part 3 — Rahasia di Balik Perceraian Terbongkar, Rumah yang Dirampas Kembali, dan Orang yang Mengambil Masa Kecil Nadira Akhirnya Membayar Semuanya//

Bagian 3 — Rahasia di Balik Perceraian Terbongkar, Rumah yang Dirampas Kembali, dan Orang yang Mengambil Masa Kecil Nadira Akhirnya Membayar Semuanya

Bagian 3 — Rahasia di Balik Perceraian Terbongkar, Rumah yang Dirampas Kembali, dan Orang yang Mengambil Masa Kecil Nadira Akhirnya Membayar Semuanya

Arga tidak langsung menjawab.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri memandangi perempuan yang membesarkannya.

Ratna masih memakai gaun mahal.

Masih mengenakan kalung berlian.

Masih berdiri di bawah dekorasi ulang tahun yang menurut laporan event organizer menelan biaya ratusan juta rupiah.

Tetapi untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat kecil.

Bukan karena usianya.

Karena seluruh kendali yang selama bertahun-tahun ia miliki atas keluarga mulai runtuh.

“Perusahaan?” tanya Arga.

Ratna menarik napas panjang.

“Tidak perlu dibicarakan di sini.”

“Empat tahun hidup anak saya dibicarakan melalui surat palsu, rekening palsu, dan kebohongan. Sekarang Ibu bilang tempatnya tidak tepat?”

Dimas mencoba menyela.

“Mas, ini urusan internal.”

Arga menoleh.

“Sejak kamu menggunakan uang anak saya untuk perusahaanmu, ini sudah bukan urusan internal.”

Ia meminta keamanan hotel mengunci akses ke ruang administrasi acara dan menyimpan rekaman CCTV malam itu.

Kemudian kepada Riko ia berkata,

“Hubungi kepala divisi legal. Minta dia datang ke sini.”

“Sekarang, Pak?”

“Sekarang.”

Arga kemudian menoleh kepada Nadira.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ballroom, wajahnya melembut.

“Kamu sudah makan?”

Nadira mengguncang kantong plastiknya sedikit.

“Ada ini.”

Arga menatap roti-roti sisa di dalamnya.

Dadanya kembali sesak.

Ia mengambil kantong itu perlahan.

“Yang ini boleh Papa simpan?”

Nadira langsung cemas.

“Buat Mama.”

“Papa janji Mama akan makan malam ini.”

Ia berjongkok.

“Tapi bukan dari tempat sampah.”

Mata Nadira memerah.

Arga memanggil seorang manajer hotel dan meminta satu meja kecil disiapkan di ruang privat.

Bukan menu pesta.

Nadira meminta nasi putih, telur dadar, sayur bening, dan ayam goreng.

Makanan sederhana.

Ketika piring datang, gadis itu justru membagi ayamnya menjadi dua.

“Yang ini untuk Mama.”

Arga nyaris tidak sanggup melihatnya.

“Nanti kita bawakan Mama satu kotak baru.”

Nadira menatapnya lama, seolah sedang menilai apakah janji orang dewasa masih layak dipercaya.

Kemudian ia mulai makan.

Pelan.

Terlalu pelan untuk anak yang kelaparan.

Setiap tiga suap, ia berhenti.

Seolah ingin memastikan sebagian makanan masih tersisa.

Arga duduk di sampingnya sampai Nadira menghabiskan nasi.

Pesta di luar sudah bubar.

Banyak tamu memilih pergi setelah suasana berubah menjadi skandal keluarga.

Beberapa orang memeluk Ratna sebelum pulang.

Sebagian hanya menundukkan kepala.

Dimas masih tertahan di hotel karena Arga meminta keamanan mencegahnya mengambil dokumen dan perangkat yang digunakan selama acara.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Maya tiba.

Ia masuk ke ruang privat masih mengenakan kaus polos berwarna krem, celana panjang hitam, dan sandal.

