Part : 2 Tujuh Tahun Setelah Bercerai, Raka Membeku Saat Melihat Putri Nadira yang Wajahnya Nyaris Sama Persis Dengannya

PARTE 1 — DIA MEMILIH DOKTER MUDA ITU

“Pilih dia keluar dari bangsalmu, atau kita bercerai.”

Itulah kalimat yang kuucapkan kepada suamiku setelah hampir tiga minggu melihat pernikahan kami perlahan berubah menjadi rumah yang hanya dipenuhi dua orang asing.

Namaku Nadira Prameswari. Saat itu aku berusia tiga puluh dua tahun dan sudah menikah selama enam tahun dengan Raka Mahendra, dokter spesialis bedah toraks di sebuah rumah sakit swasta besar di Jakarta Selatan.

Kami saling mengenal sejak SMA.

Berpacaran selama empat tahun.

Menikah setelah Raka menyelesaikan pendidikan kedokterannya.

Sebelas tahun hidupku hampir selalu memiliki namanya di dalamnya.

Semuanya mulai berubah ketika suatu malam, di meja makan, Raka tiba-tiba berkata,

“Bangsal kami dapat dokter residen baru hari ini.”

Aku tetap menyendok sup.

“Laki-laki?”

“Perempuan. Namanya Maya Larasati.”

Kemudian Raka menambahkan sesuatu yang membuat tanganku berhenti.

“Dasar klinisnya masih kurang. Sepertinya aku harus banyak membimbingnya.”

Selama enam tahun menikah, puluhan dokter datang dan pergi dari departemennya.

Tak sekali pun Raka membicarakan seorang residen di rumah.

Tapi Maya berbeda.

Seminggu kemudian, Raka mulai pulang pukul sepuluh malam.

Kemudian sebelas.

Lalu hampir tengah malam.

Aku tahu pekerjaannya berat. Aku tahu operasi bisa berlangsung berjam-jam.

Namun aku juga tahu bau antiseptik rumah sakit.

Dan parfum lembut yang sesekali menempel di jasnya jelas bukan bau rumah sakit.

Suatu malam aku menemukan struk dua kopi dan dua nasi uduk di kantong mobilnya.

Pukul 06.13 pagi.

Hari lain, seorang teman yang bekerja di rumah sakit tanpa sengaja berkata,

“Dokter Raka perhatian sekali sama dokter Maya. Hampir setiap pagi dibawakan sarapan.”

Aku tidak membuat keributan.

Aku hanya mengamati.

Raka mengantar Maya pulang setelah jaga malam.

Raka membelanya ketika keluarga pasien memarahinya.

Raka bahkan membatalkan makan malam ulang tahun ibuku karena Maya mengalami masalah dengan sebuah laporan medis.

Tiga minggu setelah nama Maya pertama kali disebut di meja makan, aku menunggu Raka sampai pukul sebelas malam.

Makanan sudah dingin.

Ketika dia masuk, aku langsung berkata,

“Raka Mahendra.”

Dia berhenti.

Aku mengangkat dua jari.

“Aku kasih dua pilihan.”

“Pertama, Maya dipindahkan dan hubungan kalian kembali profesional.”

“Kedua, kita bercerai.”

Wajah Raka menegang.

Dia duduk di depanku tanpa menjawab.

Yang paling menyakitkan bukan karena dia membela Maya.

Dia bahkan tidak mencoba membantah.

Malam itu dia tidur di ruang kerja.

Menjelang subuh, aku mendengar pintunya terbuka.

Raka masuk ke kamar membawa setumpuk dokumen.

Begitu melihatnya, aku sudah tahu pilihannya.

“Dira.”

Suaranya serak.

“Aku sudah menyiapkan kesepakatan perceraian.”

Aku menatapnya.

Raka meletakkan dokumen itu di meja.

“Tiga properti kita akan menjadi milikmu.”

“Dua mobil juga.”

“Seluruh saham investasi atas namaku yang bisa dialihkan, aku serahkan.”

