SAYA TERBANG KE PARIS BERSAMA SELINGKUHAN YANG HAMIL TUA, YAKIN ISTRI SAH SAYA MASIH BERADA DI RUMAH MEWAH KAMI DI

Ratih tidak segera melanjutkan kalimatnya.

Dan justru itulah yang membuatku semakin takut.

Tangannya masih berada di atas nampan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seorang istri yang baru saja menemukan suaminya duduk mesra bersama wanita lain yang sedang hamil delapan bulan.

Celine menggenggam lenganku.

“Mas Ardi… sebenarnya siapa dia?”

 

 

 

 

Aku membuka mulut.

Tidak ada suara yang keluar.

Ratih tersenyum tipis.

“Kenalkan saja aku, Mas.”

Nada suaranya lembut.

Tetapi aku mengenal Ratih sebelas tahun.

Aku tahu betul.

Semakin pelan dia bicara, semakin buruk keadaan yang sedang kuhadapi.

“Ratih…”

Akhirnya namanya keluar dari mulutku.

Wajah Celine langsung berubah.

Dia melepaskan tangannya dari lenganku.

“Ratih?”

Matanya bergerak cepat antara aku dan wanita berseragam pramugari di depan kami.

“Maksud Mas… istri Mas?”

Aku menelan ludah.

Ratih mengangguk kecil.

“Saya Ratih Prameswari.”

Celine langsung pucat.

“Tapi Mas bilang…”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jangan.”

Ratih memotongku.

Satu kata.

Tidak keras.

Namun cukup membuatku diam.

Dia menarik napas pendek, lalu melirik ke arah kabin.

“Ini pesawat. Ada penumpang lain. Aku tidak berniat membuat keributan.”

Aku semakin bingung.

“Kenapa kamu memakai seragam itu?”

Pertanyaan bodoh.

Tapi hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

Ratih memandang seragamnya sendiri, lalu tertawa kecil.

“Mas masih ingat pekerjaan pertamaku sebelum menikah?”

Aku terdiam.

Lalu ingatan lama muncul.

Ratih pernah menjadi awak kabin.

Hanya dua tahun, sebelum ayahnya meminta dia kembali membantu bisnis keluarga.

“Aku diminta ikut penerbangan ini untuk sebuah program khusus perusahaan dan yayasan,” katanya. “Kebetulan sekali, bukan?”

Kebetulan.

Entah kenapa kata itu terdengar seperti ancaman.

Celine mulai gelisah.

“Bu Ratih, saya bisa menjelaskan…”

Ratih menatapnya.

“Tidak perlu.”

“Tapi saya…”

“Aku tidak datang untuk bertengkar denganmu.”

Ratih kemudian menarik sebuah amplop tipis dari saku seragamnya.

Dia meletakkannya di meja.

Di depan Celine.

Aku langsung menatap amplop itu.

“Apa itu?”

Ratih tidak menjawabku.

Dia justru berkata kepada Celine,

“Silakan buka.”

Celine ragu beberapa detik sebelum mengambilnya.

Tangannya gemetar.

Dari dalam amplop, dia mengeluarkan beberapa lembar kertas.

Aku tidak bisa melihat semuanya.

Namun aku mengenali satu logo laboratorium di sudut halaman.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Apa ini?”

Celine membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Bukan…”

Bibirnya bergerak.

“Tidak mungkin.”

Aku merebut salah satu kertas.

Ada nama Celine.

Ada tanggal pemeriksaan.

Ada beberapa catatan medis.

Dan di bagian bawah terdapat sesuatu yang membuat pikiranku kosong beberapa detik.

Golongan darah.

Catatan riwayat pemeriksaan.

Kemudian satu nama laki-laki yang sama sekali tidak kukenal.

Raka Mahendra.

“Siapa Raka?”

Aku menoleh kepada Celine.

Dia tidak menjawab.

“Celine.”

Tanganku mulai dingin.

“Siapa Raka Mahendra?”

Celine menunduk.

Ratih berdiri tanpa ekspresi.

Aku menatapnya lagi.

“Kamu bilang ada sesuatu tentang bayi ini. Maksudmu apa?”

Ratih menarik napas.

“Aku tidak akan menyimpulkan sesuatu yang belum dibuktikan dengan tes resmi setelah bayi lahir.”

Dia menunjuk dokumen di tanganku.

“Tapi mungkin sekarang kamu mengerti kenapa sebaiknya jangan terlalu cepat menyebut anak itu milikmu.”

Aku menatap Celine.

“Celine?”

Air matanya mulai turun.

“Mas…”

“Siapa Raka?”

Dia menutup wajah.

Dan saat itulah aku tahu.

Ada cerita lain.

Cerita yang selama ini tidak pernah kuketahui.

“Dia mantanku.”

Jawabannya nyaris tak terdengar.

“Mantan?”

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

“Kapan?”

Celine diam.

“Kapan?!”

Beberapa penumpang menoleh.

Ratih langsung menatapku tajam.

“Pelankan suara.”

Aku mengepalkan tangan di atas paha.

Celine mengusap air matanya.

“Kami masih bertemu beberapa kali…”

“Kapan?”

“Delapan bulan lalu.”

Dunia seperti berhenti bergerak.

Delapan bulan.

Aku melihat perutnya.

Lalu kertas di tanganku.

Kemudian wajahnya lagi.

“Tapi kamu bilang…”

“Aku tidak tahu, Mas!”

Untuk pertama kalinya Celine meninggikan suara.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku bersandar ke kursi.

Semua yang tadi terasa seperti kemenangan mendadak tampak konyol.

Paris.

Kelas bisnis.

Kalung berlian.

Hotel yang sudah kupesan.

Rencana membeli apartemen kecil untuk Celine setelah bayi lahir.

Bahkan nama anak itu sudah kupilih.

Aldo.

Aku pernah berbisik pada perut Celine hampir setiap malam.

“Halo, Aldo. Papa di sini.”

Sekarang dua kata itu terasa menampar wajahku sendiri.

Ratih mengambil kembali nampannya.

Sebelum pergi, dia menatapku.

“Mas Ardi.”

Aku mengangkat kepala.

“Kita bicara setelah mendarat.”

“Ratih…”

“Aku masih bekerja.”

Lalu dia pergi.

Begitu saja.

Aku bahkan berharap dia marah.

Menamparku.

Menyiramkan minuman.

Apa pun.

Tapi tidak.

Ketika seseorang yang paling mengenalmu tidak lagi merasa perlu berteriak, rupanya itu jauh lebih menakutkan.

Sepanjang penerbangan, Celine dan aku hampir tidak bicara.

Dia menangis beberapa kali.

Aku hanya menatap jendela.

Tidak ada lagi foto.

Tidak ada lagi rencana restoran romantis di Paris.

Kalung Rp180 juta di leher Celine kini tampak seperti lelucon mahal.

Beberapa jam kemudian, Celine berbisik,

“Mas…”

Aku tidak menoleh.

“Maaf.”

Aku tertawa hambar.

Lucu.

Aku marah karena dibohongi oleh selingkuhanku.

Padahal di Jakarta ada seorang wanita yang sudah sebelas tahun kupanggil istri, dan aku melakukan hal yang jauh lebih buruk kepadanya.

Untuk pertama kalinya, aku merasakan betapa menjijikkannya posisi yang sedang kutempati.

Bukan karena Celine.

Karena diriku sendiri.

Pesawat akhirnya mendarat di Paris.

Saat roda menyentuh landasan, tidak ada rasa bahagia dalam dadaku.

Aku justru ingin pesawat berputar kembali ke Jakarta.

Namun Ratih sudah menungguku.

Bukan di pintu pesawat.

Bukan pula di area bagasi.

Dia menungguku di sebuah ruang privat dekat lounge bandara setelah tugasnya selesai.

Kini seragam pramugarinya sudah berganti dengan setelan sederhana berwarna krem.

Rambutnya tetap disanggul.

Di meja ada tiga cangkir kopi.

Ratih bahkan memesankan satu untuk Celine.

Hal kecil itu justru membuatku semakin malu.

Kami duduk bertiga.

Sunyi.

Akhirnya aku berkata,

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Empat bulan.”

Aku terperanjat.

“Empat bulan?”

Ratih mengangguk.

“Tagihan kartu perusahaan.”

Kalung itu.

Hotel.

Restoran.

Apartemen sewaan.

Semua jejak yang kukira sudah kusembunyikan.

“Kamu tahu semuanya?”

“Tidak semuanya.”

Ratih mengaduk kopinya.

“Aku juga tidak ingin tahu semuanya.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada makian.

