PUKUL 02.17 DINI HARI, PUTRAKU MENELEPON DAN BERBISIK: “MAMA, SEMBUNYI SEBELUM PAPA PULANG.”

“Kenapa, sayang?”

Aku tersenyum.

Entah bagaimana caranya.

Bibirku bahkan tidak terasa seperti milikku sendiri.

 

 

 

 

“Tidak apa-apa. Aku cuma ingat Raka belum menelepon pagi ini.”

Ardi mengangkat cangkir kopinya.

“Oh, anak itu mungkin masih tidur.”

“Iya.”

Aku menunduk dan pura-pura mengaduk kopi.

Padahal gulanya sudah larut sejak tadi.

Satu putaran.

Dua.

Tiga.

Sendok kecil itu beradu dengan dinding cangkir dan menghasilkan bunyi nyaring yang membuatku semakin gugup.

Ardi memperhatikanku.

“Lena.”

Tanganku berhenti.

“Hm?”

“Kamu kelihatan pucat.”

Aku tertawa kecil.

“Kurang tidur.”

Dia mengulurkan tangan melintasi meja dan menyentuh punggung tanganku.

Dulu sentuhan itu selalu membuatku merasa aman.

Pagi itu aku hanya ingin menarik tanganku secepat mungkin.

Namun aku membiarkannya.

“Kalau sakit, bilang padaku.”

Kalimat itu terdengar begitu normal sampai hampir membuatku mual.

Aku mengangguk.

Ardi menyelesaikan kopinya, merapikan manset kemeja, lalu berdiri.

Sebelum pergi, dia mencium keningku sekali lagi.

“Jangan pergi jauh hari ini.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia tersenyum.

“Hanya ingin makan malam bersamamu.”

Pintu tertutup.

Aku menunggu.

Lima detik.

Sepuluh.

Tiga puluh.

Kemudian terdengar suara mobil meninggalkan halaman.

Aku masih tidak bergerak.

Baru setelah satu menit penuh, kakiku kehilangan tenaga.

Aku terduduk di lantai dapur.

Ponsel langsung kuambil.

Aku menelepon Raka.

Dia menjawab pada dering pertama.

“Ma?”

“Apa lagi yang kamu temukan?”

Sunyi.

“Raka?”

“Papa punya folder bernama SENIN.”

Darahku seperti turun ke kaki.

“Apa isinya?”

“Aku belum buka semuanya.”

“Jangan.”

“Tapi, Ma—”

“Dengarkan Mama. Jangan buka apa pun lagi dari jaringan sekolah. Jangan kirim apa pun lagi lewat akun keluarga. Jangan hubungi Papa.”

Raka terdiam.

Lalu suaranya mengecil.

“Mama takut?”

Aku ingin menjawab tidak.

Itulah kebiasaan orang tua, bukan?

Kita selalu ingin terdengar kuat di depan anak.

Tapi untuk pertama kalinya aku tidak mau berbohong.

“Iya.”

Di ujung sana terdengar tarikan napas panjang.

“Aku juga.”

Aku memejamkan mata.

“Justru karena itu kita harus tenang.”

Kemudian Raka mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Aku sudah membuat salinannya.”

Aku membuka mata.

“Apa?”

“Semua file. Aku simpan di flashdisk.”

“Raka!”

“Aku tahu Mama bakal marah.”

“Di mana flashdisk itu?”

“Bukan di asrama.”

Aku terdiam.

“Lalu?”

“Aku titipkan ke seseorang.”

“Siapa?”

Raka tidak langsung menjawab.

Dan entah mengapa, jeda tiga detik itu terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya.

“Om Dimas.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Dimas Mahendra adalah adik sepupuku.

Seorang notaris di Jakarta.

Kami tidak terlalu sering bertemu sejak ayah meninggal, tetapi aku mempercayainya.

Lebih penting lagi…

Ardi tidak menyukainya.

“Bagaimana kamu menghubungi Om Dimas?”

“Aku telepon semalam sebelum menelepon Mama.”

“Dia tahu semuanya?”

“Belum. Aku cuma bilang jangan buka flashdisk itu sebelum Mama menghubunginya.”

Aku tidak tahu apakah harus memarahi atau memeluk anakku.

Mungkin keduanya.

“Raka, mulai sekarang jangan lakukan apa pun sendirian.”

“Iya.”

“Dan jangan pulang ke Jakarta.”

“Tapi Mama sendirian.”

“Aku tidak akan sendirian.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Padahal saat mengatakannya, aku bahkan belum tahu kepada siapa aku harus meminta pertolongan.

Setelah telepon berakhir, aku naik ke lantai dua.

Kamar kami masih rapi.

Terlalu rapi.

Aku berdiri di tempat Ardi berada beberapa jam sebelumnya.

Kemudian melihat kasur.

Ada lekukan kecil pada selimut.

Bekas tekanan tangannya.

Aku tidak menyentuhnya.

Aku mengambil beberapa foto dari jarak aman.

Lalu aku memotret gagang pintu, area sekitar ranjang, dan bagian rumah yang mungkin relevan.

Setelah itu aku memasukkan beberapa pakaian, dokumen identitas, obat pribadi, dan sedikit uang tunai ke sebuah tas.

Aku tidak membawa koper.

Koper membuat orang terlihat seperti hendak pergi.

Aku belum boleh terlihat seperti hendak pergi.

Pukul 09.26 aku keluar rumah.

Tujuanku bukan kantor polisi.

Belum.

Aku pergi menemui Dimas terlebih dahulu.

Kantornya berada di sebuah gedung kecil di Kebayoran Baru.

Begitu melihat wajahku, dia tidak bertanya macam-macam.

“Elena?”

“Aku perlu bicara di ruangan yang tidak ada orang lain.”

Wajahnya berubah.

Dia mengunci pintu ruang kerja.

Lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari laci.

“Ini?”

Aku mengenali tulisan Raka.

UNTUK MAMA.

Tanganku gemetar ketika menerima flashdisk itu.

Dimas duduk di depanku.

“Apa yang terjadi?”

Aku menceritakan semuanya.

Tidak dengan rapi.

Aku salah urutan beberapa kali.

Kadang berhenti.

Kadang kembali ke bagian sebelumnya.

Tentang telepon Raka.

Tentang listrik.

Tentang ruangan rahasia.

Tentang jarum suntik.

Tentang tiga polis.

Tentang surat wasiat.

Tentang tanggal Senin.

Dimas tidak menyela sampai aku selesai.

Kemudian dia mengambil napas panjang.

“Surat wasiat itu palsu.”

“Aku tahu.”

“Bukan cuma karena tanda tanganmu.”

Dia memutar laptop ke arahku.

“Format akta ini meniru dokumen resmi, tapi ada beberapa bagian yang tidak sesuai. Kalau seseorang berniat menggunakan ini untuk proses hukum, dokumen tersebut bisa diperiksa keasliannya.”

Aku menatap layar.

“Jadi aku aman?”

Dimas tidak langsung menjawab.

“Elena, dokumennya mungkin bisa dibantah.”

Dia berhenti.

“Tapi itu bukan bagian yang paling mengkhawatirkan.”

Aku tahu.

Jarum suntik itu.

Dimas mengambil ponselnya.

“Aku punya kenalan pengacara yang menangani perkara keluarga dan perlindungan korban. Kita konsultasi sekarang. Setelah itu, kita bawa informasi ini ke pihak berwenang dengan cara yang benar.”

Aku mengangguk.

Saat itulah ponselku berbunyi.

Ardi.

Aku dan Dimas saling memandang.

Telepon pertama kubiarkan.

Berhenti.

Kemudian masuk pesan.

Sayang, kamu di mana?

Aku belum menjawab ketika pesan kedua muncul.

Aku pulang sebentar. Kamu tidak ada.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Dimas menggeleng pelan.

“Jangan kembali sendirian.”

Pesan ketiga muncul.

Lena?

Kemudian…

Aku cuma khawatir.

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Kadang tubuh manusia memang aneh ketika terlalu takut.

Menangis tidak bisa.

Berteriak tidak bisa.

Yang keluar malah tawa kecil.

Aku membalas singkat.

Sedang dengan Rina. Nanti aku pulang.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Baik. Jangan terlalu malam.

Tidak ada pertanyaan lain.

Justru itu yang membuatku semakin gelisah.

Siang itu bergerak lambat.

Aku berkonsultasi dengan pengacara yang direkomendasikan Dimas dan menyerahkan salinan materi yang kami miliki kepada pihak yang tepat. Aku juga menjelaskan apa yang kulihat di kamar pada dini hari.

Tidak ada aksi dramatis seperti dalam film.

Tidak ada sepuluh mobil polisi langsung mengepung rumah.

Tidak ada seseorang membanting meja sambil berkata bahwa kasus sudah selesai.

Dunia nyata rupanya jauh lebih membosankan.

Dan justru karena itu terasa lebih menakutkan.

Kami diminta tidak melakukan konfrontasi.

Tidak menuduh Ardi secara langsung.

Tidak mencoba mengambil barang yang berpotensi menjadi bukti dengan cara yang membahayakan diri sendiri.

Aku menurut.

Malam itu aku tidak pulang.

Aku tinggal di rumah Rina.

Kepadanya aku hanya mengatakan bahwa aku sedang punya masalah keluarga dan membutuhkan tempat menginap.

Rina menatapku lama.

Kemudian dia mengambil bantal tambahan.

“Kamarnya di atas.”

Tidak bertanya.

Tidak memaksa.

Aku hampir menangis karena hal sesederhana itu.

Pukul 23.40, Ardi menelepon.

Aku mengangkatnya.

“Kamu menginap di sana?”

“Iya. Rina sedang kurang sehat.”

Bohong lagi.

“Oh.”

Jeda.

“Kapan pulang?”

“Besok.”

“Lena.”

“Hm?”

“Aku kangen.”

Tanganku mencengkeram selimut.

“Aku juga.”

Aku membenci diriku sendiri ketika mengatakannya.

Tapi malam itu aku belajar sesuatu.

Bertahan hidup terkadang terdengar seperti kebohongan kecil.

Rabu.

Kamis.

Jumat.

Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan sambil membawa gelas penuh sampai ke bibir.

Sedikit saja salah langkah, semuanya tumpah.

Aku tetap bertemu Ardi.

Tetap membalas pesannya.

Bahkan sempat makan siang dengannya di sebuah restoran di Senayan.

Dia tertawa.

Menceritakan proyek baru.

Menanyakan sekolah Raka.

Sesekali tangannya menyentuh tanganku.

Aku memperhatikan wajahnya dan bertanya dalam hati:

Sejak kapan?

Sejak kapan lelaki ini berubah?

Atau jangan-jangan…

Aku saja yang baru melihatnya sekarang?

Jumat sore, satu informasi baru muncul.

Salah satu polis asuransi ternyata dibuat beberapa bulan sebelumnya.

Ada dokumen persetujuan yang seolah-olah berasal dariku.

Tanda tangannya mirip.

Sangat mirip.

Tapi bukan milikku.

Yang lebih aneh, terdapat nomor telepon lama yang sudah tidak kugunakan hampir tiga tahun.

Aku tidak pernah memberikan nomor itu untuk pengajuan apa pun.

Dimas menatap dokumen tersebut.

“Seseorang menggunakan data lama.”

“Ardi punya semua data itu.”

“Benar.”

“Tapi itu belum membuktikan dia sendiri yang membuatnya.”

Dimas mengangguk.

Aku kesal mendengar kalimat itu.

Namun dia benar.

Aku tidak membutuhkan dugaan.

Aku membutuhkan fakta.

Sabtu pagi Raka menelepon.

“Ma, boleh aku pulang?”

“Belum.”

“Besok Minggu.”

“Justru itu.”

“Kenapa?”

Aku melihat kalender.

Senin semakin dekat.

“Satu hari lagi.”

Raka terdiam.

Kemudian dia berkata pelan, “Ada satu file yang belum kita buka.”

Aku langsung duduk tegak.

“File apa?”

“Folder SENIN.”

Aku menelan ludah.

“Masih ada salinannya?”

“Ada di flashdisk.”

Aku menelepon Dimas.

Kami membuka folder itu bersama-sama.

Isinya bukan ratusan dokumen.

Hanya lima file.

Empat di antaranya berupa catatan jadwal.

Satu adalah rekaman suara.

Aku menatap Dimas.

Dia menekan tombol putar.

Suara Ardi terdengar.

Tidak terlalu jelas.

Sepertinya direkam dari sebuah pertemuan daring.

Ada suara laki-laki lain.

Kami mendengarkan.

Awalnya percakapan membahas uang.

Kemudian utang.

Aku mengerutkan kening.

Utang?

Aku tidak pernah tahu Ardi memiliki masalah keuangan.

Angka yang disebut membuatku tercekat.

Belasan miliar rupiah.

Proyek gagal.

Pinjaman.

Jaminan.

Lalu suara laki-laki lain berkata sesuatu.

“Kalau aset istrimu cair, semua selesai.”

Aku memandang Dimas.

Rekaman berlanjut.

Suara Ardi menjawab.

“Senin.”

Hanya satu kata.

Senin.

Lalu rekaman berhenti.

Ruangan terasa sangat sunyi.

Aku memandangi layar.

Dimas memutar rekaman itu sekali lagi.

Senin.

Kali ini aku tidak merasa takut seperti sebelumnya.

Ada sesuatu yang lain.

Marah.

Bukan marah yang meledak-ledak.

Lebih dingin.

Enam belas tahun.

Aku membangun keluarga bersama lelaki itu.

Aku merawat ibunya ketika sakit.

Aku mendukung usahanya ketika hampir bangkrut pada tahun-tahun pertama pernikahan kami.

Aku bahkan pernah menjual perhiasan peninggalan ibuku untuk membantu modal bisnisnya.

Dan sekarang nilai hidupku di kepalanya mungkin hanya angka.

Rp27 miliar.

Aku berdiri.

“Aku mau Raka dipindahkan dari asrama.”

Dimas mengangguk.

“Ke mana?”

“Rumah tanteku di Yogyakarta untuk sementara.”

“Bagus.”

Aku menelepon pihak sekolah dan mengatur agar Raka dijemput oleh orang yang kupercaya.

Minggu sore, Raka sudah berada jauh dari Jakarta.

Barulah aku bisa bernapas sedikit lebih lega.

Lalu Senin datang.

Aku bangun pukul 05.12 pagi.

Aneh.

Tidak ada petir.

Tidak ada musik menegangkan.

Jakarta bangun seperti biasa.

Suara motor.

Pedagang lewat.

Orang berangkat kerja.

Langit bahkan cerah.

Aku duduk di tepi tempat tidur rumah Rina dan menatap tanggal di ponsel.

Hari itu.

Tanggal yang tercetak pada dokumen palsu tersebut.

Pukul 07.03 Ardi mengirim pesan.

Sarapan bersama?

Aku tidak menjawab selama beberapa menit.

Kemudian kutulis:

Boleh.

Kami bertemu di sebuah kafe.

Bukan rumah.

Aku tidak datang sendiri, meskipun dari meja Ardi tidak terlihat siapa saja yang berada di sekitar.

Dia mengenakan kemeja putih.

Jam tangan yang kubelikan saat ulang tahunnya ke-40 masih melingkar di pergelangan tangannya.

“Lena.”

Dia tersenyum.

“Kamu makin susah ditemui.”

Aku duduk.

“Banyak urusan.”

“Apa?”

Aku menatap matanya.

Ada satu dorongan kuat untuk mengatakan semuanya.

Aku tahu soal asuransi.

Aku tahu soal surat wasiat.

Aku tahu soal Senin.

Tapi aku menahannya.

Ardi memesan kopi.

Aku memesan teh.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas.

“Untukmu.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Apa?”

“Buka.”

Di dalamnya ada gelang.

Cantik.

Sederhana.

Persis seperti jenis perhiasan yang kusukai.

“Kenapa tiba-tiba?”

“Harus ada alasan?”

Aku menatapnya.

Enam belas tahun lalu, aku mungkin akan tertawa.

Pagi itu aku hanya berkata, “Terima kasih.”

Kemudian Ardi mencondongkan tubuh.

“Malam ini pulang, ya?”

Nah.

Itu dia.

Aku tidak langsung menjawab.

Dia tersenyum lagi.

“Kita makan malam di rumah. Berdua saja.”

“Kenapa harus malam ini?”

Untuk pertama kalinya senyumnya berubah sedikit.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

“Karena aku suamimu.”

Aku mengangguk.

Kemudian ponselku bergetar.

Satu pesan masuk.

Aku membacanya.

Sudah cukup.

Aku meletakkan ponsel di meja.

“Ardi.”

“Hm?”

“Aku tidak akan pulang.”

Senyumnya hilang.

“Kenapa?”

Aku menatap lelaki yang telah hidup bersamaku selama hampir separuh masa dewasaku.

“Aku tahu tentang Rp27 miliar.”

Wajahnya tidak langsung berubah.

Justru itu yang paling mengerikan.

Dia diam.

Sangat diam.

Kemudian bersandar.

“Aku tidak mengerti.”

“Tiga polis.”

“Elena—”

“Surat wasiat.”

Tangannya berhenti.

“Tanda tangan palsu.”

Dia melihat sekeliling.

Aku melanjutkan.

“Dan Senin.”

Sekarang wajahnya benar-benar berubah.

“Dari mana kamu mendapatkan semua itu?”

Bukan…

Apa maksudmu?

Bukan…

Itu tidak benar.

Pertanyaan pertamanya justru:

Dari mana kamu mendapatkan semua itu?

Aku merasa sesuatu dalam diriku akhirnya lepas.

Bukan keberanian besar.

Bukan kemenangan.

Hanya kepastian.

“Jadi memang ada.”

Ardi berdiri.

Aku ikut berdiri.

“Elena, dengarkan aku.”

“Tidak.”

“Kamu salah paham.”

“Mungkin.”

Aku mundur satu langkah.

“Karena itu kamu bisa menjelaskannya kepada pihak yang berwenang.”

Dia menoleh.

Barulah dia menyadari bahwa pertemuan itu tidak sesepi yang dia kira.

Aku tidak akan menceritakan semua detail yang terjadi sesudahnya.

Bukan karena tidak penting.

Justru karena beberapa hal sebaiknya diselesaikan melalui proses yang semestinya, bukan dijadikan tontonan.

Yang jelas, aku tidak pulang bersamanya hari itu.

Dan Ardi tidak pernah lagi memiliki kesempatan untuk mendekatiku sendirian.

Penyelidikan berjalan berminggu-minggu.

Lalu berbulan-bulan.

Satu demi satu hal yang tidak kuketahui mulai terungkap.

Masalah keuangan Ardi ternyata jauh lebih buruk daripada yang pernah kubayangkan.

Ada utang.

Ada transaksi yang disembunyikan.

Ada dokumen yang tidak sesuai.

Ada jejak digital.

Ada komunikasi dengan beberapa orang yang kemudian diperiksa.

Mengenai cairan di dalam jarum suntik malam itu, aku memilih tidak menebak-nebak sebelum ada hasil resmi.

Aku sudah terlalu lama hidup bersama asumsi bahwa suamiku adalah orang yang kukenal.

Sekarang aku hanya percaya pada hal yang bisa dibuktikan.

Proses hukumnya panjang.

Melelahkan.

Kadang membuatku ingin berhenti.

Ada malam ketika aku terbangun pukul 02.17 tepat.

Tanpa alarm.

Tanpa suara.

Tubuhku seakan mengingat sendiri.

Pada malam-malam seperti itu, aku biasanya berjalan ke dapur, mengambil air, kemudian duduk dekat jendela sampai napasku kembali teratur.

Tapi perlahan…

Pukul 02.17 kembali menjadi sekadar angka.

Enam bulan kemudian, aku dan Raka berdiri di halaman rumah Pondok Indah.

Rumah itu sudah lama kosong.

Aku sempat berpikir menjualnya.

Setiap sudut mengingatkanku pada malam tersebut.

Raka berdiri di sebelahku.

Dia sekarang lebih tinggi daripada bahuku.

“Kalau Mama mau jual, jual saja.”

Aku menatap rumah peninggalan ayah.

“Menurutmu?”

Raka mengangkat bahu.

“Rumahnya tidak salah.”

Aku menoleh kepadanya.

Anak itu kemudian berjalan masuk begitu saja.

“Lagipula kamar Kakek keren. Sayang kalau dijual.”

Aku tertawa.

Tawa sungguhan.

Sudah lama sekali aku tidak mendengar diriku tertawa seperti itu.

Kami akhirnya tidak menjual rumah.

Kami mengubahnya.

Kamar tidur utama tidak lagi menjadi kamarku.

Aku menjadikannya ruang baca.

Tempat tidur lama disumbangkan.

Dinding dicat ulang.

Tirai diganti.

Lampu diperbanyak.

Aku tidak mau ada sudut gelap yang membuatku teringat pada seseorang berdiri membawa senter.

Ruangan rahasia peninggalan ayah juga kami renovasi.

Bukan lagi tempat bersembunyi.

Raka memasang rak baru di sana.

Kami menyimpan foto keluarga, gambar-gambar lama buatan Kakek, buku arsitektur, dan beberapa barang kecil yang selama bertahun-tahun terlupakan.

Suatu sore aku menemukan secarik kertas di antara denah lama milik ayah.

Tulisan tangannya.

Hanya satu kalimat.

Rumah yang baik bukan rumah yang paling kuat, tetapi rumah yang membuat penghuninya ingin pulang.

Aku duduk lama sambil memegang kertas itu.

Kemudian menangis.

Bukan karena takut.

Bukan juga karena Ardi.

Aku hanya rindu Ayah.

Raka menemukanku beberapa menit kemudian.

Dia tidak bertanya.

Dia duduk di lantai di sampingku.

Kami diam.

Kadang cinta memang seperti itu.

Tidak perlu pidato.

Setahun berlalu.

Aku memulai hidup yang sangat berbeda.

Tidak spektakuler.

Aku tidak tiba-tiba menjadi miliarder yang membangun perusahaan raksasa.

Tidak bertemu pria sempurna yang datang membawa bunga setiap pagi.

Tidak.

Aku belajar mengurus rekeningku sendiri.

Mengganti beberapa kebiasaan lama.

Pergi ke pasar Minggu pagi.

Makan siang bersama Rina.

Sesekali menemani Dimas memilih kopi yang menurutku semuanya terasa sama.

Aku kembali mengerjakan proyek desain interior kecil-kecilan, sesuatu yang dulu kusukai sebelum terlalu sibuk membantu bisnis keluarga.

Raka kembali sekolah.

Nilainya sempat turun.

Kemudian naik lagi.

Dia mulai bermain basket.

Pernah patah hati karena seorang teman sekelas.

Selama tiga hari dia mengaku tidak lapar tetapi menghabiskan dua porsi nasi goreng.

Normal.

Sangat normal.

Dan ternyata kehidupan normal adalah kemewahan yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kuhargai.

Pada ulang tahunku yang ke-45, Raka pulang membawa sebuah kue kecil.

Krimnya miring.

Tulisan di atasnya bahkan hampir tidak terbaca.

“Bikin sendiri?”

“Beli.”

“Kenapa bentuknya begini?”

“Naik motor.”

Aku tertawa.

Kami duduk di dapur.

Dapur yang sama.

Meja yang sama.

Tempat setahun sebelumnya aku membaca surat wasiat palsu yang mencantumkan tanggal kematianku.

Raka menyalakan satu lilin.

“Kenapa cuma satu?”

“Hemat.”

“Peliiiiit.”

Dia tertawa.

Aku hendak meniup lilin ketika Raka tiba-tiba berkata,

“Ma.”

“Apa?”

“Waktu itu aku hampir tidak menelepon.”

Tanganku berhenti.

“Malam pukul 02.17?”

Dia mengangguk.

“Kenapa?”

“Aku pikir mungkin aku cuma terlalu curiga. Aku takut Mama malah marah karena aku membuka file Papa.”

Aku memandang wajah anakku.

“Terus kenapa akhirnya menelepon?”

Raka memainkan ujung kotak kue.

“Karena aku ingat Kakek pernah bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau ada orang yang kamu sayangi dalam bahaya, lebih baik dia marah karena kamu salah daripada kamu diam dan ternyata benar.”

Aku tersenyum.

Itu memang terdengar seperti Ayah.

“Raka.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah menelepon Mama.”

Dia menunduk, sedikit malu.

“Ya… sama-sama.”

“Kalau tidak ada telepon itu—”

“Jangan.”

Aku berhenti.

Raka menatapku.

“Kita nggak perlu mikirin versi hidup yang tidak terjadi.”

Aku terdiam.

Anak 16 tahun itu baru saja mengatakan sesuatu yang selama setahun gagal kupahami.

Benar.

Aku tidak perlu terus bertanya apa yang mungkin terjadi.

Aku ada di sini.

Dia ada di sini.

Itu cukup.

Aku meniup lilin.

Api kecil itu padam.

Asap tipis naik ke udara.

Raka memotong kue terlalu besar dan memberikan potongan pertama kepadaku.

“Buat Mama.”

Aku mencicipinya.

Terlalu manis.

“Enak?”

“Banget.”

“Kok mukanya begitu?”

“Terharu.”

“Bohong.”

Kami tertawa sampai Raka hampir menjatuhkan piring.

Di luar, Jakarta masih berisik.

Motor melintas.

Seseorang membunyikan klakson.

Tetangga memanggil anaknya pulang.

Tidak ada yang istimewa.

Namun ketika melihat sekeliling dapur itu, aku akhirnya memahami sesuatu.

Setahun lalu seseorang sudah menulis tanggal untuk akhir hidupku.

Senin.

Satu tanggal yang seharusnya membuatku menghilang dan meninggalkan semua yang kumiliki.

Ternyata Senin itu memang mengakhiri sesuatu.

Hanya saja bukan hidupku.

Hari itu mengakhiri ketakutanku untuk melihat kenyataan.

Mengakhiri sebuah pernikahan yang ternyata dibangun di atas terlalu banyak rahasia.

Dan tanpa kusadari…

menjadi hari pertama dari kehidupan yang benar-benar menjadi milikku sendiri.

Pukul 02.17 dini hari pernah menjadi jam paling menakutkan dalam hidupku.

Sekarang, kalau kebetulan aku terbangun pada jam tersebut, aku tidak lagi bersembunyi.

Kadang aku mengambil air.

Kadang memeriksa apakah pintu sudah terkunci.

Kadang cuma berdiri sebentar di depan kamar Raka.

Lalu kembali tidur.

Karena rumah ini tidak lagi terasa seperti tempat seseorang menungguku lengah.

Rumah ini kembali menjadi rumah.

Dan surat wasiat palsu yang pernah mencantumkan tanggal kematianku?

Aku menyimpan satu salinannya.

Bukan di ruangan rahasia.

Bukan pula karena ingin terus mengingat Ardi.

Aku memasukkannya ke dalam sebuah kotak bersama dokumen lama.

Di bagian depan kotak itu, Raka menempelkan secarik kertas.

Aku baru melihat tulisannya beberapa hari kemudian.

Hanya tiga kata.

MAMA MASIH DI SINI.

Aku membacanya dua kali.

Lalu menutup kotak tersebut.

Untuk pertama kalinya, kalimat sesederhana itu terasa lebih berharga daripada Rp27 miliar.

Karena memang benar.

Aku masih di sini.

Dan kali ini…

aku tidak sedang bersembunyi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *