“Mengapa kamu pergi ke hutan setiap dini hari?”
Selama beberapa minggu, pertanyaan itu terus berputar di pikiran Renato Pratama.
Setiap pukul empat pagi, sebelum matahari terbit, istrinya, Lorna, diam-diam bangun.
Dia mengenakan pakaian dengan tenang.
Mengambil sebuah keranjang kecil.
Lalu keluar rumah tanpa membangunkannya.
Awalnya, Renato tidak terlalu memikirkannya.
Dia mengira istrinya hanya pergi mencari sayuran atau mengumpulkan kayu bakar.
Namun, dia mulai menyadari bahwa hal itu hampir dilakukan setiap hari.
Kadang-kadang, Lorna pulang dengan ujung bajunya penuh lumpur.
Kadang ada goresan kecil di lengannya.
Dan terkadang—
ada air mata di matanya.
“Lorna, kamu dari mana?”
“Dari hutan.”
“Apa yang kamu lakukan di sana?”
“Aku hanya mengunjungi seseorang.”
“Siapa?”
Istrinya tiba-tiba terdiam.
“Tidak ada.”
Itulah pertama kalinya Renato merasa gelisah.
Mereka sudah menikah selama lima belas tahun.
Mereka memiliki dua orang anak.
Kehidupan mereka sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Barat.
Renato bekerja sebagai mekanik.
Sedangkan Lorna membuat kue tradisional dan menjualnya di pasar.
Mereka tidak kaya.
Tetapi hubungan mereka selalu baik.
Atau setidaknya, itulah yang selama ini dia pikirkan.
Sampai rahasia tentang perjalanan ke hutan itu muncul.
Suatu malam, Renato mendengar Lorna sedang berbicara melalui telepon.
“Besok aku datang lagi.”
Hening.
“Iya, aku bawa obat.”
Hening lagi.
“Jangan keluar. Nanti ada yang melihat.”
Renato membeku di balik pintu.
Obat?
Jangan keluar?
Siapa yang disembunyikan istrinya?
Keesokan harinya, dia membuat keputusan.
Dia akan mengikuti Lorna.
Sekitar pukul empat pagi, dia mendengar istrinya bangun.
Dia berpura-pura masih tidur.
Lorna keluar membawa keranjang.
Beberapa menit kemudian, Renato diam-diam mengikutinya.
Suasana masih gelap.
Kabut tipis menyelimuti pepohonan.
Jalannya sempit.
Dan semakin jauh istrinya masuk ke dalam hutan, semakin cepat jantung Renato berdetak.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini, Lorna?”
Bisiknya pelan.
Istrinya berhenti di dekat sebuah pohon beringin besar.
Renato mengira perjalanan itu akan berakhir di sana.
Namun, Lorna berbelok menuju jalan kecil yang hampir tersembunyi.
Dia terus mengikutinya.
Setelah berjalan hampir dua puluh menit, dia melihat sebuah pondok kecil.
Terbuat dari bambu.
Dengan atap seng tua.
Hampir tidak terlihat dari jalur utama.
Lorna berhenti di depan pondok itu.
Dia mengetuk pintu tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu terbuka.
Seorang pria keluar.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya panjang.
Lengannya diperban.
Dada Renato terasa seperti meledak.
Seorang pria.
Istrinya menyembunyikan seorang pria lain.
Tangannya mengepal erat.
Dia tidak mampu menahan diri lagi.
“LORNA!”
Cerita lengkapnya ada di kolom komentar.
Suara bentakan itu membelah halimun subuh dengan kasar. Burung-burung malam yang baru hinggap di dahan trembesi buyar, mengepakkan sayap panik menerobos dedaunan basah.
Lorna terlonjak kaget sampai keranjang bambu di tangannya terlepas, berguling di tanah gembur. Dua bungkus daun pisang berisi nasi timbel dan sebotol antiseptik menggelinding ke dekat akar pohon pakis.
“Renato?!”
Wajah Lorna seketika memutih, mematung di undakan tanah depan pintu pondok bambu. Sementara pria kurus berperban itu refleks mundur ke kegelapan gubuk, tubuhnya limbung seperti mau tumbang karena kaget mendengar bentakan keras tadi.