“Aku tidak akan meminta apa pun.”

Aku bertanya satu hal.

“Dan kamu?”

Raka terdiam beberapa detik.

Lalu menjawab,

“Aku memilih Maya.”

Sebelas tahun hubungan kami selesai dalam empat kata.

Anehnya, aku tidak menangis.

Aku membuka dokumen itu dan memeriksa semuanya.

Rumah kami di Pondok Indah.

Sebuah apartemen di Kuningan.

Satu rumah investasi di BSD.

Dua mobil.

Portofolio saham senilai miliaran rupiah.

Tidak ada yang disembunyikan.

Aku mengambil pena.

Raka tampak terkejut ketika aku langsung menandatangani.

“Kamu… benar-benar langsung tanda tangan?”

Aku menatapnya.

“Bukankah kamu sudah memilih?”

Raka mengepalkan rahang.

“Dari dulu kamu memang seperti ini, Dira.”

“Maksudmu?”

“Kamu tidak pernah memperjuangkan sesuatu.”

Dia menunjuk dokumen itu.

“Begitu kompensasinya cukup besar, kamu bisa melepaskan apa saja.”

Aku tertawa kecil.

Jadi begitulah dia melihatku.

Aku berdiri.

“Raka, sebelum kita resmi bercerai, kamu mungkin memang belum tidur dengannya.”

Dia langsung berkata,

“Memang belum.”

“Tapi kamu membelikan sarapan setiap pagi, mengantarnya pulang tengah malam, membelanya di depan semua orang, dan membuat istrimu sendiri menunggu sendirian di rumah.”

Aku menatap matanya.

“Maya tahu kamu sudah menikah?”

Raka diam.

Diamnya adalah jawaban.

Dua hari kemudian, kami mengurus perceraian melalui pengacara.

Kupikir semuanya selesai.

Ternyata tiga hari setelah dokumen ditandatangani, ibunya, Bu Ratna, memintaku bertemu di sebuah restoran Sunda di Menteng.

Begitu aku duduk, dia langsung berkata,

“Tiga rumah, dua mobil, dan saham itu terlalu banyak.”

“Kembalikan setengahnya kepada Raka.”

Aku belum sempat menjawab ketika Bu Ratna mengeluarkan sebuah map.

“Kalau kamu menolak, keluarga kami akan menuntut.”

Aku menatap dokumen di tangannya.

Lalu tersenyum.

Karena rupanya keluarga Mahendra belum memahami satu hal penting:

Sebagian besar harta yang mereka perebutkan itu bahkan tidak berasal dari Raka.

Dan ketika aku membuka map milikku sendiri, wajah Bu Ratna langsung berubah.

Yang dia lihat di halaman pertama membuat tangannya membeku di atas meja.

PARTE 2 — RAHASIA YANG TIDAK MEREKA KETAHUI

Di halaman pertama terdapat bukti transfer modal sebesar Rp4,8 miliar.

Nama pengirimnya adalah aku.

Aku mendorong map itu ke arah Bu Ratna.

“Rumah Pondok Indah dibeli setelah menikah, tapi uang muka tujuh puluh persennya berasal dari warisan ayah saya.”

Aku membalik halaman.

“Apartemen Kuningan dibeli menggunakan keuntungan investasi saya.”

Halaman berikutnya.

“Dan modal pertama yang membuat Raka bisa membeli saham itu juga berasal dari rekening saya.”

Wajah Bu Ratna berubah.

Selama bertahun-tahun keluarga Raka mengira aku hanya seorang istri yang berhenti bekerja setelah menikah.

Mereka tidak tahu bahwa sebelum menikah aku bekerja di perusahaan manajemen investasi milik pamanku.

Mereka juga tidak tahu bahwa aku masih mengelola portofolioku sendiri.

“Aku menerima apa yang Raka berikan bukan karena serakah,” kataku.

“Aku menerimanya karena sebagian besar memang berasal dari uangku.”

Bu Ratna terdiam cukup lama.

Namun sebelum pergi, dia masih berkata,

“Raka pasti suatu hari menyesali keputusan ini.”

Aku menjawab tenang,

“Itu bukan lagi urusanku.”

Perceraian resmi selesai beberapa minggu kemudian.

Maya mulai terlihat lebih sering bersama Raka.

Aku pindah dari rumah Pondok Indah dan menetap sementara di apartemen Kuningan.

Aku memblokir hampir semua akun media sosial mereka.

Aku ingin hidupku benar-benar selesai dari keluarga Mahendra.

Namun hampir enam minggu setelah perceraian, tubuhku mulai terasa aneh.

Mual setiap pagi.

Mudah lelah.

Dan satu malam, saat sedang membersihkan lemari kamar mandi, aku melihat kalender menstruasiku.

Tanganku langsung berhenti.

Aku membeli test pack di apotek yang jauh dari apartemen.

Dua garis muncul dalam waktu kurang dari satu menit.

Aku duduk di lantai kamar mandi hampir setengah jam.

Hari berikutnya aku pergi ke dokter kandungan.

“Sekitar delapan minggu,” kata dokter.

Aku menghitung mundur.

Delapan minggu.

Artinya anak ini sudah ada bahkan sebelum aku meminta cerai.

Aku memegang hasil USG dengan tangan gemetar.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian, aku menangis.

Bukan karena Raka.

Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Malam itu, aku membuka kontaknya.

Jariku hampir menekan tombol panggil.

Tepat saat itu sebuah pesan masuk dari seorang teman lama.

Dia mengirim foto dari acara rumah sakit.

Di foto itu, Maya berdiri di samping Raka.

Tangan mereka saling menggenggam.

Caption-nya berbunyi:

“Akhirnya tidak perlu bersembunyi lagi.”

Aku menatap foto itu lama.

Kemudian menghapus nomor yang hampir kuhubungi.

Beberapa bulan berikutnya aku pindah ke Bandung, dekat keluarga ibuku.

Di sana aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Aku memberinya nama Aluna.

Tahun-tahun berlalu.

Aku membangun kembali karierku.

Mendirikan firma konsultan investasi kecil.

Kemudian berkembang menjadi perusahaan pengelola aset.

Tentang Raka, aku hampir tidak pernah mencari tahu.

Aku hanya mendengar dari orang lain bahwa Maya tetap berada di sisinya.

Tujuh tahun setelah perceraian, aku akhirnya kembali menetap di Jakarta karena perusahaan membuka kantor baru.

Suatu Sabtu sore, aku membawa Aluna ke sebuah toko buku di kawasan Senayan.

Aku sedang memilih buku ketika seseorang memanggil namaku.

“Nadira?”

Suara itu tidak berubah.

Aku menoleh.

Raka berdiri beberapa meter dariku.

Maya ada di sampingnya.

Tujuh tahun.

Dan perempuan yang pernah dia pilih masih bersamanya.

Namun Raka sama sekali tidak melihatku lagi.

Tatapannya jatuh pada Aluna.

Anakku sedang berdiri di sampingku sambil memegang buku cerita.

Dia mengangkat wajah.

“Bunda, siapa Om itu?”

Wajah Raka seketika kehilangan warna.

Karena semakin lama dia menatap Aluna, semakin jelas sesuatu yang tak mungkin disangkal.

Mata itu.

Hidung itu.

Bentuk rahang itu.

Bahkan cara Aluna mengernyit saat kebingungan.

Semuanya seperti versi kecil dirinya sendiri.

Raka melangkah maju.

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Dira…”

“Anak ini…”

Aku belum menjawab.

Tetapi kemudian dia menanyakan satu pertanyaan yang membuat Maya langsung melepaskan lengannya.

“Aluna… lahir berapa bulan setelah kita bercerai?”

PARTE 3 — TUJUH TAHUN TERLAMBAT

Aku tahu pertanyaan itu akan datang.

Hanya saja aku tidak menyangka harus menjawabnya di tengah toko buku, tujuh tahun setelah semuanya berakhir.

Aku menggenggam tangan Aluna.

“Sayang, lihat buku di sana sebentar sama Tante Sari.”

Asistenku membawa Aluna beberapa meter menjauh.

Begitu kami bertiga tinggal berdiri berhadapan, Raka mengulangi pertanyaannya.

“Berapa bulan setelah perceraian kita dia lahir?”

“Sekitar tujuh bulan.”

Raka membeku.

Maya menatapku, kemudian menatap Raka.

“Artinya…”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Wajah Raka memucat.

“Dia anakku?”

“Secara biologis, iya.”

Raka mengangkat kedua tangannya ke kepala seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang terlalu besar untuk diterima sekaligus.

“Kamu tahu sejak kapan?”

“Beberapa minggu setelah perceraian.”

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Aku menatapnya lama.

Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana.

Seolah tujuh tahun bisa dijelaskan hanya dengan satu jawaban.

“Aku hampir meneleponmu malam setelah dokter memastikan kehamilanku.”

“Lalu?”

“Aku melihat fotomu dengan Maya.”

Raka terdiam.

“Ada tulisan bahwa kalian akhirnya tidak perlu bersembunyi lagi.”

Aku tersenyum tipis.

“Jadi aku pikir kalian sudah mendapatkan kehidupan yang kalian pilih.”

Raka menggeleng cepat.

“Tapi dia anakku, Dira.”

“Dan aku tidak pernah melarangmu menjadi ayahnya.”

“Kamu bahkan tidak memberitahuku!”

Untuk pertama kalinya suaranya meninggi.

Beberapa orang mulai melihat.

Aku tetap tenang.

“Raka, ingat baik-baik malam terakhir kita.”

“Kamu datang membawa dokumen.”

“Kamu mengatakan tiga rumah, dua mobil, dan semua saham menjadi milikku.”

“Lalu ketika aku bertanya apa yang kamu pilih, kamu mengatakan Maya.”

Raka membuka mulut.

Tidak ada kata yang keluar.

“Aku tidak mengusirmu,” lanjutku.

“Aku tidak memaksa kamu pergi.”

“Aku memberimu pilihan.”

“Dan kamu memilih.”

Maya akhirnya berkata,

“Raka, mungkin kita sebaiknya bicara di tempat lain.”

Raka bahkan tidak menoleh kepadanya.

Tatapannya tetap pada Aluna.

Anak itu sedang tertawa kecil saat membuka buku bergambar.

Ekspresi Raka berubah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tujuh tahun lalu tidak pernah muncul di wajahnya.

Penyesalan.

“Dia suka apa?” tanyanya pelan.

Aku terdiam.

“Aluna?”

Dia mengangguk.

“Suka menggambar. Suka astronomi. Tidak suka pepaya. Takut suara petir tapi pura-pura berani.”

Raka tersenyum kecil.

Matanya memerah.

“Aku juga tidak suka pepaya.”

Aku tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian dia bertanya,

“Boleh aku bicara dengannya?”

Aku memandang Aluna.

Keputusan itu bukan lagi hanya tentang aku.

Akhirnya aku memanggilnya.

Aluna berjalan mendekat.

Raka berjongkok agar sejajar dengannya.

“Halo, Aluna.”

“Halo, Om.”

Satu kata itu jelas menusuknya.

Om.

Bukan Ayah.

Raka menarik napas.

“Kamu suka buku tentang planet?”

Aluna menunjukkan sampul di tangannya.

“Aku mau beli yang tentang Saturnus.”

“Kenapa Saturnus?”

“Karena cincincinnya cantik.”

Raka tertawa kecil.

Kemudian tertawa itu berubah menjadi napas panjang yang bergetar.

Aluna menatapku bingung.

“Bunda, Om ini kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Aku mengusap rambutnya.

Maya sejak tadi berdiri agak jauh.

Akhirnya dia berkata kepadaku,

“Aku minta maaf.”

Raka menoleh.

Aku juga.

Maya menunduk.

“Aku tahu dia sudah menikah.”

Pengakuan itu sebenarnya tidak lagi mengejutkanku.

“Aku tahu,” jawabku.

Maya terlihat terkejut.

“Tujuh tahun lalu aku bertanya langsung kepada Raka.”

Aku menatapnya.

“Diamnya sudah cukup.”

Maya menarik napas.

“Aku pikir saat itu pernikahan kalian memang sudah selesai.”

“Belum.”

“Aku tahu sekarang.”

Aku tidak marah.

Kemarahanku sudah habis bertahun-tahun lalu.

Beberapa luka tidak sembuh karena orang yang menyebabkannya meminta maaf.

Mereka sembuh karena kita berhenti membiarkan luka itu menentukan hidup kita.

Hari itu kami berpisah tanpa keputusan besar.

Namun tiga hari kemudian Raka menghubungiku melalui email perusahaan.

Dia tidak meminta kami kembali.

Dia hanya meminta satu hal.

Kesempatan mengenal Aluna.

Aku berkonsultasi dengan pengacara dan psikolog anak terlebih dahulu.

Kemudian aku berbicara dengan Aluna.

Aku menjelaskan bahwa Raka adalah ayah biologisnya.

Dia terdiam cukup lama.

Lalu bertanya,

“Kalau dia ayahku, kenapa selama ini dia tidak pernah datang?”

Aku tidak sanggup berbohong.

“Karena dia tidak tahu kamu ada.”

“Kenapa Bunda tidak bilang?”

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada pertanyaan Raka.

Aku memeluknya.

“Karena waktu itu Bunda sedang terluka dan membuat keputusan yang menurut Bunda paling aman.”

Aluna mengangguk meski mungkin belum sepenuhnya memahami.

Pertemuan pertama mereka berlangsung di sebuah kafe keluarga.

Raka datang setengah jam lebih awal.

Dia membawa ensiklopedia astronomi.

Aluna menerimanya tetapi tidak langsung memanggilnya Ayah.

Pertemuan kedua, mereka pergi ke planetarium bersama.

Pertemuan ketiga, Raka mengajarinya menggunakan stetoskop.

Hubungan tidak tiba-tiba menjadi sempurna.

Tujuh tahun tidak bisa diganti dengan tujuh kali pertemuan.

Suatu malam, setelah mengantar Aluna pulang, Raka berdiri cukup lama di depan pintu rumahku.

“Dira.”

Aku menoleh.

“Aku dulu benar-benar bodoh.”

Aku tidak menjawab.

Dia tertawa pahit.

“Aku merasa menjadi orang baik hanya karena tidak tidur dengan Maya sebelum kita resmi bercerai.”

“Tapi aku baru sadar aku sudah meninggalkan pernikahan kita jauh sebelum menandatangani surat itu.”

Aku menyilangkan tangan.

Raka menatap lantai.

“Kamu benar.”

“Aku membelikan dia sarapan.”

“Mengantarnya pulang.”

“Membela dia.”

“Mendengarkan semua masalahnya.”

“Kemudian pulang dan menganggap kamu akan tetap ada.”

Dia mengangkat wajah.

“Aku memberikan bagian terbaik dari diriku kepada perempuan lain, lalu mengatakan kepada istriku bahwa aku belum berselingkuh.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa dia akhirnya memahami alasan pernikahan kami berakhir.

Bukan karena satu malam.

Bukan karena satu sentuhan.

Melainkan karena seribu keputusan kecil yang selalu memilih orang lain.

“Aku tidak membutuhkan permintaan maaf itu lagi, Raka.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu mengatakannya?”

“Karena kamu tetap pantas mendengarnya.”

Aku mengangguk.

Raka lalu bertanya,

“Kalau waktu bisa diputar kembali… apakah masih ada kemungkinan untuk kita?”

Aku tersenyum.

Bukan mengejek.

Bukan pula marah.

