil kunci mobil.

Maya berdiri.

“Mau ke mana?”

Aku tidak menjawab.

“Arga!”

Tangannya menarik lenganku.

Aku melepaskannya.

Tidak kasar.

Aku bahkan sudah terlalu lelah untuk marah.

“Aku butuh waktu.”

“Tapi kita baru menikah.”

Aku menatapnya.

“Justru itu masalahnya.”

Aku keluar.

Malam itu aku mengemudi tanpa tujuan.

Jakarta masih ramai meski hampir tengah malam.

Lampu kendaraan berbaris panjang.

Orang-orang keluar dari restoran.

Pengemudi ojek daring menunggu pesanan.

Semuanya berjalan seperti biasa.

Hanya hidupku yang tiba-tiba terasa berhenti.

Aku parkir di sebuah minimarket.

Duduk di dalam mobil hampir satu jam.

Lalu aku melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya kulakukan bertahun-tahun sebelumnya.

Aku membuka hasil pemeriksaan kesehatan lama.

Dokumen yang pernah diberikan rumah sakit ketika aku dan Rani menjalani pemeriksaan.

Aku masih menyimpannya di email.

Saat itu aku bahkan tidak pernah membacanya sampai selesai.

Aku mencari.

Satu demi satu.

Hasil pemeriksaan Rani.

Catatan dokter.

Rekomendasi pemeriksaan lanjutan.

Kemudian aku menemukan satu bagian yang membuat tengkukku terasa dingin.

“Pemeriksaan pasangan pria disarankan.”

Aku menatap kalimat itu lama.

Kenapa dulu aku tidak pernah melakukannya?

Jawabannya sederhana.

Karena aku merasa tidak mungkin bermasalah.

Aku tinggi.

Aku rajin olahraga.

Aku merasa sehat.

Seolah-olah semua itu otomatis membuktikan kesuburan seorang laki-laki.

Bodoh.

Keesokan paginya aku pergi ke rumah sakit.

Sendirian.

Untuk pertama kalinya.

Aku menjalani pemeriksaan.

Dokter meminta beberapa tes tambahan.

Aku menunggu hasilnya selama beberapa hari.

Hari-hari itu terasa sangat panjang.

Maya menelepon berkali-kali.

Aku tidak mengangkatnya.

Ibuku bertanya kenapa aku tidak pulang bersama istri baruku.

Aku hanya berkata sedang ada masalah.

Sampai akhirnya dokter memintaku datang.

Aku duduk di ruangan itu dengan kedua tangan dingin.

Dokter di hadapanku berbicara tenang.

“Pak Arga, dari hasil pemeriksaan awal, ada gangguan cukup signifikan pada kualitas sperma Anda.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Dokter menjelaskan dengan istilah medis yang tidak semuanya kupahami.

Jumlah.

Pergerakan.

Kualitas.

Beberapa faktor lain.

Aku hanya menangkap kesimpulannya.

Kemungkinan memiliki anak secara alami sangat rendah.

Bukan tidak mungkin.

Tapi rendah.

Sangat rendah.

Aku keluar dari rumah sakit seperti orang kehilangan arah.

Di parkiran aku duduk di dalam mobil.

Tidak menyalakan mesin.

Tidak membuka ponsel.

Aku hanya duduk.

Dan menangis.

Pertama kali setelah bertahun-tahun.

Bukan karena hasil pemeriksaan itu saja.

Aku teringat wajah Rani.

Malam ketika ia pulang dari rumah sakit.

Matanya merah.

Tangannya gemetar.

Dan aku…

Aku menghantam meja.

Aku menyalahkannya.

Aku mengatakan dialah penyebabnya.

Aku mengatakan garis keturunan keluargaku akan berhenti karena dirinya.

Padahal aku bahkan tidak pernah mau diperiksa.

Tiba-tiba ada sesuatu yang terasa janggal.

Rani dulu mengatakan dokter menyebut hormon dan kondisi rahimnya bermasalah.

Tetapi dalam berkas yang kubaca semalam, aku tidak menemukan diagnosis seburuk itu.

Aku kembali masuk.

Meminta penjelasan mengenai catatan pemeriksaan lama.

Tentu pihak rumah sakit tidak bisa begitu saja membuka seluruh informasi medis Rani kepadaku setelah kami bercerai.

