Pukul tiga dini hari ketika polisi menelepon.
“Pak Gabriel Wijaya, istri Anda, Isabel Wijaya, mengalami kecelakaan parah di Jalan Tol Dalam Kota Jakarta. Kami sangat menyesal harus memberitahu bahwa dia meninggal di lokasi kejadian.”
Aku tidak langsung bisa menjawab.
Perlahan aku menoleh ke arah kanan.
Isabel sedang berbaring di sampingku.
Dia tertidur lelap.
Bahkan salah satu kakinya masih berada di atas pinggangku.
Aku menelan ludah.
“Pak Polisi… mungkin ada kesalahan.”
“Kenapa begitu, Pak?”
“Karena istri saya sedang berada tepat di sebelah saya sekarang.”
Tiba-tiba suara di seberang telepon menjadi hening.
Beberapa detik kemudian, nada suara polisi berubah.
“Pak Gabriel, mobil SUV tersebut, SIM, dompet, ponsel, dan barang pribadi korban semuanya terdaftar atas nama Isabel Wijaya.”
Dia berhenti sejenak.
Lalu dengan suara pelan namun serius dia berkata:
“Pak… tolong keluar dulu dari kamar.”
“Dan kalau bisa, jangan bangunkan wanita yang sedang tidur di sebelah Anda.”
Seluruh tubuhku langsung kaku.
Lalu aku mendengar suara dari belakang.
“Gab?”
Aku perlahan menurunkan ponsel.
Isabel sudah bangun.
Dia menatapku.
“Kamu sedang bicara dengan siapa?”
Polisi itu juga mendengar suaranya.
“Pak, jangan berdebat dengannya. Cari kesempatan untuk keluar saja.”
Aku memaksakan senyum.
“Hanya telepon penipuan. Mereka bilang kamu mengalami kecelakaan.”
Isabel mengernyitkan dahi.
“Penipu sekarang semakin keterlaluan.”
Dia kembali berbaring.
Saat aku turun dari tempat tidur, tiba-tiba dia meraih pergelangan tanganku.
“Gab.”
Aku menatap tangannya.
“Ada apa?”
“Kamu mau ke mana?”
“Ke kamar mandi.”
Beberapa detik dia menatapku sebelum akhirnya melepaskanku.
Begitu masuk kamar mandi, aku langsung mengunci pintu dan menelepon nomor darurat 112.
Aku ingin membuktikan bahwa semuanya hanyalah penipuan.
Namun setelah aku disambungkan ke kantor polisi yang menangani kasus tersebut, aku mendapatkan konfirmasi tentang hal yang paling kutakuti.
Pukul 02.48 dini hari.
Sebuah SUV hitam menabrak pembatas jalan dekat pintu keluar Tol Jakarta Selatan.
Pengemudinya, seorang wanita, meninggal dunia.
Pemilik kendaraan yang terdaftar?
Isabel Wijaya.
“Tapi istri saya ada di rumah.”
Petugas itu terdiam.
“Pak, beberapa polisi sedang menuju lokasi Anda. Jangan lakukan apa pun dulu.”
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar mandi.
“Gab?”
Isabel.
“Kamu lama sekali.”
“Perutku sakit.”
Suasana di luar menjadi sunyi.
Lalu dia berkata:
“Aku buatkan air hangat untukmu.”
Beberapa menit kemudian, dua orang polisi tiba.
Isabel sendiri yang membuka pintu.
Dia terlihat tenang.
Terlalu tenang.
“Pak Polisi, saya Isabel Wijaya. Apakah saya orang yang kalian katakan sudah meninggal?”
Dua polisi itu menatapnya seperti melihat hantu.
Mereka meminta kartu identitasnya.
Isabel mengambil dompetnya dari kamar.
SIM itu asli.
Namanya benar.
Fotonya benar.
Namun ketika ditanya di mana kunci SUV kami berada, ekspresinya langsung berubah.
Tidak ada di tempat penyimpanan dekat pintu.
“Mungkin mobil saya dicuri,” katanya.
Kami dibawa ke rumah sakit.
Di sana, penyidik kepolisian, Komisaris Ramon Pratama, mengeluarkan barang-barang yang ditemukan pada tubuh korban.
Dompet biru.
Jam tangan rose gold.
Kunci mobil.
Cincin pernikahan.
Dan ponsel yang sudah pecah.
Semuanya milik Isabel.
Aku mengambil cincin itu.
Di bagian dalamnya terukir:
G & I.
Gabriel dan Isabel.
Aku sendiri yang membuat cincin itu sebelum kami menikah.
“Anda yakin?” tanya Komisaris Pratama.
Aku mengangguk.
Isabel menyela.
“Mungkin semua barang itu dicuri.”
“Benar,” jawab Komisaris Pratama.
“Itulah sebabnya identifikasi ini belum final.”
Wajah korban tidak lagi bisa dikenali karena luka parah akibat kecelakaan.
Namun hasil pemeriksaan awal akhirnya keluar.
Korban berjenis kelamin perempuan.
Untuk Bagian 2, ketik “YA” di kolom komentar agar bisa membaca kelanjutannya!

Tinggi badan, warna rambut, hingga golongan darah korban: O rhesus positif.
Sama persis dengan wanita yang berdiri di sampingku.
Bau formalin menusuk hidung, bercampur dengan hawa dingin yang merayap dari lantai ubin kamar jenazah. Di bawah sorot lampu neon yang berkedip samar, tanganku yang memegang cincin berukir G & I itu terasa basah oleh keringat dingin.
Isabel tidak menunjukkan ekspresi ngeri. Dia hanya menatap kantong jenazah hitam di atas meja bedah stainless steel dengan pandangan hampa, seolah sedang mengamati etalase toko baju bekas.
“Bisa jadi ini kebetulan statistik,” suara Isabel memecah dengung pendingin ruangan. Datar. Tanpa getaran. “Banyak orang berambut cokelat tua dengan golongan darah O di kota berpenduduk sepuluh juta orang ini, kan?”
Komisaris Pratama tidak langsung menyahut. Dia mencatat sesuatu di buku saku kulitnya yang sudah terkelupas sudutnya. Suara goresan pena di atas kertas terasa memekakkan telinga.
“Tentu saja, Bu Isabel,” gumam Pratama, matanya melirik ke arah pergelangan tangan kiri Isabel. “Kecuali kalau si pencuri juga kebetulan punya bekas luka operasi usus buntu di perut kanan bawah, dan patah tulang selangka kiri yang pernah dipasangi pen logam.”
Napas Isabel tertahan sepersekian detik. Sangat tipis, tetapi karena kami sudah menikah selama empat tahun, aku bisa menangkap jeda ganjil itu.
“Korban di dalam kantong ini,” lanjut Pratama sambil menunjuk ke meja, “tulang selangkanya hancur, tapi dokter forensik menemukan bekas luka parut lama sepanjang tujuh sentimeter di perut kanan bawahnya. Anda pernah operasi usus buntu, Bu?”
“Tidak pernah,” jawab Isabel cepat. Terlalu cepat.
Aku menoleh menatap wajahnya. Cahaya putih lampu forensik menonjolkan tulang pipinya yang tegas.
Bohong.
Tahun kedua kami pacaran, aku sendiri yang menginap tiga malam di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, mengganti kompresnya, dan memegang tangannya ketika luka bekas operasi apendisitisnya masih terasa nyeri sehabis bius hilang. Bekas sayatan itu ada. Aku hafal bentuknya yang sedikit miring ke arah panggul.
“Gab?” Isabel menoleh, tatapannya menusuk tepat ke mataku. Ada peringatan terselubung di balik kelopak matanya yang sedikit menyipit. “Aku nggak pernah operasi usus buntu, kan? Kamu tahu riwayat kesehatanku.”
Tenggorokanku tercekat. Lidahku terasa seperti gumpalan spons kering.
Di hadapan dua polisi bersenjata lengkap dan seorang komisaris yang mengawasi gerak-gerik kami seperti elang, aku dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mengerikan: membenarkan wanita yang tidur di ranjangku semalam, atau mengakui bahwa tubuh hancur di dalam kantong jenazah itu adalah istriku yang sebenarnya.
“Gab?” desaknya lagi, suaranya merendah, meniru nada manja yang biasa ia pakai setiap kali meminta dipijat sebelum tidur. “Katakan pada mereka.”
“Iya,” gumamku, berbohong demi menyelamatkan leherku sendiri di ruangan tertutup itu. “Dia… dia nggak pernah operasi besar.”
Komisaris Pratama menatapku lama, pandangannya tidak terbaca, sebelum akhirnya menutup buku catatannya dengan bunyi klepak yang tegas. “Baiklah. Kami butuh sampel DNA untuk memastikan. Karena wajah rusak parah dan sidik jari hancur akibat benturan keras, tes usap pipi Bu Isabel dan data pembanding dari keluarga akan kami kirim ke Labfor Mabes Polri. Hasilnya keluar besok sore.”
“Tentu,” sahut Isabel tenang, menyodorkan mulutnya kepada petugas forensik wanita yang mendekat membawa kapas usap steril. Gerakannya anggun, tidak ada keraguan sedikit pun.
Pukul lima subuh, kami diizinkan pulang.
Karena SUV kami hancur di tol, kami menaiki taksi Bluebird yang dipanggilkan oleh petugas rumah sakit. Jakarta mulai menggeliat; lampu-lampu jalanan mulai padam digantikan kabut tipis sisa polusi dan rintik gerimis yang turun tanpa suara.
Sepanjang perjalanan dari Cipto Mangunkusumo menuju rumah kami di Pejaten, tidak ada yang bicara. Sopir taksi memutar siaran radio lokal dengan volume rendah, menyiarkan laporan lalu lintas tentang evakuasi bangkai mobil SUV hitam di KM 14 Tol Dalam Kota yang sempat membuat kemacetan parah dini hari tadi.
Di kursi belakang, Isabel duduk bersandar. Tangannya merayap perlahan ke atas pahaku, jari-jarinya yang dingin menyelusup di antara jari-jariku.
“Kamu pucat sekali, Sayang,” bisiknya, kepalanya bersandar di bahuku.
Aroma sampo vanila menguar dari rambutnya. Wangi yang sama dengan yang kuhirup selama ribuan malam. Tapi sekarang, aroma manis itu membuat perutku bergejolak mual.
“Aku cuma syok,” kataku, berusaha menahan getaran pada rahangku. “Siapa pun yang mencuri mobilmu… mati dengan cara mengerikan.”
Isabel mendesah pelan, napas hangatnya menyentuh leherku. “Mungkin itu karma karena mengambil barang yang bukan miliknya.”
Taksi berhenti di depan pagar rumah kami. Begitu masuk ke dalam dan mengunci pintu ganda dari kayu jati itu, Isabel langsung melepas mantelnya dan berjalan santai ke dapur. Suara air mengalir dari keran wastafel terdengar jernih.
“Mau kubuatkan teh melati?” teriaknya dari dapur.
Aku berdiri membeku di ruang tengah, menatap lantai parket yang bersih. Mataku terpaku pada cermin oval di dinding lorong.
Ada yang salah.
Sangat salah.
Aku merogoh sakuku, mengeluarkan ponselku yang sempat kumatikan selama di kamar jenazah. Saat dinyalakan kembali, deretan pesan masuk bermunculan tanpa henti dari grup obrolan kantor dan nomor-nomor tak dikenal. Tapi satu notifikasi pesan suara dari nomor telepon rumah ibuku—yang tinggal sendirian di Semarang—menarik perhatianku.
Pesan suara itu dikirim pukul 02.15 dini hari. Sekitar tiga puluh menit sebelum kecelakaan maut itu terjadi.
Aku memasang earphone nirkabel ke telinga kananku, lalu menekan tombol putar sambil pura-pura berjalan ke arah rak buku.
Suara yang keluar bukan suara Ibuku.
Itu suara napas tersengal-sengal, diiringi deru bising angin jalan tol dan suara wiper mobil yang bergerak panik menyapu kaca.
“Gab… dengerin aku…”
Itu suara Isabel. Tapi suaranya parau, tersedu-sedu, basah oleh keputusasaan yang luar biasa.
“Jangan pulang ke rumah, Gab! Tolong jangan masuk ke rumah! Dia nemuin alamat kita… dia berhasil keluar dari klinik di Sukabumi. Dia ngambil kunci serep dari tasku waktu kita makan malam di Senopati tadi malam. Gab, wajah kami sama, semuanya sama, tapi dia bukan aku! Dia—”
Suara decitan ban yang melengking panjang meremukkan rekaman itu. Suara benturan logam menghantam beton pembatas tol meledak di telingaku, diikuti derak kaca pecah, suara mesin yang berputar liar, dan hening panjang yang menakutkan.
Rekaman berakhir.
Darahku terasa membeku seketika. Seluruh bulu kudukku berdiri tegak.
Klinik di Sukabumi.
Sebuah ingatan kelam yang selama ini terkubur rapi di dasar otakku meledak ke permukaan.
Tujuh tahun lalu, saat pertama kali memacari Isabel, ibunya yang sekarat di rumah sakit pernah membisikkan sesuatu kepadaku sebelum menghembuskan napas terakhir. Kalimat yang saat itu kuanggap sebagai igauan delirium pasien kanker stadium akhir:
“Jangan biarkan kembarannya tahu kalau Isabel bahagia. Elena tidak boleh keluar. Elena tidak punya jiwa.”
Setelah pemakaman ibunya, Isabel bersumpah bahwa dia anak tunggal. Akta kelahiran, kartu keluarga, semuanya hanya mencatat satu nama: Isabel Wijaya. Aku tidak pernah menanyakannya lagi. Aku mempercayai wanita yang kucintai tanpa syarat.
Kini, kepingan puzzle berdarah itu tersusun di kepalaku.
Elena. Saudari kembar identik yang keberadaannya dihapus dari dunia waras, disembunyikan di sebuah sanatorium terpencil di pinggiran Sukabumi.
Dan wanita yang sekarang sedang berdiri di dapurku, mendidihkan air dengan santai sambil menyenandungkan lagu jazz klasik… adalah Elena.
Suara langkah kaki mendekat dari arah belakang.
Aku buru-buru mencabut earphone dan menyembunyikan ponsel ke balik saku celana training-ku. Membalikkan badan dengan cepat, punggungku membentur rak buku.
Wanita itu sudah berdiri di sana.
Dia tidak membawa cangkir teh.
Kedua tangannya disembunyikan di balik saku celemek dapurnya. Senyum yang tadi tersungging di bibirnya kini hilang sama sekali, digantikan oleh tatapan dingin, kosong, dan sangat tajam. Tatapan seseorang yang tidak memiliki setitik pun empati manusia di dalam rongga dadanya.
“Pesan suaranya jelas, Gab?” tanyanya lembut.
Jantungku seperti dihantam palu godam.
“K-kamu…”
“Isabel selalu payah dalam menyetir saat hujan deras,” potong wanita itu sambil melangkah maju satu demi satu. “Dia panik waktu sadar aku membuntutinya dari basement parkiran kantor. Dia lari ke jalan tol, mengira dia bisa sampai ke kantor polisi lebih dulu sebelum aku mengambil alih hidupnya.”
Dia mengeluarkan tangan kanannya dari saku celemek.
Bukan pisau.
Melainkan sebilah gunting pemotong daging bergagang hitam yang biasa kusimpan di laci bawah dapur.
“Tujuh tahun, Gabriel,” desisnya, suaranya kini berubah nada, menjadi lebih serak dan dingin daripada suara Isabel yang kukenal. “Tujuh tahun aku membusuk di kamar berlapis busa di kaki gunung, sementara dia memakai gaun sutra, berlibur ke Paris, dan tidur di samping pria tampan sepertimu. Ibu kami yang keparat itu membuangku hanya karena aku lahir sepuluh menit lebih lambat dan dokter mendiagnosisku dengan gangguan kepribadian disosiatif.”
“Elena…” bisikku, melangkah mundur perlahan hingga punggungku menabrak dinding koridor. “Tolong letakkan gunting itu.”
“Namaku bukan Elena lagi,” senyumnya melebar, sebuah seringai mengerikan yang menarik ujung-ujung bibirnya terlalu tinggi. “Mulai hari ini, namaku Isabel Wijaya. Dan kamu tahu bagian terbaiknya? Polisi sudah mengambil sampel DNA-ku tadi pagi.”
Dia tertawa kecil, tawa kering yang membuat dinding-dinding rumah terasa bergetar.
“Kami kembar identik, Gabriel. DNA kami sama persis sampai ke untaian terkecil. Di atas kertas forensik kepolisian, wanita yang hancur di meja bedah itu adalah Isabel Wijaya. Dan wanita yang berdiri di hadapanmu saat ini… juga Isabel Wijaya.”
Dia berhenti dua langkah di depanku, mengangkat gunting setinggi dadanya.
“Tapi ada satu masalah kecil.” Matanya berkilat buas di bawah temaram lampu lorong. “Tadi di kamar jenazah… kamu tahu soal luka operasi usus buntu itu. Kamu tahu aku bukan dia. Dan aku tidak bisa membiarkan suamiku sendiri hidup dengan keraguan yang bisa merusak rumah tangga bahagia kita, kan?”
Di luar, suara guntur menggelegar membelah langit fajar Jakarta, bersamaan dengan suara ketukan pintu depan yang digedor dengan keras tiga kali berturut-turut.
DOK! DOK! DOK!
“Buka pintunya! Polisi!” suara Komisaris Pratama berteriak dari luar. “Gabriel Wijaya, buka pintunya sekarang!”
Elena tidak menoleh ke arah pintu. Matanya terkunci padaku, pupilnya melebar sepenuhnya, dan dalam sepersekian detik, dia melompat maju menghunuskan gunting itu lurus ke arah tenggorokanku.
