Suamiku Membawa Cinta Lamanya yang Sedang Hamil ke Rumah Kami, Menyuruhku Mengalah—Tiga Hari Setelah Aku Pergi, Satu Surat Bank Membuatnya Datang Memohon di Depan Pintu Apartemen Baruku
Bagian 1 — Saat Arga Membawa Selina Masuk dengan Koper dan Kehamilannya, Aku Menandatangani Perceraian, Lalu Mendengar Kesombongan yang Mengakhiri Lima Tahun Pernikahan Kami
Suara roda koper yang menyeret lantai teraso terdengar lebih dulu sebelum pintu ruang keluarga terbuka.
Aku sedang berdiri di dapur, memasukkan beberapa dokumen ke dalam kotak arsip kecil, ketika suara Arga memanggil namaku.
“Nadira.”
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang untuk seorang suami yang baru saja membawa perempuan lain masuk ke rumah kami sambil membawa dua koper besar.
Aku menutup kotak itu, lalu berjalan keluar.
Di samping Arga berdiri Selina Maheswari.
Perempuan yang namanya sudah kukenal bahkan sebelum aku menikah dengan Arga.
Teman SMA-nya.
Cinta pertamanya.
Perempuan yang “hampir” dia pacari.
Perempuan yang selalu muncul dalam cerita setiap kali kami bertengkar.
“Selina dulu paling ngerti aku.”
“Selina tahu aku sejak belum punya apa-apa.”
“Kalau dulu kami tidak sama-sama keras kepala, mungkin ceritanya beda.”
Selama lima tahun pernikahan kami, aku sudah mendengar berbagai versi kalimat itu sampai rasanya aku bisa menirukan intonasi Arga tanpa melihat wajahnya.
Hari itu Selina memakai dress krem longgar.
Perutnya belum terlalu besar, mungkin baru memasuki bulan keempat, tetapi tangannya terus berada di sana seolah ingin memastikan seluruh ruangan menyadari kondisinya.
Aku memandang dua koper di belakangnya.
Lalu memandang Arga.
“Dia mau tinggal di sini?”
Arga menarik napas.
“Untuk sementara.”
“Berapa lama?”
“Belum tahu.”
Aku hampir tertawa.
Rumah dua lantai di Bintaro itu kubeli bersama Arga tiga tahun setelah perusahaan kami mulai menghasilkan uang.
Aku yang memilih ubinnya.
Aku yang mengurus kontraktor ketika Arga sibuk mencari investor.
Aku pula yang menghabiskan dua bulan mengawasi kebocoran atap karena kontraktor pertama kabur setelah menerima uang muka.
Sekarang suamiku berdiri di tengah ruang keluarga dan mengatakan dia tidak tahu berapa lama perempuan lain akan tinggal di rumah kami.
“Kontrakan Selina sedang direnovasi,” katanya. “Ada jamur di beberapa bagian dinding. Dokternya bilang kondisi seperti itu tidak bagus untuk kehamilan.”
“Lalu hotel?”
“Dia harus tinggal di tempat yang tenang.”
“Serviced apartment?”
“Nadira.”
Arga mulai menggunakan nada yang selalu dia pakai ketika menganggap aku sedang bersikap tidak masuk akal.
“Jangan dibuat sulit.”
Selina segera menyela.
“Kalau Nadira tidak nyaman, sebenarnya aku bisa cari tempat lain.”
Tangannya menyentuh lengan Arga sebentar.
Gerakan kecil.
Tapi cukup.
Arga langsung menoleh kepadanya.
“Kamu jangan stres dulu.”
Kemudian dia menatapku.
“Kamar utama kamar mandinya ada di dalam. Selina juga sering mual malam-malam. Jadi untuk sementara dia pakai kamar utama.”
Aku terdiam.
“Ulangi.”
Arga menghela napas.
“Aku bilang, biar Selina tinggal di kamar utama.”
“Lalu aku?”
“Kita pakai kamar tamu.”
Untuk pertama kalinya hari itu aku benar-benar tersenyum.
Bukan karena lucu.
