Bau busuk itu bukan bau nanah biasa. Rasanya seperti daging basah yang ditinggal tiga hari di bawah terik matahari, bercampur anyir logam yang bikin pangkal lidahku kelu.
Garis-garis merah di betisku itu bukan cuma garis. Mereka berdenyut. Tiap kali jantungku memompa darah panas ke arah kaki, kulit di sana meregang tipis sampai kelihatan mengilap, nyaris transparan. Di tengahnya ada titik-titik hitam pekat, seperti tinta cumi yang meresap ke pori-pori daging, dingin dan mati rasa saat kucoba sentuh dengan ujung kuku.
Mati rasa total. Tapi sejengkal di atasnya, rasa sakitnya membakar seperti disiram minyak mendidih.
Pukul 01.14 pagi. Layar ponselku remang-remang menunjukkan sisa baterai sembilan belas persen.
Di ruang tengah, suara dengkuran Raka terdengar teratur, berat, dan tenang luar biasa. Suara seorang pria yang merasa hidupnya baik-baik saja setelah seharian mengabaikan istrinya yang sekarat. Laptopnya masih menyala di meja kerja, menyisakan pendar biru redup ke arah lorong dapur.
Kalau aku berdiri tegak sekarang, engsel kakiku pasti remuk. Aku tahu itu. Rasanya tulang keringku melunak.
Jadi aku merangkak.
Kutinggalkan sandal tidurku. Aku menyeret lutut kiri dan siku di atas ubin marmer dingin, menahan napas setiap kali dengkuran Raka tiba-tiba terhenti sejenak. Begitu sampai di pintu samping dekat garasi, tasku yang tergeletak di kursi makan kutarik paksa hingga talinya putus sebagian. Dompet, kartu asuransi, KTP. Itu saja yang kuingat. Kunci mobil ada di saku celana Raka—aku tak mungkin mengambilnya.
Pintu samping terbuka dengan bunyi decit tipis. Angin malam Jakarta yang lembap langsung menampar wajahku yang basah oleh keringat dingin.
Taksi online pertama menolak pesanan. Jam segini di Kelapa Gading, jarang ada driver yang mau ambil orderan jemput di gang perumahan sepi. Begitu mobil Avanza perak akhirnya berhenti di depan pagar, si bapak sopir sempat mengunci pintu dari dalam. Dia panik melihat perempuan berjalan pincang terseok-seok sambil muntah air liur bening di trotoar.
“Mbak, mabuk ya?” tanyanya dari kaca yang turun sedikit.
“Pak… tolong. IGD RS Mitra. Kaki saya busuk. Saya bayar tiga kali lipat di tujuan, tolong buka pintunya…” suaraku tercekat di tenggorokan, parau dan tipis.
Melihat wajahku yang pucat seperti kapur dan bau anyir yang menguar dari perban darurat di kakiku, dia langsung membuka kunci pintu.
Sepanjang jalan, kepalaku menghantam kaca jendela mobil berkali-kali setiap kali mobil mengerem. Pandanganku kabur, lampu-lampu jalanan Jalan Boulevard Barat berubah jadi garis-garis kuning panjang tak beraturan. Mataku berkunang-kunang, dan satu hal yang terus terngiang di kepalaku adalah nada suara mertuaku minggu lalu: “Orang dulu pakai ini langsung kering, Nisa. Jangan suka suuzon sama orang tua.”
Kering apanya. Kaki ini membusuk hidup-hidup.
Suara roda brankar berdecit di lantai semen poles IGD. Bau karbol rumah sakit menindih bau busuk dari tubuhku.
Lampu operasi di ruang tindakan menyilaukan mata. Seorang dokter muda perempuan dengan tanda pengenal dr. Vania memeriksa pergelangan kakiku menggunakan gunting bedah untuk menyibak sisa kain kasa yang sudah lengket ke daging mati. Begitu perbannya lepas, dia spontan menarik kepalanya ke belakang, hidungnya berkerut di balik masker ganda.
“Siapa yang kasih ini?” suaranya berubah tajam, sama sekali tidak ada keramahan standar dokter IGD.
“Mertua saya… pasta herbal…” aku menjawab di antara napas yang tersengal.
“Terus hitam-hitam yang menjalar ini, sejak kapan?”
“Dua hari lalu cuma titik kecil. Suami saya bilang jangan dibawa ke rumah sakit dulu, katanya tunggu reda demamnya.”
Tangan dokter itu berhenti memeriksa. Dia menatap asistennya, lalu menatapku lekat-lekat.
“Mbak tahu ini apa?”
Aku menggeleng lemah.
“Ini bukan infeksi bakteri biasa yang butuh waktu lama untuk membusuk. Jaringan ini mati cepat karena ada paparan zat kaustik kuat dicampur senyawa logam berat, kemungkinan merkuri atau arsenik mentah yang bikin pembuluh darah perifer mbak langsung nekrosis total. Siapa yang oleskan ke lukanya waktu pertama kali?”
Darahku mendadak dingin, jauh lebih dingin dari demam yang menyengat kepalaku.
“Suamiku yang memaksaku. Dia yang ratakan pastanya pakai tangannya sendiri… tapi dia pakai sarung tangan plastik waktu itu.”
Kalimat terakhir itu keluar begitu saja dari mulutku. Sebuah detail kecil yang selama berhari-hari ini tertimbun oleh rasa sakitku sendiri. Raka memakai sarung tangan dapur saat mengoleskannya. Katanya biar higienis. Biar tangannya tidak kotor.
Dokter Vania langsung mundur dua langkah. Tatapannya pada perawat senior di sebelahnya sudah cukup bicara.
“Kunci pintunya dari dalam,” perintah dokter itu dengan suara ditekan rendah tapi mutlak. “Ambil sampel swab jaringan, kirim cito ke toksikologi dan forensik klinik. Terus telepon sekuriti depan, bilang jangan izinkan siapa pun yang mengaku keluarga pasien atas nama Annisa masuk ke bilik ini sebelum polisi datang.”
“Dok?” suaraku tercekat. “Maksudnya apa?”
“Mbak Nisa,” dokter itu mencondongkan tubuhnya, berbicara pelan tepat di telinga kiriku sambil tangannya memasang jarum infus kaliber besar di lenganku, “kalau mbak telat tiga jam lagi, bakterinya masuk ke sirkulasi sistemik, mbak kena sepsis syok dan meninggal dalam tidur di rumah itu. Dan luka ini… tidak ada racikan herbal tradisional yang punya senyawa perusak endotel secepat ini tanpa sengaja dicampur zat kimia murni.”
Pintu geser IGD dikunci dengan bunyi klik yang keras.
Di luar, gerimis subuh mulai turun membasahi kaca ruang tunggu. Dan ponselku di dalam tas yang tergeletak di nakas mulai bergetar tanpa henti. Nama di layarnya berkedip: Mas Raka.
Tujuh belas panggilan tak terjawab.
Pukul 04.30. Panggilan kedelapan belas masuk, lalu terputus sendiri.
Di kepala ranjangku, dua orang polisi berseragam dari Polsek Kelapa Gading sudah berdiri mencatat keterangan dr. Vania. Seorang bintara muda memotret kakiku dari berbagai sudut. Kilatan lampu blitz kamera ponsel dinasnya terasa menyengat tiap kali menyambar kulitku yang menghitam.
“Kita amankan dulu rumahnya, Dok?” tanya polisi yang lebih tua, Aiptu Hendra namanya.
“Segera, Pak. Sampel botolnya masih ada di rumah itu menurut keterangan pasien. Dan tolong, kalau suaminya datang ke sini, jangan biarkan dia menyentuh pasien atau membawa barang apa pun.”
Aku memejamkan mata. Kepalaku pusing bukan main saat cairan antibiotik spektrum luas dingin mulai mengalir lewat pembuluh darah tanganku, beradu keras dengan racun yang membakar.
Semua puzzle yang selama ini kuabaikan mendadak tersusun rapi di kepalaku.
Polis asuransi jiwa senilai satu koma dua miliar yang dipindahkan atas nama Raka tiga bulan lalu. Alasan dia memintaku menandatangani klausul tambahan tanpa membaca teliti, katanya perpanjangan manfaat kantor. Sikapnya yang mendadak sangat peduli pada “niat baik” ibunya. Cara dia menyita kunci mobilku sejak malam ketiga demamku memuncak. Dan yang paling gila: laptopnya yang menyala semalam. Grafik yang kutatap sekilas di layarnya bukan grafik pekerjaan kantor.
Itu grafik fluktuasi portofolio kripto yang ambruk di angka minus delapan puluh persen. Dia butuh likuiditas cepat, tanpa jejak kriminal yang mencolok seperti racun tikus di dalam makanan yang gampang dilacak autopsi biasa. Infeksi luka terbuka akibat “kelalaian pengobatan mandiri” adalah alibi paling sempurna di mata hukum.
“Mbak Annisa,” suara Aiptu Hendra membuyarkan lamunanku. “Bisa kasih tahu kami posisi botol kaca itu disimpan di mana?”
“Di laci meja rias kamar utama,” bisikku. Tenggorokanku perih. “Di balik tumpukan kotak perhiasan saya.”
Dua jam kemudian, pintu lobi rumah sakit tidak lagi sepi.
Raka datang.
Bukan dengan wajah panik seorang suami yang kehilangan istrinya di tengah malam, tapi dengan langkah tergesa dan napas memburu. Dari balik tirai kaca transparan IGD yang kini dijaga dua petugas provos, aku bisa melihatnya berdebat kasar dengan perawat di meja administrasi. Dia menuntut untuk segera membawaku pulang dengan alasan “kami mau rujuk ke pengobatan alternatif keluarga.”
Tapi langkahnya terhenti kaku saat dua polisi berpakaian preman melangkah keluar dari koridor dalam, langsung mencekal kedua lengannya dari belakang.
Wajah Raka memutih. Matanya liar mencari celah untuk kabur, tapi pintu kaca otomatis rumah sakit sudah ditahan sekuriti. Dari sakunya, polisi menemukan sebuah kunci mobil, beberapa lembar cetakan polis asuransi yang baru diambil dari laci kerjanya, dan satu hal yang bikin aku nyaris pingsan di atas kasur IGD: tiket penerbangan satu arah ke Singapura untuk jadwal keberangkatan sore nanti atas namanya sendiri.
Dia bahkan tidak berniat menguburku dengan layak. Dia cuma berniat meninggalkanku membusuk sendirian di kamar itu sampai tetangga mencium baunya.
Operasi debridemen darurat berlangsung selama empat jam penuh.
Mereka harus mengikis seluruh lapisan kulit mati dan sebagian otot di betis kananku yang sudah mengalami nekrosis sebelum racun itu menembus ke periosteum tulang. Rasa sakit pasca-operasi jangan ditanya. Dua hari pertama setelah efek bius total hilang, tubuhku menggeliat kesakitan sampai perawat harus mengikat pergelangan tanganku agar aku tidak merobek perban baru.
Tapi di hari kelima, untuk pertama kalinya setelah seminggu neraka itu, termometer menunjukkan angka 36,8 derajat Celsius.
Demamku hilang.
Dokter Vania masuk membawa rekam medis digitalnya, menarik kursi di samping ranjangku tanpa jubah steril lagi.
“Hasil uji laboratorium forensik sudah keluar tadi pagi,” katanya tenang, menyodorkan selembar kertas hasil cetak. “Bukan ramuan herbal. Itu pasta arsenik trioksida dosis rendah dicampur asam sulfat pekat yang diencerkan dengan minyak jarak. Trik lama untuk mempercepat pembusukan luka luar seolah-olah terjadi infeksi bakteri gangren alami. Untung kamu kabur, Nisa. Sedikit saja racun itu masuk ke pembuluh vena dalam, ginjalmu gagal total.”
Ibu mertuaku, Bu Ratna, ditangkap di rumahnya di Cimahi siang itu juga. Ternyata wanita tua itu bukan sekadar perantara lugu; dia tahu persis apa isi botol itu karena racikan itu dipesan dari dukun sekaligus pembuat pestisida ilegal langganannya untuk membantu anaknya melunasi utang judi online dan spekulasi pasar berjangka yang hampir menyita rumah keluarga mereka.
Proses hukum berjalan cepat dan tanpa ampun.
Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua belas tahun penjara untuk Raka atas percobaan pembunuhan berencana, sementara ibunya diganjar tujuh tahun karena turut serta membantu tindak pidana. Aku hadir di persidangan terakhir dengan menggunakan kruk kayu, memakai rok panjang yang menutupi bekas luka cangkok kulit di betis kananku.
Saat Raka digiring petugas melewatinya, kepalanya tertunduk dalam. Tak berani sedikit pun menatap mataku. Aku bahkan tidak merasakan amarah lagi yang tersisa di dadaku—cuma ada kelegaan aneh yang luas, sejuk, seperti menghirup udara pertama kali setelah nyaris tenggelam di air lumpur.
Gugatan cerai diputus verstek tiga bulan kemudian. Rumah di Kelapa Gading yang terbukti dibeli menggunakan uang muka dari tabunganku sebelum menikah berhasil diselamatkan lewat penetapan sita marital dan langsung kujual tanpa sisa kenangan.
Satu setengah tahun berlalu.
Sekarang, kakiku memang tidak pernah kembali mulus seperti dulu. Ada bekas parutan kulit cangkok yang teksturnya mirip kulit jeruk purut di sepanjang betis bawah hingga tumit. Kalau cuaca mendung dingin menusuk, ototnya kadang masih berdenyut kaku.
Tapi pagi ini, di sebuah ruko dua lantai berlantai semen ekspos di bilangan Bintaro, aku tidak butuh kruk lagi.
“Mbak Nisa, kiriman biji kopi dari Flores sudah sampai tiga karung, mau ditaruh di gudang belakang atau langsung roasting?”
Suara barista mudaku memecah keheningan pagi. Kedai kopi kecil yang kubangun dari sisa penjualan rumah itu mulai berbau harum: aroma roti panggang kayu manis dan uap espresso yang pekat. Hidupku sekarang sederhana, sangat biasa, tanpa ada lagi orang yang mengatur napas atau menyuruhku mengabaikan rasa sakit demi menjaga perasaannya.
Kadang, saat sedang menyapu lantai kedai sendirian sebelum toko buka, aku suka berhenti sejenak menatap betisku yang berparut.
Bekas luka itu jelek sekali. Tapi tiap kali melihatnya, aku tidak lagi teringat pada bau busuk pasta racun itu. Aku cuma melihat satu hal: tanda bahwa pada malam paling kelam dalam hidupku, tubuhku yang sekarat masih punya naluri luar biasa kuat untuk merangkak keluar dari kematian dan menyelamatkan dirinya sendiri. Dan itu cukup.
