Petani Dihina Turis Kaya—Mereka Tidak Tahu Bahwa Dialah Pemilik Seluruh Perkebunan Besar Itu

“Hei, Pak Tua! Menjauh dari mobil kami. Nanti mobil kami tergores!”

Pak Lorenzo, 68 tahun, berhenti sejenak sambil membawa sebuah keranjang berisi mangga yang baru saja dipetik.

Dia berada di tengah perkebunan besar di daerah Jawa Barat.

Baju lengan panjangnya sudah pudar.

Celananya penuh lumpur.

Topinya sudah tua.

Dan sandal yang dipakainya hampir usang.

Di depannya, empat orang turis dari Jakarta baru saja turun dari sebuah SUV mewah.

Dua pria.

Dua wanita.

Mereka semua mengenakan pakaian bermerek.

Memakai jam tangan mahal.

Dan hampir setiap lima menit mengambil foto untuk media sosial.

“Maaf, Nak,” kata Lorenzo pelan.

“Saya hanya ingin lewat.”

Namun pria bernama Bryan itu tertawa.

“Bapak bekerja di sini?”

Lorenzo mengangguk.

“Kurang lebih begitu.”

“Lalu kenapa Bapak berada di area tamu?”

Salah satu temannya, Trina, ikut mendekat.

“Sayang, mungkin dia tukang kebun.”

Mereka semua tertawa.

Lorenzo mendengarnya.

Namun dia hanya tersenyum.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Justru ada,” jawab Bryan.

Dia menunjuk tiga koper besar.

“Tolong bawakan koper-koper ini ke vila.”

Lorenzo melihat tiga koper besar tersebut.

“Punggung saya agak sakit, Nak.”

Bryan mengangkat alis.

“Hah? Bukankah itu pekerjaanmu?”

“Bukan begitu, sebenarnya saya—”

“Pak, jangan banyak alasan. Toh nanti Bapak juga dibayar di sini.”

Lorenzo hanya menatap pria itu.

Beberapa saat kemudian, dia meletakkan keranjang mangga miliknya.

“Baik.”

Dan satu per satu dia membawa koper-koper itu.

Keempat turis tersebut tidak tahu bahwa pria tua yang mereka jadikan seperti seorang porter itu—

adalah pemilik seluruh perkebunan seluas 300 hektare tersebut.

Perkebunan Lorenzo adalah salah satu kawasan pertanian terbesar di wilayah itu.

Memiliki kebun mangga.

Perkebunan kopi.

Lahan sayuran.

Kolam ikan.

Dan sebuah eco-resort yang baru dibuka tiga tahun lalu.

Namun pemiliknya berbeda dari orang kaya kebanyakan.

Don Lorenzo Villareal tidak suka diperlakukan seperti seorang raja.

Dia sering bangun pukul lima pagi.

Bergabung dengan para pekerja di kebun.

Menyiram tanaman.

Memangkas dahan.

Bahkan terkadang dia sendiri yang membawa hasil panen.

Ketika ada karyawan baru, sering kali mereka tidak langsung tahu siapa dirinya.

Lorenzo memang sengaja melakukan itu.

Dia selalu berkata:

“Kalau ingin mengetahui sifat asli seseorang, jangan beri tahu mereka berapa banyak uang yang kamu miliki.”

Istrinya, Doña Elena, sudah lama meninggal.

Satu-satunya anak mereka, Miguel, tinggal di Australia bersama keluarganya.

Karena itu, hampir seluruh waktunya dihabiskan di perkebunan.

Dia tidak menganggap tempat itu hanya sebagai bisnis.

Bagi Lorenzo, itu adalah rumahnya.

Dan orang-orang yang bekerja di sana adalah keluarganya.

Jadi ketika Bryan dan teman-temannya datang untuk menikmati pengalaman wisata pertanian mewah selama tiga hari, Lorenzo tidak menyangka akhir pekan itu akan menjadi sesuatu yang istimewa.

Namun bukan dalam arti yang baik.

 

Có thể là hình ảnh về một hoặc nhiều người

 

 

Gagang koper pertama terasa licin oleh semprotan disinfektan beraroma jeruk sintetis. Lorenzo mengangkatnya dengan lutut ditekuk lebih dulu—pelajaran bertahun-tahun mengangkat karung pupuk kandang agar tulang selangkangnya tidak berderit. Roda karet koper mahal itu melindas kerikil basah jalan setapak dengan bunyi berisik, kret-kret-kret, merusak dengung serangga kebun yang biasa memenuhi lorong pohon mangga gedong gincu.

Di belakangnya, empat pasang sepatu sneakers berujung bersih melangkah sambil sibuk mengarahkan moncong kamera ponsel ke ranting-ranting pohon yang menggantung rendah.

“Gila, estetik banget cahayanya dari sini,” suara perempuan bernama Trina itu melengking tipis. “Riko, fotoin gue dari samping dong, pura-pura megang daun mangga. Jangan sampai kelihatan kakek-kakek yang di depan itu ya, ngerusak tone warna.”

Lelaki kurus berkacamata hitam dengan rantai emas imitasi di lehernya mendengus pelan sambil memundurkan langkah demi mengambil sudut gambar. “Santai, udah gue crop out. Bayangin kalau di Jakarta ada spot kayak gini, Bryan. Kita bikin konten reels pas sunset, viewer akun clothing line lu pasti naik drastis.”

Bryan menepuk kap mobil SUV hitamnya yang terparkir melintang di atas rumput gajah liar sebelum menyusul langkah mereka. “Makanya gue sewa vila paling mahal di resort ini. Dua puluh juta semalam. Kata temen gue di kantor kementerian, pemilik tempat ini tuh konglomerat tua yang jarang muncul, namanya Don Lorenzo siapa gitu. Gue mau liat standarnya sebanding nggak sama harganya. Kalau servisnya lambat kayak kakek pembawa koper ini, bakal gue bikin ulasan ancur di Google review.”

Lorenzo tidak menoleh. Dia tetap menarik koper kedua yang bebannya jauh lebih berat—mungkin berisi sepatu bot cadangan atau perlengkapan rias tebal yang sama sekali tidak ada gunanya di tengah tanah gembur pegunungan. Keringat asin mengalir dari pelipisnya, melewati kerutan dalam di sudut pipi, lalu jatuh membasahi kerah kaus oblong bergaris kusam yang kainnya sudah menipis di bagian punggung.

Jalan setapak menuju Vila Cempaka—vila kayu jati utama yang menghadap langsung ke lembah perkebunan kopi arabika—sedikit menanjak. Di sisi kanan, deretan pohon mangga arumanis berjejer rapi dengan dahan-dahan yang sudah dipangkas seimbang.

Tiba-tiba, suara dering keras ponsel memotong sunyinya kebun.

Bryan merogoh saku celana kargo mahalnya, melihat layar, lalu memasang wajah tegang. “Bentar, bokap gue nelpon.”

Dia mengangkat telepon itu sambil berjalan pelan di belakang Lorenzo. “Halo, Pa? Iya, Bryan udah sampai di Jawa Barat… Aman, lagi jalan ke vilanya… Gimana soal perpanjangan izin rantai pasok pupuk sama buah curah itu? Pejabat dinasnya mau tanda tangan?”

Suara berat dari ujung telepon terdengar bocor keluar speaker, cukup keras di tengah udara lembah yang sunyi: ‘Jangan main-main kamu, Bryan! Perusahaan pengolahan sari buah kita di Bekasi itu butuh pasokan minimal empat puluh ton mangga kualitas ekspor per minggu dari perkebunan Villareal. Kalau pihak Villareal memutus kontrak suplai bulan depan gara-gara audit mutu mereka, lini produksi kita bisa mandek. Bank nggak bakal kasih restrukturisasi utang!’

“Iya, Pa, tahu,” Bryan membalas dengan nada jengkel setengah berbisik. “Makanya Bryan sengaja liburan ke sini sekalian mau nyari celah ketemu manajer operasionalnya. Katanya manajernya sering nongkrong di kafe resort. Nanti Bryan lobi dia pakai jam tangan atau uang pelicin, bereslah. Orang daerah mana nolak duit Jakarta.”

‘Jangan ceroboh! Don Lorenzo itu orangnya sangat teliti. Katanya dia nggak pernah mau urusan sama rekanan yang nggak punya etika kerja!’

“Zaman sekarang semua orang punya harga, Pa. Udah dulu ya, sinyal di kebun ini jelek.” Bryan mematikan panggilan dengan satu sentakan jempol, lalu mengumpat pelan. “Sialan, orang tua bawel amat.”

Lorenzo meletakkan koper terakhir di teras depan Vila Cempaka. Teras itu beralas papan ulin tebal yang dipel bersih dengan minyak serai. Dia menyeka dahinya menggunakan handuk kecil kumal yang ditarik dari saku belakang celananya.

“Kopernya sudah di depan pintu, Nak,” kata Lorenzo tenang.

Bryan melirik koper-koper itu, lalu melirik keranjang mangga yang tadi ditinggalkan Lorenzo di dekat belokan jalan setapak bawah. Matanya memicing.

“Hei, Pak Tua. Mangga yang di keranjang lu tadi mana?”

“Saya taruh di bawah, Nak. Takut kotor kena debu roda koper.”

“Ambilin ke sini,” perintah Bryan santai sambil bersandar pada tiang kayu teras. “Cuciin sekalian. Buat camilan pacar gue sama temen-temen gue sambil nunggu welcome drink dari resepsionis.”

Lorenzo menatap Bryan lurus-lurus. Matanya yang jernih di balik kerutan tua tidak memancarkan rasa takut ataupun ketundukan. Hanya ada ketenangan dingin, seperti air di dasar sumur resapan kebun.

“Mangga itu baru dipetik untuk disortir di bangsal pengepakan, Nak. Belum diuji tingkat kematangannya. Kalau mau buah potong, di ruang tengah vila sudah disediakan keranjang buah selamat datang dari dapur.”

“Lu nolak?” Bryan melangkah maju satu langkah, menatap rendah pada sandal jepit usang Lorenzo yang berlumur tanah liat merah. “Lu tahu gue bayar berapa buat nginep di sini? Gue minta mangga sekeranjang aja lu banyak omong. Nih, ambil.”

Bryan merogoh dompet kulitnya, menarik selembar uang lima puluh ribu rupiah yang baru dan kaku, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai teras kayu di depan ujung kaki Lorenzo.

Uang itu mendarat di atas papan ulin, tertiup angin sepoi-sepoi lembah hingga ujungnya terlipat.

“Ambil duitnya, cuciin mangganya, bawa ke sini dalam sepuluh menit,” kata Bryan sambil membalikkan badan, membuka pintu vila dengan kunci kartu digital yang dipegangnya. “Jangan kelamaan. Baju lu bau tanah basah, bikin pusing kepala pacar gue.”

Trina dan temannya tertawa kecil sambil melangkah masuk melewati pintu kayu berukir, melepaskan sepatu mereka begitu saja di teras tanpa dirapikan, lalu membanting pintu kasa di belakang mereka.

Lorenzo berdiri mematung selama beberapa detik di teras yang sepi itu.

Dia tidak membungkuk untuk mengambil uang lima puluh ribu itu. Dia membiarkan lembaran kertas bergambar pahlawan itu tergeletak di samping dedaunan mangga kering yang terbawa angin.

Perlahan, pria tua itu berbalik, melangkah menuruni undakan teras batu kali, lalu berjalan santai menuju jalan setapak bawah untuk mengambil keranjang mangganya kembali. Langkahnya tidak terburu-buru. Sendi lututnya memang sedikit kaku, tapi punggungnya tetap tegak menembus bayang-bayang dedaunan lebat perkebunan miliknya sendiri.

Pukul lima sore, kabut tipis mulai turun merayap dari lereng perbukitan, menyelimuti deretan pohon kopi dan atap-atap kayu eco-resort. Udara menjadi dingin, menusuk pori-pori kulit dengan aroma tanah basah dan daun basah yang terbakar matahari siang.

Di kantor administrasi pusat perkebunan—sebuah bangunan bata ekspos yang tersembunyi di balik rimbunnya rumpun bambu kuning—suasananya mendadak tegang.

Bambang, manajer umum perkebunan yang sudah mengabdi selama lima belas tahun, sedang terburu-buru merapikan dasinya di depan cermin toilet staf. Napasnya tersengal. Kemeja putihnya yang disetrika licin sedikit kusut di bagian ketiak karena dia baru saja berlari dari bangsal pendingin setelah menerima pesan singkat dari saluran radio internal.

Pintu kantor terbuka pelan.

Lorenzo masuk. Dia sudah mengganti kaus kusamnya dengan kemeja flanel kotak-kotak biru tua yang bersih namun lengannya digulung sampai siku. Sandal jepitnya berganti sepatu bot kulit cokelat tua yang sudah sering disemir ulang. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan bekas luka goresan sabit kecil di dekat pelipisnya.

“Pak Don…” Bambang membungkuk hormat, suaranya sedikit gemetar. “Maafkan saya, Pak. Saya tadi di gudang timur memeriksa kalibrasi mesin pemilah kopi. Saya dengar dari petugas pos jaga depan, Bapak sempat mengangkat koper tamu dari Jakarta?”

Lorenzo menarik kursi rotan berlengan di belakang meja kerja kayu jati yang permukaannya dipenuhi berkas laporan panen dan peta kontur lahan. Dia duduk perlahan, menyandarkan punggungnya yang pegal.

“Duduk, Bambang. Jangan panik begitu. Nafasmu seperti habis dikejar anjing penjaga.”

Bambang menarik kursi kayu di seberang meja, duduk di ujungnya dengan posisi tegak kaku. “Petugas lobi bilang tamu di Vila Cempaka komplain lewat telepon internal sepuluh menit lalu, Pak. Katanya kakek tukang kebun yang tadi bawa koper mereka mencuri mangga dan tidak membawakan buah potong yang mereka minta. Mereka minta manajer datang langsung ke vila buat minta maaf dan mengancam membatalkan sisa pembayaran kalau tidak ada kompensasi makan malam gratis.”

Lorenzo mengambil cangkir porselen putih berisi kopi hitam pahit yang sudah disiapkan sekretaris di atas mejanya. Dia menyeruputnya pelan, menikmati rasa asam buah segar dari biji kopi yang dipetik dari lereng utara kebunnya sendiri.

“Siapa nama pemesan vila itu, Bambang?”

Bambang buru-buru membuka tablet digital di tangannya. “Atas nama Bryan Pratama, Pak. Direktur operasional CV Sumber Sari Makmur, pabrik pengolahan buah di kawasan industri Cikarang. Dan… ada catatan lain dari bagian pemasaran B2B kita.”

Lorenzo mengangkat satu alisnya. “Catatan apa?”

“Perusahaan keluarga mereka itu pembeli curah terbesar ketiga untuk mangga kualitas B dari perkebunan kita selama dua tahun terakhir. Kontrak tahunannya habis akhir bulan ini, Pak. Tadi siang ayahnya, Pak Gunawan Pratama, mengirim permohonan pembaruan kontrak pasokan untuk tiga tahun ke depan dengan permintaan kenaikan kuota pasokan jadi lima puluh ton per minggu.”

Sebuah senyuman tipis yang sangat dingin muncul di sudut bibir Lorenzo. Dia meletakkan cangkir kopinya kembali ke tatakan dengan denting keramik yang sangat halus.

“Pak Gunawan punya anak yang sangat percaya diri, ya.”

“Maksud Bapak?”

Lorenzo menatap jendela kantor yang memperlihatkan pemandangan Vila Cempaka di kejauhan. Lampu-lampu gantung hangat di teras vila itu sudah mulai menyala, menerangi siluet empat anak muda yang sedang bersantai di sofa luar sambil menenggak minuman kaleng.

“Siapkan berkas evaluasi kontrak CV Sumber Sari Makmur di meja ini sebelum jam tujuh malam,” kata Lorenzo pelan, namun nadanya memiliki otoritas mutlak yang membuat bulu kuduk Bambang meremang. “Lalu hubungi Pak Gunawan di Jakarta lewat sambungan telepon kantor. Katakan padanya, jika dia ingin kontrak pasokan buah perusahaannya diperpanjang malam ini, dia harus berada di restoran utama resort kita sebelum jam delapan.”

Bambang terbelalak. “Tapi Pak… Jakarta ke sini paling cepat butuh waktu dua setengah sampai tiga jam lewat tol cipali dan jalan perbukitan. Kalau beliau berangkat sekarang—”

“Pak Gunawan punya sopir dan mobil bagus,” potong Lorenzo datar. “Kalau perusahaannya memang butuh mangga dari tanah ini untuk bertahan hidup, dia akan sampai di sini tepat waktu. Dan satu lagi, Bambang.”

“Iya, Pak Don?”

“Telepon pihak keamanan resort. Pastikan rombongan Bryan Pratama di Vila Cempaka mendapatkan reservasi meja terbaik di restoran paviliun kaca malam ini. Tepat di samping meja saya.”

Restoran Paviliun Kaca eco-resort itu berdiri megah di atas tebing kecil yang menjorok ke arah lembah kebun teh dan kopi. Seluruh dindingnya terbuat dari kaca tempered bening setinggi empat meter, memantulkan gemerlap lampu taman dan siluet hitam pepohonan di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang.

Bryan duduk di meja bundar bernomor satu, tepat di tengah ruangan berpendingin udara lembut yang harum aroma kayu manis dan daun pinus. Dia sudah berganti pakaian—kini mengenakan kemeja linen putih lengan panjang dengan kancing atas terbuka, jam tangan Rolex baja berkilau di pergelangan tangannya, dan sepatu loafers tanpa kaus kaki.

Trina duduk di sampingnya, sibuk memeriksa hasil foto di kameranya sambil menyesap cocktail buah tropis.

“Makanannya lama banget sih keluar,” keluh Riko dari seberang meja, mengetukkan garpu peraknya ke piring porselen kosong. “Resort mahal tapi pelayanannya lamban kayak keong. Tadi sore kakek tukang kebun belagu, sekarang kokinya ikutan males.”

“Santai,” Bryan tertawa kecil sambil meluruskan kerah kemejanya. “Tadi gue udah marahin resepsionis lewat telepon. Gue bilang, kalau makan malam ini nggak beres, gue bakal spill kelakuan staf mereka ke akun travel influencer temen gue yang punya follower setengah juta. Liat aja, manajernya pasti dateng sambil nunduk-nunduk minta ampun.”

Tepat saat itu, pintu geser kaca restoran terbuka perlahan.

Manajer Umum Bambang melangkah masuk, mengenakan jas hitam formal yang disetrika kaku. Wajahnya tegang, tangannya memegang map kulit hitam bertuliskan lambang emas perkebunan Villareal.

Melihat Bambang mendekat, senyum kemenangan Bryan langsung mengembang lebar. Dia menegakkan punggungnya, bersiap menyambut permintaan maaf sang manajer.

“Nah, dateng juga lu,” kata Bryan santai saat Bambang berhenti tepat di samping mejanya. “Lu manajer di sini kan? Lu tahu nggak kelakuan tukang kebun lu tadi sore di Vila Cempaka? Gue suruh bawain mangga dan cuci buah, malah ngelawan. Mana koper gue ditaruh sembarangan di teras lagi.”

Bambang menatap Bryan dengan pandangan lurus tanpa kedipan. Tidak ada senyum ramah petugas hotel di wajahnya. Tidak ada bungkukan tubuh meminta maaf.

“Selamat malam, Saudara Bryan Pratama,” suara Bambang terdengar sangat dingin, bergema pelan di antara denting sendok tamu-tamu lain di restoran. “Saya di sini bukan untuk membahas koper Anda.”

Alis Bryan terangkat tinggi. “Maksud lu apa? Lu nggak tahu gue siapa? Bokap gue rekanan bisnis terbesar perkebunan ini! Nama CV Sumber Sari Makmur itu langganan tetap bos lu!”

“Saya tahu persis siapa Anda,” jawab Bambang tenang. Dia melangkah mundur satu langkah, lalu mengarahkan pandangannya ke pintu masuk utama restoran. “Dan orang yang paling berhak menjawab komplain Anda soal koper dan mangga… baru saja tiba.”

Pintu kaca restoran terbuka kembali dengan desau angin malam yang dingin.

Seorang pria melangkah masuk.

Bukan kakek berkemeja kusam dengan sandal jepit berlumpur.

Pria itu mengenakan setelan jas wol kasmir berwarna biru dongker gelap yang dipotong pas badan oleh penjahit kelas atas, dipadukan kemeja putih gading tanpa dasi. Rambut putihnya tersisir rapi dengan potongan pendek klasik yang elegan. Di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan saku kuno rantai perak—bukan jam tangan mewah buatan pabrik modern, melainkan jam warisan keluarga yang nilainya tak bisa ditaksir toko perhiasan mana pun.

Langkah kakinya mantap, kokoh menjejak lantai marmer kelabu, diiringi oleh dua staf senior yang berjalan dengan kepala tertunduk hormat di belakangnya.

Suasana restoran mendadak sunyi. Beberapa tamu ekspatriat di meja sudut langsung bangkit berdiri sedikit untuk menganggukkan kepala memberi salam hormat saat pria itu melintas.

Mata Bryan membelalak liar. Garpu perak di tangan Riko terlepas, membentur piring dengan bunyi klang yang nyaring memecah keheningan.

Trina menutup mulutnya dengan kedua tangan, pupil matanya bergetar hebat.

