SELAMA ENAM TAHUN AKU DISEBUT “WANITA MALANG YANG TERUS MENGEJAR” SEORANG PERWIRA—SAMPAI PADA MALAM PENGHARGAAN, AKU SENDIRI YANG MENGHENTIKANNYA

Malam itu aula perwira berbau lilin parafin dan minyak rambut mahal. Kertas yang kusodorkan ke dada Marco bukan kertas tipis biasa; itu lembaran berkop pengadilan agama militer dengan materai sepuluh ribu yang sudutnya sudah agak melengkung kena keringat jariku. Surat gugatan cerai, rapi, sudah ditandatangani panitera dua hari lalu lewat bantuan seorang kawan lama angkatanku yang sekarang dinas di kejaksaan militer.
Marco tidak langsung membacanya sampai tuntas. Jarinya yang kasar—ujung telunjuknya kapalan karena pelatuk senapan—hanya meraba bagian nama kami berdua: dr. Celina Danudirdja dan Kapten Inf. Marco Villareal. Dia menarik napas pendek sekali, jenis napas orang yang baru saja kena hantam di ulu hati tapi masih sadar kamera pengawas menyala di setiap sudut aula. Di belakangnya, Patricia melangkah mendekat dengan gaun sutra kelabu yang ekornya menyapu karpet beledu merah, wajahnya memasang ekspresi prihatin yang terlalu sempurna untuk ukuran orang asing.
“Marco? Ada apa?” suara Patricia mengapung di antara denting sendok perak para komandan distrik. “Dokter Celina butuh rekomendasi dinas? Ayahku bisa bicara dengan kepala logistik besok pagi kalau memang ada kendala administrasi…”

Aku tidak menoleh ke Patricia. Aku bahkan tidak merasa perlu membenci perempuan itu; dia cuma bidak catur yang kebetulan ditaruh di petak yang sama oleh Marco sendiri. Marco mendadak melipat kertas itu jadi dua dengan gerakan kasar, memasukkannya ke dalam saku dalam jas seragam putihnya sampai kain wolnya menggembung jelek.
“Bukan apa-apa, Pat,” bisik Marco, suaranya parau, bukan nada komando yang biasa dia pakai di depan pleton. Matanya menatap lurus ke pupil mataku, ada urat merah tipis yang pecah di sudut kanannya. “Celina, ikut aku ke mobil. Sekarang.”
“Mobil dinasmu kursinya cuma dua, Kapten,” kataku santai. “Dan kamu datang bareng Nona Vergara. Nggak pantas kalau ada dokter bawahan yang numpang di kursi belakang.”
Tiga orang perwira staf operasi yang tadinya berdiri sambil memegang cangkir kopi menoleh serempak. Mereka terbiasa melihatku diam, terbiasa melihatku tersenyum kaku sambil menelan ludah setiap kali Marco menepis tanganku di depan koridor poliklinik. Malam itu aku tidak menunduk satu senti pun. Aku melangkah melebar, memutar tubuh menjauh dari hadangan bahunya. Marco sempat refleks meraih pergelangan tanganku—gerakan cepat yang biasanya dia pakai untuk menahan taruna yang salah baris—tapi jarinya tergelincir di kain blus katunku. Dia tidak berani mengejar lebih jauh karena Kolonel Hartawan, asisten intelijen korem, baru saja melangkah keluar dari toilet VIP sambil mengancingkan jasnya.
Udara malam di luar gedung dingin bukan main, jenis dingin basah khas kota garnisun di kaki gunung. Mobil minibus antarkota pesenanku baru akan berangkat jam dua pagi dari terminal lama, jadi aku langsung menyetop taksi pelat hitam di depan gapura pangkalan. Sopirnya seorang bapak tua yang radio mobilnya menyetel lagu-lagu keroncong patah-patah; aku bersandar ke kaca pintu yang bergetar keras tiap kali roda menghantam aspal rusak jalan lingkar luar.
Di rumah dinas tipe 45 yang kami tempati enam tahun ini, lampunya padam. Rumah itu berada di kompleks paling ujung, sengaja dipilih Marco waktu awal nikah supaya “tetangga nggak banyak usul”. Sekarang aku tahu maksudnya: supaya kalau ada yang lihat dia jarang pulang, orang-orang bakal mengira itu rumah bujangan atau rumah singgah sementara.
