BAGIAN 2
Aku menatap kartu identitas yang jatuh di lantai.
RATIH PRAMESWARI.
Foto di kartu itu memang wajah perempuan yang selama enam tahun kupanggil istriku.
Wajah yang sama.
Mata yang sama.

Bahkan bekas luka tipis di bawah dagu hampir sama.
Tapi namanya berbeda.
Laras membungkuk cepat hendak mengambil kartu itu.
Polisi lebih dulu menginjak ujungnya.
“Jangan disentuh.”
Perempuan di depanku berhenti.
Aku bahkan tidak tahu harus memanggilnya apa.
“Ratih?”
Dia memejamkan mata.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu mengangguk.
Dadaku seperti dihantam benda keras.
“Jadi Laras benar-benar meninggal?”
Dia tidak menjawab.
Aku mendekat.
“Jawab aku.”
“Perempuan di hotel itu Laras.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena otakku menolak memahami kalimat itu.
“Kalau dia Laras, selama ini aku menikah dengan siapa?”
Ratih menatapku.
“Dengan aku.”
Petugas langsung meminta dia duduk.
Salah satu polisi mengambil kartu lama itu menggunakan sarung tangan.
“Bu Ratih, kami perlu penjelasan.”
Ratih mengusap wajah.
“Aku akan jelaskan.”
Aku memotong.
“Mulai dari sembilan tahun lalu.”
Dia menatapku lama.
Kemudian berkata,
“Ratih tidak meninggal sembilan tahun lalu.”
“Aku sudah tahu.”
“Yang meninggal malam itu adalah seseorang yang kami buat seolah-olah Ratih.”
Polisi di sampingku langsung mencatat.
Aku membeku.
“Kami?”
Ratih tidak menjawab.
“Siapa kami?”
Dia menunduk.
“Ayah.”
Aku pernah bertemu ayah Laras hanya dua kali sebelum beliau meninggal empat tahun lalu.
Namanya Surya Prameswari.
Pengusaha logistik.
Pria pendiam yang selalu memandangku seperti sedang menghitung sesuatu.
“Ayah kalian memalsukan kematianmu?”
Ratih mengangguk.
“Kenapa?”
Tangannya gemetar.
“Karena aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Sembilan tahun lalu perusahaan Ayah hampir bangkrut. Ada transaksi ilegal. Pemindahan aset. Rekening atas nama orang mati. Aku menemukannya karena waktu itu aku membantu bagian keuangan.”
Aku duduk perlahan.
“Aku mau melapor.”
“Lalu?”
“Ayah tahu.”
Ratih menarik napas.
“Malam itu mobilku ditemukan terbakar di daerah Puncak. Ada jasad perempuan di dalam.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu namanya saat itu.”
Petugas mengangkat kepala.
“Saat itu?”
Ratih menelan ludah.
“Beberapa tahun kemudian aku tahu dia pekerja di salah satu gudang Ayah.”
Aku merasakan mual.
“Jadi ayahmu membunuh orang?”
“Aku tidak tahu apakah Ayah yang membunuhnya.”
“Tapi dia memakai mayatnya untuk membuatmu terlihat mati.”
Ratih mengangguk.
Aku berdiri.
“Dan Laras?”
Ratih menatapku.
“Laras membantu aku kabur.”
Aku menatap wajah yang selama ini kukenal.
“Lalu kenapa kamu menjadi dia?”
“Karena Ayah tidak memberiku pilihan.”
Aku tertawa pahit.
“Kamu selalu punya pilihan.”
“Tidak kalau pilihan lainnya adalah mati.”
Ratih tiba-tiba meninggikan suara.
Polisi menyuruh kami tenang.
Ratih menunduk lagi.
“Setelah kecelakaan palsu itu, Ayah mengambil semua dokumenku. Laras dipaksa memberikan identitasnya kepadaku.”
“Dipaksa?”
“Awalnya.”
Aku menangkap satu kata itu.
“Awalnya?”
Ratih diam.
“Berarti kemudian Laras setuju.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ratih menatap pintu.
Seolah takut seseorang sedang mendengarkan.
“Karena kami menemukan sesuatu.”
“Apa?”
Dia belum sempat menjawab ketika petugas yang tadi menelepon menerima pesan.
Dia membaca layar.
Ekspresinya berubah.
“Pak Rendra.”
Aku menoleh.
“Kami perlu ke hotel.”
“Kenapa?”
“Ada rekaman CCTV yang baru ditemukan.”
Ratih langsung berdiri.
“Rekaman apa?”
Petugas menatapnya.
“Bu Ratih ikut.”
Pukul empat lewat dua puluh kami tiba di Hotel Arunika.
Aku masih memakai kaus dari rumah.
Ratih duduk di mobil polisi lain.
Tangannya belum diborgol, tapi seorang petugas terus mengawasinya.
Di lantai tujuh belas, lorong kamar 1706 sudah dipasangi garis polisi.
Seorang penyidik menunjukkan rekaman CCTV.
Pukul 00.56.
Seorang perempuan keluar dari lift.
Jaket krem.
Tas hitam.
Ratih.
Pukul 01.04.
Perempuan kedua keluar dari lift berbeda.
Aku berhenti bernapas.
Wajahnya sama persis.
Rambut sedikit lebih panjang.
Tapi itu wajah istriku.
Atau wajah perempuan yang selama ini kukira istriku.
“Laras,” bisik Ratih.
Di rekaman, Laras masuk kamar 1706.
Ratih masuk tiga menit kemudian.
Tidak ada orang lain masuk sampai pukul 02.11.
Kemudian Ratih keluar.
Sendirian.
Dia terlihat menangis.
Pukul 02.24, Laras terlihat keluar kamar dengan langkah sempoyongan.
Dia menuju area servis.
Sepuluh menit kemudian ditemukan tidak bernyawa di ruang laundry.
Aku menatap Ratih.
“Kamu orang terakhir bersamanya.”
“Iya.”
“Apa yang kalian lakukan di kamar itu?”
“Bicara.”
“Dua jam?”
Ratih mengangguk.
“Kenapa dia mati?”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bohong lagi.”
“Aku tidak membunuhnya!”
Suara Ratih pecah.
Penyidik membuka pintu kamar 1706.
Di meja masih ada dua gelas.
Satu botol air.
Satu amplop cokelat.
Aku mengenali tulisan di amplop itu.
UNTUK RENDRA.
Aku hendak mengambilnya.
Petugas melarang.
Setelah difoto dan dicatat, amplop dibuka.
Di dalamnya ada flashdisk.
Dan secarik kertas.
Tulisan tangan.
Kalau sesuatu terjadi padaku malam ini, jangan langsung salahkan Ratih.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Ratih menutup wajah.
“Aku bilang dia jangan datang.”
Aku menoleh.
“Kalian merencanakan pertemuan ini?”
“Iya.”
“Kenapa diam-diam?”
“Karena Laras takut.”
“Takut siapa?”
Ratih menatapku.
“Orang yang selama sembilan tahun memastikan semua orang percaya aku sudah mati.”
“Ayah kalian sudah meninggal.”
“Bukan Ayah.”
Aku terdiam.
“Lalu siapa?”
Ratih menunjuk flashdisk.
“Lihat.”
Laptop penyidik dibawa.
Flashdisk diperiksa lebih dulu.
Ada beberapa folder.
Rekening.
Kontrak perusahaan.
Salinan transfer.
Foto gudang.
Dan video.
Video pertama direkam tiga minggu lalu.
Perempuan yang muncul di layar adalah Laras.
Aku langsung mengenal suaranya.
Suara itu nyaris sama dengan Ratih, tapi lebih berat.
“Namaku Laras Prameswari.”
Dia menarik napas.
“Kalau kalian menonton ini, berarti aku gagal menyelesaikannya sendiri.”
Ratih mulai menangis.
Laras melanjutkan.
“Sembilan tahun lalu, ayah kami memalsukan kematian Ratih karena Ratih menemukan pencucian uang di perusahaan keluarga.”
Aku melihat penyidik saling pandang.
“Tapi Ayah bukan otak utamanya.”
Laras menyebut sebuah nama.
Bima Prasetyo.
Aku mengenalnya.
Paman mereka.
Adik dari ibu Laras dan Ratih.
Pria yang selama pernikahan kami selalu bersikap ramah.
Bahkan dia yang menjadi saksi keluarga saat aku menikahi perempuan yang kukira Laras.
Video berlanjut.
“Paman Bima yang mengurus semua dokumen setelah kematian palsu Ratih. Dia yang membuat identitas baru. Dia juga mengambil kendali perusahaan ketika Ayah mulai sakit.”
Ratih berbisik,
“Laras baru menemukan bukti lengkap tahun lalu.”
Di layar, Laras mengangkat sebuah buku rekening.
“Selama ini aku tinggal berpindah-pindah dengan identitas orang lain. Bima selalu tahu kalau aku muncul, identitas Ratih akan terbongkar dan seluruh jaringan dokumen palsu ikut terbuka.”
Aku menatap Ratih.
“Kamu tahu Laras masih hidup selama ini?”
“Iya.”
“Enam tahun kita menikah.”
“Iya.”
“Kamu tidak pernah sekali pun berpikir aku berhak tahu?”
Air matanya jatuh.
“Setiap hari.”
“Tapi kamu tetap berbohong.”
“Aku takut kamu pergi.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi kamu memilih membangun pernikahan di atas nama orang lain?”
Dia tidak bisa menjawab.
Video Laras terus berjalan.
“Ada satu orang yang tidak terlibat dan tidak boleh diseret dalam semua ini.”
Kemudian namaku disebut.
“Rendra.”
Dadaku menegang.
“Dia tidak tahu.”
Aku memejamkan mata.
Entah kenapa, justru kalimat itu yang hampir membuatku runtuh.
Setidaknya aku tidak sedang menjadi bagian dari kejahatan yang tidak kuketahui.
Video selesai dengan Laras mengatakan dia akan menemui Ratih di Hotel Arunika.
Tujuannya sederhana.
Menyerahkan bukti.
Lalu keesokan paginya mereka akan datang ke polisi bersama-sama.
“Tapi kalian bertengkar,” kataku.
Ratih mengangguk.
“Laras ingin aku mengaku kepadamu malam itu juga.”
“Dan kamu menolak.”
“Aku minta waktu.”
“Setelah enam tahun?”
Ratih menunduk.
“Aku bodoh.”
Aku tidak membantah.
Penyidik memutar rekaman lain dari kamera koridor.
Ada sesuatu yang tidak kami perhatikan sebelumnya.
Pukul 01.48.
Pintu servis di ujung lorong terbuka sedikit.
Seseorang keluar.
Pria.
Topi.
Masker.
Dia tidak melewati lift utama.
Dia berdiri sekitar dua menit.
Lalu masuk lagi.
“Siapa itu?” tanyaku.
Penyidik memperbesar gambar.
Tidak cukup jelas.
Tapi gelang jamnya terlihat.
Ratih mendadak berdiri.
“Aku kenal jam itu.”
Semua orang menatapnya.
“Paman Bima.”
Pemeriksaan tubuh Laras selesai siang harinya.
Penyebab kematian bukan benturan.
Bukan dicekik.
Bukan juga overdosis obat tidur.
Ada kandungan zat yang memicu gangguan irama jantung di minumannya.
Jumlahnya tidak langsung membunuh.
Itu sebabnya Laras masih bisa berjalan keluar kamar.
Racun bekerja beberapa menit kemudian.
Dua gelas di kamar diperiksa.
Gelas Ratih bersih.
Gelas Laras mengandung zat tersebut.
Ratih menjadi tersangka utama untuk beberapa jam.
Sampai sidik jari ketiga ditemukan di botol air.
Bukan milik Ratih.
Bukan milik Laras.
Dan hasil awal cocok dengan data Bima Prasetyo dari dokumen paspor lama.
Polisi bergerak.
Rumah Bima kosong.
Kantornya juga.
Telepon mati.
Tapi mobilnya tertangkap kamera tol menuju Bandung pukul 03.18.
Satu jam setelah Laras meninggal.
Dia ditangkap sore berikutnya di sebuah vila milik perusahaan lama keluarga.
Dari vilanya ditemukan cap, blanko identitas, dokumen rekening dan salinan data beberapa orang yang sudah meninggal.
Kasus yang terbuka jauh lebih besar dari kematian Laras.
Ratih tidak bebas dari masalah.
Dia tetap menggunakan identitas orang lain bertahun-tahun.
Dia membuat rekening.
Menandatangani kontrak.
Menikah denganku dengan identitas saudari kembarnya.
Aku tidak tahu bagaimana proses hukum akhirnya akan berjalan.
Tapi satu hal sudah pasti.
Pernikahanku tidak pernah sesederhana yang kukira.
Malam setelah Bima ditangkap, aku menemui Ratih di ruang pemeriksaan.
Dia duduk sendirian.
Tanpa riasan.
Tanpa cincin.
Aku berdiri di depannya.
“Kenapa Laras memakai kalung dariku?”
Ratih menatapku.
Pertanyaan itu tampaknya lebih menyakitkan daripada semua tuduhan polisi.
“Aku memberikannya.”
“Kapan?”
“Malam itu.”
“Kenapa?”
Ratih mengusap matanya.
“Dia bilang kalau sesuatu terjadi, dia ingin polisi menghubungimu.”
“Kenapa aku?”
“Karena dia percaya kamu satu-satunya orang yang akan tetap mencari jawaban meski aku berbohong.”
Aku terdiam.
“Dan cincin Ratih yang dipakai Laras?”
Ratih menelan ludah.
“Itu milikku.”
Aku memandangnya.
“Jadi kalian sengaja bertukar benda?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Kalau Bima mengawasi CCTV hotel, kami ingin dia bingung siapa yang keluar dari kamar.”
Rencana mereka hampir berhasil.
Hanya saja Laras tidak pernah keluar hidup-hidup dari hotel.
Aku duduk.
Untuk pertama kali sejak pukul tiga pagi, aku benar-benar merasa lelah.
“Apakah kamu pernah mencintaiku?”
Ratih menangis tanpa suara.
“Iya.”
“Sebagai Ratih?”
“Iya.”
“Lalu kenapa kamu tidak pernah memberiku kesempatan mencintai Ratih?”
Dia tidak bisa menjawab.
Aku berdiri.
“Aku butuh waktu.”
Dia mengangguk.
Aku tidak menjanjikan akan kembali.
Aku juga tidak mengatakan semuanya selesai.
Beberapa pengkhianatan tidak bisa diputuskan dalam satu malam.
Dua minggu kemudian, jenazah Laras dimakamkan dengan nama aslinya.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, dua saudari itu mendapatkan kembali nama masing-masing.
Satu hidup.
Satu meninggal.
Aku berdiri jauh dari Ratih saat pemakaman.
Setelah semua orang pergi, seorang petugas mendatangiku.
“Pak Rendra, ada barang korban yang belum kami serahkan.”
Sebuah amplop kecil.
Bukan yang ditemukan di hotel.
Amplop itu ditemukan tersembunyi di lapisan tas Laras.
Namaku tertulis di depan.
Aku membukanya di dalam mobil.
Ada satu foto lama.
Tanggal di belakangnya enam tahun lalu.
Hari ketika aku pertama kali bertemu “Laras” di sebuah seminar kantor.
Aku melihat foto itu.
Ada aku.
Ada Ratih.
Dan jauh di belakang kami, di dekat pintu ballroom, ada perempuan lain dengan wajah yang sama.
Laras.
Tanganku gemetar.
Di bawah foto ada tulisan.
Rendra, pertemuan kalian bukan kebetulan. Aku yang mengirim Ratih ke seminar itu.
Aku langsung menelepon penyidik.
Tapi sebelum tersambung, aku membalik foto tersebut.
Ada tiga baris lain yang ditulis Laras.
Ratih bukan orang pertama di keluarga kami yang memakai nama saudara kembarnya.
Ayah kami juga bukan Surya Prameswari yang asli.
Surya yang asli meninggal dua puluh tujuh tahun lalu.