Namun dari salinan dokumen yang memang pernah diberikan kepadaku sebagai bagian pemeriksaan pasangan, aku mulai memahami sesuatu.

Rani memang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Tetapi tidak pernah ada kesimpulan bahwa ia tidak bisa memiliki anak.

Lalu kenapa ia mengatakan semua itu kepadaku?

Pertanyaan itu mengejarku sampai berhari-hari.

Akhirnya aku menghubungi sahabat lama Rani, Siska.

Awalnya Siska menolak bertemu.

Aku memohon.

Bukan supaya ia membantuku mendapatkan Rani kembali.

Aku cuma ingin tahu.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil.

Begitu duduk, Siska langsung berkata,

“Kalau kamu datang untuk mengganggu Rani lagi, aku pergi.”

“Tidak.”

Aku meletakkan hasil pemeriksaanku di meja.

“Aku cuma ingin tahu kenapa dulu dia bohong.”

Siska melihat dokumen itu.

Wajahnya berubah.

Lalu ia menghela napas panjang.

“Jadi akhirnya kamu periksa juga.”

Kalimat itu membuatku membeku.

“Kamu tahu?”

“Rani tahu.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Siska diam sebentar.

“Waktu pemeriksaan dulu, dokter tidak cuma menyarankan pemeriksaan Rani. Dokter juga curiga masalahnya mungkin berasal dari pihak laki-laki. Rani mencoba membujukmu supaya ikut tes, tapi dia tahu sifatmu. Kamu selalu bilang tubuhmu sehat, kamu olahraga, keluarga kamu subur.”

Aku tidak bisa membantah.

Semua benar.

“Terus?”

“Dia takut harga dirimu terluka.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi dia bilang dirinya yang bermasalah?”

Siska mengangguk.

“Dia pikir setelah itu dia bisa pelan-pelan mengajakmu menjalani pemeriksaan bersama.”

Aku menunduk.

Siska melanjutkan.

“Tapi sebelum sempat, kamu berubah.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Kamu mulai jarang pulang. Kamu kasar kalau bicara. Lalu muncul perempuan lain.”

Setiap kalimatnya terasa seperti cermin.

Tidak ada yang enak dilihat.

“Sekarang Rani di mana?”

Siska langsung menatapku tajam.

“Untuk apa?”

“Aku mau minta maaf.”

“Kalau kamu berharap dia kembali—”

“Tidak.”

Aku memotong.

Untuk pertama kalinya aku mengucapkan sesuatu tanpa memikirkan keuntungan bagi diriku sendiri.

“Aku tidak punya hak meminta dia kembali.”

Siska tidak langsung memberikan alamat.

Dua minggu kemudian, barulah ia mengirim sebuah lokasi.

Sebuah toko roti kecil di Bogor.

Aku datang pada Sabtu sore.

Hujan baru saja berhenti.

Toko itu sederhana.

Ada aroma mentega dan kopi ketika aku membuka pintu.

Dan di balik meja kasir…

Rani berdiri.

Rambutnya lebih pendek.

Wajahnya terlihat lebih segar.

Ia sedang tertawa bersama seorang pegawai perempuan.

Aku hampir lupa bahwa dulu ia bisa tertawa seperti itu.

Kemudian ia melihatku.

Senyumnya hilang.

Bukan berubah menjadi marah.

Hanya hilang.

“Mas Arga?”

Aku berdiri beberapa meter darinya.

“Hai.”

Itu kalimat paling bodoh yang bisa keluar.

Rani meminta pegawainya menjaga kasir lalu mengajakku duduk di meja sudut.

“Ada apa?”

Aku mengeluarkan amplop.

Hasil pemeriksaanku.

Ia tidak membukanya.

“Aku sudah tahu,” katanya.

Aku mengangkat kepala.

“Siska?”

Rani mengangguk.

Aku menarik napas.

“Aku datang bukan minta kamu kembali.”

Ia diam.

“Aku cuma mau bilang… maaf.”

Kata itu terasa terlalu kecil.

Jadi aku mencoba lagi.

“Aku minta maaf karena mempermalukanmu. Karena menyalahkan tubuhmu. Karena membuatmu merasa gagal sebagai perempuan hanya karena kita belum punya anak.”

Suara terakhirku hampir hilang.

“Dan yang paling parah… aku bahkan tidak pernah mau memeriksa diriku sendiri.”

Rani memandang keluar jendela.

Matanya berkaca-kaca.

Namun ia tidak menangis.

“Aku pernah menunggu permintaan maaf itu,” katanya.

Dadaku menegang.

“Lama sekali.”

Aku menatapnya.

“Tapi sekarang?”

Ia tersenyum kecil.

“Sekarang aku tidak membutuhkannya untuk bisa hidup.”

Aneh.

Kalimat itu sakit.

Tapi sekaligus melegakan.

Karena berarti ia sudah sembuh dari luka yang kubuat.

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Kami diam.

Sebelum pergi, aku bertanya satu hal.

“Kenapa dulu kamu mau menanggung kesalahan yang bukan milikmu?”

Rani menjawab pelan.

“Karena waktu itu aku terlalu mencintai Mas sampai lupa bahwa melindungi harga diri seseorang tidak boleh dilakukan dengan menghancurkan harga diri sendiri.”

Aku tidak punya jawaban.

Aku pulang.

Hubunganku dengan Maya tidak langsung selesai seperti drama televisi.

Tidak ada adegan saling melempar barang.

Tidak ada keluarga datang berteriak.

Justru lebih rumit.

Kami bicara.

Berkali-kali.

Maya mengakui kebohongannya.

Aku juga mengakui bahwa aku menikahinya karena alasan yang sama buruknya.

Aku ingin anak.

Aku ingin membuktikan sesuatu.

Aku tidak benar-benar mengenalnya.

Maya takut kehilanganku.

Aku takut dianggap gagal.

Dua orang ketakutan membuat keputusan besar sambil berpura-pura sedang jatuh cinta.

Hasilnya?

Berantakan.

Kami akhirnya berpisah secara baik-baik setelah melalui proses yang tidak sebentar.

Setahun berlalu.

Aku menjalani pengobatan.

Bukan hanya untuk masalah kesuburan.

Aku juga mulai berkonsultasi dengan psikolog.

Awalnya malu.

Lama-lama aku sadar, banyak hal dalam diriku yang lebih membutuhkan pertolongan daripada yang selama ini kuakui.

Aku belajar meminta maaf kepada ibu.

Kepada ayah.

Kepada beberapa orang yang pernah kulukai.

Tidak semua memaafkan.

Ternyata itu juga bagian dari hidup.

Kita boleh berubah, tetapi orang lain tidak berkewajiban memberikan akhir cerita sesuai keinginan kita.

Dua tahun kemudian, aku kembali ke toko roti Rani.

Bukan sengaja.

Aku sedang mengunjungi klien di Bogor dan melewati jalan itu.

Tokonya sekarang dua kali lebih besar.

Ada papan kecil di depan.

Aku masuk.

Rani sedang membawa nampan roti.

Kami sama-sama tertawa ketika bertemu.

Kali ini tidak canggung.

“Mas Arga makin kurus.”

“Kamu makin sukses.”

“Alhamdulillah.”

Lalu seorang laki-laki keluar dari dapur.

Ia membawa seorang anak perempuan kecil, mungkin berusia sekitar dua tahun.

Anak itu langsung mengulurkan tangan kepada Rani.

“Mama!”

Aku membeku sesaat.

Rani menggendongnya.

Laki-laki itu tersenyum dan memperkenalkan diri.

Namanya Dimas.

Suami Rani.

Aku menjabat tangannya.

Tidak ada musik sedih.

Tidak ada petir.

Tidak ada rasa ingin merebut kembali masa lalu.

Yang muncul justru perasaan aneh…

tenang.

Aku melihat Rani mencium pipi anaknya.

Kemudian ia berkata kepadaku,

“Anak adopsi kami.”

Aku menatapnya.

Rani tersenyum.

“Kami belum dikaruniai anak biologis. Tapi ternyata keluarga bisa datang dengan banyak cara.”

Aku tidak tahu kenapa mataku panas.

Mungkin karena kalimat itu sederhana sekali.

Dulu aku menghancurkan pernikahan karena terobsesi pada satu definisi tentang keturunan.

Sementara perempuan yang kutinggalkan justru menemukan keluarga tanpa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Aku jongkok di depan anak kecil itu.

“Halo.”