Kadang manusia tersenyum ketika rasa kecewa sudah melewati titik marah.
“Jadi kamu membawa cinta lamamu yang sedang hamil ke rumah kita, lalu meminta istrimu pindah dari kamar tidur sendiri agar dia nyaman?”
“Jangan bicara seolah-olah ada sesuatu antara aku dengan Selina.”
Arga langsung membela diri.
“Anak itu bukan anakku.”
“Aku tidak bertanya anak siapa.”
Dia terdiam.
Aku berjalan menuju meja makan.
Di sana sudah ada map cokelat yang sengaja kutaruh sejak pagi.
Aku membukanya.
Mengeluarkan empat lembar dokumen.
Meletakkannya tepat di depan Arga.
“Kalau begitu masalahnya sederhana.”
Dia melihat halaman pertama.
Ekspresinya berubah.
“Perjanjian perceraian?”
“Iya.”
“Nadira, kamu serius?”
“Aku bahkan sudah membubuhkan meterai.”
Selina bergerak gelisah.
“Aku merasa aku benar-benar sebaiknya pergi…”
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu tidak perlu pergi.”
Kemudian aku kembali menatap Arga.
“Karena yang pergi aku.”
Ruangan langsung sunyi.
Arga menarik kursi dan duduk.
Dia membaca dua halaman pertama dengan cepat.
Rumah akan dijual kemudian hasilnya dibagi sesuai kontribusi yang sudah tercatat.
Rekening pribadi tetap milik masing-masing.
Saham perusahaan mengikuti kepemilikan legal.
Tidak ada tuntutan tunjangan.
Mobilku tetap menjadi milikku.
Tidak ada perebutan furnitur.
Tidak ada drama soal piring, televisi, atau mesin kopi.
Aku sudah mempersiapkan semuanya.
“Sejak kapan?” tanyanya.
“Sejak dua tahun lalu.”
Wajah Arga perlahan mengeras.
“Dua tahun?”
Aku mengangguk.
Dua tahun lalu aku menemukan draft struktur organisasi baru di laptop kantor.
Namaku tidak ada di sana.
Padahal sejak LangkahMaju Logistik hanya memiliki empat karyawan, akulah yang menyusun sistem keuangan, SOP vendor, kontrak pelanggan, hingga dokumen pertama untuk mendapatkan fasilitas kredit.
Di draft itu, posisiku sebagai Direktur Risiko akan dihapus setelah investasi seri berikutnya masuk.
Dan di bawah Divisi Corporate Communication terdapat satu nama yang membuat tanganku dingin.
Selina Maheswari.
Saat kutanya, Arga mengatakan itu hanya draft.
Enam bulan kemudian Selina mulai menerima proyek konsultasi dari perusahaan.
Katanya kebetulan.
Setahun kemudian, biaya konsultasinya naik tiga kali lipat.
Katanya wajar karena perusahaan sedang berkembang.
Dan minggu lalu, Arga memberi tahu bahwa Selina sedang hamil setelah hubungannya dengan tunangannya kandas.
Katanya dia kasihan.
Hari ini dia membawanya ke rumah kami.
Katanya hanya sementara.
Selama lima tahun aku terlalu sering mendengar kata “hanya”.
Hanya teman.
Hanya bantuan.
Hanya makan malam.
Hanya proyek.
Hanya tinggal beberapa minggu.
Sampai akhirnya aku sadar sebuah pernikahan jarang hancur karena satu ledakan besar.
Kadang ia hancur karena ratusan hal kecil yang selalu diminta untuk dimaklumi.
Aku mengambil pulpen.
Menandatangani halaman terakhir.
“Giliranmu.”
Arga memandangku cukup lama.
“Nadira, jangan bikin keputusan karena emosi.”
“Aku sudah menunggu dua tahun supaya bisa membuat keputusan ini tanpa emosi.”
“Dan kamu pikir hidupmu akan lebih mudah setelah keluar dari rumah ini?”
Aku tidak menjawab.
Arga tertawa pendek.
Aku mengenal tawa itu.
Tawa seorang laki-laki yang terlalu lama berhasil hingga mulai menganggap keberhasilan adalah sifat bawaan, bukan hasil bantuan banyak orang.
“Kamu mau bukti apa?”
Dia mengambil pulpen.
“Kamu mau menunjukkan kamu bisa hidup sendiri?”
Tangannya menandatangani dokumen itu.
“Silakan.”
Aku mengumpulkan berkas.
Tidak ada air mata.
Aneh sekali.
Dulu aku membayangkan jika hari ini datang, mungkin aku akan menangis sampai tidak bisa bernapas.
Ternyata tidak.
Yang kurasakan justru lega.
Aku naik ke kamar.
Dua koperku sudah ada di dalam lemari.
Sebagian besar barang penting bahkan telah kupindahkan bertahap selama tiga minggu terakhir.
Aku hanya memasukkan beberapa pakaian kerja, dua album foto keluarga, laptop pribadi dan sebuah kotak kecil berisi jam tangan milik almarhum ayahku.
Arga berdiri di ambang pintu.
“Kamu sudah benar-benar merencanakan semuanya.”
“Iya.”
“Termasuk apartemen?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Kuningan.”
Ekspresinya berubah sedikit.
“Pakai uang apa?”
Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti.
Aku berbalik.
“Uangku.”
“Aku tahu. Maksudku, setelah ini?”
Dia menyandarkan bahu ke pintu.
“Nadira, kamu sudah lima tahun terlalu nyaman. Tagihan rumah diurus staf. Asuransi dibayar perusahaan. Kartu tambahanmu dari rekeningku. Sopir kantor antar kamu ke mana-mana.”
Aku menatapnya tanpa percaya.
Laki-laki itu benar-benar mengira aku tidak akan bertahan hidup tanpa fasilitas yang sebagian besar justru kubangun bersamanya.
Dia melanjutkan.
“Tiga hari.”
“Apa?”
“Aku kasih kamu tiga hari.”
Sudut bibirnya terangkat.
“Setelah itu kamu pasti balik.”
“Dan kalau aku tidak?”
“Kamu akan.”
Dia begitu yakin sampai hampir terdengar kasihan.
“Kamu marah hari ini. Besok mulai sadar. Lusa mulai hitung pengeluaran. Hari ketiga kamu akan telepon.”
Aku menarik koper melewatinya.
Selina berdiri di lantai bawah ketika aku turun.
Dia memandangku seperti ingin mengatakan sesuatu.
Aku tidak memberinya kesempatan.
Di depan pintu, Arga masih mengikuti.
“Nadira.”
Aku mengenakan sepatu.
“Jangan gengsi kalau mau pulang.”
Aku membuka pintu.
Udara sore Jakarta terasa lembap setelah hujan.
Lalu aku teringat sesuatu.
Aku menoleh sekali lagi.
“Arga.”
“Ya?”
“Kalau kamu masih yakin aku akan kembali dalam tiga hari, Senin pagi jangan langsung buka WhatsApp.”
Senyumnya memudar sedikit.
“Kenapa?”
“Baca dulu surat dari Bank Nusantara.”
Aku keluar.
Pintu kututup pelan.
Tidak kubanting.
Aku sudah tidak cukup marah untuk membanting apa pun.
Dan saat lift turun menuju basement, aku membayangkan Senin pagi ketika Arga akhirnya membaca surat yang sudah tiga puluh hari menunggu tanggal efektifnya.
Surat pelepasan agunan pribadiku dari fasilitas kredit perusahaan.
Hari itu dia belum tahu bahwa rumah toko warisan ayahku—yang selama empat tahun membuat bank berani memberi perusahaan kami plafon hampir Rp11 miliar—tidak pernah menjadi miliknya.
Dan mulai Senin pagi, bank tidak lagi memiliki alasan untuk memperpanjang fasilitas tersebut tanpa jaminan pengganti.
#DramaKeluarga #CeritaPernikahan #IstriBangkit #KisahPengkhianatan #CeritaViralIndonesia
Bagian 2 — Tiga Hari Setelah Aku Pergi, Fasilitas Kredit Perusahaan Tertahan, Audit Dibuka, dan Arga Baru Menyadari Apa yang Selama Ini Kutanggung Diam-Diam
Senin pukul 08.17, ponselku bergetar.
Arga.
Aku tidak mengangkat.
Pukul 08.19 dia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Pada panggilan kelima, sebuah pesan masuk.
Kamu melakukan apa ke bank?
Aku sedang duduk di balkon apartemen sewaan baruku sambil minum kopi.
Tempatnya hanya dua kamar.
Tidak ada taman belakang.
Tidak ada kitchen island marmer.
Tidak ada lemari pakaian sebesar kamar kos.
Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bisa duduk sepuluh menit tanpa merasa harus mengurus hidup orang lain.
Aku membalas.
Tidak melakukan apa pun. Aku hanya tidak memperpanjang jaminan atas aset pribadiku.
Balasan datang kurang dari satu menit.
Kamu tahu payroll minggu ini bergantung pada fasilitas itu.
Makanya bank sudah memberi pemberitahuan tiga puluh hari.
Tanda mengetik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Akhirnya Arga menelepon.
Kali ini kuangkat.
“Kamu sengaja mau menghancurkan perusahaan?”
Aku tertawa kecil.
“Perusahaan yang sahamnya juga masih kumiliki tiga puluh dua persen?”
“Kalau begitu tanda tangani perpanjangannya.”
“Tidak.”
“Nadira!”
“Cari agunan lain.”
Dia terdiam beberapa detik.
“Ruko itu selama ini kita pakai untuk perusahaan.”
“Ruko itu warisan ayahku sebelum kita menikah.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa bicara seolah-olah aku mencuri sesuatu darimu?”
Napasnya berat.
“Aku datang ke apartemenmu.”
“Jangan.”
Telepon kututup.
Masalah bank sebenarnya bukan kejutan.
Sebulan sebelumnya, saat fasilitas modal kerja mendekati masa review tahunan, aku sudah memberi tahu bank bahwa aku tidak lagi bersedia menjadikan rukoku sebagai agunan tambahan.
Aku tidak meminta pinjaman ditarik.
Tidak menahan uang perusahaan.
Tidak memblokir rekening.
Aku hanya menarik satu hal yang memang menjadi hakku.
Bank tetap memberi Arga kesempatan mengganti agunan.
Dia hanya terlalu yakin aku tidak akan benar-benar pergi.
Pukul sebelas, Ratih datang.
Dia sahabatku sejak kuliah sekaligus pengacara korporasi yang dua tahun terakhir membantuku merapikan semua dokumen.
“Ada kabar lain,” katanya.
Dia membuka laptop.
“Investor baru menunda closing.”
Aku mengernyit.
“Karena bank?”
“Bukan cuma itu.”
Ratih memutar layar.
Di sana ada surat dari firma audit independen yang sedang melakukan due diligence.
Mereka menemukan pembayaran sekitar Rp1,46 miliar selama delapan belas bulan kepada sebuah perusahaan kecil bernama PT Sembilan Arah Kreatif.
Aku langsung mengenal nama itu.
Perusahaan milik Selina.
“Masih ada lagi?”
Ratih mengangguk.
“Invoice-nya banyak yang terlalu umum. Strategi merek, stakeholder engagement, executive positioning. Tapi bukti pekerjaannya tipis.”
Aku sudah pernah mempertanyakannya.
Arga selalu menjawab bahwa bisnis tidak bisa berkembang kalau semua hal kuperlakukan seperti audit pajak.
Sekarang auditor mengajukan pertanyaan yang sama.
Lebih buruk lagi, sebagian pembayaran mendapat persetujuan melalui formulir related-party transaction.
Dan di bawahnya ada namaku.
Beserta tanda tangan digitalku.
Aku menatap layar cukup lama.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
“Aku tahu.”
Ratih memperbesar metadata dokumen.
File itu diunggah dari komputer kantor Arga pada pukul 23.48, dua bulan sebelumnya.
Hari ketika aku berada di Surabaya menghadiri seminar.
Aku merasakan dingin merambat dari tengkuk.
Bukan karena uangnya.
Tapi karena untuk pertama kalinya aku menyadari Arga tidak sekadar meremehkan batasanku.
Seseorang di perusahaanku telah menggunakan namaku untuk membuat transaksi itu terlihat sah.
Sore harinya rapat komisaris diadakan darurat.
Aku hadir melalui video.
Arga terlihat seperti belum tidur sejak pagi.
Selina tidak terlihat.
Direktur keuangan, komisaris independen, perwakilan investor dan auditor memenuhi layar.
Arga terus mengatakan semuanya hanya persoalan administrasi.
“Jasa Selina benar-benar ada.”
Auditor bertanya, “Kenapa transaksi dengan perusahaan milik teman pribadi Anda tidak diungkap sejak awal?”
Arga menjawab, “Karena nilainya tidak material.”
“Rp1,46 miliar dianggap tidak material?”
Arga diam.
Kemudian auditor menampilkan dokumen dengan tanda tanganku.
“Nyonya Nadira, apakah Anda menyetujui transaksi ini?”
“Tidak.”
Wajah Arga berubah.
Aku melanjutkan.
“Pada tanggal dokumen tersebut dibuat, saya berada di Surabaya. Saya memiliki tiket pesawat, invoice hotel, dan rekaman kehadiran seminar.”
Komisaris utama menoleh kepada Arga.
“Siapa yang mengunggah file ini?”
“Aku akan cek.”
Ratih menyela dari sampingku.
“Tidak perlu.”
Semua orang menatap layar kami.
“Kami sudah menerima log server.”
Ratih membuka satu dokumen.
“File dibuat dari akun administrator kantor CEO. Setelah itu, tanda tangan digital Nadira ditempel dari file lama yang tersimpan di folder legal.”
Arga langsung berdiri.
“Aku tidak pernah menyuruh siapa pun memalsukan tanda tangannya.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu bagus.”
“Apa maksudmu?”
“Besok auditor forensik akan datang. Kamu tinggal buktikan.”
Rapat berakhir dua jam kemudian.
Pukul delapan malam, bel apartemenku berbunyi.
Ketika kubuka pintu, Arga berdiri di sana.
Dasi sudah hilang.
Kemeja putihnya kusut.
Wajah yang tiga hari lalu begitu yakin aku akan pulang sekarang tampak pucat.
Di tangannya ada dokumen bank.
“Tandatangani perpanjangan jaminannya,” katanya.
Aku hampir menutup pintu.
Dia menahan dengan telapak tangan.
“Nadira, jangan kekanak-kanakan. Ada delapan puluh enam karyawan.”
“Jangan pakai mereka untuk menekan aku.”
“Kamu mau semuanya kehilangan pekerjaan karena masalah rumah tangga?”
“Aku tidak pernah memakai dana perusahaan untuk urusan rumah tangga.”
Wajahnya menegang.
Lalu dari lorong belakang terdengar suara langkah cepat.
Selina muncul dari lift.
Matanya sembap.
“Arga!”
Dia berlari mendekat.
Begitu melihatku, wajahnya berubah.
“Nadira, cukup. Kalau kamu marah karena aku tinggal di rumah itu, salahkan aku. Jangan hancurkan perusahaan Arga.”
Aku menatapnya.
“Kamu benar.”
Selina tampak terkejut.
Aku membuka pintu lebih lebar.
“Karena kebetulan besok kita juga perlu bicara tentang perusahaanmu.”
Aku meletakkan salinan invoice PT Sembilan Arah Kreatif di meja dekat pintu.
Kemudian dokumen dengan tanda tanganku yang dipalsukan kutaruh di atasnya.
Wajah Selina langsung kehilangan warna.
Arga menoleh cepat kepadanya.
Dan sebelum satu pun dari mereka sempat berbicara, Ratih keluar dari ruang kerja sambil membawa laptop.
Dia menatap Selina.
“Kami sudah tahu siapa yang mengunduh file tanda tangan Nadira.”
Selina mundur satu langkah.