Hanya karena jawabannya sangat sederhana.

“Tidak.”

Matanya meredup.

“Aku sudah memaafkanmu.”

Aku menunjuk rumah di belakangku.

“Aku punya kehidupan yang baik sekarang.”

“Aluna bahagia.”

“Aku bahagia.”

“Memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberinya kembali tempat yang dulu dia buang sendiri.”

Raka tidak membantah.

Beberapa bulan kemudian aku mengetahui bahwa hubungan Raka dan Maya juga berakhir.

Bukan karena aku.

Bukan pula karena Aluna.

Maya mendapat fellowship di Singapura dan memilih pergi.

Mereka akhirnya menyadari bahwa hubungan yang dulu terasa begitu mendesak ternyata tidak cukup kuat untuk membuat salah satu dari mereka mengorbankan masa depan lagi.

Aku tidak merasa menang.

Aku juga tidak merasa puas.

Karena hidup bukan perlombaan tentang siapa yang akhirnya paling menderita.

Yang berubah adalah Raka.

Dia mulai hadir untuk Aluna secara konsisten.

Ulang tahun.

Pertunjukan sekolah.

Pertemuan dengan guru.

Hari ketika Aluna sakit demam.

Dia tidak pernah lagi menuntut dipanggil Ayah.

Dia menunggu.

Hampir setahun setelah mereka bertemu, kami menghadiri acara sekolah Aluna.

Setelah penampilan selesai, anak-anak berlari mencari keluarga masing-masing.

Aluna melihatku lebih dulu.

Kemudian melihat Raka.

Dia berlari melewati kursi-kursi.

“Ayah!”

Raka berdiri membeku.

Persis seperti hari pertama dia melihat Aluna di toko buku.

Namun kali ini bukan karena keterkejutan.

Matanya langsung dipenuhi air.

Aluna memeluk pinggangnya.

“Ayah lihat aku tadi?”

Raka berjongkok dan memeluknya erat.

“Lihat.”

Suaranya bergetar.

“Ayah lihat semuanya.”

Aku berdiri beberapa meter dari mereka.

Tidak cemburu.

Tidak sedih.

Aku justru merasa lega.

Raka kehilangan kesempatan menjadi suamiku karena pilihannya sendiri.

Tetapi setidaknya dia tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua untuk menjadi ayah bagi putrinya.

Saat hendak pulang, dia menghampiriku.

“Terima kasih.”

Aku tersenyum.

“Jangan berterima kasih kepadaku.”

Aku melihat Aluna yang sedang menunggu di dekat pintu.

“Terima kasihlah kepada anakmu karena dia masih mau membuka pintu.”

Malam itu, ketika aku menyetir pulang bersama Aluna, dia tertidur di kursi belakang sambil memeluk buku astronomi pemberian Raka.

Lampu Jakarta bergerak cepat di balik kaca.

Untuk sesaat aku teringat perempuan berusia tiga puluh dua tahun yang dulu duduk sendirian di meja makan, menunggu suaminya pulang hampir tengah malam.

Perempuan itu mengira perceraian adalah akhir hidupnya.

Ternyata bukan.

Kadang-kadang seseorang meninggalkan kita karena mengira ada kehidupan yang lebih indah di tempat lain.

Kita tidak perlu mengejarnya.

Tidak perlu memohon.

Tidak perlu menghancurkan diri untuk membuktikan bahwa kita layak dipilih.

Karena kehilangan terbesar bukan ketika seseorang memilih meninggalkan kita.

Kehilangan terbesar adalah ketika kita terus menunggu orang yang sudah memilih pergi.

Dan tujuh tahun kemudian, Raka akhirnya memahami sesuatu yang dulu terlalu terlambat untuk dia lihat:

Tiga rumah, dua mobil, dan seluruh sahamnya memang bisa dia berikan kepadaku.

Tapi ada tujuh tahun pertama kehidupan putrinya yang tidak akan pernah bisa dia beli kembali dengan uang sebanyak apa pun.