Rambutnya diikat seadanya.

Di bahunya ada tas kain berisi meteran jahit.

Wajahnya pucat.

Begitu Nadira melihatnya, gadis itu berlari.

“Mama!”

Maya memeluk anaknya begitu erat hingga keduanya hampir jatuh.

“Kamu dari mana? Mama cari kamu ke mana-mana!”

“Maaf.”

“Kamu tahu Mama takut?”

Nadira mulai menangis.

“Aku cuma mau cari makanan.”

Maya berhenti bicara.

Tangannya membeku di punggung anaknya.

Arga melihat perubahan di wajah mantan istrinya.

Malu.

Sedih.

Marah kepada diri sendiri.

Semua bercampur menjadi satu.

Maya mencium kepala Nadira.

“Jangan pernah lakukan itu lagi.”

“Tapi Mama belum makan dari siang.”

Maya menutup mata.

Arga berdiri beberapa meter dari sana.

Ia merasa seperti orang asing yang tanpa sengaja melihat kenyataan hidup orang lain.

Padahal dua orang di hadapannya adalah keluarga yang pernah ia janjikan akan lindungi.

“Maya.”

Perempuan itu akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kali dalam hampir empat tahun.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada nostalgia.

Yang ada hanya luka lama yang terlalu besar untuk diselesaikan dengan satu permintaan maaf.

“Aku tidak tahu,” kata Arga.

Maya tersenyum tipis.

“Aku juga dulu pikir kamu tidak tahu.”

“Dulu?”

“Sampai terlalu banyak surat datang memakai namamu.”

Maya membuka tasnya.

Dari dalam sebuah map plastik kusam, ia mengeluarkan puluhan lembar dokumen.

“Aku simpan semuanya.”

Ada surat peringatan.

Ada salinan surel.

Ada bukti pengiriman.

Ada pemberitahuan bahwa biaya sekolah Nadira dihentikan oleh “pihak ayah”.

Ada surat yang menyatakan Arga tidak mengizinkan Maya menggunakan nama Mahendra dalam dokumen tertentu.

Ada pula salinan pernyataan yang seolah-olah dibuat Arga:

Saya tidak ingin kontak langsung dengan Maya atau anak selama proses penataan keluarga belum selesai.

Arga membaca kalimat itu berulang kali.

“Aku tidak pernah menulis ini.”

“Aku tahu sekarang.”

“Kenapa kamu tidak datang ke kantor?”

“Aku datang.”

Arga menatapnya.

“Kapan?”

“Empat kali.”

Ia merasa perutnya seperti ditinju.

“Empat kali?”

“Dua kali satpam bilang namaku masuk daftar tamu yang tidak boleh naik. Sekali resepsionis bilang kamu sedang di luar negeri. Sekali lagi aku menunggu hampir tiga jam.”

Arga menoleh kepada Riko.

Asistennya langsung membuka ponsel.

“Sistem daftar tamu kantor lama masih tersimpan di server arsip, Pak. Bisa kita periksa.”

Maya melanjutkan.

“Setelah itu aku mencoba datang ke rumah ibumu.”

“Apa yang terjadi?”

Maya tidak langsung menjawab.

Nadira yang menjawab.

“Nenek kasih uang ke satpam supaya kami pergi.”

Maya buru-buru berkata,

“Nadira.”

“Tapi benar.”

Ruangan kembali sunyi.

Arga menarik kursi dan duduk.

Setiap informasi baru membuatnya semakin sadar bahwa kebohongan ini tidak mungkin dilakukan oleh satu orang.

Ada sistem.

Ada orang yang mengatur akses.

Ada surat.

Ada rekening.

Ada notaris.

Ada staf yang mengikuti perintah.

Dan ada satu kelemahan terbesar yang memungkinkan semuanya terjadi:

Arga sendiri.

Ia terlalu percaya kepada ibunya.

Setelah pernikahannya dengan Maya memburuk, ia memilih menerima informasi dari pihak ketiga dibanding duduk langsung dengan istrinya.

Ratna hanya memanfaatkan jarak yang sudah ada.

“Kenapa kita bercerai sebenarnya?” tanya Arga.

Maya tertawa pahit.

“Kamu masih ingat pertengkaran terakhir kita?”

Arga mengangguk.

Empat tahun sebelumnya, Arga menuduh Maya membocorkan dokumen internal perusahaan kepada pesaing.

Ia menemukan salinan laporan akuisisi di laptop Maya.

Ratna saat itu mengatakan bahwa seseorang di perusahaan melihat Maya bertemu salah satu direktur pesaing.

Arga marah.

Maya membantah.

Mereka bertengkar hebat.

Dua hari kemudian Maya pergi membawa Nadira.

Seminggu berikutnya, surat gugatan cerai tiba.

“Aku tidak pernah mengajukan gugatan pertama,” kata Maya.

Arga terdiam.

“Apa?”

“Aku memang akhirnya menyetujui perceraian karena setelah semua kejadian itu aku pikir kamu benar-benar ingin selesai. Tapi permohonan pertama bukan dariku.”

Maya mengeluarkan dokumen lain.

“Aku menerima surat yang mengatakan kamu sudah menunjuk pengacara dan meminta proses dipercepat.”

Riko mengambilnya.

“Pak, saya perlu cek nomor registrasinya.”

Maya menatap Arga.

“Dan tentang laporan perusahaan di laptopku, aku baru tahu beberapa bulan kemudian bagaimana file itu masuk.”

“Bagaimana?”

“Dimas.”

Nama itu membuat kepala Arga menoleh ke pintu.

Dimas masih berada di luar bersama petugas keamanan.

Maya melanjutkan.

“Sebelum semuanya pecah, dia pernah meminjam laptopku saat datang ke rumah. Katanya mau kirim proposal karena baterai laptopnya habis.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Aku bilang.”

Arga mengingatnya.

Maya pernah menyebut Dimas.

Arga menganggapnya alasan.

Ia bahkan menuduh Maya mencoba mengadu dirinya dengan adik sendiri.

Rasa malu menyapu wajahnya.

“Aku tidak percaya.”

“Tidak.”

Maya mengatakan satu lagi hal.

Saat itu ia bekerja membantu audit internal perusahaan secara tidak resmi.

Ia menemukan pembayaran rutin dari salah satu anak perusahaan kepada beberapa vendor yang ternyata beralamat sama.

Maya curiga ada penggelembungan biaya.

Nama yang menyetujui beberapa invoice adalah Dimas.

“Aku belum sempat menyerahkan semuanya kepadamu ketika file akuisisi muncul di laptopku.”

Arga perlahan memahami gambarnya.

“Dimas tahu kamu sedang memeriksa vendor.”

Maya mengangguk.

“Dan ibumu tahu kalau aku menunjukkan temuanku kepadamu, Dimas mungkin dikeluarkan dari perusahaan.”

Ratna tidak sekadar tidak menyukai menantunya.

Maya adalah ancaman.

Bukan bagi keluarga.

Bagi rahasia keuangan yang melindungi anak kesayangannya.

Arga berdiri.

“Panggil Dimas dan Ibu masuk.”

Beberapa menit kemudian keduanya duduk di seberang meja.

Ratna mencoba mempertahankan ketenangannya.

Dimas terlihat jauh lebih gelisah.

Riko menaruh salinan transaksi yayasan di meja.

Kemudian ia menerima panggilan dari kepala legal perusahaan.

Setelah berbicara beberapa menit, Riko mematikan telepon.

“Pak, tim audit awal sudah menemukan pola.”

“Apa?”

“PT Daya Mahendra Konsultan menerima setoran dari yayasan rata-rata antara dua belas sampai delapan belas juta per bulan. Tetapi itu bagian kecil.”

Dimas membungkuk ke depan.

“Riko, jangan sok tahu.”

Riko tidak memandangnya.

“Tim menemukan sebelas vendor lama yang terkait langsung atau tidak langsung dengan perusahaan Pak Dimas. Total pembayaran empat tahun sekitar sembilan koma dua miliar rupiah.”

Ratna memejamkan mata.

Arga menatap adiknya.

“Sembilan miliar?”

Dimas bangkit.

“Itu omzet perusahaan!”

“Dari vendor fiktif?”

“Tidak ada vendor fiktif.”

Riko menggeser layar tablet.

“Tiga perusahaan menggunakan nomor telepon kantor yang sama.”

Dimas diam.

“Dua direktur perusahaan tercatat sebagai mantan sopir dan staf administrasi Anda.”

Tidak ada jawaban.

“Dan satu alamat gudang yang tercantum dalam invoice ternyata rumah kosong.”

Dimas memukul meja.

“Cukup!”

Nadira terkejut.

Arga langsung berdiri di antara Dimas dan anaknya.

“Jangan pernah menaikkan suara di dekat anak saya.”

Ratna akhirnya bicara.

“Arga, dengarkan Ibu.”

“Saya sudah mendengarkan Ibu hampir seluruh hidup saya.”

“Dimas melakukan kesalahan.”

“Kesalahan?”

Ratna menatap meja.

“Dia punya utang bisnis.”

“Jadi Ibu membantu dia mencuri?”

“Ibu menyelamatkan adikmu.”

“Dengan menghancurkan rumah tangga saya?”

Ratna menangis untuk pertama kalinya.

“Waktu itu perusahaan sedang sulit. Kamu terlalu dekat dengan Maya. Semua keputusanmu mulai dipengaruhi dia.”

“Dia istri saya.”

“Dan Dimas adikmu!”

Kalimat itu keluar seperti ledakan.

Arga menatap ibunya.

Akhirnya semuanya sederhana.

Bukan demi perusahaan.

Bukan demi nama keluarga.

Ratna memilih satu anak.

Dan agar pilihan itu tidak dipertanyakan, ia mengorbankan keluarga anak lainnya.

“Maya hampir menemukan semuanya,” kata Ratna.

“Ibu takut kamu akan menyerahkan Dimas ke polisi.”

“Harusnya memang begitu.”

Ratna menatapnya seolah kalimat itu tidak masuk akal.

“Dia adikmu.”

“Dan Nadira anak saya.”

Ratna kehilangan jawaban.

Arga menunjuk kantong plastik berisi roti sisa yang masih terletak di ujung meja.

“Empat tahun Ibu bilang uang saya sampai kepada Nadira.”

“Arga—”

“Lihat itu.”

Ratna tidak bergerak.

“Saya bilang lihat.”

Perempuan itu akhirnya memandang kantong plastik tersebut.

“Anak saya membawa pulang makanan bekas hotel karena ibunya kelaparan.”

Ratna mulai menangis lagi.

“Saya tidak tahu keadaan mereka separah itu.”

Maya tertawa kecil.

“Kamu tahu alamat saya.”

Ratna menegang.

“Surat tagihan yayasan sampai ke kontrakan saya karena seseorang salah memasukkan alamat. Itu sebabnya Nadira punya surat tadi. Kalau kamu tahu alamat untuk mengirim ancaman, kamu tahu di mana kami tinggal.”

Ratna tidak mampu membantah.

Arga kemudian bertanya,

“Rumah Maya di Depok?”

Dimas menoleh kepada Ratna.

Gerakan kecil itu sudah cukup.

“Ibu?”

Ratna menarik napas.

“Rumah itu dibeli sebagian memakai uang keluarga Mahendra.”

Maya langsung berdiri.

“Itu rumah peninggalan ayah saya.”

Arga menatap ibunya tajam.

“Siapa menjualnya?”

Ratna tidak menjawab.

Dimas yang mulai panik berkata,

“Aku cuma tanda tangan sebagai saksi.”

“Jadi tanda tangan Maya dipalsukan?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Kalau begitu siapa yang tanda tangan?”

Sunyi.

Arga mengambil ponselnya.

“Saya akan serahkan semuanya ke penyidik.”

Ratna berdiri.

“Arga!”

“Tidak ada lagi penyelesaian keluarga.”

“Kamu mau memasukkan ibumu sendiri ke penjara?”

Arga menatapnya lama.

“Saya tidak menentukan siapa masuk penjara.”

Ia meletakkan ponsel di meja.

“Pengadilan yang menentukan.”

Malam itu, Arga melakukan tiga hal.

Pertama, ia meminta tim hukum menyimpan seluruh data rekening, yayasan, transaksi vendor, dokumen penjualan rumah, rekaman CCTV, dan surat-surat Maya.

Kedua, ia membekukan seluruh kewenangan Dimas di perusahaan.

Ketiga, ia memerintahkan audit forensik eksternal.

Bukan tim internal.

Bukan orang keluarga.

Kantor akuntan independen.

Hasilnya jauh lebih buruk dari dugaan awal.

Dalam enam minggu, auditor menemukan aliran dana dari beberapa vendor ke perusahaan Dimas.

Sebagian digunakan menutup utang bisnis.

Sebagian untuk investasi gagal.

Sebagian masuk ke Yayasan Harapan Keluarga Nusantara.

Dana bulanan untuk Nadira dicampur dengan transaksi lain agar terlihat sebagai pemasukan yayasan biasa.

Yayasan itu sendiri hampir tidak mempunyai kegiatan sosial nyata.

Foto kegiatan yang dipakai dalam laporan ternyata dokumentasi acara organisasi lain.

Pengeluaran “beasiswa pendidikan” sebagian besar fiktif.

Bahkan beberapa kuitansi sekolah yang selama bertahun-tahun dikirim Ratna kepada Arga ternyata dibuat menggunakan format lama sebuah sekolah swasta di Jakarta.

Lalu polisi menemukan bagian paling serius.

Surya Pranoto mengakui ia membantu menyiapkan beberapa surat palsu.

Menurut keterangannya, Ratna meminta supaya Arga dan Maya tidak berkomunikasi langsung sampai perceraian selesai.

Ia mengaku menerima bayaran.

Namun soal pemalsuan tanda tangan penjualan rumah, Surya awalnya menyangkal.

Sampai penyidik mendapatkan rekaman CCTV lama dari kantor notaris.

Maya tidak pernah berada di sana pada hari akta ditandatangani.

Rumah itu akhirnya terbukti dijual tanpa persetujuan sah Maya.

Uang hasil penjualan masuk ke yayasan.

Dari sana, sebagian berpindah ke perusahaan Dimas.

Kasus berkembang.

Ratna dan Dimas tidak langsung dipenjara hanya karena tuduhan.

Proses hukum berjalan sebagaimana mestinya.

Pemeriksaan.

Penyitaan dokumen.

Audit.

Saksi.

Sidang.

Arga tidak meminta aparat “menghukum lebih berat”.

Ia hanya meminta satu hal kepada kuasa hukumnya:

“Jangan tutupi apa pun karena mereka keluarga saya.”

Delapan bulan kemudian, pengadilan menyatakan Dimas bersalah atas beberapa tindak pidana terkait penggelapan dan penggunaan dokumen palsu.

Ia dijatuhi hukuman penjara dan diwajibkan membayar penggantian kerugian berdasarkan putusan.

Surya juga diproses atas perannya dalam dokumen.

Ratna menghadapi perkara terpisah terkait yayasan, pemalsuan dokumen, dan aliran dana.

Usianya serta kondisi pribadinya dipertimbangkan pengadilan sebagaimana hukum yang berlaku, tetapi fakta bahwa ia seorang ibu dan nenek tidak menghapus tanggung jawabnya.

Aset tertentu yang terbukti berhubungan dengan kerugian disita atau digunakan dalam proses pemulihan.

Vila yang renovasinya dibayar dari aliran dana bermasalah dijual.

Mobil mewah yang selama bertahun-tahun dipakai Dimas ikut masuk penyelesaian aset.

Rumah Depok milik Maya tidak mungkin sekadar “dikembalikan” karena sudah berpindah lagi kepada pembeli berikutnya yang beritikad baik.

Sebagai gantinya, berdasarkan penyelesaian perdata dan hasil aset yang dipulihkan, Maya menerima kompensasi senilai kerugiannya.

Namun bagian paling penting tidak terjadi di ruang sidang.

Terjadi tiga hari setelah malam pesta.

Arga berdiri di depan sebuah kontrakan sempit di Bekasi.

Cat temboknya mengelupas.

Selokan di depan rumah tersumbat.

Di bagian bawah dinding terlihat garis bekas air hujan yang pernah masuk.

Maya berdiri di pintu.

“Kamu enggak perlu melakukan ini karena merasa bersalah,” katanya.

Arga menatap rumah tersebut.

“Aku memang bersalah.”

“Kamu ditipu.”

“Aku juga memilih tidak memeriksa.”

Maya tidak menjawab.

Arga tidak meminta mereka langsung tinggal bersamanya.

Ia tahu itu akan menjadi kesalahan lain.

Sebaliknya ia menawarkan beberapa pilihan.

Sebuah rumah sewa layak yang lokasinya masih dekat dengan sekolah Nadira.

Biaya kesehatan.

Biaya pendidikan.

Dan rekening baru untuk Nadira yang tidak dikendalikan keluarga Arga.

Semua pencairan besar membutuhkan pemberitahuan kepada kedua orang tua.

Maya dapat melihat setiap transaksi.

Arga juga dapat melihatnya.

Tidak ada perantara.

Maya menolak uang tunai tambahan untuk dirinya.

“Aku mau tetap kerja.”

“Silakan.”

“Aku tidak mau hidup dari rasa bersalahmu.”

“Aku mengerti.”

“Tapi biaya Nadira adalah tanggung jawab kita berdua.”

Arga mengangguk.

“Setuju.”

Itulah pertama kalinya dalam empat tahun mereka membuat keputusan sebagai dua orang tua, bukan dua mantan pasangan yang berbicara melalui surat buatan orang lain.

Hubungan mereka tidak tiba-tiba pulih.

Maya masih marah.

Arga masih menyimpan rasa bersalah.

Ada hari ketika percakapan mereka hanya soal jadwal sekolah.

Ada hari ketika Maya tidak mau membahas masa lalu.

Arga tidak memaksa.

Ia mulai dari Nadira.

Setiap Sabtu pagi, ia menjemput putrinya.

Kadang mereka pergi ke taman.

Kadang ke perpustakaan.

Kadang hanya makan bubur ayam.

Pada pertemuan ketiga, Nadira masih memanggilnya “Papa” dengan canggung.

Pada bulan kedua, ia mulai mengirim pesan sendiri.

Papa, besok aku tampil tari di sekolah.

Arga datang satu jam lebih awal.

Ia duduk di kursi plastik paling depan.

Bukan kursi VIP.

Tidak ada fotografer.

Tidak ada pengawal di sampingnya.

Saat Nadira melihatnya dari panggung, gadis itu tersenyum sangat lebar.

Itu menjadi foto favorit Arga.

Bukan foto penandatanganan proyek miliaran rupiah.

Bukan penghargaan bisnis.

Bukan foto bersama pejabat.

Hanya Nadira dalam kostum tari sekolah dasar, tersenyum karena ayahnya benar-benar datang.

Sementara itu, Maya menggunakan sebagian kompensasi rumah untuk membuka usaha jahit kecil.

Bukan butik mewah.

Sebuah ruko sederhana dengan tiga mesin jahit.

Ia mempekerjakan dua perempuan dari lingkungan lamanya yang juga membutuhkan pekerjaan.

Nadira memilih nama usahanya.

“Benang Baru.”

Maya tertawa ketika mendengarnya.

“Kenapa Benang Baru?”

Nadira menjawab,

“Karena kalau benangnya putus, bisa disambung lagi.”

Maya menatap Arga yang kebetulan sedang membantu memasang rak di dinding.

Mereka tidak mengatakan apa-apa.

Setahun setelah pesta ulang tahun Ratna, Arga melakukan perubahan besar di perusahaan.

Seluruh vendor diperiksa ulang.

Transaksi keluarga harus melalui komite independen.

Tidak ada lagi anggota keluarga yang bisa menggunakan nama Mahendra sebagai alasan untuk melewati prosedur.

Arga juga membentuk dana beasiswa.

Tetapi ia sengaja tidak menggunakan nama keluarganya.

Program itu membantu anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah tetap sekolah.

Saat seorang staf humas mengusulkan membuat konferensi pers besar, Arga menolak.

“Kalau tujuan kita benar-benar membantu, foto saya tidak diperlukan.”

Nadira akhirnya pindah ke sekolah yang lebih baik.

Bukan sekolah termahal.

Maya dan Arga memilih sekolah yang membuatnya nyaman.

Ketika ditanya apakah ingin les piano, bahasa asing, renang, atau balet, Nadira memilih renang.

“Kenapa?”

“Aku pengin bisa nolong diri sendiri kalau jatuh ke air.”

Jawaban sederhana itu membuat Maya dan Arga saling pandang.

Anak yang kehilangan rasa aman terlalu cepat sering berpikir berbeda dari anak lain.

Mereka kemudian mengajak Nadira berbicara dengan psikolog anak.

Bukan karena ada sesuatu yang “salah” dengannya.

Tetapi karena empat tahun hidup dalam tekanan meninggalkan bekas.

Pelan-pelan, Nadira berhenti menyimpan makanan di kamar.

Awalnya Maya menemukan biskuit di bawah bantal.

Roti di tas sekolah.

Dua bungkus nasi di lemari.

Psikolog menjelaskan bahwa perilaku itu muncul karena Nadira pernah takut makanan akan habis.

Mereka tidak memarahinya.

Setiap malam Maya menunjukkan isi lemari makan.

“Nadira, besok masih ada makanan.”

Arga melakukan hal sama ketika Nadira menginap dengannya.

Butuh berbulan-bulan.

Sampai suatu sore, setelah makan, Nadira meninggalkan setengah potong roti di piring.

Tidak dibungkus.

Tidak disembunyikan.

Hanya ditinggalkan karena kenyang.

Maya melihatnya.

Matanya langsung berkaca-kaca.

Arga yang berada di dapur memahami alasannya.

Bagi orang lain, itu hanya setengah potong roti.

Bagi mereka, itu bukti bahwa seorang anak akhirnya percaya makanan besok akan tetap ada.

Dua tahun berlalu.

Pada ulang tahun Nadira yang kesebelas, mereka membuat perayaan kecil.

Hanya dua belas orang.

Teman sekolah.

Bu Wati dari warung dekat kontrakan lama.

Dua pegawai usaha jahit Maya.

Riko.

Beberapa orang dekat.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada patung es.

Tidak ada meja makanan sepanjang belasan meter.

Nadira meminta nasi kuning, ayam goreng, mi, puding cokelat, dan kue stroberi.

Sebelum meniup lilin, ia meminta semua makanan yang tersisa nanti dibungkus dan dibagikan kepada petugas keamanan serta pekerja kebersihan kompleks.

Arga tersenyum.

“Kamu yakin?”

Nadira mengangguk.

“Tapi jangan kasih makanan bekas dari piring orang.”

