Kain satin brokat itu menyentuh marmer dingin lebih dulu sebelum lutut Mira menghantam lantai dengan suara berdebam yang tenggelam oleh dengungan mikrofon. Seseorang di barisan depan menjatuhkan gelas sampanye, bunyinya nyaring memotong gaung panggung, lalu hening yang canggung merayap naik sebelum jeritan panik benar-benar pecah.
Bukan saputangan itu yang merenggut kesadarannya—bukan kain sutra berenda lavender pudar yang kini tergeletak kuyu di samping sepatu haknya—melainkan pergelangan tangan Nyonya Isabella saat membungkuk hendak memungutnya. Lengan gaun brokat warna mawar bergeser dua senti ke atas, memperlihatkan bercak hitam kemerahan sebesar uang logam keping lima ratus perak, bergerigi seperti gigitan semut rangrang di atas kulit pucat yang mulai berkerut. Tanda lahir itu. Bentuk sabit tak beraturan yang menempel di urat nadi kiri seseorang yang lima belas tahun lalu menekan wajah Mira kecil ke kubangan air cucian di lantai semen sebuah panti tanpa izin di pinggiran Karawang.

Dunia Mira tidak padam total; rasanya lebih seperti terjebak di balik kaca akuarium tebal yang kotor. Miguel berlutut, aroma parfum kayu cendana dan keringat dinginnya menusuk hidung Mira saat tangan kekar itu menopang tengkuknya, memanggil namanya berulang kali dengan suara yang bergetar pecah, kehilangan wibawa seorang eksekutif muda yang biasanya serba teratur. Di atas kepala mereka, bisik-bisik para tamu melonjak seperti ribuan lalat. Namun yang paling terasa mencekik adalah aroma melati dan bedak Nyonya Isabella yang mendekat, ikut meraba kening Mira dengan jemari yang dinginnya melebihi es serut. Jemari yang sama. Jemari yang dulu pernah mencengkeram rambut kepang Mira hingga kulit kepalanya berdarah karena menjatuhkan sebutir telur ayam mentah.
“Bawa ke ruang rias dulu, Miguel. Tolong, jangan dikerumuni begini, dia kekurangan udara,” suara Nyonya Isabella mengalir pelan, tenang, teramat santun—begitu beradab hingga rasanya membuat perut Mira mual. Suara itu dulu serak oleh teriakan pasar dan bentakan kasar, sekarang terbungkus tata krama kaum borjuis Pondok Indah yang terlatih selama puluhan tahun.
Mira membiarkan tubuhnya digotong, terkulai pura-pura tak sadarkan diri di lengan Miguel. Dia butuh waktu. Dia butuh beberapa menit bernapas tanpa harus menatap mata wanita itu, tanpa harus muntah di atas gaun pengantin seharga puluhan juta rupiah yang dibayari penuh oleh wanita yang sama.
Ruang rias pengantin di lantai tiga itu dingin menggigil oleh embusan AC sentral. Pintu ditutup rapat, menyisakan Miguel yang mondar-mandir sambil melonggarkan dasi kupu-kupunya, ibunya yang duduk tenang di sofa beludru memilin saputangan lavender tadi, dan dua asisten rias yang sigap mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis Mira. Begitu para perias disuruh keluar oleh Miguel untuk mengambil teh manis hangat, Mira membuka kelopak matanya perlahan. Langit-langit ruangan itu dilapisi gypsum putih dengan ukiran malaikat kecil yang tampak mengejek.
“Sayang? Hei… kamu dengar aku? Kita panggil ambulans saja ya? Acara resepsinya bisa kita tunda,” Miguel langsung berlutut di sisi ranjang santai tempat Mira dibaringkan, matanya merah menahan cemas. Pria malang. Pria yang terlampau baik, yang begitu memuja ibunya karena mengira wanita itu adalah sosok suci yang banting tulang dari nol demi menyekolahkannya ke Melbourne.
“Bukan sakit,” Mira berbisik, suaranya parau, kering seperti kertas gosong. Dia menatap lurus ke arah Nyonya Isabella yang duduk bersandar, kakinya menyilang anggun. Tatapan wanita tua itu tidak lagi sehangat saat di pelaminan; ada sedikit ketegangan yang tertahan di sudut bibirnya, kewaspadaan seekor kucing tua yang mencium gelagat tikus liar di sudut dapur.
“Mira cuma kaget, Miguel. Beban mental pengantin baru itu berat,” tukas Isabella lembut, tangannya terlipat di pangkuan, menutupi pergelangan tangan kirinya. “Biarkan dia istirahat sepuluh menit. Kamu keluar dulu, temui Om Darmawan dan tamu-tamu dari kementerian. Bilang Mira cuma dehidrasi. Mama yang jaga di sini.”
“Tapi Ma—”
“Keluar sebentar, Miguel. Lima menit saja. Mama tahu cara menenangkan perempuan,” potong Isabella, nada bicaranya tidak meninggi sama sekali, tapi ada beban perintah yang membuat Miguel terbiasa patuh sejak kanak-kanak. Pria itu menatap Mira ragu, mencium keningnya sekilas dengan bibir dingin, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kayu jati yang tebal itu dengan klik pelan yang mengunci mereka berdua.
Hening ruangan itu langsung berubah pekat, seperti udara sebelum badai petir menyambar gardu listrik.
Mira bangkit perlahan, mengabaikan korsetnya yang menusuk rusuk. Gaun mekar itu terasa konyol sekarang, seperti kostum badut yang mewah. Dia menatap wanita di depannya—rambut yang disanggul modern dengan hiasan mutiara laut, anting berlian solitaire, dan keriput halus yang dirawat dengan suntikan kolagen mahal. Tapi seringai tipis di bibir yang dipoles lipstik nude itu adalah cetakan persis dari perempuan bernama ‘Mak Salmah’ yang tiga puluh tahun silam mengelola Yayasan Kasih Ananda—sebuah rumah petak sempit berpintu seng di mana dua belas anak yatim piatu dipaksa tidur bertumpuk di atas kasur kapuk berbau pesing dan bangun jam empat pagi untuk membungkus keripik singkong.
“Ternyata kamu yang bertahan hidup, bocah bisul,” Isabella akhirnya membuka mulut. Nada bicaranya berganti seratus delapan puluh derajat; lenyap sudah intonasi ningrat Jakarta Selatan, digantikan logat pasar yang kasar dan serak, lidah aslinya yang lama dipendam di balik dinding marmer rumah mewahnya.
Mira mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapak tangan sendiri. Sakit fisik itu membantunya tetap waras. “Nama saya Mira. Bukan bocah bisul lagi.”
“Mau Mira, mau Siti, mau bangkai ayam, aku nggak peduli,” Isabella mendengus, mengeluarkan cermin kecil dari tas tangannya, memeriksa lipstik di sudut bibirnya dengan gerakan santai yang keterlaluan. “Sejak Miguel pertama kali bawa kamu ke rumah, aku sudah curiga sama bekas luka di dekat telingamu itu. Cuma ya… dunia ini kecil, tapi aku nggak nyangka sekecil ini sampai anak jalanan dekil yang dulu hampir mati tetanus di gudang bisa nyangkut di pelukan anak tunggalku.”
“Kamu mencuri uang donasi pembangunan panti itu,” Mira melangkah turun dari ranjang santai, tumit telanjangnya menginjak karpet tanpa suara. “Kamu kunci kami di kamar belakang waktu orang kelurahan datang sidak. Dan malam waktu gudang terbakar… kamu kabur bawa tas jinjing penuh uang tunai. Kamu biarkan Rian terbakar hidup-hidup di dalam.”
Menyebut nama Rian membuat tenggorokan Mira tercekat. Rian, bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang selalu membagikan jatah nasinya untuk Mira, bocah yang menjerit-jerit menggedor pintu kayu yang digembok rantai dari luar saat api menjilat kasur kapuk mereka, sementara perempuan ini sudah berada di dalam mobil sewaan menuju bandara.
Isabella menutup tempat bedaknya dengan bunyi klik yang tajam. Dia mendongak, matanya menatap Mira tanpa setitik pun rasa gentar atau penyesalan. Di mata itu hanya ada kalkulasi dingin seorang penjahat yang telah berhasil mencuci bersih masa lalunya menjadi tumpukan saham dan properti.
“Rian itu asma, napasnya pendek, kalaupun hidup paling jadi tukang parkir atau mati overdosis di kolong jembatan,” ujar Isabella dingin, tanpa getar. “Panti itu kebakaran karena korsleting kompor minyak bocah-bocah tolol itu sendiri. Aku cuma menyelamatkan apa yang jadi hakku. Uang itu? Uang itu modal buat aku ganti identitas, nikah sama almarhum ayah Miguel yang bloon tapi kaya raya, dan menyekolahkan Miguel jadi sarjana luar negeri. Kamu pikir Miguel bisa jadi pria sempurna yang kamu gilakan itu kalau aku tetap jadi Mak Salmah miskin yang cebokin anak-anak buangan kayak kamu?”
“Kamu monster,” desis Mira.