Celine tiba-tiba berkata,

“Bu Ratih, saya minta maaf.”

Ratih menatapnya.

“Aku tidak tahu Mas Ardi sudah menikah saat pertama kali kami dekat.”

Aku langsung menoleh.

“Celine!”

Dia menangis.

“Tapi kemudian aku tahu.”

Ratih tetap diam.

Celine melanjutkan dengan suara patah.

“Setelah tiga bulan. Saya menemukan foto keluarga di ponselnya.”

Ratih memejamkan mata sebentar.

“Dan kamu tetap melanjutkan?”

Celine menunduk.

“Iya.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Hanya satu kata itu.

Iya.

Ratih mengangguk.

“Aku menghargai setidaknya kamu tidak berbohong sekarang.”

Lalu dia menoleh kepadaku.

“Mas Ardi, aku sudah menyiapkan gugatan cerai.”

Aku tahu kalimat itu akan datang.

Tetap saja dadaku terasa kosong ketika mendengarnya.

“Ratih…”

“Aku tidak datang ke Paris untuk mempermalukanmu.”

“Berikan aku kesempatan.”

“Kesempatan untuk apa?”

Aku tidak mampu menjawab.

Memperbaiki pernikahan?

Membuktikan bahwa aku masih mencintainya?

Menghapus dua tahun perselingkuhan?

Semua terdengar seperti kalimat murahan.

Ratih tersenyum lelah.

“Mas, kita sudah bukan anak muda.”

Dia menatapku lurus.

“Aku tidak membutuhkan janji besar. Aku hanya ingin hidup tanpa harus bertanya setiap malam apakah orang yang tidur di sebelahku sedang berbohong.”

Aku menunduk.

Lalu Ratih mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Tapi aku tidak akan mengambil semuanya darimu.”

Aku mengangkat wajah.

“Apa?”

“Bagianmu di perusahaan akan diselesaikan secara adil sesuai perjanjian dan hukum. Rumah keluarga tetap milikku karena itu aset keluarga sebelum kita menikah.”

Dia berhenti sebentar.

“Dan uang perusahaan yang kamu gunakan untuk kepentingan pribadi harus dikembalikan.”

Kalung.

Perjalanan.

Beberapa hadiah.

Jumlahnya besar.

Aku mengangguk.

“Aku kembalikan.”

Ratih tampak sedikit terkejut.

Mungkin dia mengira aku akan berdebat.

Aku tidak punya tenaga lagi.

Celine kemudian memegang perutnya.

Wajahnya berubah.

“Aduh…”

Kami berdua menoleh.

“Celine?”

Dia menarik napas.

“Perutku…”

Beberapa detik kemudian dia meringis lagi.

Ratih langsung berdiri.

“Kontraksi?”

“Saya tidak tahu.”

Ratih memeriksa jam.

“Kapan terakhir terasa seperti ini?”

Celine menjawab terbata-bata.

Ratih tidak membuang waktu.

Dia memanggil petugas bandara.

Aku berdiri seperti orang bodoh.

“Mas Ardi, ambil tasnya.”

Nada Ratih tegas.

Aku menurut.

Di tengah semua kekacauan itu, justru istriku yang kusakiti menjadi orang paling tenang.

Celine dibawa ke rumah sakit.

Aku ikut.

Ratih sebenarnya bisa pergi.

Dia bahkan sudah memesan kamar hotel terpisah.

Namun ketika Celine mulai panik karena tidak memahami beberapa prosedur di rumah sakit, Ratih tetap tinggal untuk membantu komunikasi dengan staf.

Aku duduk di lorong.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tidak ada yang bisa kubeli untuk memperbaiki keadaan.

Tidak ada kartu kredit yang mampu menghapus rasa malu.

Tidak ada jam tangan mahal.

Tidak ada tiket kelas bisnis.

Hanya kursi rumah sakit yang keras dan suara langkah orang-orang asing.

Sekitar dua jam kemudian, dokter keluar.

Kontraksi Celine ternyata belum menandakan persalinan aktif. Kondisinya stabil, tetapi dia disarankan beristirahat dan membatalkan agenda wisata yang melelahkan.

Aku menghela napas panjang.

Ratih berdiri di sampingku.

“Dia baik-baik saja.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Ratih mengambil tasnya.

“Aku pergi.”

“Ratih.”

Dia berhenti.