Dua koper besarku sudah berdiri di dekat rak sepatu sejak subuh. Aku tidak membawa banyak barang; hanya baju-baju kerjaku, stetoskop Littmann pemberian almarhum ayah, beberapa buku bedah trauma, dan seikat foto keluarga masa kecilku di Klaten. Cincin kawin emas polos kami—yang selama enam tahun cuma boleh kupakai pakai rantai perak kecil di balik kerah baju jagaku—kutinggalkan di meja dapur, tepat di sebelah stoples kopi robusta yang sudah separuh kosong. Di bawah cincin itu, aku menaruh slip gaji pertamaku yang dulu kami pakai bareng-bareng buat bayar uang muka motor bekasnya sebelum dia dapet jatah dinas. Hutang rasa sudah impas.
Sekitar jam sebelas malam, deru mesin jip Marco terdengar membelah gang sempit berkerikil. Suara remnya berdecit kasar. Dia membuka pintu depan tanpa mengetuk, napasnya memburu, dasi kupu-kupu seragam galanya sudah lepas dan tergantung berantakan di saku luar.
“Kamu gila, Celina?” katanya tanpa basa-basi, menutup pintu begitu keras sampai kaca nako di atasnya bergetar. “Surat cerai? Ke pengadilan militer langsung tanpa lewat atasan komandanku? Kamu mau bikin sidang kode etik buat aku?”
Aku sedang memasukkan sepasang sepatu kets kusam ke kantong kresek. Aku menatapnya dari bawah, jongkok di lantai semen. “Prosedurnya memang harus lewat komandan kalau kita mau mediasi, Marco. Tapi aku nggak minta mediasi. Aku minta penetapan talak sepihak berdasarkan penelantaran status selama lebih dari tiga tahun. Surat pernyataan dari kepala desa tempat kita nikah sipil dulu sudah masuk bareng berkas itu.”
Wajahnya yang biasanya bersih dan kaku mendadak tampak kuyu. Marco bukan orang jahat dalam arti dia memukul atau main tangan; dia cuma tipe orang yang menghitung setiap tarikan napasnya sebagai investasi. Menikah denganku waktu pangkatnya masih letnan satu adalah keputusannya yang paling jujur, tapi sekaligus yang paling dia sesali begitu bintang-bintang di pundak para jenderal mulai terlihat dalam jangkauan tangannya.
“Aku nggak pernah menelantarkan kamu,” suaranya mendadak melunak, tipe nada rendah yang dulu selalu bikin aku luluh dan merasa bersalah setiap kali kami berdebat soal kenapa aku nggak pernah diajak ke acara perayaan korps. Dia mendekat dua langkah, lalu berlutut di depanku, mencoba menyentuh lututku yang terbalut celana kain. “Celina, dengar dulu. Vergara itu punya jaringan sampai ke kementerian. Ayahnya kenal panitia seleksi atase militer di Canberra. Enam bulan lagi, Celina. Cuma butuh enam bulan lagi sampai surat penugasanku keluar. Begitu kita di luar negeri, nggak ada yang peduli latar belakang keluargamu, nggak ada yang bakal inget Patricia. Kita bisa pesta lagi di sana. Pesta resmi.”
Aku menatap kerutan di dahi laki-laki ini. Aneh rasanya, setelah enam tahun menelan rasa malu di lorong-lorong rumah sakit—disebut perawan tua halu, dibilang dokter ganjen yang ngejar-ngejar perwira muda yang sudah dijodohkan—aku baru benar-benar melihatnya malam ini. Bukan sebagai pahlawan bertubuh tegap yang dulu melindungiku dari preman terminal waktu KKN, melainkan cuma seorang birokrat berseragam yang penakut.
“Kamu pikir selama enam tahun ini aku cuma nunggu pesta, Marco?” tanyaku pelan, begitu pelan sampai desau angin malam di ventilasi terdengar lebih nyaring.
“Bukan itu maksudku…”
“Kamu tahu rasanya waktu Suster Maya dan Mayor Lukman ngetawain aku di ruang farmasi bulan lalu? Waktu itu aku lagi nyiapin infus buat prajurit yang kena malaria, terus Patricia datang bawa tumpeng mini buat ngerayain ulang tahunmu. Mereka bilang ke Patricia, ‘Untung ada Mbak Patricia yang beneran merhatiin Kapten, bukan kayak yang di pojokan itu, cuma modal ngasih obat’.” Aku tersenyum tipis. “Kamu ada di sana, Marco. Kamu lagi makan kue lapis di dekat dispenser. Dan kamu cuma senyum sambil bilang, ‘Dokter Celina orangnya memang berdedikasi tinggi pada pasien’.”
Marco menelan ludah. Tangannya yang tergantung di udara perlahan turun ke lantai semen. “Aku… aku harus jaga situasi, Celina. Patricia bawa nama ayahnya.”
“Iya, dan kamu bawa harga diriku buat diinjak-injak biar sepatu larsmu tetap bersih mengkilap.” Aku berdiri, menepuk debu di celanaku. “Sekarang silakan nikahi dia beneran. Mumpung suratnya sudah masuk. Senin besok aku sudah mulai dinas di RS Sardjito. Berkas kasusmu bakal diproses lewat mahkamah militer Semarang, bukan di sini. Jadi kamu nggak usah repot-repot nyari koneksi di kodim buat nahan berkasnya.”
“Celina, batalkan.” Marco bangkit berdiri, tubuhnya yang tinggi menjulang mencoba memberi tekanan fisik seperti yang biasa dia lakukan kalau menginterogasi prajurit pembangkang. “Kamu nggak bisa mutasi seenak jidatmu tanpa tanda tangan dari bagian kesehatan garnisun. Aku bisa telepon Mayor Budi malam ini juga buat nahan SK-mu.”
Aku menatapnya dengan rasa kasihan yang begitu murni sampai-sampai Marco sendiri tampak terkejut.
“Telepon saja,” kataku sambil menunjuk ponsel dinasnya yang ada di ikat pinggang. “Telepon sekarang. Bilang ke Mayor Budi kalau kamu mau nahan mutasi dokter umum yang selama enam tahun ini diam-diam jadi istrimu yang sah secara negara tapi kamu sembunyikan demi ngejar anak mantan pangdam. Telepon dia, Marco. Biar besok pagi seluruh jajaran provost tahu kenapa surat pengunduran diriku dari PNS militer ditempeli salinan buku nikah kita.”
Ruangan mendadak senyap total. Detik jam dinding plastik murahan di atas pintu dapur berbunyi keras sekali: tik, tok, tik, tok.
Marco membeku. Otaknya yang penuh kalkulasi taktik mendadak buntu karena dia baru sadar bahwa senjata terbesarku selama ini bukan kemarahan, melainkan bukti hukum yang selama bertahun-tahun dia minta kusimpan rapat-rapat di laci lemari paling bawah. Kalau skandal ini meledak, bukan cuma Canberra yang melayang; pangkat kaptennya bisa tertahan di meja inspektorat jenderal sampai masa dinasnya habis.
“Kamu… kamu sengaja pasang jebakan ini?” bisiknya tak percaya.
“Bukan jebakan,” sahutku sambil menarik pegangan koperku sampai berbunyi klik. “Itu cuma pintu keluar. Dan aku baru mutusin buat buka kuncinya malam ini.”
Klakson mobil sewaan berbunyi dua kali dari ujung gang. Sopirku sudah sampai. Aku mengambil tas selempangku tanpa menoleh lagi ke arah Marco yang masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, di antara dinding bercat hijau pupus yang kusam dan bau apek rumah sewaan yang tak pernah benar-benar jadi rumah.
Perjalanan darat ke Yogyakarta makan waktu hampir delapan jam melewati jalur selatan yang berkelok-kelok. Fajar baru merekah abu-abu keemasan di atas jembatan Kali Progo waktu mobil memasuki perbatasan kota. Di sana, tidak ada orang yang mengenal nama Kapten Marco Villareal. Tidak ada suster yang berbisik di belakang punggungku sambil menatap dengan rasa iba yang merendahkan. Tidak ada bau seragam militer yang disetrika kaku dengan uap pengharum murahan.