Wajah pria berjas kasmir biru tua itu… bekas luka goresan sabit kecil di pelipis kirinya… garis rahangnya yang keras…

Itu adalah pria tua yang tadi sore mengangkut koper mereka menaiki bukit.

Pria tua yang dipanggil “tukang kebun”.

Pria tua yang di kakinya Bryan melemparkan uang lima puluh ribu rupiah dengan penuh penghinaan.

Lorenzo berjalan tenang mendekati meja nomor satu. Dia tidak berhenti tepat di depan Bryan, melainkan duduk santai di kursi lengan kulit meja nomor dua yang berada persis di sebelahnya—meja khusus pemilik yang selalu dikosongkan setiap malam.

Pelayan restoran segera menuangkan air mineral dingin ke dalam gelas kristal di depan Lorenzo dengan gerakan sangat hati-hati.

Lorenzo menyandarkan punggungnya, menatap Bryan yang kini berdiri kaku dengan wajah yang kehilangan seluruh warna darahnya, memutih seperti dinding kapur.

“Mangganya manis, Nak?” tanya Lorenzo pelan.

Suaranya tenang, dalam, tanpa nada teriakan, persis seperti nada suaranya saat berbicara di samping mobil SUV tadi siang. Namun di dalam ruangan ber-AC dingin itu, setiap suku kata yang keluar dari bibir pria tua itu terasa seperti bongkahan es yang dijatuhkan tepat ke ubun-ubun Bryan.

Lutut Bryan gemetar hebat. Tangannya yang memegang tepi meja makan bergetar tak terkontrol, membuat gelas cocktail Trina berguncang pelan.

“B-Bapak… B-Bapak yang tadi sore…?” suara Bryan tercekat di pangkal tenggorokan, serak dan patah-patah.

“Nama saya Lorenzo Villareal,” lanjut pria tua itu sambil membuka kancing jasnya yang bawah agar bisa duduk lebih leluasa. “Dan tanah yang kamu pijak dari gerbang utama sampai puncak bukit di belakang vila tempatmu menginap… adalah tanah yang saya cangkul dan saya rawat selama empat puluh tahun terakhir.”

Trina di sampingnya merosot di kursi, matanya menatap lantai marmer dengan ketakutan luar biasa, mengingat bagaimana tadi siang dia menyebut pria terkaya di wilayah itu sebagai ‘kakek pembawa koper yang ngerusak tone warna foto’.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah lobi restoran.

Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja batik sutra yang basah kuyup oleh keringat berlari masuk menembus pintu kaca. Jas luarnya bahkan belum sempat dikancingkan, dasinya miring ke kiri, dan napasnya memburu seperti orang yang baru saja lolos dari serangan jantung.

Gunawan Pratama. Pemilik CV Sumber Sari Makmur. Ayah kandung Bryan.

“Don Lorenzo!” seru Gunawan terengah-engah, mengabaikan tatapan heran seluruh tamu restoran. Dia berlari mendekati meja nomor dua, membungkukkan tubuhnya hampir sembilan puluh derajat di hadapan kursi Lorenzo dengan kedua tangan terkatup rapat di depan dada. “Maafkan saya, Don Lorenzo! Saya baru sampai dari Cikarang… sopir saya memacu mobil secepat mungkin begitu Pak Bambang menelepon saya jam lima tadi sore…”

Gunawan menyeka keringat deras di dahinya dengan saputangan yang sudah basah kuyup, lalu menoleh ke arah meja anaknya.

“Bryan!” bentak Gunawan, suaranya gemetar menahan amarah dan kepanikan yang luar biasa. “Kenapa kamu berdiri mematung di situ seperti orang bodoh?! Beri salam pada Don Lorenzo! Beliau adalah pemilik tunggal perkebunan ini dan mitra paling penting bagi kelangsungan hidup pabrik keluarga kita!”

Bryan tidak bisa bergerak. Seluruh persendian kakinya terasa mati rasa, terkunci rapat oleh rasa malu, terhina, dan kengerian yang teramat pekat.

Lorenzo melirik Gunawan dengan pandangan datar, lalu memberi isyarat kecil dengan telunjuknya kepada Bambang.

Bambang melangkah maju, meletakkan map kulit hitam di atas meja di hadapan Gunawan. Map itu dibuka perlahan. Di dalamnya terdapat draf perjanjian pembaruan pasokan buah mangga dan kopi untuk tiga tahun ke depan senilai puluhan miliar rupiah.

Mata Gunawan seketika berbinar penuh harapan. “Don Lorenzo… berkas kontraknya sudah siap? Terima kasih banyak, Don! Kebaikan Anda tidak akan pernah kami lupakan, pasokan dari perkebunan Anda adalah nyawa bagi lini produksi ekspor kami—”

“Pak Gunawan,” potong Lorenzo tenang.

Gunawan terdiam seketika, menahan napasnya.

“Tadi sore, anak Anda melemparkan uang lima puluh ribu rupiah ke teras kaki saya,” kata Lorenzo, suaranya mengalir jernih tanpa emosi yang meluap-luap. “Dia bilang, orang daerah seperti saya tidak boleh banyak alasan kalau disuruh membawakan koper dan mencuci mangga, karena saya pasti butuh uangnya.”

Mendengar kata-kata itu, wajah Gunawan seketika berubah dari pucat menjadi abu-abu gelap. Dia menoleh perlahan menatap putranya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa ngeri bercampur murka yang siap meledak.

“B-Bryan… apa yang kamu lakukan?!” desis Gunawan dengan suara tercekat.

Lorenzo tidak berhenti di situ. Dia mengambil pena bertutup emas dari saku dalam jasnya, mengetuk-ngetukkannya pelan ke atas map kontrak yang masih terbuka.

“Saya mendirikan perkebunan ini bukan cuma untuk menumpuk uang di rekening bank di Swiss atau Singapura, Pak Gunawan,” lanjut Lorenzo, tatapannya menyapu Bryan, Trina, dan kedua temannya yang kini menundukkan kepala begitu dalam hingga dagu mereka menempel di dada.

“Saya membangun tempat ini dengan tanah, lumpur, kotoran hewan, dan keringat ratusan buruh tani yang Anda dan anak Anda anggap sebagai sampah rendahan. Kalau anak Anda tidak bisa menghargai punggung bungkuk seorang pria tua yang membawakan barang bawaannya… maka perusahaan Anda tidak layak menerima satu butir pun buah manis yang dipetik oleh tangan-tangan kasar para petani di tanah ini.”

Lorenzo menutup map kulit hitam itu dengan gerakan tenang dan terukur.

Plak.

Bunyi penutupan map itu terdengar sangat renyah di tengah keheningan restoran, seolah menjadi palu vonis hakim di ruang sidang pengadilan niaga.

“Mulai tanggal satu bulan depan,” kata Lorenzo kepada Bambang tanpa menoleh lagi, “hentikan seluruh pengiriman bahan baku ke pabrik CV Sumber Sari Makmur. Alihkan seluruh kuota empat puluh ton per minggu ke koperasi pengolahan buah lokal milik serikat petani di Sumedang dan Majalengka.”

“TIDAK! JANGAN, DON LORENZO!”

Gunawan berlutut seketika di atas lantai marmer di samping kursi Lorenzo. Air mata pria paruh baya yang terkenal arogan di kalangan pebisnis industri itu tumpah ruah membasahi celana kainnya sendiri. Dia meraih ujung celana wol Lorenzo dengan tangan gemetar.

“Saya mohon ampun, Don! Perusahaan kami baru saja mengambil kredit investasi mesin baru dari bank mandiri sebesar enam puluh miliar rupiah! Kalau pasokan buah dari Villareal diputus, pabrik kami akan gagal bayar dalam dua bulan! Kami bisa bangkrut, Don! Seluruh aset keluarga kami disita bank!”

Gunawan berbalik menatap Bryan dengan kemarahan liar yang membakar jiwanya. Dia melompat berdiri, mencengkeram kerah kemeja linen putih putranya, lalu mengayunkan telapak tangannya sekuat tenaga.

PLAKK!

Tamparan keras itu menggema di seluruh ruangan restoran kaca. Tubuh Bryan terhuyung menabrak meja makan, menjatuhkan botol wine dan gelas porselen hingga pecah berkeping-keping di lantai marmer. Sudut bibir Bryan robek, mengeluarkan darah segar yang menetes ke kemeja putih mahalnya.

“Anak tidak berguna!” raung Gunawan dengan mata merah menyala, napasnya memburu di depan wajah putranya yang kini menangis kesakitan. “Dua puluh tahun saya banting tulang membesarkan bisnis ini, dan kamu menghancurkannya dalam satu sore cuma gara-gara kesombongan murahanmu itu?! Berlutut kamu di depan Don Lorenzo! Berlutut dan cium kakinya sekarang juga kalau kamu masih mau diakui sebagai anak saya!”

Bryan jatuh berlutut di antara pecahan kaca piring dan tumpahan anggur merah di lantai. Air matanya mengalir deras, mencoreng bedak dan minyak di wajahnya yang kini tampak hancur lebur oleh rasa malu yang teramat sangat di hadapan puluhan pasang mata pengunjung restoran.

“Don… Don Lorenzo… maafkan saya…” ratap Bryan dengan suara parau, menatap ujung sepatu bot kulit Lorenzo yang berlumur sisa tanah kering. “Saya khilaf… saya bodoh… tolong jangan hancurkan keluarga kami… tolong, Pak…”

Trina di sudut meja menangis tersedu-sedu, gemetar memegangi lengan kursi, menyadari bahwa kehidupan mewah, tas bermerek, dan gaya hidup glamor yang selama ini dibiayai oleh kartu kredit Bryan akan lenyap tak bersisa dalam hitungan pekan.

Lorenzo menatap pemandangan itu tanpa rasa bangga, tanpa senyum kemenangan, dan tanpa secuil pun kepuasan balas dendam di matanya. Baginya, melihat kehancuran manusia lain yang tersungkur oleh kesombongannya sendiri bukanlah tontonan yang menyenangkan; itu hanyalah pengingat pahit tentang betapa rapuhnya harga diri yang dibangun di atas tumpukan materi semata.

Lorenzo perlahan berdiri dari kursinya.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang tadi sore ditinggalkan Bryan di teras Vila Cempaka—lembaran uang yang tadi sore diambilkan oleh petugas kebersihan dan diserahkan ke mejanya.

Lorenzo meletakkan uang itu perlahan di atas meja di samping tangan Bryan yang gemetar.

“Uangmu saya kembalikan, Bryan,” kata Lorenzo pelan, suaranya begitu tenang hingga terasa menusuk lebih tajam daripada pecahan kaca di lantai. “Bawalah pulang uang ini. Dan simpanlah baik-baik. Karena mulai besok pagi, kamu akan mulai belajar apa arti sebenarnya dari nilai selembar uang lima puluh ribu rupiah yang dihasilkan dari memeras keringat di bawah terik matahari.”

Lorenzo merapikan jas kasmirnya, lalu menoleh ke arah Bambang.

“Bambang.”

“Iya, Pak Don?”

“Instruksikan staf resepsionis untuk menyiapkan tagihan penuh untuk Vila Cempaka malam ini. Tanpa diskon promosi. Dan minta mereka mengosongkan vila sebelum jam enam pagi besok.”

“Baik, Pak.”

Lorenzo tidak melirik Gunawan yang masih menangis terpuruk di lantai, tidak pula memedulikan Bryan yang terus meratap memohon belas kasihan sambil mencium karpet marmer restoran.

Pria tua berusia enam puluh delapan tahun itu melangkah tenang menuju pintu keluar kaca. Ketika pintu geser otomatis terbuka, angin malam pegunungan yang segar langsung menyambut wajahnya, membawa aroma harum bunga kopi yang sedang mekar dan desau dedaunan mangga yang menari di bawah langit gelap.

Dia menarik napas panjang, mengisi paru-paru tuanya dengan udara bersih lembah yang damai.

Di luar sana, di bawah keremangan lampu-lampu taman yang sederhana, beberapa pekerja kebun malam yang sedang mengangkut keranjang pupuk organik berpapasan dengannya. Mereka tidak membungkuk ketakutan seperti pegawai korporat kota; mereka hanya tersenyum hangat, mengangkat caping bambu mereka sedikit, lalu menyapa dengan ramah:

“Malam, Pak Lorenzo. Udara malam ini bagus, sepertinya besok pagi panen mangga blok selatan bakal melimpah.”

Lorenzo tersenyum lepas—senyum seorang petani sejati yang jiwanya berakar kuat di tanah kelahirannya.

“Malam, Maman. Siapkan terpal tambahan di bangsal timur ya. Besok pagi jam lima kita petik mangga yang paling manis bersama-sama.”

Lorenzo melangkah menuruni undakan batu kali menuju rumah kayu kecilnya di sudut perkebunan—sebuah rumah sederhana tanpa marmer impor, tanpa lampu kristal mewah, namun dipenuhi oleh kehangatan sejati yang tak akan pernah bisa dibeli oleh seluruh uang di dunia.