Lalu Ratih menambahkan kalimat yang membuat Arga membeku.
“Dan akun yang mengirim file itu ke komputer kantor Selina bukan milik staf legal.”
“Pengirimnya adalah akun pribadi Anda, Pak Arga.”
Bagian 3 — Ketika Kebohongan tentang Dana Perusahaan Terbongkar, Arga Kehilangan Kursinya, Selina Pergi, dan Aku Akhirnya Memilih Hidup yang Tidak Lagi Meminta Izin
Arga tidak menyangkal lagi setelah itu.
Bukan karena tiba-tiba dia ingin jujur.
Tapi karena bukti digital meninggalkan jejak yang terlalu rapi.
Enam bulan sebelumnya, Arga memang pernah mengirim salinan tanda tangan digitalku kepada Selina.
Menurut pengakuannya, awalnya hanya untuk mempercepat sebuah dokumen vendor ketika aku sedang berada di luar kota.
“Cuma sekali,” katanya.
Ternyata bukan sekali.
Selina menyimpan file tersebut.
Ketika beberapa pembayaran jasa konsultasinya mulai dipertanyakan bagian keuangan, dia menggunakan tanda tanganku pada formulir persetujuan.
Arga mengetahui setidaknya dua dokumen.
Dan memilih diam.
Alasannya membuatku hampir tertawa.
“Aku pikir nanti bisa dibereskan.”
Begitulah Arga.
Selama bertahun-tahun, apa pun yang membuatnya tidak nyaman selalu dianggap bisa “dibereskan” nanti.
Kelelahan istrinya.
Batas pernikahan.
Konflik kepentingan.
Transaksi perusahaan.
Bahkan tanda tangan palsu.
Semua bisa menunggu.
Sampai akhirnya tidak bisa lagi.
Audit independen berlangsung hampir enam minggu.
Tidak ditemukan bahwa Arga mencuri seluruh Rp1,46 miliar untuk dirinya sendiri.
Tetapi ditemukan pelanggaran tata kelola yang serius.
Beberapa kontrak Selina dihargai jauh di atas harga pasar.
Dokumentasi pekerjaannya tidak sebanding dengan pembayaran.
Arga menyembunyikan hubungan pribadi mereka dari komisaris.
Dan yang paling berat, dia mengetahui adanya penggunaan tanda tanganku tanpa otorisasi tetapi tidak segera melaporkannya.
Investor baru membatalkan rencana masuk.
Komisaris kemudian mengambil keputusan yang tidak pernah dibayangkan Arga.
Dia diberhentikan sebagai CEO.
Bukan karena aku meminta.
Aku bahkan tidak ikut memberikan suara karena penasihat hukum menyarankanku menghindari konflik kepentingan.
Perusahaan menunjuk direktur operasional sebagai CEO sementara.
Agar bisnis tetap berjalan, para pemegang saham menyetujui fasilitas pembiayaan baru dengan agunan aset perusahaan sendiri dan penambahan modal dari dua investor lama.
Saham Arga terdilusi.
Sahamku juga.
Aku tidak keberatan.
Untuk pertama kalinya LangkahMaju berdiri tanpa mempertaruhkan rumah peninggalan ayahku.
Selina mengembalikan sebagian pembayaran melalui penyelesaian perdata.
Perusahaannya kehilangan kontrak.
Dia juga harus menandatangani pernyataan bahwa tidak akan menggunakan atau menyimpan dokumen milikku lagi.
Setelah itu dia meninggalkan rumah di Bintaro.
Ironisnya, perempuan yang membuat Arga memintaku pergi hanya bertahan di sana kurang dari tiga minggu.
Belakangan aku tahu ayah dari bayinya adalah mantan tunangannya, Dimas.
Mereka sedang menyelesaikan persoalan mereka sendiri.
Aku tidak tertarik mencari tahu lebih jauh.
Selina bukan alasan utama pernikahanku gagal.
Dia hanya orang yang membuka pintu terakhir.
Arga-lah yang berkali-kali memilih untuk membiarkannya masuk.
Dua bulan setelah aku pergi, Arga datang lagi ke apartemenku.
Kali ini tidak membawa surat bank.
Tidak membawa formulir.
Tidak membawa Selina.
Hanya sebuah kotak kecil.
“Aku menemukan ini di rumah.”
Di dalamnya ada mug murah berwarna biru.
Hadiah darinya ketika kami baru menikah dan masih tinggal di rumah kontrakan sempit di Ciputat.
Di bawah mug itu tertulis dengan spidol yang hampir pudar:
Kalau kita belum kaya, minimal kopinya enak.
Aku tersenyum ketika melihatnya.
Arga juga tersenyum.
Lalu matanya merah.
“Aku dulu benar-benar sayang sama kamu.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Sekarang masih?”
Aku menatapnya.
“Yang paling menyakitkan bukan ketika cinta hilang.”
Dia diam.
“Tapi ketika seseorang yakin cintamu akan selalu ada, jadi dia merasa bebas memperlakukannya sesuka hati.”
Arga menunduk.
Untuk pertama kali sejak mengenalnya, tidak ada jawaban.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada kalimat bahwa aku terlalu sensitif.
Dia hanya berkata pelan, “Maaf.”
Aku percaya permintaan maaf itu tulus.
Tapi permintaan maaf yang tulus tidak selalu berarti kita harus kembali.
“Aku memaafkanmu.”
Dia mendongak.
“Tapi aku tidak mau pulang.”
Wajahnya perlahan runtuh.
Dulu mungkin aku akan merasa bersalah melihatnya seperti itu.
Sekarang tidak.
Aku tidak sedang menghukumnya.
Aku hanya berhenti menghukum diriku sendiri.
Perceraian kami resmi empat bulan kemudian.
Rumah Bintaro dijual.
Bagian hasil penjualanku kugunakan untuk membeli sebuah rumah yang jauh lebih kecil di daerah Cilandak.
Tidak ada tangga marmer.
Tidak ada ruang keluarga sebesar hotel.
Tapi jendela dapurnya menghadap pohon mangga.
Aku menyukainya sejak pertama melihat.
Enam bulan setelah perceraian, aku menjual sebagian saham LangkahMaju melalui transaksi resmi kepada investor lama.
Sebagian uangnya kusimpan.
Sebagian lagi kugunakan mendirikan firma konsultasi kecil bersama Ratih yang membantu bisnis keluarga dan startup membangun tata kelola, kontrol risiko, serta sistem keuangan.
Kami menamainya Nalar & Rekan.
Tahun pertama kami hanya punya lima karyawan.
Aku kembali mengerjakan proposal sampai tengah malam.
Kembali membawa laptop ketika makan.
Kembali panik menunggu klien pertama membayar invoice.
Bedanya, kali ini setiap malam aku tahu apa yang sedang kubangun.
Dan untuk siapa.
Suatu Jumat sore hampir setahun setelah hari aku meninggalkan rumah Bintaro, aku duduk di balkon kantor baru sambil melihat hujan turun di Jakarta.
Ratih keluar membawa dua cangkir kopi.
“Masih ingat Arga pernah bilang tiga hari?”
Aku tertawa.
“Tiga hari aku bakal balik minta diterima.”
“Terus yang datang ke apartemen hari ketiga siapa?”
Aku menerima kopi darinya.
“Arga.”
“Kebetulan sekali.”
Kami tertawa.
Di meja kerjaku, mug biru lama dari masa kontrakan masih ada.
Aku tidak membuangnya.
Bukan karena ingin kembali.
Aku menyimpannya untuk mengingat satu hal.
Bahwa perempuan yang pernah makan mi instan sambil membantu suaminya membangun perusahaan dari nol bukan perempuan lemah yang perlu diselamatkan oleh rumah besar, kartu kredit, atau nama belakang seorang laki-laki.
Dia hanya pernah lupa bahwa dirinya juga bisa membangun sesuatu untuk dirinya sendiri.
Dan ketika akhirnya aku mengingatnya kembali, aku tidak membutuhkan tiga hari untuk pulang.
Karena untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku sudah sampai di rumah.
