PARTE 2
Maya tidak mendatangi orang tuanya untuk berdebat.
Ia menyerahkan bukti rekaman kamera ke unit penyidik melalui jalur resmi, mengamankan seluruh dokumen aset asli, dan sengaja meninggalkan folder buatan di meja kerjanya.
Folder buatan itu berisi laporan keuangan rekayasa dengan nomor rekening yang tidak pernah ada.
8 hari kemudian, Rika datang kembali ke apartemen.
Rika memotret isi folder rekayasa itu dari berbagai sudut.
Hanya selang dua hari, Bambang menyerahkan laporan pidana darurat ke kepolisian.
Bambang menuduh Maya melarikan uang perusahaan senilai puluhan miliar rupiah ke luar negeri.
Siska dan Hendra memberikan kesaksian tertulis sebagai saksi pelapor.
Rika menyerahkan foto-foto dari meja kerja Maya sebagai bukti utama.
Malam penangkapan pun tiba.
Polisi menemukan amplop cokelat di laci meja kerja Maya, persis seperti yang direncanakan keluarga tersebut.
Jam 02.46 di kantor polisi, seorang petugas memasukkan data identitas Maya ke dalam sistem data internal.
Layar monitor langsung menampilkan peringatan khusus berstatus verifikasi terbatas.
Petugas itu terkejut dan segera melaporkan hal tersebut kepada kepala penyidik yang bertugas malam itu.
Beberapa menit kemudian, kepala penyidik masuk ke ruang pemeriksaan.
“Siapa Anda sebenarnya, Mbak Maya?” tanya kepala penyidik.

Maya mengambil kartu akreditasi resminya sebagai analis forensik keuangan pemerintah beserta sebuah drive terenkripsi.
Kartu dan drive itu diletakkan di atas meja.
Drive tersebut berisi rekaman video Rika yang masuk tanpa izin, log akses server dari kantor Bambang, rekaman percakapan suara Hendra, dan bukti transfer dana kecil yang dikirimkan ke rekening pribadi sang pengacara.
Kepala penyidik memeriksa isi drive tersebut di komputer ruangannya.
Wajah penyidik berubah serius setelah melihat seluruh bukti terstruktur itu.
“Apakah mereka tahu Anda menyimpan semua ini?” tanya penyidik.
Maya menggelengkan kepala.
Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 03.19.
“Saat ini mereka pasti sedang merayakannya di rumah,” kata Maya pelan.
Kepala penyidik menutup berkas di mejanya.
“Tahan semua orang yang ada di rumah itu sekarang juga.”
Jam 03.42, siaran langsung Rika masih berlangsung dari rumah mewah keluarga mereka di kawasan Pondok Indah.
Rika meletakkan ponselnya di atas meja ruang tamu.
Siska sibuk membalas pesan selamat dari kerabat-kerabat mereka.
Hendra membuka botol minuman mahal milik almarhum Sutrisno.
“Maya itu dari dulu terlalu sombong,” ujar Siska di depan kamera. “Sebagai ibu, saya sedih, tapi hukum harus ditegakkan.”
Rika mendekatkan kameranya ke arah Siska.
“Ibu sudah curiga sejak lama?” tanya Rika.
Siska memasang wajah prihatin.
“Ibu selalu berharap dia anak yang baik, tapi ternyata niatnya buruk.”
Hendra mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
“Untuk Kakek Sutrisno. Sekarang aset perusahaan kembali ke tangan yang benar.”
Rika tersenyum lebar ke arah 20.000 penonton live-nya.
“Lalu siapa yang akan memimpin perusahaan sekarang, Yah?” tanya Rika.
Hendra menjawab cepat.
“Tentu saja Ayah yang akan mengambil alih.”
Suara ketukan keras terdengar dari pintu depan.
3 kali ketukan mantap.
Senyum Hendra mendadak hilang.
Siska meletakkan ponselnya di meja.
“Kamu menunggu tamu, Mas?” tanya Siska.
Hendra menggeleng.
Dari luar, suara petugas polisi terdengar menyuruh mereka membuka pintu.
Rika tetap mengarahkan kamera ponselnya ke pintu.
“Ayah, ada apa ini?” tanya Rika panik.
“Matikan live itu sekarang!” teriak Hendra.
Rika tidak sempat mematikan siaran langsungnya.
Petugas polisi masuk membawa surat perintah penggeledahan dan penangkapan resmi.
Ponsel Rika terjatuh ke atas karpet.
Layar ponsel yang masih menyiarkan live itu merekam kaki para petugas, instruksi penangkapan, dan suara Siska yang berteriak histeris menanyakan alasan mereka ditangkap.
Pesta kemenangan keluarga itu berakhir dalam waktu kurang dari 2 jam.
Di tempat lain pada waktu yang sama, tim penyidik mendatangi kantor notaris Bambang di wilayah Kuningan.
Bambang berada di ruang kerjanya meski hari masih gelap.
Ia sedang menghubungkan dua harddisk eksternal dan berusaha menghapus folder-folder dari server utamanya.
Penyidik bergerak cepat menghentikan tindakannya.
Polisi menyita seluruh komputer, ponsel, dan berkas fisik dari ruangan tersebut.
Di dalam perangkat Bambang, penyidik menemukan pemalsuan dokumen, draf laporan polisi yang ditulis beberapa minggu sebelum dugaan kejahatan terjadi, serta catatan pembagian dana dari Hendra.
Penyidik juga menemukan satu surat elektronik lama yang dikirim saat Sutrisno masih hidup.
Hendra pernah mengirim pesan kepada Bambang untuk menanyakan cara mengubah isi wasiat Sutrisno secara sepihak.
Balasan Bambang saat itu sangat jelas:
“Selama Pak Sutrisno masih hidup, wasiat tidak bisa diubah. Kita harus menunggu sampai beliau meninggal.”
Pesan itu memperlihatkan bahwa Hendra sudah lama mengincar seluruh harta ayahnya sendiri.
Jam 06.10 pagi, Maya keluar dari kantor polisi bersama seorang penyidik wanita.
Maya tidak langsung pulang ke apartemennya.
Ia meminta diantar melewati rumah orang tuanya di Pondok Indah.
Di depan rumah itu, beberapa mobil polisi masih terparkir dan para tetangga berkumpul di luar pagar.
Rika terlihat duduk di dalam mobil patroli dengan tangan terikat.
Melihat Maya berjalan mendekat, Rika memukul kaca mobil dari dalam.
“Maya! Tolong aku!” teriak Rika.
Maya berhenti beberapa langkah dari mobil.
Wajah Rika berantakan oleh air mata.
“Beri tahu polisi kalau aku tidak tahu apa-apa!” pinta Rika. “Ibu yang minta kunci apartemenmu! Pak Bambang yang siapkan dokumennya! Aku cuma mengambil foto!”
Maya menatap adiknya tanpa ekspresi.
“Kamu masuk ke apartemenku dua kali, Rika.”
“Ibu yang menyuruhku!”
“Kamu membuka mejaku dan memeriksa dokumen pribadiku.”
“Aku tidak tahu isi dokumen itu untuk apa!”
“Kamu yang menaruh amplop palsu itu di laciku.”
Rika bungkam.
Sepanjang hidupnya, Rika selalu menjadi anak yang dilindungi dan dimanjakan.
Saat Rika dikeluarkan dari kampus, orang tuanya menyalahkan sistem pendidikan.
Saat Rika menumpuk utang belanja, Hendra yang membayar semuanya.
Sebaliknya, ketika Maya bekerja keras meraih beasiswa dan menyelesaikan pendidikan S2 sambil bekerja, Siska selalu menyebut Maya anak yang egois.
Rika terbiasa berpikir bahwa selalu ada orang lain yang akan menanggung kesalahannya.
“Kita ini bersaudara, Maya,” bisik Rika dari balik jendela.
Maya menatap adiknya dengan tatapan dingin.
“Kamu tidak mengingat itu saat merekamku diborgol tadi malam.”
Maya berbalik dan berjalan menuju rumah.
Siska keluar dari pintu depan dikawal dua petugas.
Melihat Maya berdiri di halaman, wajah Siska berubah penuh kemarahan.
“Semua ini terjadi karena kakekmu tidak adil!” teriak Siska.
Maya tetap berdiri diam.
“Dia memberikan terlalu banyak padamu!” lanjut Siska. “Kami yang mendampinginya setiap hari!”
“Kakek berhak menentukan miliknya,” kata Maya pelan.
“Kamu yang menjebak kami dengan dokumen-dokumen itu!” jerit Siska.
Maya membalas dengan suara tenang yang membuat Siska terdiam.
“Aku tidak pernah menyuruhmu menyuruh Rika masuk ke rumahku. Aku tidak pernah memintamu memalsukan surat. Kalian sendiri yang memilih untuk melakukan kejahatan itu.”
Siska mendadak pucat.
“Aku ini ibumu, Maya.”
“Dan Ibu tersenyum saat polisi memborgolku tadi malam.”
Siska menundukkan kepalanya.
Hendra berjalan di belakang Siska dengan tangan terikat.
Hendra tidak tampak takut, ia hanya terlihat sangat marah.
“Sejak kapan kamu tahu rencana ini?” tanya Hendra pada Maya.
“Sejak di kantor notaris.”
“Tidak mungkin.”
“Pak Bambang membaca klausul penggantian pengurus sambil menatap Ayah. Ayah tidak bisa menyembunyikan wajah Ayah hari itu.”
Hendra mengepalkan tangannya.
“Kamu seharusnya bicara baik-baik dengan keluarga!”
Maya memahami arti kalimat ayahnya.
Hendra bukan menyesali perbuatannya, ia hanya marah karena rencananya gagal total.
Hal itu menghapuskan sisa rasa hormat yang pernah dimiliki Maya terhadap ayahnya.
Beberapa bulan berikutnya berjalan lambat.
Video penangkapan Maya yang diunggah Rika sempat beredar luas sebelum kebenaran terungkap.
Namun, setelah polisi merilis keterangan resmi, keadaan berbalik sepenuhnya.
Akun media sosial Rika diserbu puluhan ribu netizen.
Kontrak kerja sama Rika dengan berbagai merek dibatalkan secara sepihak.
Maya tidak pernah membuat video klarifikasi atau pernyataan di media sosial.
Ia tahu bukti hukum jauh lebih kuat daripada perdebatan di internet.
Penyidik kepolisian mengumpulkan seluruh riwayat pesan singkat antara Siska, Hendra, Rika, dan Bambang.
Dalam salah satu pesan, Siska menulis kepada Hendra:
“Begitu Maya ditangkap, kita langsung ajukan permohonan hak kelola sementara.”
Hendra membalas:
“Bambang bilang kalau ada kasus pidana aktif, hakim akan cepat menyetujuinya.”
Dalam grup lain, Rika bertanya:
“Boleh aku live saat Maya dibawa polisi?”
Siska menjawab:
“Boleh. Buat semua orang percaya kalau dia memang pencuri.”
Maya membaca pesan-pesan itu berkali-kali di ruang sidang.
Mereka tidak hanya ingin mengambil harta, tetapi juga ingin menghancurkan nama baiknya agar ia tidak bisa melawan lagi.
1 tahun kemudian, persidangan resmi selesai.
Bukti rekaman kamera, analisa log digital, dan dokumen palsu memperlihatkan skenario kejahatan tersebut secara jelas.
Hakim menjatuhkan hukuman penjara kepada Bambang atas tuduhan pemalsuan dokumen dan kesaksian palsu, serta pencabutan izin praktiknya.
Hendra dan Siska divonis hukuman penjara atas persekongkolan tindak pidana dan laporan palsu.
Aset pribadi Hendra disita untuk membayar ganti rugi kerugian operasional perusahaan.
Rika dijatuhi hukuman penjara yang lebih ringan, namun nama baiknya di dunia digital hancur sepenuhnya.
Setelah pembacaan putusan, Siska meminta waktu 5 menit untuk berbicara dengan Maya di ruang tunggu pengadilan.
Wajah Siska tampak jauh lebih tua.
“Ibu tidak pernah membayangkan kita akan jadi seperti ini, Maya,” kata Siska.
Maya diam.
“Ayahmu saat itu sangat panik karena masalah keuangan.”
“Bukan panik, Bu. Ayah marah karena Kakek tidak memberikan aset itu kepadanya.”
Siska menarik napas panjang.
“Rika punya banyak utang. Kami hanya ingin membantu adikmu.”
“Ibu bisa membantunya dengan uang Ibu sendiri, bukan dengan merebut milik orang lain.”
“Kamu punya harta lebih banyak dari kami!” kata Siska.
Kalimat itu membuktikan bahwa Siska masih menganggap aset perusahaan sebagai milik bersama yang boleh diambil secara paksa.
“Ini bukan soal harta, Bu. Ini soal keserakahan kalian,” jawab Maya.
Siska mulai menangis.
“Maafkan Ibu, Maya.”
Maya menatap ibunya.
Ia teringat masa kecilnya, kenangan liburan keluarga, dan makan malam bersama.
Namun Maya juga mengingat dinginnya borgol besi malam itu, senyuman Siska, dan gelas minuman yang diangkat ayahnya.
“Ibu menyesal karena perbuatan ini salah, atau karena kalian tertangkap?” tanya Maya.
Siska berhenti menangis.
Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Maya berdiri dari kursinya.
“Aku ini ibumu!” panggil Siska dengan suara bergetar.
Maya membuka pintu ruangan.
“Karena itulah perbuatan Ibu terasa sangat sakit.”
Beberapa bulan kemudian, Maya mendatangi rumah tua almarhum kakeknya di Pulo Gadung.
Sesuai putusan pengadilan, Maya memegang kendali penuh atas seluruh aset legitiem Sutrisno.
Maya masuk ke dalam ruang kerja Kakek Sutrisno yang masih tertata rapi.
Di atas meja kayu tua, terdapat foto masa kecil Maya saat lulus sekolah.
Di balik bingkai foto itu, Maya menemukan selembar kertas kecil berdebu.
Kertas itu berisi tulisan tangan kakeknya:
“Jangan biarkan uang mengubah siapa dirimu sebenarnya, Maya.”
Maya duduk di kursi kayu tua itu dan meneteskan air mata.
Ia tidak menangis saat ditangkap polisi.
Ia tidak menangis saat melihat adiknya masuk ke apartemennya secara ilegal.
Ia tidak menangis di ruang sidang saat hakim membacakan vonis.
Maya menangis di ruang kerja kakeknya karena sadar bahwa Sutrisno sudah tahu sifat asli anak dan cucunya yang lain sejak awal.
Satu minggu kemudian, Maya menjual salah satu bangunan non-produktif milik perusahaan.
Ia menggunakan sebagian hasil penjualan untuk mendirikan yayasan bantuan hukum gratis bagi lansia yang menjadi korban penipuan aset keluarga.
Sisa dana tetap dikelola secara profesional sesuai petunjuk tertulis kakeknya.
Maya tidak membeli rumah mewah baru.
Ia tetap bekerja sebagai analis keuangan, bangun pagi setiap hari, dan menikmati seduhan kopinya di apartemen.
1 tahun setelah persidangan, Maya menerima selembar surat dari Rika dari dalam lembaga pemasyarakatan.
Surat itu tidak berisi permintaan uang atau tuntutan agar Maya mencabut laporan.
Rika mengakui bahwa ia masuk ke apartemen atas kesadarannya sendiri, merekam video penangkapan karena merasa iri, dan selalu menganggap Maya akan selalu mengalah seperti biasa.
Surat itu diakhiri dengan kalimat singkat:
“Aku tidak tahu apakah Mbak Maya bisa memaafkanku. Aku hanya ingin menulis surat ini tanpa menyalahkan orang lain lagi.”
Maya menyimpan surat itu di dalam laci kerjanya.
Ia tidak membalas surat tersebut.
Maya memahami bahwa memaafkan seseorang tidak berarti harus menerima orang itu kembali ke dalam hidupnya.
Di dalam ponselnya, Maya masih menyimpan satu tangkapan layar dari siaran langsung malam itu.
Gambar Rika memegang kamera, dengan Siska dan Hendra tersenyum di belakang sambil memegang gelas.
Maya tidak menyimpan foto itu karena rasa dendam.
Ia menyimpannya sebagai pengingat atas pelajaran hidup paling berharga yang ia dapatkan di usia 34 tahun.
Terkadang, orang yang paling sering mengucapkan kata keluarga adalah orang yang paling pertama memanfaatkanmu.
Dan ketika seseorang menuntutmu menyerahkan harga diri serta hak milikmu atas nama rasa hormat, mereka sebenarnya tidak menginginkan kedamaian.
Mereka hanya menginginkan kepatuhanmu.
Malam itu Maya memang kehilangan keluarga yang selama ini ia berusaha banggakan.
Namun Maya mendapatkan kembali hal yang jauh lebih bernilai dari Rp125.000.000.000.
Ia mendapatkan kembali nama baiknya, ketenangannya, dan kepastian bahwa dirinya tidak akan pernah lagi biarkan orang lain menginjak-injak hidupnya.
