PART 2
Yudha dan Nadia memenuhi troli seolah-olah sedang menyiapkan pesta besar.
Daging bagian khas dalam, udang segar, ikan salmon, kopi bubuk premium, keju mahal, dan berbagai jenis makanan ringan.
Rina sendiri hanya mengambil susu kotak, telur, pasta, buah segar, dan 2 pak yogurt untuk anak-anaknya.
Saat antrean di kasir menyisakan 2 orang lagi, Nadia mendadak memegang dadanya.
—Duh, kepalaku pusing sekali. Aku mual.
Yudha langsung merespons dengan cepat.
—Hendra, bantu aku papah Nadia ke mobil. Rina bisa bayar dulu di sini, nanti kita hitung di rumah.
Nadia melirik Rina sebelum berjalan menjauh.
Perempuan itu menyunggingkan senyum tipis.
Beberapa menit kemudian, petugas kasir menyebutkan total belanjaan.
—Totalnya Rp4.387.200, Bu.
Hendra menunjuk ke arah troli.
—Bayar dulu, Sayang.
—Tidak.
Wajah Hendra mendadak pucat.
—Rina, jangan mulai bikin malu di sini.

—Belanjaanku cuma 4 kantong ini. Sisanya punya kakakmu.
Beberapa orang di antrean belakang mulai menoleh.
—Bayar saja dulu, kita bicarakan di rumah.
—Saya tidak akan lagi membiayai orang dewasa yang mendadak sakit setiap kali harus mengeluarkan dompet.
Rina menaruh uang pas untuk barang-barangnya sendiri.
Hendra berbisik dengan suara gemetar:
—Aku tidak punya uang sejumlah Rp4.300.000 di rekening utama.
—Kalau begitu batalkan belanjaan mereka.
Rina mengambil 4 kantong plastiknya dan berjalan tenang menuju pintu keluar.
Sebelum sampai di parkiran, ia mengirimkan satu pesan singkat ke ponsel Hendra.
Hendra membaca pesan itu tepat di depan kasir.
Pria itu akhirnya sadar bahwa masalah hari ini bukan lagi soal belanjaan di supermarket.
Pesan itu berbunyi:
“Besok pagi aku ada janji dengan pengacara perceraian.”
Hendra membaca pesan itu sampai 3 kali.
Kasir masih menunggu jawaban.
Antrean di belakangnya makin mengular dan barang-barang milik Yudha serta Nadia masih menumpuk di atas meja kasir.
Untuk pertama kalinya, Hendra merasakan tekanan yang selama ini selalu ia timpakan ke pundak Rina.
Ia bisa membatalkan transaksi itu.
Ia bisa memanggil kakaknya kembali.
Atau ia bisa membayar agar tidak menanggung malu di depan umum.
Hendra memilih cara lama.
Ia mengeluarkan kartu kredit darurat yang memiliki bunga tinggi.
Rp4.387.200 terpotong dalam sekali gesek.
Ketika Hendra berjalan ke parkiran sambil membawa kantong-kantong berat yang bukan miliknya, ia melihat Yudha sedang bersandar di badan mobil.
Nadia duduk di kursi belakang sambil memainkan ponsel.
Perempuan itu terlihat segar dan tidak tampak sakit sama sekali.
—Rina di mana? —tanya Yudha santai.
Hendra meletakkan kantong-kantong belanjaan ke tanah.
—Bagaimana keadaanmu, Nadia?
—Sudah mendingan. Tadi cuma butuh minum air dingin.
Hendra menatap iparnya dalam diam.
Selama bertahun-tahun, ia memilih untuk tidak bertanya karena takut memicu pertengkaran keluarga.
Namun sore ini, ada sesuatu yang patah di dalam dirinya.
—Harganya Rp4.387.200.
Yudha meringis pelan.
—Wah, lumayan banyak ya.
—Aku minta kamu transfer uangnya sekarang.
—Aduh, Hendra. Kamu kan tahu posisi keuangan kami sekarang. Akhir bulan nanti aku cicil sedikit.