Aku ingin mengatakan jangan tinggalkan aku.

Namun kalimat itu terasa egois.

Jadi aku mengatakan sesuatu yang seharusnya kukatakan sejak tadi.

“Maaf.”

Ratih menatapku lama.

“Maaf tidak selalu berarti semuanya kembali seperti semula.”

“Aku tahu.”

Dan untuk sekali ini…

aku benar-benar tahu.

Tiga minggu kemudian kami kembali ke Jakarta secara terpisah.

Aku tidak lagi tinggal di rumah Ratih.

Aku menyewa apartemen kecil di Jakarta Selatan.

Tidak ada sopir.

Tidak ada asisten pribadi.

Aku menjual salah satu mobil untuk mengembalikan sebagian uang perusahaan yang kupakai.

Kalung Celine juga dikembalikan.

Anehnya, kehilangan barang-barang itu tidak terasa terlalu menyakitkan.

Yang berat justru malam.

Ketika apartemen sunyi dan tidak ada lagi kebohongan yang harus kujaga.

Pada malam-malam seperti itu, aku baru sadar berapa banyak hal kecil dari Ratih yang dulu kuanggap membosankan.

Cara dia selalu mematikan lampu dapur sebelum tidur.

Cara dia menyimpan obat sakit kepala di laci kedua.

Cara dia mengomel karena aku meninggalkan kaus kaki sembarangan.

Sebelas tahun.

Ternyata rumah bukan mansion.

Rumah adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang baru terasa berharga setelah tidak ada.

Sebulan kemudian, Celine melahirkan seorang bayi laki-laki.

Aku datang ke rumah sakit.

Raka juga datang.

Kami bertemu pertama kali di lorong.

Dia lebih muda dariku.

Tidak ada perkelahian.

Tidak ada adegan saling dorong.

Kami hanya dua laki-laki yang sama-sama menunggu sebuah jawaban.

Setelah kondisi bayi memungkinkan, pemeriksaan dilakukan melalui prosedur yang tepat.

Beberapa hari kemudian hasilnya keluar.

Aku membaca dokumen itu sendirian.

Bayi tersebut bukan anak biologisku.

Aku duduk lama.

Aneh sekali.

Aku sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu.

Tetap saja ada rasa kehilangan.

Bukan kehilangan seorang anak yang pernah kumiliki.

Lebih tepatnya kehilangan masa depan yang sempat kubayangkan.

Aku menangis.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Raka ternyata ayah biologis bayi itu.

Dia memilih bertanggung jawab.

Hubungannya dengan Celine tidak langsung membaik seperti cerita dalam sinetron. Mereka bahkan sering bertengkar.

Namun mereka sepakat memusatkan perhatian pada anak terlebih dahulu.

Aku sendiri memutus hubungan dengan Celine.

Bukan dengan kebencian.

Kami berdua sudah terlalu banyak membuat keputusan buruk.

Menambah satu kebencian baru rasanya tidak akan memperbaiki apa pun.

Enam bulan berlalu.

Perceraianku dengan Ratih selesai.

Kami keluar dari pengadilan pada hari yang panas.

Ratih mengenakan kemeja putih sederhana.

Aku memandangnya.

“Jadi… selesai.”

“Iya.”

Dia mengangguk.

Aku tersenyum kecil.

“Terima kasih karena kamu tidak menghancurkanku.”

Ratih menatapku.

“Aku pernah marah sekali.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Dia tertawa kecil untuk pertama kalinya.

“Aku pernah ingin mengambil semua pakaianmu dan membuangnya ke kolam ikan.”

Aku ikut tertawa.

“Kenapa tidak dilakukan?”

“Kasihan ikannya.”

Kami tertawa.

Aneh.

Setelah semua yang terjadi, justru di tangga pengadilan itulah kami bisa tertawa seperti dua manusia biasa.

Sebelum pergi, Ratih berkata,

“Mas Ardi.”

“Ya?”

“Hiduplah yang benar.”

Hanya itu.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada musik.

Tidak ada keajaiban yang membuat kami kembali bersama.

Ratih masuk mobil.

Aku berdiri melihat mobil itu pergi.

Dan untuk pertama kalinya aku tidak mengejarnya.

Dua tahun kemudian, hidup kami benar-benar berbeda.

Ratih mengembangkan yayasannya menjadi program pendidikan untuk perempuan muda yang ingin bekerja di industri penerbangan dan perhotelan. Sesekali fotonya muncul di berita bisnis.

Aku?

Aku membangun usaha kecil di bidang distribusi produk lokal.

Jauh lebih kecil dibanding perusahaan keluarga Ratih.

Kantorku hanya dua lantai.

Aku bahkan masih hafal nama petugas kebersihan dan satpam.

Anehnya, aku lebih tenang.

Suatu sore, aku menghadiri acara yayasan sebagai salah satu pemasok.

Di sana aku melihat Ratih.

Dia sedang berbicara dengan seorang pria berkacamata yang kukenal sebagai dokter relawan yayasan.

Mereka tertawa.

Dulu mungkin aku akan cemburu.

Hari itu tidak.

Aku justru merasa lega melihat Ratih bisa tertawa tanpa beban.

Dia melihatku dari kejauhan.

Kami saling mengangguk.

Cukup.

Setelah acara selesai, seorang perempuan dari timku menghampiriku.

Namanya Maya.

Dia sudah bekerja denganku hampir setahun.

“Pak Ardi, mobil Bapak belum datang?”

“Jangan panggil Pak. Saya jadi merasa tua.”

“Memang sudah tua.”

Aku tertawa.

Maya ikut tertawa.

Tidak ada musik romantis.

Tidak ada cinta pada pandangan pertama.

Hubungan kami tumbuh sangat pelan setelah itu.

Bahkan terlalu pelan.

Kami minum kopi.

Bertengkar soal pekerjaan.

Pernah tidak saling bicara dua hari gara-gara aku membatalkan makan malam karena rapat.

Bedanya, kali ini aku tidak berbohong.

Ketika aku salah, aku bilang salah.

Ketika ingin pergi, aku bilang ke mana.

Ketika takut, aku mencoba mengakuinya.

Hal-hal sederhana yang dulu ternyata terlalu sulit kulakukan.

Setahun kemudian aku menikahi Maya dalam acara kecil di Bogor.

Ratih tidak datang.

Tapi pagi sebelum akad, sebuah paket tiba.

Isinya tanaman kecil dalam pot.

Tidak ada hadiah mahal.

Hanya kartu pendek.

“Semoga kali ini Mas benar-benar tahu cara merawat sesuatu yang ingin dipertahankan.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Maya berdiri di sampingku.

“Dari siapa?”

Aku menyerahkan kartunya.

Dia membaca.

Lalu tersenyum.

“Mantan istri?”

“Iya.”

“Cerdas juga.”

Aku tertawa.

Tanaman itu kami letakkan di dekat jendela rumah.

Sekarang, hampir empat tahun setelah penerbangan ke Paris itu, tanaman tersebut masih hidup.

Begitu pula kehidupan kami.

Tidak sempurna.

Kadang berantakan.

Kadang Maya marah karena aku bekerja terlalu lama.

Kadang aku kesal karena dia memindahkan barang-barang tanpa memberi tahu.

Kami pernah tidur saling membelakangi setelah bertengkar.

Paginya tetap sarapan bersama.

Tidak ada mansion.

Tidak ada kalung Rp180 juta.

Tidak ada kursi kelas bisnis yang kupakai untuk memamerkan kehidupan palsu.

Dan anehnya…

aku tidak merindukannya.

Beberapa bulan lalu aku bertemu Ratih lagi di sebuah acara.

Dia datang bersama suaminya.

Ya.

Ratih menikah lagi.

Dengan dokter berkacamata yang kulihat waktu itu.

Kami berbicara sebentar.

“Bahagia?” tanyanya.

Aku melihat Maya yang sedang mengambil makanan di meja prasmanan.

“Belajar.”

Ratih tertawa.

“Jawaban bagus.”

Aku bertanya balik.

“Kamu?”

Dia melihat suaminya yang sedang membantu seorang anak kecil mengambil minuman.

“Tenang.”

Satu kata.

Tapi aku mengerti.

Kami berdiri berdampingan beberapa detik.

Dua orang yang pernah hidup serumah sebelas tahun.

Pernah saling mencintai.

Pernah saling melukai.

Sekarang berdiri tanpa dendam.

Sebelum berpisah, Ratih berkata,

“Mas masih ingat penerbangan ke Paris?”

Aku mengerang.

“Jangan diingatkan.”

Dia tertawa.

Aku ikut tertawa.

Kemudian wajahnya berubah sedikit serius.

“Aku sebenarnya hampir tidak jadi ikut penerbangan itu.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Jadwalku berubah sehari sebelumnya.”

Aku terdiam.

Ratih mengangkat bahu.

“Jadi mungkin memang ada beberapa hal dalam hidup yang harus kita lihat dengan mata sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Dia pamit.

Aku memandangnya berjalan kembali kepada suaminya.

Kemudian Maya datang membawa dua piring.

“Ngobrol apa?”

“Masa lalu.”

“Seram?”

“Lumayan.”

Dia memberikan satu piring kepadaku.

Aku menerimanya.

Lalu kami berjalan mencari meja kosong.

Sesederhana itu.

Kadang aku masih memikirkan lelaki yang duduk di kursi kelas bisnis menuju Paris bertahun-tahun lalu.

Lelaki yang merasa paling pintar karena berhasil menipu istrinya.

Lelaki yang mengira uang bisa membeli kebahagiaan.

Aku ingin kembali beberapa menit ke masa itu.

Bukan untuk mengubah kejadian.

Bukan.

Aku hanya ingin berdiri di depan dirinya sendiri dan berkata,

“Nikmati senyummu sekarang, Ardi. Sebentar lagi seorang pramugari akan berjalan ke arahmu… dan setelah itu, seluruh hidupmu tidak akan pernah sama lagi.”

Mungkin dia tidak akan percaya.

Aku pun dulu tidak akan percaya.

Karena terkadang akhir yang bahagia bukan berarti mendapatkan kembali semua yang sudah kita rusak.

Ratih tidak kembali kepadaku.

Anak Celine bukan anakku.

Rumah mewah itu bukan lagi rumahku.

Pernikahan sebelas tahun kami benar-benar berakhir.

Tetapi Ratih menemukan ketenangannya.

Celine dan Raka belajar menjadi orang tua bagi putra mereka.

Aku mendapatkan kesempatan untuk membangun hidup dari awal tanpa bersembunyi di balik kebohongan.

Kami tidak memperoleh akhir yang pernah kami rencanakan.

Kami mendapatkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Kesempatan untuk berhenti saling menyakiti.

Malam itu setelah acara selesai, aku pulang bersama Maya.

Hujan turun tipis di Jakarta.

Ketika mobil berhenti di depan rumah, Maya sudah tertidur di kursi sebelah.

Aku tidak langsung membangunkannya.

Aku memandang wajahnya beberapa saat.

Lalu ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku.

Ratih.

Hanya ada satu foto.

Tanaman kecil yang dulu dia kirim pada hari pernikahanku.

Entah bagaimana dia mendapatkan foto tanaman kami dari unggahan Maya.

Di bawahnya hanya ada satu pesan:

“Masih hidup ternyata.”

Aku tersenyum.

Kubalas:

“Masih. Kali ini aku rajin menyiramnya.”

Tiga titik muncul di layar.

Ratih sedang mengetik.

Hilang.

Muncul lagi.

Kemudian masuk satu balasan pendek.

“Bagus.”

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Tidak perlu kalimat panjang.

Tidak perlu membuka masa lalu lagi.

Aku membangunkan Maya perlahan.

“Sudah sampai.”

Dia membuka mata setengah sadar.

“Mas…”

“Hm?”

“Besok jangan lupa beli tanah untuk pot itu.”

Aku tertawa kecil.

“Iya.”

“Jangan cuma bilang iya.”

“Iya, Bu.”

Dia mencubit lenganku.

Kami turun dari mobil dan berlari kecil melewati hujan menuju pintu rumah.

Di dekat jendela ruang tamu, tanaman itu berdiri dengan daun-daun baru yang tumbuh hijau.

Dulu aku pikir hidup yang bahagia harus terlihat mahal.

Ternyata tidak.

Kadang bentuknya hanya rumah kecil yang lampunya masih menyala.

Seseorang yang menunggumu pulang.

Sebuah tanaman yang tidak mati karena akhirnya ada orang yang ingat menyiramnya.

Dan satu hal yang baru kupahami setelah kehilangan begitu banyak:

Kesempatan kedua tidak selalu berarti mendapatkan orang yang sama kembali.

Kadang kesempatan kedua adalah ketika hidup memberimu waktu untuk menjadi manusia yang berbeda…

sebelum semuanya terlambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *