SAYA MENEMUKAN ISTRI HAMIL 7 BULAN GEMETAR SAAT ADIK SAYA MELEMPAR SEPATU, LALU SAYA MENJUAL RUMAH DAN MEMBUKA RAHASIA YANG MEREKA SIMPAN

 

 

BAGIAN 1

Sepatu hak tinggi itu melayang tepat saat saya membuka pintu samping.

Sepatu tersebut menyenggol bahu istri saya, Sinta, lalu mengenai bingkai foto di dinding sebelum jatuh di atas meja.

Sinta sedang hamil 7 bulan.

Dia berdiri tanpa bergerak sambil memegang perutnya.

Ayah saya malah tertawa.

“Rina, lemparanmu makin bagus saja.”

Rina, adik saya, berdiri dekat sofa hijau tua dengan tangan bersedekap.

“Dia sudah tahu itu tempat dudukku.”

Ibu keluar dari dapur membawa teh.

Bukannya bertanya keadaan Sinta, dia malah menunjuk kursi kayu dekat ruang makan.

“Sinta, kamu juga seharusnya paham. Kalau Rina tidak suka orang duduk di sana, ya jangan duduk.”

Saya tidak langsung bicara.

Saya melihat kaki Sinta yang bengkak.

Tasnya sudah ada di tangan.

Matanya basah.

Dia hanya berkata pelan,

“Mas, aku mau pulang.”

Saya mengambil tasnya.

“Ya. Kita pulang.”

Rina mendengus.

“Bagus. Dari tadi juga bikin suasana tidak enak.”

Saya berhenti.

“Kamu baru melempar sepatu ke arah perempuan yang sedang hamil.”

“Kan tidak kena.”

“Masalahnya bukan kena atau tidak.”

Ayah mengangkat tangannya.

“Sudah, Ardi. Jangan dibesar-besarkan.”

Saya menatap Ayah.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu membuat saya muak.

Selama bertahun-tahun, setiap kali Rina membuat masalah, kami selalu diminta jangan membesar-besarkan.

Ketika usahanya gagal, saya diminta membantu.

Ketika cicilan mobilnya tertunggak, saya diminta memahami.

Ketika usaha kateringnya membutuhkan gudang, rumah itu kembali dipakai tanpa pernah ada pertanyaan kepada saya.

Tapi sekarang istri saya yang harus memahami?

Saya menggandeng Sinta keluar.

Di dalam mobil dia diam hampir 10 menit.

Saya tidak berani langsung bertanya.

Saya takut jawaban yang keluar justru sesuatu yang seharusnya sudah saya ketahui sejak lama.

Akhirnya Sinta bicara.

“Mas, sebenarnya ini bukan pertama kali.”

Saya menoleh.

“Apanya?”

“Ibu beberapa kali bilang aku terlalu sering ikut campur urusan keluarga kalian.”

Saya merasa perut saya mengeras.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

Sinta menatap keluar jendela.

“Karena setiap kali kita habis dari rumah mereka, kamu sudah pusing soal tagihan rumah itu, usaha Rina, atau kebutuhan Ayah.”

Dia berhenti sebentar.

“Aku tidak mau jadi masalah tambahan.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada pertengkaran apa pun.

Saya yang selalu menganggap diri saya sedang membantu keluarga, ternyata membuat istri saya merasa harus diam agar hidup saya lebih ringan.

Saya menepi.

Rumah dua lantai di Serpong itu secara sah atas nama saya.

Lima tahun sebelumnya, usaha kontraktor Ayah berhenti dan utangnya menumpuk.

Rumah hampir dilepas untuk menutup kewajiban.

Saya memasukkan tabungan Rp850 juta, membereskan semua tunggakan yang berhubungan dengan rumah, lalu kepemilikannya dialihkan kepada saya.

Saya tidak pernah meminta uang sewa.

Saya hanya meminta Ayah dan Ibu membayar listrik serta air.

Rina tinggal di sana tanpa membayar apa pun.

Saya mengeluarkan ponsel.

Sinta melihat saya.

“Mau telepon siapa?”

“Dinda.”

Dinda adalah teman lama saya yang sekarang mengurus jual beli properti.

Telepon tersambung.

“Dinda, aku mau jual rumah Serpong.”

Dia terdiam.

“Rumah yang ditempati orang tuamu?”

“Iya.”

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Target harga?”

“Pasang Rp2,3 miliar. Kita lihat penawaran.”

Sinta menarik napas.

“Mas…”

Saya menggenggam tangannya.

“Aku bukan menjual rumah karena marah soal satu sepatu.”

Saya menatapnya.

“Aku menjual rumah karena baru sadar selama ini mereka merasa rumah itu milik mereka dan kita yang harus menyesuaikan.”

Senin pagi, Dinda datang membawa fotografer properti.

Saya ikut datang.

Ayah sedang membaca koran ketika Dinda mulai mengukur ruang tamu.

“Apa ini?”

“Saya mau jual rumah.”

Ayah langsung berdiri.

“Kamu bicara apa?”

Ibu keluar dari kamar.

Rina turun dari lantai dua.

Saya mengeluarkan salinan sertifikat.

“Rumah ini atas nama saya.”

Ibu mulai meninggikan suara.

“Kamu mau mengusir orang tua sendiri hanya karena istrimu tersinggung?”

“Bukan.”

Saya menatap Rina.

“Saya berhenti menyediakan rumah gratis untuk orang yang merasa berhak memperlakukan istri saya sesuka hati.”

Rina tertawa pendek.

“Siapa yang mau beli rumah ini cepat-cepat?”

Dinda tetap bekerja.

Sore itu, iklan rumah dipasang.

Malamnya sudah ada empat orang yang meminta jadwal survei.

Keesokan paginya Dinda menelepon saya.

Nada suaranya berbeda.

“Ardi, jangan dulu terima uang dari calon pembeli.”

“Ada apa?”

“Aku menemukan iklan rumah ini dari agen lain.”

Saya terdiam.

“Iklan kapan?”

“Enam bulan lalu.”

Saya berdiri dari kursi.

Dinda melanjutkan.

“Harganya Rp2,1 miliar.”

“Itu tidak mungkin.”

“Masalahnya bukan cuma iklan.”

Dia mengirim beberapa foto ke WhatsApp saya.

Saya membuka satu per satu.

Foto rumah.

Foto sertifikat.

Foto ruang tamu.

Lalu satu lembar kuitansi.

Nilainya Rp120 juta.

Keterangan: uang tanda jadi pembelian rumah.

Nama penerima uang adalah nama Ayah saya.

Di bagian bawah terdapat tulisan:

“Penjualan atas persetujuan pemilik, Ardi Saputra.”

Ada tanda tangan menyerupai tanda tangan saya.

Saya tidak pernah menandatanganinya.

Dinda kembali bicara.

“Ardi…”

“Apa lagi?”

“Calon pembelinya ingin bertemu kamu.”

Saya menatap layar ponsel lama sekali.

Ternyata rumah itu bukan hanya mereka anggap milik sendiri.

Mereka sudah mencoba menjualnya tanpa sepengetahuan saya.

Tapi itu baru permulaan.

BAGIAN 2

Saya tidak langsung pergi ke rumah orang tua.

Saya mengirim semua dokumen kepada Dimas, teman kuliah saya yang sekarang bekerja sebagai konsultan hukum.

Satu jam kemudian dia menelepon.

“Jangan tanda tangan apa pun.”

“Tanda tangan di kuitansi itu bukan punyaku.”

“Aku tahu. Tapi jangan datang sambil emosi. Kita cari tahu dulu uangnya ke mana dan dokumen apa saja yang sudah beredar.”

Saya melihat ke arah Sinta.

Dia sedang duduk di meja makan sambil memegang segelas air.

Sejak kejadian sepatu itu, dia lebih banyak diam.

Saya tidak ingin membawanya kembali ke rumah tersebut.

“Aku pergi sendiri besok,” kata saya.

Sinta langsung menggeleng.

“Jangan sendirian.”

“Aku tidak mau kamu ke sana.”

“Aku juga tidak mau ke sana.”

Dia menatap saya.

“Tapi jangan datang untuk bertengkar. Datang untuk menyelesaikan.”

Pagi berikutnya saya datang bersama Dimas dan Dinda.

Ayah membuka pintu.

Begitu melihat mereka, wajahnya berubah.

“Kenapa bawa orang lain?”

Saya masuk dan meletakkan fotokopi kuitansi di meja.

“Karena sekarang urusannya bukan soal keluarga.”

Ayah membaca kertas itu.

Ibu berdiri di belakangnya.

Rina baru keluar beberapa menit kemudian.

Saya menunjuk kuitansi.

“Siapa Pak Irwan?”

Tidak ada yang menjawab.

“Siapa yang menerima Rp120 juta?”

Ayah duduk perlahan.

“Uangnya masih bisa dikembalikan.”

“Bukan itu pertanyaannya.”

Rina langsung memotong.

“Mas, waktu itu kita sedang butuh modal cepat.”

Saya menatapnya.

“Jadi kamu menjual rumah saya?”

“Kami belum menjual.”

“Kamu menerima uang dari orang yang mengira dia sedang membeli rumah.”

“Baru tanda jadi.”

“Atas rumah milik saya.”

Ibu mendekat.

“Kami pikir nanti bisa dibicarakan.”

Dimas bertanya singkat,

“Siapa membuat surat persetujuan pemilik?”

Ayah tidak menjawab.

Rina melihat ke arah jendela.

Dimas mengeluarkan salinan lain.

“Ini tanda tangan Ardi?”

“Tidak,” jawab saya.

Ayah akhirnya berkata,

“Rina yang urus dokumennya.”

Rina langsung menatap Ayah.

“Pak!”

“Saya hanya ikut tanda tangan kuitansi.”

“Karena Bapak setuju!”

Mereka mulai saling menyalahkan.

Saya mengangkat tangan.

“Cukup.”

Ruangan langsung diam.

“Uangnya masih ada?”

Ayah menelan ludah.

“Sebagian.”

“Berapa?”

Rina menjawab lirih.

“Kurang lebih Rp43 juta.”

Saya memejamkan mata.

“Jadi Rp77 juta sudah dipakai.”

Rina membela diri.

“Buat usaha.”

“Usaha yang mana?”

“Katering.”

Saya tertawa pendek karena tidak percaya.

“Katering yang sudah berhenti empat bulan lalu?”

Rina tidak menjawab.

Saya baru tahu dari situ bahwa uang calon pembeli sudah dipakai untuk membayar sewa dapur, membeli peralatan, menutup cicilan kendaraan, dan membayar vendor.

Saya menatap Ibu.

“Ibu tahu?”

Dia diam.

Saya menatap Ayah.

“Bapak tahu?”

Ayah menjawab,

“Kami pikir kalau bisnis Rina jalan, uang itu bisa kembali.”

“Dan kalau bisnisnya gagal?”

Tidak ada jawaban.

Saya melipat kuitansi.

“Kembalikan Rp120 juta.”

Rina langsung berdiri.

“Dari mana?”

“Itu urusan kalian.”

Ayah menepuk meja.

“Kamu jangan bicara seperti kami orang asing!”

Saya menatapnya.

“Saya sudah membayar Rp850 juta agar rumah ini tidak hilang.”

Saya menunjuk sekeliling.

“Lima tahun kalian tinggal tanpa sewa.”

Saya menatap Rina.

“Kamu juga tinggal gratis. Gudang gratis. Parkir gratis. Listrik sering saya bantu.”

Saya berhenti.

“Sekarang tanda tangan saya dipakai tanpa izin.”

Ibu mulai menangis.

“Kamu berubah sejak menikah.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Kalimat yang selama ini saya tahu ada, tapi tidak pernah mereka ucapkan langsung.

Saya berdiri.

“Bukan saya yang berubah.”

Saya mengambil kunci mobil.

“Saya hanya berhenti mengatakan iya.”

Sebelum pergi, Dimas meninggalkan satu surat.

Isinya sederhana.

Mereka diberi waktu dua hari untuk menjelaskan secara tertulis seluruh transaksi rumah.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada keributan.

Kami hanya ingin semua angka terlihat jelas.

Siang itu Pak Irwan datang ke kantor Dinda.

Saya bertemu dengannya.

Dia pria sekitar 50 tahun.

Dia datang bersama istrinya dan membawa satu map.

Begitu saya memperkenalkan diri, dia terlihat sama bingungnya.

“Saya pikir Bapak yang menyuruh keluarga menjual rumah.”

“Saya tidak pernah tahu rumah itu ditawarkan.”

Pak Irwan membuka WhatsApp.

Dia menunjukkan percakapan dengan Rina.

Rina menulis bahwa saya tinggal di Jakarta dan menyerahkan semua urusan properti kepada Ayah.

Dia juga mengirim foto sertifikat.

Saya mengenali foto itu.

Salinan tersebut biasanya saya simpan di lemari dokumen ruang kerja rumah Serpong.

Pak Irwan lalu menunjukkan satu surat kuasa.

Tanda tangan saya ada di bawah.

Saya langsung mengenali sumbernya.

Tanda tangan itu bukan dibuat bebas.

Bentuknya sama persis dengan tanda tangan pada surat renovasi garasi tiga tahun lalu.

Seseorang kemungkinan menyalinnya dari dokumen lama.

Dimas mengambil foto surat itu.

Pak Irwan menatap saya.

“Saya tidak mau masalah. Saya cuma mau uang saya kembali.”

“Saya paham.”

“Kalau rumah tetap dijual, saya masih tertarik.”

Saya tidak menyangka.

Dia melanjutkan,

“Tapi kali ini saya berurusan langsung dengan pemilik.”

Dinda membuka data harga sekitar.

Rumah sejenis berada antara Rp2,25 sampai Rp2,45 miliar.

Pak Irwan menawarkan Rp2,28 miliar.

Saya tidak menjawab saat itu.

Saya berkata saya butuh dua hari.

Ketika pulang, Sinta sedang melipat pakaian bayi.

Saya duduk di sampingnya.

“Pak Irwan masih mau beli.”

“Bagus.”

“Tapi uang Rp120 juta sudah dipakai keluarga.”

Sinta berhenti melipat.

“Kamu mau ganti?”

Itulah pertanyaan yang paling saya hindari.

Selama bertahun-tahun, saya selalu mengganti.

Tagihan Ayah.

Cicilan Rina.

Perbaikan rumah.

Obat Ibu.

Setiap ada lubang, saya menutupnya.

“Saya tidak tahu,” jawab saya.

Sinta menatap saya.

“Kalau kamu ganti lagi, mereka akan belajar satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa seburuk apa pun keputusan mereka, kamu yang akan membereskan.”

Saya tahu dia benar.

Hari berikutnya saya menyampaikan keputusan.

Pak Irwan boleh tetap membeli rumah jika harga dan pemeriksaan dokumen disepakati.

Tapi Rp120 juta tidak akan otomatis saya akui sebagai pembayaran kepada saya.

Uang tersebut harus dikembalikan oleh pihak yang menerimanya sebelum transaksi akhir.

Ayah marah.

Rina jauh lebih marah.

Dia menelepon saya berkali-kali.

Saya tidak mengangkat sampai malam.

Akhirnya saya jawab.

“Mas, kamu mau aku dapat uang Rp77 juta dari mana dalam beberapa minggu?”

“Jual barang yang dibeli dari uang itu.”

“Peralatan katering sudah turun harga.”

“Itu risiko kamu.”

“Mobilku masih kredit.”

“Jual kalau perlu.”

Dia terdiam.

Lalu suaranya berubah.

“Jadi sekarang istrimu lebih penting daripada keluarga sendiri?”

Saya menutup mata.

“Sinta adalah keluarga saya.”

Rina langsung menutup telepon.

Besoknya hampir semua kerabat mengetahui bahwa saya akan menjual rumah.

Paman menelepon.

Bibi mengirim pesan panjang.

Sepupu saya menulis bahwa orang tua tidak pantas dibuat pindah di usia mereka.

Saya hanya membalas satu kalimat yang sama.

“Rumah dijual karena saya memutuskan menghentikan penggunaannya, dan ada transaksi properti tanpa persetujuan saya yang sedang diselesaikan.”

Saya tidak menceritakan kejadian sepatu.

Saya juga tidak mengirim surat kuasa palsu ke grup keluarga.

Saya tidak ingin menjadikan masalah itu tontonan.

Tapi Ibu justru menelepon Sinta.

Saya baru tahu setelah pulang.

Sinta menunjukkan log panggilan.

“Tiga kali.”

“Kamu angkat?”

“Sekali.”

“Apa kata Ibu?”

Sinta ragu sebentar.

“Dia bilang kalau aku tidak duduk di kursi itu, semua ini tidak akan terjadi.”

Saya menatapnya.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku bilang, kalau bukan kursi itu, mungkin masalah sebenarnya tetap akan muncul lewat hal lain.”

Saya mengangguk.

Sinta lalu memegang tangan saya.

“Mas, aku tidak mau kamu putus hubungan dengan keluargamu.”

“Saya juga tidak mau.”

“Tapi aku juga tidak mau anak kita nanti melihat kamu selalu takut bilang tidak.”

Kalimat itu saya simpan baik-baik.

Dalam empat hari, Rina mulai menjual barang.

Mixer industri.

Freezer.

Meja stainless.

Dua oven besar.

Dia juga menjual mobil kecilnya setelah melunasi sisa cicilan dengan bantuan pembeli kendaraan.

Ayah menjual beberapa peralatan proyek lama yang masih disimpan di gudang.

Mereka berhasil mengumpulkan Rp98 juta.

Masih kurang Rp22 juta.

Ibu menelepon.

“Kamu tidak bisa bantu sisanya?”

Saya diam beberapa detik.

Dulu saya pasti langsung transfer.

Sekarang saya bertanya,

“Kenapa saya?”

Ibu tidak bisa menjawab.

Akhirnya Ayah meminjam Rp22 juta dari kakaknya sendiri dengan perjanjian pembayaran bulanan.

Untuk pertama kalinya saya melihat mereka menyelesaikan masalah tanpa menjadikan saya jawaban pertama.

Rp120 juta dikembalikan kepada Pak Irwan.

Dia menandatangani surat penerimaan.

Setelah itu barulah transaksi baru dimulai.

Pak Irwan kembali menawarkan Rp2,28 miliar.

Ada calon pembeli lain yang menawarkan Rp2,32 miliar, tapi meminta renovasi dan waktu dua bulan.

Saya memilih Rp2,3 miliar dari Pak Irwan setelah dia menaikkan sedikit penawarannya.

Pembayaran jelas.

Jadwal jelas.

Tidak ada syarat tambahan.

Kami masuk proses pemeriksaan sertifikat di kantor notaris.

Saya mengira bagian paling rumit sudah selesai.

Ternyata belum.

Dua hari setelah pemeriksaan dimulai, Dinda menelepon.

“Ardi, ada orang mencari kamu.”

“Siapa?”

“Namanya Beni.”

“Saya tidak kenal.”

“Katanya dia memberi pinjaman untuk usaha katering Rina.”

Saya langsung berdiri.

“Kenapa mencari saya?”

Dinda menarik napas.

“Dia bilang kamu penjamin.”

Saya merasa dingin.

“Berapa?”

“Rp280 juta.”

Saya tidak langsung bicara.

“Dinda, jangan kasih alamat rumah saya.”

“Aku tidak kasih.”

“Suruh dia bicara dengan Dimas.”

Malam itu Dimas menerima dokumen dari pihak Beni.

Saya datang ke kantornya.

Ada perjanjian pinjaman.

Peminjam: Rina.

Pihak yang mengetahui: Ayah.

Penjamin: saya.

Tanda tangan saya kembali ada di sana.

Kali ini bukan hanya tanda tangan.

Ada salinan KTP lama saya.

Saya menatap dokumen itu lama sekali.

“Ini juga bukan tanda tangan saya.”

Dimas mengangguk.

“Aku tahu.”

“Apakah rumah dipakai sebagai jaminan?”

“Tidak secara resmi. Tidak ada hak tanggungan tercatat di sertifikat.”

Saya sedikit lega.

“Tapi?”

“Di perjanjian ini mereka menulis bahwa kamu menjamin kewajiban Rina secara pribadi.”

“Saya tidak pernah bertemu Beni.”

“Itu yang harus kita jelaskan.”

Keesokan harinya kami bertemu Beni dan perwakilannya.

Saya membawa contoh tanda tangan resmi.

Saya juga membawa bukti bahwa pada tanggal perjanjian dibuat, saya sedang berada di Surabaya menghadiri pembukaan cabang restoran.

Ada tiket.

Ada tagihan hotel.

Ada rekaman rapat daring dari kantor pusat.

Beni membaca semuanya.

Wajahnya berubah.

“Rina bilang Bapak tidak bisa hadir dan sudah mengizinkan Ayah menandatangani.”

Saya menjawab,

“Saya tidak pernah memberi izin.”

Dimas menambahkan,

“Kami ingin menyelesaikan fakta terlebih dahulu. Klien saya tidak menerima dana dan tidak menyetujui perjanjian.”

Beni tidak membantah.

Dia hanya berkata,

“Kalau begitu saya akan bicara langsung dengan pihak yang menerima uang.”

Malamnya saya datang lagi ke rumah Serpong.

Kali ini Sinta tetap di rumah kami.

Saya tidak membawa Dinda.

Hanya Dimas yang ikut.

Ayah sudah tahu kenapa saya datang.

Saya meletakkan perjanjian Rp280 juta di meja.

Rina langsung pucat.

“Ini apa lagi?”

Saya menunjuk tanda tangan.

“Kamu tahu persis.”

Ibu duduk di sofa tanpa bicara.

Saya bertanya,

“Berapa sisa utangnya?”

Rina menggeleng.

Saya bertanya lagi.

“Berapa?”

“Rp196 juta.”

Saya tertawa kecil karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Jadi setelah menerima Rp120 juta dari calon pembeli, masih ada pinjaman lain Rp280 juta?”

“Usahaku waktu itu hampir dapat kontrak besar.”

“Hampir.”

Rina menatap saya.

“Kalau kontrak itu jadi, semua bisa lunas.”

“Tapi tidak jadi.”

Dia diam.

Ayah menyela.

“Saya yang salah karena membiarkan.”

Saya menatap Ayah.

“Bapak bukan membiarkan. Nama Bapak ada sebagai pihak yang mengetahui.”

Ayah tidak bisa menjawab.

Ibu akhirnya menangis.

“Kami hanya takut usaha Rina gagal lagi.”

Saya menatap mereka satu per satu.

“Usahanya sudah gagal.”

Tidak ada yang menyangkal.

Saya melanjutkan,

“Yang saya tidak mengerti, kenapa setiap kali Rina gagal, solusinya selalu memakai sesuatu milik saya?”

Rina berkata,

“Karena Mas yang paling mampu.”

Saya langsung menjawab,

“Mampu bukan berarti wajib.”

Ruangan menjadi diam.

Itulah kalimat yang selama bertahun-tahun tidak pernah saya ucapkan.

Beni akhirnya membuat kesepakatan baru langsung dengan Rina.

Perjanjian atas nama saya dinyatakan saya bantah secara tertulis.

Rina diwajibkan membayar cicilan langsung dari penghasilannya.

Dia mendapatkan pekerjaan sebagai supervisor katering di sebuah perusahaan acara di Jakarta Selatan.

Gajinya tidak besar seperti yang dia inginkan, tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun dia punya pendapatan tetap.

Ayah mulai mengambil pekerjaan pengawasan proyek kecil dari kenalan lama.

Saya tidak memberi uang untuk utang tersebut.

Tiga minggu kemudian rumah hampir kosong.

Saya datang memeriksa setiap kamar.

Sofa hijau tua itu masih ada.

Rina berdiri di sampingnya.

“Mas mau sofa ini dibawa ke mana?”

Saya melihat sofa tersebut.

Benda yang memulai semua keributan itu sebenarnya tidak ada nilainya selain kenangan keluarga.

“Kamu mau?”

Rina mengangguk.

“Ambil.”

Dia terlihat kaget.

“Saya tidak pernah marah karena sofa itu milik kamu.”

Saya menatapnya.

“Saya marah karena kalian merasa istri saya lebih tidak penting daripada sofa.”

Rina tidak membalas.

Hari berikutnya Ayah dan Ibu pindah ke rumah kontrakan sederhana di Pamulang.

Rina ikut menyewa kamar di dekat tempat kerjanya.

Saya membayar biaya angkut barang.

Hanya itu.

Saya tidak membayar kontrakan.

Ibu tidak berbicara banyak saat pindah.

Ayah mendekati saya sebelum masuk mobil.

“Ardi.”

Saya menoleh.

“Saya salah.”

Saya menunggu.

Dia tidak memberi alasan.

Tidak mengatakan karena keadaan.

Tidak menyalahkan Rina.

Hanya dua kata itu.

Saya mengangguk.

“Semoga setelah ini semuanya lebih jelas.”

Transaksi rumah selesai enam hari kemudian.

Pak Irwan datang bersama istrinya.

Kami menandatangani dokumen di depan notaris.

Setelah pajak dan biaya lain diselesaikan, sisa dana masuk ke rekening saya.

Saya tidak membeli rumah mewah.

Saya juga tidak mengadakan perayaan.

Saya dan Sinta memutuskan mencari rumah yang lebih dekat dengan rumah sakit tempat dia akan melahirkan.

Kami tetap tinggal di apartemen untuk sementara.

Saya mengira cerita rumah Serpong berakhir di sana.

Sampai dua minggu kemudian Dinda menghubungi saya lagi.

“Aku menemukan sesuatu saat membereskan arsip foto pemasaran.”

Saya langsung waspada.

“Apa lagi?”

“Ini bukan utang.”

Dia mengirim tangkapan layar percakapan lama antara agen pertama dan Rina.

Saya membaca perlahan.

Agen itu pernah bertanya:

“Pemilik asli setuju rumah dijual Rp2,1 miliar?”

Jawaban Rina membuat saya terdiam.

“Belum bicara langsung. Tapi nanti setelah ada pembeli serius, keluarga akan tekan dia supaya setuju. Kakak saya selalu mengalah kalau urusan orang tua.”

Ada pesan berikutnya.

“Kalau harga pasar lebih tinggi?”

Rina menjawab:

“Yang penting cepat cair. Kami butuh dana dulu.”

Saya membaca sampai akhir.

Jadi mereka bukan sekadar mengambil keputusan bodoh karena panik.

Sejak awal mereka percaya saya akan mengalah.

Mereka yakin saya tidak akan sanggup berkata tidak jika Ayah dan Ibu ikut meminta.

Saya memperlihatkan pesan itu kepada Sinta.

Dia membaca sebentar, lalu mengembalikan ponsel.

“Kamu mau kirim ke mereka?”

Saya menggeleng.

“Untuk apa?”

Saya sudah mendapatkan jawaban yang saya butuhkan.

Beberapa hari kemudian Ibu menghubungi saya.

Dia bertanya apakah boleh datang melihat Sinta.

Saya menatap Sinta.

Sinta mengangguk.

Mereka datang hari Minggu.

Tanpa Rina.

Ibu membawa buah.

Ayah membawa makanan.

Tidak ada yang membahas rumah selama hampir satu jam.

Sebelum pulang, Ibu mendekati Sinta.

Dia terlihat canggung.

“Sinta.”

“Iya, Bu?”

“Maaf soal hari itu.”

Sinta hanya menjawab,

“Iya, Bu.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada air mata panjang.

Tidak ada permintaan agar semuanya kembali seperti dulu.

Saya justru menyukai itu.

Karena hubungan kami memang belum kembali seperti dulu.

Dan mungkin memang tidak perlu.

Dua bulan kemudian anak kami lahir dalam keadaan sehat.

Saat saya melihat Sinta menggendong anak kami, saya teringat kalimatnya di mobil.

Dia tidak ingin anak kami tumbuh melihat ibunya diperlakukan tanpa hormat.

Saya juga tidak ingin anak saya tumbuh melihat ayahnya terus membeli kedamaian dengan uang dan diam.

Saya masih membantu orang tua jika benar-benar ada kebutuhan penting.

Saya masih berbicara dengan Rina.

Tapi aturan kami sekarang sederhana.

Tidak ada pinjaman menggunakan nama saya.

Tidak ada dokumen yang boleh diambil tanpa izin.

Tidak ada keputusan keuangan yang otomatis menjadi tanggung jawab saya.

Dan yang paling penting, tidak ada lagi orang yang boleh menghina istri saya lalu berharap saya diam demi menjaga suasana.

Rumah itu memang sudah tidak ada di keluarga kami.

Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, batas antara membantu dan dimanfaatkan akhirnya jelas.