
BAGIAN 1
Aku membuka pintu rumah tanpa memberi kabar kepada siapa pun.
Koper masih ada di tanganku ketika aku mendengar suara alat cukur dari kamar Ibu.
Aku langsung berjalan ke sana.
Pintu kamar terbuka.
Seorang perempuan yang kukenal sebagai pekerja rumah kami sedang berdiri di belakang Ibu sambil memegang alat cukur kecil.
Sebagian besar rambut Ibu sudah habis.
Di meja ada handuk, cermin kecil, secangkir teh hangat, dan beberapa permen jahe.
Aku berhenti.
“Apa yang kamu lakukan?”
Perempuan itu langsung mematikan alat di tangannya.
Ibu menoleh.
“Dimas?”
Wajahnya justru terlihat senang.
“Kamu pulang?”
Aku tidak menjawab.
Mataku tetap tertuju pada perempuan itu.
Namanya Mira.
Setahuku, dia hanya datang empat kali seminggu untuk membersihkan rumah, mencuci beberapa pakaian, lalu pulang.
Bukan merawat Ibu.
Bukan masuk ke kamar Ibu.
Apalagi melakukan sesuatu seperti ini.
Sebelum aku sempat bicara lagi, suara Vina terdengar dari arah dapur.
“Aku juga sudah bilang.”
Dia berjalan mendekat sambil menyilangkan tangan.
“Dia makin lama makin merasa seperti keluarga sendiri.”
Mira diam.
Aku menatap Ibu.
“Kenapa rambut Ibu dicukur?”
Ibu mengangkat cermin kecil.
“Karena sudah rontok sedikit-sedikit. Ibu capek lihat bantal setiap pagi.”
“Mestinya bilang ke aku.”
“Kamu sedang kerja.”
“Aku bisa mengatur.”
Ibu tersenyum tipis.
“Itu kalimat yang selalu kamu bilang.”
Aku merasa tersindir.
Delapan bulan terakhir aku mengatur semuanya.
Dokter.
Perawat.
Obat.
Makanan khusus.
Kursi roda.
Fisioterapi.
Aku bahkan memasang tombol panggil di samping ranjang supaya Ibu tidak perlu berteriak kalau membutuhkan sesuatu.
Aku tidak mengerti apa lagi yang dianggap kurang.
Mira mengambil kain penutup kepala berwarna abu-abu dan memasangkannya perlahan ke kepala Ibu.
Ibu melihat cermin lagi.
“Bagus?”
“Bagus, Bu.”
Ibu tersenyum.
Sudah lama aku tidak melihat senyum seperti itu.
Entah kenapa justru hal itu membuatku semakin tidak nyaman.
Aku masuk ke ruang kerja.
Beberapa menit kemudian Mira berdiri di depan pintu.
“Kamu masuk.”
Dia masuk lalu berdiri.
Aku menunjuk kursi.
Dia tidak duduk.
“Aku cuma mau memperjelas satu hal,” kataku. “Kamu bekerja di rumah ini untuk membersihkan rumah.”
“Iya, Pak.”
“Jadi jangan mengambil tugas orang lain.”
“Saya tidak mengambil tugas siapa pun.”
“Kamu mencukur rambut Ibu.”
“Ibu yang minta.”
“Kamu sering juga membuatkan makanan?”
“Iya.”
“Menginap?”
Mira terdiam beberapa detik.
“Kadang.”
Aku menahan kesal.
“Kenapa?”
“Karena Ibu tidak mau sendirian.”
Aku mengerutkan kening.
“Sendirian bagaimana? Ada perawat.”
Mira menatapku.
Tatapannya berubah.
“Bapak yakin?”
Pintu terbuka.
Ibu berdiri di sana dengan alat bantu jalannya.
“Jangan marahi Mira.”
Aku berdiri.
“Ibu seharusnya istirahat.”
“Justru Ibu datang supaya kamu dengar.”
Vina berdiri beberapa langkah di belakang Ibu.
Ibu masuk perlahan.
“Kamu selalu merasa semua sudah selesai setelah membayar sesuatu.”
Aku menatapnya.
“Aku bekerja supaya Ibu dapat perawatan terbaik.”
“Ibu tahu.”
“Lalu?”
“Jam dua pagi kamu tidak ada.”
Aku diam.
“Jam empat pagi kamu tidak ada.”
“Ibu punya perawat malam.”
Ibu langsung menjawab.
“Tidak selalu.”
Aku menoleh pada Vina.
Dia mengangkat bahu.
“Mungkin jadwal mereka berubah. Kamu tahu sendiri agensi sering ganti orang.”
Mira menatap Vina.
Aku melihat itu.
Tatapan pendek.
Tapi jelas ada sesuatu.
Malamnya aku masuk ke ruang monitor kamera rumah.
Aku berniat mencari bukti bahwa Mira memang terlalu jauh ikut campur.
Aku membuka rekaman enam bulan terakhir.
Awalnya aku mempercepat videonya.
Lalu aku mulai menemukan sesuatu.
Pukul 02.11.
Mira datang membawa kantong makanan.
Pukul 05.36.
Dia masih duduk di kamar Ibu.
Tanggal lain.
Tugasnya selesai pukul dua siang.
Pukul 23.18 dia kembali.
Aku cek hari berikutnya.
Lagi.
Hari lain.
Lagi.
Aku mengambil kertas.
Aku mulai menulis tanggal.
Satu.
Empat.
Tujuh.
Sebelas.
Aku terus menghitung.
Ketika selesai, jumlahnya 19 malam.
Sembilan belas kali Mira datang setelah jam kerjanya.
Tidak ada satu pun catatan lembur.
Aku membuka pembayaran rumah tangga.
Setiap bulan aku tetap membayar paket perawat malam.
Rp18 juta.
Tidak pernah terlambat.
Aku membuka surel dari agensi.
Ada invoice.
Ada tanda terima.
Semuanya terlihat normal.
Aku hampir menutup laptop ketika melihat satu detail.
Nomor rekening pada invoice tiga bulan terakhir berbeda dengan nomor rekening lama.
Aku membandingkannya.
Benar.
Nama agensinya sama.
Logo sama.
Nominal sama.
Tapi rekeningnya berbeda.
Aku mengambil ponsel dan menghubungi nomor agensi yang tersimpan sejak awal.
Seorang perempuan menjawab.
Aku menyebut nama Ibu.
Dia diam beberapa detik.
Lalu berkata,
“Pak Dimas, layanan malam untuk Bu Marni sudah dihentikan hampir enam bulan lalu.”
Tanganku berhenti di atas meja.
“Apa?”
“Permintaan penghentian dikirim melalui kontak keluarga yang terdaftar.”
“Siapa?”
Dia mengecek.
Lalu menyebut satu nama.
“Bu Vina.”
Aku menatap pintu ruang kerja yang tertutup.
Di luar, kudengar suara Vina tertawa kecil sambil berbicara lewat telepon.
Aku melihat kembali 19 tanggal yang baru kutulis.
Saat itu aku sadar satu hal.
Mira mungkin bukan orang yang harus kuselidiki.
Bersambung…
BAGIAN 2
Aku tidak langsung keluar dari ruang kerja.
Aku meminta petugas agensi mengirim semua riwayat komunikasi ke surelku.
“Termasuk formulir penghentian?”
“Bisa, Pak.”
“Dan pembayaran terakhir yang benar-benar masuk ke agensi?”
Dia memeriksa.
“Bulan Maret.”
Sekarang sudah September.
Aku menelan ludah.
“Berarti sejak April tidak ada tagihan dari kalian?”
“Tidak ada.”
“Nominal layanan malam dulu Rp18 juta?”
“Betul.”
Aku menghitung cepat.
Enam bulan.
Rp108 juta.
Dan uang itu tetap keluar dari rekeningku.
“Siapa yang boleh mengubah kontak keluarga?”
“Pemilik akun utama atau kontak yang Bapak beri otorisasi.”
Aku teringat sesuatu.
Empat bulan sebelumnya, saat aku sedang menangani proyek di Balikpapan, Vina meminta akses pembayaran rumah.
Katanya supaya aku tidak terus membuka aplikasi bank di tengah rapat.
Aku memberikan akses terbatas.
Aku bahkan berterima kasih kepadanya.
Sekarang tengkukku terasa dingin.
Aku menutup telepon.
Beberapa detik kemudian ada ketukan.
Vina masuk tanpa menunggu.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
Dia melihat laptopku.
“Kerja lagi?”
Aku memutar layar sedikit menjauh.
“Aku sedang cek pengeluaran rumah.”
