Saat suami pergi merantau mencari rupiah aku terpaksa menumpang di rumah gubuk mertua duda yang sangat dingin dan ganjil, namun setiap jam tiga dini hari pintu kamarku selalu terbuka senyap dan beliau menyusup masuk menyentuh bayiku hingga misteri kelam ini terbongkar 

Saat suami pergi merantau mencari rupiah aku terpaksa menumpang di rumah gubuk mertua duda yang sangat dingin dan ganjil, namun setiap jam tiga dini hari pintu kamarku selalu terbuka senyap dan beliau menyusup masuk menyentuh bayiku hingga misteri kelam ini terbongkar

Jari-jemariku berguncang hebat saat memeluk tubuh mungil putra pertamaku di atas ranjang kayu yang berderit. Cahaya remang dari lampu tidur menyiaskan bayangan panjang di langit-langit kamar tua ini. Rumah ini terisolasi di sudut kampung Sleman yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk kota Yogyakarta. Angin malam berembus membawa bau tanah basah dan aroma kamboja yang menyengat dari pekarangan samping.

Rizky, suamiku, baru saja melangkah keluar dari ruangan pemulihan rumah sakit tiga minggu lalu sebelum ia bergegas naik bus malam. Ia berjanji akan merantau ke pertambangan Kalimantan demi mengumpulkan rupiah untuk masa depan keluarga kecil kami. Ia memintaku bertahan. Namun, karena keluargaku berada sangat jauh di seberang pulau, para kerabat memutuskan agar aku dan bayiku menumpang sementara di rumah ayah kandungnya, Pak Budi.

Pak Budi adalah seorang duda tua yang sangat irit bicara. Wajahnya keras dengan garis kerutan dalam, dan matanya selalu menatap dingin tanpa ekspresi. Sejak aku mengenal suamiku, mertuaku ini terkenal sebagai sosok yang berjarak. Beliau hanya menjawab sepatah kata jika ditanya, lalu berbalik pergi meninggalkan keheningan. Maka dari itu, awal kedatanganku ke rumah kayu berusia puluhan tahun ini dipenuhi kecanggungan yang menekan dada.

Namun, beberapa hari pertama berjalan penuh ketenangan yang ganjil. Setiap kali aku terbangun di pagi hari, termos di sudut meja sudah terisi air panas yang meruap untuk menyeduh susu bayiku. Pakaian-pakaian kecil dan kain bedong milik anakku sudah terjemur rapi di kain jemprangan belakang. Baki sampah di kamarku selalu bersih tanpa sisa. Awalnya aku mengira dirikulah yang melakukan semua itu dalam keadaan tidak sadar karena kelelahan pasca melahirkan.

Hingga suatu pagi, tangisan bayiku memecah kesunyian subuh. Saat aku melangkah keluar kamar dengan langkah gontai, aku tertegun menyaksikan Pak Budi sedang melipat kain bedong cucunya dengan gerakan jemari yang sangat lembut di ruang tamu. Begitu mendengar langkah kakiku, beliau terkejut dan mendongak cepat, matanya memancarkan rasa bersalah yang aneh.

“Maafkan Bapak, Indah,” bisiknya dengan suara serak menahan sesuatu. “Bapak hanya tidak ingin merepotkanmu yang sedang memulihkan diri.”

Sebelum aku sempat membalas ucapan hangat itu, beliau sudah bergegas berdiri dan menghilang ke pekarangan belakang. Ada dinding tak kasat mata yang sengaja beliau bangun.

Ketakutan sejati baru bermula ketika kejadian ganjil terus berulang tanpa logika. Suatu pagi, aku terbangun dan mendapati selimut bayiku terpasang rapi hingga batas dada, padahal aku ingat betul hanya menutupnya dengan kain tipis karena hawa malam yang gerah. Di malam lain, botol susu kotor yang kutinggalkan di atas meja mendadak berpindah ke dalam tempat sterilisasi dalam keadaan suci bersih. Bahkan, pengatur kecepatan kipas angin di pojok kamar sering berubah angka secara misterius.

Aku mencoba menenangkan batinku. Orang tua zaman dahulu selalu berkata bahwa wanita yang baru berpulang dari proses persalinan sering kali menjadi pelupa karena kelelahan yang menumpuk. Tetapi kejujuran naluriku menolak alasan itu ketika sebuah mainan boneka beruang milik bayiku yang kutaruh di samping kanan bantalnya pada malam hari, mendadak berpindah tepat di bawah telapak kakinya pada keesokan harinya!

Bayiku baru berusia satu bulan. Ia belum sanggup membalikkan badan, apalagi memindahkan mainan sejauh itu!

Jantungku berdegup kencang seperti genderang perang. Rasa curiga mulai menggerogoti akalku. Apakah Pak Budi menyusup ke kamarku saat aku terlelap? Tapi untuk tujuan apa seorang mertua duda melakukan hal serahasia itu?

Malam berikutnya, aku memasang perangkap. Aku menjepit selembar kertas kecil di antara celah pintu kayu kamarku sebelum mengunci engselnya dari dalam. Jika ada engsel yang bergerak dari luar, kertas itu pasti jatuh ke lantai.

Saat fajar menyingsing, dadaku terasa sesak. Kertas putih itu sudah tergeletak di tengah lantai kamar! Pintu tetap tertutup rapi. Seseorang telah berhasil masuk ke kamarku saat aku tertidur lelap, lalu menutupnya kembali dari luar!

Keringat dingin membahasahi punggungku. Sepanjang hari aku memperhatikan gerak-gerik Pak Budi. Beliau berjalan lambat, mengelus lututnya yang kerap disiksa rasa nyeri arthritis. Wajahnya tampak pasrah dan lemah saat menyiram tanaman hias atau menyapu dedaunan kering di halaman. Tidak ada raut kejahatan pada wajah tua itu. Namun, mengapa beliau harus menyusup malam-malam?

Aku membulatkan tekad. Malam ini, aku tidak boleh memejamkan mata sedikit pun!

Tepat pukul sepuluh malam, setelah seluruh lampu rumah dipadamkan, aku bergeming di atas ranjang kayu. Aku mendekap bayiku rapat-rapat dalam kegelapan yang mencekam. Waktu bergulir lambat bagaikan siksaan. Pukul satu dini hari… sunyi menggigit. Pukul dua dini hari… kelopak mataku terasa amat berat akibat derita kantuk yang menekan, namun aku terus meremas jemariku sendiri agar tetap terjaga.

Tepat pukul tiga dini hari!

Sebuah suara gemeretak besi terdengar sangat halus dari arah pintu. Gagang pintu kuningan berputar perlahan. Pintu kayu kamarku terbuka tanpa suara. Sebuah bayangan tinggi menyusup masuk ke dalam kegelapan kamar. Langkah kakinya begitu ringan, seolah-olah mengambang di atas papan lantai kayu.

Di bawah temaram lampu tidur, mataku menangkap sosok itu dengan jelas. Pak Budi!

Beliau tidak menatap wajahku yang bersandar di sudut kasur. Pandangannya lurus tertuju pada boks bayi. Tangan tuanya yang gemetar merogoh saku jaket lusuhnya, mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna gelap yang terbungkus kain tua. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, beliau menyelipkan benda itu tepat di bawah bantal anakku.

Sambil merapatkan bibirnya ke arah boks bayi, suara bisikan seraknya terdengar memecah keheningan malam.

“Akhirnya… ada yang bisa kupasrahkan barang ini…”

Pada detik yang sama, layar ponselku di atas meja mendadak menyala terang benderang karena sebuah pesan masuk dari suamiku! Cahaya putih dari layar ponsel itu menembak langsung ke wajah Pak Budi. Beliau terperanjat hebat! Raut mukanya berubah pucat pasi saat kepalanya terayun pelan menatap lurus ke arah mataku yang membatu di atas kasur… sementara telapak tangan tuanya masih terselip rapat di bawah bantal bayiku…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Jantungku seakan berhenti berdetak saat tatapan mata Pak Budi menembus kegelapan malam. Cahaya layar ponsel di tanganku bergetar hebat, memantulkan ketakutan luar biasa yang mencengkeram seluruh sendi tubuhku. Di bawah temaram sinar remang lampu tidur, tangan tua yang keriput itu masih mengambang kaku di bawah bantal tempat bayiku terlelap.

“Bapak… apa yang Bapak lakukan pada anakku?!” jeritku melengking, memecah kesunyian malam yang mencekam.

Tanpa berpikir panjang, aku menyambar tubuh bayiku yang mendadak terbangun dan menangis histeris. Dengan tangan kiri yang gemetar hebat, aku menarik kasar kain tua yang diselipkan Pak Budi di bawah bantal. Sebuah benda keras berwarna hitam kelam berukiran perak terhampar di atas telapak tanganku. Itu adalah sebuah bilah keris kecil tanpa sarung, dihiasi ukiran huruf Jawa kuno dan balutan kain mori yang telah menguning tajam.

“Iblis apa yang Bapak selipkan pada anakku?!” amukku dengan napas memburu. Keringat dingin bercucuran deras di pelipisku. “Selama ini… ternyata Bapak yang selalu menyusup ke kamarku! Semua kebaikan Bapak selama ini… mencuci baju, menyiapkan air panas, membersihkan kamar… itu semua cuma kedok busuk untuk mencelakai darah daging suamiku sendiri?!”

Pak Budi menunduk dalam-dalam. Bahunya yang rapuh terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan. Tiba-tiba, tubuh tua itu meluruh ke atas lantai kayu yang dingin. Beliau berlutut di hadapanku dengan air mata yang menetes membasahi pipinya yang cekung dan pucat pasi.

“Astaga, Indah… Demi Tuhan Yang Maha Kuasa, Bapak tidak pernah berniat mencelakai cucu Bapak sendiri!” bisik Pak Budi dengan suara parau yang sarat akan penderitaan mendalam. “Dengar penjelasan Bapak dulu, Hija… Tolong jangan salah sangka pada orang tua yang sudah berbau tanah ini…”

“Penjelasan apa lagi?!” potongku tajam sambil memeluk erat bayiku yang semakin kencang menangis. “Jelas-jelas Bapak menaruh benda berbau mistis ini di bawah bantal anakku! Setiap jam tiga dini hari! Jangan katakan Bapak tidak sedang meracuni atau menyantet bayiku yang baru berusia satu bulan ini!”

Pak Budi mengusap air matanya dengan lengan baju lusuhnya yang berbau minyak kayu putih. Wajahnya tampak begitu sengsara, seolah-olah menanggung beban penderitaan seisi dunia di atas pundaknya yang ringkih.

“Benda itu bukan benda santet, Indah…” ujar Pak Budi dengan tatapan mata yang jujur dan menyayat hati. “Itu adalah Keris Pusaka Kyai Singo Barong, warisan suci dari leluhur keluarga kita. Benda itu adalah penolak bala paling ampuh yang Bapak miliki untuk membentengi jiwa yang suci.”

Aku tertawa sumbang dengan dada bergemuruh, merasa dibodohi oleh kebohongan yang sangat tidak masuk akal. “Penolak bala? Untuk apa bayi mungil yang belum tahu dosa ini butuh benda mistis berdarah dingin seperti ini di bawah bantalnya?!”

Pak Budi mendongak perlahan, matanya menatapku dengan kepedihan yang teramat sangat. “Karena setiap jam tiga dini hari… ada iblis kelam yang dikirim dari kegelapan untuk mencabut nyawa anakmu, Indah!”

Kata-kata itu terlempar bagaikan sambaran petir di siang bolong. Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat dingin, seolah-olah udara segar di sekitar kami mendadak lenyap tergantikan oleh bau busuk tanah kuburan yang menyengat.

“Apa… apa maksud Bapak sebenarnya?” bisikku gagap, ketakutanku merambat naik dari telapak kaki hingga meremangkan seluruh bulu kudukku.

Pak Budi menggenggam kedua tangannya yang gemetar di atas pangkuannya. “Anakmu… sedang dijadikan tumbal pesugihan. Dan manusia iblis yang menjual jiwa anakmu kepada sekutu kegelapan itu… bukanlah orang luar.”

“Lalu siapa?!” cecarku dengan nada tinggi yang bergetar.

“Rizky… suamimu sendiri!”

“Bohong!” jeritku histeris menolak kenyataan pahit itu. “Kurang ajar! Bapak fitnah anak kandung Bapak sendiri?! Rizky pergi merantau ke Kalimantan demi mencari rupiah untuk biaya hidup kami! Dia bekerja keras berhari-hari di tambang! Bagaimana bisa Bapak tega menuduhnya menjual anak kandungnya sendiri?!”

Pak Budi merogoh saku celananya dengan gerakan lemah, lalu melemparkan sebuah buku catatan kusam dan selembar kertas berstempel merah ke atas kasur. Dengan jari jemari yang bergetar hebat, aku mengambil kertas tersebut di bawah temaram lampu tidur.

Mataku membelalak lebar saat membaca baris demi baris tulisan di atas kertas tersebut. Kertas itu adalah surat perjanjian pinjaman uang dari tengkulak haram bernilai ratusan juta Rupiah atas nama Rizky! Di halaman berikutnya pada buku catatan kusam itu, terdapat rekapan transaksi judi online dan investasi bodong yang telah menghancurkan seluruh keuangan suamiku hingga tak tersisa satu Rupiah pun. Dan yang paling mengerikan… di lembar terakhir buku catatan itu, terdapat denah ritual mistis dan perjanjian ilmu hitam yang ditandatangani dengan cetakan jempol berdarah merah tua milik Rizky!

“Rizky tidak pernah pergi merantau ke Kalimantan, Indah,” tutur Pak Budi dengan suara bergetar menahan duka. “Dia bersembunyi di sebuah kontrakan kumuh di kota sebelah, melarikan diri dari kejaran para penagih utang yang mengancam akan bertindak kasar pada fisiknya. Karena terdesak utang yang menumpuk hingga setengah miliar Rupiah, dia nekat mendatangi seorang dukun hitam di lereng gunung. Persyaratan mutlak untuk menghapus seluruh utangnya dan mendatangkan kekayaan instan adalah memberikan nyawa anak kandung pertamanya sebelum bayi itu berusia empat puluh hari!”

Duniaku seolah-olah runtuh seketika dalam sekejap mata. Lututku lemas tak bertulang. Aku terduduk kaku di tepi ranjang kayu. Air mata meleleh deras membasahi pipiku tanpa bisa ditahan. Kepalaku pusing membayangkan betapa kejinya pria yang selama ini kutiduri dan kubanggakan sebagai suami.

“Ya Allah… Tidak mungkin… Rizky tidak mungkin sejahat itu pada anak kandungnya sendiri…” ratapku tidak percaya, menangis meratapi nasib malang yang menimpa diriku dan anakku.

“Bapak menemukan ruangan rahasia di bawah gudang tua rumah ini seminggu sebelum Rizky berpura-pura pamit pergi merantau,” lanjut Pak Budi dengan dada yang naik turun menahan sesak. “Di sana ada foto anakmu yang ditusuk jarum hitam dan sesajen busuk. Hari ketika Rizky pamit pergi meninggalkan kita, itu adalah hari pertama ritual pesugihan itu dijalankan dari jauh! Iblis pesugihan itu dikirim untuk menyedot aura kehidupan bayimu setiap jam tiga dini hari, saat kondisi bayi berada di titik spiritual paling lemah.”

Pak Budi menyingsingkan lengan bajunya, menunjukkan kulit tangannya yang tampak kehitaman dan memar mengerikan hingga ke bagian pergelangan.

“Selama tiga minggu ini, Bapak tidak pernah memejamkan mata dengan tenang, Indah. Setiap jam tiga dini hari, saat iblis itu datang mendekati kamar ini, Bapak harus menyusup masuk dan meletakkan Keris Pusaka ini di bawah bantal cucu Bapak. Benda pusaka ini bertindak sebagai tameng gaib, menyerap seluruh serangan racun ghaib itu dan mengalirkannya langsung ke tubuh Bapak sendiri! Setiap kali Bapak mencuci baju dan membersihkan kamar ini di pagi hari, itu adalah cara Bapak menyembunyikan penderitaan Bapak yang sedang menahan rasa sakit luar biasa akibat bisa ghaib yang membakar organ dalam tubuh Bapak!”

Air mataku menetes semakin deras bagaikan air terjun. Bayangan tentang Pak Budi yang selalu memegang lututnya karena kesakitan setiap kali berjalan, wajahnya yang pucat pasi setiap pagi, dan caranya melipat pakaian bayi dengan penuh kelembutan… semuanya mendadak teratur rapi bagaikan puzzle yang sangat menyakitkan. Beliau bukannya orang tua dingin yang acuh tak acuh atau mertua misterius yang patut dicurigai. Beliau adalah seorang kakek yang rela mempertaruhkan nyawanya sendiri setiap malam demi melindungi cucunya dari kekejaman anak kandungnya sendiri!

“Maafkan Bapak, Indah…” tangis Pak Budi pecah di atas lantai kayu. “Bapak gagal mendidik Rizky menjadi manusia yang berakal sehat. Bapak hanya ingin menyembunyikan kebusukan ini agar kamu tidak mengalami kemunduran mental pasca melahirkan… Tapi Bapak tidak punya pilihan lain selain menahan serangan ghaib itu sendirian setiap malam…”

“Bapak…” bisikku terisak penuh penyesalan yang membakar jiwa. Aku meluruh ke lantai, berlutut di hadapannya, menggenggam erat tangan tua yang dingin dan gemetar itu. “Maafkan aku, Pak… Maafkan aku yang sudah berpikiran jahat dan penuh prasangka buruk pada Bapak…”

Tiba-tiba, suara dering ponsel di atas meja memecah keheningan yang mengharu biru itu. Nama “Rizky” tertera jelas di layarnya.

Dengan jemari yang bergetar hebat, aku memungut ponsel itu, memencet tombol hijau, dan menempelkannya ke telingaku.

“Halo, Indah?” suara Rizky terdengar sangat lembut dan merdu di ujung telepon, namun kini suara itu terdengar bagaikan cicitan ular berbisa yang amat menjijikkan di telingaku. “Bagaimana keadaan anak kita? Apakah dia terlihat lemas, demam, atau menangis tanpa sebab malam ini?”

“Rizky…” suara bergetarku berusaha menahan amarah murka yang membakar dada. “Kamu ada di mana sebenarnya sekarang?”

“Kan Mas sudah bilang berulang kali, Mas sedang berada di mess tambang Kalimantan, Sayang. Kenapa tanyanya curiga begitu?”

“Bohong!” teriakku histeris hingga urat leherku menonjol. “Kamu tidak pernah melangkah ke Kalimantan, Rizky! Kamu tega menjual anakmu sendiri demi melunasi utang judi online dan investasi harammu! Kamu manusia iblis tanpa nurani!”

Keheningan yang mencekam membakar di ujung telepon selama beberapa detik. Suara nada ramah Rizky mendadak lenyap sepenuhnya, berganti dengan helaan napas dingin yang sangat mengerikan dan penuh kebiadaban.

“Jadi… tua bangkai itu sudah membeberkan semuanya kepadamu?” desis Rizky dengan nada suara asing yang dipenuhi kebencian. “Kurang ajar! Harusnya budak kecil itu sudah tenggelam dalam tidur abadi minggu lalu jika tua bangkai itu tidak ikut campur menggunakan pusaka busuknya! Dengarkan aku baik-baik, Indah! Batas waktu ritual pesugihanku berakhir subuh ini saat matahari terbit! Jika budak kecil itu tidak menyerahkan aura jiwanya malam ini, maka para penagih utang dan iblis itu yang akan mengakhiri hidupku!”

“Kamu sudah gila, Rizky! Ini anak kandungmu sendiri!” jeritku meratap dengan derita yang mendalam.

“Peduli setan dengan darah daging!” bentak Rizky murka. “Serahkan bayi itu sekarang! Atau aku sendiri yang akan datang merampasnya dari tangan kalian!”

Panggilan terputus kasar.

Belum sempat aku memproses rasa panik yang menghantam jiwa, suara raungan mesin mobil yang melaju kencang terdengar berhenti tepat di pekarangan rumah tua ini. Suara dobrakan dahsyat menghantam pintu depan rumah kami!

Pintu kayu depan hancur berantakan menghantam lantai. Langkah kaki berat bergema cepat menuju ke arah kamar. Rizky muncul di ambang pintu kamar bersama dua pria berbadan tegap dengan tubuh penuh tato ganjil dan tatapan mata yang haus akan pertumpahan darah! Wajah Rizky tampak sangat tirus, kulitnya pucat kehijauan, dan lingkaran hitam tebal mengelilingi matanya yang kemerahan bagaikan kerasukan iblis.

“Serahkan budak kecil itu!” bentak Rizky seraya melangkah maju dengan sebuah pisau pemotong daging di tangannya yang bergetar.

“Rizky! Hentikan kegilaanmu ini, Nak!” seru Pak Budi seraya bangkit berdiri dengan susah payah, pasang badan di depan tubuhku dan bayiku. “Langkahmu sudah sangat jauh melenceng dari ajaran Tuhan! Jangan biarkan jiwamu sepenuhnya dikuasai oleh iblis kegelapan!”

“Diam kamu, Tua Bangkai!” teriak Rizky kesetanan. “Karena pusaka busukmu itu, ritual pesugihanku selalu gagal dalam tiga minggu ini! Hari ini, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku mendapatkan kekayaan itu kembali!”

Dua preman di belakang Rizky melangkah maju untuk mencengkeram tubuh Pak Budi yang ringkih. Namun, tepat pada momen yang sangat kritis itu, Pak Budi menarik napas panjang. Wajah tuanya yang tadinya tampak lemah mendadak memancarkan wibawa spiritual yang luar biasa agung. Beliau mengangkat Keris Pusaka Kyai Singo Barong tinggi-tinggi ke udara, lalu merapalkan doa keselamatan dengan suara tegas yang mengguncang seluruh dinding kayu rumah tua ini.

“Demi Tuhan Yang Maha Menguasai Alam Semesta beserta isinya! Haram hukumnya darah suci cucuku disentuh oleh kebatilan dan kesetanan!” pangkas Pak Budi dengan keagungan suara yang memekakkan telinga.

Seketika, angin kencang berembus mutlak dari dalam ruangan tertutup itu. Asap hitam pekat merebak keluar dari bilah keris kecil di tangan Pak Budi. Kain mori penutup keris itu mendadak terbakar secara gaib tanpa meninggalkan sisa abu. Dengan segenap sisa tenaga kehidupannya, Pak Budi menusukkan keris tersebut tepat ke atas lantai kayu di depan kaki Rizky!

Sebuah gelombang energi ghaib yang sangat dahsyat menghantam dada Rizky dan kedua preman tersebut. Rizky menjerit histeris saat racun ilmu hitam yang selama ini tertahan di dalam pusaka itu terbalik sepenuhnya dan menyerang balik tubuh suamiku!

“Aaaaaarrrrghh! Panas! Panas sekali! Jiwaku terbakar!” teriak Rizky gila seraya menggeliat heboh di atas lantai. Wajahnya memerah pekat, urat-urat di leher dan dahinya menonjol kehitaman. Dua preman yang membantunya lari terbirit-birit ketakutan menyaksikan fenomena mistis yang teramat mengerikan itu.

Rizky memuntahkan cairan hitam pekat berbau busuk dari mulutnya. Ilmu hitam pesugihan yang ia bangun untuk mengorbankan anak kandungnya kini memangsa jiwanya sendiri sebagai akibat dari pelanggaran janji pesugihan yang gagal memenuhi kurban! Tubuhnya berguncang hebat sebelum akhirnya ia tergeletak tak berdaya di atas lantai, kehilangan seluruh kesadarannya dan akal sehatnya secara permanen.

Saat suasana mendadak hening dan mencekam, Pak Budi perlahan jatuh berlutut. Tubuh tuanya terkulai lemas. Aku bergegas mendekap tubuh beliau, menangis histeris seraya memangku kepalanya yang terasa dingin.

“Bapak! Bapak bertahanlah, Pak! Tolong jangan tinggalkan kami!” jeritku dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.

Pak Budi menatapku dan bayiku dengan senyuman yang sangat tulus. Sebuah senyuman hangat yang akhirnya sampai ke matanya yang teduh dan penuh kasih sayang. Cahaya kehidupan di matanya perlahan-lahan memudar secara perlahan.

“Tugas Bapak… sudah selesai, Indah…” bisik Pak Budi dengan helaan napas yang sangat halus. “Jaga anakmu baik-baik… Dia… adalah masa depan dan kehormatan keluarga ini…”

Mata Pak Budi terpejam perlahan. Tangan tuanya terkulai lemas dari genggamanku. Di subuh yang dingin dan syahdu itu, Pak Budi resmi berpulang ke Rahmatullah dengan senyuman tenang, meninggalkan duniaku setelah memenangkan pertempuran suci demi menyelamatkan cucu tercintanya.

Beberapa minggu setelah pemakaman Pak Budi dan proses hukum terhadap Rizky yang kini mendekam di rumah sakit jiwa dalam pengawasan ketat kepolisian, aku kembali ke rumah tua itu untuk mengemas barang-barang peninggalan almarhum. Saat membersihkan meja kerja tua milik Pak Budi, sebuah diari kuno bersampul kulit jatuh dari balik lemari pakaian. Aku membukanya dengan jemari yang bergetar hebat.

Ternyata, Pak Budi bukanlah sekadar mertuaku biasa, melainkan saudara angkat sepersaudaraan dari almarhum kakek kandungku yang telah bersumpah akan menjaga garis keturunan trah bangsawan keluargaku sampai mati. Rizky sejak awal dengan sengaja mendekatiku dan menikahiku hanya karena darah keturunanku memiliki kesucian khusus yang dibutuhkan sebagai syarat mutlak ritual pesugihan tingkat tingginya. Namun Pak Budi telah mengetahui rencana busuk anak kandungnya sejak awal, dan rela mengorbankan nyawanya sendiri demi menepati sumpah setianya untuk melindungi darah keturunanku hingga nafas terakhirnya.