BAGIAN 1:
“Daddy… setiap kali kamu pergi, selalu seperti ini.”
Hanya tujuh kata dari putriku yang baru berusia tujuh tahun, Mia, yang menghancurkan seluruh diriku.
Di balik jas mahal yang kukenakan dan di balik nama Gabriel Wijaya—seorang miliarder yang disegani di Jakarta dan Bali—ternyata aku hanyalah seorang ayah yang buta, pengecut, dan lalai.
Aku berpura-pura akan naik pesawat menuju Singapura untuk menghadiri pertemuan bisnis selama empat hari.
Aku mencium kening anak-anakku di depan rumah mewah kami di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Aku berpamitan kepada tunanganku yang cantik, Camilla Pratama, lalu melihat gerbang rumah tertutup ketika mobilku mulai bergerak menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Namun namaku tidak pernah tercatat dalam daftar penumpang pesawat itu.
Empat puluh menit kemudian, aku masuk kembali melalui pintu layanan rumahku sendiri bersama direktur keamanan terpercaya, Raka.
Kami langsung menuju ruang keamanan bawah tanah, tempat kamera tersembunyi 4K yang kupasang tiga hari sebelumnya terhubung.
Kenapa aku melakukan ini?
Karena selama tiga bulan terakhir, aku hampir kehilangan akal akibat bisikan-bisikan Camilla.
“Gabriel, pengasuh anak-anak itu, Sinta, terlalu banyak ikut campur. Kadang aku melihat dia membuka laci-lacimu. Minggu lalu bros antik milik ibumu hilang. Kemarin manset emasmu juga hilang. Wanita itu sangat serakah. Dia memanfaatkan anak-anak agar bisa terus tinggal di rumah ini!”
Sinta Maharani.
Dia baru berusia dua puluh tahun ketika bergabung dengan keluarga kami setelah istriku tercinta, Isabella, meninggal dunia tiga tahun lalu karena leukemia.
Sinta adalah orang yang menghapus air mata anak-anakku setiap malam.
Sinta yang bangun pukul empat pagi untuk menyiapkan bekal Mia dan Sofia.
Sinta yang tahu bagaimana menenangkan mimpi buruk putri bungsuku yang berusia enam tahun.
Aku mulai merasa curiga.
Dan kecurigaan, ketika ditanamkan oleh seseorang yang kita cintai, bisa menjadi racun yang perlahan menghancurkan pikiran.
Jadi aku menyalakan monitor untuk menangkap Sinta jika dia benar-benar bersalah.
Di layar, Sinta terlihat sedang merapikan ruang keluarga dengan tenang, sementara Mia dan Sofia duduk di lantai sambil mewarnai buku gambar mereka.
Tidak lama kemudian, Camilla masuk ke ruang keluarga.
Wanita yang kukenal dari berbagai acara amal mewah—Camilla yang manis, tenang, dan elegan—tiba-tiba berubah wajah setelah pintu tertutup.
Senyum lembutnya berubah menjadi seringai penuh kebencian.
“Berhenti membuat rumah ini berantakan!” bentaknya sambil menendang krayon yang berserakan di lantai.
Krayon warna merah terpental dan masuk ke bawah sofa.
Sinta langsung berdiri.
“Nona Camilla, mereka baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Saya hanya mengizinkan mereka beristirahat selama dua puluh menit…”
PLAKK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sinta.
Aku membeku di kursiku dalam ruang monitor.
Kuku-kukuku menancap ke telapak tangan hingga mengeluarkan darah.
“Kamu tidak punya hak untuk mengambil keputusan di rumah ini, dasar miskin!” bentak Camilla.
“Kamu hanya seorang pegawai! Jangan pernah bermimpi menjadi ibu mereka! Saat Gabriel kembali dari Singapura, aku akan memastikan kamu berakhir di penjara!”
Sinta menangis dalam diam.
Namun bukannya membalas, dia justru membuka kedua tangannya untuk memeluk Mia dan Sofia yang tubuhnya gemetar.
Anak-anakku tidak berteriak.
Mia hanya menundukkan kepala sambil air matanya jatuh.
Seolah mereka sudah terlalu lama mengenal rasa sakit dan penghinaan seperti ini.
Saat itulah aku menyadari:
Ini bukan pertama kalinya.
Ini terjadi setiap kali aku membelakangi mereka.
Namun mimpi buruk itu belum berakhir.
Camilla naik ke kamar utama.
Kamera di lorong mengikuti pergerakannya.
Dia masuk ke ruangan tempat brankas pribadi Isabella disimpan.
Dia mengetahui kode brankas itu karena pernah mendengarku membukanya ketika aku sedang mabuk karena kesedihan.
Dari bagian paling bawah kotak beludru, Camilla mengambil “Heart of Aurora”—kalung berlian warisan 18 karat yang merupakan milik mendiang istriku.
Itu adalah hadiah terakhir yang Isabella tinggalkan untuk Mia yang akan diberikan saat ulang tahunnya yang ke-18.
Sesuatu yang tidak boleh disentuh siapa pun.
Camilla membungkus kalung itu dengan syal sutra mahal dari salah satu butik ternama di Jakarta.
Kemudian dia keluar perlahan dari kamar, berjalan melewati lorong menuju kamar kecil staf di ujung koridor, lalu membuka koper lama milik Sinta yang berada di bawah tempat tidur.
Dia memasukkan kalung itu ke dalam saku koper.
Dia.
Wanita yang kujanjikan akan kunikahi di Gereja Katedral Jakarta bulan depan, ternyata adalah orang yang mencuri dan menanam bukti untuk menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar menyayangi anak-anakku.
Saat melihat semua itu melalui layar langsung, tubuhku terasa diselimuti hawa dingin yang membakar.
Aku tidak berteriak.
Aku tidak mengamuk di ruang keamanan.
Aku perlahan berdiri, mengambil USB drive yang berisi seluruh rekaman kejadian itu, lalu keluar dari ruang monitor.
Ketika aku membuka pintu ruang keluarga, aku mendengar langkah kaki Camilla turun dari tangga spiral.
Dia membawa segelas wine merah sambil bersenandung dengan lagu bahagia.
Saat mata kami bertemu, gelas itu terlepas dari tangannya.
Jatuh ke lantai marmer mahal.
Pecah.
Dan cairan merah menyebar seperti darah segar.
“G-Gabriel?! Aku pikir kamu sudah berada di pesawat menuju Singapura?!”
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan menuju anak-anakku yang gemetar.
Aku berlutut di lantai yang basah, memeluk Mia dan Sofia, dan saat itu putri sulungku berbisik dengan suara penuh kepedihan:
“Daddy… setiap kali kamu pergi, selalu seperti ini.”
Aku menatap Camilla.
USB drive masih berada di tanganku yang gemetar.
“Camilla,” kataku dengan suara sedingin mungkin.
“Jangan bergerak dari tempatmu berdiri. Karena hal berikutnya yang akan kamu dengar adalah suara sirene polisi.”

Wajah Camilla yang biasanya dipoles bedak mahal itu mendadak luntur, abu-abu seperti semen basah. Bibirnya bergetar, terbuka sedikit seolah mencari kata-kata pembelaan yang biasa ia muntahkan dengan luwes di pesta-pesta makan malam kaum jetset. Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya desah napas pendek yang tertahan di tenggorokan.
Pecahan kristal di kakinya terendam anggur merah, baunya asam menusuk hidung, beradu dengan aroma lilin aromaterapi vanila yang selalu ia suruh nyalakan setiap sore.
“G-Gabriel… kamu salah paham,” suara Camilla akhirnya pecah, serak dan sumbang. “Tadi… pengasuh ini bertingkah kurang ajar. Dia menolak mencuci baju anak-anak, dia membentakku, aku cuma—”
“Diam.”
Satu kata. Datar. Tidak berteriak, tapi cukup membuat Raka yang berdiri dua meter di belakangku langsung memberi kode melalui mikrofon kerahnya. Pintu geser kaca di samping taman belakang berderit terbuka pelan. Dua sekuriti berseragam hitam masuk tanpa suara, berdiri mengapit tangga spiral, memotong jalan keluar Camilla.
Mia dan Sofia menyurukkan wajah mereka ke balik jas kerjaku. Tubuh mungil keduanya dingin, menggigil seperti anak burung kehujanan. Aku bisa merasakan detak jantung Mia yang memburu di balik dadaku, detak ketakutan yang telah kupelihara secara tidak sengaja selama berbulan-bulan karena kebodohan dan kepolosanku sendiri.
Aku menoleh ke arah Sinta.
Gadis dua puluh tahun itu masih berlutut di atas karpet Persia, tangan kirinya memegangi pipi kanannya yang melepuh merah, tercetak jelas empat bekas jari yang membengkak. Kacamata berbingkai tipisnya miring, salah satu tangkainya bengkok terinjak saat keributan tadi.
“Sinta,” panggilku. Suaraku tercekat, serak oleh rasa bersalah yang menghimpit ulu hatiku.
Dia mendongak, matanya yang basah mengerjap panik. Alih-alih mengadu atau menangis histeris, kalimat pertama yang keluar dari bibirnya yang pecah justru:
“Pak Gabriel… anak-anak tidak salah. Tadi saya yang mengizinkan mereka menggambar. Tolong jangan marahi Mia sama Sofia…”
Ya Tuhan.
Dadaku serasa dihantam palu godam. Di saat pipinya sendiri masih berdenyut kesakitan, di saat hidupnya nyaris dihancurkan oleh fitnah keji, pikiran pertamanya tetap tertuju pada keselamatan putri-putriku. Sedangkan aku? Aku yang mengaku sebagai pelindung mereka, hampir saja menyerahkan rumah ini ke tangan serigala berbulu domba hanya karena senyum manis dan asal-usul keluarga terpandang.
“Bukan kamu yang salah, Sinta,” bisikku, tanganku terulur membantunya berdiri. Jemari gadis itu dingin dan gemetar hebat saat menyentuh lenganku. “Berdirilah. Di rumah ini, kamu tidak perlu berlutut pada siapa pun lagi.”
“Gabriel!” Camilla melangkah satu undakan turun, suaranya mulai melengking histeris. Wajah ayunya terdistorsi oleh amarah yang mulai tak terkendali. “Kamu lebih percaya pembantu miskin ini daripada tunanganmu sendiri?! Aku ini calon istrimu! Ayahku punya saham di konsorsium pelabuhanmu! Kamu mau mempermalukan keluargaku cuma gara-gara babu rendahan?!”
“Keluargamu?” Aku bangkit perlahan, melepaskan pelukan anak-anak dan memberi isyarat pada Raka untuk membawa Mia dan Sofia ke ruang perpustakaan di lantai bawah tanah yang kedap suara.
Mia sempat menarik ujung lengan kemejaku sebelum pergi. Matanya yang bulat memandangku takut-takut. “Daddy… jangan pergi lagi ya?”
“Daddy di sini, sayang. Daddy nggak akan ke mana-mana lagi,” bisikku sambil mencium keningnya yang hangat.
Begitu pintu perpustakaan tertutup rapat, udara di ruang keluarga seketika berubah pekat. Tidak ada lagi anak-anak yang harus kulindungi dari kekerasan verbal. Yang tersisa hanyalah aku, seorang pria yang telah kehilangan istrinya, dan seorang wanita parasit yang mengira bisa menginjak-injak sisa hidupku sesuka hatinya.
Aku berjalan pelan mendekati tangga, menginjak pecahan gelas kristal di lantai hingga berderak tajam di bawah sol sepatu kulitku. Krak. Krak.
“Raka,” panggilku tanpa mengalihkan pandangan dari mata Camilla yang mulai panik melirik ke arah pintu keluar.
“Siap, Pak,” sahut Raka dari ambang pintu.
“Hubungi Komisaris Hendra di Polda Metro Jaya. Katakan ada tindak pidana pencurian dengan pemberatan, penganiayaan terhadap anak di bawah umur dan asisten rumah tangga, serta percobaan pemalsuan bukti kriminal di kediaman Wijaya.”
“Gabriel, kamu gila?!” Camilla memekik, tubuhnya gemetar sampai tas tangan rancangan desainer Italia yang ia jinjing terlepas dan jatuh ke genangan wine merah. “Pencurian apa?! Aku tidak mengambil apa-apa dari rumah sialan ini!”
“Oh ya?” Aku mengangkat flashdisk hitam di tangan kananku, memutarnya di sela-sela jariku. “Kamera 4K di lorong kamar tidur utama punya lensa dengan bukaan f/1.4, Camilla. Sangat jernih, bahkan dalam kondisi temaram. Keringat di dahimu waktu membuka brankas Isabella terlihat sangat jelas di layar monitor ruang keamanan.”
Warna kulit Camilla yang tadinya abu-abu kini berubah pucat pasi, seperti mayat yang baru dikeluarkan dari peti es.
“K-kamera…?” bibirnya bergetar tak terkontrol.
“Kamu tahu apa yang paling menyedihkan?” tanyaku, melangkah makin dekat hingga hanya berjarak dua meter dari undakan terbawah. “Bukan karena kamu mencoba mencuri kalung Heart of Aurora itu. Perhiasan itu bisa kubeli sepuluh kali lipat nilainya besok pagi jika aku mau. Yang paling menjijikkan adalah caramu melangkah ke kamar pembantu di ujung koridor, membungkuk ke bawah dipan reyot milik Sinta, lalu menyelipkan kalung itu ke dalam saku koper tuanya.”
Camilla tersentak mundur satu langkah, tumit sepatu hak tingginya tersangkut di pinggiran karpet tangga, membuatnya hampir terjengkang jika tidak memegang pegangan besi tempa.
“Kamu… kamu memata-mataiku?!” racau Camilla, matanya liar mencari celah untuk membela diri. “Kamu menjebakku! Kamu merencanakan ini semua!”
“Aku merencanakan ini untuk menangkap pencuri manset emas dan bros ibuku,” jawabku dingin. “Aku hampir saja memecat Sinta tiga hari lalu karena omongan racunmu. Tapi sebelum aku melakukannya, Raka menunjukkan rekaman transaksi keuanganmu minggu lalu. Delapan ratus juta di meja judi kasino online, dan tagihan kartu kredit yang jatuh tempo senilai satu koma dua miliar atas nama butik ibumu yang hampir bangkrut di Grand Indonesia.”
Kenyataan itu menghantamnya telak. Camilla menatapku dengan sorot mata yang sepenuhnya hancur. Topeng wanita bangsawan, filantropis muda, dan calon nyonya rumah Wijaya yang anggun menguap tanpa sisa, meninggalkan sosok wanita picik yang terpojok oleh kebusukannya sendiri.
“Gabriel… tolong,” suaranya tiba-tiba berubah memelas, air mata buaya mulai membasahi pipinya. Dia menuruni tangga dengan lutut yang lemas, mencoba meraih tanganku. “Aku khilaf… aku panik karena hutang-hutang butik Mama… tapi aku mencintaimu, Gabriel! Aku mencintai Mia dan Sofia! Aku cuma ingin kita hidup tanpa orang asing di antara kita…”
Sebelum tangannya menyentuh kain jasku, aku melangkah mundur setengah meter.
“Jangan sebut nama anak-anakku dari mulut kotormu,” desisku pelan, begitu tajam hingga ia langsung menarik tangannya kembali seperti tersengat listrik. “Mia baru tujuh tahun, Camilla. Tapi tadi dia bilang, ‘setiap kali kamu pergi, selalu seperti ini’. Berapa kali kamu menampar mereka saat aku sedang berada di luar kota? Berapa kali kamu mengurung Sofia di kamar mandi gelap hanya karena dia menumpahkan susunya?!”
Camilla jatuh berlutut di anak tangga terbawah, menangis tersedu-sedu, memegangi kepalanya sendiri. “Maafkan aku… tolong jangan panggil polisi… Papaku punya penyakit jantung, Gabriel… kalau berita ini sampai ke media, keluarga Pratama akan hancur…”
“Keluargamu akan menuai apa yang kamu tabur di rumah ini,” kataku tanpa secuil pun rasa iba yang tersisa.
Suara sirene mobil patroli polisi mulai meraung di kejauhan, menembus gerbang perumahan kluster yang biasanya hening. Suara deru ban mobil yang mengerem di halaman depan disusul derap langkah sepatu lars di atas lantai teras marmer.
Raka membukakan pintu utama. Tiga orang penyidik reserse berpakaian preman dan dua polisi wanita berseragam dinas masuk dengan langkah tegap.
“Selamat sore, Pak Gabriel,” sapa perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris di barisan depan.
“Sore, AKP Danu,” aku menunjuk ke arah tangga tanpa menoleh lagi. “Tersangka ada di sana. Barang buktinya ada di dalam koper staf di kamar nomor empat lantai dua koridor timur—sebuah kalung berlian dibungkus syal sutra ungu milik Nona Pratama. Rekaman video digital beresolusi tinggi beserta log waktu penanaman bukti sudah tersimpan di dalam drive ini.”
Aku menyerahkan flashdisk di tanganku kepada penyidik.
Dua polisi wanita langsung melangkah maju, memegang kedua lengan Camilla yang lunglai. Saat gelang borgol baja mengunci pergelangan tangannya dengan bunyi klik-klik yang dingin, wanita itu sempat menoleh ke arahku untuk terakhir kali, matanya merah menyala penuh kutukan dan keputusasaan.
“Kamu akan menyesal, Gabriel! Kamu akan menyesal memilih babu itu daripada aku!” teriaknya saat diseret melewati pintu utama.
Aku tidak membalas teriakannya. Suara pintu mobil polisi yang dibanting dan raungan sirene yang perlahan menjauh di jalanan Pondok Indah menjadi penutup dari babak terkelam yang hampir kuhancurkan dengan tanganku sendiri.
Rumah itu kembali sunyi. Tapi kali ini bukan kesunyian yang mencekam.
Pukul delapan malam, aroma sup ayam kampung hangat bercampur jahe segar tercium dari arah dapur bersih. Lantai marmer yang tadinya ternoda anggur merah sudah dibersihkan hingga berkilau kembali oleh staf kebersihan yang dipanggil Raka.
Aku duduk di kursi kayu di seberang pulau dapur, memperhatikan Sinta yang sedang menyendokkan nasi ke dalam mangkuk kecil bergambar kelinci. Di pipinya, bekas tamparan itu masih sedikit membengkak, tapi sudah dikompres es batu dan diolesi salep antiseptik yang kubelikan langsung dari apotek sore tadi.
Di meja makan, Mia dan Sofia sedang melahap makan malam mereka dengan lahap. Tidak ada ketegangan. Tidak ada lirikan mata ketakutan ke arah lorong tangga. Sesekali Sofia tertawa kecil saat hidungnya terkena kuah sup yang panas.
“Sinta,” panggilku pelan.
Gadis itu menoleh, menyeka tangannya yang basah ke celemek katun bermotif bunga matahari. “Iya, Pak Gabriel?”
“Duduklah sebentar. Ada yang harus kita bicarakan.”
Sinta tampak ragu-ragu, melirik ke arah anak-anak, lalu perlahan menarik kursi kayu di ujung meja dan duduk dengan posisi canggung, khas seorang pekerja yang tidak terbiasa duduk sejajar dengan majikannya.
Kutarik sebuah map kulit hitam dari samping laptopku, lalu menggesernya ke depan meja Sinta.
“Apa ini, Pak?” tanyanya dengan kening berkerut halus.
“Surat pengunduran dirimu sebagai pengasuh anak,” jawabku tenang.
Wajah Sinta seketika memucat. Matanya membelalak kaget, bibirnya terbuka sedikit, air mata yang kukira sudah habis sore tadi mendadak kembali menggenang di pelupuk matanya.
“P-Pak Gabriel… saya dipecat?” suaranya bergetar hebat, jemarinya meremas kain celemeknya erat-erat. “Tolong jangan pecat saya, Pak… Saya janji akan lebih hati-hati lagi… Saya tidak akan membiarkan orang luar mengganggu anak-anak… Saya tidak butuh kenaikan gaji, Pak, asal saya tetap bisa menjaga Mia dan Sofia…”
Mia yang mendengar kata ‘pecat’ langsung meletakkan sendoknya dengan bunyi dentang keras di atas piring. Anak tujuh tahun itu melompat dari kursinya, berlari mengitari meja dan memeluk leher Sinta dari belakang dengan erat.
“Daddy jahat! Jangan usir Mbak Sinta!” jerit Mia, air matanya tumpah begitu saja. Sofia yang belum terlalu paham situasi ikut menangis keras di kursinya.
Aku menghela napas panjang, tersenyum getir melihat bagaimana kedua putriku bereaksi. Ikatan batin di antara mereka bertiga bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan gaji bulanan atau kontrak kerja selembar kertas. Itu adalah cinta tulus yang tumbuh dari malam-malam tanpa tidur, dari dongeng sebelum tidur yang dibisikkan dengan sabar, dan dari pelukan hangat yang menggantikan peran seorang ibu yang telah tiada.
Aku berdiri, berjalan mendekati mereka, lalu berlutut di samping kursi Sinta agar posisiku sejajar dengan pandangan mata Mia.
“Mia, sayang… dengarkan Daddy dulu,” kataku lembut sambil mengusap air mata di pipi putri sulungku. “Daddy tidak mengusir Mbak Sinta. Daddy cuma menghentikan pekerjaannya sebagai pengasuh.”
“Sama saja!” sergah Mia cemberut, sesenggukan.
Kutatap Sinta yang masih memandangku dengan tatapan bingung dan cemas.
“Buka map itu, Sinta,” pintaku.
Dengan tangan gemetar, Sinta membuka map kulit hitam tersebut. Di dalamnya bukan surat pemutusan hubungan kerja, melainkan dua dokumen resmi berstempel notaris dan universitas swasta ternama di Jakarta Selatan.
Lembar pertama adalah surat penerimaan program beasiswa penuh untuk jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kelas eksekutif akhir pekan, lengkap dengan biaya hidup dan akomodasi yang ditanggung sepenuhnya oleh Yayasan Wijaya Peduli.
Dan lembar kedua adalah akta penunjukan wali asuh pendamping resmi dan kepala pengelola rumah tangga kediaman Wijaya, dengan kepemilikan rekening operasional mandiri dan hak veto penuh atas siapa saja yang boleh masuk ke dalam gerbang rumah ini.
Mata Sinta terpaku membaca baris demi baris dokumen tersebut. Napasnya tercekat.
“Pak… ini… ini maksudnya apa?”
“Tiga tahun lalu, saat Isabella meninggal, aku mengira uang dan fasilitas mewah sudah cukup untuk membesarkan anak-anakku,” kataku, suaraku berat oleh emosi yang tertahan di dada. “Aku sibuk terbang dari satu negara ke negara lain, mencari miliaran rupiah yang sebenarnya tidak lagi mereka butuhkan. Dan dalam kebutaanku, aku hampir membawa masuk wanita iblis yang menyiksa mereka di balik punggungku.”
Kuremas lembut tangan mungil Mia yang masih melingkar di leher Sinta.
“Kamu melindungi putri-putriku dengan tubuhmu sendiri sore tadi, Sinta. Kamu rela tanganmu robek dan reputasimu dihancurkan demi memastikan mereka tidak terluka. Orang seperti itu bukan ‘pegawai’ di rumah ini. Orang seperti itu adalah bagian dari keluarga.”
Air mata Sinta akhirnya tumpah, menetes membasahi kertas dokumen di pangkuannya. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan, menangis tanpa suara, tangisan kelegaan dari seorang gadis yatim piatu yang selama bertahun-tahun berjuang sendirian di kerasnya kota Jakarta.
“Mulai besok,” lanjutku sambil tersenyum tipis, “kamu akan mulai kuliah di hari Sabtu dan Minggu. Di hari kerja, kamu yang memegang kendali penuh atas rumah ini. Tidak ada tamu, tidak ada calon rekan bisnis, dan tidak ada wanita mana pun yang boleh melangkah melewati pintu depan tanpa izin darimu. Dan soal gajimu… kontrak barumu mencantumkan porsi kepemilikan dana perwalian pendidikan untuk masa depanmu sendiri.”
“Pak Gabriel… ini terlalu banyak… saya tidak pantas menerima ini semua…” bisik Sinta tersedu-sedu.
“Kamu lebih dari pantas,” potongku tegas namun hangat. “Bahkan jika aku menyerahkan setengah dari isi rumah ini, itu belum cukup untuk menebus rasa sakit yang harus kamu tanggung demi anak-anakku selama ini.”
Sofia turun dari kursinya, berjalan terhuyung-huyung dengan piyamanya yang bergambar beruang kutub, lalu memanjat ke pangkuan Sinta dan menyeka air mata gadis itu dengan telapak tangan mungilnya yang masih wangi minyak telon.
“Mbak Sinta jangan nangis lagi ya… tadi monster jahatnya sudah ditangkap polisi kan?” celetuk Sofia polos.
Tawa kecil akhirnya pecah di antara isak tangis Sinta. Dia memeluk kedua putriku erat-erat di dadanya, mencium puncak kepala mereka bergantian dengan kasih sayang yang begitu murni, begitu nyata, hingga membuat rongga dadaku yang selama tiga tahun terasa hampa dan dingin mendadak dipenuhi oleh kehangatan yang telah lama kurindukan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepergian Isabella, aku tidak membuka laptopku di ruang kerja. Aku tidak memeriksa pergerakan indeks saham di bursa New York atau menelepon mitra bisnis di Singapura.
Aku duduk di lantai karpet ruang keluarga, menemani Mia dan Sofia menyelesaikan gambar rumah impian mereka dengan krayon warna-warni yang baru kubeli tadi sore. Sinta duduk di sofa di belakang kami, merajut syal wol kecil sambil sesekali membetulkan posisi duduk Sofia yang hampir tertidur di atas bantal busa.
Dari sudut plafon, lampu kecil kamera CCTV 4K itu masih berkedip pelan dengan cahaya hijau redup.
Tapi kali ini, lensa canggih itu tidak lagi merekam rasa takut, tamparan tersembunyi, atau air mata yang disembunyikan di balik pintu tertutup. Kamera itu merekam sebuah kebenaran yang sederhana namun abadi: bahwa sebuah rumah tidak pernah diukur dari kemegahan pilar marmernya, melainkan dari ketulusan hati orang-orang yang memilih untuk tinggal dan saling melindungi di dalamnya.
