PUKUL TIGA PAGI, POLISI MENYATAKAN ISTRIKU TEWAS DI HOTEL—PADAHAL DIA TIDUR DI SAMPINGKU, DAN CCTV MENUNJUKKAN DUA WAJAH YANG SAMA.

BAGIAN 2

Kartu itu jatuh tepat di antara kami.

RATIH PRAMESWARI.

Tidak ada yang bergerak.

Aku menatap perempuan yang selama enam tahun kupanggil Laras.

Lalu menatap foto perempuan meninggal di tablet polisi.

Wajah mereka sama.

Sangat sama.

Tapi untuk pertama kalinya, aku mulai melihat perbedaan kecil.

Bentuk alis.

Garis di sudut bibir.

Cara mereka menatap kamera.

Aku menelan ludah.

“Namamu Ratih?”

Perempuan di depanku memejamkan mata.

“Iya.”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Salah satu polisi langsung mengambil kartu itu menggunakan sarung tangan.

“Bu Ratih, jangan ke mana-mana.”

Aku tertawa pendek.

“Jangan ke mana-mana?”

Aku menunjuknya.

“Enam tahun saya tinggal dengan orang yang identitasnya bukan miliknya, Pak.”

Ratih menatapku.

“Rendra…”

“Jangan panggil namaku.”

Dia terdiam.

Aku merasakan tanganku gemetar.

“Kamu bilang Ratih meninggal sembilan tahun lalu.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Yang meninggal di hotel itu Laras?”

Dia tidak menjawab.

Aku membentak.

“ITU LARAS?”

Ratih akhirnya mengangguk.

“Iya.”

Dadaku terasa kosong.

Seolah seluruh rumah berubah asing dalam satu detik.

Foto pernikahan kami.

Dokumen kredit.

Rekening bersama.

Paspor.

Bahkan nama yang tertera di cincin kawinku.

Semua dibangun di atas identitas perempuan yang baru saja ditemukan tewas.

Polisi menyuruh Ratih duduk.

“Mulai dari awal.”

Ratih memandangku.

“Boleh aku bicara berdua dengan suamiku?”

Aku langsung menjawab.

“Bukan.”

Dia terpukul.

Aku mengulang lebih pelan.

“Aku bahkan tidak tahu apakah secara hukum aku suamimu.”

Ratih menunduk.

Petugas mulai merekam.

“Kenapa Anda menggunakan identitas Laras?”

Ratih menarik napas panjang.

“Sembilan tahun lalu, semua orang memang percaya aku meninggal.”

“Kenapa?”

“Karena keluarga kami membuatnya seperti itu.”

Aku menatapnya.

“Keluarga?”

“Ayah kami.”

Nama ayah Laras langsung muncul di kepalaku.

Surya Prameswari.

Meninggal empat tahun lalu.

Pengusaha logistik yang selalu bicara seperlunya.

“Kenapa ayahmu memalsukan kematianmu?”

Ratih menjawab pelan.

“Karena aku menemukan transaksi perusahaan yang seharusnya tidak kulihat.”

Polisi mendekatkan alat perekam.

“Apa isinya?”

“Pengiriman fiktif. Perusahaan cangkang. Rekening atas nama orang yang sudah meninggal.”

“Kamu melapor?”

“Aku berniat.”

“Lalu?”

“Dua hari kemudian, mobilku ditemukan terbakar.”

Aku merinding.

Ratih melanjutkan.

“Di dalamnya ada jasad perempuan.”

“Siapa?”

“Aku baru tahu bertahun-tahun kemudian. Salah satu pegawai gudang Ayah yang hilang.”

Petugas saling berpandangan.

Aku bertanya,

“Jadi ayahmu membunuhnya?”

Ratih cepat menggeleng.

“Aku tidak tahu siapa yang membunuh. Tapi Ayah menggunakan jasad itu untuk membuat semua orang percaya aku mati.”

Aku merasa mual.

“Dan Laras?”

“Dia membantuku kabur.”

Aku menatap kartu identitas Laras yang masih di meja.

“Dengan memberikan identitasnya?”

“Awalnya untuk sementara.”

“Enam tahun pernikahan kita bukan sementara.”

Ratih tidak bisa menjawab.

Salah satu polisi bertanya,

“Bu Ratih asli pergi ke mana setelah dinyatakan meninggal?”

“Singapura. Lalu Batam. Aku berpindah-pindah.”

“Laras?”

“Dia tetap di Indonesia, tapi memakai identitas lain.”

Aku membeku.

“Jadi Laras masih hidup selama ini dan kamu tahu?”

Ratih mengangguk.

Aku berjalan menjauh.

Aku butuh udara.

Tapi bahkan balkon apartemen itu terasa terlalu sempit.

“Kapan kamu mulai memakai identitas Laras secara permanen?”

“Setelah Ayah sakit.”

“Kenapa?”

“Karena dokumen atas nama Ratih sudah dibuat mati. Aku tidak bisa bekerja, tidak bisa buka rekening, tidak bisa menyewa tempat tanpa risiko.”

“Lalu Laras memberikannya begitu saja?”

Ratih diam.

Aku menoleh.

“Ada apa?”

Dia mengusap wajah.

“Laras merasa bersalah.”

“Karena?”

“Saat mobil yang dibuat seolah-olah kecelakaan itu ditemukan, sebenarnya Laras yang memberikan jadwal perjalananku kepada Ayah.”

Aku berhenti.

“Dia mengkhianatimu?”

“Iya.”

Ratih menatap lantai.

“Tapi dia tidak tahu akan ada orang mati.”

Salah satu polisi mendapat telepon.

Ia menjauh sebentar.

Aku masih menatap Ratih.

“Sekarang jelaskan hotel.”

Ratih terlihat semakin pucat.

“Aku bertemu Laras malam ini.”

“Kenapa?”

“Dia menghubungiku tiga hari lalu.”

“Untuk apa?”

“Dia bilang menemukan bukti baru.”

“Bukti apa?”

Ratih menatap polisi.

“Bahwa Ayah bukan orang terakhir yang menjalankan jaringan itu.”

Ruangan sunyi.

“Siapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu pergi ke Hotel Arunika jam 00.48.”

“Iya.”

“Kamar 1706?”

“Iya.”

“Kalian bertengkar?”

Ratih mengangguk.

“Apa yang terjadi?”

“Laras mau aku pergi ke polisi malam itu juga.”

“Dan kamu menolak.”

“Aku minta waktu.”

Aku tertawa tanpa humor.

“Sepertinya itu kata favoritmu.”

“Rendra…”

“Enam tahun kamu juga minta waktu untuk mengatakan siapa dirimu.”

Dia tidak membantah.

Petugas yang menerima telepon kembali.

“Pak Rendra, Bu Ratih, kami harus ke hotel.”

Ratih langsung tegang.

“Kenapa?”

“CCTV lantai tujuh belas sudah berhasil dipulihkan.”

Pukul empat lewat dua puluh kami sampai di Hotel Arunika.

Lobi hampir kosong.

Aku mengikuti polisi menuju ruang keamanan.

Rekaman diputar.

Pukul 00.56.

Ratih keluar dari lift.

Jaket krem.

Tas kain hitam.

Persis seperti CCTV apartemen.

Pukul 01.03.

Lift lain terbuka.

Aku menahan napas.

Perempuan kedua keluar.

Wajahnya sama.

Namun rambutnya lebih panjang.

Dia memakai mantel hitam.

Di lehernya ada kalung daun pemberianku.

“Itu Laras,” bisik Ratih.

Aku menatap layar.

Rasanya tidak masuk akal melihat dua perempuan dengan wajah istriku berjalan dalam lorong yang sama.

Laras masuk kamar 1706.

Ratih masuk beberapa menit kemudian.

Rekaman dipercepat.

Pukul 02.08.

Ratih keluar.

Sendirian.

Dia terlihat marah.

Pukul 02.23.

Laras keluar.

Langkahnya tidak stabil.

Dia memegang dinding.

Lalu menghilang ke lorong servis.

Sebelas menit kemudian, staf hotel menemukannya meninggal.

Aku menoleh kepada Ratih.

“Kamu meninggalkan dia hidup?”

“Iya.”

“Kenapa dia sempoyongan?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalian minum?”

“Hanya air mineral.”

“Obat?”

“Tidak.”

Polisi membawa kami ke kamar 1706.

Ada dua gelas di meja.

Satu botol air.

Satu cangkir kopi yang belum habis.

Dan amplop cokelat.

Di atasnya tertulis:

UNTUK RENDRA.

Aku langsung mendekat.

“Ini untuk saya.”

Petugas memotret amplop sebelum membukanya.

Di dalamnya ada sebuah flashdisk.

Dan secarik kertas.

Tulisan tangan.

Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan langsung menuduh Ratih. Dia pembohong, tapi bukan orang yang paling berbahaya.

Ratih langsung menangis.

Aku membaca kalimat itu lagi.

“Dia tahu akan terjadi sesuatu.”

Ratih menggeleng.

“Dia takut.”

“Takut siapa?”

“Dia tidak bilang.”

Flashdisk diperiksa di laptop polisi.

Isinya puluhan dokumen.

Transfer antarperusahaan.

Foto gudang.

Salinan kontrak.

Rekening luar negeri.

Kemudian satu folder video.

Video pertama memperlihatkan Laras.

Bukan Ratih.

Sekarang aku bisa membedakan mereka.

Laras menatap kamera.

“Namaku Laras Prameswari.”

Suaranya mirip.

Tapi tidak identik.

“Kalau video ini dibuka, berarti salah satu dari kami gagal.”

Dadaku menegang.

Laras melanjutkan.

“Sembilan tahun lalu, ayah kami membuat Ratih seolah-olah meninggal setelah dia menemukan transaksi ilegal di perusahaan.”

Semua sudah kami dengar.

Tapi kalimat berikutnya membuat Ratih menegakkan tubuh.

“Ayah bukan orang yang merancang semuanya.”

Ratih berbisik,

“Apa?”

Laras mengangkat selembar foto.

Ada Surya.

Dan seorang pria yang kukenal.

Bima Prasetyo.

Paman mereka.

Adik dari ibu Laras dan Ratih.

Pria yang duduk di barisan depan saat pernikahanku.

Pria yang memberikan sambutan keluarga.

“Paman Bima mengurus dokumen palsu, perusahaan cangkang, dan pembayaran kepada orang-orang yang membantu menutup kematian Ratih.”

Aku menatap Ratih.

“Kamu tahu?”

“Tidak.”

Laras melanjutkan.

“Setelah Ayah meninggal, Bima mengambil alih semuanya.”

Video berhenti.

Petugas membuka file berikutnya.

Ada foto Bima masuk ke Hotel Arunika malam itu.

Pukul 00.32.

Lebih dulu dari Ratih.

Ratih berdiri.

“Tidak mungkin.”

Polisi memperbesar gambar.

Topi.

Masker.

Tapi bentuk tubuhnya jelas.

Dan ada jam besar di tangan kanan.

Ratih langsung berkata,

“Itu jam Paman.”

Petugas bertanya,

“Kamu melihat dia malam ini?”

“Tidak.”

Aku memandang layar.

“Kalau dia datang lebih dulu, bagaimana dia masuk kamar?”

Polisi membuka catatan akses.

Kartu staf hotel digunakan pukul 00.41 untuk membuka kamar 1706.

Seseorang sudah masuk sebelum Laras dan Ratih tiba.

Tengkukku merinding.

Petugas langsung menghubungi tim lain.

Ratih memandangku.

“Rendra, aku tidak membunuh Laras.”

Aku menjawab dingin.

“Aku belum tahu apa pun lagi.”

Hasil awal pemeriksaan tubuh keluar menjelang siang.

Laras meninggal akibat gangguan irama jantung.

Di dalam darahnya ditemukan zat yang tidak seharusnya ada.

Bukan racun yang membunuh seketika.

Efeknya baru muncul beberapa menit setelah diminum.

Dua gelas dari kamar diperiksa.

Satu hanya berisi air.

Satu lagi mengandung zat tersebut.

Sidik jari Ratih ada di gelas pertama.

Sidik jari Laras di gelas kedua.

Ada juga sidik jari ketiga pada tutup botol.

Polisi punya pembanding.

Bima Prasetyo.

Rumahnya langsung didatangi.

Kosong.

Kantor kosong.

Ponsel mati.

Tapi mobilnya tertangkap kamera tol menuju Bandung.

Pukul 03.16.

Kurang dari satu jam setelah Laras ditemukan meninggal.

Polisi menemukannya sore berikutnya di sebuah vila lama milik perusahaan keluarga.

Di sana ditemukan blanko identitas.

Cap.

Paspor lama.

Rekening perusahaan.

Bahkan salinan identitas orang yang sudah meninggal.

Kasusnya jauh lebih besar daripada kematian Laras.

Tapi itu tidak otomatis menyelesaikan masalah Ratih.

Karena Ratih tetap hidup enam tahun memakai identitas adiknya.

Membuka rekening.

Menandatangani kontrak.

Mengurus pajak.

Dan menikah denganku.

Aku akhirnya bertemu dengannya lagi dua hari kemudian di kantor penyidik.

Dia terlihat jauh lebih kecil tanpa pakaian mahal dan tanpa riasan.

Aku duduk di depannya.

“Aku mau satu jawaban.”

Ratih mengangguk.

“Kapan kamu berniat memberitahuku?”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku tertawa pahit.

“Itu juga jawaban.”

“Aku takut.”

“Takut kehilangan aku?”

“Iya.”

“Kamu sudah kehilangan aku sejak hari pertama kalau begitu.”

Matanya merah.

“Aku mencintaimu sebagai Ratih.”

“Masalahnya, aku tidak pernah diberi kesempatan mengenal Ratih.”

Dia menunduk.

Aku mengeluarkan cincin kawin.

Kutaruh di meja.

“Aku tidak tahu secara hukum kita ini apa.”

Ratih menangis.

“Aku tidak minta kamu memaafkan.”

“Bagus.”

Aku berdiri.

“Karena aku belum bisa.”

Dia memegang ujung meja.

“Rendra.”

Aku berhenti.

“Kalung yang dipakai Laras malam itu… aku yang memberikannya.”

Aku berbalik.

“Kenapa?”

“Supaya kalau sesuatu terjadi, polisi menghubungimu.”

“Kenapa aku?”

“Karena Laras bilang kamu satu-satunya orang yang tidak punya kepentingan dalam keluarga kami.”

Aku terdiam.

Ratih melanjutkan.

“Cincin hijau yang dia pakai juga milikku.”

“Kalian sengaja bertukar barang?”

“Iya.”

“Untuk membingungkan Bima?”

Ratih mengangguk.

“Tapi ternyata dia tetap tahu siapa Laras.”

Aku meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa lagi.

Dua minggu kemudian, Laras dimakamkan menggunakan namanya sendiri.

Bukan identitas palsu.

Bukan nama orang lain.

Laras Prameswari.

Aku berdiri jauh dari Ratih.

Dia datang dikawal.

Tidak ada satu pun keluarga besar mereka yang bicara banyak.

Semua sedang diperiksa.

Setelah pemakaman selesai, seorang penyidik mendatangiku.

“Pak Rendra, ada satu barang korban yang baru kami temukan.”

Dia memberikan amplop plastik bukti.

Di dalamnya ada kunci kecil.

Dan secarik alamat.

Gudang lama Prameswari Logistik — Cilincing.

Polisi membukanya malam itu.

Aku ikut sebagai saksi karena Laras menuliskan namaku di bagian belakang kertas.

Gudang hampir kosong.

Di ruang kantor lama, ada lemari besi.

Kuncinya cocok.

Di dalamnya tersimpan beberapa berkas.

Foto.

Rekening.

Dan satu map berlabel:

RENDRA MAHESA.

Jantungku berhenti sesaat.

“Kenapa nama saya ada di sini?”

Petugas membuka map.

Ada fotokopi akta kelahiranku.

Foto masa kecilku.

Alamat sekolah.

Riwayat pekerjaanku.

Bahkan foto saat aku pertama kali bertemu Ratih di seminar enam tahun lalu.

Aku mulai sulit bernapas.

“Kenapa keluarga mereka menyelidiki saya?”

Penyidik tidak menjawab.

Di dasar map ada surat tulisan tangan Laras.

Rendra, kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah tahu Ratih bukan Laras.

Aku lanjut membaca.

Tapi ada satu hal yang bahkan Ratih tidak tahu.

Di bawah surat itu ada hasil tes DNA lama.

Tanggalnya dua puluh sembilan tahun lalu.

Nama anak: Rendra Mahesa.

Nama ayah biologis membuat dunia di sekelilingku seperti berhenti.

SURYA PRAMESWARI.

Aku membaca tiga baris terakhir surat Laras.

Kamu bukan orang luar dalam keluarga kami.
Kamu adalah adik seayah kami yang disembunyikan sejak bayi.
Dan Bima membunuh Laras karena dia tahu kamulah ahli waris terakhir yang tidak pernah mereka perhitungkan.