Darah di kepala Renato mendidih sampai ke ubun-ubun. Lima belas tahun pernikahan, lima belas tahun dia banting tulang dengan tangan belepotan oli bekas sampai kuku-kukunya menghitam permanen di bengkel motor, dan ini balasannya? Seorang pria di tengah rimba pinus yang bahkan tidak ada di peta desa?
Langkah kaki Renato menginjak semak belukar dengan geram, melompat maju berniat menarik kerah pria di balik pintu itu.
“Siapa bajingan ini, Lorna?! Jawab aku! Siapa dia?!” teriak Renato, tangannya sudah terangkat mengepal.
“Kang, jangan! Demi Allah, jangan!”
Lorna menubruk tubuh Renato, memeluk pinggang suaminya sekuat tenaga. Air matanya seketika tumpah membasahi jaket parasut dekil milik Renato. “Dengerin aku dulu, Kang! Dia bukan siapa-siapa yang kamu pikirin! Dia adikku! Dia Bayu!”
Kepalan tangan Renato menggantung kaku di udara tipis berembun.
Suasana mendadak senyap, menyisakan deru napas Renato yang memburu dan isakan tertahan Lorna.
“Bayu…?” gumam Renato. Kerutan di dahinya bertambah dalam, rasa marahnya mendadak terbentur kebingungan yang pekat. “Bayu… adik kandungmu yang kata ibumu kabur ke Malaysia delapan tahun lalu karena bawa lari uang koperasi?!”
Dari dalam kegelapan gubuk berlantai tanah itu, pria kurus itu melangkah keluar perlahan, bersandar pada kusen bambu yang rapuh. Wajahnya cekung, tulang pipinya menonjol tajam di bawah kulit yang pucat kekurangan sinar matahari. Di bawah pelipis kirinya, ada bekas luka goresan panjang yang belum kering benar.
Pria itu menatap Renato dengan pandangan takut campur malu yang luar biasa, kedua tangannya yang kurus gemetar di samping tubuhnya yang bungkuk.
“Kang Renato…” bisik pria itu parau. Suaranya serak, seperti tenggorokan yang terbiasa menelan debu dan air mentah. “Maafkan saya… gara-gara saya, Akang salah paham sama Teh Lorna…”
Renato menurunkan tangannya perlahan. Bau di sekitar gubuk itu menusuk hidungnya: bau nanah dari perban basah, rebusan daun sambiloto, dan apeknya kasur kapuk yang lembap terkena tempias hujan hutan.
“Masuk dulu, Kang,” pinta Lorna tersedu-sedu, jemarinya yang dingin mencengkeram lengan jaket Renato. “Jangan ribut di luar. Takut ada anjing pemburu lewat atau orang kebun yang dengar.”
Renato melangkah masuk melewati pintu bambu yang sempit dengan rasa linglung yang menindih dadanya.
Di dalam gubuk berukuran tiga kali empat meter itu, tidak ada perabotan mewah hasil perselingkuhan. Hanya ada sehelai terpal biru sebagai alas tidur di atas tanah liat, sebuah kompor minyak tanah bersumbu tiga yang hampir habis apinya, tumpukan daun pisang bekas bungkus makanan, dan seember air rembesan mata air yang keruh.
Di sudut gubuk, di atas kardus mi instan yang dipipihkan, tergeletak tumpukan berkas fotokopi berkancing map plastik transparan yang bagian ujungnya sudah kotor kena lumpur.
Renato duduk di atas balok kayu lapuk, matanya menatap Bayu yang duduk bersila dengan kepala menunduk dalam-dalam. Pemuda yang dulu diingat Renato bertubuh gempal dan suka bercanda saat pacaran dengan Lorna lima belas tahun lalu itu kini tampak seperti seonggok tulang terbungkus kulit kering berumur empat puluh tahun, padahal usianya belum genap tiga puluh.
“Jelaskan semuanya, Lorna. Dari awal,” kata Renato, suaranya berat dan bergetar, berusaha menguasai detak jantungnya yang masih berdegup kencang.
Lorna memungut botol obat dan bungkusan nasi yang tadi jatuh di luar, menyekanya dengan ujung daster, lalu meletakkannya di dekat kaki adiknya. Dia duduk di tanah, di samping lutut suaminya, air matanya tak kunjung reda.
“Bayu nggak pernah ke Malaysia, Kang,” bisik Lorna, tangannya gemetar memilin ujung kain jariknya. “Ibu bohong waktu itu… Ibu yang nyuruh Bayu kabur dari kota.”
“Bohong kenapa?!”
Bayu yang menjawab, suaranya bergetar menahan tangis yang sudah tertahan bertahun-tahun.
“Delapan tahun lalu… waktu saya kerja jadi sopir di pabrik tekstil milik Pak Hendra di Majalaya, Kang. Malam itu ada kebakaran besar di gudang bahan baku barat. Bos bilang ada korsleting. Tapi sebenarnya… saya lihat sendiri anak laki-lakinya Pak Hendra, si Dion, yang nyiram tiner ke tumpukan kain katun impor. Mereka sengaja bakar gudang itu buat klaim asuransi kebakaran dua puluh lima miliar rupiah.”
Napas Renato tertahan di tenggorokan. Sebagai mantan mekanik yang pernah bolak-balik memperbaiki armada pikap pabrik itu, dia ingat betul berita kebakaran dahsyat yang sempat melumpuhkan kawasan industri itu dan menewaskan dua orang satpam malam yang terjebak di ruang loker.
“Kenapa kamu nggak lapor polisi waktu itu, Bayu?!”
“Gimana mau lapor, Kang?” Bayu mengangkat kepalanya, matanya merah menyala penuh kepedihan lama. “Malam itu juga, Dion sadar kalau saya ngeliat dia keluar dari pintu darurat. Paginya, saya langsung dituduh komplotan maling kain yang sengaja nyalakan api. Rumah kontrakan saya didatangi preman-preman sewaan keluarganya Pak Hendra. Ibu diancam… mereka bilang kalau saya buka mulut ke penyidik asuransi atau polisi, rumah kita bakal dibakar bareng Ibu dan Teteh di dalamnya.”
Lorna menyandarkan kepalanya di paha Renato, bahunya berguncang hebat.
“Ibu panik waktu itu, Kang. Ibu jual sawah warisan satu-satunya buat ngongkosi Bayu lari ke pedalaman Sumatra. Selama bertahun-tahun Bayu jadi buruh serabutan di perkebunan sawit terpencil di Riau, nggak berani pegang KTP, nggak berani nelpon kita. Tapi sebulan lalu…”
“Sebulan lalu kenapa?” desak Renato, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.
“Pak Hendra mencalonkan diri jadi bupati di kota sebelah,” sahut Bayu sambil meringis pelan, memegangi lengan kirinya yang dibalut perban kain putih berbercak darah kering. “Tim suksesnya mulai bersih-bersih jejak lama. Entah dari mana mereka tahu saya kerja di perkebunan sawit itu. Tiga minggu lalu, dua orang suruhan mereka nyerang bedeng saya di Riau malam-malam, bawa parang. Saya lolos lewat rawa-rawa, lompat ke bak truk sayur yang jalan ke Jawa. Tangan saya kena sabetan waktu nahan pintu.”
Bayu menunjuk perban di lengannya.
“Saya nggak tahu harus lari ke mana lagi, Kang. Rumah Ibu di kampung sudah dijual waktu Ibu meninggal dua tahun lalu. Saya cuma ingat Teteh tinggal di kaki bukit ini. Saya nemu gubuk terbengkalai ini waktu jalan kaki dari stasiun kereta api malam-malam. Saya cuma bisa nelpon Teteh dari telepon umum di pasar subuh… minta dibawain perban sama obat merah biar tangan saya nggak busuk kena tetanus.”
Renato menatap Lorna. Wajah istrinya yang selama ini dia anggap ceria menyembunyikan beban rahasia sebesar gunung yang dipikulnya sendirian setiap pagi buta, berjalan menembus kabut hutan pinus demi memberi makan adik kandungnya yang sekarat di sarang persembunyian.
“Kenapa kamu nggak cerita sama aku, Lorna?” tanya Renato, suaranya pecah, rasa bersalah yang teramat besar mendadak menghantam dadanya sendiri. “Kenapa kamu tanggung semuanya sendirian? Kamu anggap aku ini orang asing di rumah kita?”
Lorna mendongak, matanya yang sembap menatap Renato penuh cinta yang putus asa.
“Aku takut, Kang… Demi Tuhan, aku takut sekali. Pak Hendra itu orang kaya raya, punya kenalan pejabat dan polisi di mana-mana. Kalau mereka tahu Akang ikut campur, bengkel Akang bisa dibakar. Anak-anak kita, Rizky sama Nisa… mereka masih kecil-kecil, Kang! Aku nggak mau kalian ikut celaka gara-gara masalah masa lalu keluargaku!”
Renato menghela napas panjang. Sangat panjang. Ditariknya tubuh Lorna ke dalam pelukannya, merengkuh kepala istrinya yang beraroma keringat dan uap gula kue kukus.
Rasa cemburu butanya tadi kini berganti menjadi rasa jijik pada dirinya sendiri yang sempat meragukan kesetiaan wanita yang telah menemaninya tidur di atas kasur tipis selama lima belas tahun tanpa pernah mengeluh soal uang belanja.
“Kamu bodoh, Lorna,” bisik Renato di puncak kepala istrinya, air mata hangat menetes di pipinya yang kasar. “Keluargamu itu keluargaku juga. Kalau tangan adikmu berdarah, itu urusan kita berdua. Kamu nggak boleh sembunyi-sembunyi kayak maling di tanah kelahiranmu sendiri.”
Renato bangkit berdiri. Dia melangkah mendekati Bayu, memeriksa ikatan perban di lengannya. Sebagai montir yang terbiasa menangani luka bakar knalpot dan sayatan pelat besi tebal, dia tahu betul luka itu sudah mulai infeksi parah. Kulit di sekitar jahitan daruratnya berwarna merah marun kehitaman dan mengeluarkan hawa panas menyengat.
“Luka ini nggak bisa cuma dikasih obat merah warung, Bayu,” kata Renato tegas. “Harus dibersihkan pakai antibiotik dosis tinggi dan dijahit ulang di puskesmas sebelum jaringan ototmu membusuk.”
“Nggak bisa ke klinik, Kang!” Bayu panik, mencoba menarik tangannya mundur. “Orang-orangnya Pak Hendra nyebar foto saya di pangkalan ojek dan polsek kecamatan! Ada hadiah uang sepuluh juta buat siapa saja yang nemu saya!”
Renato melirik tumpukan map plastik di sudut gubuk. “Di dalam map itu ada apa?”
“Semua bukti, Kang,” Bayu menelan ludah. “Kwitansi pembayaran pembelian jeriken tiner lima puluh liter bertanda tangan Dion di toko cat Subur Jaya sebelum kebakaran, rekaman suara telepon dia waktu nyuruh saya datang terlambat ke gudang malam itu, sama salinan polis asuransi yang sengaja dia tinggalin di laci pikap kantor. Saya simpan semuanya di dalam tabung plastik kedap air waktu kabur ke Sumatra dulu.”
Mata Renato menyipit tajam. Otak mekaniknya yang terbiasa memecahkan masalah mesin mogok mulai merangkai rencana dingin.
“Pagi ini jam delapan,” kata Renato sambil melirik jam tangan karetnya yang sudah retak kacanya, “Pak Hendra ada jadwal kampanye dialogis di balai desa ujung jalan raya, kan? Dia bawa rombongan wartawan dari Bandung buat pencitraan calon bupati merakyat.”
Lorna menatap suaminya dengan mata membelalak cemas. “Kang Renato… kamu mau ngapain?!”
“Kita nggak akan sembunyi lagi di hutan ini kayak tikus tanah, Lorna,” jawab Renato tenang, sebuah ketegasan seorang kepala keluarga yang telah mengambil alih kendali hidupnya kembali. “Hari ini kita selesaikan hutang masa lalu ini sampai ke akar-akarnya.”
Pukul sembilan pagi di Balai Desa Sukamaju.
Tenda-tenda berhias kain merah putih terpasang megah di halaman kantor desa yang luas. Tiga unit mobil Toyota Alphard hitam mengilat terparkir di dekat panggung utama, dikelilingi oleh belasan pria tegap berbadan kekar yang mengenakan kemeja batik seragam dengan pin kampanye berlambang padi dan kapas.
Pak Hendra, pria paruh baya bertubuh tambun dengan senyum politik yang licin dan peci hitam beludru mentereng, sedang berdiri di depan mimbar berhias bunga sedap malam. Di sampingnya berdiri Dion, anak sulungnya yang kini menjabat sebagai direktur utama holding perusahaan keluarga, mengenakan kemeja linen putih mahal dengan jam tangan Swiss berkilau di pergelangan tangannya.
Puluhan wartawan lokal dan regional berebut mengarahkan lensa kamera dan pelantang suara ke arah panggung, meliput pidato sang calon bupati tentang ‘revolusi transparansi dan perlindungan hukum bagi kaum buruh kecil’.
“…maka dari itu, saudara-saudara sekalian!” suara Pak Hendra menggelegar lewat pelantang suara panggung berkekuatan ribuan watt. “Jika saya diberi amanah memimpin daerah ini, tidak ada lagi pengusaha culas yang menindas hak-hak pekerja! Hukum akan berdiri tegak tanpa pandang bulu—”
Brummm… ckiittt!
Suara deru knalpot motor pikap roda tiga pengangkut onderdil bekas yang memekakkan telinga memotong pidato itu dengan kasar.
Motor roda tiga tua bermerek Tossa berwarna hijau kusam milik bengkel Renato menerobos masuk melewati gerbang bambu balai desa, mengabaikan lambaian panik dua orang hansip jaga, lalu berhenti mendadak tepat di samping karpet merah yang membentang menuju tangga panggung.
Asap knalpot putih mengepul tipis di udara pagi yang panas.
“Woy! Siapa itu?! Usir mobil rongsokan itu dari depan panggung!” teriak salah satu ketua tim sukses dari atas panggung, melambaikan tangan dengan panik ke arah petugas keamanan bertubuh kekar.
Renato turun dari jok kemudi motor roda tiga itu. Dia masih mengenakan celana jins belel penuh noda gemuk pelumas mesin, kaus oblong abu-abu berleher melar, dan sepatu bot karet tukang bengkel. Wajahnya tenang, dingin, tanpa ada sebersit pun keraguan di matanya.
Empat orang centeng berbadan tegap langsung melangkah maju mengepung motor Renato, tangan mereka sudah meraba pinggang yang menyembul di balik lipatan kemeja batik.
“Mau cari mati lu, Tukang Bengkel?! Mundurin motor lu sekarang juga sebelum gue hancurin kepalamu!” bentak centeng terdepan yang memiliki tato tribal di leher kirinya.
Renato tidak bergeser satu senti pun. Tangannya justru meraih kait terpal penutup bak belakang motor roda tiganya, lalu menyentakkannya ke bawah dengan satu gerakan mantap.
Di atas bak motor beralas kardus bekas, Bayu duduk bersandar pada dinding besi. Lengannya masih terbebat kain perban putih yang baru saja diganti kassa steril oleh bidan desa kenalan Renato setengah jam lalu. Di sampingnya, Lorna berdiri memegangi pundak adiknya dengan kedua tangan yang kokoh, menatap lurus ke arah panggung utama tanpa menundukkan kepalanya lagi.
Mata Dion di atas panggung membelalak liar. Seluruh warna darah di wajah anak juragan pabrik itu mendadak surut, memutih seperti dinding kapur. Cangkir air mineral di genggamannya terlepas, jatuh membentur lantai panggung dengan bunyi pelan.
“B-Bayu…?!” desis Dion tanpa sadar, suaranya bocor masuk ke mikrofon yang masih menyala di depannya, menimbulkan suara dengung melengking yang memecah keheningan lapangan: ngiiiiing!
Seluruh pasang mata—para wartawan, camat, kepala desa, dan ratusan warga yang hadir—seketika menoleh ke arah bak motor roda tiga tua itu.
Renato melangkah menaiki tangga panggung dengan membawa map plastik transparan di tangan kanannya. Dua centeng mencoba menghadangnya di undakan ketiga, namun sebelum tangan mereka menyentuh kain kaus Renato, suara lantang dari barisan belakang tenda menghentikan mereka di tempat.
“JANGAN BERGERAK! TIM KHUSUS RESERSE KRIMINAL POLDA JAWA BARAT!”
Tiga pria berpakaian kemeja safari gelap dan seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar melangkah cepat membelah kerumunan warga, memperlihatkan lencana dinas dan surat perintah penyelidikan terbuka berkop lambang Garuda emas di tangan mereka.
AKBP Wahyu, perwira senior reserse yang dulunya adalah mantan rekan seangkatan mendiang ayah Renato di korps kepolisian daerah, berjalan tenang menaiki panggung di samping Renato.
“Pak Hendra, Saudara Dion,” suara perwira itu terdengar dingin dan berwibawa melalui pengeras suara cadangan di samping meja panitia. “Berdasarkan laporan bukti digital dan fisik baru terkait kasus kebakaran berencana dan pembunuhan dua orang petugas keamanan gudang tekstil Majalaya tahun 2018 yang diserahkan langsung oleh saksi kunci Bayu Utama ke SPKT Polda tadi pagi jam tujuh… kami meminta Anda berdua ikut ke markas besar untuk pemeriksaan lanjutan.”
Gedung balai desa mendadak meledak dalam kekacauan.
Puluhan kilatan lampu kamera wartawan menyala bertubi-tubi tanpa henti. Mikrofon dan lensa kamera berdesakan mengarah ke wajah Dion yang kini gemetaran hebat di samping ayahnya, tangannya basah oleh keringat dingin yang menetes membasahi kemeja linen mewahnya.
“Ini fitnah! Ini konspirasi politik lawan pilkada!” raung Pak Hendra panik, mencoba menarik lengan putranya ke arah pintu belakang panggung. “Orang itu mantan sopir pencuri yang sudah delapan tahun jadi buronan! Pengacara saya akan menuntut kalian semua—”
Renato melangkah maju satu langkah, menaruh map plastik transparan itu tepat di atas mimbar podium pidato di hadapan puluhan wartawan yang merekam secara langsung.
“Kwitansi toko cat Subur Jaya tanggal empat belas November 2018 jam delapan malam, Pak Hendra,” kata Renato, suaranya jernih memantul di pelantang suara panggung, memotong kepanikan sang juragan pabrik. “Dua jam sebelum gudangmu terbakar dan menewaskan dua orang ayah yang sedang berjaga malam demi mencari sesuap nasi buat anak-anaknya. Tanda tangan anakmu ada di lembar kedua. Dan rekaman suara di dalam flashdisk ini… ada suara Dion yang memerintahkan centeng bayaran kalian buat menghabisi adik istri saya di pondok hutan pinus tadi malam.”
Wajah Pak Hendra seketika runtuh total. Seluruh kesombongan, uang miliaran rupiah, dan ambisi kursi bupati yang selama bertahun-tahun ia bangun di atas penderitaan orang kecil lenyap tanpa sisa dalam hitungan menit di bawah sorot kamera media nasional yang menyiarkannya secara langsung ke seluruh pelosok negeri.
Dua petugas kepolisian langsung melangkah maju, memasang borgol baja ke kedua pergelangan tangan Dion dan Pak Hendra dengan bunyi klik-klik yang dingin dan final.
Di bawah panggung, di atas bak motor roda tiga yang sederhana, Bayu menatap sosok Dion yang diseret melewati karpet merah dengan kepala tertunduk lesu diiringi cemoohan dan teriakan amarah dari ratusan warga desa.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun pelarian di bawah bayang-bayang ketakutan, pemuda itu menarik napas panjang. Sangat panjang. Udara pagi pegunungan yang bersih mengisi rongga dadanya tanpa ada lagi rasa sesak, tanpa ada lagi ketakutan bahwa malam nanti dia akan dibantai dalam tidur di gubuk persembunyian.
Lorna memeluk pundak adiknya erat-erat, air matanya kini mengalir bukan karena teror, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga kepada semesta yang akhirnya memulihkan kebenaran yang sempat terinjak-injak selama hampir satu dekade.
Enam bulan berlalu.
Aroma harum pandan dan gula aren mendidih mengepul hangat dari dapur belakang rumah sederhana Renato di pinggir jalan desa Sukamaju.
Sebuah spanduk kain baru berwarna kuning cerah terpasang rapi di atas teras bengkel motor di samping rumah:
BENGKEL MOTOR & KUE TRADISIONAL BERKAH MORALES Servis Mesin, Ganti Oli, & Pesanan Aneka Kue Basah
Renato sedang berjongkok di dekat kompresor angin, mengencangkan baut roda belakang motor bebek milik tetangga dengan kunci pas nomor empat belas. Tangannya masih sama seperti dulu—hitam oleh noda oli bekas dan penuh parut luka kerja kasar—tapi di sudut matanya tidak ada lagi guratan kecurigaan yang menyiksa jiwa.
Di sampingnya, Bayu yang kini sudah mengenakan kaus bengkel bersih berwarna biru tua sedang membersihkan rantai motor menggunakan sikat kawat dan solar.
Tubuh pemuda itu sudah kembali berisi, kulitnya yang dulu pucat kini tampak cokelat sehat terbakar matahari kerja, dan perban di lengan kirinya sudah dilepas sebulan lalu, menyisakan sebuah garis putih tipis sebagai prasasti ketangguhan hidup yang berhasil ia lewati. Melalui program perlindungan saksi dan ganti rugi pemulihan nama baik dari pengadilan negeri, Bayu menerima kompensasi resmi yang digunakannya untuk membeli perlengkapan bengkel modern dan modal usaha bersama kakak iparnya.
“Kang Renato,” panggil Bayu sambil tersenyum lebar, menyeka keringat di dahinya dengan kain perca. “Pelanggan yang punya motor Honda merah tadi minta disetelkan klepnya sekalian, katanya tarikannya agak berat kalau nanjak ke kebun pinus.”
“Beres, Bay,” sahut Renato sambil memutar kuncinya mantap. “Biar nanti Akang yang tes jalan setelah asar.”
Pintu samping rumah berderit terbuka pelan.
Lorna melangkah keluar membawa nampan anyaman bambu berisi dua cangkir kopi tubruk panas dan sepiring kue nagasari kukus yang masih mengepulkan uap wangi daun pisang. Dia mengenakan daster batik baru berwarna hijau lumut, rambutnya disisir rapi ke belakang dengan jepit sederhana, dan wajahnya memancarkan keteduhan seorang istri yang hatinya telah kembali utuh dan damai.
Di belakangnya, dua anak mereka yang berusia sepuluh dan tujuh tahun berlarian di halaman sambil membawa layang-layang kertas warna-warni, tertawa lepas membelah udara sore yang sejuk.
“Istirahat dulu, Kang, Bayu,” kata Lorna sambil meletakkan nampan di atas bangku kayu panjang depan bengkel. “Kuenya baru diangkat dari dandang, masih legit.”
Renato meletakkan kunci pasnya, mencuci tangannya di bawah kran air sabun di samping teras, lalu duduk di samping istrinya. Dia mengambil sepotong kue nagasari yang masih panas, meniupnya pelan-pelan sebelum menggigitnya. Manisnya gula aren dan gurihnya santan kelapa menyatu sempurna di lidahnya—rasa manis yang sama yang dulu membuatnya jatuh cinta pada wanita sederhana ini lima belas tahun lalu.
Tangannya yang masih sedikit basah meraih jemari Lorna di atas bangku kayu, menggenggamnya erat di depan adik iparnya tanpa rasa canggung lagi.
Lorna menatap suaminya dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih yang tak pernah luntur.
“Tadi pagi Ibu Kades pesan lima ratus kotak kue lapis buat acara syukuran panen raya minggu depan, Kang,” bisik Lorna pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di pundak Renato yang kokoh.
“Alhamdulillah,” sahut Renato lembut, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya yang kapalan. “Nanti malam Akang sama Bayu yang bantuin parut kelapa sama tumbuk beras ketannya sehabis bengkel tutup.”
Bayu tertawa kecil di seberang bangku, menyeruput kopi hitamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kemesraan kedua kakaknya.
Matahari sore perlahan turun di balik deretan bukit pinus di ujung barat desa, memancarkan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh pekarangan rumah dan bengkel kecil itu. Hutan lebat di atas bukit sana kini tidak lagi menjadi tempat persembunyian yang menakutkan, melainkan hanya hamparan alam hijau yang damai di bawah lindungan langit yang jernih.
Renato menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan aroma udara sore yang bersih dari kecurigaan dan racun dusta.
Di antara deru suara kompresor angin, aroma manis kue kukus yang mengepul, dan gelak tawa anak-anaknya yang mengejar layang-layang di jalanan desa, dia mengerti satu hal yang paling hakiki dalam hidup: bahwa cinta sejati seorang suami bukan diuji saat semuanya berjalan mudah dan terang benderang, melainkan saat dia berani menepis amarahnya sendiri, melangkah menembus kabut tergelap di dalam hutan, hanya demi menarik orang-orang yang dicintainya kembali ke dalam pelukan cahaya yang menenangkan.

