PART 2
Sari tidak berhenti.
Ia tetap menimbang setiap barang yang dikirim oleh truk persediaan.
Bambang mulai membalas.
Ia mengirimkan karung beras yang dicampur dengan dedak kotor dan batu kecil.
Sari tidak membuang karung itu.
Ia menguncinya di gudang.
Hari berikutnya, Sari membawa buku catatan tebalnya dan beberapa sampel beras kotor langsung ke toko Bambang di kota.
Ia memanggil Hendro untuk ikut serta.
Di depan para pembeli di toko Bambang, Sari meminta Bambang membuka karung yang baru diserahkan.
Bambang gugup.

Saat karung dibuka, terlihat jelas campuran dedak dan sampah beras.
Sari membuka buku catatannya di atas meja.
“Bulan ini Anda menagih 500 kg beras super, tapi yang dikirim hanya 350 kg beras kualitas buruk”.
“Anda juga menagih 50 liter minyak tanah, tetapi kaleng yang sampai hanya diisi separuh”.
Bambang mencoba mengelak dan menyebut Sari hanya juru masak yang tidak tahu apa-apa.
Namun Hendro berdiri tegas di samping Sari.
“Saya percaya angka-angka di catatan ini. Dan saya percaya juru masak saya,” tegas Hendro.
Bambang terpaksa mengembalikan uang kerugian sebesar jutaan rupiah.
Namun dendam membuat Bambang menyebarkan rumor buruk di kota.
Ia bilang Hendro sudah kehilangan akal dan dikendalikan oleh seorang wanita dapur.
Dua minggu kemudian, kabar penting datang.
Sebuah perusahan investor besar dari Jakarta mengirim surat.
Dalam 3 minggu, 2 perwakilan investor akan datang mengevaluasi Perkebunan Nusantara Jati.
Jika perkebunan terbukti mampu mengelola operasional, memberi makan pekerja dengan baik, dan menjaga stabilitas barak, investor akan memberikan dana garansi yang bisa melunasi seluruh hutang perkebunan.
Sari mempersiapkan segala hal.
Ia memproses daging sapi kering khusus yang dimarinasi selama 12 hari untuk acara penyambutan.
Namun 3 hari sebelum kedatangan perwakilan investor, ruang penyimpanan daging ditemukan dalam keadaan terbuka.
Seluruh daging yang sudah disiapkan hilang tanpa sisa.
Bukan hanya daging yang hilang.
Danang, salah satu pekerja senior, juga tidak kelihatan.
Seorang saksi melihat Danang bicara rahasia dengan Bambang di pinggir jalan malam sebelumnya.
Hendro murka.
Ia mengambil kunci kuda dan berniat memburu Bambang ke kota.
Sari berdiri menahan pintu keluar.
“Jangan pergi, Pak Hendro,” tahan Sari.
“Dia mencuri seluruh makanan utama kita! Kita tidak punya apa-apa lagi untuk disajikan!” teriak Hendro emosi.
“Itu memang yang diinginkan Pak Bambang. Dia ingin Anda emosi dan meninggalkan perkebunan sebelum tim penilai datang,” jawab Sari tenang.
Sari menatap rak kosong di gudang daging.
“Dia hanya mengambil rencana kita. Tapi dia tidak bisa mengambil kemampuan kita untuk memasak”.
Sari berbalik menuju dapur.
“Sekarang kita tunjukkan apa yang bisa kita buat saat rencana utama dirusak”.
48 jam berikutnya menjadi ujian terberat bagi dapur perkebunan.
Sari tidak mencoba membeli daging mahal yang tidak mungkin diproses tepat waktu.
Ia merombak seluruh menu.
Sari mengutus Aris ke desa sebelah untuk membeli telur segar, ubi, dan tentang dalam jumlah besar.
Sujatmiko berhasil membeli 2 ekor kambing muda dari peternak lokal secara sah.
Seorang pengangkut barang yang pernah dibantu Sari datang membawa 1 keranjang buah nangka muda dan kelapa.
Ibu Rina, janda di desa sekitar yang pandai membuat tahu tempe, mengirimkan 10 papan tempe kualitas terbaik.
Saat Hendro melihat bahan-bahan di dapur yang sangat berbeda dari rencana awal, ia bertanya bingung.
“Apa yang akan kamu buat dengan semua ini?”.
Sari tidak berhenti memotong bahan.
“Memberi mereka makan”.
Sari membuat gulai kambing rempah pekat yang dimasak perlahan dengan kayu jati.
Ia membuat oseng tempe cabai hijau, tahu bacem gurih, sup kentang kental, dan sambal goreng ati.
Ia juga memanggang kue bolu kemboja menggunakan ubi manis yang diolesi gula merah.
Bukan cuma makanan yang disiapkan.
Sari menyuruh pekerja membersihkan barak, mengecat ulang bangku kayu, dan menata meja panjang di halaman tengah.
“Tim penguji datang untuk melihat perkebunan kayu, bukan restoran,” pprotes Sujatmiko.
“Justru itu,” jawab Sari.
“Merek ingin tahu apakah pekerja di sini betah tinggal berbulan-bulan. Cara membuktikannya bukan dengan ucapan, tapi dengan kenyataan yang mereka lihat sendiri”.
Hari penilaian pun tiba.
Dua utusan investor, Pak Haris dan Pak Sukarno, tiba memakai setelan jas rapi.
Merek memeriksa sumur air.
Mereka menghitung pohon jati.
Mereka memeriksa kondisi pagar.
Lalu mereka menanyakan jumlah pekerja yang keluar dalam setahun terakhir.
Hendro menjawab jujur.
“Sebelum bulan September, saya kehilangan 4 pekerja. Tapi sejak Sari mengelola dapur, tidak ada satu pun yang keluar”.
Pak Haris terkejut.
“Sama sekali tidak ada?”.
Sujatmiko menimpali dari belakang.
“Malah 2 orang yang dulu keluar sudah minta melamar kembali untuk musim depan”.
Hal itu membuat kedua penguji sangat tertarik.
Saat siang hari, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
5 rombongan pengemudi truk kayu dari luar daerah mampir di halaman perkebunan.
Salah satu dari mereka bilang bahwa teman mereka merekomendasikan dapur ini sebagai tempat makan paling bersih dan enak di jalur Jember.
Hendro ragu.
“Hari ini kami sedang ada inspeksi penting, tidak bisa melayani,” bisik Hendro.
Sari menahan tangan Hendro.
“Bisa, Pak. Kita layani”.
Sari menambah porsi kuah gulai, menambah irisan kentang, dan menggoreng telur dadar tambahan.
5 sopir itu makan di meja luar.
Tak lama kemudian, datang lagi 4 orang pengembara.
Pak Sukarno memperhatikan fenomena itu dengan saksama.
“Apakah ini sering terjadi?” tanya Pak Sukarno.
“Makin hari makin ramai,” jawab Hendro.
“Apakah Anda memungut biaya dari mereka?”.
“Dapur ini punya pembukuan keuangan sendiri,” jawab Hendro.
Sari kemudian menyerahkan buku catatan catatannya kepada kedua tim penguji.
Di dalamnya tidak hanya berisi resep.
Ada daftar pemasukan, pengeluaran, berat persediaan yang masuk, daftar penyusutan bahan, hingga keuntungan harian dari penjualan makanan ke pihak luar.
Pak Haris membalik halaman demi halaman dengan takjub.
“Siapa yang merancang sistem pencatatan serapi ini?”.
“Sari,” jawab Hendro bangga.
“Dia manajer keuangan Anda?”.
“Dia juru masak saya. Dan saya menyesal tidak mendengarkannya lebih awal,” kata Hendro tegas.
Sujatmiko dan para pekerja menunduk, merasa kagum sekaligus malu atas sikap masa lalu mereka.
Malam itu, 25 orang makan bersama di halaman perkebunan.
Pekerja, sopir truk, dan tim penilai duduk di satu meja yang sama.
Makanan disajikan tanpa hambatan.
Aris membawa piring.
Sujatmiko memotongkan tempe.
Hendro sendiri ikut menuangkan air minum untuk para tamu.
Saat makan malam, Pak Sukarno bertanya pada Sari.
“Apakah ini menu makanan yang direncanakan sejak awal?”.
Sari tidak berbohong.
“Bukan. Daging persediaan kami dicuri 3 hari lalu”.
Hendro menceritakan sabotase yang dilakukan oleh Bambang dan Danang berdasarkan bukti perbedaan timbangan serta catatan keuangan.
Sari memperlihatkan dokumen ketidaksesuaian barang yang disabotase.
Pak Haris mengangguk-angguk.
“Ini berarti menu ini adalah rencana darurat?” tanya Pak Haris.
“Ini adalah bukti apa yang bisa kami lakukan ketika rencana utama gagal,” jawab Sari tenang.
“Perkebunan di tengah hutan akan selalu menghadapi kendala cuaca dan keterlambatan barang. Dapur yang hanya bisa bekerja saat situasi sempurna tidak akan bertahan”.
Pak Haris meletakkan sendoknya.
“Itu adalah kalimat paling bijak yang saya dengar sepanjang tahun ini”.
Keesokan paginya, sebelum tim penilai pulang, Danang berjalan gontai memasuki halaman.
Wajahnya pucat dan penuh rasa bersalah.
Ia menyerahkan amplop berisi uang dari Bambang beserta surat instruksi tertulis dari anak buah Bambang untuk merusak persediaan daging perkebunan.
Danang mengaku tidak tenang setelah melarikan diri.
Hendro menyimpan surat bukti itu untuk diserahkan ke pihak kepolisian.
4 hari kemudian, surat keputusan dari Jakarta tiba.
Hendro membukanya di tengah halaman.
Investor menyetujui kontrak kerja sama jangka panjang selama 3 tahun.
Dana investasi segera dicairkan untuk melunasi utang perkebunan dan menaikkan gaji pekerja.
Seluruh pekerja bersorak gembira.
Sujatmiko melepas topinya dan membungkuk hormat kepada Sari.
Dengan bukti kecurangan dan surat dari Danang, polis menangkap Bambang.
Toko persediaannya gulung tikar karena semua pemilik perkebunan di daerah itu berhenti membeli darinya.
Di perkebunan, perubahan besar terjadi.
Sari mengajari Aris cara memasak dan mengelola pembukuan bahan.
“Memasak itu bukan cuma menghafal bumbu, tapi memahami urutan dan kerapian,” ajarkan Sari.
Keuangan dapur dipisahkan total dari keuangan perkebunan.
Hendro memberikan sebagian dari keuntungan dapur khusus untuk Sari dan Aris.
Saat musim semi tiba, Hendro membangun gedung makan baru yang permanen.
Ia menunjukkan denah bangunan dengan 30 kursi.
Sari melihat denah itu lalu mengoreksinya.
“Buat 40 kursi, Pak”.
“Tapi tamu kita belum pernah sampai 40 orang sekaligus,” kata Hendro.
“Kita membangun bukan untuk kondisi hari ini, tapi untuk masa depan,” jawab Sari.
Hendro tersenyum lebar.
“Baik, 40 kursi!”.
Sebelum pembangunan dimulai, Hendro menyerahkan sertifikat kepemilikan atas setengah dari bangunan kantin baru itu atas nama Sari Pertiwi.
Bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai investasi saham atas kerja keras Sari.
1 tahun setelah kedatangan pertama Sari yang disambut gelak tawa, Kantin Nusantara Jati resmi dibuka.
Ruangannya luas, bersih, dan harum aroma rempah-rempah.
Aris sudah menjadi asisten koki yang handal.
Sujatmiko membantu menyambut tamu.
Hendro sering duduk menikmati kopinya di sudut ruangan.
Pada jam makan siang, kantin dipenuhi oleh 40 orang.
Pekerja perkebunan, pengemudi truk, dan warga lokal memenuhi setiap kursi.
Sari berdiri di pintu dapur.
Ia melihat beberapa dari 11 pria yang dulu menertawakannya kini bekerja dengan rajin membawa piring dan menyapa pelanggan dengan sopan.
Hendro berjalan mendekati Sari.
“Mereka semua datang karena masakanmu,” kata Hendro.
Sari menggelengkan kepala pelan.
“Bukan hanya karena makanan”.
“Lalu karena apa?” tanya Hendro.
Sari mengingat kembali tungku tua yang rusak, uang perak pertama, sabuk persediaan yang dicuri, dan malam-malam panjang saat ia mencatat setiap gram persediaan.
Sari tersenyum manis.
“Kini mereka tahu, di sini mereka selalu punya tempat yang menghargai keberadaan mereka”.
Dari dalam dapur, suara Aris memanggil.
“Mbak Sari, pesanan gulai tambah satu porsi lagi!”.
Sari menyingsingkan lengan bajunya dan kembali melangkah ke arah tungku.
Dapur itu kini bukan lagi tempat yang dibenci.
Dapur itu telah menjadi jantung utama Perkebunan Nusantara Jati.
Dan orang-orang yang dulu bertaruh berapa hari Sari akan bertahan, kini memesan tempat lebih awal agar tidak kehabisan kursi.