Semua orang terdiam sebentar.

Kemudian Maya menggenggam tangan putrinya.

“Tidak. Kita bagikan makanan yang masih bersih.”

Nadira tersenyum.

“Bagus.”

Malam itu setelah semua tamu pulang, Arga duduk di teras.

Maya keluar membawa dua gelas teh.

Ia memberikan satu kepadanya.

“Terima kasih sudah datang.”

Arga tertawa kecil.

“Sekarang aku selalu datang.”

Maya duduk di kursi sebelah.

Hening cukup lama.

Kemudian ia berkata,

“Aku dulu benci kamu.”

“Aku tahu.”

“Lalu aku sadar sebagian yang kubenci sebenarnya adalah versi dirimu yang dibuat dari surat-surat itu.”

Arga menatap halaman.

“Tapi sebagian memang aku.”

Maya menoleh.

“Aku yang tidak percaya kamu. Aku yang memilih mendengar orang lain.”

Ia tidak mencari alasan.

Tidak meminta dimaafkan.

Maya menghargai itu.

“Aku belum tahu hubungan kita nanti seperti apa,” katanya.

Arga mengangguk.

“Aku juga.”

“Tapi Nadira bahagia.”

“Ya.”

“Itu cukup untuk sekarang.”

Arga tersenyum.

“Cukup.”

Dari dalam rumah terdengar suara Nadira.

“Papa! Mama! Kuenya masih ada!”

Maya berdiri.

Arga ikut bangkit.

Ketika masuk ke dapur, Nadira sudah memotong kue menjadi tiga bagian yang ukurannya sangat tidak sama.

Potongan terbesar ia taruh di piring Maya.

Potongan kedua untuk Arga.

Yang paling kecil untuk dirinya sendiri.

Arga mengangkat alis.

“Kenapa punya kamu paling kecil?”

“Aku sudah kenyang.”

Arga terdiam.

Dua tahun lalu ia menemukan anak yang sama memungut roti dari kantong sampah karena takut ibunya tidak makan.

Sekarang Nadira bisa mengatakan,

“Aku sudah kenyang,”

tanpa takut besok tidak ada makanan.

Arga mengambil pisau.

Ia memotong sedikit dari kuenya sendiri lalu memindahkannya ke piring Nadira.

Maya melakukan hal yang sama.

“Eh!” protes Nadira sambil tertawa.

Arga tersenyum.

“Di rumah ini, kalau ada yang punya lebih, kita bagi.”

Nadira memandang kedua orang tuanya.

Kemudian tertawa.

Tidak ada kamera.

Tidak ada tamu penting.

Tidak ada musik mewah.

Hanya tiga orang di dapur kecil, berbagi kue yang sama.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arga memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan kekayaan kepadanya.

Rumah bukan tempat yang paling mahal.

Keluarga bukan orang yang paling keras menuntut kesetiaan.

Dan uang tidak berarti apa pun jika orang yang seharusnya kita lindungi harus kelaparan sementara kita terlalu sibuk mempercayai kebohongan.

Di lemari kerja Arga, kantong plastik dari malam pesta itu masih tersimpan di dalam sebuah kotak transparan.

Bukan untuk dipamerkan.

Bukan untuk membuat Nadira merasa malu.

Tetapi sebagai pengingat.

Di atas kotak itu hanya ada satu catatan tulisan tangan:

Jangan pernah menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain hanya karena kita mempercayai mereka. Periksa. Datang. Dengarkan sendiri.

Karena hampir satu miliar rupiah pernah dikirim.

Puluhan laporan pernah diterima.

Ratusan kuitansi pernah terlihat meyakinkan.

Tetapi pada akhirnya, satu anak dengan sepatu bertali rafia dan sebuah kantong berisi roti sisa berhasil menunjukkan kebenaran yang selama bertahun-tahun tidak pernah ditemukan oleh semua angka itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *