SAAT GAJIKU NAIK RP 95 JUTA MURNI, SUAMIKU TEGA MENYERAHKAN SELURUH GAJINYA PADA IBU MERTUA DAN MENUNTUTKU MENANGGUNG SEMUA BIAYA RUMAH TANGGA HINGGA DUA MANGKUK MIE INSTAN MEMBONGKAR RENCANA JAHAT MEREKA MENUMBALKAN APARTEMEN MEWAHKU KEPADA PENAGIH UTANG!

SAAT GAJIKU NAIK RP 95 JUTA MURNI, SUAMIKU TEGA MENYERAHKAN SELURUH GAJINYA PADA IBU MERTUA DAN MENUNTUTKU MENANGGUNG SEMUA BIAYA RUMAH TANGGA HINGGA DUA MANGKUK MIE INSTAN MEMBONGKAR RENCANA JAHAT MEREKA MENUMBALKAN APARTEMEN MEWAHKU KEPADA PENAGIH UTANG!

BAGIAN 1

Aku melangkah masuk ke dalam unit apartemen megah kami di kawasan Jakarta Selatan dengan hati berbunga-bunga. Di tanganku, tersepatu sebotol jus anggur merah premium, kotak kue cokelat terbaik dari toko ternama, dan sebuah berita besar yang sudah kumatikan lewat keringat serta air mata selama delapan tahun terakhir.

Mulai bulan depan, jajaran direksi resmi mengangkatku sebagai Direktur Operasional di perusahaan multinasional tempatku mengabdi. Gaji bersih yang akan masuk ke rekeningku menyentuh angka Rp 95.000.000 setiap bulan. Angka yang fantastis, buah manis dari ratusan malam tanpa tidur demi menyelesaikan audit keuangan, perjalanan dinas mendadak ke berbagai kota, serta akhir pekan yang hangus di depan layar laptop.

Aku membayangkan Budi, suamiku, akan menyambutku di balik pintu dengan pelukan hangat. Aku membayangkan kami duduk bersama, menyusun rencana masa depan: melunasi sisa KPR apartemen ini lebih cepat, merenovasi dapur, atau akhirnya melanjutkan program kehamilan yang sempat tertunda karena kendala biaya.

Namun, kenyataan menghantamku begitu keras. Budi bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel saat aku melangkah mendekati meja makan.

“Baguslah kalau begitu,” ucap Budi dingin tanpa beban. “Jadi mulai sekarang kamu bisa menanggung seluruh biaya rumah tangga kita sendirian.”

Aku membeku di tempat. Mula-mula aku mengira suamiku sedang melontarkan gurauan konyol. Namun, tatapan matanya tajam, datar, tanpa sedikit pun nuansa humor.

Dengan nada tanpa dosa, Budi menjelaskan bahwa mulai hari ini, seluruh gaji bulanan dari agensi pemasarannya akan diserahkan utuh kepada ibunya, Ibu Ratna. Budi beralasan bahwa Ibu Ratna membutuhkan jaminan keamanan finansial di hari tua. Lagipula, Budi mengklaim ibunya jauh lebih pandai mengelola keuangan keluarga dibanding siapa pun.

Ibu Ratna, yang duduk anggun di kursi utama meja makan sambil memegang kantong belanjaan berisi sayur-mayur, tersenyum sinis. Pakaian batik hijaunya tampak mentereng, kontras dengan perasaanku yang mendadak mual.

“Seorang istri yang gajinya sudah Rp 95 juta tidak boleh perhitungan dengan suami sendiri,” celetuk Ibu Ratna dengan nada menggurui. “Keluarga itu harus saling menopang tanpa perlu membuat catatan utang.”

Astaga! Kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat dadaku. Kurang ajar sekali! Selama 20 bulan terakhir, akulah yang memeras keringat membayar cicilan apartemen ini sebesar Rp 26.000.000 setiap bulan hampir sepenuhnya sendirian. Aku yang membayar biaya perawatan gedung, belanja bulanan pasar modern, tagihan listrik, bensin mobil Budi, hingga pengobatan rutin Ibu Ratna di rumah sakit swasta.

Budi selalu berjanji akan mengganti uangku setiap kali komisi proyeknya cair. Namun, janji itu hilang ditiup angin. Kenaikan jabatanku bukannya disambut dengan rasa bangga, melainkan dijadikan ajang bagi Budi untuk lepas tangan dari kewajibannya sebagai kepala keluarga.

Malam itu, bukannya merayakan keberhasilanku, Budi malah membentakku karena aku tidak memasakkan hidangan istimewa untuk merayakan “kepatuhannya” pada sang ibu.

Keesokan harinya, sepulang kerja, aku sengaja melewati restoran mewah dan supermarket langgananku. Aku hanya mampir ke minimarket kecil di pinggir jalan raya, membeli dua bungkus mie instan cup, lalu pulang ke apartemen.

Saat Budi dan Ibu Ratna melangkah anggun ke ruang makan malam itu, mereka mendadak membeku. Di atas meja makan yang bersih, hanya tersaji dua mangkuk kertas mie instan panas dan dua garpu plastik.

“Apa-apaan ini, Indah?!” bentak Budi dengan wajah merah padam. Budi yang mengenakan kemeja batik biru senada denganku langsung berdiri dan menunjuk mukaku dengan kasar. “Aku kan sudah minta kamu siapkan makan malam istimewa!”

Aku duduk tenang, menyilangkan tangan di dada, menatapnya tanpa kedipan. “Orang yang tidak ikut menyumbang uang dapur tidak punya hak untuk menuntut makanan istimewa.”

Ibu Ratna memukul meja makan dengan telapak tangannya hingga cangkir kopi bergetar keras. “Kurang ajar kamu, Indah! Gaji Rp 95 juta tapi merendahkan suami sendiri dengan mie instan murah?! Di mana letak baktimu sebagai istri?!”

Tanpa menjawab ocehan mertuaku, aku berdiri tenang, berjalan ke ruang kerja, lalu kembali membawa sebuah map abu-abu tebal. Aku menghempaskan tumpukan kuitansi, bukti transfer bank, dan rekening koran tepat di hadapan mereka.

“Cicilan apartemen, Rp 26.000.000. Belanja bulanan, Rp 11.500.000. Tagihan listrik dan pemeliharaan, Rp 8.700.000. Biaya pengobatan Ibu Ratna, total Rp 74.000.000 dalam setahun terakhir,” cecarku dengan suara tegas.

Senyum sinis di wajah Ibu Ratna langsung pudar seketika. Wajahnya berubah pucat.

“Ibu… Ibu membutuhkan uang itu untuk urusan keluarga yang sangat mendesak,” kilah Ibu Ratna gagap, mencoba berkelit.

“Urusan keluarga yang mana, Bu?” tanyaku menohok.

Tiba-tiba, ponsel Ibu Ratna yang tergeletak di atas meja bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan singkat dari Rizky, adik kandung Budi, muncul jelas di layar kunci yang menyala terang.

“Ibu, para penagih utang itu sudah tahu alamat apartemen Mbak Indah. Bilang saja Mbak Indah yang bakal pelunasan semuanya malam ini!”

Budi langsung meloncat dari kursinya, mencoba merebut ponsel ibunya dengan panik. “Jangan berani-berani baca pesan orang lain!” teriak Budi histeris.

Aku dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan Budi, menatap matanya dengan dingin. “Namaku tertulis jelas di sana, Budi. Jadi ini sudah resmi menjadi urusanku!”

Pada detik yang bersamaan, suara interkom apartemen berdering kencang dan melengking. Petugas keamanan lobi mengumumkan lewat pengeras suara bahwa ada tiga orang pria berbadan tegap dari lembaga penagih utang yang memaksa naik ke unit kami.

Wajah Ibu Ratna seketika pucat pasi bagaikan mayat. Budi berlari panik menuju pintu depan, berteriak melarangku membuka pintu. Namun, aku mengabaikan jeritannya dan langsung menekan tombol buka pada interkom.

Aku belum menyadari bahwa dua mangkuk mie instan malam itu akan membongkar rahasia jahat yang mengancam pernikahan kami, bahkan nyaris merenggut unit apartemen yang kubeli dengan tetesan keringatku sendiri…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelaughtannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Pintu depan apartemen terdorong keras. Tiga orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam melangkah masuk tanpa permisi. Pria paling depan, dengan kumis tebal dan tatapan mata tajam yang biasa dipanggil Bang Tiger, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan mewah kami.

Budi gemetar hebat di belakangku, sementara Ibu Ratna bersembunyi di balik tubuh anaknya dengan napas terengah-engah.

“Selamat malam,” ujar Bang Tiger dengan suara berat yang menggetarkan kaca jendela. “Kami mencari saudara Budi dan Ibu Ratna. Kami datang untuk menagih utang yang sudah menunggak selama enam bulan.”

Aku berdiri tegak di depan meja makan, melipat tangan di dada. “Saya pemilik sah apartemen ini. Utang apa yang Anda maksud? Rumah tangga kami tidak pernah berutang pada pihak luar.”

Bang Tiger tertawa terkekeh, suara tawa yang penuh ejekan. Ia merogoh tas kulitnya dan mengeluarkan seberkas dokumen tebal bercap merah, lalu menghempas kannya ke atas meja makan, tepat di samping dua mangkuk mie instan yang mulai dingin.

“Ibu pasti Mbak Indah, kan?” tanya Bang Tiger. “Suami dan ibu mertua Anda telah menjaminkan sertifikat apartemen ini untuk pinjaman dana segar sebesar Rp 1,8 Miliar!”

Demi Tuhan! Bagaikan disambar petir di siang bolong, jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Rp 1,8 Miliar?!

“Bohong! Sertifikat apartemen ini ada di dalam brankas pribadiku!” teriakku, menatap Budi dengan kemarahan yang membuncah.

“Coba Ibu periksa lagi brankasku,” sahut Bang Tiger santai. “Empat bulan lalu, Budi membawa sertifikat asli atas nama Indah Cipta, lengkap dengan surat kuasa bertanda tangan Ibu dan cap jempol di atas meterai.”

Aku mengepalkan tangan hingga buku-buku jariku memutih. Tanda tangan? Cap jempol? Aku tidak pernah menandatangani surat kuasa apa pun! Budi telah mencuri sertifikat itu dari brankasku dan memalsukan tanda tanganku!

“Ya Allah, Budi! Apa yang kamu lakukan?!” jeritku histeris, melangkah mendekatinya. “Uang Rp 1,8 Miliar itu kamu pakai untuk apa?! Jawab aku!”

Budi tersudut di sudut ruangan. Wajahnya yang tadi bersikap sombong kini penuh dengan peluh dingin. Namun, bukannya merasa bersalah, Budi justru mendesis kasar.

“Ini semua demi keluarga!” teriak Budi mencoba membela diri. “Rizky butuh modal untuk bisnis perhitungannya yang gagal! Ibu juga butuh uang untuk biaya investasi tanah di kampung!”

“Bisnis?! Investasi?!” Bang Tiger menyela dengan tawa menyindir. “Jangan bohongi istri Anda, Budi! Mau saya bukakan seluruh rekening koran penampung dana itu di depan istri Anda?”

Bang Tiger melemparkan lembaran mutasi rekening atas nama Budi. Mataku membelalak membaca baris demi baris transaksi tersebut. Lebih dari Rp 1 Miliar uang pinjaman itu tidak pernah masuk ke bisnis Rizky atau investasi tanah Ibu Ratna. Uang itu mengalir secara rutin setiap minggu ke rekening seorang wanita bernama Maya Indriani di Bandung!

“Siapa Maya Indriani?!” tanyaku dengan suara bergetar menahan amarah yang membakar dada.

Budi bungkam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi.

Ibu Ratna yang tadinya bersembunyi mendadak maju dengan wajah tanpa rasa malu. “Dia istri kedua Budi! Budi sudah menikah siri dengan Maya setahun lalu di Bandung! Maya sedang hamil anak laki-laki, penerus trah keluarga kami!”

Astaga! Dunia seolah runtuh di sekelilingku. Suamiku… pria yang kubela selama delapan tahun, pria yang kubiayai hidupnya, telah menikah lagi di belakangan hari menggunakan uangku! Dan ibu mertuaku, wanita yang kurawat dan kubiayai pengobatannya hingga puluhan juta, adalah otak di balik semua pengkhianatan ini!

“Kamu wanita karir yang egois, Indah!” seru Ibu Ratna tanpa merasa berdosa sedikit pun. “Kamu sibuk kerja dari pagi sampai malam! Kamu tidak bisa melayani Budi dengan baik! Kamu bahkan belum memberikan cucu untuk Ibu! Pantas Budi mencari wanita lain yang lebih subur dan penurut!”

Ibu Ratna melangkah mendekatiku, menunjuk dadaku dengan telunjuknya yang bergetar. “Lagipula, gajimu sekarang Rp 95 juta! Uang segitu kecil buat kamu! Pelunasi saja utang Rp 1,8 miliar itu! Hitung-hitung kamu berbakti pada suami dan membantu Budi membeli rumah untuk Maya di Bandung! Jangan jadi istri pelit!”

Kurang ajar! Kalimat yang keluar dari mulut Ibu Ratna benar-benar melampaui batas kemanusiaan. Mereka tidak hanya mengkhianatiku, mereka berniat merampas seluruh harta benda dan masa depanku demi wanita simpanan Budi!

Budi ikut menimpali dengan nada mengancam. “Betul kata Ibu! Kamu itu istriku! Menurut hukum agama, hartamu adalah hartaku juga! Kalau kamu tidak mau melunasi utang ini malam ini juga, para penagih utang ini akan menyita apartemen ini dan melempar barang-barangmu keluar!”

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Rasa sakit hati yang mendalam mendadak berubah menjadi dingin yang membekukan. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk mataku mendadak surut. Aku menatap Budi dan Ibu Ratna dengan tatapan paling tajam yang pernah kulemparkan sepanjang hidupku.

Demi Tuhan, mereka salah besar jika menganggap aku adalah wanita lemah yang bisa ditindas begitu saja.

“Selesai bicaranya?” tanyaku dengan suara sangat tenang, namun dipenuhi aura intimidasi yang membuat Budi melangkah mundur.

Aku berjalan menuju meja kerja, mengambil ponsel pribadiku, lalu menekan nomor panggilan cepat.

“Selamat malam, Pak Gunawan. Tolong bawa tim hukum perusahaan dan lima personel kepolisian dari Polres Jakarta Selatan ke unit apartemen saya sekarang juga. Ada tindak pidana pemalsuan dokumen, penipuan, dan penggelapan aset,” ucapku tegas sebelum menutup telepon.

Wajah Budi dan Ibu Ratna seketika berubah horor.

“Indah! Apa-apaan kamu?! Kenapa panggil polisi?!” teriak Budi panik.

“Kamu pikir kamu pintar, Budi?” ujarku sambil menyunggingkan senyum dingin. Aku berjalan menuju lemari berkas dan mengeluarkan sebuah dokumen berbingkai hitam yang selama ini tersimpan rapi. Dokumen Perjanjian Pra-Nikah (Prenuptial Agreement) yang kami tandatangani delapan tahun lalu sebelum mengikat janji suci.

Aku melemparkan dokumen itu tepat ke dada Budi. “Sebelum kita menikah, aku sudah memastikan seluruh aset yang kubeli, termasuk apartemen ini, berada di bawah kepemilikan mutlak namaku tanpa ada hak serikat harta bersama! Apartemen ini dibeli 100% menggunakan tabungan hasil kerjaku sendiri sebelum menikah!”

Aku lalu menatap Bang Tiger dan timnya. “Bang Tiger, Anda dan lembaga Anda telah menerima sertifikat jaminan yang dipalsukan. Tanda tangan di surat kuasa itu palsu. Pemalsuan dokumen kepemilikan properti diatur dalam Pasal 263 KUHP dengan ancaman pidana enam tahun penjara!”

Bang Tiger tertegun. Sebagai penagih utang profesional, ia tahu betul implikasi hukum jika terlibat dalam transaksi sertifikat hasil kejahatan. Wajah Bang Tiger berubah serius. Ia menatap Budi dengan tatapan membunuh.

“Jadi kamu membohongi kami, Budi?!” bentak Bang Tiger garang. “Kamu menjaminkan sertifikat palsu atas nama istri sahmu?!”

“Bukan begitu, Bang! Tolong kasih kami waktu!” ratap Budi dengan suara gemetar.

Belum sempat Budi melanjutkan kalimatnya, pintu apartemen kembali terbuka lebar. Pak Gunawan, pengacara senior perusahaanku, masuk bersama empat petugas polisi berseragam lengkap.

“Selamat malam. Kami menerima laporan atas tuduhan pemalsuan surat kuasa, penipuan perbankan, dan penggelapan sertifikat kepemilikan,” tegas perwira polisi yang memimpin pasukan.

Melihat kehadiran polisi, Ibu Ratna mendadak histeris. Mertua jahat itu berlutut di lantai, memegang kakiku sambil menangis meraung-raung.

“Indah! Tolong Ibu, Nak! Jangan panggil polisi! Ini Ibu mertuamu! Ibu yang merawat Budi! Kasihanilah Budi, Nak!” ratap Ibu Ratna dengan air mata buaya yang mengucur deras.

Aku menarik kakiku dari genggamannya tanpa belas kasihan. “Saat Ibu bersekongkol memalsukan tanda tanganku, memakan uangku ratusan juta, dan menumbalkan rumahku demi wanita simpanan Budi, Ibu sudah berhenti menjadi mertuaku. Ibu tidak lebih dari seorang penjahat yang berkedok keluarga.”

Polisi dengan sigap memegang kedua tangan Budi dan memasangkan borgol besi yang bergemerincing nyaring. Budi berteriak histeris, memohon ampun, namun petugas menyeretnya keluar dari unit apartemen. Ibu Ratna merangkak mengikuti anaknya sambil terus melontarkan kutukan dan jeritan histeris yang menggema di koridor apartemen.

Aku tidak berhenti sampai di situ.

Malam itu juga, aku menyerahkan draft gugatan cerai resmi yang sudah disiapkan oleh Pak Gunawan ke meja kepolisian. Tak cukup dengan itu, aku langsung menghubungi jajaran direksi utama di perusahaan tempat Budi bekerja—yang tak lain adalah salah satu vendor utama di bawah naungan perusahaan tempatku menjabat sebagai Direktur Operasional.

Hanya dalam waktu satu jam, Budi resmi dipecat secara tidak hormat karena pelanggaran moralitas berat dan keterlibatan dalam kasus pidana penipuan. Seluruh fasilitas kerjanya ditarik seketika.

Tiga hari kemudian, aku menyewa tim pemindah barang profesional. Seluruh pakaian, perhiasan murah, dan barang-barang milik Ibu Ratna serta Budi dikemas rapi dalam kantong plastik hitam besar, lalu dicampakkan ke pelataran parkir luar. Kunci pintu apartemen ganti dengan sistem pemindai sidik jari dan sandi digital baru yang tidak akan pernah bisa diakses oleh siapapun dari keluarga mereka.

Rizky, adik Budi yang ikut menikmati uang hasil penipuan itu, lari ketakutan dari kejaran lembaga penagih utang karena Budi tak lagi bisa membayar cicilan. Rumah siri Budi dan Maya di Bandung langsung disita oleh pihak berwajib sebagai barang bukti tindak pidana pencucian uang.

Aku duduk di sofa ruang tamu apartemenku yang kini tenang dan damai. Di tanganku, segelas jus anggur dingin terasa begitu menyegarkan. Dua mangkuk mie instan di atas meja makan malam itu telah menjadi saksi bisu runtuhnya panggung sandiwara keluarga parasit yang mencoba menghancurkan hidupku.

Budi baru mengetahui di dalam sel tahanan bahwa perusahaan penagih utang tempatnya meminjam uang sebenarnya adalah anak perusahaan dari investasi konsorsium tempatku baru saja diangkat menjadi Direktur Operasional.

Seluruh utang Rp 1,8 miliar itu kini kuambil alih secara pribadi, menempatkan Budi dan ibunya dalam genggaman hukumku selamanya tanpa jalan keluar.

Selamat menikmati jeruji besi dan kemiskinan yang abadi, Budi.