Tiga minggu pertama di bangsal bedah darurat Sardjito rasanya seperti menenggelamkan diri ke dalam air dingin yang menyegarkan. Beban kerjanya gila-gilaan—korban tabrakan bus malam, rujukan komplikasi diabetes dari pelosok Gunungkidul, anak balita yang tertelan biji salak—semuanya datang bertubi-tubi tanpa jeda untuk mikir. Tanganku yang biasanya cuma disuruh memeriksa tensi para perwira gendut di poliklinik kini kembali memegang pisau bedah dan jarum jahit sampai jariku kram di bawah lampu operasi yang panas. Di situlah aku menemukan diriku yang sebenarnya; Celina yang dokter, bukan Celina yang bayang-bayang.
Ponsel lamaku sengaja kumatikan total, kubuang kartu SIM-nya ke tempat sampah rest area di Kebumen. Aku beli nomor lokal baru yang cuma diketahui bagian kepegawaian rumah sakit dan ibuku sendiri di Klaten.
Namun rupanya Marco tidak menyerah secepat dugaanku.
Bulan kedua, waktu aku baru saja keluar dari ruang ICU anak sehabis memasang selang dada pada pasien trauma paru, seorang satpam lobi memanggilku. Katanya ada perwira dari luar kota yang menunggu di ruang tunggu direksi sejak jam tujuh pagi.
Aku sempat berpikir untuk kabur lewat pintu belakang instalasi gizi, tapi kemudian aku sadar: kalau aku terus lari, hidupku cuma bakal jadi pengulangan dari enam tahun yang kemarin. Aku membetulkan kerah jas dokterku yang sedikit kusut kena noda antiseptik, lalu melangkah tenang ke arah ruang tunggu kaca di dekat taman dalam.
Marco duduk di sana, tapi dia tidak memakai seragam dinasnya. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang biasa yang agak kedodoran di bahunya. Tubuhnya tampak menyusut beberapa kilogram; lingkaran hitam di bawah matanya tebal sekali, dan dagunya ditumbuhi janggut tipis yang tidak dicukur rapi—sesuatu yang haram bagi perwira sekelas dia. Di samping kursinya ada tas ransel kanvas lusuh.
Waktu melihatku masuk, dia langsung berdiri begitu cepat sampai lututnya menabrak meja kopi kayu jati, membunyikan cangkir teh porselen di atasnya.
“Celina,” suaranya serak, seperti orang yang tidak tidur tiga malam berturut-turut.
“Ada urusan medis apa, Pak Marco?” tanyaku tanpa duduk. Aku sengaja menjaga jarak tiga langkah di seberang meja.
Marco memandangku dari ujung rambut sampai ke bakiak karet rumah sakit yang kupakai. Matanya tampak bingung, seolah dia sedang melihat orang yang sama sekali berbeda dari perempuan yang biasanya menyambutnya dengan teh melati hangat di depan pintu barak.
“Sidang pertamanya minggu depan di Semarang,” katanya cepat-cepat, suaranya gemetar tipis. “Aku datang ke sini bukan buat nuntut kamu batalin. Aku cuma… aku sudah ngomong ke Ibu. Ibu sakit, Celina. Tensinya naik waktu tahu kamu pergi dan berkas pengadilannya sampai ke rumah dinas.”
“Ibu Lourdes sudah kutransfer uang obatnya untuk tiga bulan ke depan minggu lalu, langsung ke rekening pribadinya,” potongku datar. “Dan aku sudah kirim surat panjang ke beliau. Ibu paham kenapa aku pergi. Jangan pakai nama Ibu buat alasan kamu ada di sini.”
Marco tercekat. Dia meremas ujung kemeja batiknya sendiri. “Patricia sudah mundur,” gumamnya kemudian, nadanya terdengar putus asa sekali. “Keluarganya tahu soal surat panggilan dari mahkamah militer itu. Ayahnya marah besar. Penugasanku ke Canberra dibatalkan kemarin sore oleh komando pusat. Mereka mindahin aku ke pos perbatasan di Kalimantan Barat. Tugas teritorial biasa. Karier stafku selesai, Celina. Kamu puas?”
Aku memandangnya lama sekali. Mencari-cari sisa rasa nyeri, sisa dendam, atau mungkin secuil rasa iba yang biasanya gampang sekali muncul di hatiku kalau melihat orang menderita. Tapi anehnya, dadaku kosong. Kosong dan tenang seperti danau mati di puncak bukit kapur.
“Puas?” ulangku pelan. “Marco, kamu dipindah ke perbatasan bukan karena aku laporin kamu selingkuh. Kamu dipindah karena kamu sendiri yang bikin sandiwara murahan selama bertahun-tahun sampai kamu nggak bisa bedain mana tugas negara mana ambisi pribadi. Kamu mengorbankan istri sahmu sendiri demi koneksi politik yang bahkan nggak peduli waktu kamu jatuh. Kamu yang nulis jalan ceritamu sendiri, jangan limpahkan naskahnya ke aku.”
“Aku cinta sama kamu, Celina!” bentaknya tertahan. Beberapa staf administrasi yang lewat di koridor kaca menoleh kaget. Marco buru-buru menurunkan suaranya, memohon dengan kedua tangannya terkatup di depan dada. “Demi Tuhan, aku nggak pernah tidur sama Patricia. Nggak pernah ada apa-apa di antara kami selain basa-basi sialan itu. Aku cuma mau naik pangkat cepat biar keluargamu yang dokter-dokter spesialis itu nggak mandang rendah aku lagi! Kamu pikir aku nggak tahu waktu pamanmu dulu nyindir aku cuma perwira rendahan yang gajinya pas-pasan buat beli susu anak?”
Ternyata itu lukanya. Sebuah luka gengsi laki-laki muda dari keluarga biasa yang merasa kerdil di hadapan keluarga dokter terpandang, lalu menutupinya dengan kesombongan militeristik yang dingin sampai mengorbankan orang yang justru paling setia menemaninya makan tempe goreng di awal karier.
“Pamanku meninggal empat tahun lalu, Marco,” kataku dingin. “Dan kamu masih hidup di dalam omongannya sampai hari ini. Kamu ngerusak pernikahan kita bukan buat ngebuktiin sesuatu ke dia, tapi karena kamu sendiri yang merasa kerdil di dalam seragammu.”
Marco menatapku dengan mata nanar. Bibirnya bergetar, tapi tidak ada kata-kata yang keluar lagi dari mulutnya. Logika militernya, kelihaian diplomasinya di ruang perwira, semua taktik mengelaknya hancur total karena tidak ada lagi musuh yang sedang dia hadapi di depanku. Aku bukan lawannya. Aku cuma seseorang yang sudah memutuskan untuk turun dari panggung sandiwaranya.
“Sidang di Semarang nggak perlu kamu hadiri kalau kamu mau prosesnya cepat,” kataku sambil memeriksa jam tangan karetku; operasi usus buntu darurat sudah menunggu sepuluh menit lagi di lantai tiga. “Tanda tangani saja surat persetujuan verstek yang dikirim panitera ke alamat kodimmu. Biarkan semuanya selesai tanpa perlu ada drama perwira di koran lokal. Itu bantuan terakhir yang bisa kuberikan buat sisa kariermu di perbatasan.”
Aku berbalik badan, melangkah menuju pintu geser otomatis.
“Celina!” teriaknya dari belakang. Langkah kakinya tertahan oleh teguran sopan satpam rumah sakit yang mulai mendekat karena melihat keributan kecil itu. “Celina, apa nggak ada sedikit pun kesempatan buat kita mulai lagi dari nol di tempat baruku nanti? Hutan, pedalaman, cuma kita berdua kayak dulu lagi?”
Tanganku berhenti di gagang pintu kaca. Tanpa menoleh ke belakang, aku menjawabnya cukup keras agar bisa didengar di antara suara pendingin udara ruangan yang berdengung:
“Nol itu sudah lewat enam tahun yang lalu, Kapten. Sekarang nilainya sudah minus, dan aku bukan bank yang mau ngutangin sisa hidupku buat orang yang malu nyebut namaku di depan umum.”
Pintu kaca bergeser membuka dengan desis halus. Udara dingin lorong rumah sakit menyambutku, diiringi panggilan operator dari pengeras suara plafon yang meminta dr. Celina segera ke ruang bedah sentral.
Aku melangkah cepat di atas lantai vinil putih, setengah berlari kecil menyusuri koridor panjang yang dipenuhi bau iodin dan kesibukan hidup yang nyata. Di belakangku, suara derit sepatu kulit Marco perlahan-lahan menjauh, lalu hilang sepenuhnya ditelan hiruk-pikuk orang-orang yang sedang berjuang menyambung nyawa. Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, pundakku terasa begitu ringan saat mengikatkan tali masker bedah di belakang kepalaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *