Sahabat terbaiknya membatalkan pesta lajangnya… karena katanya dia selalu ingin menjadi pusat perhatian
Hari yang seharusnya menjadi perayaan perjalanan ke pantai, Citra tiba di lobi sebuah hotel butik bersama Rani, Nisa, dan Maya. Mereka datang sambil tertawa, membawa koper dan mengenakan topi pantai yang serasi. Ayu, sebagai penyelenggara, sudah tiga bulan bersikeras bahwa tidak seorang pun boleh mengeluarkan uang.
“Teman terbaikku akan menikah dan dia pantas mendapatkan pesta lajang yang luar biasa. Aku yang traktir semuanya. Aku mampu,” ulang Ayu dengan penuh percaya diri setiap kali teman-temannya menawarkan untuk patungan.
Namun, begitu mereka tiba di meja resepsionis, petugas hotel memeriksa sistem berkali-kali dengan wajah penuh rasa tidak enak.
“Maaf sekali, Mbak,” kata resepsionis sambil menatap Citra. “Kami tidak memiliki reservasi atas nama Ayu Prameswari maupun Citra Maharani. Penawaran reservasinya sudah kedaluwarsa sejak sebulan lalu, dan semua kamar saat ini sudah penuh.”
Citra langsung terdiam. Ia memandang teman-temannya dengan bingung.
“Mungkin ada kesalahan,” kata Rani sambil melangkah maju. “Teman kami, Ayu, yang mengatur semuanya. Dia datang lebih dulu daripada kami. Mungkin dia sudah masuk ke salah satu kamar?”
Saat itu, Ayu keluar dari area kolam renang. Ia mengenakan kacamata hitam, memegang segelas sampanye, dan berjalan dengan ketenangan yang dibuat-buat. Begitu melihat mereka berdiri di dekat koper, ia tersenyum miring.
“Tidak ada kesalahan, teman-teman,” ujar Ayu sambil sengaja menyesap minumannya. “Memang tidak ada reservasi. Tidak ada kapal pesiar, tidak ada makan malam penyambutan, dan tidak ada pesta.”
Citra menatapnya tanpa mengerti. Tenggorokannya terasa tercekat.
“Ayu… maksudmu apa?” tanya Citra dengan suara gemetar. “Selama berbulan-bulan kamu bilang semuanya sudah siap. Kamu bilang kami tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.”
Ayu melepas kacamata hitamnya. Tatapannya dipenuhi kebencian yang seolah telah ia pendam selama bertahun-tahun.
“Aku bilang begitu supaya kalian percaya dan datang sampai ke sini untuk melihat ini,” jawab Ayu dengan dingin. “Kamu tidak pantas mendapatkan pesta lajang, Citra.”
Lobi hotel mendadak sunyi. Nisa dan Maya saling bertukar pandang dengan wajah tak percaya.
“Kamu sudah gila, Yu?” seru Rani sambil berdiri di depan Citra. “Sebenarnya apa yang kamu bicarakan?”
“Aku sedang bicara tentang kenyataan bahwa aku sudah muak!” Ayu meledak, meninggikan suara tanpa peduli pada tamu hotel di sekeliling mereka. “Aku sudah muak denganmu, Citra! Muak selalu menjadi bayanganmu! Di kampus, aku harus menelan kenyataan bahwa kamu lulus dengan predikat terbaik. Di kantor, aku harus bertepuk tangan ketika kamu mendapatkan promosi sementara aku terus diabaikan. Dan sekarang aku harus mengurus pernikahan sempurna dengan pria sempurna untuk wanita sempurna!”
Ayu menunjuk Citra dengan tatapan penuh kebencian.
“Sudah waktunya hidup memberimu satu pukulan keras!”
Citra mundur selangkah. Napasnya terasa berat. Air mata mengaburkan pandangannya, bukan karena pesta yang gagal, melainkan karena ia baru saja melihat sahabat yang selama ini dianggap seperti saudara sendiri menatapnya dengan kebencian sedalam itu.
“Ayu… aku menganggapmu seperti saudaraku sendiri,” ucap Citra dengan suara patah. “Kalau selama ini kamu merasa seperti itu, kenapa tidak pernah mengatakannya kepadaku?”
“Karena aku ingin kamu merasakan apa yang kurasakan selama bertahun-tahun,” jawab Ayu sambil tersenyum sinis dan menyilangkan tangan di dada. “Dan jangan berpura-pura menjadi korban. Aku berani bertaruh, kalian semua sebenarnya berpikir sama sepertiku. Kalian hanya tidak punya keberanian untuk mengatakannya langsung di depan wajahnya.”
Nisa langsung melangkah maju dan berdiri di samping Citra.
“Jangan bicara atas nama kami, Ayu,” katanya tajam. “Satu-satunya orang yang penuh dendam dan iri di sini adalah kamu. Kami datang untuk merayakan Citra karena kami menyayanginya, bukan karena uangmu atau sikap sok pentingmu.”
“Kamu teman yang buruk,” tambah Maya dengan suara tegas. “Melakukan hal seperti ini kepada seseorang yang sudah membuka seluruh hidupnya untukmu tidak membuatmu lebih unggul. Itu hanya menunjukkan betapa buruknya caramu memperlakukan orang.”
“Pertahankan uangmu dan hotelmu,” kata Rani sambil mengambil koper Citra. “Kami pergi.”
Ketiga sahabat itu memeluk Citra dan membawanya menjauh dari meja resepsionis. Ayu hanya bisa melihat mereka pergi, berusaha mempertahankan wajah angkuhnya, meskipun tangannya yang gemetar menunjukkan bahwa rencananya justru berbalik menjadi bumerang.
Tiga hari kemudian, di rumah peristirahatan keluarga Rani, mereka mengadakan pesta kecil untuk Citra. Tidak ada hotel mewah, kapal pesiar, atau dekorasi mahal. Hanya tawa, pizza, anggur, musik, dan orang-orang yang benar-benar menyayanginya.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di hotel, Citra tertawa tanpa merasa harus memikirkan apa pun.
Seminggu sebelum pernikahannya, Ayu datang ke apartemen Citra.
Ketika Citra membuka pintu, ia melihat Ayu berdiri di lorong. Tidak ada lagi sikap angkuh seperti hari itu. Wajahnya tampak lelah dan matanya tertunduk.
“Citra… hai,” ujar Ayu pelan. “Boleh kita bicara sebentar? Tolong.”
Citra memandangnya dari ambang pintu. Tidak ada lagi air mata atau kemarahan di wajahnya. Yang tersisa hanya jarak yang tenang, tetapi tidak mungkin dijembatani.
“Masuklah,” kata Citra sambil membiarkan pintu terbuka.
Ayu masuk ke ruang tamu dan meremas kedua tangannya dengan gugup.
“Aku datang untuk meminta maaf,” katanya dengan suara lembut. “Aku tahu apa yang kulakukan di hotel itu salah. Tapi cobalah mengerti… selama bertahun-tahun aku merasa tidak berarti di sampingmu. Aku hanya ingin kamu merasakan, walaupun sehari, apa yang kurasakan selama ini. Aku pikir itu akan membuat kita berada di posisi yang sama dan kita bisa memulai semuanya lagi. Seperti sahabat terbaik yang dulu selalu bersama.”
Citra mendengarkannya dalam diam.
Ia menyilangkan tangan dan menarik napas perlahan sebelum menjawab.
“Ayu, aku tidak pernah bersaing denganmu,” kata Citra dengan suara tenang dan dalam. “Ketika aku lulus, aku ingin kamu berada di sampingku karena kamu adalah salah satu orang yang paling kubanggakan. Ketika aku mendapat promosi, aku merayakannya bersamamu karena kupikir kamu ikut bahagia melihat kemajuanku. Dan ketika aku bertunangan, aku memilihmu karena aku tidak bisa membayangkan melewati semua proses ini tanpa sahabat terbaikku.”
“Aku tahu, Citra. Aku salah…”
“Tidak,” potong Citra dengan tegas. “Kamu tidak sekadar melakukan kesalahan. Kamu membuat keputusan dengan sadar untuk menyakitiku ketika aku berada di saat paling rentan dalam hidupku.”
Ayu terdiam.
“Masalahmu bukan karena apa yang berhasil kuraih, Ayu. Masalahmu adalah kamu tidak pernah bisa ikut bahagia melihat kebahagiaanku tanpa merasa seolah-olah keberhasilanku mengurangi sesuatu dari dirimu.”
“Kita masih bisa memperbaikinya, Citra. Biarkan aku datang ke pernikahanmu. Biarkan aku membuktikan bahwa aku…”
“Tidak ada yang perlu diperbaiki,” jawab Citra sambil menatap tepat ke matanya. “Aku memaafkanmu karena aku tidak ingin membawa dendam di dalam hatiku pada hari pernikahanku. Tapi persahabatan kita berakhir di lobi hotel itu.”
Citra berhenti sejenak.
“Aku berharap kamu bisa menemukan kedamaian dalam hidupmu sendiri. Tapi kamu tidak lagi punya tempat di dalam hidupku.”
Ayu mencoba melangkah mendekatinya, tetapi tatapan Citra yang tenang dan tegas membuatnya berhenti.
Untuk pertama kalinya, Ayu memahami bahwa tidak ada tangisan, tidak ada teriakan, dan tidak ada ruang untuk bernegosiasi.
“Sekarang, tolong keluar dari rumahku,” kata Citra sambil membuka pintu.
Ayu menundukkan kepala. Ia melangkah melewati ambang pintu dalam keheningan.
Pintu itu kemudian tertutup di belakangnya.
Dan bersama suara klik kunci yang sederhana itu, berakhirlah persahabatan yang selama bertahun-tahun ternyata hanya dianggap sebagai persaudaraan oleh satu orang.