“Dan kamu perempuan beruntung,” balas Isabella cepat, bangkit berdiri dan melangkah mendekati Mira hingga jarak mereka hanya sejangkauan tangan. “Dengarkan aku baik-baik, anak yatim. Kamu mencintai Miguel, kan? Dan anakku bodoh itu cinta mati sama kamu sampai rela menentang keluarga besarnya yang mau dia nikah sama anak komisaris bank. Kalau kamu buka mulut hari ini—kalau kamu teriak di luar sana soal siapa aku di masa lalu—apa yang bakal terjadi? Hah?”
Isabella menyentuh kerah brokat Mira dengan kuku merah marunnya yang terawat rapi. Mira ingin menepisnya, tapi tubuhnya terpaku oleh kebencian yang mendidih.
“Pertama,” lanjut Isabella dengan bisikan beracun, “nggak ada yang bakal percaya sama cerita picisan anak panti asuhan tanpa silsilah keluarga. Yayasan itu sudah musnah tiga puluh tahun lalu, dokumennya hangus, dan secara hukum aku adalah Isabella Wardhana, janda terhormat almarhum Irwan Wardhana. Kedua, Miguel bakal hancur lebur. Karirnya, reputasinya, kesehatan mentalnya. Dia sangat memuja ibunya. Kalau dia tahu ibunya bekas buronan kasus eksploitasi anak dan pembunuhan tak sengaja, kamu rasa dia bakal sanggup hidup? Kamu mau jadi perusak hidup pria yang kamu cintai cuma demi balas dendam basi masa kecil?”
Ruangan itu kembali sunyi, hanya suara putaran baling-baling pendingin udara yang monoton.
Isabella tersenyum menang, mengira Mira telah terpojok oleh logika manipulatif yang selama ini dipakainya menaklukkan rekan bisnis suaminya. Wanita tua itu menepuk pipi Mira dua kali dengan punggung tangannya—sentuhan yang dingin, meremehkan, dan penuh arogansi. “Dandan lagi. Benerin bedakmu yang luntur. Kita keluar, kamu pasang cincin itu ke jari Miguel, dan hiduplah seperti nyonya muda yang beruntung. Telan masa lalumu, seperti aku menelan masa laluku.”
Isabella berbalik hendak melangkah ke arah pintu. Namun dia tidak mendengar suara terisak yang biasanya keluar dari korban yang kalah.
Sebaliknya, sebuah dengusan tawa pendek dan serak terdengar dari balik punggungnya.
Isabella berhenti, menoleh dengan kening berkerut heran.
Mira sedang berdiri di depan cermin besar rias, tetapi dia tidak sedang membetulkan bedaknya. Tangannya merogoh ke balik korset bagian bawah dadanya, menarik keluar sebuah perekam suara mini berwarna hitam sebesar ibu jari yang lampu indikator merahnya berkedip pelan. Sejak tiga minggu lalu, saat pertama kali berkunjung ke rumah besar Isabella dan mencium aroma minyak kayu putih khas racikan yang sama persis dengan yang dulu dipakai Mak Salmah, kecurigaan Mira bukan sekadar firasat kosong pengantin baru. Mira bukan gadis cengeng yang naif; dia adalah seorang jurnalis investigasi lepas yang menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya membongkar kasus-kasus penipuan yayasan amal fiktif. Dia mengenali bau predator, sekalipun predator itu memakai kalung mutiara.
Wajah Isabella seketika pucat pasi, lapisan bedak mahalnya tak mampu lagi menyembunyikan kulitnya yang mendadak kelabu. “Kamu… apa itu?”
“Mikrofon nirkabel ini langsung terhubung ke penyimpanan awan dan gawai milik pemimpin redaksi kantorku,” kata Mira datar, nada suaranya berubah drastis, dingin dan tanpa ampun. “Dan rekaman suara barusan… pengakuanmu soal Rian, soal pembakaran gudang, soal uang donasi yang kamu jadikan modal ganti nama… semuanya sudah terunggah otomatis tiga detik yang lalu.”
“Kurang ajar kamu! Bajingan kecil!” Isabella menerjang maju, kehilangan seluruh tata krama ningratnya, tangannya mencakar hendak merebut alat perekam itu. Namun Mira tidak lagi bocah kecil kurus yang bisa diseret sesuka hati. Mira menghindar dengan gesit ke samping, membiarkan tubuh tua Isabella menabrak meja rias hingga botol-botol parfum kaca berjatuhan dan pecah berserakan di karpet, menebarkan wangi mawar dan alkohol yang menyengat.
Pintu tiba-tiba terdorong terbuka lebar.
Miguel berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi. Di tangannya, layar ponselnya masih menyala menampilkan notifikasi pesan instan dengan berkas audio yang baru saja masuk—pesan yang diatur otomatis terkirim ke ponsel Miguel jika Mira menekan tombol panik pada perekamnya.
Di belakang Miguel, dua orang petugas polisi berpakaian preman yang sedari awal duduk di meja tamu undangan bagian belakang perlahan melangkah masuk.
“Miguel…” Isabella tergagap, suaranya tercekat di kerongkongan, tangannya gemetar menunjuk Mira. “Anak ini gila… dia mau memeras keluarga kita, Miguel! Percaya sama Mama!”
Miguel tidak memandang ibunya. Matanya tertuju pada Mira, lalu beralih ke ceceran botol parfum di lantai, dan akhirnya menatap wanita tua yang melahirkannya itu dengan sorot mata yang hancur berkeping-keping. Bukan kemarahan yang tampak di wajah pria muda itu, melainkan kekosongan yang mengerikan—seperti sebuah bangunan megah yang pondasinya mendadak lenyap ditelan bumi.
“Aku yang dengar sendiri rekaman itu lewat earphone di luar pintu, Ma,” suara Miguel nyaris tak terdengar, serak dan dingin. “Dari awal sampai akhir.”
Isabella terpaku di tempatnya berdiri, bahunya merosot turun seketika. Seluruh topeng kemewahan, status sosial, dan wibawa palsunya luruh seperti bedak yang terkena siraman air keras. Dua petugas polisi itu melangkah maju tanpa suara berlebihan, menunjukkan lencana dinas, lalu memegang lengan Isabella dengan sopan namun sangat mengunci gerak.
“Ibu Isabella Wardhana, alias Salmah Sunarti. Anda kami minta ikut ke kantor Polda Metro Jaya terkait pembukaan kembali berkas perkara kebakaran dan penelantaran anak tahun 1996,” ucap petugas tertua dengan nada dingin formal.
Tidak ada jeritan dramatis saat Isabella digiring keluar melewati lorong samping ruang staf untuk menghindari kerumunan wartawan hiburan yang mulai mencium bau skandal di lantai bawah. Hanya ada suara gesekan sepatu hak tinggi wanita tua itu yang diseret lunglai di atas lantai marmer, kepalanya tertunduk kaku, aroma parfumnya yang mahal bercampur dengan bau ketakutan yang basi.
Pintu ruang rias tertutup kembali.
Tinggallah Mira dan Miguel yang berdiri saling berhadapan dalam ruangan yang kini berantakan. Gaun pengantin Mira kotor di bagian ujungnya, terkena noda air mawar dari pecahan botol kaca. Cincin pernikahan emas putih masih berada di dalam kotak beludru di atas meja kecil, tidak tersentuh.
“Kamu… sudah tahu dari awal?” tanya Miguel, suaranya bergetar menahan tangis yang enggan tumpah.
Mira menatap mata pria yang dicintainya itu. Dia tidak berniat membela diri, tidak berniat menghibur dengan kata-kata manis yang palsu. “Aku curiga sejak pertama ke rumahmu, tapi aku butuh bukti nyata tanda lahir itu dan suaranya secara sadar mengakui apa yang dia perbuat pada Rian. Aku minta maaf, Miguel. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa membiarkan darah anak-anak itu terkubur di bawah pesta pernikahan kita.”
Miguel terdiam lama sekali. Dia memandangi tangannya sendiri, tangan anak seorang penjahat yang dibesarkan dari uang hasil penderitaan anak-anak yatim piatu. Perlahan, dia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak yang tak kasatmata namun teramat lebar di antara mereka berdua.
“Aku nggak bisa benci kamu atas apa yang kamu lakukan, Mira,” bisik Miguel pelan, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang kaku. “Tapi melihatmu… mulai hari ini… hanya akan membuatku ingat bahwa seluruh hidupku dibangun di atas tumpukan bangkai dan kebohongan.”
Pria itu berbalik, melangkah keluar meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Mira menarik napas panjang, udara ruangan itu terasa dingin dan tajam menusuk paru-parunya. Dia tidak mengejar Miguel. Dia tahu batas sebuah luka, dan beberapa luka memang diciptakan bukan untuk disembuhkan bersama, melainkan untuk diselesaikan sendiri-sendiri.
Dengan jari-jarinya yang mantap, Mira melepas kerudung pengantin yang berat dari rambutnya, membiarkan jaring-jaring renda putih itu jatuh teronggok di samping pecahan kaca. Dia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke langit Jakarta yang mendung kelabu di sore hari. Hujan mulai turun, titik-titik air pertama memukul kaca dengan suara ketukan halus yang teratur. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, Mira merasa beban dingin yang menghimpit dadanya menguap lenyap, digantikan oleh ruang kosong yang sunyi, bebas, dan nyata.