—Tidak. Transfer semuanya hari ini.
Nadia menegakkan duduknya dari dalam mobil.
—Maksudmu apa, Hendra?
—Bayar seluruh belanjaan kalian.
Yudha tertawa kecil, menganggap adiknya bercanda.
—Kamu tahu sendiri kami belum ada uang.
—Kalau tidak ada uang, kenapa kalian mengambil barang sampai Rp4.400.000?
Suasana parkiran mendadak hening.
Nadia keluar dari mobil dengan wajah cemberut.
—Jangan mulai bertingkah seperti Rina ya.
Kalimat itu menghantam Hendra dengan sangat keras.
Nadia tidak berkata “jangan mulai marah”.
Nadia berkata “jangan mulai bertingkah seperti Rina”.
Seolah-olah mempertahankan hak dan membuat batasan adalah sebuah kesalahan yang ditularkan oleh istrinya.
—Keluarkan semua kantong ini dari mobilku.
Raut wajah Yudha berubah serius.
—Kamu bicara apa?
—Bawa barang-barang kalian sendiri.
—Terus kami pulang naik apa?
—Sama seperti cara kalian pulang kalau aku tidak mengajak kalian ke sini.
Nadia mengangkat kedua tangannya.
—Kamu tega meninggalkan kami di sini bersama barang sebanyak ini?
—Anak-anak kalian ada di rumah ibu. Kalian ke sini cuma berdua.
Nadia tidak bisa menjawab.
—Kita ini keluarga, Hendra! —seru Yudha.
Hendra melihat isi kantong-kantong itu.
Daging sapi kualitas tinggi.
Udang besar.
Salmon segar.
Keju seharga Rp300.000 per potong.
Minyak zaitun premium.
Kopi mahal.
Tidak ada satu pun dari barang-barang itu yang menunjukkan keadaan darurat.
Selama ini Hendra mengira ia sedang menjadi adik yang dermawan.
Ia menuruti semua permintaan kakaknya karena tidak mau mendengar ibunya marah.
Namun ada kenyataan lain yang jauh lebih pahit.
Bukan Hendra yang membiayai kebaikan itu.
Rina yang membiayainya.
Saat Hendra dipuji sebagai anggota keluarga yang loyal, Rina harus mengorbankan waktu istirahatnya untuk mengambil pekerjaan sampingan hingga larut malam.
—Justru karena kita keluarga, seharusnya kamu jujur kalau tidak punya uang sebelum memenuhi troli dengan barang-barang mahal.
—Ini pasti gara-gara Rina yang memengaruhi otakmu! —tuding Yudha.
Hendra menggelengkan kepala.
—Bukan. Rina sudah mengatakannya selama bertahun-tahun. Aku saja yang terlalu bodoh dan menolak mendengarnya.
Hendra mengeluarkan seluruh kantong belanjaan milik kakaknya dari bagasi.
Ia menumpuknya di dekat kaki Yudha, lalu masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu.
Nadia mengetuk kaca jendela dengan keras.
—Aku akan melaporkan ini pada ibumu!
Hendra menurunkan kaca jendela beberapa sentimeter.
—Silakan telepon Ibu sekarang.
Mobil itu pun melaju meninggalkan parkiran.
Sementara itu, Rina duduk di sebuah kedai kopi tidak jauh dari rumah mereka.
Ia tidak merasa puas.
Ia juga tidak merasa menang.
Ia hanya merasa sangat lelah.
Pesan singkat tentang pengacara perceraian bukan sekadar ancaman kosong.
Pagi harinya, Rina benar-benar telah berkonsultasi dengan seorang praktisi hukum keluarga.
Ia ingin tahu secara jelas bagaimana pembagian aset, hak asuh anak, dan penyelesaian utang jika pernikahan ini harus berakhir.
Di atas meja, terbentang sebuah buku catatan tebal.
Rina telah mencatat seluruh bukti pengeluaran yang selama ini berusaha ia lupakan.