Ia bersembunyi di balik kaki ayahnya.

Kami semua tertawa.

Sebelum pulang, Rani memberiku satu kotak roti.

“Gratis?”

“Jangan enak saja. Bayar.”

Aku tertawa.

Aku membayar.

Kami tidak kembali bersama.

Dan mungkin justru itulah akhir bahagia yang sebenarnya.

Rani mendapatkan kehidupan yang tidak lagi membuatnya merasa kurang.

Aku mendapatkan kesempatan untuk menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada diriku yang dulu.

Maya kemudian kuketahui pindah ke Surabaya dan membuka usaha kecantikan bersama kakaknya. Beberapa tahun kemudian ia mengirim pesan singkat.

“Aku sudah menikah. Kali ini tidak pakai kebohongan.”

Aku membalas,

“Semoga bahagia.”

Ia menjawab dengan emoji tertawa.

Tidak ada dendam.

Hidup bergerak.

Pelan, berantakan, kadang tidak masuk akal.

Lalu pada usia tiga puluh delapan tahun, aku bertemu seseorang bernama Nadia.

Aku menceritakan kondisiku sejak awal.

Tidak menunggu berbulan-bulan.

Tidak menyembunyikan hasil pemeriksaan.

Aku bahkan berkata pada pertemuan ketiga,

“Kemungkinan aku sulit punya anak biologis.”

Nadia menyeruput kopinya.

“Oh.”

Aku menunggu.

Hanya itu?

Kemudian ia bertanya,

“Kamu mau pesan pisang goreng lagi nggak?”

Aku tertawa.

“Serius?”

“Ya serius. Yang tadi enak.”

“Nadia, aku lagi ngomong soal anak.”

“Aku dengar.”

Ia meletakkan cangkirnya.

“Kalau nanti menikah dan kita punya anak biologis, syukur. Kalau tidak, kita pikirkan jalan lain. Adopsi mungkin. Atau hidup berdua sambil punya tujuh kucing.”

“Tujuh?”

“Lima juga boleh.”

Aku tertawa sampai orang di meja sebelah menoleh.

Setahun kemudian kami menikah.

Sederhana.

Tidak ada pembuktian.

Tidak ada perlombaan.

Tidak ada kebohongan tentang kehamilan.

Tiga tahun setelah itu, rumah kami masih belum memiliki tangisan bayi.

Tapi setiap pagi ada dua kucing berlari-lari di ruang tamu.

Baru dua.

Nadia masih punya ambisi mencapai tujuh.

Dan suatu Minggu, ketika kami sedang sarapan, ponselku berbunyi.

Pesan dari Rani.

Sebuah foto.

Dimas, Rani, dan putri mereka sedang berdiri di depan toko roti cabang kedua.

Di bawah foto hanya tertulis:

“Cabang kedua akhirnya buka. Kalau lewat Bogor, mampir. Tetap bayar.”

Aku tertawa.

Nadia bertanya,

“Kenapa?”

Aku menunjukkan foto itu.

Ia ikut tersenyum.

“Teman lama?”

Aku berpikir sebentar.

“Orang yang pernah aku sakiti.”

Nadia tidak bertanya lebih jauh.

Aku mengetik balasan.

“Selamat. Semoga makin sukses.”

Jari telunjukku sempat berhenti di atas layar.

Ada banyak hal yang dulu ingin kukatakan kepada Rani.

Tentang penyesalan.

Tentang kesempatan kedua.

Tentang bagaimana seandainya waktu bisa diputar.

Tapi tidak semua pikiran harus dikirim.

Aku menekan tombol kirim.

Lalu meletakkan ponsel.

Di depan rumah, matahari pagi masuk melalui jendela.

Nadia sedang mengomel karena salah satu kucing kami mencuri telur dari piringnya.

Aku bangkit mengejarnya.

Dan di tengah kekacauan kecil itu aku tiba-tiba mengerti sesuatu.

Akhir bahagia tidak selalu berarti mendapatkan kembali apa yang pernah kita buang.

Kadang akhir bahagia berarti berani menerima bahwa beberapa pintu memang sudah tertutup…

lalu berhenti berdiri di depannya.

Karena di tempat lain, tanpa kita sadari, ada pintu lain yang sejak lama terbuka.

Dan kali ini…

kita masuk tanpa membawa kebohongan.