Dia langsung tersenyum.
“Jam segini?”
“Kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
Dia mendekat lalu menaruh tangan di bahuku.
“Besok saja. Kamu baru pulang.”
Aku menatapnya.
Sudah hampir tiga tahun kami bersama.
Aku tahu caranya bicara ketika santai.
Aku juga tahu bagaimana suaranya berubah ketika sedang menutupi sesuatu.
“Vina.”
“Hm?”
“Perawat malam Ibu masih datang?”
Tangannya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Lalu dia menjawab,
“Seharusnya.”
“Seharusnya?”
“Aku tidak hafal jadwal mereka, Dimas.”
“Kamu yang mengurusnya.”
“Administrasinya, iya. Bukan jadwal harian.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Dia memandangku beberapa detik.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku menutup laptop.
Malam itu aku tidak tidur.
Pukul enam pagi aku turun ke dapur.
Mira sudah datang.
Dia sedang membuat bubur.
Aku berdiri di pintu.
“Mira.”
Dia menoleh.
“Saya selesai sebentar lagi, Pak.”
“Aku tidak mau bicara soal pekerjaan.”
Dia berhenti mengaduk.
“Aku mau tanya soal perawat malam.”
Wajahnya berubah.
“Mereka tidak datang sejak kapan?”
Mira tidak langsung menjawab.
“Jawab saja.”
“Sekitar enam bulan.”
Aku menutup mata sebentar.
“Kamu tahu?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Saya pernah bilang.”
Aku membuka mata.
“Kapan?”
“April.”
“Kepada siapa?”
“Kepada Bu Vina.”
Aku menarik kursi.
“Duduk.”
Mira tetap berdiri.
Aku tidak memaksanya.
“Ceritakan.”
Dia menarik napas.
“Malam pertama perawat tidak datang, Ibu demam ringan dan sulit tidur. Waktu itu saya masih ada karena cucian belum selesai. Bu Vina bilang pergantian jadwal sedang diurus.”
“Lalu?”
“Besoknya juga tidak ada.”
“Lalu?”
“Saya tanya lagi.”
“Apa katanya?”
“Katanya keluarga sedang mengurangi biaya karena pengeluaran terlalu besar.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Saya tahu sekarang.”
“Kenapa kamu datang malam-malam?”
Mira melihat ke arah lorong menuju kamar Ibu.
“Karena Ibu pernah menelepon saya.”
“Kamu diberi nomor oleh siapa?”
“Ibu sendiri.”
Aku tidak suka mendengar itu.
Bukan karena Mira melakukan sesuatu yang salah.
Aku malu karena Ibuku punya nomor pekerja rumah untuk meminta ditemani, tetapi tidak menghubungi anaknya sendiri.
“Kenapa Ibu tidak menghubungiku?”
Mira menjawab pelan.
“Beliau bilang Bapak selalu sedang bekerja.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi sulit kuterima.
Aku mengambil ponsel.
“Berapa kali kamu menginap?”
“Saya tidak hitung.”
“Aku hitung.”
Aku meletakkan kertas di meja.
“Sembilan belas.”
Mira melihat angka itu.
“Sebagian cuma sampai Ibu tertidur.”
“Kenapa tidak minta bayaran?”
“Saya tidak pernah menganggap itu bagian pekerjaan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Dia diam cukup lama.
Lalu menjawab,
“Dulu ayah saya sakit lama. Saya kerja di luar kota. Saya selalu kirim uang. Saya pikir itu cukup.”
Aku tidak menyela.
“Ketika saya pulang, saya baru tahu banyak malam beliau sendirian.”
Mira berhenti.
“Saya tidak mau melihat orang lain mengalami hal yang sama kalau saya bisa tinggal beberapa jam.”
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Aku hanya berkata,
“Mulai hari ini, kalau kamu menemani Ibu di luar jam kerja, itu dibayar.”
Mira menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Saya datang bukan karena—”
“Aku tahu.”
Aku memotong.
“Justru karena itu harus dibayar.”
Dia akhirnya mengangguk.
Setelah itu aku masuk ke kamar Ibu.
Ibu sedang membaca.
Aku duduk di sampingnya.
“Bu.”
Ibu menutup bukunya.
“Kamu sudah tahu?”
Aku menatapnya.
“Ibu tahu soal perawat malam?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang ke aku?”
“Kamu sedang banyak proyek.”
“Itu bukan alasan.”
“Waktu Ibu bilang dulu perawat malam jarang datang, kamu bilang urusan itu sudah diserahkan ke Vina.”
Aku terdiam.
Aku ingat.
Saat itu aku sedang di bandara.
Telepon hanya berlangsung dua menit.
Aku bahkan tidak ingat apa jawaban lengkapku.
“Ibu seharusnya telepon lagi.”
Ibu menatapku lama.
“Berapa kali Ibu harus menelepon supaya kamu benar-benar dengar?”
Aku tidak menjawab.
Tidak ada kalimat yang cukup bagus.
Aku hanya duduk.
Beberapa menit.
Tanpa ponsel.
Tanpa laptop.
Tanpa rapat.
Ibu akhirnya berkata,
“Dimas.”
“Ya?”
“Jangan marah ke Mira.”
“Aku tidak marah.”
“Kamu tadi malam marah.”
“Aku salah.”
Ibu menatapku seperti tidak yakin mendengarnya.
Aku menghela napas.
“Aku benar-benar salah.”
Siangnya aku tidak masuk kantor.
Aku meminta kepala keuangan perusahaanku datang ke rumah membawa laptop kerja.
Dia bernama Yoga.
Aku tidak menceritakan semuanya.
Aku hanya memberinya daftar transaksi rekening rumah tangga.
“Tolong cek rekening penerima ini.”
Yoga menatap angka-angkanya.
“Vendor?”
“Katanya agensi perawat.”
Dia bekerja sekitar dua puluh menit.
Lalu memiringkan laptop ke arahku.
“Pak, rekening ini bukan rekening perusahaan.”
“Pribadi?”
“Rekening bisnis.”
“Atas nama?”
“CV Lentera Mandiri.”
Aku tidak pernah mendengar nama itu.
“Cari pemiliknya.”
Yoga mengetik lagi.
Beberapa menit kemudian dia melihatku.
“Pemilik terdaftarnya Gilang Saputra.”
Nama itu kukenal.
Sepupu Vina.
Aku merasakan sesuatu di perutku.
Bukan kaget lagi.
Lebih seperti mulai memahami pola yang selama ini tidak kulihat.
Aku membuka transaksi enam bulan.
Ternyata bukan hanya pembayaran perawat malam.
Ada biaya konsultasi tambahan.
Ada pembelian alat kesehatan.
Ada pengiriman makanan khusus.
Nominalnya tidak selalu besar.
Rp3,2 juta.
Rp5,8 juta.
Rp7,4 juta.
Karena tersebar, aku tidak pernah memeriksa satu per satu.
“Total?”
Yoga menghitung.
“Yang mencurigakan sekitar Rp286 juta.”
Aku bersandar.
Rp286 juta.
Aku pernah menghabiskan lebih banyak untuk satu proyek gagal.
Uangnya bukan masalah terbesar.
Masalahnya adalah uang itu keluar dengan alasan merawat Ibu.
Padahal saat aku merasa sudah membayar orang lain untuk menjaga Ibu, Ibu justru menghubungi Mira tengah malam.
Aku meminta Yoga mencetak semuanya.
Lalu aku menelepon Vina.
“Pulang.”
“Aku sedang di salon.”
“Sekarang.”
“Kamu kenapa sih?”
“Pulang dulu.”
Aku menutup telepon.
Satu jam kemudian dia masuk rumah.
Dia melihat Yoga.
Lalu melihat tumpukan dokumen di meja.
Wajahnya langsung tegang.
“Ini apa?”
Aku menunjuk kursi.
“Duduk.”
“Aku tidak suka cara kamu bicara.”
“Duduk, Vina.”
Dia akhirnya duduk.
Aku meletakkan satu invoice di depannya.
“Agensi mana yang mengeluarkan ini?”
Dia membaca.
“Kan ada namanya.”
“Agensi aslinya bilang tidak pernah mengirim invoice ini.”
Dia tidak menjawab.
Aku menaruh lembar berikutnya.
“Rekeningnya milik perusahaan Gilang.”
Wajah Vina kehilangan ekspresi.
“Jelaskan.”
Dia tertawa pendek.
“Kamu sekarang menyelidiki aku?”
“Jelaskan.”
“Gilang membantu administrasi.”
“Administrasi apa?”
“Macam-macam.”
“Aku butuh jawaban yang jelas.”
Vina mulai kesal.
“Dimas, kamu yang bilang aku harus mengurus semuanya karena kamu sibuk.”
“Benar.”
“Jadi aku atur.”
“Kamu menghentikan perawat malam.”
“Karena tidak efektif.”
“Aku tidak pernah menyuruh.”
“Buat apa membayar orang yang cuma duduk?”
Aku menatapnya.
“Malam ketika tidak ada perawat, siapa yang menjaga Ibu?”
Dia tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Mira.”
Vina memutar mata.
“Lagi-lagi dia.”
“Dia datang sembilan belas malam tanpa dibayar.”
“Karena dia ingin terlihat baik.”
“Mungkin.”
Aku menggeser dokumen.
“Tapi kamu tetap menagihku Rp18 juta setiap bulan.”
Vina diam.
“Ke mana uangnya?”
Dia menatap Yoga.
“Bisa kita bicara berdua?”
“Yoga keluar.”
Setelah pintu tertutup, Vina langsung berdiri.
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku menunggu.”
“Gilang sedang membangun usaha.”
Aku menatapnya tanpa bicara.
“Kami cuma meminjam dulu.”
“Kamu memakai invoice perawatan Ibu.”
“Kamu punya uang lebih dari cukup.”
Aku langsung merasa sesuatu berubah di dalam diriku.
Bukan karena angka.
Karena kalimatnya.
“Kamu pikir itu membuatnya boleh?”
“Aku mau mengembalikan.”
“Kapan?”
“Begitu usahanya jalan.”
“Kenapa tidak minta kepadaku?”
“Kamu pasti menolak.”
“Berarti kamu sudah tahu jawabannya.”
Dia mulai berjalan mondar-mandir.
“Ini bukan seperti yang kamu pikir.”
“Yang kupikir sangat sederhana. Aku membayar perawatan yang ternyata tidak ada.”
“Kamu selalu sibuk. Kamu bahkan tidak pernah cek.”
Aku menatapnya.
Dia mungkin bermaksud membela diri.
Tapi kalimat itu justru tepat.
Aku memang tidak pernah cek.
“Aku salah karena tidak cek.”
Dia terlihat lega sebentar.
Lalu aku melanjutkan.
“Tapi itu tidak membuatmu berhak melakukan ini.”
Vina kembali duduk.
“Kita bertiga sebentar lagi juga jadi keluarga.”
Aku menatapnya.
“Kita belum menikah.”
Dia tersentak.
“Jadi sekarang kamu pakai itu?”
“Aku cuma mengingat fakta.”
“Setelah tiga tahun?”
“Setelah enam bulan kamu memakai kondisi Ibu untuk membuat tagihan palsu.”
Vina memukul meja dengan telapak tangannya.
“Jangan bicara seolah aku tidak pernah membantu!”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Aku yang mengatur rumah saat kamu pergi!”
“Dan kamu juga mengurangi perawatan Ibu tanpa bicara denganku.”
“Karena terlalu banyak biaya!”
“Aku tidak pernah meminta penghematan.”
Dia terdiam.
Aku bertanya,
“Kenapa kamu selalu marah pada Mira?”
Vina memalingkan wajah.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata,
“Karena dia membuat Ibumu membandingkan aku.”
“Bagaimana?”
“Ibumu sering bilang Mira lebih tahu dia suka makan apa. Mira tahu dia susah tidur. Mira tahu jam berapa dia mual. Mira tahu semua.”
Aku mengerutkan kening.
“Itu bukan salah Mira.”
“Enak buat kamu bilang begitu.”
“Lalu kamu mengurangi jadwal perawat karena kesal?”
“Bukan cuma itu.”
“Apa lagi?”
Vina menggigit bibir.
“Bu Marni tidak suka aku mengatur rumah.”
“Apa maksudnya?”
“Dia selalu tanya pengeluaran.”
Aku menatap tumpukan dokumen.
Sekarang aku mulai paham.
Ibu ternyata memperhatikan.
“Dia pernah menemukan sesuatu?”
Vina tidak menjawab.
Saat itulah suara Ibu terdengar dari lorong.
“Pernah.”
Aku menoleh.
Ibu berdiri di ambang pintu.
Mira ada di belakangnya, tetapi tidak masuk.
Aku cepat berdiri.
“Ibu jangan—”
“Ibu mau bicara.”
Ibu berjalan masuk lalu duduk.
Vina terlihat gelisah.
Ibu memandangnya.
“Tiga bulan lalu Ibu lihat invoice.”
Aku bertanya,
“Invoice apa?”
“Yang pembayaran alat terapi.”
Aku membukanya.
Ada pembayaran Rp12,5 juta.
Ibu menunjuk.
“Alat itu tidak pernah datang.”
Aku menoleh pada Vina.
Dia langsung berkata,
“Barangnya dibatalkan.”
“Uangnya tidak dikembalikan,” kataku.
Vina diam.
Ibu melanjutkan.
“Ibu tanya dia.”
“Apa jawabannya?”
“Katanya kamu tahu.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Satu kebohongan kecil cukup kalau orang yang dibohongi jarang ada di rumah.
Ibu berkata lagi,
“Sejak itu Ibu mulai menyimpan semua kertas.”
Dia meminta Mira mengambil map cokelat dari kamarnya.
Aku terkejut.
“Ibu menyimpan?”
“Ibu tidak bodoh, Dimas.”
Beberapa menit kemudian Mira kembali membawa map tipis.
Ibu meletakkannya di meja.
Di dalamnya ada foto invoice, beberapa catatan tanggal, dan salinan pesan.
Aku membuka salah satu tangkapan layar.
Itu percakapan antara Ibu dan Vina.
Ibu: “Perawat malam tidak datang lagi?”
Vina: “Dimas sudah setuju dikurangi.”
Ibu: “Dimas bilang begitu?”
Vina: “Iya. Jangan ganggu dia. Lagi banyak kerjaan.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Aku tidak pernah mengatakan apa pun seperti itu.
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa Ibu tidak kirim ini kepadaku?”
Ibu menjawab pelan.
“Karena Ibu mau lihat kamu akan sadar sendiri atau tidak.”
Aku merasa malu.
“Dan ternyata aku tidak sadar.”
Ibu tidak membantah.
Vina berdiri.
“Aku sudah cukup.”
Aku menatapnya.
“Duduk.”
“Tidak.”
“Kita belum selesai.”
“Buat apa? Semua orang di rumah ini sudah memutuskan aku penjahat.”
“Aku tidak sedang memberi label apa pun.”
Aku menunjuk invoice.
“Aku sedang meminta pertanggungjawaban.”
Dia mengambil tasnya.
“Aku akan kembalikan uangnya.”
“Bukan cuma itu.”
Dia berhenti.
“Akses rekening rumah mulai sekarang dicabut.”
Dia tertawa sinis.
“Bagus.”
“Semua transaksi akan diaudit.”
Wajahnya berubah.
“Untuk apa?”
Aku menatapnya.
“Karena sekarang aku tidak percaya angka apa pun yang kamu kirim.”
Dia memandangku beberapa detik.
“Kalau kamu melakukan ini, hubungan kita selesai.”
Aku tidak langsung menjawab.
Tiga tahun bukan waktu singkat.
Aku pernah merencanakan pernikahan.
Aku pernah mencari rumah kedua karena Vina ingin tempat yang lebih dekat ke Jakarta.
Aku bahkan sudah memesan cincin.
Cincin itu masih tersimpan di brankas ruang kerja.
Aku merasa takut membuat keputusan ketika sedang marah.
Jadi aku tidak menjawab dengan emosi.
Aku hanya berkata,
“Aku tidak akan membahas hubungan kita sebelum urusan ini jelas.”
Vina pergi malam itu.
Dua hari berikutnya aku bekerja dari rumah.
Aku memindahkan rapat ke daring.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku melihat kehidupan Ibu dari dekat.
Pukul enam pagi dia minum air hangat.
Pukul tujuh dia hanya mampu makan sedikit.
Pukul sembilan dokter menelepon.
Menjelang siang tubuhnya biasanya lelah.
Jam tiga dia suka mendengarkan radio lama.
Malam hari justru paling sulit.
Kadang Ibu tidak ingin bicara.
Dia hanya ingin ada orang di kursi dekat ranjang.
Aku mulai mengerti kenapa Mira datang.
Tidak ada yang rumit.
Dia cuma duduk.
Satu malam aku yang duduk di sana.
Ibu membuka mata.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Besok kerja?”
“Bisa dari rumah.”
Ibu menatapku.
“Perusahaanmu tidak akan bangkrut kalau kamu duduk di sini satu malam?”
Aku tersenyum kecil.
“Sepertinya tidak.”
“Bagus.”
Lima menit kemudian dia tertidur lagi.
Aku melihat jam.
01.48.
Tidak ada percakapan penting.
Tidak ada solusi.
Tapi aku baru mengerti bahwa kehadiran memang berbeda dari fasilitas.
Tiga hari kemudian Yoga kembali membawa hasil audit awal.
Total transaksi yang tidak bisa dijelaskan bukan Rp286 juta.
Rp417 juta.
Aku menatap angka itu.
“Ada apa lagi?”
Yoga menunjukkan tiga pembayaran.
Satu Rp46 juta.
Satu Rp39 juta.
Satu Rp45 juta.
“Untuk apa?”
“Katanya jasa pendamping medis luar kota.”
“Ibu tidak pernah ke luar kota.”
“Itu masalahnya.”
Aku melihat rekening penerima.
Bukan perusahaan Gilang.
Rekening atas nama pribadi.
Aku membaca namanya.
Nadia Kusuma.
Aku tidak kenal.
“Siapa?”
Yoga menggeleng.
“Kami belum tahu.”
Aku menelepon bank dan meminta dokumen pendukung transaksi.
Sore harinya aku menerima salinan formulir.
Di bagian keterangan tertulis:
“Konsultasi perawatan pribadi.”
Tanda tangan persetujuan tercantum atas namaku.
Aku menatap tanda tangan itu.
Mirip.
Tapi bukan milikku.
Aku langsung menelepon Vina.
Dia tidak menjawab.
Aku mencoba lagi.
Tetap tidak.
Malamnya seseorang menekan bel rumah.
Ketika pintu dibuka, seorang perempuan sekitar empat puluhan berdiri membawa amplop.
“Saya mencari Pak Dimas.”
“Saya Dimas.”
Dia menyerahkan kartu nama.
Namanya Nadia.
Aku langsung mengenali nama di transaksi.
“Silakan masuk.”
Dia tidak mau.
“Saya cuma mau mengembalikan dokumen.”
“Dokumen apa?”
Dia menyerahkan amplop.
“Saya dulu diminta Bu Vina membuat laporan konsultasi.”
Aku merasa dada langsung berat.
“Konsultasi untuk siapa?”
“Tidak ada.”
Aku menatapnya.
Dia melanjutkan,
“Saya bekerja di klinik tempat Bu Marni pernah konsultasi. Bu Vina kenal saya dari sana.”
“Kamu menerima transfer?”
“Iya.”
“Rp130 juta lebih?”
“Sebagian besar saya transfer kembali.”
“Ke siapa?”
Dia mengeluarkan ponsel.
“Ke rekening ini.”
Aku melihat nama penerima.
Gilang.
Aku langsung mengerti.
Nadia menelan ludah.
“Saya tahu saya salah. Awalnya saya diberi tahu ini cuma soal pembukuan keluarga. Tapi minggu lalu saya dengar Bu Marni masih sakit dan layanan malam justru dihentikan.”
Aku mengambil salinan transaksi yang dia bawa.
Itulah twist terakhir yang tidak pernah kuduga.
Vina bukan sekadar meminjam uang.
Dia membuat beberapa lapisan transaksi supaya uang yang keluar terlihat seperti biaya perawatan Ibu.
Dan sebagian dokumen memakai tanda tanganku yang bukan kubuat sendiri.
Aku tidak berteriak.
Aku tidak membanting apa pun.
Aku hanya merasa sangat tenang.
Mungkin karena semuanya sudah terlalu jelas.
Keesokan paginya Vina akhirnya datang.
Dia melihat Nadia sedang duduk bersama Yoga di ruang depan.
Wajahnya langsung pucat.
Aku berdiri di depannya.
“Aku cuma punya satu pertanyaan.”
Dia menatapku.
“Kenapa sejauh ini?”
Vina diam lama.
Lalu duduk.
“Gilang punya utang usaha.”
“Kenapa itu menjadi urusan Ibu?”
“Bukan.”
“Tapi kamu memakai biaya Ibu.”
“Aku panik.”
“Enam bulan bukan panik.”
Dia menutup wajah.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata,
“Aku pikir setelah kita menikah, semuanya juga akan menjadi milik bersama.”
Aku menatapnya.
“Termasuk uang yang sekarang belum menjadi milikmu?”
Dia tidak menjawab.
Aku mengangguk.
Hubungan itu selesai bagiku saat itu.
Bukan karena satu invoice.
Bukan karena satu rekening.
Karena selama enam bulan dia melihat Ibuku kehilangan pendamping malam dan tetap memilih mempertahankan kebohongan.
Aku memintanya mengembalikan seluruh akses rumah.
Kunci.
Kartu.
Kata sandi.
Urusan dana selanjutnya ditangani secara resmi melalui pengacara dan audit.
Aku tidak mengejar keributan keluarga.
Aku hanya memastikan uang yang masih bisa dipulihkan dikembalikan dan semua transaksi didokumentasikan.
Setelah Vina pergi, rumah terasa berbeda.
Lebih sepi.
Tapi tidak lagi penuh sesuatu yang tidak kupahami.
Aku memanggil Mira ke ruang kerja.
Dia berdiri seperti pertama kali.
Aku menunjuk kursi.
“Kali ini duduk.”
Dia tersenyum kecil lalu duduk.
“Aku mau ubah pekerjaanmu.”
Dia langsung terlihat khawatir.
“Saya melakukan kesalahan?”
“Tidak.”
Aku memberikan satu lembar kontrak.
“Aku ingin kamu menjadi pendamping harian Ibu, kalau kamu bersedia.”
Mira membaca.
Jam kerja jelas.
Hari libur jelas.
Lembur jelas.
Asuransi kerja ada.
Bayarannya lebih tinggi.
Dia menatapku.
“Pak, saya bukan perawat.”
“Aku tahu. Perawat tetap ada.”
“Lalu tugas saya?”
“Menemani Ibu. Membantu hal-hal ringan. Membaca kalau Ibu minta. Membuat teh kalau Ibu mau.”
Mira terdiam.
“Aku tidak mau lagi kamu datang tengah malam tanpa dibayar.”
Dia tersenyum.
“Saya pikir Bapak akan memecat saya.”
“Aku juga sempat berpikir begitu.”
Aku mengakui.
“Untung aku cek kamera dulu.”
Hari berikutnya aku membuat aturan baru untuk diriku sendiri.
Bukan untuk pegawai.
Untuk diriku.
Tiga malam setiap minggu aku harus ada di rumah sebelum pukul delapan.
Tidak ada rapat kecuali benar-benar darurat.
Ponsel kerja kutaruh di luar kamar Ibu.
Awalnya terasa aneh.
Aku terbiasa merasa dibutuhkan di mana-mana.
Ternyata banyak hal tetap berjalan tanpa aku.
Satu malam Ibu melihatku masuk membawa dua cangkir teh.
Dia tertawa.
“Sekarang kamu yang jadi pekerja rumah?”
“Kalau perlu.”
“Mira pasti ajari kamu.”
“Dia bilang tehku terlalu manis.”
“Memang.”
Aku duduk.
Rambut Ibu belum tumbuh kembali.
Dia masih memakai kain penutup kepala abu-abu yang dipasangkan Mira pada hari aku pulang lebih awal.
Aku memandangnya dan akhirnya berkata,
“Bu.”
“Hm?”
“Aku kira selama ini aku sudah melakukan semuanya.”
Ibu tersenyum tipis.
“Kamu memang melakukan banyak.”
“Bukan semuanya.”
Ibu mengangguk.
Aku tidak meminta dia menghiburku.
Aku juga tidak berjanji akan menjadi anak yang sempurna.
Aku hanya mulai hadir.
Beberapa minggu setelah itu, aku menemukan kertas kecil di meja kamar Ibu.
Tulisan tangannya sedikit bergetar.
Isinya hanya daftar sederhana.
“Teh jahe.”
“Radio jam tiga.”
“Novel halaman 117.”
“Mira jangan lupa makan.”
“Dimas pulang hari Kamis.”
Aku membaca baris terakhir beberapa kali.
Selama bertahun-tahun jadwalku diisi rapat, penerbangan, proyek, dan angka.
Sekarang ternyata satu jadwal yang paling penting justru sangat sederhana.
Pulang.
Bukan saat pekerjaan selesai.
Bukan saat kalender kosong.
Pulang ketika masih ada orang yang menunggu.
Dan kali ini, aku tidak mau terlambat lagi.