Rp3.120.000 untuk perbaikan mobil Yudha.
Rp1.900.000 untuk les anak-anak Nadia.
Rp4.800.000 untuk tagihan yang katanya menunggak.
Belasan struk belanja bulanan.
Biaya makan bersama.
Bensin.
Obat-obatan.
Hadiah ulang tahun keluarga besar yang pada akhirnya hanya dibayar oleh Rina sendiri.
Dan di saat yang sama, ia harus memotong anggaran untuk kebutuhan anak-anaknya sendiri.
Rina pulang ke rumah, mencetak seluruh rekaman transaksi bank, lalu memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna abu-abu.
Hendra tiba di rumah hampir 1 jam kemudian.
Pria itu melangkah masuk tanpa suara.
Rina duduk di meja makan dengan map abu-abu terkelupas di depannya.
—Kita perlu bicara —ujar Rina dingin.
Hendra duduk di hadapan istrinya.
—Aku sudah meninggalkan Yudha dan Nadia di parkiran.
—Bersama belanjaan mereka?
—Ya.
—Kamu yang membayar belanjaan itu?
Hendra melempar pandangan ke bawah sebelum menjawab.
—Ya.
Rina memejamkan mata sebentar.
—Tentu saja.
—Tapi aku menggesek kartu kredit pribadiku. Bukan pakai uangmu.
—Itu tidak mengubah kenyataan bahwa kamu menambah utang baru untuk mereka.
Rina membuka map abu-abu tersebut.
—Lihat ini.
Di lembar pertama, tertera sebuah angka total yang digarisbawahi dengan tinta merah.
Hendra mengerutkan dahi saat melihat nominal tersebut.
—Ini angka apa?
—Itu total uang dari penghasilanku yang keluar selama 14 bulan terakhir untuk menutupi kebutuhan rumah tangga yang seharusnya kita tanggung berdua.
Rina membalik halaman berikutnya.
Di sana tertulis rincian transfer, struk belanja, dan bukti pembayaran tagihan.
—Saat kamu sibuk membayar cicilan mobil baru dan membiayai hidup Yudha, aku yang membayar sebagian besar bahan makanan, biaya sekolah Arka, kacamata baru Lucía, sampai asuransi rumah ini.
Hendra membaca lembaran demi lembaran dengan tangan agak gemetar.
—Aku tidak tahu kalau jumlahnya sebanyak ini…
—Kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah mau peduli.
Hendra menyandarkan punggungnya ke kursi.
—Aku pikir gaji kita berdua masih cukup.
—Cukup karena aku bekerja sampai jam 2 pagi setiap hari!
Hendra tertunduk lesu.
—Kamu bisa berakting jadi adik yang baik karena setiap ada lubang keuangan, aku yang menutupnya. Kamu bisa bilang ‘ya’ untuk semua permintaan keluargamu karena kamu tahu ada uangku yang siap menanggungnya.
—Kamu benar, Rina. Aku salah.
—Aku tidak butuh pengakuan salah.
Jawaban Rina membuat Hendra mendongak.
—Aku cuma ingin tahu, apakah aku sedang menikah dengan pria yang mampu melindungi keluarganya sendiri, atau dengan pria yang cuma takut dimarahi kakak dan ibunya?
Hendra menarik napas panjang.
—Aku janji akan mengubah semuanya.
Rina menggeleng pelan.
—Jangan beri aku janji.
Ia mengeluarkan selembar kertas baru.
—Mulai bulan depan, begitu gajimu masuk, kamu wajib mentransfer bagianmu untuk biaya hidup rumah tangga ini ke rekening bersama. Sebelum kamu membayar cicilan mobil, sebelum kamu memberi uang pada kakakmu, dan sebelum kamu membeli barang-barang pribadi.
—Baik.
—Utang kartu kredit belanjaan tadi harus kamu pelunasi sendiri dari uang pribadi.
—Iya.
—Tidak ada lagi anggota keluargamu yang boleh mengambil barang, makanan, atau apa pun dari rumah ini tanpa izin mendalam dariku.
—Setuju.
—Dan saat ibumu menuduhku sebagai perusak keluarga, kamu yang harus menjawab telepon itu.
Belum sempat Hendra membalas, ponsel Rina di atas meja berdering.
Nama “Ibu Mertua” tertera di layar.
Rina tersenyum sinis.
—Nadia bergerak cepat sekali.
Hendra melihat nama ibunya di layar ponsel Rina.
—Nyalakan pengeras suaranya.
Rina menggeser tombol hijau.
—Ya, Ibu?
Suara ibu mertuanya, Ibu Rahma, terdengar tinggi dan penuh amarah dari seberang telepon.
—Rina! Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada Hendra?! Kenapa kamu tega menyuruh dia meninggalkan kakak kandungnya sendiri di tempat umum?!
Rina memandang Hendra.
Skenario lama kembali terulang.
Tanpa bertanya kronologi.
Tanpa mencari tahu kebenaran.
Rina selalu menjadi pihak yang bersalah.
Sebelum Rina menjawab, Hendra mengambil ponsel itu.
—Ibu, ini Hendra. Rina tidak melakukan apa-apa.
Suara di telepon terhenti sejenak.
—Hendra? Kakakmu baru saja menelepon sambil marah-marah! Dia bilang kamu menurunkan mereka di parkiran begitu saja!
—Iya, Hendra yang menurunkan mereka.
—Kamu ini kenapa? Yudha itu lagi kesulitan!
Hendra menatap lembaran-lembaran di dalam map abu-abu.
—Ibu tahu siapa lagi yang selama ini kesulitan? Rina. Tapi tidak ada satu pun dari kalian yang peduli karena Rina selalu diam dan bekerja keras menutupi semuanya.
—Sejak menikah, kamu jadi berubah begini ya!
Kalimat itu sudah puluhan kali didengar Hendra.
Biasanya ia akan langsung mengalah agar situasi dingin kembali.
Namun hari ini, Hendra memberikan jawaban berbeda.
—Hendra tidak berubah, Bu. Hendra cuma baru sadar kalau selama ini Hendra mengorbankan anak dan istri demi menyenangkan kalian.
—Yudha itu punya 2 anak yang harus diberi makan!
—Hendra juga punya 2 anak! Arka dan Lucía juga butuh biaya!
Ibu Rahma bungkam seketika.
Kenyataan sederhana itu mendadak menjadi sangat telanjang.
Selama bertahun-tahun, Hendra bersikap seolah-olah kebutuhan keponakannya sangat mendesak, sementara kebutuhan anak kandungnya sendiri bisa terpenuhi dengan sendirinya.
Padahal keajaiban itu memiliki nama: Rina.
—Kamu tega sekali sama saudara sendiri… —suara ibunya melemah, berganti menjadi nada menyalahkan.
—Ibu, Hendra berterima kasih atas semua yang Ibu lakukan waktu Hendra kecil. Tapi itu bukan alasan bagi Yudha untuk memeras Rina selama sisa hidupnya.
Hendra mematikan sambungan telepon sebelum ibunya sempat membalas.
Ruang tamu kembali sunyi.
Hendra memandang istrinya dengan mata berkaca-kaca.
—Kamu benar-benar sudah menghubungi pengacara perceraian?
—Sudah.
—Kamu mau kita berpisah?
Rina membutuhkan waktu beberapa detik sebelum menjawab.
—Pagi tadi, aku sudah sangat siap untuk berpisah.
Hendra mendadak pucat pasi.
—Aku pikir kamu cuma marah soal belanjaan di supermarket.
—Itu masalah utamanya, Hendra. Kamu selalu menganggap masalah ini sepele.
Rina menunjuk ke arah map abu-abu.
—Ini bukan soal nominal Rp4.300.000. Ini bukan soal jaket atau wadah makanan. Ini soal aku yang harus menyaksikan berkali-kali bahwa kenyamanan keluargamu jauh lebih penting daripada rasa lelahku.
Hendra menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia tidak berusaha membela diri lagi.
—Aku sudah terbiasa membiarkanmu menyelesaikan semua masalah.
Rina tetap diam.
—Dan saat kamu menyelesaikannya —lanjut Hendra lirih— aku bisa tetap menjadi anak penurut yang tidak pernah bikin masalah dan adik yang selalu siap membantu.
Kata-kata itu tidak lagi terdengar seperti alasan.
Itu terdengar seperti rasa malu yang sangat mendalam.
Namun Rina tahu bahwa penyesalan satu malam tidak bisa menghapus beban selama 7 tahun.
—Aku tidak akan membatalkan berkas di pengacara untuk saat ini.
Hendra mengangguk pelan.
—Aku paham.
—Aku akan melihat tindakanmu mulai hari ini, bukan janji-janjimu.
Minggu-minggu berikutnya menjadi pembuktian bagi Hendra.
Pria itu menjual sepeda balap mahal miliknya yang jarang dipakai.
Seluruh uang hasilnya digunakan untuk melunasi tagihan kartu kredit akibat belanjaan Yudha.
Ia memotong 2 langganan hiburan bulanan.
Ia membatalkan niatnya untuk mengganti ponsel ke seri terbaru.
Pada hari gajian tiba, hal pertama yang dilakukan Hendra adalah mentransfer bagian biaya hidup ke rekening Rina sebelum menyentuh sisa gajinya.
Ujian terberat datang 12 hari kemudian.
Yudha menelepon Hendra pada malam hari.
Mesin cuci di rumahnya rusak total.
—Hendra, aku butuh pinjaman Rp3.000.000 untuk beli mesin cuci baru. Bulan depan aku ganti.
Hendra menarik napas panjang.
—Aku tidak ada uang.
Hening sejenak di saluran telepon.
—Maksudmu bagaimana tidak ada? Kamu kan baru gajian.
—Uangku sudah masuk ke anggaran rumah tangga dan kebutuhan anak-anak.
—Kita ini saudara, Hendra.
—Justru karena kita saudara, aku mau katakan ini: kalau kamu tidak punya simpanan Rp3.000.000 untuk beli mesin cuci, seharusnya kemarin kamu tidak mengambil salmon, daging premium, dan keju mahal senilai Rp4.300.000 di supermarket.
Yudha langsung mematikan telepon dengan kesal.
Sejak hari itu, Nadia tidak pernah lagi bertandang ke rumah Rina.
Ibu Rahma tidak menelepon Hendra selama hampir 3 minggu.
Dan sebuah perubahan kecil mulai terasa di rumah mereka.
Suatu hari Minggu, Arka membuka pintu kulkas.
Di dalam, ada separuh kue bolu yang dibuat Rina kemarin sore.
Anak itu menoleh ke arah ibunya.
—Ibu, apakah Paman dan Bibi akan datang hari ini?
—Tidak, Nak.
Arka tersenyum lebar.
—Berarti kue ini bisa disimpan untuk bekal Arka besok ya?
Rina merasakan dadanya sesak.
Ia baru menyadari bahwa selama ini anak-anaknya juga belajar untuk mengalah dan kehilangan hak mereka secara diam-diam.
Hendra yang mendengar percakapan itu dari meja makan hanya bisa tertunduk.
Malamnya, pria itu kembali mempelajari lembaran bukti pengeluaran di map abu-abu dengan penuh penyesalan.
2 bulan berlalu.
Suatu sore, bel rumah berdering.
Yudha berdiri di depan pintu seorang diri.
Ia tidak membawa tas kosong.
Ia tidak menanyakan stok makanan.
Pria itu melangkah masuk, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja.
—Uangnya belum lengkap —kata Yudha dengan suara pelan.
Hendra membuka amplop itu.
Di dalamnya ada uang tunai sebesar Rp2.500.000.
—Sisanya akan aku cicil setiap bulan.
Rina memperhatikan dari sudut ruang tamu.
Yudha menarik napas berat.
—Awalnya kami memang butuh bantuan sewaktu usahaku sepi.
Tidak ada yang memotong ucapannya.
—Tapi lama-lama kami terbiasa. Kami tahu Hendra tidak akan pernah sanggup menolak.
Yudha melirik Rina sebentar.
—Dan kami tidak pernah mau peduli siapa yang sebenarnya menanggung biaya itu.
Tidak ada pelukan emosional sore itu.
Rina tidak langsung melupakan perlakuan mereka selama bertahun-tahun.
Kepercayaan yang rusak tidak bisa sembuh hanya dalam hitungan hari.
Namun Rina menghargai kejujuran yang akhirnya keluar dari mulut iparnya.
Bulan-bulan berikutnya, peta hubungan keluarga mereka mulai bergeser.
Jika Yudha membawa keluarganya berkunjung, mereka membawa makanan sendiri.
Jika Ibu Rahma ingin mengadakan acara makan bersama, setiap anak diminta untuk mengumpulkan iuran yang sama rata.
Tidak ada lagi anggota keluarga yang menganggap rekening Hendra sebagai dana cadangan gratis.
Beberapa kerabat jauh sempat berbisik bahwa Rina telah mengubah suaminya menjadi pria yang pelit.
Ada pula yang menuduh pasangan itu menjadi sombong setelah hidup cukup.
Rina tidak pernah membuang energi untuk menjelaskan apa pun kepada mereka.
Ia belajar satu hal penting: ketika seseorang sudah terbiasa menikmati pengorbananmu, sebuah batasan yang wajar akan selalu terlihat seperti kejahatan bagi mereka.
Pernikahan Rina dan Hendra juga tidak mendadak menjadi sempurna.
Masih ada argumen kecil.
Masih ada kecanggokan.
Ada momen-momen di mana Hendra hampir kembali ke kebiasaan lamanya karena tidak enak hati.
Namun setiap kali godaan itu muncul, Hendra akan selalu teringat pada bayangan Rina di supermarket sore itu.
Bayangan istrinya yang berjalan tenang membawa 4 kantong plastik menuju pintu keluar.
Bayangan angka Rp4.387.200 di layar kasir.
Dan yang paling utama, isi pesan singkat yang hampir menghancurkan rumah tangganya.
Hingga saat ini, Rina masih menyimpan kartu nama pengacara perceraian itu di dalam dompetnya.
Hendra tahu hal itu.
Namun Hendra tidak pernah memintanya untuk membuangnya.
Pria itu paham bahwa bertahan hidup bersama bukan berarti Rina telah melupakan masa lalu.
Itu berarti ia diberi kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi seorang suami dan ayah yang melindungi keluarganya sendiri.
Suatu sore saat acara kumpul keluarga, Yudha berseloroh ketika melihat sisa sate di atas meja.
—Aku mau bungkus sisa sate ini, tapi takut kena tegur aturan baru di rumah ini.
Beberapa kerabat tertawa canggung.
Ibu Rahma bergumam pelan:
—Dulu sesama keluarga tidak perlu minta izin cuma untuk urusan makanan.
Suasana meja makan mendadak hening.
Rina tetap menikmati minumannya tanpa perlu repot memberi tanggapan.
Ia tidak perlu bersuara lagi.
Hendra langsung menjawab dengan tenang namun tegas:
—Justru karena kita keluarga, Bu, kita harus saling menghormati milik orang lain sebelum mengambilnya.
Ibu Rahma tidak melanjutkan ucapannya.
Arka dan Lucía kembali menikmati makan sore mereka dengan tenang.
Rina menatap suaminya selama satu detik, lalu kembali fokus pada anak-anaknya.
Tidak ada pihak yang merasa menang secara berlebihan.
Ini bukan soal memenangkan pertempuran.
Ini hanya soal sebuah garis batas yang akhirnya ditegakkan setelah 7 tahun terinjak-injak.
Sebuah batas yang menyadarkan mereka bahwa kompromi tanpa batas bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan jalan perlahan menuju kehancuran sebuah rumah tangga.
